Kamis, 14 Mei 2026

BAGAIMANAKAH PANDANGAN LUTHERAN DENGAN PENDETA PEROKOK ATAU JEMAAT PEROKOK - ๐š•๐šž๐š๐š‘๐šŽ๐š›๐šŠ๐š— ๐šš๐šž๐šŽ๐šœ๐š๐š’๐š˜๐š—๐šœ

๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž๐™ข๐™–๐™ฃ๐™–๐™ ๐™–๐™ ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™™๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ก๐™ช๐™ฉ๐™๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ง๐™ค๐™๐™–๐™ฃ๐™ž๐™–๐™ฌ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ค๐™ ๐™ค๐™  ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ช๐™ฅ๐™ช๐™ฃ ๐™Ÿ๐™š๐™ข๐™–๐™–๐™ฉ.
Jikalau kita perhatikan, pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa merokok/perokok seolah olah menjadi dosa yang paling nazis dan bsedang berkedudukan lebih tinggi sehingga menjadi bahan pembicaraan yang panas antara perokok dengan tidak perokok. Masalah tentang merokok tidak hanya dibicarakan bagi kalangan Gereja, namun sesungguhnya di luar gereja (orang percaya) pun rokok sering menjadi bahan pembicaraan panas. Dan sesuai sejarah perkembangan rokok yang kita perhatikan pada saat ini sungguh telah berada di peringkat atas - melonjak tinggi, sebab batasan akan penggunaan rokok sudah di langgar dan terbukti anak di bawah umur 12 tahun sudah menjadi pengguna aktif rokok yang pada akhirnya menjurus kepada penggunaan Narkotika. 
Baik, dalam topik kita hari ini kita akan membahas, bagaimanakah seharusnya para rohaniawan atau jemaat jemaat Tuhan memandang rokok, atau dapatkah orang percaya menikmati rokok atau tidak?. 

๐™„. ๐™Ž๐™„๐˜ผ๐™‹๐˜ผ๐™†๐˜ผ๐™ƒ ๐™‹๐™€๐™‰๐˜ฟ๐™€๐™๐˜ผ??
Secara etimologi dan sejarah bahasa, kata pendeta memiliki akar kata yang sangat kaya dari bahasa Sanskerta sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk merujuk pada pemimpin agama Kristen Protestantisme. Kata pendeta berasal dari kata paแน‡แธita (เคชเคฃ्เคกिเคค). Yang berarti orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, ahli ilmu pengetahuan, atau cendekiawan. Bagi kalangan Kristen Kata paแน‡แธita dipilih untuk menerjemahkan konsep Alkitab seperti Pastor (dari bahasa Latin yang berarti gembala) atau Minister (dari bahasa Latin yang berarti pelayan). Dan bagi kalangan Lutheran konvensional (ortodoks/konfesional), seorang pendeta adalah hamba Allah yang dipanggil secara sah dan ditahbiskan untuk melayani Firman Tuhan serta melayankan Sakramen. Jabatan ini bukan sekadar profesi fungsional, melainkan sebuah jawatan kudus (holy ministry) yang dilembagakan oleh Allah sendiri demi kepentingan jemaat-Nya. 

๐™ž๐™ž. ๐˜ผ๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ ๐™จ๐™š๐™ค๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ฉ๐™– ๐™ก๐™ช๐™ฉ๐™๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ฅ๐™–๐™ฉ ๐™ข๐™š๐™ง๐™ค๐™ ๐™ค๐™ ?
Bagi kalangan Lutheran buku konkord adalah Alkitab ke dua (bukan ber_arti gereja Lutheran memiliki 2 Alkitab) melainkan bagi Lutheran konvesional buku Konkord berada di bawah Alkitab satu tingkat, sebab buku Konkord adalah salinan dari Alkitab dan selaras dengan Alkitab. 

Dengan demikian, sebagai pendeta Lutheran saya akan meninjau masalah rokok dari pandangan Alkitab dan buku Konkord. 
Dalam Buku Konkord (Kitab Konkordia) tidak sedikit pun membahas atau menyebutkan tentang rokok/merokok. Dalam sejarahnya, buku konkord diterbitkan pertama kali pada tahun 1580, dan buku Konkord telah menjadi standar doktrin dan pengakuan iman historis bagi Gereja Lutheran, maka dengan perbandingan antara sejarah Buku Konkord dan Munculnya rokok, dapat saya simpulkan bahwa buku konkord disusun jauh sebelum kebiasaan merokok atau industri tembakau modern dikenal luas di Eropa, bahkan menyebar ke Indonesia. Namun meskipun istilah "merokok" atau "rokok" tidak tercantum di dalamnya, sebagai orang orang percaya yang hidup di dalam kuasa Injil Allah, maka mari kita melihat dalam prinsip-prinsip teologis dan etika Kristen dalam tradisi Lutheran yang bersumber dari Alkitab untuk melihat isu ini. Dalam Alkitab diajarkan kepada kita untuk menjaga tubuh sebagai Ciptaan Tuhan - sebat tubuh orang percaya adalah bait roh kudus (1 Kor. 6:19) 
Memang dalam Ajaran Lutheran setelah Kristus membenarkan kita, maka Allah memberikan kepada kita kebebasan (Free) yang bertanggung jawab. Dan berdasarkan prinsip Alkitab di 1 Korintus 6:12, setiap pendeta bahkan seluruh umat Kristen diperintahkan untuk tidak membiarkan dirinya "diperhamba" atau dikuasai oleh apa pun. Lalu pertanyaanya apakah rokok dapat memperhamba manusia?, jawabannya YA sebab segala bentuk nikotin/narkotika dapat mengikat kita dan menjadi kecanduan. Maka berdasarkan hasil penelitian, Sifat rokok yang adiktif dan menyebabkan kecanduan kuat dan tentu jikalau ditinjau dari pernyataan kita suci kita maka sesungguhnya rokok dapat mengikat kebebasan rohani dan jasmani setiap orang yang aktif mengkonsumsinya. 

Dalam doktrin Kristen ditekankan kepada kita bahwa sungguhangat penting untuk tidak menjadi batu sandungan atau merugikan bagi orang lain (kasih kepada sesama). Secara medis, kita tahu bahwa asap rokok sangat merugikan kesehatan pengguna bahkan orang orang di sekitar, maka setiap perokok pasif dipandang tidak sejalan dengan prinsip kasih dari Kristus.

Bagi Gereja Lutheran umumnya tidak memiliki aturan hukum atau larangan resmi (dogmatis) yang menyatakan bahwa seorang Pendeta sama sekali tidak boleh merokok. Pandangan Lutheran terhadap pendeta yang menjadi perokok aktif dipengaruhi oleh sejarah tradisi mereka, konsep kebebasan Kristen, serta tuntutan etis pastoral modern. (๐š ๐š ๐š .๐šœ๐šŒ๐š‘๐š˜๐š•๐šŠ๐š›๐šœ๐š‘๐š’๐š™.๐šŒ๐š˜๐š–๐š–๐š˜๐š—๐šœ). 

