Senin, 02 Februari 2026

Bagian 2 - penjelasan tentang Pengakuan Iman Nicea

Tanggal pasti dan penulis pengakuan iman Athanasius tidak diketahui. Pengakuan ini mengambil namanya dari tradisi teologis Santo Athanasius. Yang dapat diperkirakan berawal di akhir abad ke-4 atau awal abad ke -5 Masehi. Karya Agustinus tentang Tritunggal (415 M) memiliki bahasa yang sangat mirip dengan pengakua ini. Perjuangan seumur hidup Athanasius melawan ajaran sesat yang marak di gereja Kristen awal di Afrika Utara membangun tradisi teologis yang sangat memengaruhi gereja Barat.

“Sebagaimana kita diwajibkan oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi yang berbeda sebagai Tuhan dan Penguasa, demikian pula kita dilarang oleh agama Katolik untuk mengatakan bahwa ada tiga Tuhan atau Penguasa."

Pada bagian kedua dari pengakuan ini, kita mengakui kepribadian Tritunggal, yang masing-masing berbeda satu sama lain. Ini menolak Modalisme , yang menyatakan bahwa Tuhan mengubah wujud, penampilan, atau fungsi, tetapi tetap sama dalam pribadi di setiap kasus. Sebaliknya, kita mengakui bahwa pribadi-pribadi individual dari Allah Tritunggal memiliki atribut unik yang tidak dimiliki oleh pribadi-pribadi lainnya.

Keunikan pribadi ini juga menggambarkan ekonomi ilahi. Ekonomi dalam arti hubungan timbal balik, bukan uang. Di dalam Tritunggal terdapat ekonomi hubungan antar pribadi. Bapa secara kekal tidak diciptakan maupun dilahirkan. Putra secara kekal dilahirkan dari Bapa. Roh Kudus secara kekal berasal dari Bapa dan Putra, tidak diciptakan maupun dilahirkan.

Ungkapan-ungkapan pemahaman Kristen tentang Trinitas ini menentang modalisme dengan menetapkan kesamaan kepribadian. Tidak mungkin bagi Bapa untuk mengenakan topeng Anak. Ia secara kekal adalah Bapa, dan kepribadian-Nya unik dari Anak. Anak tidak dapat mengenakan topeng Roh Kudus karena atribut-atribut-Nya dalam pribadi-Nya berbeda dari Roh Kudus. Roh Kudus tidak dapat mengenakan atribut-atribut Bapa karena atribut-atribut tersebut unik dari atribut-atribut-Nya sendiri. Semua atribut ini secara kekal adalah atribut-atribut dari pribadi-pribadi Allah.

Namun, karakteristik yang tak berubah ini tidak menjadikan suatu hierarki. Semua pribadi Tritunggal sama-sama adalah Tuhan. Dan, tidak ada yang mendahului atau mengikuti yang lain.

Bapa bukanlah Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah Putra. Putra bukanlah Bapa. Roh Kudus adalah Allah. Putra adalah Allah. Bapa adalah Allah, kekal dan setara. 


#Vdma

Mazmur 32 - Mengakui dosa di hadapan Tuhan mendatangkan kebahagiaan dan kehidupan

Shalom... 

Firman Allah untuk kita
Mazmur 32:2
Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!
Mazmur 32:5
Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.
Mazmur 32:11
Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!

Saudara saudari, Mazmur ini sangat unik, sebab pada saat yang sama ada pengakuan dosa, tetapi sekaligus pernyataan bahagia. Mazmur-mazmur "bahagia" (mis. Mzm. 1, 106, 112, 119, 128) yang pada umumnya  kebahagiaan karna memercayai atau menaati firman Tuhan. Namun mazmur ini justru menyatakan bahwa kebahagiaan sejati adalah karena anugerah Allah yang Maha Pengampun. Oleh karena itu, pemazmur menasihati para pembacanya agar setiap saat memelihara relasi yang baik dengan Tuhan secara intim dalam doa (ayat 6) dan dalam ketaatan pada firman-Nya (ayat 8-9). Dengan memelihara komunikasi yang baik dengan Tuhan, maka kita akan menimati hadirat-Nya dengan terus menerus (ayat 7, 11) dan dengan kesadaran bahwa Tuhan selalu senantiasa melingkupi kita, sehingga kita  akan terhindar dari pengaruh kefasikan dunia yang hanya menimbulkan murka Tuhan dan penghukuman-Nya. 

