Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026
Evangelium:
Matius 10 : 34 - 42
Thema
: Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita
Saudara saudari, salah satu warisan teologi
Lutheran yang paling berharga bagi kita adalah keberanian untuk melihat
realitas salib. Dalam tulisannya Martin Luther sering mengingatkan kita tentang
Theologia Crucis "Teologi Salib". Teologi ini mengajarkan bahwa Allah
justru menyatakan diri-Nya di dalam penderitaan, penolakan, dan hal-hal yang
tidak menyenangkan bagi daging kita. Dan dalam teks Matius 10 : 34 - 42 adalah
contoh mutlak dari Teologi Salib ini. Di sini kita diperhadapkan dengan
tuntutan Hukum Taurat yang sangat keras dan radikal. Yesus menuntut kesetiaan
secara total yang melebihi relasi kita dengan orang tua, anak, atau pasangan
hidup. Firman ini datang bukan untuk menghibur ego kita, melainkan untuk
menghancurkan berhala-berhala terselubung di dalam hati kita. Marilah kita
membuka hati kita, membiarkan pedang Firman-Nya memurnikan iman kita, sehingga
kita tidak lagi mengandalkan kenyamanan duniawi, melainkan hanya bersandar pada
kasih karunia Kristus semata, oleh karena itu lewat Khotbah hari Allah berkata
kepada kita dengan Thema : "Hendaklah Tuhan yang lebih
utama di tengah kehidupan kita"
1. Meskipun kita harus Kehilangan Status demi duniawi.
"Bapak, Ibu, jika standar 'mengutamakan Tuhan' diukur dari
kesempurnaan kita melakukan ayat-ayat ini, maka kesimpulannya jelas: Tidak ada
satu pun dari kita yang layak di hadapan Tuhan. Sebab, kita semua telah gagal
mengutamakan Dia. Dalam kehidupan yang nyata, kita telah menjadikan kenyamanan
hidup, keluarga, dan status sosial kita sebagai allah yang lebih utama."
Tentu dengan membaca dan merenungkan Injil yang telah kita baca tadi, akan
sangat terasa mengejutkan dan menghentak telinga kita. Sebab, Yesus yang kita
kenal sebagai Raja Damai, tiba-tiba berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku
datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai,
melainkan pedang.” (ay. 34).
Apakah
maksudnya Yesus sang Mesias datang membawa pedang dan menjadi pemisahan di
dalam keluarga?. Firman ini sesungguhnya mematikan ilusi kita tentang
kekristenan yang selalu berpikir nyaman, aman, dan tanpa konflik. Lewat Injil
ini Yesus sedang menelanjangi kedamaian palsu yang ditawarkan dunia agar kita
melihat kedamaian sejati yang berakar pada kebenaran Allah. Pedang yang dibawa
oleh Yesus bukanlah senjata fisik untuk melukai, atau menghabiskan nyawa kita,
melainkan pedang Firman yang memisahkan kebenaran dari ketidakbenaran,
memisahkan antara yang gelap dengan yang terang. Ketika kita memilih untuk
setia kepada Kristus, maka sesungguhnya nilai-nilai hidup kita tentu akan
bertabrakan dengan seluruh prinsip dunia atau kenyamanan dunia. Dan yang paling
nyatanya, penolakan atau tantangan yang paling umum bahkan menyakitkan justru
sering kali datang dari orang-orang terdekat kita sendiri, seisi rumah kita
sekeliling seperti penolakan yang terjadi kepada Yesus.
Lewat
Baptisan Kudus, Allah mengadopsi kita menjadi anak anakNya sebagai umat
tebusanNya, yang artinya Tuhan Yesus yang memanggil kita bukanlah untuk menjadi
serupa dengan dunia atau hidup di dalam kedamaian palsu yang penuh kompromi
dengan dosa. Dia memanggil kita untuk masuk ke dalam peperangan rohani yang
nyata, yang diperlengkapi dan bersenjatakan dengan pedang Firman-Nya. Kita
dituntut untuk hidup dalam penyerahan total kepada Yesus, dengan memotong
keterikatan berhala kita terhadap keluarga dan diri sendiri. Yesus berkata,
“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak
bagi-Ku” (ay. 37). Yesus tidak menyuruh kita membenci keluarga. Namun, agar
tidak menjadikan kenyamanan keluarga atau tuntutan dunia lebih utama daripada
Iman. Yesus menuntut penyerahan total: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan
mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (ay. 38). Di hadapan tuntutan Hukum
Taurat, kita semua adalah orang yang gagal, karena kita lebih sering mencari
aman, takut ditolak keluarga, dan menolak memikul salib dan itu membuat kita
tidak layak.
Apakah
Tuhan membiarkan kita hidup mati dalam kegagalan ini ?. Sesungguhnya Tidak.
Lewat Injil hari ini kita di bawa dari Hukum Taurat menuju Injil (The Gospel).
Dan bagaimanakah Allah menolong kita ?. Pertama tama Kristus Memikul Salib Kita,
Sebelum Yesus meminta kita memikul salib, Dia terlebih dahulu memikul salib
yang sesungguhnya di Golgota. Salib yang memikul seluruh dosa, ketakutan, dan
kegagalan kita untuk setia kepadaNya. Pertolongan terbesar Allah terjadi di
salib Golgota. Pedang keadilan Allah yang seharusnya menghukum kita karena dosa
dan kegagalan kita, telah ditimpakan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Di atas
salib, Kristus mengalami "pemisahan" yang paling mengerikan, Ia
ditinggalkan oleh Bapa-Nya, agar kita tidak pernah lagi terpisah dari Allah.