Dan bagi gereja Lutheran luar, termasuk LCMS, dari beberapa sumber mereka saya menemukan hal ini untuk dapat kita ketahui dan perbandingankan :
1. Budaya
Di dalam sejarah teologi Lutheran (khususnya tradisi Lutheran Jerman dan Skandinavia), tembakau, cerutu, dan pipa tidak dipandang tabu.
Bahkan seorang pastor C.F.W. WALTHER, adalah teolog besar dan pendiri sinode Lutheran terkemuka The Lutheran Church—Missouri Synod (LCMS), dikenal sebagai perokok pipa yang sangat aktif semasa hidupnya. Maka dengan akar sejarah ini, teologi Lutheran secara konsisten tidak mengategorikan merokok secara otomatis sebagai dosa yang membatalkan KESELAMATAN atau kelayakan pelayanan jabatan Pendeta. (๐™ถ๐š˜๐š.๐šš๐šž๐šŽ๐šœ๐š๐š’๐š˜๐š—.๐š˜๐š›๐š_๐™ป๐šŒ๐š–๐šœ). 

2. Adiaphora
Gereja Lutheran memandang tindakan merokok sebagai hal yang masuk dalam kategori ADIAPHORA, yaitu perkara-perkara yang tidak diperintahkan tetapi juga tidak dilarang secara eksplisit oleh Alkitab.

Maka dengan pandangan ini, maka seluruh Pendeta memiliki "kebebasan Kristen" untuk menggunakan atau tidak menggunakan hal-hal sekuler seperti tembakau atau alkohol dalam batas KEWAJARAN. Mereka harus menolak legalisme kaku (seperti yang sering ditemukan pada aliran Karismatik atau Puritan) YANG LANGSUNG MENGHAKIMI KESUCIAN SESEORANG HANYA DARI LUAR. (๐šƒ๐š‘๐šŽ.๐š•๐šŒ๐š–๐šœ.๐š˜๐š›๐š) 

3. Kecanduan
Meskipun Lutheran tidak melarangnya, status sebagai perokok aktif (kecanduan berat) akan memicu penilaian etis dan pastoral yang kritis berdasarkan Alkitab:
Tidak Boleh Diperhamba, Berdasarkan 1 Korintus 6:12, Seorang pendeta seharusnya tidak boleh dikuasai atau diperhamba oleh apa pun selain Kristus. Jika seorang pendeta tidak dapat mengendalikan ketergantungannya pada nikotin, hal ini dinilai sebagai KELEMAHAN KEDEWASAAN ROHANI.

Merawat Bait Allah, Tubuh adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Menjadi perokok aktif yang merusak kesehatan secara sengaja dianggap kurang bertanggung jawab dalam memelihara karunia kehidupan dari Tuhan. 

4. Tuntutan keteladanan dari kependetaan
Di era modern sekarang, pandangan sosial jemaat Lutheran telah banyak bergeser demi alasan medis dan kesehatan.

Batu Sandungan (Scandalum) seorang Pendeta dipanggil untuk menjadi teladan bagi jemaat. Jika tindakan merokok aktif tersebut merugikan orang lain (merokok pasif), merusak reputasi pelayanan gereja, atau menjadi batu sandungan bagi jemaat yang lemah, maka pendeta tersebut secara etis didorong kuat untuk berhenti demi kasih kepada sesama.
Kebijakan Gereja Lokal Indonesia. Di beberapa sinode regional (termasuk di Indonesia seperti HKBP, bahkan GKLI pada zaman emeritus Pdt. Jetro sinaga M. Div), meskipun tidak ada hukum tertulis yang memecat pendeta perokok, secara praktis pendeta sangat tidak dianjurkan merokok di area fasilitas gereja, di depan jemaat, atau saat mengenakan JUBAH PASTORAL demi menjaga kewibawaan pelayanan, dan tidak ada Pendeta yang berani merokok di depan Bishop, kalaupun dilakukanoleh oknumpasti dalam keadaan tersembunyi dari hadapan Bishop emeritus. 

Jadi, sebagaiSeorang Pendeta tentu sudah tahu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dan sudah paham manakah kehendak Roh dan kehendak daging. Allah tidak mengkendaki segala bentuk keinginan daging itu menguasai kita terlebih para tahbisan. Sebab, kebebasan Kristen yang diberikan Allah untuk kita adalah untuk melayani sesama, bukan untuk menjadi hamba dari zat atau kebiasaan tertentu (1 Korintus 6:12).
๐™ž๐™ž๐™ž. ๐˜ผ๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ ๐™Ÿ๐™š๐™ข๐™–๐™–๐™ฉ ๐™ฉ๐™ช๐™๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™—๐™š๐™ฃ๐™–๐™ง๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ง๐™ค๐™ ๐™ค๐™ 
Dalam teologi Lutheran, pandangan mengenai "jemaat" atau "gereja" (ecclesia) berakar kuat pada Alkitab dan Pengakuan Iman Augsburg (Artikulus VII). Jemaat sering disebut sebagai Persekutuan Orang Kudus (Communio Sanctorum).  Dengan demikian dapat kita definikan bahwa Jemaat adalah persekutuan orang-orang kudus, yaitu semua orang yang telah dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Maka dengan pernyataan ini Jemaat tidak didefinisikan oleh hierarki gereja atau gedung fisik, melainkan oleh kehadiran orang-orang percaya yang dipersatukan oleh Roh Kudus. 

Lalu, bagaimanakah jikalau jemaat merokok, atau dapatkah jemaat Lutheran merokok?.
Yang pertama kita harus tahu bahwa, Gereja Lutheran secara resmi tidak melarang jemaatnya merokok. Merokok dipandang sebagai masalah kebebasan Kristen (Adiaphora) dan etika pribadi, bukan sebagai dogma yang menentukan status dosa atau keselamatan. (๐š…๐š˜๐šก.๐šŸ๐šŽ๐š›๐š’๐š๐šŠ๐šœ.๐š“๐šž๐š›๐š—๐šŠ๐š•) 

Bagi kalangan kami Lutheran mengklasifikasikan bahwa merokok dianggap sebagai adiaphora, yaitu hal-hal yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang secara eksplisit oleh Alkitab. Pandangan ini tidak dianut oleh semua gereja, terlebih dengan aliran Pentakosta atau Karismatik yang melarang keras rokok. Perbedaan ini terjadi bukan berdasarkan prinsip tafsiran atau kehendak, melain karna teologi Lutheran sungguh sungguh berpegang teguh pada prinsip Sola Fide (hanya oleh iman) yang artinya merokok atau tidak merokok tidak akan mempengaruhi keselamatan, dan kalaupun tidak merokok tidak menjadi jaminan keselamatan sebab kita hanya dapat dijamin selamat oleh karya Yesus. Status keselamatan seseorang dinilai murni karena anugerah Kristus, sehingga merokok dianggap sebagai pilihan gaya hidup pribadi. 

