Senin, 08 Juni 2026

Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah - Kisah para rasul 8:22-25

Shalom.
"Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah"
Kisah para rasul 8:22-25
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 8:22
Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini;
Kisah Para Rasul 8:23
sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."
Kisah Para Rasul 8:24
Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu."
Kisah Para Rasul 8:25
Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.

Saudara saudari, jikalau kita perhatikan dalam kehidupan saat ini, manusia lebih suka hidup alami sebagai manusia yang berdosa yang melingkar pada dirinya sendiri dan selalu ingin memegang kendali. Dalam kehidupan sehari hari kita hidup dengan prinsip dunia: "Ada harga, ada rupa; ada uang, ada kuasa." Dan lebih Celakanya, mentalitas transaksional ini sering kita bawa ke dalam hubungan kita dengan Allah. 
Lewat teks khotbah hari ini, kita melihat perjumpaan yang tajam antara Rasul Petrus dan Simon si Penyihir. Simon sangat terpesona oleh kuasa Roh Kudus yang turun melalui penumpangan tangan para rasul. Karena latar belakangnya sebagai dukun yang terbiasa membeli atau menjual mantra, ia menawarkan uang untuk membeli karunia Allah. 

Dalam konfesi Augsburg (Pasal II tentang Dosa Warisan) ditegaskan bahwa tanpa Roh Kudus, manusia akan penuh dengan nafsu jahat dan tidak dapat memiliki rasa takut yang benar kepada Allah. Simon mengira status "sudah dibaptis" (ayat 13) otomatis membuatnya rohani. Namun, baptisan bukanlah jimat. Dalam hal ini Simon jatuh kedalam dosa sebab ia menempatkan karunia Allah di bawah kuasa dompetnya. 
Lewat renungan ini, Hukum Taurat Allah hari ini menegur kita: Apakah kita menuruti Tuhan hanya agar bisnis kita lancar? Atau apakah kita mau memberi persembahan dengan ekspektasi bahwa Tuhan wajib membalasnya berkali-kali lipat? Tindakan seperti ini adalah dosa, dan ini adalah karakter Simoni modern!

Namun saudara saudari, mendengar kutukan Hukum Taurat yang begitu keras, Simon menjadi ketakutan. Dengan ketakutannya, Simon tidak berdoa sendiri; ia meminta Petrus untuk mendoakannya. Di satu sisi, ini menunjukkan ia mengakui otoritas para rasul. Di sisi lain, ini menyingkapkan ketakutan egoisnya: ia lebih takut pada hukuman dosa (akibatnya) daripada kekejian dosa itu sendiri di hadapan Allah.

Dalam pandangan teologi lutheran, diajarkan kepada kita bahwa pertobatan (repentance) terdiri dari dua bagian: 
1. kontrisi (teror yang melanda hati nurani karena kesadaran akan dosa melalui Taurat) dan 
2. Iman (yang lahir dari Injil bahwa dosa diampuni demi Kristus).
Dalam perikop ini, Simon berada pada tahap ketakutan (kontrisi jasmani). Ia belum sepenuhnya memandang Salib Kristus, melainkan masih melihat para rasul sebagai perantara magis yang baru. Kita harus sadar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri dengan uang atau membeli belas kasihan Allah dengan air mata maupun penyesalan kita tanpa pertobatan oleh Iman.

Saudara saudari, marilah kita perhatikan renungan ini, apakah yang dilakukan para rasul setelah melihat Simon ketakutan dan datang memohon agar didoakan ?. Para rasul tidak berhenti melayani, mereka tidak mengutuk seluruh kota Samaria. Sebaliknya, mereka terus memberitakan firman Tuhan dan Injil, kota Samaria adalah wilayah orang-orang kafir dan setengah kafir yang dibenci oleh orang Yahudi. Namun, Allah memberikan Roh Kudus-Nya secara cuma-cuma kepada mereka melalui pemberitaan Firman. Karunia Allah tidak bisa dibeli dengan perak Simon, tetapi telah dibeli lunas dengan darah emas Kristus di atas kayu salib.

