Sabtu, 03 Oktober 2026

Khotbah Minggu XVIII Setelah Trinitatis (Matius 21:33-46

Sunday Sermon 
Matius 21:33-46, 

Dalam khotbah hari ini, Yesus mengingatkan kita tentang para penggarap kebun anggur yang lupa diri. Mereka menikmati fasilitas dari pemilik kebun, tetapi saat pemiliknya meminta hasil, mereka justru memberontak bahkan membunuh anak sang pemilik demi menguasai warisannya.

Kejadian ini adalah hal yang sama sering kita lakukan dan terjadi terus menerus dalam hidup manusia, sebab kita sering hidup seperti penggarap itu. Kita menikmati napas hidup, talenta, kesehatan, dan berkat dari Tuhan, tapi sering kali kita malah bertindak seolah hidup ini adalah milik mutlak kita sendiri, bahkan menolak panggilan Tuhan saat menuntut ketaatan kita, menolak jalan Tuhan karena tidak sesuai dengan rencana kita sendiri. 

Ketika kita melihat pada Pengakuan Iman Augsburg (Augsburg Confession), Pasal II (Dosa Asal) & Pasal XVIII (Kehendak Bebas).
Doktrin Lutheran telah menegaskan bahwa setelah kejatuhan Adam, manusia telah kehilangan ketakutan dan iman yang benar kepada Allah, serta tidak memiliki kemampuan spiritual untuk berbalik kepada Allah dengan kekuatannya sendiri.
Artinya, mengapakah para penggarap membunuh Sang Anak? 
Sesungguhnya Karena mereka dibutakan oleh dosa dan berpikir mereka bisa menjadi pemilik ("Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita"). Ini menunjukkan bahwa manusia secara alami memusuhi Allah, dan tahukah anda bahwa kita tidak akan bisa keluar dari status "penggarap yang jahat" ini tanpa intervensi Roh Kudus melalui Firman dan Sakramen.

Lewat Injil inilah kita dapat melihat perkataan Allah,  sebab apa yang dibuang, ditolak dan disalibkan oleh dunia di Golgota, justru dijadikan Allah sebagai fondasi keselamatan yang kokoh bagi kita. 
Dalam Ayat 42 mengenai "Batu Penjuru" sesungguhnya ini adalah proklamasi Solus Christus (Hanya Kristus). Dunia memang membuang-Nya (Salib), tetapi Allah meninggikan_Nya (Kebangkitan). Bagi orang percaya, Batu ini adalah dasar keselamatan yang kokoh (Formula Konkord XI tentang Pilihan Kekal), namun bagi mereka yang menolak-Nya, Batu ini menjadi batu penghakiman yang meremukkan. 

Seperti bacaan pada hari ini, Pengakuan Iman Augsburg, Pasal VI (Tentang Ketaatan Baru).
Tahukah anda bahwa Perbuatan baik adalah buah yang pasti dari iman, bukan syarat keselamatan?
Dalam ayat 43 menyebutkan bahwa Kerajaan Allah akan diberikan kepada bangsa yang "menghasilkan buah". Jika kita melihat ke Buku Konkord, "buah" ini sesungguhnya bukanlah usaha manusia untuk menyenangkan Pemilik Kebun agar tidak dihukum. Buah ini muncul secara spontan karena kita telah dicangkokkan secara cuma-cuma kepada Sang Batu Penjuru (Kristus). Kita berbuah karena kita telah dibenarkan oleh iman (Justification by Faith).

Karena itu, Janganlah bangun hidupmu di atas ambisi pribadi, tetapi berdirilah di atas Kristus Sang Batu Penjuru yang tidak akan pernah goyah. Hiduplah merendahkan hati, dan ingatlah selalu bahwa kita hanyalah penggarap yang hidup murni karena kebaikan-Nya. Serahkan buah yang terbaik dari hidupmu untuk kemuliaan nama-Nya.