Namun meskipun Lutheran tidak melarang jemaat untuk merokok, jemaat Lutheran tetap didorong untuk mempertimbangkan etika Kristen berdasarkan dua aspek dari Alkitab: 
Menjaga Tubuh
Dalam kitab 1 Korintus 6:19 menyebutkan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus. Secara medis, rokok terbukti merusak kesehatan. Oleh karena itu, jemaat diajak untuk bertanggung jawab menjaga kesehatan tubuh pemberian Tuhan.
Bahaya Keterikatan
Dalam kitab 1 Korintus 6:12 mengingatkan agar manusia tidak diperhamba oleh apa pun. Kecanduan atau adiksi terhadap nikotin dipandang sebagai bentuk hilangnya penguasaan diri. 

IV. Apakah pesan topik ini untuk Pendeta dan Jemaat Tuhan
Pesan Utama untuk Pendeta Perokok
Sebagai pemimpin rohani dan gembala jemaat, pendeta Lutheran yang merokok menerima pesan etis yang lebih ketat terkait dampaknya terhadap orang lain :

Dengan tidak menjadi Batu Sandungan (Etika Skandalon). Rasul Paulus mengingatkan agar kebebasan kita tidak memicu orang lain jatuh dalam dosa (1 Korintus 8:9). Jika merokok merusak reputasi pelayanan atau melukai iman jemaat yang lemah, pendeta didorong untuk menahan diri. 

Pendeta bertugas melayani sakramen dan memberitakan Firman. Mereka wajib menjaga kekudusan jabatan dengan tidak merokok di lingkungan altar, ruang ibadah, atau saat mengenakan jubah kebesaran (talit/alba). 

Meskipun merokok bukan dosa yang menggugurkan keselamatan, pendeta tetap dipanggil menjadi teladan dalam menjaga bait Allah (tubuh) dan menunjukkan penguasaan diri terhadap adiksi.

Pesan Utama untuk Jemaat Perokok
Bagi anggota jemaat biasa, fokus utama terletak pada kesadaran pribadi di hadapan Tuhan dan sesama.

Anda Dibenarkan oleh Iman, Bukan Gaya Hidup.
Teologi Lutheran menekankan Sola Fide. Status Anda sebagai jemaat Tuhan tidak hilang atau berkurang hanya karena Anda merokok. Anda tidak perlu merasa dikutuk secara rohani. 

Gunakanlah Kebebasan untuk Melayani, Bukan Egoisme. Martin Luther menulis bahwa "Orang Kristen adalah tuan yang bebas dari segala hal, tidak tunduk pada siapa pun; sekaligus hamba yang tunduk pada segala hal, pelayan bagi semua orang." Gunakan kebebasan merokok Anda dengan bertanggung jawab—jangan merokok di dekat anak-anak, ruang ibadah, atau orang yang terganggu asapnya.

Uji Hati Terhadap Berhala Moderen, Jemaat diajak memeriksa diri. Jika keinginan merokok lebih kuat daripada ketaatan rohani atau merusak ekonomi keluarga, maka rokok telah menjadi "allah lain" (berhala) yang mengikat kebebasan Anda.

Dengan demikian, dapat saya simpulkan lewat penjelasan ini bahwa bagi Lutheran, rokok tidak menentukan masuk surga atau neraka. Namun, kasih kepada sesama harus selalu lebih besar daripada kebebasan pribadi. Baik pendeta maupun jemaat diminta saling menghormati, tidak saling menghakimi, dan mengutamakan kesehatan komunitas.

Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan kita untuk menerima dan mengambil keputusan yang baik dalam melakukan yang terbaik bagi hidup kita. Salam ๐Ÿ˜Š

#vdma_luther
                                ๐“Ÿ๐“ฎ๐“ท๐“ญ๐“ฎ๐“ฝ๐“ช. ๐“๐“ป๐“ญ๐“ฒ ๐“ผ๐“ฒ๐“ฝ๐“พ๐“ถ๐“ธ๐“ป๐“ช๐“ท๐“ฐ ๐“ข. ๐“ฃ๐“ฑ
13 ๐™ฐ๐™ฟ๐š๐™ธ๐™ป 2025

Hukuman disingkirkan - Anugerah Allah dinyatakan (Zefanya 3:14-17)

Hukuman disingkirkan - Anugerah Allah dinyatakan (Zefanya 3:14-17) 

Shalom... 
Firman Allah untuk kita. 
Zefanya 3:14
Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
Zefanya 3:15
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
Zefanya 3:16
Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.
Zefanya 3:18
seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.

Saudara saudari, Sebelum ayat 14, Kitab Zefanya dipenuhi dengan nubuatan murka Allah atas dosa, pemberontakan, dan ketidaksetiaan umat-Nya. Dan lewat Firman ini, kita di ingatkan bahwa secara moral dan secara rohani, tidak ada manusia berdosa yang lepas dari hukuman maut. Dengan keadaan kita berdosa, gagal dihadapan Allah membuat Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri melalui perbuatan baik atau usaha moralitas, selain oleh karena Iman kepada Krostus yang tersalib dan bangkit (Sola Fide - pembenaran hanya oleh iman). 
Penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah karya Allah untuk memperbaharui kita dalam seluruh aspek kehidupan kita, Ia memperbaharui kita dan memberi identitas baru yaitu orang orang yang telah dibenarkan. Oleh karena itu sukacita sorgawi sesungguhnya harus mewarnai kehidupan kita. Tingkah laku kita pun sesungguhnya harus memancarkan kasih dan kebenaran Allah. Hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran Allah maka semua kelaliman akan terusir dari kehidupan kita. Nilai-nilai inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang percaya, da  inilah buah yang murni dari Iman. 

Saudara saudari, apakah sukacita yang dimaksud oleh Allah dalam perikop ini ?. Sukacita dalam ayat ini bukan karena situasi hidup Israel yang sedang baik, melainkan karena apa yang telah Allah lakukan untuk mereka. Sebab kata "telah menyingkirkan hukuman" menunjuk langsung pada karya penebusan Kristus di kayu salib, dan itu adalah sukacita bagi Israel dan kita juga sebab Dialah sumber keselamatan kita. Ketika Yesus kita tersalib sesungguhnya Ia mengambil alih seluruh murka Allah yang seharusnya menimpa kita. Musuh terbesar kita—dosa, maut, dan iblis—telah dikalahkan. Maka melalui iman kepada Kristus, status kita telah diubahkan dari terhukum menjadi orang merdeka. Dalam  Formula Konkord Pasal III menegaskan bahwa kata "membenarkan" atau "menyingkirkan hukuman" berarti dinyatakan bebas dari dosa secara forensik. Dihadapan Allah, semua manusia dibebaskan bukan karena sifat baik yang ditanamkan ke dalam dirinya, melainkan karena ketaatan Kristus yang murni di kayu salib. Oleh karena itu, dalam buku konkord kita  juga ditegaskan bahwa Lutheran MENOLAK pandangan yang menyatakan bahwa kita harus menjadi suci dulu baru diselamatkan. Sungguh pengampunan itu murni anugerah, persis seperti janji Zefanya bahwa Tuhan sendiri yang mengusir musuh kita. 