Pedang yang mengancam hidup kita telah dipatahkan oleh tubuh-Nya yang terluka.
Dan hingga saat ini, pedang itu sesungguhnya tetap bekerja baik melalui hukum
hukumnya, sebab dengan pedang itu Kristus memotong ego, kesombongan, dan keterikatan
berhala kita pada dunia. Sungguh, Allahlah yang menolong kita dengan cara
membiarkan pedang itu membunuh "manusia lama" kita yang berdosa, lalu
membangkitkan "manusia baru" yang hidup oleh kasih karunia. Oleh
karena itu, jangan lagi kita mengikatkan rasa aman kita pada penerimaan
keluarga, harta, atau status duniawi, sebab pedang penolakan dunia tidak lagi
memiliki kuasa untuk menghancurkan jiwa kita.
2. Sebab Allah telah memberikan kita hadiah, dengan melayakkan kita
ddihadapanNya.
Saudara saudari, kita dibenarkan dan Disatukan dihadapan Allah adalah karena
Kasih Karunia" (Justified and United by Grace). Dalam tradisi Lutheran,
diajarkan kepada kita bahwa Injil bukanlah tuntutan moral, melainkan
pemberitahuan tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Meskipun
dihadapan Allah kita dipandang gagal dalam memikul salib kita dengan sempurna.
Namun, Kristus telah memikul salib hukuman dosa kita di Golgota, sehingga salib
yang kita pikul hari ini bukanlah lagi kutukan, melainkan tanda kemerdekaan,
dan pemurnian Iman yang benar kepada Kristus.
Meskipun
jikalau jalan terakhirnya kita harus Kehilangan nyawa/ego karena Kristus itu
artinya kita telah menemukan hidup yang sejati, tetapi bukan Berti juga kita
menuntun diri kepada penderitaan yang tidak bermanfaat. Marilah kita renungkan
dan ingat ini, ketika kita menerima Baptisan, baik saat bayi ataupun setelah
dewasa, sesungguhnya manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus di
kayu salib dan kita diberikan identitas baru oleh kebangkitanNya yang tidak
bisa dihancurkan oleh penolakan dunia.
Apakah
kamu akan meninggalkan Allah juga hanya masalah kecil atau masalah kedagingan
yang membuat kita terasing atau ditolak ?. Saudara saudari, Jika kita jujur
melihat diri kita sendiri (dari sudut pandang Hukum Taurat), di dalam kekuatan
kita sendiri, kita sangat mungkin akan meninggalkan iman ketika menghadapi
penderitaan, sebab daging lemah. Namun, Injil hari ini memberikan pengharapan
bahwa kita tetap dapat berada dalam kesetiaan bukan karena hebatnya iman kita,
melainkan karena setianya Allah yang memegang kita tiap tiap saat. Dan mari
kita juga merenungkan kembali, akan pengakuan Iman kita. Martin Luther dalam
Penjelasan Pengakuan Iman Rasuli di katekhismus Kecil menuliskan seperti ini :
"Aku percaya bahwa dengan kekuatanku atau imanku sendiri, aku tidak dapat
percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepada-Nya; tetapi Roh Kudus
telah memanggil aku melalui Injil..." Percayalah bahwa Allah yang
Mempertahankan Iman bagi kita, setiap Kesetiaan yang diperbuat oleh orang
Kristen di tengah penderitaan adalah buah dari pekerjaan Allah, bukan hasil
usaha manusia. Lewat Injil, roh Kudus akan selalu menopang dan memberi kekuatan
saat kita dianiaya bahkan saat ditolak.
Bahkan
sama seperti yang dialami oleh Petrus, dimana Yesus berkata kepada Petrus
sebelum ia jatuh, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu
jangan gugur" (Lukas 22:32), artinya Yesus yang sama yang memelihara dan
menolong kita hingga saat ini akan terus bersyafaat bagi kita di sebelah kanan
Allah Bapa, sebagai bentuk pemeliharaanNya untuk kita. Bahkan Allah telah
berjanji, bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita
dan akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13). Tidak ada yang dapat
memisahkan kita dari kasih Kristus, sama seperti yang dituliskan paulus dalam
Roma 8:35, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?
Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan,
atau bahaya, atau pedang?" Jawabannya adalah tidak ada.
Oleh
karena itu, jangan biarkan keinginan daging menghancurkan hubungan kita dengan
Allah, mari arahkan pandangan kepada Yesus yang sudah setia sampai mati bagi
kita. Kasih karunia Allah di dalam Kristus adalah kekal. Dan tangan Allah yang
menggenggam kita sungguh jauh lebih kuat daripada pencobaan apa pun yang ada di
dunia ini. Yesus berkata Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir
zaman." (Matius 28:20). Tetaplah setia datang ke hadirat-Nya, mendengarkan
Injil-Nya yang menghibur dan menguatkan hati kita yang terluka. Datanglah
dengan setia ke altar-Nya lewat ibadah Minggu kita. Sebab di sana Yesus hadir
secara nyata lewat tubuh dan darah Kristus diberikan untuk mengampuni dosa
dosamu, memperbarui iman mu, dan memberi kekuatan spiritual untuk menghadapi
hari esok. Dan terakhir, saya mau menyampaikan kembali pernyataan Martin Luther
yang mengatakan "Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung-gunung runtuh
ke dalam laut, Kristus, Tuhan kita, tetap bertakhta selama-lamanya. Di dalam
Dia, kita aman." Tetaplah Kristus yang utama dalam hidup.
Kiranya
kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua.
Amin
pdt.a situmorang