Sabtu, 30 Mei 2026

Khotbah Minggi Trinitatis - Matius 28:16-20 - Diutus dalam Kuasa Firman, Baptisan, dan Penyertaan Kristus

Evangelium Minggu TRINITATIS GKLI
Matius 28:16-20
Saudara saudari, hari ini kita telah masuk ke Minggu Trinitatis, apakah Minggu Trinitatis itu ?.
Minggu Trinitatis (Minggu Raya Tritunggal Mahakudus) adalah hari raya dalam kalender liturgi Kristen untuk merayakan doktrin Tritunggal Allah, yaitu satu Allah dalam tiga Pribadi: Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Minggu trinitatis ini sangat panjang, dan sesuai kalender gerejawi GKLI atau dalam tradisi liturgi Lutheran, Minggu Trinitatis akan dimulai setelah hari Raya Pentakosta dan akan berakhir sebelum minggu akhir tahun Gerejawi. 

Dalam evangelium kita Minggu ini, Matius 28:16-20 adalah khotbah yang berfokus pada pengajaran akan Anugerah (Sola Gratia), sebab anugerah tersebut diberikan lewat Sakramen Baptisan yang objektif, serta Kristosentrisme di mana Kristus yang bangkit memegang kendali penuh di tengah keraguan manusia. Dalam kehidupan nyata kita, sering kita gagal dalam memahami khotbah ini, bahkan bagi umat kristen dan bagi para pengkhotbah kegagalan dan keraguan dalam tugas yang diberikan oleh Yesus ini sering membuat kita gagal dan diselimuti oleh keragunraguan. Oleh sebab itu khotbah kita pada Minggu ini berseru kepada kita dengan Thema yang mengatakan :
Diutus dalam Kuasa Firman, Baptisan, dan Penyertaan Kristus

1. Datang dengan keadaan ragu tetapi kita diterima dengan Anugerah
Dalam khotbah kita hari ini di ayat 17, Ketika para murid melihat Yesus yang bangkit di Galilea, dikatakan bahwa : "Mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu." 
Apakah yang membuat mereka ragu ??.
Beberapa hal yang membuat para murid datang kepada Yesus namun tetap ragu-ragu dapat dipahami dari dua sudut pandang, yaitu kondisi kemanusiaan mereka (teologis) dan situasi pasca-kebangkitan (kontekstual), dalam keadaan kita berdosa maka sesungguhnya secara manusia kita berada dalam Keterbatasan dan Kelemahan Kodrat Manusia (Sola Gratia). Secara logika, sebelum Yesus terangkat ke sorga sesungguhnya Yesus telah bersama para murid selama 40, Yesus benar benar menampakkan diri dan mengajar ke atas mereka, apakah Iman itu tidak bekerja memelihara atau menguatkan mereka sehingga seharusnya tidak ragu lagi ?.
Dalam pengajaran Lutheran di buku konkord kita, kita di ajarkan bahwa Iman Bukanlah Usaha Manusia, yang artinya meskipun para murid sudah memiliki Iman, namun ketika keraguan itu menghampiri mereka itu terjadi karena iman yang teguh bukanlah sesuatu yang bisa diproduksi oleh kemauan atau kekuatan rasio manusia itu sendiri. Dan disamping itu juga, keraguan dapat terjadi oleh karena dosa kita, sebab dosa membuat kita tidak sempurna. Yang artinya sekalipun mereka sudah menjadi murid Yesus dan telah melihat banyak mukjizat, namun kedagingan manusia mereka tetap membawa kelemahan, ketakutan, dan ketidakpastian. Dan di lain sisi, secara mental mungkin para murid ragu karna mental yang down sebab mereka juga ikut menyaksikan Yesus ditangkap, disiksa, dan mati secara tragis di salib dan kematian tragis itu sempat menghancurkan harapan mereka. Artinya hal hal inilah yang membuat para murid berada dalam keraguan raguan ataupun takut, terlebih ketika datang kepada Yesus.

Saudara saudari, ditengah keadaan para murid yang ragu, justru disitulah Yesus memberikan anugerah kepada para murid. Yesus tidak mengusir mereka yang ragu-ragu. Ia tidak menuntut iman yang kuat bahkan kekuatan manusia mereka sendiri. Sebaliknya, Yesus justru mendekat dan menguatkan mereka dengan mengatakan "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" (ayat 18). Hal yang sama ini juga sesungguhnya datang dan dilakukan oleh Yesus bagi kita, meskipun ia tidak datang dengan wujud kemanusiaanNya, tetapi ketika kita lemah dan ragu, sesungguhnya Yesus Kristus yang mengambil inisiatif untuk mendekati kita melalui Firman dan Sakramen-Nya (means of Grace).