Lewat Injil yang disampaikan oleh para rasul. Roh Kudus turut bekerja secara eksklusif melalui sarana-sarana anugerah (Means of Grace), yaitu Firman yang disampaikan dan Sakramen yang dilayankan. Jadi, karunia Roh Kudus bukan komoditas pameran yang bisa dipindahkan demi keuntungan pribadi. Melainkan Roh yang diberikan untuk menuntun atau membawa kita kepada ketaatan untuk mendengar Injil, Keselamatan, pengampunan dosa, dan pembenaran kita sebagai anugerah murni. Allah telah memberikan Diri-Nya bukan kepada mereka yang mampu membayar, melainkan kepada mereka yang krisis secara rohani dan mengakuinya di hadapan Altar Tuhan.

Oleh karena itu, sekarang marilah kita menyadari dan mempercayai bahwa Yesus Kristus telah membayar semua hutang dosa kita secara tuntas. Maka, jangan lagi kita mencoba membeli Allah dengan kebaikan, kesalehan, atau persembahan materi kita.
Hendaklah kita datang kepada-Nya dengan tangan yang kosong. Biarkan Hukum-Nya meremukkan kesombongan kita, dan biarkan Injil-Nya yang membalut hati kita dengan pengampunan yang penuh Anugerah kekal.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Minggu, 07 Juni 2026

Allah memutuskan Akar dari penderitaan kita dan memberi kita anugerah Kekuatan - Mazmur 129

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 129:4
TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik.
Mazmur 129:5
Semua orang yang membenci Sion akan mendapat malu dan akan mundur.
Mazmur 129:6
Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut,
Mazmur 129:7
yang tidak digenggam tangan penyabit, atau dirangkum orang yang mengikat berkas,
Mazmur 129:8
sehingga orang-orang yang lewat tidak berkata: "Berkat TUHAN atas kamu! Kami memberkati kamu dalam nama TUHAN!"

Saudara saudari, dalam tiap tiap khotbah kita, sering isi Injil berkata kepada kita bahwa hal mengikut Yesus Kristus tidak menjadi jaminan hidup bahwa hidup kita akan bebas dari penderitaan. dalam khotbah kita ini pemazmur berkata: "Sangatlah mereka telah menyiksa aku sejak masa mudaku hendaklah Israel berkata demikian(1).
Sejak awal mula (Mesir, Babel, hingga era persekusi Gereja mula-mula), umat Allah akrab dengan penindasan. 
Dalam sebuah tulisan Martin Luther mengingatkan kita kembali bahwa salah satu tanda Gereja yang sejati (notae ecclesiae) adalah kepemilikan akan Salib, yang artinya "Gereja akan menghadapi ujian, pertentangan, dan penderitaan dari dunia".

Dalam ayat 3 dikatakan "Para pembajak membajak di atas punggungku, membuat alur bajaknya panjang-panjang." Ini adalah gambaran dari luka yang dalam, cambukan, dan beban berat yang dipaksakan kepada umat Tuhan.

Namun, lihatlah Anugerah Allah itu, ditengah keputusasaan, di ayat 4 firman ini kembali mengumandangkan berita sukacita (Injil) yang berkata bahwa "TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik." Bagaimana Allah memotong tali tersebut? 
Dalam teologi Lutheran, keadilan Allah (Iustitia Dei) dipenuhi secara sempurna di dalam Yesus Kristus. Di bukit Golgota, punggung Yesuslah yang rela dicambuk dan didera hingga robek demi memikul alur-alur dosa kita dan memutuskannya. 
Lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus memotong tali belenggu dosa, maut, dan iblis yang mengikat kita. Dan dengan demikianlah kita dibenarkan murni dihadapan Allah hanya oleh karena anugerah-Nya (Sola Gratia), bukan karena kekuatan kita bertahan di tengah badai. Dengan diputuskannya tali itu oleh Kristus, maka musuh-musuh rohani kita tidak lagi memiliki kuasa untuk mendakwa atau menghancurkan kita.

