Sabtu, 11 Juli 2026

Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis - Perumpamaan tentang seorang penabur Matius 13:1-9+18-21

Evangelium Matius 13:1-9, 18-21

Saudara saudari, setiap kali kita membaca Perumpamaan tentang Seorang Penabur ini, tentu kita akan dirahkan kepada diri sendiri dan bertanya dengan cemas "Aku ini jenis tanah yang mana ya? Apakah aku tanah pinggir jalan? Apakah aku tanah berbatu? Atau apakah aku tanah yang penuh dengan semak duri?' Sadar atau tidak, pertanyaan-pertanyaan ini sering kali menjebak kita ke dalam ketakutan. Kita mulai berpikir: 'Aku harus berusaha lebih keras, aku harus mencangkul hatiku sendiri, aku harus membuang batu-batu dosaku sendiri supaya aku menjadi tanah yang baik dan layak di hadapan Tuhan. 

Setiap kita merenungkan khotbah ini, hendak kita terlebih dahulu berkaca kepada Hukum Allah. Jika kita melihat kepada Hukum Allah, sesungguhnya secara kodrat alamiah, tidak ada satu pun dari antara kita yang merupakan 'tanah yang baik.' Jika kita memeriksa hati kita sepanjang minggu ini, kita akan menemukan hati yang keras seperti pinggir jalan karena egoisme, hati yang dangkal seperti tanah berbatu karena menghadapi penderitaan, dan hati yang tercekik oleh semak duri kekhawatiran hidup serta pergumulan hidup yang kita alami. Jika kesuburan itu bergantung pada kemampuan tanah untuk menerima benih, atau kemampuan hati kita untuk menerima Injil dan mengubah diri sendiri, maka sesungguhnya kita semua akan berada dalam keputusasaan yang absolut, sebab Tanah mati atau hati yang hancur oleh dosa tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri. 

Oleh karena itu, lewat evangelium Minggu ini, Tuhan berkata kepada kita dengan tema : "Kuasa Firman Mengalahkan Kekhawatiran Kita - Gogo Asi ni Roha ni Debata manaluhon haporsuhonta"
1.  Tidak ada satu pun dari kita yang merupakan tanah yang baik.
Saudara saudari, Hukum Taurat dalam khotbah ini menyerang kesombongan manusia yang merasa bisa bertobat atau beriman atas usahanya sendiri. 
Setiap orang yang berkebun bahkan yang tidak berladang pun akan mengetahui bahwa tanah tidak memiliki kemampuan untuk mencangkul dirinya sendiri. Aspal di pinggir jalan tidak dapat membuat dirinya menjadi lunak/gembur. Dan tanah yang berbatu batupun tidak akan bisa mengangkat batu-batu dari dalam dirinya sendiri. Serta semak duri tidak bisa mencabut duri itu dirinya sendiri.

Lewat kenyataan atau realita ini, satu hal yang penting kita sadari dihadapan Allah sesungguhnya secara rohani kita semua telah rusak atau mati total karena dosa (total depravity). Dalam keadaan ini kita tidak bisa menyalahkan Adam dan hawa atau orang tua kita sang pewaris dosa, atau menyalahkan lingkungan /dunia kita, sebab masalah utamanya adalah karena kondisi tanah atau hati kita sendiri yang telah rusak.
Saudara saudari, lewat perumpamaan Yesus tentang tiga jenis tanah dalam khotbah ini, mari kita bercermin kepada Hukum Allah untuk mengetahui penyakit rohani kita dihadapan Tuhan : 
1. Hati yang Keras (Pinggir Jalan)
Menggambarkan hati yang keras dan tidak peduli, Ketika kita menerima atau Firman, kita tidak menerimanya dengan hati yang haus malah membiarkannya begitu saja atau menutup hati sehingga diambil oleh si jahat. Perumpamaan ini menyatakan ketegaran hati kita yang sering kali mengabaikan Firman Tuhan karena merasa sudah tahu semuanya atau karena menganggap remeh atas ibadah ibadah yang kita lakukan.
2. Hati yang Dangkal (Tanah Berbatu)
Menggambarkan iman yang hanya sesaat atau emosional. Ketika kita mendengar Injil kita akan sangat suka dengan janji Allah atau berkat berkatNya, namun begitu diarahkan kepada penderitaan atau penganiayaan yang hari kita terima karena Firman itu sendiri, kita langsung murtad dan kecewa kepada Tuhan. Hal ini mengingatkan kita akan kondisi "iman yang sesaat" yaitu keadaan kita secara manusiawi yang maunya hanya berkat dan kenyamanan atau kenikmatan sesaat, sehingga ketika kenyataan bertolak dari rasa nyaman atau kenikmatan kita akan langsung kecewa, merasa tersakiti, dan mundur dari Tuhan karena tidak mau atau tidak siap menghadapi penderitaan "salib" kehidupan.
3. Hati yang Tercekik (Semak Duri)
Ini adalah cerminan dari kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan. Kita bergumul dengan kecemasan hidup, mengejar dan mengutamakan kemewahan, hingga beribadah pun tidak ada waktu bahkan membuat Firman Tuhan terhimpit dan tidak menghasilkan buah apa pun dalam hidup kita. Hal ini, mengingatkan kita pada kehidupan yang terjebak kepada penyembahan berhala modern, yaitu cara hidup kita yang lebih bersandar atau berfokus hanya kepada kenikmatan dunia sesaat yang membuat kita berakhir pada ketakutan atau ketidak damaian seperti lebih mengizinkan kecemasan ekonomi, ambisi karier, dan cinta akan uang lebih mengontrol hidup kita daripada Firman Tuhan yang kekal.