Pemazmur menggubah mazmur ini sebagai suatu bentuk doa pengakuan dosa sekaligus pernyataan bahagia karena pengampunan Tuhan. Bagi kita yang sadar telah melanggar firman Tuhan hendaklah kiranya dengan penuh kerendahan hati mari kita mengaku dosa di hadapan Tuhan, Sujud dan mohon pengampunan-Nya. Dan berkomitmen untuk hidup dalam persekutuan yang akrab lewat doa dan taat akan seluruh firman-Nya. 

Dengan mengakui dosa dosa kita di hadapan Tuhan, itu artinya kita mengakui bahwa Tuhan yang berotoritas untuk mengampuni dosa. Sebab pengampunan itu tidak dapat dibeli, hanya dapat diperoleh semata-mata oleh anugerah dan kasih setia Tuhan. 

Mazmur ini dimulai dengan pernyataan bahagia karena pe Mazmur telah beroleh pengampunan dari Tuhan (1-2). 
Oleh karena itu, jangan keras kepala, dan jangan juga berupaya untuk menyelesaikan sendiri masalah dosa atau bahkan mencoba menutup-nutupinya. Tidak ada gunanya, sebab dosa tidak akan selesai tanpa pengakuan di hadapan Allah, mari segera bereskan dosa, minta ampun kepada Tuhan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, akuilah dosa dosa mu dihadapan Tuhan, maka Tuhan akan menyucikan hatimu. Memberkati dan menuntun kita untuk selalu hidup dalam kerendahan hati dan pengharapan penuh kepada Tuhan. 


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua amin
.🙏

Minggu, 01 Februari 2026

Mazmur 31 Berlindung kepada Tuhan

Shalom

Firman Allah untuk kita
Mazmur 31:1
Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu. 
Mazmur 31:2
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!
Mazmur 31:3
Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
Mazmur 31:5
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Saudara saudari, Mazmur ini adalah Mazmur yang berisi doa permohonan akan perlindungan TUHAN. Dalam permohonannya, Daud memercayakan dirinya hanya kepada TUHAN (2). Baginya, TUHAN itu seperti gunung batu dan kubu perlindungan yang kukuh (3). Berada dibalik-Nya pastilah aman dari serangan musuh-musuhnya. 

Mengapa Daud dapat begitu percaya kepada TUHAN? Karena Daud tahu bahwa TUHAN akan melindunginya oleh karena nama dan kasih setia-Nya (4, 6). Kesetiaan Allah adalah kesetiaan yang teguh. Ketika Ia melindungi orang yang dikasihi-Nya, maka tidak ada satu kuasa pun yang dapat mengalahkan-Nya. Pengalaman Daud selama masa mudanya membuatnya tidak pernah meragukan TUHAN yang disembahnya. Sebab berkali-kali dia diluputkan dari bahaya maut yang dirancang oleh para musuhnya. Ketika Daud memercayakan hidupnya dalam kuasa TUHAN, maka amanlah dia. Karena itu, ia bersorak-sorai dan bersukacita di hadapan para lawannya.

Berserah kepada Allah artinya mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan, seperti: pekerjaan, pendidikan, keluarga, pelayanan, kesehatan, keuangan, dan lainnya. Namun perlu kita ingat, berserah kepada Allah tidak secara otomatis membuat hidup kita terhindar dari masalah. Mungkin akan ada banyak masalah yang datang, dan terkadang di ada masalah disitulah kita akan tahu bahwa Allah adalah Pelindung dan Penolong yang dapat dipercaya. 
Oleh karena itu, marilah kita belajar dari Daud yang tidak mengandalkan dirinya, melainkan berserah hanya kepada Allah yang setia.

Sebagai pengikut Kristus, memikul salib adalah bagian kita. Ingat, Kristus sudah lebih dahulu memikul salib-Nya. Dia adalah sumber kekuatan dan penyertaan kita. Maka jangan bergu-mul sendirian. Allah akan selalu hadir melalui Roh Kudus-Nya yang tak terbatas dalam hati kita. Dia akan menghibur, menguatkan dan meneguhkan. Tuhan mengasihi dan peduli terhadap kita. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kira semua. Amin 🙏

