Jumat, 22 Mei 2026

10 HUKUM TAURAT BERDASARKAN URUTAN GEREJA LUTHERAN

10 HUKUM TUHAN



https://docs.google.com/document/d/1EYC_CpsPJEhvM8IUc7XTG87nJ77F_xJl/edit?usp=drive_link&ouid=104613925996172531154&rtpof=true&sd=true

Kamis, 21 Mei 2026

UBIQUITAS adalah

Ubiquitas (Latin) ubique yang berarti "di mana-mana") hal ini merujuk pada doktrin kemahahadiran sifat kemanusiaan Yesus Kristus, dan Secara khusus, istilah akan doktrin ini mengajarkan kita bahwa setelah kenaikan-Nya ke surga, tubuh dan darah Yesus (sifat manusia-Nya) tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan hadir di mana-mana karena bersatu secara tidak terpisahkan dengan sifat keallahan-Nya (sifat ilahi).

Tokoh Reformasi kita, Martin Luther dan para teolog Lutheran mengajarkan dan menekankan pandangan ini akan kehadiran Yesus setelah kebangkitan untuk mempertahankan tentang Kehadiran Nyata (Real Presence) Kristus dalam Perjamuan Kudus. 

Bahkan dalam pandangan ini, Lutheran juga membedakan cara Kristus hadir di dunia. Doktrin Ubiquitas tidak berarti tubuh Yesus tersebar atau terbagi bagi secara materi di udara seperti molekul (bukan spatial extension).

Istilah ini, atau doktrin Ubiquitas ini tertuang secara resmi dalam dokumen iman Lutheran konvensional, yaitu Formula Kesepakatan (Formula of Concord, 1577) yang menjadi bagian dari Book of Concord.


KRISTUS YANG TELAH NAIK KE SORGA akan setia hadir dalam hidupmu - Kisah para Rasul 1:1-11

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Kisah Para Rasul 1:3
Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.
Kisah Para Rasul 1:4
Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku.
Kisah Para Rasul 1:5
Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."
Kisah Para Rasul 1:6
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
Kisah Para Rasul 1:7
Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Kisah Para Rasul 1:9
Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.. 
Kisah Para Rasul 1:10
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
Kisah Para Rasul 1:11
dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Saudara saudari, dalam bacaan perikop kita hari ini, firman Allah sedang berbicara tentang hari penggenapan kenaikan Yesus Kristus.  Dan fokus utama dari renungan kita hari ini adalah khotbah yang berpusat pada Kristus (Christocentric), pembedaan antara Hukum Taurat dan Injil (Law and Gospel), serta penekanan pada Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace).

Peritiwa Yesus terangkat ke sorga, adalah masa perpisahan bagi para murid dengan Yesus. Tentu secara manusiawi, perpisahan ini akan menyedihkan bagi para murid, sebab ketika seorang pemimpin pergi maka para pengikutnya akan merasa kehilangan arah. Namun, dalam pandangan teologi Lutheran kita di ajak untuk melihat peristiwa kenaikan ini bukan sebagai ketiadaan Yesus Kristus, melainkan sebagai cara baru bagaimana Kristus akan tetap hadir di tengah-tengah kita. Meskipun para murid dan kita tidak dapat melihatNya secara kasat mata, namun Kristus yang bangkit akan tetap memegang kendali, Ia akan selalu menegur kedagingan kita, dan menghibur kita dengan janji-Nya lewat kuasa Roh kudus. 

Jadi, apakah yang membuat para murid bersedih pada saat perpisahannya dengan Yesus? 
Lewat perikop ini, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa meskipun para murid telah sekian lama bersama dengan Yesus, dan mereka telah menyaksikan kematian Yesus, dan Yesus telah berulang ulang kali menampakkan diri kepada mereka. Sesungguhnya ada yang mengganjal dalam diri mereka masing masing. Dosa membuat mereka gagal mengenal dan mempercayai Yesus dengan benar dan kegagalan mereka membuat mereka lebih berpusat pada diri sendiri daripada kepada Yesus Kristus. Para murid menginginkan kejayaan politis, kesuksesan duniawi, dan teologi kemuliaan (theologia gloriae). Bahkan mereka ingin melihat Yesus bertakhta secara fisik dan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi saat itu juga. Keinginan keinginan seperti ini sering juga terjadi pada kita, dan sering kita datang kepada Yesus hanya mencari kerajaan duniawi. Dalam pengajaran kita sebagai gereja Lutheran, buku konkord mengajarkan kepada kita bahwa kehadiran Yesus di bumi adalah untuk menegakkan Theologia Crucis (Teologi Salib) sebab jalan Allah bukanlah untuk kejayaan duniawi, melainkan jalan salib dan penyangkalan diri, demi kemenangan orang orang percaya. 