Sekarang, Allah tidak lagi melihat kita dengan mata kemurkaan, melainkan dengan kasih yang menenangkan dan membaharui. Oleh karena itu, hiduplah dalam sukacita  yang bersumber dari Allah. Dan kiranya di tengah dunia yang menakutkan saat ini, hendaklah Gereja Tuhab dan seluruh kita orang percaya dipanggil untuk tidak menjadi lemah lesu, karena Sang Pahlawan Perkasa diam di antara kita, hari ini hingga Kristus datang, roh kudus Tuhan ada padaku dan padamu. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin ๐Ÿ™

Kristus yang Membuka Pikiran dan Mengutus Gereja-Nya - KENAIKAN YESUS KRISTUS Lukas 24:44-53

Khotbah ibadah peringatan kenaikan Yesus
Shalom....
Firman Allah untuk kita.
Lukas 24:44 - 53

Saudara saudari, dalam bacaan kita evangelium pada ibadah peringatan hari kenaikan Yesus Kristus hari ini terambil dari kitab Lukas 24:44-53. Jikalau kita perhatikan dengan teliti, sesungguhnya perikop ini sedang menjelaskan kembali atau mengulangi pengalaman dari kedua murid Yesus yang berjumpa dengan Tuhan dalam perjalanan menuju ke Emaus, tetapi dalam perjumpaan ini tidak lagi hanya kepada mereka berdua melainkan dengan ke sebelas rasul yang telah berkumpul di Yerusalem. Dalam perjumpaan itu Yesus menunjukkan bukti-bukti bahwa Ia sungguh BANGKIT dan Dia sendirilah yang hadir ditengah-tengah mereka dengan menyodorkan tangan dan kakinya yang terluka akibat penyaliban. Dia ingin mereka melihat dan merasakan bukti-bukti itu. Sebab Yesus tahu bahwa mukjizat dan kekaguman tidak pernah cukup untuk membuat para murid yakin/percaya. Yesus ingin murid-murid memiliki pemahaman yang benar tentang Janji Allah sesuai Kitab Suci. Sebab, sebagai orang Yahudi, murid-murid (kesebelas rasul dan orang-orang yang ada bersama dengan mereka) telah tahu banyak tentang Kitab Suci mereka. Kitab Suci itu terdiri dari tiga bagian: 1. Hukum Musa, 2. Kitab Nabi-nabi dan 3. Nyanyian (Mazmur). Jadi ayat 44-45 menjelaskan bahwa kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka membuat mereka dapat memahami Kitab Suci yang ada pada mereka, yang sekarang kita sebut sebagai Perjanjian Lama. Oleh karena itu, lewat ibadah kita di kita di peringatan akan Kenaikan Yesus Kristus Firman Allah menyampaikan kepada kita dengan topik Thema :

 *Kristus yang Membuka Pikiran dan Mengutus Gereja-Nya*

 _1. Kegagalan/keberdosaan kita membuat kita bingung dan tidak mampu percaya._ 
Saudara-saudari, Bagi akal budi seluruh manusia, PERPISAHAN akan selalu membawa duka. Ketika para murid melihat Yesus terangkat ke surga, secara logis para murid seharusnya merasa kehilangan, yatim piatu, dan ketakutan. Namun, ayat 52 mencatat hal yang sebaliknya: "Mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Apakah yang membuat mereka bersukacita atau "Mengapakah ada sukacita di tengah perpisahan? 
Jawabannya bukan karena kekuatan mental para murid, melainkan karena pekerjaan Kristus yang mengikat mereka pada Firman Allah. Dalam ajaran kita di GKLI sesuai dengan teologi Lutheran diajarkan bahwa Iman dan sukacita sejati tidak lahir dari pengalaman mistis atau emosi manusia, melainkan bersumber dari luar diri kita (extra nos), yaitu dari janji Kristus yang objektif. 
Memang, kita harus mengerti bahwa sebelum Yesus membuka pikiran mereka (45) para murid berada dalam keadaan bingung, kecewa, dan mengira bahwa kematian Yesus adalah kegagalan politik (kehilangan pemimpin dan harapan). Oleh karena itu, dari kegagalan murid dan kegagalan kitalah hendaknya kita tahu dan percaya bahwa Iman dan sukacita sejati tidak datang dari perasaan subjektif, melainkan dari kepastian objektif Firman Tuhan (extra nos—di luar diri manusia) sehingga melahirkan sukacita dan pengharapan yang benar akan Yesus Kristus yang berakhir pada pertobatan total (penyerahan diri kepada Kuasa Tuhan).

Saudara-saudari, apakah hal yang sama ini terjadi dalam hidup kekristenan kita ?.
Tentu, ya - sebab setiap manusia berdosa telah mengalami kebutaan rohani secara total (total depravity). Maka tanpa Roh Kudus dan pekerjaan Kristus yang membuka pikiran, sesungguhnya kita tidak akan mampu percaya kepada Yesus yang tidak kelihatan, baik memahami isi Alkitab dengan benar. Melalui Yesus Kristus, Alkitab menjadi Injil (Evangelium) yang menghidupkan.
Dalam teologi Lutheran, seluruh Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru hanya akan dapat dipahami dengan benar jika dibaca secara Christocentric (berpusat pada Kristus). Sebab Taurat, Nabi-Nabi, dan Mazmur bukanlah buku moralitas atau hukum sipil belaka, melainkan nubuat yang mengarah pada salib dan kebangkitan Yesus. 
Oleh karena itu, hendaklah dalam tiap tiap kita membaca dan merenungkan firman-Nya, Kita harus selalu berdoa meminta Roh Kudus menerangi hati kita setiap kali membuka Alkitab, dan akuilah bahwa kita tidak bisa mengenal Yesus tanpa anugerah-Nya.

 _2. Dalam kegagalan Kita Kristus datang menguatkan dan membuka Pikiran kita._ 
Saudara saudari, hari ini firman Tuhan berkata pada seluruh umat Tuhan di GKLI bahwa Kristus tidak menunggu kita menjadi sukses, pintar, atau suci untuk datang kepada_Nya. Sebaliknya, justru di titik terendah "ketika kita gagal, berdosa, dan putus asa Kristus datang mengintervensi dengan memberi anugerah-Nya".
Dalam perikop kita hari ini, keterpisahan antar Yesus dengan murid menghadirkan suka cita besar karna sesungguhnya Kristus telah membuka pikiran para murid. Yesus yang datang ke tengah tengah para murid tidak untuk menghukum atau memarahi kegagalan mereka. Di ayat 45, Ia justru membuka pikiran mereka (opened their minds). Sekarang marilah kita mengakui bahwa kegagalan manusia sering kali menjadi cara Allah untuk menghancurkan kebenaran diri sendiri (self-righteousness). Ketika akal budi dan kekuatan kita mentok, di situlah kita siap menerima kebenaran Kristus yang murni (Sola Gratia). Kristus menguatkan para murid bukan dengan memberikan tips MOTIVASI seperti khotbah masa kini agar mereka "mencoba lebih keras lagi," melainkan Kristus datang untuk menyatakan bahwa kegagalan dan dosa mereka telah ditanggung dan diampuni di atas salib. Apakah ini berita suka cita bagi kita ??. Tentu sebab semua kita adalah sama sama orang yang gagal di hadapan Allah, namun hari ini saya menyampaikan bahwa dalam kegagalan itu Justru Tuhan datang menguatkan dan membenarkan kita. Di ayat 49, Yesus berkata, "Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." Ini bukanlah hanya kata kata penghiburan di atas kesedihan para murid melainkan kabar baik, sebab peristiwa KenaikanNya, membuat kita yakin bahwa "Kristus yang naik ke surga tidak untuk meninggalkan kita yang gagal. Melainkan, Ia naik untuk bertakhta, dan dari takhta-Nya, Ia terus mengalirkan pengampunan dan kekuatan melalui Firman-Nya. Ketika pikiranmu buntu oleh masalah dunia, datanglah kepada Firman-Nya. Biarkan Kristus yang membuka pikiranmu dan memulihkan jiwamu hari ini."