Jadi, jikalau kita mencocokkan atau bercermin kepada 3 bentuk tanah yang telah saya jelaskan ini, sesungguhnya tidak ada satu pun dari kita yang secara alami memiliki "tanah yang baik" yang murni dan bersih. Kadang-kadang dalam seminggu ini, hati kita keras seperti pinggir jalan. Di lain waktu, iman kita goyah saat menghadapi masalah (seperti tanah berbatu). Dan betapa seringnya kekhawatiran hidup mematikan waktu dan memutus hubungan kita yang baik bersama Tuhan (bagaikan semak duri). Maka berdasarkan kemampuan kita sendiri, kita semua adalah tanah yang gagal yang tidak mungkin menghasilkan buah bagi Allah.

2. Namun Kuasa Firman dan Karya Allah telah Mengubah Hati Manusia.
Saudara saudari, setiap khotbah Injil yang terus menerus kita dengar selalu mengingatkan kita bahwa pengharapan/pangkirimon kita tidak terletak pada kemampuan tanah (hati kita) untuk memperbaiki dirinya sendiri, karena kita tahu abhwa tanah tidak bisa mencangkul atau membersihkan dirinya sendiri, demikian juga hati kita tidak akan bisa berubah tanpa Injil yang mencangkul dan membuat berbuah dengan kuasaNya. Lewat khotbah ini kita di ingatkan bahwa pengharapan kita sepenuhnya ada pada Benih itu sendiri, yaitu Firman Allah. Dalam pengajaran kita di perspektif teologi Lutheran (buku konkord), diajarkan kepada kita bahwa Firman adalah Yesus Kristus sendiri yang aktif bekerja, yang artinya Firman adalah benar Allah dan Firman tidak dapat terpisah dari Allah yang adalah dirinya sendiri (Yoh.1:1).
Saudara saudari, bagaimanakah Tuhan bekerja untuk menghancurkan kondisi tanah atau hati yang tidak baik itu sehingga dapat subur dan berbuah dengan baik ?, marilah kita percaya bahwa sesungguhnya Yesus adalah "Benih Utama" yang telah rela jatuh ke tanah, menderita, dan mati di kayu salib. Kematian dan kebangkitan-Nya berfungsi untuk menebus segala kegagalan hati kita, baik itu kedegilan (tanah keras), kedangkalan iman (tanah berbatu), maupun kekhawatiran hidup kita (semak duri). 

Jadi, Perubahan hati dari "tanah yang buruk" menjadi "tanah yang baik" bukanlah hasil dari usaha moral atau kekuatan tekad manusia, melainkan murni pekerjaan Roh Kudus(Sola Gratia). Lewat layanan yang kita terima yaitu melalui Sakramen (Baptisan & Perjamuan Kudus) dan pemberitaan Firman, sesungguhnya Roh Kudus yang membongkar, membersihkan, dan melembutkan hati kita yang penuh dengan berdosa agar iman bisa tumbuh dan berbuah dengan baik. 

Ketika Firman itu ditaburkan (kita membaca dan mendengar Firman), hendaklah kita menerimanya dengan respons hati yang subur (dipenuhi oleh Roh Kudus) dengan mengaku jujur di hadapan Tuhan, "Tuhan, hatiku hari ini sedang penuh semak duri kekhawatiran dunia. Ampunilah aku dan bersihkanlah aku." Dan hendaklah juga kita mengandalkan Kristus dengan sepenuhnya, bukan pada perasaan spiritual kita yang naik turun atau pada kekuatan iman kita, melainkan hanya pada kesetiaan Yesus Kristus yang telah mati bagi kita.