Dalam perikop ini, Yesus juga memperingatkan mereka agar menantikan penghibur yang akan turun atas mereka, dan Yesus memperingati mereka agar tidak pergi. Yang berarti Yesus melarang mereka pergi dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Melainkan harus menunggu janji Bapa, yaitu baptisan Roh Kudus, agar Roh Allah bekerja atas mereka untuk dapat membedakan yang benar dan terlebih berkuasa melakukan yang baik dan menjauhkan diri dari kejahatan. Dan tugas yang utama adalah untuk menjadi saksi Kristus di bumi. Para murid dan kita diutus untuk bersaksi tentang Kristus yang disalibkan dan bangkit. Yesus adalah sumber keselamatan kita, keselamatan datang dari padaNya dan sungguh, Keselamatan adalah 100% karya Allah (Sola Gratia — Hanya oleh karena Anugerah). Roh Kuduslah yang akan memelihara kita dalam iman agar mampu menjadi pemberitaan Injil ini sebagai saksi Kristus. 

Setelah Yesus terangkat ke sorga, apakah Yesus tidak hadir lagi di antara para murid dan bagi kita ?. 
Sesungguhnya, dalam Teologi Lutheran mengajarkan dogma UBIQUITAS(keberadaan Kristus yang mahahadir secara manusiawi). Kristus yang naik ke surga bukan berarti Dia pindah ke suatu lokasi geografis yang jauh di atas awan, melainkan Dia masuk ke dalam takhta kanan Allah yang mahakuasa. Dan dalam Alkitab di ajarkan kepada kita bahwa jika kita ingin mencari Kristus yang naik ke surga, maka janganlah menatap langit yang kosong. Tetapi carilah Dia di tempat yang sudah Dia janjikan untuk hadir secara nyata (Real Presence), yaitu dalam Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace) dalam Firman dan ke 2 sakramenNya. 
Kita akan dapat memahami Siapakah Tuhan dalam FirmanNya dan kita akan beroleh pengampunan juga lewat kuasa Firman yang membuat kita mengenal dosa dan Insaf. Bahkan ketika kita menerima Sakramen Baptisan Kudus, Di mana air dan Firman telah menyatukan kita dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Demikianlah juga dengan Perjamuan Kudus Kristus sungguh benar benar hadir "Di mana tubuh dan darah Kristus yang sejati hadir "di dalam, bersama, dan di bawah" roti dan anggur untuk pengampunan dosa kita".

Oleh karena itu, Kenaikan Yesus bukanlah akhir dari cerita-Nya bersama kita, melainkan awal dari pelayanan-Nya di dalam gereja-Nya melalui Roh Kudus. Dua malaikat berjanji bahwa Yesus yang terangkat itu akan datang kembali dengan cara yang sama. 
Sembari menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (Eskatologi), kita tidak dibiarkan yatim piatu. Kita tidak perlu cemas atau mencari tanda-tanda ajaib di langit. Hari ini, Kristus yang naik ke surga itu hadir di sini, di tengah-tengah kita, mengampuni dosa Anda, memberi Anda makan melalui tubuh dan darah-Nya, dan menguatkan Anda untuk menjadi saksi-Nya di dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat, demikianlah firman Allah. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kira semua. Amin 🙏