Dan dalam masa penantian kita akan kedatangan Yesus Kristus, mungkin kita juga akan tetap mengalami penindasan atau penderitaan sekalipun, namun penderitaan dan penindasan itu tidak dapat menggagalkan anugerahnya bagi kita sebab kita telah memiliki akar yang kokoh di dalam janji baptisan dan sakramen-Nya. Dan dengan demikianlah Allah akan memelihara kita, Gereja dan orang-orang percaya akan keluar sebagai pemenang karena Kristus yang telah menang untuk kita.

Oleh karena itu, marilah kita jangan terkejut jika hidup iman kita dipenuhi dengan tantangan, sebab setiap penderitaan rohani justru akan menuntun kita untuk tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan memandang kepada Salib Kristus. Marilah hidup dengan setia di dalam janji janjiNya, sebab TUHAN akan selalu setia pada perjanjian-Nya telah memutus tali belenggu dosamu. Kita tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan, melainkan di bawah berkat keselamatan yang kekal oleh anugerah Allah.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Sabtu, 06 Juni 2026

Khotbah Minggu 1 Setelah Trinitatis - Oloi ma panjouon ni Tuhan Jesus - Matius 9 : 9 - 13

Minggu,  07 Juni 2026.  
I Dung Trinitas. 

Evangelium : Matius 9 : 9 - 13
Thema: Oloi ma Panjouon ni Tuhan i.

Adong do sada pandohan ni sahalak Pandita,   didok "MOLO SUDE DO JOLMA SALAH DIBERENG HO,  NUNGA PASTI HO NA SALAH".
Sai adong do jolma, holan marnida hahurangan ni halak, hape lupa ibana mamareso dirina. 
Tutu do bakko ni jolma do malo marnida huhut menilai dongana jolma, alai ingkon mampu do muse mamereng na dengan na binahen ni halak. 

Molo tabereng na masa di turpuk Jamita minggu sadarion,  Panjouon ni Tuhan Jesus di si Mateus Sijalobeo i. Pangalaho ni angka Parise na Malo manguhumi. Taida Ndang holan Sijalobeo diuhumi angka Parise i, Tuhan Jesus sandiri pe dohot do diuhumi nasida, jala dianggap salah ala marsaor dohot angka pardosa dohot sijalobeo. 

Di parsaoranta di siganup ari pe, godang dope tardapot songon angka halak Parise i. Na mangganggap dirina sandiri nabadia jala dang mardosa. Alai anggo dongganna jolma dianggap do sude pardosa.  Na mandok sude ulaon ni halak salah, hape lupa ibana mamareso dirina. 

Sijalobeo, sada profesi/Tugas na pinasahat ni Bangso Roma, laho papungu pajak (beo) di papungu sian halak Jahudi/Israel jala dipasahat ma tu bangsa Roma. Ido umbahen asa gabe Jolma pardosa situtu sijalobeo, dianggap Angka halak Parise, jala dianggap sebagai penghianat. Suangasongoni, di pangalaho ni si jalo beo na sai olo papungu angka pajak/beo, lobi sian naung ditontuhon hian. 

Ro do Tuhan Jesus mandapothon sijalobeo, na margoar si Mateus. Dipillit jala di jou Tuhan Jesus do Ibana asa Gabe siseanNa. Jala didok Tuhan Jesus tu Ibana "Ihuthon ma Ahu!".
Jadi pintor hehe ma ibana mangihuthon Jesus.

Aha do na naing berengonta sian Panjouon ni Tuhan Jesus tu si Mateus sijalobeo i, 

Na parjolo :
Dangadong na boi mangambat i Panjouon ni Tuhan i. Nang pe di dinilai halak angka jolma pardosa do sijalobeo, ala ni panjouon ni Tuhan i na mamillit jala manjou Ibana Gabe siseanNa. 
Jala latar belakang ni hajolmao Nang kehidupan pe dang boi mangambati panjouon ni Tuhan i di ngolunta. 

Napaduahon : 
Di ihuthon si mateus do Tuhan Jesus. Jala dang adong marsidalian ibana.  Tung marragam do cara dohot dalan ni Tuhan i laho manjou hita,  marhite angka dongan, marhite Parhalado, marhite angka na masa dohot lan na asing.  Alai jotjot do hita marsidalian. 