#vdma #mingguxviiisetelahtrinitatis #gkli #RenunganMinggu #Matius21 #BatuPenjuru #RenunganKristen

Acara Ibadah muda mudi lutheran - minggu XVII Set Trinitaits - Mazmur 25 : 1 - 10 Thema : Allah Perlindungan ku

 

ACARA IBADAH MUDA/MUDI GKLI

GKLI Baloi Kolam 03/10/2026

 

1.      Bernyanyi dari kidung jemaat No. 08 : 1 – 3 (Bagimu Tuhan Nyanyian ku)

1. BagiMu, Tuhan, nyanyianku, kar'na setaraMu siapakah ?
Hendak kupuji Kau selalu; padaku Roh Kudus berikanlah,
Supaya dalam Kristus, PutraMu, kidungku berkenan kepadaMu.

2. O tuntun aku ke PutraMu, agar padaMu 'ku dituntunNya:
dan RohMu diam dalam rohku, membuat mata hatiku cerah,
sehingga kurasakan damaiMu dan kuungkapkan dalam kidungku.

3. Beri berkatMu, Maha Tuhan, agar benar kudus puianku,
dan doa juga kulagukan di dalam Roh dan kebenaranMu,
jiwaku pun padaMu bersyukur, bersama bala sorga bermazmur.

2.      Doa Pembuka

      Bapa kami yang di sorga, pada malam hari ini, kami para anak anak Mu yang telah Engkau tebus melalui darah Mu yang kudus itu. Kini kami datang merendahkan hati di hadapan_Mu. Kiranya berilah kami kekuatan, hadirlah Engkau dalam hati kami, ajarlah kami akan Firman Mu dan ingatkan kami melalui kuasa Roh Kudus Mu agar kiranya kami menjadi anak Remaja dan pemuda pemudi yang hidup di dalam kebenaran Firma_Mu.

Pada saat ini juga kami teringat dengan kedua orang tua kami, dan juga saudara sadudari kami, berkatilah mereka Tuhan, berikan umur yang panjang dan kesehatan bagi orang tua kami, dan kami juga berdoa unntuk malam hari ini, berkati kami semua yang telah hadir di tempat ini, jangan biarkan pikiran kami menjauh dari pada_Mu. Begitu juga Tuhan Ibadah kami besok, ingatkan kami dan semua jemaat_Mu agar kami dapat bersama sama hadir di tempat ini, untuk menerima kehadiran Mu melayani kami akan keampunan dosa kami dan menerangi hati kami. Demikian juga dengan dosa dosa kami, Tuhan kami adalah orang orang yang hina di hadapanMu, ampunilah kami akan dosa kami itu, dan kuatkan kami agar kami dapat hidup di dalam pertobatan yang benar.

Dalam nama Bapa, Putera dan Roh kudus. Amin

 

3.      Bernyanyi dari kidung jemaat No. 454 : 1 – 3 (Indahnya saat yang teduh)

1. Indahnya saat teduh menghadap takhta Bapaku:
kunaikkan doa padaNya, sehingga hatiku lega.
Di waktu bimbang dan gentar, jiwaku aman dan
Segar; 'ku bebas dari seteru di dalam saat yang teduh.

2. Indahnya saat yang teduh dengan bahagia penuh.
Betapa rindu hatiku kepada saat doaku.
Bersama orang yang kudus kucari wajah Penebus;
Dengan gembira dan teguh kunanti saat yang teduh.

3. Indahnya saat yang teduh penampung permohonanku
kepada yang Mahabenar yang bersedia mendengar.
Sejak kulihat wajahNya, 'ku yakin pada firmanNya
dan menyerahkan bimbangku di dalam saat yang teduh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Renungan

Nats      : Mazmur 25 : 1 - 10

Thema  : Allah Perlindungan ku

Tujuan : Supaya Remaja dan pemuda/i percaya akan perlindungan Allah dalam hidupnya :

1.         Sebab itu percaya dan berserahlah kepada Allah

2.         Sebab itu berdoa dan bermohonlah hanya kepada Allah

3.         Sebab Tuhan itu baik untuk selama lamanya

4.         Sebab Tuhan adalah kasih dan setia

Hafalan : Mazmur 25:4

 

5.      Bernyanyi dari kidung jemaat No. 341 : 1 – 3 (KuasaMu dan namaMu lah)

1. KuasaMu dan namaMulah hendak kami sebar dan kar'na itu,
ya Tuhan, kami takkan gentar. Bagaikan padi segenggam
mestilah mati dipendam, supaya tumbuh dan segar, di panas
surya mekar berbuahlah. Tuaian pun besar.