Rabu, 20 Mei 2026

Berjuang dalam penderitaan mengikuti Kristus - 1 Petrus 4:12-19

Khotbah 1 Petrus 4:12-19
Firman Allah untuk kita. 
1 Petrus 4:12
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
1 Petrus 4:13
Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
1 Petrus 4:14
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
1 Petrus 4:15
Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
1 Petrus 4:16
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Saudara saudari, banyak orang yang bekerja di bumi sesungguhnya sedang berusaha menciptakan kedamaian, kebahagiaan dan sukacita. Artinya, kita bekerja supaya paling tidak hidup kita tidak susah, atau kita ber usaha supaya kehidupan kita sejahtera atau jauh dari penderitaan. 
Lalu kenapakahYesus mengatakan bahwa mengikut Yesus harus siap menderita?. Apakah yang dimaksud denganpenderitaan pada Firman Allah untuk kita pada saat ini?. 
Memang Manusia lama kita (adam lama) selalu berpikir secara Teologi Kemuliaan (Theologia Gloriae) kemakmuran, yang menyatakan bahwa ketika kita mengikut Yesus maka hidup akan mulia, sukses, dan bebas dari masalah. Sehingga banyak dari orang yang ber pengharapan demikian, ketika penderitaan datang akan kaget dan merasa Allah meninggalkannya.
Lewat perikop kita hari ini, marilah kita terleboh dahulu membedakan penderitaan oleh karna pelanggaran atau perbuatan kita dengan penderitaan oleh karena Kristus. Ke 2 bentuk Penderitaan ini sangat berbeda. Penderitaan oleh karena perbuatan atau kesalahan dan keserakahan kita umumnya akan menjadi siksaan bagi kita. Namun penderitaan oleh karena Kristus, sesungguhnya itu adalah jalan bagi kita untuk mempercayai bahwa dalam penderitaan itu Allah tidak meninggalkan kita, terkadang penderitaan itu datang untuk meneguhkan iman kita bahkan memulihkan pengharapan kita kepada Allah. 
Jadi, Penderitaan akibat dosa pribadi adalah upah dosa yang mendatangkan penyesalan. Ini harus kitabedakan secara tegas dari Salib Kristus. Seluruh Hukum Taurat Tuhan menyatakan kita berdosa dan menuntun kita kepada pertobatan agar kita tidak bermegah atas penderitaan yang kita cari sendiri. Hukum Taurat ituendiri telah membongkar kedagingan kita. Dalam kehidupan kita sering kali kita kedapatan sedang menderita bukan karena iman, melainkan karena kebodohan, dosa, atau karena kita suka mencampuri urusan orang lain (allotrioepiskopos). Oleh karena itu, firman ini mengingatkan dengan tegas kepada kita agar jangan kita mau menderita oleh karena kebodohan kita (15) "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau" Yang artinya cukuplah kita menderita oleh karena kebenaran mengikut Kristus, dan itu adalah sukacita bagi kita sebab Kristus ikut juga berjuang dalam penderitaan kita. 
Di tengah penderitaan, marilah kita tidak berpaling dari Allah, dan tidak mencari kambing hitam. Marilah kita merenunginya, menerima Salib yang Tuhan izinkan, tetap melakukan kewajiban hidup kita dengan berbuat baik, dan memlercayakan jiwa kita kepada Pencipta yang setia. 

Saudara saudari, Petrus juga berkata dalam ayat 13-14 "Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, dan berbahagialah kamu, oleh karena Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu."
Saat dunia membenci dan mencela kita karena nama Kristus (Ayat 14), itu adalah bukti otentik bahwa kita milik-Nya. Dan sebesar apa pun penderitaan yang kita alami dalam hidup, Penderitaan tidak berkuasa untuk membatalkan anugerah Allah atas kita. Sebab penderitaan tidak akan mengubah status kita. Kita akan tetap dibenarkan oleh iman (simul iustus et peccator). Sebab Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita saat kita menderita; sebaliknya, Dia justru sedang "memelihara" dan menguatkan iman kita di dalam proses pemurnian tersebut sehingga kita menjadi orang yang tangguh dalam menghadapi penderitaan oleh karena mengikut Tuhan. 
Jadi, penderitaan yang dimaksud dalam perikop ini adalah Penderitaan Yesus Kristus disalib dan penderitaan yang kita alami oleh karena Kristus telah menjadikan kita milikNya (umat tebusannya). Ketika kita menjadi milik Kristus maka dunia akan menjadi musuh kita. Dan ketika hidup kita berakhir dari dunia maka sukacita sorga yang kekal akan menghampiri kita. 
Oleh karena itu, marilah kita percaya bahwa penderitaan karena iman bukanlah tanda murka Allah, melainkan tanda sekutu kita dengan Salib Kristus yang memurnikan iman kita menuju kemuliaan kekal. Dan hendaklah, selama hidup kita di dunia marilah berserah secara pasif kepada anugerah Allah yang menyelamatkan, dan tetaplah aktif bekerja untuk menjalankan tanggung jawab hidup sehari-hari dengan berbuat baik, mengasihi sesama terlebih mengasihi Tuhan dengan cara memercayakan jiwa kita sepenuhnya kepada Allah Pencipta yang setia.
Amin.. 