Ketika tanah_hati itu telah disuburkan oleh Allah melalui iman, maka buahnya akan muncul secara alami. Dalam teologi Lutheran, kita tidak menghasilkan buah (perbuatan baik) untuk menyelamatkan diri kita atau untuk menyenangkan Allah agar Dia mengasihi kita. Melainkan, kita berbuah karena kita sudah dikasihi. Martin Luther pernah menuliskan pernyataan ini "Allah tidak membutuhkan perbuatan baikmu, tetapi sesamamu manusialah yang membutuhkannya." Maka, respons hidup kita yang berbuah itu, mari kita diwujudkan melalui tugas dan peran kita sehari-hari di dunia.
1. Sebagai orang tua hendaklah mengasihi anak-anaknya.
2. Sebagai pekerja atau karyawan hendaklah bekerja dengan jujur dan berintegritas.
3. Sebagai tetangga hendakla menolong sesama yang kesusahan.
Ini adalah tugas alami dari Iman kita, sebab kita tahu bahwa buah  yang telah matang bukan untuk dinikmati oleh pohon itu sendiri, melainkan untuk dimakan dan dinikmati oleh orang-orang di sekitar. Kita telah diselamatkan dan dimungkinkan untuk hidup berbuah semata-mata karena anugerah-Nya (Sola Gratia) melalui iman (Sola Fide) yang dikerjakan oleh kuasa Firman itu sendiri, jadi marilah tetap dengan setia memberikan rasa yang indah kepada sesama kita.

Dan satu hal yang terpenting lewat evangelium ini, kiranya kita memberi diri untuk terus menerus membuka diri, menyerahkan diri, dan melekat pada Kristus melalui Firman dan Sakramen-Nya, agar Dialah yang mengubah dan membuahkan hidup kita dengan kesukaanNya.
Amin.



Pdt.Ardi Situmorang S.Th

Jumat, 10 Juli 2026

Bersyukur kepada Allah - Acara Ibadah minggu V Setelah Trinitatis

 

Acara Ibadah Pemuda/I GKLI

11 July 2026

 

1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 64 :1 – 3 (Bila ku lihat bintang Gemerlapan)

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

3. Pabila nanti Kristus memanggilku, sukacita amatlah besar,
kar'na terkabullah yang kurindukan: melihat Dikau, Tuhanku akbar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

 

2.      Doa Pembuka

        Bapa kami yang ada di Surga, kami bersyukur pada malam hari ini, atas berkat dan Anugerah Mu yang selalu menyertai kami sehingga di malam hari ini kami tetap sehat dan kuat. Kini kami datang kehadapan Mu memohon agar kiranya Engkau menerangi dan menyinari hati kami melalui Firman Mu, ajar dan pelihara lah hidup kami agar kiranya kami menjadi pemuda/i yang takut terhadap Engkau dan menghormati orang tua kami. Kami juga berdoa buat Ibadah kami ini, terimakasih Tuhan karna Engkau telah hadir untuk kami. Sebentar lagi kami akan menerima pengajaran dari Firman Mu kiranya bukakan hati kami dan ingatkanlah kami melalui Firman Mu agar kami dapat hidup menjadi pemuda/i yang takut akan Engkau.

Tuhan Yesus Kristus, kami juga berdoa buat orang tua kami, berkatilah mereka, berikan kesehatan dan panjang umur dan ingatkan mereka agar tetap sabar dan setia dalam mendoakan dan mengajari kami. Kami juga berdoa buat sahabat sahabat kami pada saat ini yang sibuk karna pekerjaan, belum rindu untuk mendengarkan panggilanmu, berkatilah setiap saudara/i kami itu dan ingatkanlah mereka Tuhan, agar kiranya kami dapat bersama sama menerima Firman mu. Kami juga memohon keampunan atas dosa dosa kami, Tuhan ampuni kami dan kuduskan kami dari dosa itu, agar kami kudus dan layak datang kehadapanMu. Inilah doa dan permohonan kami, dengarkan lah doa kami. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus Amin!

 

3.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 425 (Berkumandang suara dari seberang)

1. Berkumandang suara dari seberang, "Kirimlah cahyamu!"
Banyak jiwa dalam dosa mengerang, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff : Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.
                 Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.

2. Kita t'lah dengar jeritan dari jauh, "Kirimlah cahyamu!"
Bantuanmu b'rikan, janganlah jemu, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff:

3. Jangan kita tinggal diam mendengar: "Kirimlah cahyamu!"
Injil Tuhan haruslah kita sebar, "Kirimlah cahyamu!"

           Reff:

4.      Renungan

Nats     : Mazmur 65 : 1 - 8

Thema : Nyanyian Syukur karena berkat Allah

Tujuan : Supaya kita senantiasa bersyukur atas berkat Allah :

1.   Mengetahui akan setiap berkat Allah

2.   Berdoalah senantiasa untuk mensyukuri berkat Allah

3.   Sukacita senantiasa bagi orang yang senantiasa bersyukur

4.   Allah senantiasa bersama orang yang bersyukur

 

Hapalan : Mazmur 65 : 2

 

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3 (Berkumandang suara dari seberang)

1. Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.