2. Teladan sudah Kauberi demi deritaMu dan melalui salibMu
Kaut'rima kuasaMu! Bagian kami tak lebih, seperti segenggam
Benih, melintas kubur yang gelap, agar kelak 'kan menetap
BersamaMu di Firdaus gemerlap.

3. Bagaikan padi, Tuhan pun dikubur, dipendam, kembali bangkit
merebut umatMu terkeram. Ya Tuhan, kirim apalah penabur yang
t'lah menyerah hidupnya untuk kuasaMu, memberitakan namaMu,
agar seg'ra buahnya milikMu
.

 

6.      Doa Penutup + Doa Bapa Kami

 

7.      Latihan Koor

 

 

 

 

 

 

 

 


Senin, 28 September 2026

SAKRAMEN PENGAKUAN DAN PENGAMPUNAN* The Lutheran Chronicles

*SAKRAMEN PENGAKUAN DAN PENGAMPUNAN*
> Dikutip dari sumber: The Lutheran Chronicles, 7 Oktober 2023


Tanyakan kepada umat Katolik Roma berapa jumlah Sakramen, dan ia akan menjawab tujuh. Tanyakan kepada orang Lutheran masa kini, dan ia akan menjawab dua. Tanyakan kepada orang Baptis, dan ia akan berkata, “Kami punya dua, tetapi kami menyebutnya tata cara gerejawi.” Tanyakan kepada orang Pentakosta, dan ia akan berkata, “Cih, tidak! Pemahaman sakramental semacam itu hanyalah penistaan!” Tanyakan kepada orang Mormon… Yah, sebaiknya jangan, karena mereka bukan umat Kristen.
 
Saya seorang Lutheran, tetapi saya menyebutnya tiga.
 
Bagi banyak orang, pandangan ini sekadar keunikan. Namun hal ini juga menjadi perdebatan yang nyata di dalam Gereja Lutheran, dan berakar pada dua hal utama: batasan yang tepat tentang apa yang disebut “sakramen”, serta kesalahpahaman tentang bagaimana pengakuan dan pengampunan memenuhi batasan tersebut. Definisi sakramen dapat berbeda-beda antar denominasi. Sepanjang sejarah, Gereja Lutheran mendefinisikan sakramen sebagai tata cara — serangkaian ibadat atau upacara kudus yang ditetapkan oleh Allah — yang diperintahkan oleh Allah dan dijanjikan kasih karunia-Nya di dalamnya. Agama Protestan pada umumnya menambahkan unsur fisik ke dalam definisi ini, meskipun hal ini justru tidak tercantum dalam Pengakuan Iman Lutheran. Pembaptisan dan Perjamuan Kudus secara universal dianggap sebagai sakramen (atau tata cara bagi sebagian Protestan), karena keduanya memenuhi batasan yang digariskan dalam Pengakuan Iman Lutheran sekaligus memiliki unsur fisik — air dalam Pembaptisan, serta Tubuh dan Darah Kristus dalam Perjamuan Kudus. Pengakuan dan pengampunan secara lazim tidak masuk ke dalam definisi ini karena tidak memiliki unsur fisik yang tampak jelas.
 
Namun perlu diperhatikan bahwa pengakuan dan pengampunan adalah sarana di mana Kristus menyampaikan kasih karunia-Nya kepada umat-Nya — pengampunan yang diucapkan adalah pengampunan Allah sungguh-sungguh yang diberikan kepada kita melalui para pendeta-Nya. Belum lagi, tata cara ini sesungguhnya memiliki unsur fisik yang sering terabaikan — bahkan mungkin lebih dari satu.
 