Saudara saudari, ingatlah bahwa selama Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Sebab Kristus yang naik ke surga kini hadir dan memerintah di bumi melalui Means of Grace (Sarana-sarana Anugerah), yaitu melalui Firman yang diberitakan oleh para saksi-Nya dan melalui Sakramen yang kita terima di GKLI. Jadi, sekarang Gereja Tuhan diutus bukan untuk membawa ideologinya sendiri, melainkan menjadi saksi objektif dari kematian dan kebangkitan Kristus, dan memberitakan bahwa Kristus selalu ada dalam hidup kita, sungguh Yesus Kristus akan selalu hadir dalam hidupmu (Om ni present). 
Dalam sebuah buku Lutheran, ada terkutip "Keselamatan dan misi Gereja adalah murni pekerjaan Allah (Monergisme)". Dengan demikian kita percaya bahwa meskipun Yesus meninggalkan murid secara kasar mata mereka namun para murid tetap bersukacita karena beban pelayanan tidak lagi ditaruh di atas pundak kekuatan manusiawi mereka, melainkan di atas jaminan kuasa Roh Kudus yang mereka terima. 
Sekarang kita harus bersukacita, sebab Kristus tetap ada bersama sama dengan kita sebab dimana ada Roh Kudus, maka Yesus Kristus dan Allah akan ada bersama sama, roh Kudus ada pada setiap orang percaya, dan itu adalah anugerah Allah yang diberikan atas kita. 
Dalam buku konkord kita, Luther menulis: "Aku percaya bahwa oleh akal budiku atau kekuatanku sendiri, aku tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, tetapi Roh Kudus telah memanggil aku melalui Injil." Roh Kudus yang melahirkan-kembalikan iman di dalam hati yang keras. Tidak ada hati yang keras dihadapan Tuhan, intinya sekarang marilah kita menyesal akan keberdosaan kita, dan percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dalam tiap tiap perayaan kita, khususnya di GKLI meskipun kita tidak dapat melihat Yesus secara kasar mata, namun kita akan melihat dan menyentuh Tubuh Yesus secara nyata dalam Iman lewat perjamuan Kudus, artinya Tuhan selalu memelihara dan menjaga kita. Roh KudusNya telah di berikan untuk kita dan Ia ada bersama sama dengan kita, Roh Kudus akan memberikan keberanian dan hikmat bagi kita untuk bersaksi. Kata bersaksi dalam teologi GKLI bukanlah untuk memamerkan kehebatan hidup kita, melainkan menunjuk pada karya salib Kristus yang menyelamatkan orang berdosa.

Kenaikan Kristus dalam evangelium kita di ibadah hari ini, bukanlah cerita tentang perpisahan yang tragis, melainkan tentang kemenangan total Kristus atas dosa dan maut. Alkitab telah digenapi, pikiran kita telah dibuka, dan pengampunan dosa telah dianugerahkan secara cuma-cuma bagiku dan bagimu sekalian. Dan saya berharap, lewat pendengaran akan khotbah ini, marilah kita pulangn ke dalam kehidupan sehari-hari kita dari Gereja ini dengan penuh sukacita yang sama seperti para murid. Sebab Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa adalah Kristus yang sama yang selalu menyertai, mengampuni, dan memberkati kita melalui Firman-Nya yang kudus. Dalam tiap tiap Minggu kita menerima berkat (benediksi). Demikianlah Citra terakhir yang melekat di mata para murid saat Yesus yang terangkat bukanlah punggung yang meninggalkan mereka, melainkan tangan yang terluka oleh paku namun terangkat untuk terus memberkati, kiranya Tuhan selalu memberkati kita semua. Aminnnn ❤ 

#vdma_luther

Minggu, 10 Mei 2026

Minggu Rogate - KASIH YANG MENGHASILKAN KETAATAN MELALUI SANG PENOLONG - Johanes 14:15-21

Minggu ROGATE
Johanes 14:15-21
THEMA : KASIH YANG MENGHASILKAN KETAATAN MELALUI SANG PENOLONG

Saudara saudari, sebelum Yesus terangkat ke_Sorga meninggalkan para murid. Yesus telah menjanjikan, bahwa Ia akan memberikan pelindung yang lain (Roh Kudus). Supaya mereka tetap dapat hidup dalam lindungan Tuhan sebab Roh itulah yang akan menguatkan mereka untuk insaf dari dosa, terlebih melakukan yang baik dan mendekat kepada Tuhan. 

Dalam khotbah kita ini, Yesus berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, maka kamu akan menaati seluruh hukum Ku". Kita harus mengetahui dan menyadari bahwa ketaatan sejati hanya lahir dari hati yang telah diubahkan oleh kasih Kristus, yang artinya "kita tidak dapat taat kepada Allah tanpa pemeliharaan Roh kudus". Didalam hidup kita Roh KudusNya akan menguatkan dan memampukan setiap orang percaya untuk melakukan Hukum Tuhan dengan kekuatan Roh, yang artinya kita menaati hukum hukum Tuhan karena kita sudah menjadi milik-Nya.

Dalam kehidupan masa kini, Seringkali orang Kristen hidup dalam pengenalan dan motifasi yang salah "mencoba untuk menaati Tuhan karena rasa takut atau supaya diberkati". Sesungguhnya pemahaman ini adalah bentuk usaha membenarkan diri sendiri dihadapan Tuhan, kita harus tahu bahwa tak seorang pun dapat berbuat baik, terlebih menghidupi hukum Tuhan dengan kekuatan atau kemampuannya sendiri. Tuhan tahu keadaan kita dan justru oleh itulah Tuhan memberikan kita Roh kudus, memang kita di karuniakan Roh kudus termasuk juga penggenapan janjiNya, namun dalam Kodrat kemanusiaan kita, Roh kudus diberikan supaya kita tetap berada dalam keadaan taat dan setia kepadaNya dengan kuasa Roh Kudus. Roh Kudus disebut sebagai "Penolong yang lain" karena Dia-lah yang akan meneruskan kehadiran Yesus secara spiritual di tengah Gereja dan hati setiap orang percaya.
Dunia tidak mengenal-Nya karena dunia hanya percaya kepada apa yang kelihatan, Dunia akan selalu mengandalkan logika dan usaha manusiawi. Namun, bagi orang orang percaya, Roh itu tinggal di dalam kita. Allah telah memberikan RohNya kepada kita lewat baptisan kudus yang di curahkan atas kita, dan Pendengaran akan Injil yang murni. Dalam baptisan yang kita terima Allah memberi kita kehidupan yang baru, dan Ia selalu memelihara kita lewat Kuasa Roh kudusNya. Dengan demikianlah setiap orang percaya akan mengenal Allah dan berharap akan janji-janji dalam Kitab Suci. 