Isarana:  
Ditingki mamillit Parhalado manang sintua di gereja, sai adong do alasan: Pa Poso hu dope amang.  Hape molo dung marumur,  dibaen ma sidalianna, Dang huida be surat amang.  Na deba mandok, na asing Majo amang. 

Napatoluhon: 
Unang manguhumi. 
Siala di ida Angka Parise didapothon Tuhan Jesus angka Pardosa dohot sijalobeo, gabe diuhumi  angka Parise i ma Tuhan Jesus, ala ni parsaoran ni Tuhan Jesus dohot angka pardosa suangasongoni Nang sijalobeo. Sifat manang pangalaho ni angka Parise on, boi do tardapot nang di hita. Ima angka pangalaho na sai olo manguhumi dongan jolma.

Napaopathon:
Alani di alusi Tuhan Jesus ma nasida: "Apala ringkot di angka na hisar pandaoni, di angka na marsahit do!".

Buku Ende No. 174. Didok : Pardosa ho didok roham
Na so tama be dohot?
Ndang pola ala ni dosam
Umbaen na sundat bongot
Ai nunga sae do dosami
Digarar Tuhan Jesus i.. 
......... 
Sasintongna, Dangadong jolma na ias sian dosa. Jala sude hita na di Gereja on,  jolma na gok dosa do hita, ai ganup Ari ganup tingki do Hita madabu tu bagasan dosa. Angka jolma naso olo marminggu, jolma na so Kristen  pe, sude do pardosa Godang.
Holan on, adong do Hasurunganta, OLO HITA Mmangakkui dirinta jolma pardosa, jala manongtong Hita mangihuthon Tuhan i naung manesa dosanta. 

Alani i, Marhite Jamita di Minggu sadarion,  Dipangkulingi do hita, mandok:  "Ihuthon ma ahu". 

Dosam, latar belakang, Pergumulan ni ngolum, manang aha pe i, Dang pangambati  Jou jou ni Tuhan i di ngolum. 
Sialani, pelehon ma dirimu tu Debata, asa Sintong pangihuthonon mu di JESUS Kristus Tuhan i .

Amen.

Jumat, 05 Juni 2026

Kedaulatan Anugerah Allah Melampaui Batas-Batas Duniawi - Kisah para Rasul 7:1-8

Shalom.....
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 7:2
Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,
Kisah Para Rasul 7:4
Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran. Dan setelah ayahnya meninggal, Allah menyuruh dia pindah dari situ ke tanah ini, tempat kamu diam sekarang;
Kisah Para Rasul 7:5
dan di situ Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan setapak tanahpun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu kepadanya menjadi kepunyaannya dan kepunyaan keturunannya, walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak.
Kisah Para Rasul 7:6
Beginilah firman Allah, yaitu bahwa keturunannya akan menjadi pendatang di negeri asing dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya.

Saudara saudari, Ketika Stefanus berdiri di hadapan Mahkamah Agama, ia tidak sedang membela dirinya agar selamat dari hukuman mati. Sebaliknya, ia memakai kesempatan itu untuk mengarahkan mata para pendengarnya kepada sejarah keselamatan yang dikerjakan oleh Allah. Para imam dan orang Yahudi saat itu sangat mengagungkan Bait Allah dan tanah Kanaan sebagai jaminan mutlak kehadiran Tuhan. Mereka berpikir bahwa Allah terikat pada institusi, ritual, dan lokasi geografis tertentu.

Oleh sebab itu, dengan penuh keberanian, melalui khotbahnya di ayat 1-8, Stefanus mematahkan kesombongan religius tersebut.
Dalam Pandangan Lutheran selalu ditekankan kepada kita bahwa Allah tidak bisa DIKOTAKKAN atau ditentukan oleh usaha, bangunan, atau kesalehan manusia. Allah adalah Allah yang merdeka, yang bertindak murni karena anugerah-Nya (Sola Gratia).