Secara sejarah, pandangan Gereja Katolik Roma tentang pengakuan dan pengampunan sedikit berbeda dari pemahaman Lutheran. Sebagian besar orang sudah mengenal bilik pengakuan yang digunakan di Gereja Katolik — ruang fisik tempat pengakuan dan pengampunan berlangsung. Imam duduk di satu sisi, sedangkan orang yang mengaku dosa duduk di sisi lain, biasanya dipisahkan oleh dinding berlubang kisi sehingga keduanya tidak saling melihat. Hal ini memiliki beberapa tujuan: terutama agar orang yang mengaku diingatkan bahwa yang diucapkan bukan pengampunan imam, melainkan pengampunan Allah. Hal ini tercermin jelas dalam tata cara pengakuan dan pengampunan bersama dalam Buku Ibadah Lutheran, di mana pendeta bertanya, “Apakah engkau percaya bahwa pengampunan yang kukatakan ini bukan pengampunanku, melainkan pengampunan Allah?” Dan jemaat menjawab, “Ya.” Selain itu, bilik pengakuan menyembunyikan orang yang mengaku dari pandangan pendeta, sehingga pendeta tidak tergoda menghakimi seseorang berdasarkan dosa yang diakui. Pemakaian bilik pengakuan akan sangat membantu umat Lutheran, terutama untuk alasan yang pertama tadi — namun sayangnya bilik seperti ini jarang ditemukan di gereja-gereja Lutheran masa kini. Beberapa bilik dilengkapi tirai yang dapat dibuka-tutup, sehingga orang yang mengaku dapat memilih sekadar menerima Sakramen Pengakuan dan Pengampunan, atau sekaligus berbincang dengan pendeta untuk nasihat rohani. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi Gereja Lutheran masa kini.
 
Selain itu, Sakramen Pengakuan dan Pengampunan juga memiliki unsur fisik lain: saat pendeta menumpangkan tangan atas orang yang mengaku sambil mengucapkan kata-kata pengampunan. Hal ini merupakan tata cara yang umum, terlebih lagi karena bilik pengakuan jarang tersedia. Meskipun penumpangan tangan bukanlah hal yang sungguh-sungguh menyampaikan pengampunan, tata cara ini mengingatkan pada Perjanjian Baru yang mencatat bahwa penumpangan tangan adalah tanda berkat dan kesembuhan. Demikian pula pengakuan dan pengampunan adalah berkat bagi umat Allah — karena diampuni dari dosa, mereka menerima pengampunan dari Allah. Hal ini sejalan dengan gambaran kesembuhan. Sakramen diberikan kepada kita sebagai sarana penyembuhan dari penyakit dosa yang merusak daging. Pemulihan surgawi Allah diberikan kepada kita melalui berkat-berkat sakramental-Nya. Itulah sebabnya seluruh Sakramen, termasuk Pengakuan dan Pengampunan, menjadi sangat penting. Namun tata cara penumpangan tangan ke atas kepala orang yang mengaku tidak dapat dilakukan jika menggunakan bilik pengakuan (kecuali jika ada lubang yang dibuka saat pengampunan diucapkan), sehingga gereja perlu memilih salah satu dari kedua tradisi tersebut.
 
Namun yang terpenting, orang yang mengaku mendengar kata-kata pengampunan. Ucapan pengampunan dari Kristus yang disampaikan melalui pendeta didengar dan diterima dengan iman. Pengampunan Kristus pertama kali diucapkan kepada kita, dan setiap kali kita mendengar kata-kata pengampunan, kita menyaksikan kesempurnaan pengorbanan Kristus di kayu salib demi pengampunan dosa. Di mana pun pengakuan berlangsung, pengampunan hanya diberikan setelah kata-kata pengampunan — yaitu pengampunan Allah — diucapkan. Kata-kata itu diucapkan, dan pengampunan Allah diberikan kepada orang yang mengaku.
 