Pengantar - Penjelasan tentang pengakuan Iman athanasius

Bagi kalangan Gereja Lutheran Konvesional, biasanya Pada masa Minggu Trinitas, sebagian besar gereja Kristen akan bersama-sama mengucapkan pengakuan Iman Athanasius. Pengakuan iman ini disusun sesuai dengan teologinya tentang Trinitas, meskipun bukan ditulis oleh Athanasius sendiri. Pengakuan iman ini secara terang-terangan menggunakan istilah " katolik " Yang kemungkinan besar dapat mengejutkan kita bagi kaum Lutheran yang sensitif dan mudah tersinggung tentangkata Katolik. Yang mungkin bisa saja menimbulkan skisma atau pertanyaan, Santo Athanasius? Katolik? Atau, Apakah kita sekarang penganut Katolik Roma? Sesungguhnya Tidak, dan tentukita juga tidak ingin menjadi bagian dari Gereja Katolik Roma. Dalam hal ini, saya punya kabar baik untuk kita semua, dalam ibadah minggu Trinitas, sesungguhnya kita akan mengakuinya pada setiap Minggu keempat sepanjang Masa Trinitas. Dalam hal ini Gereja Lutheran akan menyertakan catatan kecil ini mengenai kekatolikan. “Iman Katolik* — Istilah Katolik tidak merujuk pada Gereja Katolik Roma modern, melainkan pada gereja Kristus yang universal, tak terlihat, ortodoks, dan setia di bumi. Lutheran harus mempertahankan penggunaan istilah “Katolik” dalam Pengakuan Iman Athanasius sebagai penentang gereja kepausan Roma. Kata Katolik secara sederhana berarti “universal,” dan dengan demikian, kami dengan berani mengakuinya dari identitas Lutheran kami. Mengenai pengajuan iman, Ada orang Kristen yang menolak penggunaan kredo/pengakuan di gereja. Mereka akan mengatakan hal-hal seperti ini, “Tidak ada pengakuan selain Kristus” dan, “tidak ada buku selain Alkitab.” Tetapi, pernyataan-pernyataan itu sendiri sesungguhnya merupakan kredo/pengakuan. Kata bahasa Inggris "kredo" berasal dari bahasa Latin " credo" , yang berarti, "Saya percaya." Jadi, bagi teman-teman kita yang berada di kelompok "tanpa kredo" sebenarnya sedang menciptakan kredo yang menentang penggunaan kredo.Tiga kredo ekumenis yang harus kita akui dan pahami yaitu : Kredo Para Rasul, Kredo Nicea, dan Kredo Athanasius. Kredo, secara keseluruhan, ada untuk menyatakan penentangan terhadap posisi yang dianut di luar iman. Masing-masing kredo ini ada semata-mata hanya untuk mengkomunikasikan iman yang kita pegang sebagai penentangan terhadap ajaran sesat baru yang akan menentang iman. Ekumenis merujuk pada sesuatu yang berkaitan dengan seluruh gereja Kristen. Kredo-kredo ekumenis dianut dan diakui oleh seluruh umat Kristen. Kredo Athanasius terutama menentang sekte Arianisme dalam gereja Kristen awal. Arius, yang namanya digunakan sebagai nama sekte tersebut, bergumul dengan hakikat Allah. Ia mengajarkan penentangan terhadap gagasan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak memiliki substansi yang sama.
Sekarang, Pengakuan Iman Nicea mengatakan, "sehakikat dengan Bapa". Setelah konsili ekumenis pertama di Nicea (325 M), gagasan bahwa ada perbedaan substansi seharusnya sudah ditinggalkan dengan segala subordinasi yang menyertainya. Namun, Arianisme tetap menjadi masalah bagi gereja.Kredo ini dapat dibagi menjadi dua atau tiga bagian. Tiga bagian sudah cukup untuk pembahasan ini. 
Bagian pertama membahas kesatuan Allah Tritunggal kita. Ia tidak diciptakan, tak terbatas, dan kekal, “bukan tiga allah, tetapi satu Allah.” Bahasa ini menolak Subordinasionisme , yaitu bahwa Putra dan Roh terkadang lebih rendah daripada Bapa yang adalah Allah. Sebaliknya, Allah adalah satu substansi, bukan “tiga allah atau tuan.
Pada bagian kedua, kita mengakui kepribadian, masing-masing berbeda satu sama lain. Ini menolak Modalisme , yang menyatakan bahwa Tuhan mengubah topeng, penampilan, atau fungsi, tetapi tetap sama dalam pribadi di setiap kasus. Sebaliknya, kita mengakui bahwa pribadi-pribadi individual dari Allah Tritunggal memiliki atribut unik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bapa: tidak dilahirkan, Putra: dilahirkan, dan Roh Kudus: berasal dari, semuanya unik dalam fungsi bagi kita orang Kristen. Tidak ada tiga dari setiap pribadi, tetapi satu dari setiap pribadi dalam Tritunggal dalam Kesatuan. 
Bagian ketiga membahas inkarnasi Yesus. Dua kodrat Kristus ditampilkan sepenuhnya di sini. Sang Putra “setara dengan Bapa dalam hal keilahian-Nya, lebih rendah dari Bapa dalam hal kemanusiaan-Nya.” Kami menolak Eutychianisme , yang menyatakan bahwa kodrat manusia dan ilahi Yesus menyatu menjadi kodrat baru yang berbeda. “Ia adalah Allah, yang diperanakkan dari substansi Bapa sebelum segala zaman; dan Ia adalah manusia, yang lahir dari substansi ibu-Nya : Ia adalah Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna, terdiri dari jiwa yang rasional dan daging manusia; setara dengan Bapa dalam hal keilahian-Nya, lebih rendah dari Bapa dalam hal kemanusiaan-Nya.”
Dengan demikian Kami juga menolak Nestorianisme , yang menyatakan bahwa dua kodrat Kristus tidak bersatu dalam pribadi-Nya. “Ia adalah Allah dan manusia, Ia bukanlah dua, tetapi satu Kristus: satu, bagaimanapun, bukan karena perubahan keilahian menjadi daging, tetapi karena pengangkatan kemanusiaan ke dalam Allah; satu secara keseluruhan, bukan karena percampuran substansi, tetapi karena kesatuan pribadi. Padabagian ketiga pada kredo Athanasius juga menolak gagasan Gnostik bahwa kita akan terbebas dari materi dan tubuh kita, khususnya di kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kita mengakui bahwa akan ada kebangkitan bagi tubuh kita! “Pada saat kedatangan-Nya, semua orang akan bangkit kembali bersama dengan tubuh mereka.
Oleh karena itu, Saudara-saudari terkasih yang telah dibaptis, marilah kita merayakan Tritunggal dalam Kesatuan dan Kesatuan dalam Tritunggal!
Segala puji bagi Tuhan !