Senin, 18 Mei 2026

Jumat, 15 Mei 2026

Acara Ibadah persekutuan doa Muda mudi GKLI - Lutheran minggu exaudi

 

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

16/Mei/2026

 

1.      Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang)

1. Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
Bagai bunga t'rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita, kebimbangan, t'lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b'ri sinarMu menyerap.

2. Kau memb'ri, Kau mengampuni, kau limpahkan rahmatMu
Sumber air hidup ria, lautan kasih dan restu.
Yang mau hidup dalam kasih Kau jadikan milikMu
Agar kami menyayangi, meneladan kasihMu.

3. Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinarMu.
Para malak, tata surya naikkan puji bagiMu
Padang, hutan dan samud'ra, bukit, gunung dan lembah,
Margasatwa bergembira 'ngajak kami pun serta.

 

2.      Doa Pembuka.

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

 

3.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 26 : 1 – 3 (Mampirlah dengar doaku)

1.      Mampirlah, dengar doaku, Yesus Penebus.
Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

Refrein : Yesus, Tuhan, dengar doaku;

                orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

2.      Di hadapan takhta rahmat aku menyembah,
Tunduk dalam penyesalan. Tuhan, tolonglah!

Reff :

 

3.      Ini saja andalanku: jasa kurbanMu.
Hatiku yang hancur luluh buatlah sembuh.

 

 

4.      Renungan Firman (Pendalaman Alkitab)

Ayat Renungan : Mazmur 66:8-20

Thema               : Berdoa dan berserulah kepada Allah                 

Tujuan               : Supaya anak dan remaja senantiasa berdoa dan berseru kepada Allah

1.      Berdoa cara kita berkomunikasi kepada Allah

2.      Allah merindukan umatNya berseru kepada Allah

3.      Allah mengetahui setiap doa yang kita ucapkan

4.      Allah akan berkenan kepada setiap doa orang percaya.

             Hafalan             : Mazmur 66:17 “kepadaNya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku

     aku menyanyikan pujian”

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 460 : 1 – 3 (Jika Jiwaku Berdoa)

1. Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t'rima
saja pemberian tanganMu dan mengaku, s'perti Yesus
di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

2. Apa juga yang Kautimbang baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya, walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah.

3. Aku cari penghiburan hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja perlindungan hidupku.
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah.

 

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami

7.      Latihan Koor

 

 


Kamis, 14 Mei 2026

BAGAIMANAKAH PANDANGAN LUTHERAN DENGAN PENDETA PEROKOK ATAU JEMAAT PEROKOK - 𝚕𝚞𝚝𝚑𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚚𝚞𝚎𝚜𝚝𝚒𝚘𝚗𝚜

𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙩𝙝𝙚𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙤𝙝𝙖𝙣𝙞𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠 𝙖𝙩𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙟𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩.
Jikalau kita perhatikan, pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa merokok/perokok seolah olah menjadi dosa yang paling nazis dan bsedang berkedudukan lebih tinggi sehingga menjadi bahan pembicaraan yang panas antara perokok dengan tidak perokok. Masalah tentang merokok tidak hanya dibicarakan bagi kalangan Gereja, namun sesungguhnya di luar gereja (orang percaya) pun rokok sering menjadi bahan pembicaraan panas. Dan sesuai sejarah perkembangan rokok yang kita perhatikan pada saat ini sungguh telah berada di peringkat atas - melonjak tinggi, sebab batasan akan penggunaan rokok sudah di langgar dan terbukti anak di bawah umur 12 tahun sudah menjadi pengguna aktif rokok yang pada akhirnya menjurus kepada penggunaan Narkotika. 
Baik, dalam topik kita hari ini kita akan membahas, bagaimanakah seharusnya para rohaniawan atau jemaat jemaat Tuhan memandang rokok, atau dapatkah orang percaya menikmati rokok atau tidak?. 

𝙄. 𝙎𝙄𝘼𝙋𝘼𝙆𝘼𝙃 𝙋𝙀𝙉𝘿𝙀𝙏𝘼??
Secara etimologi dan sejarah bahasa, kata pendeta memiliki akar kata yang sangat kaya dari bahasa Sanskerta sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk merujuk pada pemimpin agama Kristen Protestantisme. Kata pendeta berasal dari kata paṇḍita (पण्डित). Yang berarti orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, ahli ilmu pengetahuan, atau cendekiawan. Bagi kalangan Kristen Kata paṇḍita dipilih untuk menerjemahkan konsep Alkitab seperti Pastor (dari bahasa Latin yang berarti gembala) atau Minister (dari bahasa Latin yang berarti pelayan). Dan bagi kalangan Lutheran konvensional (ortodoks/konfesional), seorang pendeta adalah hamba Allah yang dipanggil secara sah dan ditahbiskan untuk melayani Firman Tuhan serta melayankan Sakramen. Jabatan ini bukan sekadar profesi fungsional, melainkan sebuah jawatan kudus (holy ministry) yang dilembagakan oleh Allah sendiri demi kepentingan jemaat-Nya. 

𝙞𝙞. 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝙡𝙪𝙩𝙝𝙚𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠?
Bagi kalangan Lutheran buku konkord adalah Alkitab ke dua (bukan ber_arti gereja Lutheran memiliki 2 Alkitab) melainkan bagi Lutheran konvesional buku Konkord berada di bawah Alkitab satu tingkat, sebab buku Konkord adalah salinan dari Alkitab dan selaras dengan Alkitab. 

Dengan demikian, sebagai pendeta Lutheran saya akan meninjau masalah rokok dari pandangan Alkitab dan buku Konkord. 
Dalam Buku Konkord (Kitab Konkordia) tidak sedikit pun membahas atau menyebutkan tentang rokok/merokok. Dalam sejarahnya, buku konkord diterbitkan pertama kali pada tahun 1580, dan buku Konkord telah menjadi standar doktrin dan pengakuan iman historis bagi Gereja Lutheran, maka dengan perbandingan antara sejarah Buku Konkord dan Munculnya rokok, dapat saya simpulkan bahwa buku konkord disusun jauh sebelum kebiasaan merokok atau industri tembakau modern dikenal luas di Eropa, bahkan menyebar ke Indonesia. Namun meskipun istilah "merokok" atau "rokok" tidak tercantum di dalamnya, sebagai orang orang percaya yang hidup di dalam kuasa Injil Allah, maka mari kita melihat dalam prinsip-prinsip teologis dan etika Kristen dalam tradisi Lutheran yang bersumber dari Alkitab untuk melihat isu ini. Dalam Alkitab diajarkan kepada kita untuk menjaga tubuh sebagai Ciptaan Tuhan - sebat tubuh orang percaya adalah bait roh kudus (1 Kor. 6:19) 
Memang dalam Ajaran Lutheran setelah Kristus membenarkan kita, maka Allah memberikan kepada kita kebebasan (Free) yang bertanggung jawab. Dan berdasarkan prinsip Alkitab di 1 Korintus 6:12, setiap pendeta bahkan seluruh umat Kristen diperintahkan untuk tidak membiarkan dirinya "diperhamba" atau dikuasai oleh apa pun. Lalu pertanyaanya apakah rokok dapat memperhamba manusia?, jawabannya YA sebab segala bentuk nikotin/narkotika dapat mengikat kita dan menjadi kecanduan. Maka berdasarkan hasil penelitian, Sifat rokok yang adiktif dan menyebabkan kecanduan kuat dan tentu jikalau ditinjau dari pernyataan kita suci kita maka sesungguhnya rokok dapat mengikat kebebasan rohani dan jasmani setiap orang yang aktif mengkonsumsinya. 