Katekismus Besar karya Luther memuat Pengakuan dan Pengampunan sebagai “sakramen yang ketiga”, dan Pembelaan Pengakuan Iman Augsburg juga memasukkannya ke dalam definisi “sakramen”. Pembelaan Pengakuan Iman Augsburg menyatakan: “Pengampunan dapat disebut Sakramen Pertobatan dengan benar, sebagaimana diakui pula oleh para teolog sekolah yang lebih terpelajar.” Di luar definisi sakramentalnya, Pengakuan Iman Augsburg juga mengajarkan: “Gereja-gereja kami mengajarkan bahwa pengampunan pribadi hendaknya tetap dipertahankan di gereja-gereja kami, meskipun tidak perlu mengakui setiap dosa secara terperinci” (Pasal XI ayat 1), dan “Gereja hendaknya memberikan pengampunan kepada mereka yang bertobat […] pertobatan terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah penyesalan, yaitu ketakutan yang menyergap hati karena pengenalan akan dosa. Yang kedua adalah iman, yang lahir dari Injil atau dari pengampunan, dan yang percaya bahwa dosa diampuni semata-mata karena Kristus” (Pasal XII ayat 2–5). Hal ini memisahkan ajaran Lutheran dari pemahaman Katolik Roma yang mengajarkan adanya bagian ketiga pertobatan yang disebut “penebusan perbuatan”. Pembelaan Pengakuan Iman Augsburg membela pandangan ini dengan menunjuk perkataan Kristus dalam Matius 11:28 (“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat…”) sebagai lambang dari “penyesalan, kegelisahan, dan ketakutan karena dosa dan maut” (Pasal XII-A ayat 44). Ditegaskan pula: “‘Datang kepada’ Kristus berarti percaya bahwa dosa diampuni karena Dia […] Dalam Markus 1:15 Kristus berkata, ‘Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.’ Bagian pertama menegur kita akan dosa, sedangkan bagian kedua menghibur kita dan memberitakan pengampunan dosa” (Pasal XII-A ayat 44–45).
 
Apakah penentuan jumlah sakramen itu penting? Tentu saja penting. Pertama, pengakuan dan pengampunan memenuhi definisi sakramen yang lazim dan diterima, sehingga tidak perlu dikeluarkan dari daftar. Namun yang lebih penting, memandang pengakuan dan pengampunan sebagai sakramen mengingatkan kita akan betapa pentingnya hal ini. Hal ini menegaskan bahwa pengampunan adalah salah satu karunia utama Kristus — buah langsung dari kematian-Nya di kayu salib. Tanpa pengampunan-Nya, kita tidak dapat mewarisi Kerajaan Surga. Memandang Pengakuan dan Pengampunan sebagai sakramen juga mengingatkan Gereja bahwa Allah menghendaki pengakuan. Ia menghendaki kita bertobat dan menyesali dosa. Jika Perjamuan Kudus dipahami sebagai sarana kasih karunia di mana Allah memberikan belas kasihan dan rahmat-Nya, maka Pengakuan dan Pengampunan adalah pengucapan langsung pengampunan Allah dan pernyataan bahwa kita dibenarkan di hadapan-Nya melalui Kristus.
 
Umat Kristen, bahkan umat Lutheran, sering kali takut melakukan pengakuan dan pengampunan, terlepas dari apakah hal ini disebut sakramen atau tidak — karena manusia pada dasarnya enggan mengakui kelemahan diri di hadapan orang lain. Ada pula kekhawatiran bahwa pendeta akan menghakimi, memandang rendah, atau bahkan menyalahgunakan rahasia dosa yang diakui. Namun menyembunyikan kelemahan tidaklah membantu. Orang Kristen menemukan penghiburan dan sukacita yang besar ketika mengetahui bahwa dosa-dosanya — terutama yang membebani hati — telah diampuni, dan ia mendengar secara langsung bahwa dosa-dosa itu dihapuskan oleh kasih karunia dan rahmat Allah. Padahal, seseorang tidak perlu mengakui setiap dosa secara terperinci. Dalam Buku Ibadah Lutheran, tersedia tata cara opsional untuk menyebutkan dosa-dosa yang khusus membebani hati. Orang yang mengaku dapat mengakui dosa secara umum dan tetap menerima pengampunan yang sama; pengampunan Allah tidak bergantung pada apakah kita menyebutkan setiap dosa satu per satu. Selama hati sungguh-sungguh menyesal, iman teguh, dan hati nurani terguncang, pengampunan Allah sudah cukup.
 
