Matius 5 : 13 - 20
Thema : kamu adalah terang dunia - Berilah dirimu bermanfaat bagi setiap orang
Salam minggu, hari ini kita masuk ke Minggu sexagesima.
Minggu Sexagesima adalah hari Minggu kedua sebelum masa Pra-Paskah (atau delapan minggu sebelum Paskah) yang dirayakan dalam tradisi liturgi Kristen tertentu, seperti Katolik pra-1970, Lutheran, dan Anglikan.
Istilah sexagesima berasal dari bahasa Latin sexaginta (enam puluh), yang secara simbolis merujuk pada 60 hari sebelum Paskah, meskipun secara hitungan sebenarnya jatuh sekitar 56 hari sebelum Paskah.
Dalam Minggu Sexagesima ini membicarakan soal keutuhan manusia yang dihadapkan pada rencana dan rancangan Allah yang sempurna. Saat hari spesial ini tiba, umat Kristen biasanya akan melakukan introspeksi diri mengenai sikap, perbuatan, dosa, dan rencana jahat yang pernah diperbuatnya.
Jadi, Sexagesima adalah masa untuk mempersiapkan hati dan jiwa untuk memasuki masa puasa yang lebih intens di masa Prapaskah.
Saudara saudari, Ketika Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita adalah garam dan terang dunia, sesungguhnya Allah telah merencanakan yang lebih indah dari yang kita pikirkan pada awalnya. Oleh karena itu, lewat Injil ini saya ingin menyampaikan kepada saudara/i sekalian bahwa kita sangat berharga di hadapan Allah, Dia menjadikan kita bermanfaat dan sangat penting bagi Allah dan dunia.
Jikalau kita mempelajari latar belakang perikop ini, tentu sangat sulit bagi kita untuk menyadari betapa berharganya garam pada zaman Yesus hidup di bumi, meskipun saat ini garam sangat umum kita gunakan, bahkan kita tidak bisa hidup tanpa garam.
Ketika kita pergi ke toko, pasar atau lainnya tentu garam akan menjadi salah satu barang termurah yang tersedia. Tetapi tidaklah demikian halnya pada zaman Yesus, garam jauh lebih sulit didapatkan saat itu, dan jauh lebih berharga. Garam sangat lebih penting saat itu karena nilainya sebagai pengawet. Sebelum ada listrik dan lemari es, garam adalah salah satu cara utama untuk mengawetkan makanan. Bahkan, garam sangat berharga pada zaman Yesus sehingga tentara Romawi terkadang dibayar dengan jatah garam khusus. Dari situlah kata "gaji" kita sebenarnya berasal. Bahkan ada pepatah umum di Roma sekitar zaman Yesus, yang mengatakan bahwa "tidak ada yang lebih berguna daripada matahari/terang dan garam."
Jadi, perkataan Yesus yang mengatakan bahwa kita adalah garam dunia itu artinya kita sangat berharga, dan sangat berguna. Dunia sangat membutuhkan kita, sebab Yesus telah memutuskan bahwa Dia juga membutuhkan kita. Maka, sebagai garam dunia, kita sangat berharga dan berguna, baik bagi Allah maupun bagi dunia ciptaan Allah.
Namun meskipun Garam sangat penting dan berharga, perlu juga kita mengingat dan mengetahui bahwa di balik hal penting itu, garam tidak pernah ada untuk dirinya sendiri. Garam memang berharga dan bermanfaat, tetapi tidak dengan sendirinya. Garam tidak berguna sendirian, dan garam tidak ada untuk dirinya sendiri. Hal ini cukup jelas jika kita memikirkannya, sebab garam selalu digunakan untuk sesuatu yang lain. Demikianlah juga dengan kita, kita sangat berharga dan penting, tetapi bukan untuk diri kita sendiri.