Jikalau Roh Allah ada bersama dengan kita, maka sesungguhnya Yesus, Allah bapa juga ada bersama dengan kita, lantas apakah yang akan kita takutkan, bukan kah kita orang percaya ada di dalam pihak Alllah??. 
Percayalah dan selalu lah hidup dengan setia melakukan kehendak kehendak Allah. Dalam segala perbuatan baik kita, Roh kudus akan turut bekerja memampukan kita, bahkan saat kita gagal sekalipun AnugerahNya akan tetap memelihara kita lewat Sarana Anugerah (Firman dan Sakramen) agar kita selalu dipelihara akan kebenaran Kristus Yesus. 
Sungguh, Allah telah memberikan kita Roh kudus, Ia akan selalu memelihara dan menguatkan kita dalam dunia yang gelap.  

Lewat Evangelium ini, Yesus juga berjanji bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita. Sebab Yesus berkata "Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Ini adalah janji persekutuan yang intim yang dipersatukan Allah antara kita dengan Yesus dan Bapa lewat Roh KudusNya. Bagi kita, kalangan Lutheran kita juga percaya bahwa PERSATUAN ini terjadi secara nyata melalui Firman Allah dan Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), di mana Kristus hadir dan memberikan diri-Nya kepada kita (1, 2) dan ketika kita menerima Firman maka Firman itu masuk kedalam kita dan menguatkan terlebih mengubahkan kita, demikianlah juga dengan tubuh dan darah Kristus yang kita terima, ketika tubuh dan darah Kristus kita terima dan kita makan, maka secara Pasti Kristus akan menyatu dengan kita lewat perjamuan kudus tersebut. Sungguh, ketika injil Tuhan dilayankan dengan benar Tuhan akan menguatkan kita dan memberikan jaminan hidup yang kekal. Karena Yesus hidup (bangkit), maka kita pun akan hidup. [Yoh.14:1,2,3].
Lewat evangelium hari ini, Allah menyatakan diriNya kepada kita, bahwa Ia sungguh setia, Ia tidak pernah meninggalkan kita, saat Yesus hendak terangkat kesorga untuk menggenapi kitab kitabNya, dengan penuh KASIH Allah memberikan Roh KudusNya kepada kita sebagai bukti Kasih yang nyata akan kesetianNya dan pemeliharaan yang kekal bagi setiap orang orang percaya. 
Perkataan ini sungguh benar, dan ketahuilah bahwa tanpa Kristus, kita adalah bagaikan yatim piatu yang artinya tidak memiliki tujuan dan Pengharapan (berada dalam kesesatan). 

Lalu apakah hubungan khotbah kita ini dengan minggu Rogate (berdoa) ??. 
Jikalau kita perhatikan dalam ayat 16, dengan janji Yesus akan Roh kudus, sesungguhnya doa menjadi hak istimewa bagi seluruh orang percaya untuk berbicara kepada Bapa karena ada Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Dengan mengandalkan Kuasa Roh kudus dalam berdoa, maka Tuhan akan mendengar, sebab bagi kita kalangan Lutheran diajarkan bahwa kita berdoa bukan karena merasa layak atau sudah taat, tetapi karena kita butuh Penolong. Sekarang penolong itu ada bersama dengan kita, maka marilah kita hidup di dalam doa yang tidak terputus putus kepada Allah, berdoalah layaknya sebagai anak kepada Bapa, dan percayalah bahwa Doa orang benar BESAR KUASANYA. 

Oleh karena itu, lewat evangelium ini kita di ingatkan agar marilah kita kembali mengoreksi motivasi kita dalam mengikut Tuhan. Biarlah Ketaatan yang kita lakukan bukan karena takut. Melainkan sebagai respons atas kasih kepada Kristus yang telah memberikan Roh Kudus untuk membimbing hidup kita setiap saat. Dan jadikanlah Fokus utama kita bukan lagi pada "apa yang harus kita lakukan untuk Tuhan", melainkan "apa yang telah Roh Kudus kerjakan di dalam kita, sehingga kita dimampukan untuk mengasihi Tuhan dengan benar". Dan janganlah takut, sebab Allah sungguh mengasihi kita, Allah tidak pernah meninggalkan kita, sebab Ia telah memberikan Roh-Nya untuk memampukan kita hidup dalam kasih dan ketaatan yang tulus.

Demikianlah Firman Allah. Aminnn 



Sabtu, 09 Mei 2026

ACARA IBADAH PEMUDA - MINGGU KANTATE - ALLAH MENYELAMATKAN KITA

 

Acara Ibadah Pemuda/I GKLI

09/05/2026

 

1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 64 :1 – 3 (Bila ku lihat bintang Gemerlapan)

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

3. Pabila nanti Kristus memanggilku, sukacita amatlah besar,
kar'na terkabullah yang kurindukan: melihat Dikau, Tuhanku akbar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

 

2.      Doa Pembuka

        Bapa kami yang ada di Surga, kami bersyukur pada malam hari ini, atas berkat dan Anugerah Mu yang selalu menyertai kami sehingga di malam hari ini kami tetap sehat dan kuat. Kini kami datang kehadapan Mu memohon agar kiranya Engkau menerangi dan menyinari hati kami melalui Firman Mu, ajar dan pelihara lah hidup kami agar kiranya kami menjadi pemuda/i yang takut terhadap Engkau dan menghormati orang tua kami. Kami juga berdoa buat Ibadah kami ini, terimakasih Tuhan karna Engkau telah hadir untuk kami. Sebentar lagi kami akan menerima pengajaran dari Firman Mu kiranya bukakan hati kami dan ingatkanlah kami melalui Firman Mu agar kami dapat hidup menjadi pemuda/i yang takut akan Engkau.

Tuhan Yesus Kristus, kami juga berdoa buat orang tua kami, berkatilah mereka, berikan kesehatan dan panjang umur dan ingatkan mereka agar tetap sabar dan setia dalam mendoakan dan mengajari kami. Kami juga berdoa buat sahabat sahabat kami pada saat ini yang sibuk karna pekerjaan, belum rindu untuk mendengarkan panggilanmu, berkatilah setiap saudara/i kami itu dan ingatkanlah mereka Tuhan, agar kiranya kami dapat bersama sama menerima Firman mu. Kami juga memohon keampunan atas dosa dosa kami, Tuhan ampuni kami dan kuduskan kami dari dosa itu, agar kami kudus dan layak datang kehadapanMu. Inilah doa dan permohonan kami, dengarkan lah doa kami. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus Amin!

 

3.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 425 (Berkumandang suara dari seberang)

1. Berkumandang suara dari seberang, "Kirimlah cahyamu!"
Banyak jiwa dalam dosa mengerang, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff : Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.
                 Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.