Dan setelah itu, Stefanus memulai dengan kisah Abraham. Beginilah kalimatnya: "Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran." Ketika Abraham menuruti perintah Allah, apa yang ia dapatkan secara fisik? 
Dalam bacaan kita hari ini, di Ayat 5 dengan tegas mencatat: "Meskipun Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya di situ, bahkan setapak tanah pun tidak..." Namun bukan berarti Allah tidak memelihara atau bukan berarti Abrahan tidak memiliki apa apa.

Memang secara kasat mata manusia, Abraham adalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa. Namun, ketahuilah bahwa Allah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari real estat, Janji-Nya. Allah berjanji bahwa tanah itu akan menjadi kepunyaan keturunannya, meskipun pada saat itu Abraham belum memiliki anak.

Melalui khotbah ini, kita kembali diarahkan kepada Theologia Crucis (Teologi Salib). Allah sering kali menyembunyikan atau menyatakan kuasa dan berkat-Nya di balik kelemahan, ketidakpastian, dan penderitaan duniawi. Dan bagi mata dunia, Abraham tampak malang dan tidak punya masa depan. Namun, bagi mata Iman, Abraham adalah pemilik segalanya karena ia memegang Firman Allah. 

Sebagai umat lutheran, kita diajarkan bahwa kita tidak bersandar pada apa yang kelihatan (kemakmuran, kenyamanan), melainkan hanya kepada janji Yesus Kristus yang tidak pernah gagal.

Sungguh, Allah tidak menjanjikan bahwa jalan keturunan Abraham akan selalu mulus. Bahkan lewat FirmaNya di ayat 6, Allah berfirman bahwa keturunannya akan menjadi pendatang, diperbudak, dan dianiaya selama 400 tahun. Namun, lihatlah penderitaan itu tidak dapat membatalkan rencana Allah. Allah memberikan "perjanjian sunat" sebagai tanda lahiriah dari janji batiniah tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan janji sunat itu ?.
Di dalam sakramen, kita melihat bagaimana Allah mengikatkan diri-Nya pada materi yang kelihatan untuk menguatkan iman kita. Jika Abraham menerima sunat sebagai tanda perjanjian, maka saat ini kita telah menerima Baptisan Kudus. Lewat air Baptisan Kudus, Allah memeteraikan kita sebagai anak-anak-Nya.

Dalam perjalanan kehidupan kita, sadarilah bahwa penindasan di Mesir maupun tantangan hidup kita saat ini tidak dapat menghapus meterai anugerah Allah yang diberikan lewat baptisan kepada kita. Penderitaan itu justru hanya akan menjadi jalan memurnikan gereja untuk tidak menaruh harapannya pada dunia, ataupun kekuatan manusia melainkan hanya pada pembebasan yang sejati dari Allah.

Oleh karena itu, marilah Jangan bersandar pada rasa aman palsu. Sebab, Kedekatan kita dengan Allah tidak ditentukan oleh kemegahan lahiriah, melainkan oleh respons iman kita terhadap Firman-Nya. Dan, marilah hiduplah dari Janji dan di dalam janji Allah. Ketika hidup kita terasa asing, kering, atau penuh penderitaan seperti Abraham yang tidak memiliki "setapak tanah pun", ingatlah bahwa kita memiliki Kristus. Kristus adalah realitas dari seluruh janji Allah kepada Abraham. Karena itu, percaya bahwa Anugerah Allah tidak terbatas. Allah yang memanggil Abraham di tanah kafir Mesopotamia adalah Allah yang sama yang hadir di dalam palungan, di atas kayu salib, dan di dalam relung-relung penderitaan hidup Anda saat ini, bahkan dialah juga yang sedang kita nanti, yang akan datang kembali untuk mengakhiri dunia dan memberikan kita janji kekekalan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Kamis, 04 Juni 2026

Allah Itu Kasih dan Adil - Acara Ibadah Pemuda pemudi Lutheran minggu Trinitatis

 

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

06 Juni 2026

 

1.      Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang)

1. Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
Bagai bunga t'rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita, kebimbangan, t'lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b'ri sinarMu menyerap.