Sebagai orang percaya, kita memiliki tujuan hidup untuk Yesus dan untuk orang lain, bukan hidup untuk diri kita sendiri. Bahkan, Anda dapat mengatakan bahwa gereja hanya benar-benar melakukan apa yang seharusnya dilakukannya ketika melakukannya untuk orang lain. Dan itu berlaku untuk semua murid Yesus. Kita sangat penting bagi kerajaan Allah, tetapi hanya ketika kita ada untuk lebih dari diri kita sendiri. Hanya ketika kita ada untuk Yesus. Dan hanya ketika kita bersedia menjadi garam, bukan hidangan utama, sebab hidangan utama adalah Yesus Kristus sendiri. Dalam hal ini, jika kita ingat Yohanes Pembaptis juga adalah contoh yang bagus untuk hal ini. Ia memang orang yang keras, tetapi ia tahu bahwa ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia hidup untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus. Dan begitu Yesus datang, Yohanes tahu bahwa pelayanannya telah selesai. Seperti yang ia katakan tentang Yesus dalam Yohanes 3, “Ia harus bertambah, tetapi aku harus berkurang.” Dan hal itu juga berlaku untuk kita, Yesus harus bertambah besar dan Kita harus semakin kecil. Kita adalah garam, tetapi bukan makanan, Yesus adalah makanan itu sendiri yang memberi rasa dan kehidupan. Kita hanya berusaha untuk mengawetkan dan membuatnya terasa lebih enak. Dan jika kita tidak melakukan itu, maka kita telah kehilangan rasa asin kita. Kita telah kehilangan misi kita. Oleh karena itu, marilah kita mengabdikan hidup kita kepada Yesus, dan kepada dunia agar kita benar-benar menjadi garam dunia, d Ngan demikian kita telah memberi hidup kita menjadi bermanfaat.
Refleksi Terang Dunia
Tidak ada yang lebih berguna daripada matahari dan garam, demikian kata pepatah Romawi kuno. Dan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyebut kita sebagai garam dunia dan terang dunia. Disebut sebagai garam dunia adalah suatu pujian yang luar biasa, dan mungkin lebih luar biasa lagi jika disebut sebagai terang dunia. Dalam Injil Yohanes, Yesus mengatakan bahwa Ia sendiri adalah terang dunia. Namun di perikop ini dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita adalah terang dunia.
Mari kita renungkan sejenak betapa berharganya cahaya di zaman Yesus sebelum ada listrik. Garam lebih berharga, tetapi begitu jugalah dengan cahaya.
Saat itu, kita tidak bisa begitu saja masuk ke ruangan dan menekan saklar lalu menyalakan lampu, sebab tidak ada. Kita hampir menganggap cahaya sebagai sesuatu yang biasa saja saat ini. Tetapiminjil ini menyampaikan kepada kita bahwa kita adalah terang dunia, yang berarti Yesus mengatakan kepada kita dan dunia bahwa kita sangat penting dan sangat berharga.
Yesus telah memanggil kita untuk menjadi terang yang bersinar, baik di gereja maupun di masyarakat. Dan Ia mengingatkan kita agar tidak menyembunyikan terang kita. Kita semua harus menjadi terang untuk dibagikan kepada dunia dan sesama kita. Jikalau kita berpikir bahwa kita tidak memiliki banyak hal untuk ditawarkan, tidak punya banyak waktu, Tidak memiliki bakat yang menonjol, tidak memiliki harta untuk dibagi, atau kita serba kekurangan. Marilah kita mengingat bahwa Firman hari ini menyatakan kepada kita bahwa setiap kita memiliki cahaya yang cukup saja untuk membiarkan cahaya kita bersinar di dunia itulah yang sesungguhnya dan yang terpenting. Tuhan telah memberikan apa yang Tuhan butuhkan bagi kita, iya menjadikan kita agar memiliki rasa dan bermanfaat. Jika cahaya sangat penting, demikianlah lah juga kita berharga. Meskipun dengan cahaya yang kecil, hal itu akan menjadi pemandangan yang menyenangkan di tempat yang gelap.
Bisakah kita sepakat bahwa ada kegelapan di dunia saat ini? Sama seperti terang yang selalu ada?
Saudara saudari, Kita sekarang hidup di dunia yang rusak dan penuh dosa, tapi bukan berarti dunia menjadi tempat yang menakutkan, tempat yang membuat putus asa, tempat yang skeptis, marah, dan frustrasi. Dalam keadaan yang gelap itu justru dengan cahaya yang sedikit pun akan sangat penting, sebab semakin gelap suatu tempat maka semakin sedikit juga cahaya yang dibutuhkan. Senter atau lilin terkecil pun dapat menerangi ruangan yang gelap. Sekecil apa pun cahaya Anda, itu persis apa yang dibutuhkan dunia ini.