2. Kita t'lah dengar jeritan dari jauh, "Kirimlah cahyamu!"
Bantuanmu b'rikan, janganlah jemu, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff:

3. Jangan kita tinggal diam mendengar: "Kirimlah cahyamu!"
Injil Tuhan haruslah kita sebar, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff:

4.      Renungan

Nats     : 1 Petrus 2 : 2 - 10

Thema : Kamulah bangsa yang terpilih, Imamat yang rajani

Tujuan : Supaya anak remaja Percaya bahwa Allah memilihnya sebagai umat pilihan :

1.      Hidup dalam kebaikan Allah

2.      Kamu yang terbuang di pilih Allah

3.      Kamu yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang

4.      Kamu yang dahulu bukan Umat Allah telah menjadi umat Allah

Hapalan : 1 Petrus 2:4 “dan datanglah kepadaNya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormati Allah”.

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3 (Berkumandang suara dari seberang)

1. Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.

2. Hai angkit bagi Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.

3. Hai bangkit bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!

 

6.      Doa Persembahan + Doa Penutup

 

7.      Latihan KOOR

 

 


Jumat, 08 Mei 2026

Lukas 20:17-19 // Penolakan manusia dan kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan


Firman Allah untuk kita. 
Lukas 20:17
Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: "Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?
Lukas 20:18
Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."
Lukas 20:19
Lalu ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala berusaha menangkap Dia pada saat itu juga, sebab mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu, tetapi mereka takut kepada orang banyak.


Saudara saudari, renungan kita hari ini berfokus pada dinamika antara penolakan manusia dan kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan. 
Jikalau kita perhatikan dalam kita kitab Injil, seringkali Yesus menegur para ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala, namun tetap bersikukuh pada kebenaran diri mereka masing-masing. Memang dari sinilah kita harus tahu bahwa seluruh orang berdosa tidak mungkin bisa berubah dan bertobat dari dosa-dosanya kalau bukan karena anugerah Tuhan yang lebih dahulu dicurahkan kepada mereka.

Perumpamaan tentang penggarap penggarap anggur ini di pergunakan oleh Yesus untuk menggambarkan kehidupan nyata dari pemimpin agama bahkan kita secara pribadi sekalipun. Sebab nyata, bahwa dalam hidup ini sering kali lupa bahwa kehidupan dan berkat adalah milik Allah. Kita cenderung ingin menjadi "pemilik" atas hidup kita sendiri.

Lalu pertanyaanya kepada kita, Apakah kita memperlakukan anugerah Allah sebagai hak milik yang bisa kita kendalikan, atau sebagai pemberian yang kita kelola dengan penuh ucapan syukur?. Percayalah bahwa Yesus kristus akan tetap dan selalu untuk menjadi dasar hidup bagi kita, baik saat kita menerima-Nya sebagai landasan yang kokoh atau justru saat terantuk oleh-Nya yang mungkin karena kesombongan kita atau kebebalan.

Dalam perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, kita dapat mengerti bahwa betapa jahat perbuatan ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala. Yesus mengumpamakan mereka sebagai penggarap-penggarap yang menyewa kebun anggur dimana pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri. Ketika suatu kali, si pemilik mengutus hambanya untuk meminta hasil kebun anggurnya, para penggarap kebun malah memukul dan menyuruh dia pulang tanpa hasil. Demikianlah kejadian ini berulang sampai hamba yang ketiga diutus. (Luk.11:49). Terakhir, si pemilik kebun anggur mengutus anaknya sendiri untuk melakukan tugas yang sama, seperti yang telah dilakukan hamba-hamba ayahnya sebelumnya. Namun apakah yang terjadi? 
Mereka melemparkan si anak itu keluar dan membunuh dia karena dialah ahli waris dari pemilik kebun anggur itu. Para penggarap ternyata tidak melaksanakan tugas dengan benar, malah mereka melakukan kejahatan yang luar biasa. 
Dalam kejahatan mereka itu, justru Tuhan datang menegur dengan keras, bahwa barangsiapa yang masih bermain-main dengan Tuhan, akan hancur dan remuk (18).

Perumpamaan ini adalah termasuk juga bentuk dari kehidupan orang orang Israel, sebab mereka juga telah berulang kali menolak Kerajaan Allah. Berkali-kali Allah mengutus nabi-nabi-Nya kepada mereka, hingga pada akhirnya anak Allah datang ke tengah tengah mereka lewat menjadi manusia dan berbicara kepada mereka. Namun tetap saja, mereka menolak. Bahkan dengan kejam mereka menyalibkan Yesus sebagai puncak pemberontakan mereka.

Demikianlah Yesus mengatakan "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru". Siapakah Batu penjuru itu? Bagi kaum Lutheran berdasarkan Alkitab Batu Penjuru adalah Yesus Kristus (Lukas 20:17, Maz.118:22). Hal ini berarti bahwa Yesus adalah pusat dari seluruh Kitab Suci, iman, dan gereja. Tanpa Yesus sebagai batu penjuru, seluruh ajaran agama akan runtuh menjadi sekadar aturan moralitas belaka.
Yesus menjadi batu penjuru justru melalui penolakan dan penderitaan. Dunia (para tukang bangunan) melihat Salib sebagai kegagalan atau kebodohan, sehingga mereka membuangnya. Namun, melalui kebangkitan-Nya, Allah menjadikan "batu yang dibuang" itu sebagai bagian terpenting dari KESELAMATAN manusia.

Oleh karena itu, marilah kita mengenali siapa pemilik hidup kita. Kita harus sadar bahwa hidup, talenta, harta, bahkan gereja adalah milik Allah, bukan milik kita. Penggarap dalam perumpamaan itu dihukum karena mereka mulai merasa bahwa mereka adalah pemiliknya. Sekarang kita dipanggil untuk hidup sebagai "PENATALAYAN" yang setia, dengan menyadari dan mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah titipan anugerah yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah. 
Dalam kehidupan ini, marilah kita renungkan bahwa Kristus terus menerus mengetuk pintu hati kita melalui firman-Nya. Mengajak kita untuk bertobat dan tidak mengeraskan hati, karena menolak Kristus berarti menjatuhkan diri kita sendiri ke dalam penghakiman. Sungguh Kegagalan kita tidak bisa membatalkan rencana keselamatan yang telah Allah lakukan lewat Yesus, namun ketika kita menolak dan tidak percaya akan anugerahNya, maka kita bukanlah milik Allah dan layak di lemparkan kedalam api neraka.