Jika sakramen adalah sarana kasih karunia Allah, diperintahkan oleh-Nya, dan menjadi tata cara Gereja, maka tidak masuk akal jika sakramen yang di dalamnya rahmat dan pengampunan Allah diucapkan secara langsung kepada umat-Nya justru ditolak. Sepanjang sejarah, sakramen dipahami sebagai hal yang paling utama dalam kehidupan ibadat jemaat. Maka Pengakuan dan Pengampunan adalah saat di mana kita berkata kepada Allah, “Kasihanilah aku, hai Allah, aku orang berdosa!” — dan Ia menjawab kepada kita, “Pergilah, anak-Ku, engkau telah diampuni dan ditebus.”

Jumat, 25 September 2026

Acara Ibadah muda mudi Lutheran - Filipi 1 : 12 - 4 Thema : HIDUP DALAM KRISTUS

 

Acara Ibadah Pemuda/I GKLI

26/09/2026

 

1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 64 :1 – 3 (Bila ku lihat bintang Gemerlapan)

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

3. Pabila nanti Kristus memanggilku, sukacita amatlah besar,
kar'na terkabullah yang kurindukan: melihat Dikau, Tuhanku akbar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

 

2.      Doa Pembuka

        Bapa kami yang ada di Surga, kami bersyukur pada malam hari ini, atas berkat dan Anugerah Mu yang selalu menyertai kami sehingga di malam hari ini kami tetap sehat dan kuat. Kini kami datang kehadapan Mu memohon agar kiranya Engkau menerangi dan menyinari hati kami melalui Firman Mu, ajar dan pelihara lah hidup kami agar kiranya kami menjadi pemuda/i yang takut terhadap Engkau dan menghormati orang tua kami. Kami juga berdoa buat Ibadah kami ini, terimakasih Tuhan karna Engkau telah hadir untuk kami. Sebentar lagi kami akan menerima pengajaran dari Firman Mu kiranya bukakan hati kami dan ingatkanlah kami melalui Firman Mu agar kami dapat hidup menjadi pemuda/i yang takut akan Engkau.

Tuhan Yesus Kristus, kami juga berdoa buat orang tua kami, berkatilah mereka, berikan kesehatan dan panjang umur dan ingatkan mereka agar tetap sabar dan setia dalam mendoakan dan mengajari kami. Kami juga berdoa buat sahabat sahabat kami pada saat ini yang sibuk karna pekerjaan, belum rindu untuk mendengarkan panggilanmu, berkatilah setiap saudara/i kami itu dan ingatkanlah mereka Tuhan, agar kiranya kami dapat bersama sama menerima Firman mu. Kami juga memohon keampunan atas dosa dosa kami, Tuhan ampuni kami dan kuduskan kami dari dosa itu, agar kami kudus dan layak datang kehadapanMu. Inilah doa dan permohonan kami, dengarkan lah doa kami. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus Amin!

 

3.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 425 (Berkumandang suara dari seberang)

1. Berkumandang suara dari seberang, "Kirimlah cahyamu!"
Banyak jiwa dalam dosa mengerang, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff : Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.
                 Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.

2. Kita t'lah dengar jeritan dari jauh, "Kirimlah cahyamu!"
Bantuanmu b'rikan, janganlah jemu, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff:

3. Jangan kita tinggal diam mendengar: "Kirimlah cahyamu!"
Injil Tuhan haruslah kita sebar, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff:

4.      Renungan

Nats     : Filipi 1 : 12 - 4

Thema : HIDUP DALAM KRISTUS

Tujuan : Supaya anak remaja atau Pemuda/i hidup berkenan di dalam Kristus:

1.   Walau kita di dalam pergumulan

2.   Walau kita mengalami kesesakan

3.   Apapun yang kita alami biarlah kita hidup dan tinggal dalam Kristus

4.   Allah akan menuntun kita untuk berkata kata dan berlaku benar sesuai dengan kehendakNya.

 

Hapalan : Filipi 1 : 13

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3 (Berkumandang suara dari seberang)

1. Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.