Dalam doktrin Kristen ditekankan kepada kita bahwa sungguhangat penting untuk tidak menjadi batu sandungan atau merugikan bagi orang lain (kasih kepada sesama). Secara medis, kita tahu bahwa asap rokok sangat merugikan kesehatan pengguna bahkan orang orang di sekitar, maka setiap perokok pasif dipandang tidak sejalan dengan prinsip kasih dari Kristus.

Bagi Gereja Lutheran umumnya tidak memiliki aturan hukum atau larangan resmi (dogmatis) yang menyatakan bahwa seorang Pendeta sama sekali tidak boleh merokok. Pandangan Lutheran terhadap pendeta yang menjadi perokok aktif dipengaruhi oleh sejarah tradisi mereka, konsep kebebasan Kristen, serta tuntutan etis pastoral modern. (𝚠𝚠𝚠.𝚜𝚌𝚑𝚘𝚕𝚊𝚛𝚜𝚑𝚒𝚙.𝚌𝚘𝚖𝚖𝚘𝚗𝚜). 

Dan bagi gereja Lutheran luar, termasuk LCMS, dari beberapa sumber mereka saya menemukan hal ini untuk dapat kita ketahui dan perbandingankan :
1. Budaya
Di dalam sejarah teologi Lutheran (khususnya tradisi Lutheran Jerman dan Skandinavia), tembakau, cerutu, dan pipa tidak dipandang tabu.
Bahkan seorang pastor C.F.W. WALTHER, adalah teolog besar dan pendiri sinode Lutheran terkemuka The Lutheran Church—Missouri Synod (LCMS), dikenal sebagai perokok pipa yang sangat aktif semasa hidupnya. Maka dengan akar sejarah ini, teologi Lutheran secara konsisten tidak mengategorikan merokok secara otomatis sebagai dosa yang membatalkan KESELAMATAN atau kelayakan pelayanan jabatan Pendeta. (𝙶𝚘𝚝.𝚚𝚞𝚎𝚜𝚝𝚒𝚘𝚗.𝚘𝚛𝚐_𝙻𝚌𝚖𝚜). 

2. Adiaphora
Gereja Lutheran memandang tindakan merokok sebagai hal yang masuk dalam kategori ADIAPHORA, yaitu perkara-perkara yang tidak diperintahkan tetapi juga tidak dilarang secara eksplisit oleh Alkitab.

Maka dengan pandangan ini, maka seluruh Pendeta memiliki "kebebasan Kristen" untuk menggunakan atau tidak menggunakan hal-hal sekuler seperti tembakau atau alkohol dalam batas KEWAJARAN. Mereka harus menolak legalisme kaku (seperti yang sering ditemukan pada aliran Karismatik atau Puritan) YANG LANGSUNG MENGHAKIMI KESUCIAN SESEORANG HANYA DARI LUAR. (𝚃𝚑𝚎.𝚕𝚌𝚖𝚜.𝚘𝚛𝚐) 

3. Kecanduan
Meskipun Lutheran tidak melarangnya, status sebagai perokok aktif (kecanduan berat) akan memicu penilaian etis dan pastoral yang kritis berdasarkan Alkitab:
Tidak Boleh Diperhamba, Berdasarkan 1 Korintus 6:12, Seorang pendeta seharusnya tidak boleh dikuasai atau diperhamba oleh apa pun selain Kristus. Jika seorang pendeta tidak dapat mengendalikan ketergantungannya pada nikotin, hal ini dinilai sebagai KELEMAHAN KEDEWASAAN ROHANI.

Merawat Bait Allah, Tubuh adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Menjadi perokok aktif yang merusak kesehatan secara sengaja dianggap kurang bertanggung jawab dalam memelihara karunia kehidupan dari Tuhan. 