2. Kau memb'ri, Kau mengampuni, kau limpahkan rahmatMu
Sumber air hidup ria, lautan kasih dan restu.
Yang mau hidup dalam kasih Kau jadikan milikMu
Agar kami menyayangi, meneladan kasihMu.

3. Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinarMu.
Para malak, tata surya naikkan puji bagiMu
Padang, hutan dan samud'ra, bukit, gunung dan lembah,
Margasatwa bergembira 'ngajak kami pun serta.

 

2.      Doa Pembuka.

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

 

3.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 640 : 1 – 3 (Jika jiwa ku Berdoa)

o  Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t'rima
saja pemberian tanganMu dan mengaku, s'perti Yesus
di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

o  Apa juga yang Kautimbang baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya, walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah.

o  Aku cari penghiburan hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja perlindungan hidupku.
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah.

 

 

4.      Renungan Firman (Pendalaman Alkitab)

Ayat Renungan : Hosea 5 : 15 – 6 : 6

Thema               : Allah itu kasih dan setia                  

Tujuan               : Supaya Anak Remaja, atau para pemuda/i mengetahui bahwa Allah itu Kasih dan

                             setia.

             Hafalan             : Hosea 5 : 6a

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 33 : 1 – 3 (SUARAMU KU DENGAR)

1. SuaraMu kudengar memanggil diriku,
supaya 'ku di Golgota di basuh darahMu!

        Reff:  Aku datanglah, Tuhan, padaMu;
               Dalam darahMu kudus sucikan diriku.

2. Kendati 'ku lemah, tenaga Kauberi;
Kauhapus aib dosaku, hidupku pun bersih

        Reff:

3. Kaupanggil diriku, supaya kukenal iman,
harapan yang teguh dan kasihMu kekal.

        Reff:

 

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami

7.      Latihan Koor

 

 


Memberitakan Injil Kristus dengan benar dan berani meskipun harus di BENCI - Kis.6:8-14

Shalom...

Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 6:8
Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.
Kisah Para Rasul 6:9
Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini--anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria--bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus,
Kisah Para Rasul 6:10
tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.
Kisah Para Rasul 6:15
Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.

Saudara saudari, dalam bacaan kita di perikop hari ini dapat kita lihat bahwa kisah ini menunjukkan 2 bentuk Sikap atau bentuk hidup manusia.
1. Stefanus, adalah orang yang penuh iman dan Roh Kudus
2. Orang Yahudi adalah orang uang penuh dengan kebohongan dan dengki. Orang  Yahudi ini disebut sebagai Libertini, nama lain dari "orang uang merdeka." Tetapi sebenarnya mereka bukanlah orang merdeka, karena justru merekalah orang yang dibelenggu oleh dosa kebencian. Sebaliknya, Stefanus adalah orang yang merdeka untuk menyatakan kebenaran dan tidak hidup dalam kebencian.
 
Saudara saudari, Stefanus pada awalnya dipilih bukan untuk menjadi pengkhotbah besar, melainkan sebagai pelayan meja (diakonia) bagi para janda. 
Namun jikalau kita tinju dalam ajaran teologi Lutheran dijelaskan bahwa Roh Kudus tidak membatasi kuasa-Nya pada jabatan spiritual tertentu, sebab dalam ayat 8 dikatakan "penuh dengan kasih karunia (grace) dan kuasa".

Sebagai pelayan yang di panggil Allah lewat para Rasul. Stefanus bergerak bukan dengan kehebatan moralnya, melainkan karena ia dibenarkan oleh iman kepada Kristus. Dan inilah rahasia iman Kristen "di mana ada kasih karunia yang murni, di situ kedagingan dunia akan memberontak".
Dengan dorongan Roh Kudus Stefanus membuat runtuh kesombongan para ahli agama, dan karena para ahli agama kalah berdebat, mereka memakai senjata tertua iblis dengn fitnah dan manipulasi hukum, namun Iblis tetap tidak berkuasa atas Stefanus.