2. Hai angkit bagi Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.

3. Hai bangkit bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!

 

6.      Doa Persembahan + Doa Penutup

 

7.      Latihan KOOR

 


Sabtu, 27 Juni 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026 - Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita - Matius 10 : 34 - 42


Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026


Evangelium: Matius 10 : 34 - 42

Thema : Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita
Saudara saudari, salah satu warisan teologi Lutheran yang paling berharga bagi kita adalah keberanian untuk melihat realitas salib. Dalam tulisannya Martin Luther sering mengingatkan kita tentang Theologia Crucis "Teologi Salib". Teologi ini mengajarkan bahwa Allah justru menyatakan diri-Nya di dalam penderitaan, penolakan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi daging kita. Dan dalam teks Matius 10 : 34 - 42 adalah contoh mutlak dari Teologi Salib ini. Di sini kita diperhadapkan dengan tuntutan Hukum Taurat yang sangat keras dan radikal. Yesus menuntut kesetiaan secara total yang melebihi relasi kita dengan orang tua, anak, atau pasangan hidup. Firman ini datang bukan untuk menghibur ego kita, melainkan untuk menghancurkan berhala-berhala terselubung di dalam hati kita. Marilah kita membuka hati kita, membiarkan pedang Firman-Nya memurnikan iman kita, sehingga kita tidak lagi mengandalkan kenyamanan duniawi, melainkan hanya bersandar pada kasih karunia Kristus semata, oleh karena itu lewat Khotbah hari Allah berkata kepada kita dengan Thema : "Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita"


1. Meskipun kita harus Kehilangan Status demi duniawi.
"Bapak, Ibu, jika standar 'mengutamakan Tuhan' diukur dari kesempurnaan kita melakukan ayat-ayat ini, maka kesimpulannya jelas: Tidak ada satu pun dari kita yang layak di hadapan Tuhan. Sebab, kita semua telah gagal mengutamakan Dia. Dalam kehidupan yang nyata, kita telah menjadikan kenyamanan hidup, keluarga, dan status sosial kita sebagai allah yang lebih utama."
Tentu dengan membaca dan merenungkan Injil yang telah kita baca tadi, akan sangat terasa mengejutkan dan menghentak telinga kita. Sebab, Yesus yang kita kenal sebagai Raja Damai, tiba-tiba berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (ay. 34).

Apakah maksudnya Yesus sang Mesias datang membawa pedang dan menjadi pemisahan di dalam keluarga?. Firman ini sesungguhnya mematikan ilusi kita tentang kekristenan yang selalu berpikir nyaman, aman, dan tanpa konflik. Lewat Injil ini Yesus sedang menelanjangi kedamaian palsu yang ditawarkan dunia agar kita melihat kedamaian sejati yang berakar pada kebenaran Allah. Pedang yang dibawa oleh Yesus bukanlah senjata fisik untuk melukai, atau menghabiskan nyawa kita, melainkan pedang Firman yang memisahkan kebenaran dari ketidakbenaran, memisahkan antara yang gelap dengan yang terang. Ketika kita memilih untuk setia kepada Kristus, maka sesungguhnya nilai-nilai hidup kita tentu akan bertabrakan dengan seluruh prinsip dunia atau kenyamanan dunia. Dan yang paling nyatanya, penolakan atau tantangan yang paling umum bahkan menyakitkan justru sering kali datang dari orang-orang terdekat kita sendiri, seisi rumah kita sekeliling seperti penolakan yang terjadi kepada Yesus.

Lewat Baptisan Kudus, Allah mengadopsi kita menjadi anak anakNya sebagai umat tebusanNya, yang artinya Tuhan Yesus yang memanggil kita bukanlah untuk menjadi serupa dengan dunia atau hidup di dalam kedamaian palsu yang penuh kompromi dengan dosa. Dia memanggil kita untuk masuk ke dalam peperangan rohani yang nyata, yang diperlengkapi dan bersenjatakan dengan pedang Firman-Nya. Kita dituntut untuk hidup dalam penyerahan total kepada Yesus, dengan memotong keterikatan berhala kita terhadap keluarga dan diri sendiri. Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (ay. 37). Yesus tidak menyuruh kita membenci keluarga. Namun, agar tidak menjadikan kenyamanan keluarga atau tuntutan dunia lebih utama daripada Iman. Yesus menuntut penyerahan total: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (ay. 38). Di hadapan tuntutan Hukum Taurat, kita semua adalah orang yang gagal, karena kita lebih sering mencari aman, takut ditolak keluarga, dan menolak memikul salib dan itu membuat kita tidak layak.