Marilah kita tetap hidup dalam kerendahan hati dan berhentilah untuk mengandalkan kekuatan sendiri. Mulailah membangun hidup di atas satu-satunya fondasi yang tidak akan pernah goyah yaitu Yesus Kristus, sebab dialah Fondasi kita, sumber kekuatan dan keselamatan hidup... 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin ๐Ÿ™

Senin, 04 Mei 2026

Bagaimanakah kita menggunakan Bait Allah dengan benar - Lukas 19:45-48

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 19:45
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,
Lukas 19:46
kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
Lukas 19:47
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,
Lukas 19:48
tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Saudara saudari, renungan firman Tuhan untuk kita pada hari ini adalah Kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Kehadiran Yesus dalam menyucikan atau menjaga kesucian bait Allah ini sering disalahpahami dalam menafsir sehingga yang tersampaikan hanya sebagai luapan kemarahan. Namun, bagi perspektif Lutheran kehadiran Yesus di bait Suci adalah suatu tindakan Kristologis dan Yuridis. Yesus datang sebagai pemilik sah rumah itu untuk memulihkan fungsi utamanya. Di Yerusalem, di akhir perjalanan-Nya menuju salib, Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dikomersialkan atau dijadikan alat pembenaran diri. Terlebih pada Pada masa itu, Bait Allah bukan hanya menjadi pusat ibadah orang Yahudi, tetapi juga pertemuan-pertemuan sosial lainnya, termasuk berdagang bahan-bahan keperluan sehari-hari juga bahan-bahan keperluan ibadah. 
Persoalannya bukan sekadar masalah jual beli saja, melainkan segala bentuk pemerasan dan tipu daya yang semata-mata untuk menguntungkan para pedagang yang berkolusi dengan para imam. Itulah yang menjadikan Yesus membersihkan Bait Allah dan mengembalikan fungsi semulanya yaitu untuk berdoa (ayat 45-46). 

Dalam bacaan firman ini, Yesus mengutip dari kitab Nabi Yesaya dan Yeremia: "Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 
Sarang penyamun artinya Penyamun bukan merampok di dalam sarangnya; mereka merampok di luar, lalu bersembunyi di sarang agar merasa aman. Inilah kritik Yesus terhadap formalitas agama. Orang-orang berdosa di luar, lalu datang ke Bait Allah untuk "membeli" pengampunan lewat korban sembelihan tanpa pertobatan hati.
Apakah kita menggunakan gereja atau ritual agama hanya sebagai tempat persembunyian untuk menutupi ketidakadilan kita sehari-hari? 
Perlu kita tahu, bahwa "Ibadah yang hanya menjadi rutinitas tanpa transformasi hati adalah "sarang penyamun."
Lalu, bagaimanakah kita saat ini memandang dan menggunakan rumah ibadah? 
Di tengah kemerosotan institusi agama, Yesus tetap setia untuk menawarkan diri-Nya melalui Firman. Ibadah yang sejati adalah saat kita "terpikat" untuk mendengarkan Kristus. Dengan demikian, cukuplah kita juga menggunakan Rumah ibadah sesuai dengan fungsinya, betul betul hanya untuk tempat beribadah kepada Tuhan dan mari kita menjaga kekudusanNya. 
Dan perlu juga kita tahu, dalam pengajaran teologi Lutheran, Bait Allah yang sesungguhnya sekarang adalah Kristus sendiri dan di mana Firman-Nya diberitakan dengan murni dan ke 2 sakramenNya itulah Gereja yang benar dan itulah sesungguhnya fungsi Gereja, untuk pusat mewartakan Injil Allah dan untuk menyaksikan Kristus yang terlihat atau injil yang kelihatan lewat Sakramen. 

Saudara saudari, Setelah Yesus mengusir pedagang, Yesus tidak meninggalkan Bait Allah. Ia justru mengajar setiap hari di sana. Dan meskipun para pemimpin agama berusaha membinasakan-Nya, mereka tidak berdaya karena "seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia."

Dan sesungguhnya, Ibadah ibadah yang kita lakukan baik dalam rumah Ibadah atau dimana pun bahkan di rumah, sesungguhnya bukan tentang apa yang kita berikan kepada Tuhan (transaksi/dagang), melainkan tentang apa yang Tuhan berikan kepada kita melalui Firman-Nya dan doa. Dan mariah kita juga mengingat, bahwa kita (tubuhmu) sekarang adalah bait Allah. Lewat Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit mengalahkan maut, sungguh tubuh kita sekarang adalah juga bait Roh Allah yang Kudus. Yesus ingin masuk ke dalam hidup kita untuk mengusir "pedagang-pedagang" (ego, keserakahan, kepalsuan) agar hati kita menjadi rumah doa yang betul betul berserah kepada pertolongan Tuhan.

Oleh karena itu, lewat perikop ini marilah kita memahami dengan benar bahwa kehadiran Yesus di rumah ibadah adalah untuk menyucikan Bait Allah bukan untuk menghancurkannya, ia datang ke dalam rumah itu untuk memulihkannya bagi kita dan bagiNya. Demikianlah juga dengan hidup kita, Ia datang ke dalam hidup kita untuk membuat kita menjadi baitNya "milik kepunyaanNya" ia datang bukan untuk menghancurkan kita, melainkan menyelamatkan dan menghidupkan kembali Fungsi utama kita untuk taat kepadaNYA, dan Allah juga berharap agar kita datang bukan dengan persembahan yang "dibeli," melainkan dengan hati yang mau mendengarkan dan taat. 
Marilah kita tetap setia pada pengajaran-Nya, karena hanya di dalam Firman-Nya kita menemukan tempat perlindungan yang sejati, dan bukan sarang persembunyian yang palsu.
Sebagai umat GKLI - Lutheran, marilah kita memahami dengan benar bahwa ibadah bukanlah upaya manusia untuk menyogok Tuhan dengan persembahan (seperti para pedagang di Bait Allah), sebab dalam ajaran kita, Ibadah adalah waktu di mana Tuhan melayani kita melalui Firman dan Sakramen. Maka berhentilah berdagang dengan Tuhan melalui amal atau formalitas, dan mulailah menerima anugerah-Nya. 

Sama seperti Yesus menyucikan Bait Allah secara radikal. Maka kembali kita di ingatkan dalam khotbah khotbah di GKLI tentang simbol Lutheran mengenai semboyan Ecclesia Semper Reformanda (Gereja yang harus selalu diperbarui). Demikianlah Kita harus mengizinkan Kristus terus-menerus "mengusir" berhala-berhala modern dalam hati kita (seperti materialisme atau kesombongan) agar hidup kita menjadi rumah doa yang sejati. Jangan bersembunyi di balik status "orang Kristen" untuk menutupi dosa, tetapi datanglah ke hadirat Tuhan dengan kejujuran untuk dikuduskan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin ๐Ÿ™

theologi Lutheran

BAGAIMANAKAH PANDANGAN LUTHERAN DENGAN PENDETA PEROKOK ATAU JEMAAT PEROKOK - ๐š•๐šž๐š๐š‘๐šŽ๐š›๐šŠ๐š— ๐šš๐šž๐šŽ๐šœ๐š๐š’๐š˜๐š—๐šœ

๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž๐™ข๐™–๐™ฃ๐™–๐™ ๐™–๐™ ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™™๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ก๐™ช๐™ฉ๐™๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ง๐™ค๐™๐™–๐™ฃ๐™ž๐™–๐™ฌ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ค๐™ ๐™ค๐™  ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ช๐™ฅ๐™ช๐™ฃ ๐™Ÿ๐™š๐™ข๐™–๐™–๐™ฉ. ...

what about theologi luther ?