4. Tuntutan keteladanan dari kependetaan
Di era modern sekarang, pandangan sosial jemaat Lutheran telah banyak bergeser demi alasan medis dan kesehatan.

Batu Sandungan (Scandalum) seorang Pendeta dipanggil untuk menjadi teladan bagi jemaat. Jika tindakan merokok aktif tersebut merugikan orang lain (merokok pasif), merusak reputasi pelayanan gereja, atau menjadi batu sandungan bagi jemaat yang lemah, maka pendeta tersebut secara etis didorong kuat untuk berhenti demi kasih kepada sesama.
Kebijakan Gereja Lokal Indonesia. Di beberapa sinode regional (termasuk di Indonesia seperti HKBP, bahkan GKLI pada zaman emeritus Pdt. Jetro sinaga M. Div), meskipun tidak ada hukum tertulis yang memecat pendeta perokok, secara praktis pendeta sangat tidak dianjurkan merokok di area fasilitas gereja, di depan jemaat, atau saat mengenakan JUBAH PASTORAL demi menjaga kewibawaan pelayanan, dan tidak ada Pendeta yang berani merokok di depan Bishop, kalaupun dilakukanoleh oknumpasti dalam keadaan tersembunyi dari hadapan Bishop emeritus. 

Jadi, sebagaiSeorang Pendeta tentu sudah tahu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dan sudah paham manakah kehendak Roh dan kehendak daging. Allah tidak mengkendaki segala bentuk keinginan daging itu menguasai kita terlebih para tahbisan. Sebab, kebebasan Kristen yang diberikan Allah untuk kita adalah untuk melayani sesama, bukan untuk menjadi hamba dari zat atau kebiasaan tertentu (1 Korintus 6:12).
𝙞𝙞𝙞. 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩 𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠
Dalam teologi Lutheran, pandangan mengenai "jemaat" atau "gereja" (ecclesia) berakar kuat pada Alkitab dan Pengakuan Iman Augsburg (Artikulus VII). Jemaat sering disebut sebagai Persekutuan Orang Kudus (Communio Sanctorum).  Dengan demikian dapat kita definikan bahwa Jemaat adalah persekutuan orang-orang kudus, yaitu semua orang yang telah dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Maka dengan pernyataan ini Jemaat tidak didefinisikan oleh hierarki gereja atau gedung fisik, melainkan oleh kehadiran orang-orang percaya yang dipersatukan oleh Roh Kudus. 

Lalu, bagaimanakah jikalau jemaat merokok, atau dapatkah jemaat Lutheran merokok?.
Yang pertama kita harus tahu bahwa, Gereja Lutheran secara resmi tidak melarang jemaatnya merokok. Merokok dipandang sebagai masalah kebebasan Kristen (Adiaphora) dan etika pribadi, bukan sebagai dogma yang menentukan status dosa atau keselamatan. (𝚅𝚘𝚡.𝚟𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚜.𝚓𝚞𝚛𝚗𝚊𝚕) 

Bagi kalangan kami Lutheran mengklasifikasikan bahwa merokok dianggap sebagai adiaphora, yaitu hal-hal yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang secara eksplisit oleh Alkitab. Pandangan ini tidak dianut oleh semua gereja, terlebih dengan aliran Pentakosta atau Karismatik yang melarang keras rokok. Perbedaan ini terjadi bukan berdasarkan prinsip tafsiran atau kehendak, melain karna teologi Lutheran sungguh sungguh berpegang teguh pada prinsip Sola Fide (hanya oleh iman) yang artinya merokok atau tidak merokok tidak akan mempengaruhi keselamatan, dan kalaupun tidak merokok tidak menjadi jaminan keselamatan sebab kita hanya dapat dijamin selamat oleh karya Yesus. Status keselamatan seseorang dinilai murni karena anugerah Kristus, sehingga merokok dianggap sebagai pilihan gaya hidup pribadi. 