Apakah yang membuat orang Yahudi membenci Stefanus??.
Kebencian itu lahir karena Stefanus mengkhotbahkan  Kristus yang adalah akhir dari tuntutan Hukum Taurat sebagai jalan keselamatan. Dan bagi orang Yahudi saat itu, mereka mengajarkan dan percaya bahwa keselamatan bersumber dari dua hal, yaitu : 
1. Bait Suci, sebagai tempat di mana manusia harus mempersembahkan korban binatang demi menghapus dosa.
2. Hukum Adat Istiadat Yahudi, yang menekankan sistem perbuatan baik, di mana manusia harus berusaha membenarkan dirinya sendiri di hadapan Allah dengan melakukan Hukum Tuhan secara sempurna.
Dengan demikian, Ketika Stefanus datang membawa Injil, dan ia menyatakan bahwa Bait Suci yang sejati adalah Tubuh Yesus Kristus yang telah runtuh di salib dan bangkit dalam tiga hari. Dan segala persembahan tidak lagi harus berupa darah domba di mezbah, melainkan Darah Anak Domba Allah (Yesus Kristus) yang tercurah di salib cukup sempurna untuk selamanya, Injil itu membuat hati para Yahudi tidak tenang sebab bertentangan dengan ajaran mereka, membuat mereka semakin jahat dengan mengatakan bahwa Stefanus telah mengajarkan yang tidak benar, bahkan menyatakan bahwa kedatangan Yesus untuk menghancurkan adat istiadat Yahudi.

Tahukah anda, bahwa sesungguhnya dunia membenci Injil diberitakan ?. Apakah yang membuat kebencian lahir di atas pemberitaan Injil ?.
Memang harus kita sadari dan percaya bahwa pemberitaan akan Injil dengn benar akan merubuhkan kesombongan manusia. Dan mengharuskan manusia untuk mengakui bahwa tidak ada ritual, tidak ada perbuatan baik, dan tidak ada tradisi yang bisa menyelamatkan kita selain oleh Iman kepada Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit.

Lewat firman ini, marilah kita tetap memberitakan Injil dengan benar dan berani meskipun harus dibenci dan di tolak. Dan hendaklah dalam pemberitaan Injil kita juga meneladani Stefanus, sebab Stefanus tidak lagi memandang keadilannya sendiri dalam pemberitaan Injil, sebab Ia memandang kepada Kristus sumber keadilannya yang sejati. 
Dalam teologi lutheran, kita di ajarkan bahwa teologi salib (theology of the cross), mengatakan bahwa penderitaan fisik bukanlah tanda kutukan Allah, melainkan tanda bahwa kita sedang mengenakan rupa Kristus di dunia.

Marilah tetap memberitakan Injil dengan penuh hikmat dan kuasa dari Roh Kudus, dan ketika kita harus dibenci oleh pemberitaan ini, janganlah menyerah, ingatlah bahwa Allah akan selalu menyertai seluruh hambaNya. Seperti kisah dalam perikop ini tidak sedikitpun Allah memberikan kesempatan bagi Iblis, justru dalam kejahatan dunia akan pemberitaan Injil itu, wajah Stefanus bersinar bagaikan seperti malaikat, sesungguhnya Allah sedang memberikan kesaksian visual kepada para penuduhnya (Yahudi) bahwa Stefanus adalah utusan resmi-Nya. Wajah yang bercahaya ini menjadi bukti konkret bahwa Stefanus dipenuhi oleh Roh Kudus, bukan roh penyesat.
tetap setia dalam pemberitaan Injil, baik lewat etika kehidupan ataupun pemberitaan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Rabu, 03 Juni 2026

Indahnya pelayanan jikalau dipenuhi Anugerah Allah - Kisah para rasul 6:1-7

Shalommm....

Firman Allah untuk kita :
Kisah Para Rasul 6:1
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
Kisah Para Rasul 6:3
Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
Kisah Para Rasul 6:4
dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
Kisah Para Rasul 6:5
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
Kisah Para Rasul 6:6
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Kisah Para Rasul 6:7
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Saudara saudari, dalam kehidupan ini seringkali kita memiliki ilusi atau bayangan yang keliru tentang "Gereja yang ideal." Terkadang kita berpikir bahwa Gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul adalah komunitas yang tanpa cela, sebab selalu harmonis, dan suci secara sempurna. Namun, lewat firman hari ini kita kembali dibawa kepada realitas yang jujur.