Apakah Tuhan membiarkan kita hidup mati dalam kegagalan ini ?. Sesungguhnya Tidak. Lewat Injil hari ini kita di bawa dari Hukum Taurat menuju Injil (The Gospel). Dan bagaimanakah Allah menolong kita ?. Pertama tama Kristus Memikul Salib Kita, Sebelum Yesus meminta kita memikul salib, Dia terlebih dahulu memikul salib yang sesungguhnya di Golgota. Salib yang memikul seluruh dosa, ketakutan, dan kegagalan kita untuk setia kepadaNya. Pertolongan terbesar Allah terjadi di salib Golgota. Pedang keadilan Allah yang seharusnya menghukum kita karena dosa dan kegagalan kita, telah ditimpakan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Di atas salib, Kristus mengalami "pemisahan" yang paling mengerikan, Ia ditinggalkan oleh Bapa-Nya, agar kita tidak pernah lagi terpisah dari Allah. Pedang yang mengancam hidup kita telah dipatahkan oleh tubuh-Nya yang terluka. Dan hingga saat ini, pedang itu sesungguhnya tetap bekerja baik melalui hukum hukumnya, sebab dengan pedang itu Kristus memotong ego, kesombongan, dan keterikatan berhala kita pada dunia. Sungguh, Allahlah yang menolong kita dengan cara membiarkan pedang itu membunuh "manusia lama" kita yang berdosa, lalu membangkitkan "manusia baru" yang hidup oleh kasih karunia. Oleh karena itu, jangan lagi kita mengikatkan rasa aman kita pada penerimaan keluarga, harta, atau status duniawi, sebab pedang penolakan dunia tidak lagi memiliki kuasa untuk menghancurkan jiwa kita.


2. Sebab Allah telah memberikan kita hadiah, dengan melayakkan kita ddihadapanNya.
Saudara saudari, kita dibenarkan dan Disatukan dihadapan Allah adalah karena Kasih Karunia" (Justified and United by Grace). Dalam tradisi Lutheran, diajarkan kepada kita bahwa Injil bukanlah tuntutan moral, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Meskipun dihadapan Allah kita dipandang gagal dalam memikul salib kita dengan sempurna. Namun, Kristus telah memikul salib hukuman dosa kita di Golgota, sehingga salib yang kita pikul hari ini bukanlah lagi kutukan, melainkan tanda kemerdekaan, dan pemurnian Iman yang benar kepada Kristus.

Meskipun jikalau jalan terakhirnya kita harus Kehilangan nyawa/ego karena Kristus itu artinya kita telah menemukan hidup yang sejati, tetapi bukan Berti juga kita menuntun diri kepada penderitaan yang tidak bermanfaat. Marilah kita renungkan dan ingat ini, ketika kita menerima Baptisan, baik saat bayi ataupun setelah dewasa, sesungguhnya manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus di kayu salib dan kita diberikan identitas baru oleh kebangkitanNya yang tidak bisa dihancurkan oleh penolakan dunia.

Apakah kamu akan meninggalkan Allah juga hanya masalah kecil atau masalah kedagingan yang membuat kita terasing atau ditolak ?. Saudara saudari, Jika kita jujur melihat diri kita sendiri (dari sudut pandang Hukum Taurat), di dalam kekuatan kita sendiri, kita sangat mungkin akan meninggalkan iman ketika menghadapi penderitaan, sebab daging lemah. Namun, Injil hari ini memberikan pengharapan bahwa kita tetap dapat berada dalam kesetiaan bukan karena hebatnya iman kita, melainkan karena setianya Allah yang memegang kita tiap tiap saat. Dan mari kita juga merenungkan kembali, akan pengakuan Iman kita. Martin Luther dalam Penjelasan Pengakuan Iman Rasuli di katekhismus Kecil menuliskan seperti ini : "Aku percaya bahwa dengan kekuatanku atau imanku sendiri, aku tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepada-Nya; tetapi Roh Kudus telah memanggil aku melalui Injil..." Percayalah bahwa Allah yang Mempertahankan Iman bagi kita, setiap Kesetiaan yang diperbuat oleh orang Kristen di tengah penderitaan adalah buah dari pekerjaan Allah, bukan hasil usaha manusia. Lewat Injil, roh Kudus akan selalu menopang dan memberi kekuatan saat kita dianiaya bahkan saat ditolak.

Bahkan sama seperti yang dialami oleh Petrus, dimana Yesus berkata kepada Petrus sebelum ia jatuh, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Lukas 22:32), artinya Yesus yang sama yang memelihara dan menolong kita hingga saat ini akan terus bersyafaat bagi kita di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai bentuk pemeliharaanNya untuk kita. Bahkan Allah telah berjanji, bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita dan akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, sama seperti yang dituliskan paulus dalam Roma 8:35, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?" Jawabannya adalah tidak ada.

Oleh karena itu, jangan biarkan keinginan daging menghancurkan hubungan kita dengan Allah, mari arahkan pandangan kepada Yesus yang sudah setia sampai mati bagi kita. Kasih karunia Allah di dalam Kristus adalah kekal. Dan tangan Allah yang menggenggam kita sungguh jauh lebih kuat daripada pencobaan apa pun yang ada di dunia ini. Yesus berkata Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Tetaplah setia datang ke hadirat-Nya, mendengarkan Injil-Nya yang menghibur dan menguatkan hati kita yang terluka. Datanglah dengan setia ke altar-Nya lewat ibadah Minggu kita. Sebab di sana Yesus hadir secara nyata lewat tubuh dan darah Kristus diberikan untuk mengampuni dosa dosamu, memperbarui iman mu, dan memberi kekuatan spiritual untuk menghadapi hari esok. Dan terakhir, saya mau menyampaikan kembali pernyataan Martin Luther yang mengatakan "Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung-gunung runtuh ke dalam laut, Kristus, Tuhan kita, tetap bertakhta selama-lamanya. Di dalam Dia, kita aman." Tetaplah Kristus yang utama dalam hidup.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 

pdt.a situmorang

bahan sewrmon IV Setelah Trinitatis - Matius 10:32-43

 