Namun meskipun Lutheran tidak melarang jemaat untuk merokok, jemaat Lutheran tetap didorong untuk mempertimbangkan etika Kristen berdasarkan dua aspek dari Alkitab: 
Menjaga Tubuh
Dalam kitab 1 Korintus 6:19 menyebutkan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus. Secara medis, rokok terbukti merusak kesehatan. Oleh karena itu, jemaat diajak untuk bertanggung jawab menjaga kesehatan tubuh pemberian Tuhan.
Bahaya Keterikatan
Dalam kitab 1 Korintus 6:12 mengingatkan agar manusia tidak diperhamba oleh apa pun. Kecanduan atau adiksi terhadap nikotin dipandang sebagai bentuk hilangnya penguasaan diri. 

IV. Apakah pesan topik ini untuk Pendeta dan Jemaat Tuhan
Pesan Utama untuk Pendeta Perokok
Sebagai pemimpin rohani dan gembala jemaat, pendeta Lutheran yang merokok menerima pesan etis yang lebih ketat terkait dampaknya terhadap orang lain :

Dengan tidak menjadi Batu Sandungan (Etika Skandalon). Rasul Paulus mengingatkan agar kebebasan kita tidak memicu orang lain jatuh dalam dosa (1 Korintus 8:9). Jika merokok merusak reputasi pelayanan atau melukai iman jemaat yang lemah, pendeta didorong untuk menahan diri. 

Pendeta bertugas melayani sakramen dan memberitakan Firman. Mereka wajib menjaga kekudusan jabatan dengan tidak merokok di lingkungan altar, ruang ibadah, atau saat mengenakan jubah kebesaran (talit/alba). 

Meskipun merokok bukan dosa yang menggugurkan keselamatan, pendeta tetap dipanggil menjadi teladan dalam menjaga bait Allah (tubuh) dan menunjukkan penguasaan diri terhadap adiksi.

Pesan Utama untuk Jemaat Perokok
Bagi anggota jemaat biasa, fokus utama terletak pada kesadaran pribadi di hadapan Tuhan dan sesama.

Anda Dibenarkan oleh Iman, Bukan Gaya Hidup.
Teologi Lutheran menekankan Sola Fide. Status Anda sebagai jemaat Tuhan tidak hilang atau berkurang hanya karena Anda merokok. Anda tidak perlu merasa dikutuk secara rohani. 

Gunakanlah Kebebasan untuk Melayani, Bukan Egoisme. Martin Luther menulis bahwa "Orang Kristen adalah tuan yang bebas dari segala hal, tidak tunduk pada siapa pun; sekaligus hamba yang tunduk pada segala hal, pelayan bagi semua orang." Gunakan kebebasan merokok Anda dengan bertanggung jawab—jangan merokok di dekat anak-anak, ruang ibadah, atau orang yang terganggu asapnya.

Uji Hati Terhadap Berhala Moderen, Jemaat diajak memeriksa diri. Jika keinginan merokok lebih kuat daripada ketaatan rohani atau merusak ekonomi keluarga, maka rokok telah menjadi "allah lain" (berhala) yang mengikat kebebasan Anda.

Dengan demikian, dapat saya simpulkan lewat penjelasan ini bahwa bagi Lutheran, rokok tidak menentukan masuk surga atau neraka. Namun, kasih kepada sesama harus selalu lebih besar daripada kebebasan pribadi. Baik pendeta maupun jemaat diminta saling menghormati, tidak saling menghakimi, dan mengutamakan kesehatan komunitas.

Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan kita untuk menerima dan mengambil keputusan yang baik dalam melakukan yang terbaik bagi hidup kita. Salam 😊

#vdma_luther
                                𝓟𝓮𝓷𝓭𝓮𝓽𝓪. 𝓐𝓻𝓭𝓲 𝓼𝓲𝓽𝓾𝓶𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓢. 𝓣𝓱
13 𝙰𝙿𝚁𝙸𝙻 2025

theologi Lutheran

10 HUKUM TAURAT BERDASARKAN URUTAN GEREJA LUTHERAN

10 HUKUM TUHAN https://docs.google.com/document/d/1EYC_CpsPJEhvM8IUc7XTG87nJ77F_xJl/edit?usp=drive_link&ouid=104613925996172531154...

what about theologi luther ?