2. Hai angkit bagi Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.

3. Hai bangkit bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!

 

6.      Doa Persembahan + Doa Penutup

 

7.      Latihan KOOR

 

 


Jumat, 18 September 2026

acara Ibadah muda mudi Lutheran - Kejadian 50 : 15 - 21 Thema : Allah senantiasa ada bagi kita

 

Acara Ibadah Muda Mudi GKLI

19 September 2026

1.     BERNYANYI DARI KIDUNG JEMAAT NO. 18 : 1 -  3 (ALLAH HADIR BAGI KITA)

1. Allah hadir bagi kita dan hendak memb'ri berkat,
melimpahkan kuasa RohNya bagai hujan yang lebat.

           Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
                Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

2. Allah hadir, sungguh hadir di jemaatNya yang kudus;
oleh kasih-kurniaNya biar kita ditebus.

           Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
                Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

3. Allah hadir! O, percaya dan berdoa padaNya
agar kita dikobarkan oleh nyala kasihnya.

           Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
                Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

2.     DOA PEMBUKA

Bapa kami yang ada di Surga, terpujilah di Kau yang Kudus yang telah mempersatukan kami pada malam hari ini, kini kami akan mendengarkan Firman mu yang Kudus, kiranya Ajar dan didik lah kami, dan peliharalah Iman kami, agar kami sepenuhya memberikan hidup kami kepadaMu sehingga kami menjadi pemuda/i yang setia kepadaMu. Kami juga berdoa pada malam hari ini, terimakasih karena Engkau telah mengantarkan kami ke peringatan hari kemerdekaan Negara Indonesia yang ke 79, dan secara Khusus juga kami sangat berterimakasih atas kemerdekaan Jiwa kami dari perbudakan Iblis, Engkau telah menebus kami dan membawa kami kepada Anugerah yang Engkau berikan kepada kami.

Bapa di surga, pada malam hari ini saudara saudara kami yang tidak bisa datang, berkatilah mereka dan ingatkanlah mereka supaya mereka juga mengingat dan memberikan waktunya di hari yang akan datang agar kami bersama sama di tempat ini untuk dengar dengar an FirmanMu, orang tua kami berkatilah mereka dan berilah panjang umur. Terpujilah Engkau yang kudus. Amin.

 

3.     BERNYANYI DARI KIDUNG JEMAAT NO. 64 : 1 – 3 (Bila ku lihat bintang Gemerlapan)

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

3. Pabila nanti Kristus memanggilku, sukacita amatlah besar,
kar'na terkabullah yang kurindukan: melihat Dikau, Tuhanku akbar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

 

 

4.     Topik Renungan

Nats        : Kejadian 50 : 15 - 21

Thema    : Allah senantiasa ada bagi kita

Tujuan   : Supaya anak remaja/pemuda dan pemudi percaya bahwa Allah bersama kita :

1.      Sebab itu hendaklah kita saling mengasihi

2.     Hendaklah kita saling mengampuni

3.     Oleh karena itu jangan takut

4.     Karena Allah senantiasa merancangkan kebaikan bagi kita

Hafalan   : Kejadian 50:21

5.     Bernyanyi dari kidung Jemaat No. 402 : 1 – 3 (Ku perlukan Juruselamat)

1. Kuperlukan Jurus'lamat, agar jangan 'ku sesat;
s'lalu harus kurasakan bahwa Tuhanku dekat.

         Reff : Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
               Bila Tuhanku membimbing, 'ku di malam pun tent'ram.

2. Kuperlukan Jurus'lamat, kar'na imanku lemah.
HiburanNya menguatkan; sungguh tiada bandingnya.

         Reff : Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
               Bila Tuhanku membimbing, 'ku di malam pun tent'ram.

3. Kuperlukan Jurus'lamat dalam langkah juangku;
siang malam, suka duka dengan Tuhan kutempuh.

         Reff : Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
               Bila Tuhanku membimbing, 'ku di malam pun tent'ram.

4. Kuperlukan Jurus'lamat, agar 'ku dibimbingNya
melintasi arus Yordan ke Neg'ri Bahagia.

          Reff : Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
                Bila Tuhanku membimbing, 'ku di malam pun tent'ram.

6.     Doa Penutup + Doa Bapa Kami

7.     Latihan Koor

 

 


Kamis, 10 September 2026

Berbahagialah sebab dosamu telah diampuni - Mazmur 32:1-7 "Acara Ibadah muda mudi Lutheran _ Minggu XIV Dung trinitatis"

 

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

12 September 2026

 

1.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 08 : 1 – 3 (Bagimu Tuhan Nyanyian ku)

1. BagiMu, Tuhan, nyanyianku, kar'na setaraMu siapakah ?
Hendak kupuji Kau selalu; padaku Roh Kudus berikanlah,
Supaya dalam Kristus, PutraMu,
kidungku berkenan kepadaMu.