Bahan Sermon

23 Juni 2026


a)    Khotbah Minggu IV Dung Trinitatis

EVANGELIUM  : MATIUS 10 : 32 – 43

        Thema   : Tabahen ma Debata na unringkot di nasa ngolunta

a)      Nang pe ingkon ndang mangomo hasonangan portibi hita

·            Ndang jumpanga hita hasempurnaan di dirinta ianggo so marhite Debata

·            Jesus ro maboan podang na pasiranghon na holom marhite hatiuron

·            Marhite pandidion nabadia nang hataNa di bahen hita gabe IanakhonNa, Ibada do na manjou hita asa sirang sian haholomon i jala mian di hatiuronNa

·            Unang tabahen portibi on gabe inganan hasonangan, keluarga dohot donganta sajabu na gabe unringkot sian Debata.

·            Ndang dipasombu Debata hita mian di haholomon (hamatean) i, ai jumolo do ibana mamorsan silang jala mate dung i asa di suru hita mamorsan silang laho mangihuthon Ibana.

b)     Ai Debata do na mangalehon hita Upa, ima HarajaonNai

·         Hata ni Debata ndang tuntutan Moral – Alai barita na sian Debata na pabotohon aha na ni ula ni Debata tu hita

·         Nang pe ingkon ditolak, jala dihasogohon portibi on hita – dang tuk huaso ni portibi on maniranghon hita sian holong ni roha ni Debata Rom.8:35

·         Ndang di paloas Debata hita di unjuni di atas ni hagogoonta (1 Kor.10:13)

·         Manongtong ma tu Debata hita marsihohot marhite na mambahen Ibana na unringkot di ngolunta – Ai jaloon ta do upa molo tongtong setia hita tu Ibana

“Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung gunung runtuh ke dalam laut, Kristus _ Tuhan kita tetap bertakhta selama lamanya”

2.      ENDE MINGGU IV DUNG TRINITATIS

·         BE NO.15

·         BE NO. 178

·         BE NO. 510

3.      NA RINGKOT SIBAHASON

                                        I.         Program Huria

                                     II.         Keuangan

                                  III.         Pembangunan

                                  IV.         Persembahan tu Sinode GKLI

                                  V.            Persiapan penyambutan Tamu dari Lutheran Malaysia


Rabu, 24 Juni 2026

Tetap Teguh di Bawah Naungan Salib dan Kasih Karunia - Kisah Para Rasul 14 : 21 - 23

Shalommm..,

Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 14:21
Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia.
Kisah Para Rasul 14:22
Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.
Kisah Para Rasul 14:23
Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

Saudara saudari, Dalam perikop kita hari ini, kita dapat melihat Rasul Paulus dan Barnabas menelusuri kembali kota-kota di mana mereka sebelumnya dianiaya, diusir, bahkan hampir mati dirajam. Pertanyaannya, Apakah yang membuat mereka kembali ke tempat yang berbahaya itu? 
Jawabannya ada pada ayat 22: "Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman."

Dalam pengajarannya, para Rasul tidak menjanjikan kehidupan yang penuh damai dengan dunia ketika mereka menerima Kristus. Dengan tegas, Rasul Paulus memberitakan Firman yang mengejutkan bagi mereka yang berpengharapan salah kepada Kristus seperti dalam ayat 22 “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” 
Pengharapan yang tidak benar ini sering juga merasuki kita, yang mungkin kita juga berpengharapan bahwa ketika kita menjadi kristen yang setia maka hidup akan berjalan dengan penuh kedamaian, sesungguhnya tidak. Sebab, Hukum Taurat akan selalu membongkar ekspektasi palsu kita dari keinginan kita. Sebab firman Tuhan mengatakan bahwa Penderitaan, penolakan, penyakit, dan pergumulan batin adalah realitas yang harus dihadapi oleh setiap orang percaya. Mengapa Pengikut Kristus harus menderita, sedangkan kita berada bersama dengan raja damai? Sesungguhnya, kita harus mengetahui bahwa dunia ini memusuhi Injil Kristus, dunia menolak Yesus Kristus dan dunia sendiri menyalibkan Yesus Kristus lewat orang orang yang tidak percaya. 
Apa yang dialami oleh Yesus dari dunia, demikianlah juga kita akan mengalaminya dalam hidup kita. Tetapi, kita harus percaya bahwa penderitaan bukanlah jalan untuk menghancurkan kita atau membinasakan kita, melainkan dengan demikianlah iman kita diuji. Rasa percaya kita kepada diri sendiri, Pengandalan kita akan kemampuan dan kuasa dunia akan dihancurkan lewat penderitaan itu, sehingga kita benar benar percaya bahwa kita dapat berdiri tegak dan menang dalam penderitaan bukanlah oleh karena kita, melainkan karena kuasa Kristus yang bekerja dalam pribadi kita. 