#Vdmaluther

PENJELASAN TENTANG PENGAKUAN IMAN ATHANASIUS

Santo Athanasius adalah uskup dan patriark Aleksandria, Mesir (di bawah kendali Romawi) dari tahun 328 hingga 373 M. Ia menghadiri Konsili Nicea Pertama pada tahun 325 M sebagai sekretaris pendahulunya, Alexander. Athanasius ditahbiskan sebagai uskup dan patriark setelah kematian Alexander. Selama 48 tahun memimpin wilayah tersebut, ia diasingkan lima kali, oleh empat kaisar Romawi yang berbeda, selama 17 tahun, karena kontroversi teologis di Afrika Utara.
Masing-masing dari tiga bagian kredo dimulai dengan bahasa yang serupa. Kredo Nicea dan Kredo Para Rasul dimulai dengan “Aku percaya…” Tetapi Kredo Athanasius mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya mengaku bersama dengan satu suara, di sini kita juga saling menasihati, “Siapa pun yang ingin diselamatkan, di atas segalanya, harus memegang teguh iman Katolik.” Kemudian, di setiap bagian, kita mengakui iman Katolik. 
Kita sebagai umat Lutheran tidak perlu takut dengan kata " katolik ". Istilah katolik tidak merujuk pada Gereja Katolik Roma modern, tetapi pada gereja Kristus yang universal, tak terlihat, ortodoks , dan setia di bumi. Kita mempertahankan penggunaan istilah "katolik" dalam Pengakuan Iman Athanasius sebagai penentangan terhadap gereja kepausan Roma. "Katolik" secara sederhana berarti "universal," dan sebagai demikian, kita dengan berani mengakuinya dari identitas Lutheran kita.
Kesatuan Allah Tritunggal tidak diciptakan, tak terbatas, dan kekal, “bukan tiga allah, tetapi satu Allah.” Bahasa ini menolak Subordinasionisme , yang menyatakan bahwa Putra dan Roh Kudus terkadang lebih rendah daripada Allah Bapa. Sebaliknya, Allah adalah satu substansi. Subordinasionisme , sebagian, merupakan koreksi berlebihan terhadap kesalahan modalisme. Para penganut subordinasionisme berusaha untuk memperjelas perbedaan pribadi dalam Tritunggal. Koreksi berlebihan mereka menciptakan posisi teologis yang bergantung pada triteisme. Untuk melindungi pemahaman kita dari penggabungan Allah menjadi hanya satu hal dari satu jenis saja, mereka menciptakan pemahaman di mana Allah dapat dengan mudah menjadi tiga hal dari tiga jenis. Dan ketiga karakter Allah yang terhubung ini memiliki hierarki dalam panteon mereka. Ini adalah sebuah kesalahan.
Kesalahan modalisme juga dibahas dalam pengakuan ini, Ini berfungsi untuk mengingatkan kita bahwa kebalikan dari suatu kesalahan tidak selalu merupakan kebenaran. Terkadang kebalikan dari suatu kesalahan bisa jadi hanyalah kesalahan ke arah yang berlawanan.
“Tetapi keilahian Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu: kemuliaan-Nya sama, keagungan-Nya kekal bersama.” Keilahian Tritunggal adalah utuh dan satu. Sifat-sifat Allah dalam kesatuan-Nya sama dan satu: tidak diciptakan, tak terbatas, kekal, dan mahakuasa. Tetapi ini bukanlah selusin sifat, masing-masing empat, yang unik bagi setiap pribadi. Ada empat sifat yang dimiliki setiap pribadi sebagai satu kesatuan. Tidak ada tiga dewa, tetapi satu Allah. Tidak ada tiga tuan, tetapi satu Tuhan. Tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu Yang Kekal. Kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal dan Tritunggal dalam Kesatuan.
Jangan biarkan diri Anda berkecil hati atau patah semangat oleh pemahaman yang rumit ini. Ini adalah pergumulan yang berat bagi gereja mula-mula dan tetap menjadi kesulitan intelektual bagi kita saat ini. Inti dari Pengakuan Iman Athanasius adalah bahwa kita tidak akan pernah sepenuhnya memahami Tritunggal. Namun, dengan bantuan para bapa iman sebelum kita, kita dapat mengidentifikasi hal-hal yang berada di luar pemahaman yang benar.
Saudara-saudari terkasih yang telah dibaptis, marilah kita merayakan Tritunggal dalam Kesatuan dalam Tritunggal!
Segala puji bagi Tuhan!