2. O tuntun aku ke PutraMu,
agar padaMu 'ku dituntunNya:
dan RohMu diam dalam rohku,
membuat mata hatiku cerah,
sehingga kurasakan damaiMu
dan kuungkapkan dalam kidungku.

3. Beri berkatMu, Maha Tuhan,
gar benar kudus puianku,
dan doa juga kulagukan
di dalam Roh dan kebenaranMu,
jiwaku pun padaMu bersyukur,
bersama bala sorga bermazmur.

 

2.      Doa Pembuka

Bapa kami yang ada di Surga, kini kami datang dengan penuh rendah hati kehadapanMu, mengucap syukur atas segala Anugerah Mu dalam hidup kami satu minggu ini. Terimaksih atas kesehatan dan kekuatan yang telah Engkau berikan kepada kami, dan terimakasih juga pada saat ini Engkau telah mengingatkan kami, agar kami datang ke tempat ini untuk dengar-dengaran akan FirmanMu. Sebentar kami akan mendengarkan, belajar dan ingin melakukan FirmanMu, kiranya tuntun dan ajarlah kami, agar kami selalu setia untuk melakukan kehendakMu. Kami juga berdoa untuk teman teman kami yang tidak dapat datang di malam hari ini, berkatilah juga mereka dan ingatkanlah mereka agar jangan menjauh dari hadapanMu, agar kiranya kami dapat bersama sama di tempat ini untuk belajar akan kebenaran Firman Mu.

 Bapa kami yang di Surga, kami juga memohon, kiranya Engkau selalu memberkati kedua orang tua kami, berikan mereka kesehatan dan kesabaran dalam mengajari kami, mendidik kami terlebih dalam mendoakan kami. Atas segala dosa pelanggaran kami, Tuhan ampunilah kami dan kuatkan jugalah kami agar kami kuat untuk melawan kuasa iblis yang membuat kami menjauh dari hadapanMu. 

Inilah doa dan permohonan kami, Dalam nama bapa dan Putera dan Roh Kudus kami telah berdoa. Amin

 

3.      Benyanyi Kidung Jemaat No. 402 : 1 – 2 (Ku perlukan Juru selamat)

1.      Kuperlukan Jurus'lamat, agar jangan 'ku sesat;
s'lalu harus kurasakan bahwa Tuhanku dekat.

Reff : Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
          Bila Tuhanku membimbing, 'ku di malam pun tent'ram.

2.      Kuperlukan Jurus'lamat, kar'na imanku lemah.
HiburanNya menguatkan; sungguh tiada bandingnya.

Reff : Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan;
          Bila Tuhanku membimbing, 'ku di malam pun tent'ram.

 

 

 

 

4.      Renungan

 Nats     : Mazmur 32 : 1 - 7

Thema : Berbahagialah sebab dosamu telah diampuni

Tujuan : Supaya anak remaja dan Pemuda senantiasa berbahagia sebab dosanya telah diampuni oleh Allah, karena itu  :

1.      Mengakulah dihadapan Tuhan atas setiap pelanggaran pelanggaran kita

2.      Jujurlah dan sampaikanlah dosa dosamu kepada Tuhan

3.      Sebab Allah berkenan kepada orang yang berseru kepadaNya

4.      Sebab Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi kita

 

Hafalan : Mazmur 32 : 7

 

5.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3 (Hai Bangkit Bagi Yesus)

1. Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.

2. Hai angkit bagi Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.

3. Hai bangkit bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!

 

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami + Berkat

7.      Latihan Koor

 


theologi Lutheran

Khotbah Minggu XVIII Setelah Trinitatis (Matius 21:33-46

Sunday Sermon  Matius 21:33-46,  Dalam khotbah hari ini, Yesus mengingatkan kita tentang para penggarap kebun anggur yang lupa diri. Mereka ...

what about theologi luther ?