Namun, pertanyaannya bagi kita, siapakah yang bertahan dalam penderitaan atau bagaimanakah orang percaya menang dalam penderitaan hidup ?. Tentu, Jawabannya bukan pada kekuatan tekad kita, melainkan pada kesetiaan dan kasih karunia Allah yang memelihara kita.
Dalam ayat 21-22 disampaikan kepada kita bahwa Allah yang Menguatkan.  Paulus dan Barnabas kembali bukan membawa hukum-hukum baru yang memberatkan, melainkan membawa penguatan. Mereka mengingatkan jemaat bahwa Kristus, yang telah menderita di atas salib bagi penebusan dosa kita, tidak akan pernah meninggalkan jemaat-Nya. Dan lewat perikop ini, Allah juga ingin menyatakan kepada kita bahwa menjadi Kristen sesungguhnya Allah lah yang menentukan itu kepada kita lewat kuasa Roh kudusNya, dan demikianlah juga dengan pelayanan dalam Gereja Tuhan Allahlah yang menetapkan, Allah memberikan alat AnugerahNya kepada GerejanNya yaitu Firman (Word) dan Sacrament seperti dalam ayat 23. Alat alat Anugerah itu diberikan Tuhan untuk memelihara iman jemaat, menguatkan Jemaat agar kembali kepada Kristus dan jalan bagi para rasul untuk menetapkan para penatua-penatua. Mengapa hal ini sangat penting dalam tradisi Lutheran?
Supaya kita tahu, bahwa Allah memelihara iman kita tidak secara abstrak, melainkan lewat alat-alat anugerah (Means of Grace) yaitu pemberitaan Firman yang murni dan pelayanan Sakramen, kita dapat menikmati dan melihat tubuh Kristus yang nyata dan sama dalam Perjamuan Tuhan yang kita terima, makan dan minum.

Seluruh pelayanan dalam hidup kita tetaplah bersandar kepada Kristus dan bukan ajang untuk menyatakan kekuatan atau keberhasilan pribadi kita. Sebab jikalau kita melihat pada ayat yang ke 27 dikatakan bahwa Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia, lalu mereka menceritakan "segala sesuatu yang Allah lakukan melalui mereka, bahwa Allah telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain untuk percaya kepada Allah oleh iman." Artinya, dalam keberhasilan mereka di pelayanan sesungguhnya, bukanlah karena kehebatan Paulus, bukan juga karena strategi Barnabas, melainkan karna Allah yang berkarya. Sebab, Iman yang kita terima dan juga seluruh orang percaya adalah pemberian murni dari Allah melalui karya Roh Kudus dalam Firman.

Oleh karena itu, saudara saudari Janganlah Takut Menghadapi Sengsara oleh Iman. Sebab, segala penderitaan oleh karena nama Kristus bukanlah tanda bahwa Allah mengutuk kita, melainkan konfirmasi bahwa kita adalah warga Kerajaan Allah yang sedang berjalan melalui dunia yang menolak kita. Dan yang paling utama, marilah kita serahkan Hidup hanya pada Tuhan, seperti dalam ayat 23 dikatakan mereka "menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka." Yang artinya Jemaat dan para pelayan Tuhan tidak boleh bergantung pada institusi duniawi, melainkan hanya pada keteguhan Kristus sendiri.


Saudara-saudari, percayalah meskipun jalan menuju Kerajaan Allah memang dipenuhi dengan salib dan penderitaan. Namun, kita tahu bahwa Kristus yang telah bangkit telah mendahului kita melewati penderitaan itu sehingga kita benar dihadapan Allag. Dia yang telah membenarkan kita oleh darah-Nya adalah Dia yang sama yang akan memelihara kita sampai akhir. Kasih karunia-Nya cukup bagi kita, dan pintu iman tetap terbuka lebar bagi setiap orang yang percaya. Tetaplah bersandar kepada Kasih Kristus.


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua, Amin 🙏🏾

Senin, 22 Juni 2026

Tetap hidup di dalam Kasih Karunia - Kisah para rasul 13:43-48

KISAH PARA RASUL 13:43-48
Kisah Para Rasul 13:43
Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.
Kisah Para Rasul 13:44
Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.
Kisah Para Rasul 13:45
Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus.
Kisah Para Rasul 13:46
Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
Kisah Para Rasul 13:47
Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi."
Kisah Para Rasul 13:48
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.