Kisah Habakuk

Habakuk bukan nabi yang hanya menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia, tetapi juga nabi yang berani menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan. 

Ia melihat ketidakadilan, penindasan, dan kejahatan di sekelilingnya. Hatinya gelisah, doanya penuh tanda tanya.
Habakuk bertanya, “Sampai kapan, Tuhan, aku berseru, tetapi Engkau tidak mendengar?”

Ini bukan doa orang yang tidak beriman, tetapi doa orang yang terluka karena peduli.

Di zamannya, bangsa Yehuda dipenuhi kekerasan dan hukum tidak ditegakkan. Orang benar tertindas, orang jahat merajalela. Habakuk berseru kepada Tuhan, berharap Tuhan segera bertindak.
Namun jawaban Tuhan justru mengejutkan. Tuhan berkata bahwa Ia akan memakai bangsa Kasdim (Babel), bangsa yang lebih kejam, untuk menghukum Yehuda.

Habakuk semakin bingung.
“Bagaimana mungkin Engkau yang kudus memakai bangsa yang lebih jahat untuk menghukum kami?”

Di sini kita melihat sisi iman yang sangat manusiawi:
Habakuk tidak pura-pura kuat. Ia tidak menutup kebingungannya. Ia jujur di hadapan Tuhan.
Lalu Habakuk memilih sikap yang indah:
Ia berkata bahwa ia akan berdiri di menara pengintai, menunggu apa yang akan Tuhan katakan.
Artinya, setelah bertanya, ia tidak lari, tetapi menunggu dengan hati yang terbuka.

Tuhan pun menjawab:
Bahwa kejahatan tidak akan dibiarkan selamanya.
Bahwa waktunya akan datang, meski terasa lambat.

Dan Tuhan berkata kalimat yang sangat terkenal:
“Orang benar akan hidup oleh percayanya.”
Artinya:
Di saat keadaan belum berubah, di saat keadilan belum terlihat, yang Tuhan minta bukan kepanikan, tapi iman yang tetap melekat.

Habakuk mulai melihat lebih jauh dari sekadar masalah hari ini. Ia menyadari bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah, atas bangsa-bangsa dan atas masa depan.

Di pasal terakhir, nada doa Habakuk berubah.
Bukan lagi penuh keluhan, tetapi penuh penyembahan.
Ia mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu:
bagaimana Tuhan menolong, menyelamatkan, dan menunjukkan kuasa-Nya.
Ketakutan masih ada, keadaan belum berubah, tapi hatinya sudah berdiri di atas iman.