Jadi, Yesus berkata kepada kita semua, biarlah terangmu bersinar di hadapan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapa di surga. Kita menggunakan kata-kata yang terkenal ini di setiap baptisan, untuk mengingatkan kita bahwa setiap orang percaya yang telah dibaptis telah terpilih dan terpanggil untuk menjadi terang dan memiliki manfaat. Kita dapat memuliakan Allah hanya dengan membiarkan terang kita bersinar. Kita tidak perlu mengubah dunia untuk memuliakan Allah dan kita juga tidak perlu memperbaiki semua masalah dunia, tetapi yang terpenting marilah kita membiarkan terang kita bersinar, dan itu akan memuliakan Allah.
Saya sangat tertarik seorang pengkhotbah hebat, Charles Spurgeon, yang mengatakannya, “Alkitab bukanlah terang dunia, itu adalah terang Gereja. Dunia tidak dapat membaca Alkitab, tetapi dunia akan menjadi terang jikalau orang orang percaya bersinar dalam hidupnya, Kamu adalah terang dunia.’”
Dunia membaca orang percaya, bukan Alkitab. Jadi kita harus menjadi terang dunia Seperti yang Yesus katakan kepada kita.
Refleksi Cahaya
Terkadang terasa sedikit menakutkan, bukan?
Kita bisa merasa bahwa jika kita adalah terang dunia, dunia tidak akan menjadi sangat terang. Karena terang kecil kita tidak mungkin bisa tampak, yah, sebab kecil.
Bagaimana kita bisa menjadi terang dunia?
Kita bukanlaj Yesus. Yesus terang sejati dunia.
Jadi bagaimana kita bisa melakukan itu?
Firman ini menghibur kita, ketika saya merasa melihat bulan. Katakanlah bulan purnama, seperti akhir pada biasanya dia akan datang ketika siang nya langit cerah, sungguh menakjubkan sebab betapa terangnya bulan. Bulan dapat menerangi malam yang gelap, itu pasti. Tetapi kenyataannya adalah bahwa ketika bulan berada pada titik paling terangnya, ia tidak memberikan cahayanya sendiri. Yang sebenarnya dilakukan oleh bulan hanyalah memantulkan cahaya matahari. Dan saya merasa itu sangat menggembirakan dan menghibur sebab Karena demikian jugalah yang yang saya yakini yang sedang kita lakukan ketika kita menjadi terang dunia. KITA SEBENARNYA TIDAK MEMBERIKAN CAHAYA KITA SENDIRI. Kita hanya memantulkan cahaya dari Allah. Dan semakin gelap dunia di sekitar kita, semakin penting terang itu.
Yesus telah memberi tahu kita bahwa menjadi muridNya berarti kita terpanggil untuk menyediakan terang itu. Kamu adalah terang dunia, kata-Nya. Kamu dan aku dipanggil untuk memantulkan terang-Nya ke dalam kegelapan dunia. Dipanggil untuk membiarkan terang kita bersinar, yang sesungguhnya bukan terang kita sama sekali – terang-Nyalah yang dipantulkan melalui kita, baik melalui kata-kata kita, perbuatan kita, karya baik kita.
Dipanggil untuk membiarkan terang-Nya bersinar melalui hidup kita, sehingga orang lain dapat melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa kita di surga.
Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia, Itulah yang Yesus katakan kepada kita hari ini. Tetapi tahukah kamu apa yang tidak Dia katakan kepada kita? Dia tidak menyuruh kita untuk menjadi garam dunia atau terang dunia. Dia mengatakan bahwa kita sudah menjadi demikian. Karena kita adalah murid-murid-Nya.
Dengan kata lain, yang perlu kita lakukan untuk menjadi garam dan terang adalah mengikuti Yesus. Kita tidak perlu menjadi makanannya. Kita hanya perlu mengawetkan makanan itu, dan membumbuinya. Yesus sendiri adalah makanannya. Dan kita juga tidak perlu menjadi terangnya. Kita hanya perlu memantulkannya. Yesus adalah terang dunia.
Jadi, jangan sampai kita kehilangan rasa asin kita. Dan jangan sampai kita menyembunyikan terang kita. Karena dunia membutuhkan keduanya sekarang sama seperti sebelumnya. Dan Yesus mengandalkan kita semua, untuk menjadi garam dunia, dan terang dunia. Untuk kemuliaan Allah. Amin.