 *Tetap Hidup di Dalam Kasih Karunia* 

PERIKOP ini berbicara tentang kisah perjalanan misi Paulus dan Barnabas di Antiokhia Pisidia. Dalam kisah ini dapat kita lihat bahwa perjalanan pelayanan mereka tidaklah berjalan dengan mulus, sebab mereka mengalami penolakan dari orang Yahudi (karena iri hati) dan sebagian ada yang bersukacita, termasuk dari bangsa non-Yahudi yang telah menerima Injil keselamatan itu.

kita di ingatkan bahwa kehidupan Kristen bukanlah tentang usaha manusia untuk mempertahankan keselamatan melalui hukum taurat atau perbuatan baik. Sebab kita harus mengakui dan menyadari bahwa Kehidupan Kristen adalah respons iman untuk terus bersandar, melekat, dan "tinggal" di dalam anugerah gratis yang sudah Yesus genapi di kayu salib, dan ini juga adalah dasar dari pandangan teologi Lutheran dimana kita dibenarkan dan diselamatkan dihadapan Allah adalah berdasarkan atas anugerah Allah. Kita tidak memulainya dengan kasih karunia lalu melanjutkannya dengan kekuatan otot rohani kita sendiri.

Dalam hidup kita tiap tiap saat, sesungguhnya kita harus tetap terhubung dengan Tuhan baik lewat persekutuan yang intim ataupun lewat doa doa kepada Tuhan. Dalam Gereja Tuhan, Ia memilih bekerja menciptakan iman bukan dengan lewat tanda-tanda ajaib yang spektakuler atau emosi yang dimanipulasi, melainkan melalui Firman yang kita dengan lewat para Imam yang berdiri di mimbar, dan Roh Kudus hadir bersama dengan Firman itu dan bekerja secara aktif di dalam dan bersama dengan Firman Tuhan yang diberitakan untuk melahirbarukan hati setiap manusia. ketika Injil diberitakan sesungguhnya Iblis juga turut bekerja untuk menggagalkan iman pendengar untuk tidak bertumbuh, bahkan menghadirkan kecemburuan sosial. Jikalau kita perhatikan dalam perikop ini orang-orang Yahudi menjadi iri melihat kerumunan banyak orang yang mau mendengar Injil, lalu menghujat dan menolak Injil. Namun paulus menegaskan bahwa setiap orang yang menolak Firman adalah orang yang menganggap bahwa diri mereka tidak layak untuk beroleh hidup kekal dan layak dilemparkan ke api neraka.

oleh itu, mari jangan pernah menolak Firman Allah, jangan mengeraskan hati, lembutkanlah hati mu dan rendahkan hatimu dihadapan Allah sebab setiap orang membutuhkan Allah, kita sungguh membutuhkan Injil sebagai kekuatan dan terang kita.  

Orang orang Yahudi yang menolak Injil karena mereka merasa sudah "cukup benar" dengan identitas agama dan Taurat mereka. Di dalam teologi Lutheran, ditekankan dan diajarkan kepada kita bahwa manusia yang menolak keselamatan bukan karena Allah pelit, melainkan karena kesombongan manusia yang menolak diselamatkan murni oleh anugerah. Ketika hukum Taurat menyingkapkan dosa kita, pilihannya hanya dua: BERTOBAT menerima anugerah, atau menjadi pahit karena menolak Firman.

Allah selalu merencanakan yang terbaik untuk kita, keselamatan kita juga adalah rencana Allah atas Yesus Kristus, oleh karena itu tetaplah setia kepadaNya, tinggallah di dalam kasih karunia Allah. Marilah kita belajar dari orang Yahudi untuk tidak menutup diri dari Kristus karena merasa diri sudah suci. Hendaklah kita datang kepada Tuhan dengan tangan kosong, mengakui ketidakberdayaan kita di bawah tuntutan Taurat. Dan bersukacitalah dalam kepastian keselamatan. Sebab iman kita tenang karena keselamatan kita bersandar pada keputusan Allah yang kekal, bukan pada pasang surut perasaan kita. Dan teruslah menjadi saksi Injil. Sebab Paulus dan Barnabas tidak pernah berhenti , baik ketika  ditolak, mereka tetap bergerak menjadi terang bagi bangsa-bangsa. 
Bagi para umat Lutheran yang berdiri di atas Injil Allah, kita dipanggil untuk setia mengabarkan Injil Kristus yang murni, sebab di mana Firman ditaburkan, Roh Kudus pasti bekerja mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya, menyertai dan memelihara dalam damai Kristus.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Sabtu, 20 Juni 2026

Matius 10 : 21 - 33

Matius 10 : 21 - 23

Matius 10:21
Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
Matius 10:22
Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
Matius 10:23
Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.
Matius 10:24
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.
Matius 10:25
Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.
Matius 10:26
Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Matius 10:27
Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Matius 10:28
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Matius 10:29
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Matius 10:30
Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.
Matius 10:31
Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Matius 10:32
Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
Matius 10:33
Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

theologi Lutheran

Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis - Perumpamaan tentang seorang penabur Matius 13:1-9+18-21

Evangelium Matius 13:1-9, 18-21 Saudara saudari, setiap kali kita membaca Perumpamaan tentang Seorang Penabur ini, tentu kita akan dirahkan ...

what about theologi luther ?