Lalu lahirlah pengakuan yang sangat indah dan kuat:
Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
tidak ada hasil pada pohon anggur,
hasil pohon zaitun mengecewakan,
dan ladang-ladang tidak memberi makanan,
namun aku akan bersukacita di dalam Tuhan"

Ini bukan sukacita karena keadaan baik,
tetapi sukacita karena Tuhan tetap Allah, sekalipun hidup sedang sulit.

Habakuk belajar bahwa iman sejati bukan tentang selalu mengerti rencana Tuhan,
tetapi tentang tetap percaya saat rencana itu belum kita pahami.

■ Kisah Habakuk mengajarkan bahwa:
Tuhan tidak marah pada pertanyaan yang lahir dari iman.
Tuhan tidak menolak hati yang jujur.
Dan Tuhan tidak pernah bekerja terlalu lambat, Ia selalu tepat waktu menurut rencana-Nya.
Dari nabi yang penuh tanda tanya, Habakuk berubah menjadi pribadi yang penuh penyembahan.
Dari hati yang gelisah, menjadi hati yang berserah.
Bukan karena masalahnya langsung hilang,
tetapi karena ia menemukan kembali siapa yang ia percaya.
Dan mungkin hari ini kita pun sedang bertanya,
“Kenapa belum berubah? Kenapa masih begini?”

Kisah Habakuk berbisik lembut kepada kita:
Tetaplah berdiri di menara imanmu. Tuhan sedang bekerja, meski belum terlihat.

Tuhan Yesus memberkati 🙏

Kamis, 29 Januari 2026

Mazmur 28 - Tetap berjuang di dalam Iman

Shalom

Firman Allah untuk kita
Mazmur 28:6
Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.
Mazmur 28:7
TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.
Mazmur 28:8
TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!
Mazmur 28:9
Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Saudara saudari, bagaimanakah berjuang dalam kuasa Iman?. 
Apakah ketika kejahatan semakin mengusik kita Iman itu semakin redup?. 

Jikalau kita perhatikan dan renungkan Firman ini. 
Sesungguhnya Pemazmur sedang dalam situasi yang sangat mirip. Ia tertekan karena sepertinya Tuhan berdiam diri dan membisu (ayat 1). Ia merasa dengan membisunya Tuhan, dirinya seperti sudah ditinggalkan untuk mati ("aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur"). Pemazmur merasa hampir terseret kepada perbuatan orang fasik (ayat 3).

Dalam bacaan ini, dapat kita memahami bahwa ada dua hal yang pemazmur lakukan untuk menghadapi situasi itu.
1. Ia tidak berhenti berdoa dan berharap, walaupun Tuhan belum menjawabnya. Pemazmur percaya bahwa hanya Tuhanlah sumber kekuatan dan kemenangan iman. Sebab itu, pemazmur mengarahkan doa-doanya ke takhta Allah di ruang maha kudus (ayat 2). Maka dalam pergumulan itu, ia tidak kehilangan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan menjawab dan menolong dia (ayat 6-7).
2. Pemazmur juga memohon keadilan dari Tuhan agar orang orang yang jahat dihukum setimpal (ayat 4-5). Permohonan ini sangat realistis karena bila dibiarkan, kemunafikan mudah menjalar. Bahkan Pemazmur merasa bahwa ia bisa juga akan jatuh ke dalam dosa yang sama (ayat 3). Dengan sendirinya, hal itu akan menjadi kesaksian yang buruk bagi umat Tuhan (ayat 9). 

Oleh karena itu, mulailah dengan tetap bertekun dalam doa dan tidak berhenti berharap kepada Tuhan, sebab dalam Doa dan pengharapan itu, Tuhan akan menguatkan dan memampukan kita. Kitapun boleh meminta keadilan agar Tuhan menegakkannya, tetapi sebagai murid Kristus, kita juga harus mendoakan agar mereka bertobat. Terlebih, sebagai orang yang telah beroleh kasih karunia pembenaran, kita juga harus tetap belajar untuk berbuat baik bagi sesama kita, bukan hanya untuk yang baik bagi kita, melainkan juga untuk orang orang yang fasik kepada kita. 

Demikianlah Firman Allah, kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

theologi Lutheran

Bagian 2 - penjelasan tentang Pengakuan Iman Nicea

Tanggal pasti dan penulis pengakuan iman Athanasius tidak diketahui. Pengakuan ini mengambil namanya dari tradisi teologis Santo Athanasius....

what about theologi luther ?