Di tengah pertumbuhan yang pesat, muncul banyak gesekan sosial antara orang Yahudi yang berbahasa Yunani (Helenis) dengan orang Yahudi berbahasa Ibrani. Dan jikalau kita mempelajari latar belakangnya, sesungguhnya permasalahan itu terjadi hanya karena diskriminasi atau kelalaian dalam pembagian bantuan makanan sehari-hari bagi para janda.

Lewat masalah ini, kita di ingatkan kembali bahwa Martin Luther pernah merumuskan identitas orang percaya dengan menyatakan "Simul iustus et peccator" yang artinya kita adalah orang benar (karena iman kepada Kristus), dan sekaligus pada saat yang sama masih orang berdosa. 
Memang dengan masih banyaknya terjadi masalah dan gesekan dalam gereja, kita harus sadar bahwa Gereja bukanlah kumpulan malaikat yang suci secara moralitas pribadi, melainkan rumah sakit bagi orang berdosa yang disembuhkan oleh anugerah-Nya.

Dengan munculnya masalah ini, menyingkapkan kepada kita akan kegagalan manusiawi kita. Ketika ego kelompok, latar belakang budaya, atau bahasa menjadi pembatas, maka kasih kita akan mulai memudar, bahkan ada orang yang terabaikan seperti janda yang terabaikan, dan akan memunculkan sungut-sungut.

Selama di dalam kegagalan ini, jikalau kita tetap memilih untuk mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, bahkan struktur organisasi terbaik sekalipun akan runtuh di bawah beban dosa manusia. Hukum Taurat Tuhan akan selalu mengingatkan kita bahwa kita bahwa kita sangat membutuhkan intervensi dari luar diri kita yaitu pertolongan dari Allah - kita sangat membutuhkan anugerah Allah.

Lewat perikop ini, kita di ajarkan akan penyelesaian masalah dalam lingkungan Gereja. Bagaimanakah para rasul menyelesaikannya ?.
Para murid tidak memarahi jemaat yang bersungut-sungut, melainkan membawa solusi yang penuh hikmat dan kasih. Mereka meminta jemaat untuk memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk "melayani meja" (diakonia), sementara para rasul memusatkan diri hanya pada layanan doa dan pelayanan Firman.

Pemilihan tujuh diaken (termasuk Stefanus dan Filipus) menunjukkan bahwa setiap anggota jemaat memiliki panggilan (vocation / Beruf) dari Allah. Melayani meja, mengurus administrasi gereja, memasak, mengajar sekolah minggu, atau berkhotbah di mimbar memiliki nilai yang sama mulianya di hadapan Allah jika dilakukan dalam iman.
Dan Para rasul mengkhususkan diri untuk pemberitaanFirman dan Doa bukan karena mereka "lebih suci", melainkan demi efektivitas jemaat agar Firman Tuhan tidak dikesampingkan. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing dalam tubuh Kristus.

Lewat firman ini, marilah kita juga merenungkan keadaan gereja kita saat ini.
Sebab gereja kita hari ini, juga tidak luput dari masalah, perbedaan pendapat, atau keterbatasan. 
Namun marilah kita mengingat, bahwa Kepala Gereja kita adalah Yesus Kristus. Di tengah kegagalan kita sekalipun, Kristus akan terus hadir untuk mengampuni kita, memulihkan hubungan kita, dan memakai tangan serta kaki kita untuk segala hal yang baik melalui pelayanan Firman maupun pelayanan diakonia untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia.

Demikianlah Firman Allah, Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua .. Amin.

theologi Lutheran

Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah - Kisah para rasul 8:22-25

Shalom. "Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah" Kisah para rasul 8:22-25 Firman Allah untuk kita. Ki...

what about theologi luther ?