Lewat evangelium ini, saya juga ingin bertanya kepada kita semua, berapa banyakkah dari antara kita yang hari ini duduk di bangku gereja, menyanyikan lagu pujian, ikut berdoa (menyembah), tetapi di dalam hati kita dipenuhi ole kecemasan tentang hari esok, masalah keluarga, atau masa depan yang buram (ragu-ragu)?
Saudara-saudari, percayalah bahwa anda tidak sendirian, sebab Para rasul pun mengalami hal yang persis sama dengan kita. Dan Injil hari ini menguatkan kita bahwa ketika para murid ragu, Yesus tidak mundur. (18) Justru Yesus mendekat dan mengatakan bahwa segala kuasa bumi dan sorga ada pada Dia, Yesus telah membuktikanNys lewat Kebangkitan-Nya dari kematian yang menjadi bukti kuat bagi kita bahwa Yesus berkuasa atas segala ketakutan dan mari jangan mau dikuasai oleh keraguan kita.

2. Hiduplah di dalam Otoritas Kristus, Bukan Otoritas Kita
Dalam bacaan kita evangelium Minggu ini dapat kita lihat bahwa Yesus memulai menguatkan mereka (murid) dengan berkata "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (ayat 18) Yang artinya sebelum ada perintah untuk "pergi" atau pengurusan Yesus, Yesus lebih dahulu memberitahukan kepada murid tentang KuasaNya akan siapakah Yesus. Ini adalah juga kabar baik (Gospel) bagi kita sebelum diperintah (Law). Agar kita juga tahu bahwa kita diutus ke dalam dunia bukan berdasarkan kekuatan, karisma, atau kepintaran kita sendiri. Gereja kita GKLI bergerak atau ber Missi oleh karena didasari otoritas Kristus yang telah mengalahkan dosa, maut, dan iblis melalui salib dan kebangkitan-Nya. Jadi baik di dalam dan di luar Gereja, sekarang tugas kita hanyalah menjadi saluran dari kuasa-Nya yang menyelamatkan.
Misi utama yang Yesus berikan adalah "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Bagaimana cara gereja memuridkan dunia menurut perintah Yesus? Tentu hanya dengan melalui dua Means of Grace (Sarana Anugerah) yang sangat dijunjung tinggi dalam teologi Lutheran.
Lewat Injil kita hari ini, Yesus berkata "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." (Ayat 19). Baptisan kudus bagi orang Lutheran bukanlah sekadar simbol komitmen luar atau perayaan manusia. Baptisan adalah tindakan Allah sendiri!. Di dalam air dan Firman Baptisan, Allah Tritunggal bekerja mencurahkan Roh Kudus, mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya, dan menyatukan kita dengan kematian serta kebangkitan Kristus. Melalui baptisan, status kita diubah dari musuh Allah menjadi ahli waris kerajaan-Nya. 
Dan setelah menyatakan baptisan, Yesus juga memerintahkan agar para murid mengajar "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Ayat 20a). Gereja Lutheran adalah gereja Firman (Sola Scriptura). Pemuridan tidak terjadi melalui manipulasi emosi, melainkan hanya melalui pengajaran doktrin yang murni. Kita mengajarkan Hukum Allah untuk menyatakan dosa manusia, dan kita memberitakan Injil (Kabar Baik) untuk menyatakan pengampunan di dalam salib Kristus. 
Dan lewat perintah Yesus ini kita kembali di yakinkan dan dikokohkan bahwa otoritas Allah bekerja atas kita yang artinya Allah tidak meninggalkan GerejaNya, Allah tidak meninggalkan orang orang percaya. Sungguh Ia akan menyertai dan memelihara gerejaNya hingga Yesus datang kembali. Ini adalah kepastian dari Yesus, lalu apakah yang kita ragukan dalam pemberitaan FirmanNya, bukan kah tugas kita hanya menyampaikan dan otoritas Yesus sendiri yang bekerja lewat Firman itu ?.
Saudara saudari, seperti yang Yesus katakan, padanya segala kuasa ada baik kuasa di bumi dan di surga. Dalam tugas kita ini di dunia, Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia akan selalu menyertai kita secara nyata. Bagi kita gereja lutheran, kita percaya bahwa janji penyertaan ini akan kita alami secara konkret dalam Firman yang diberitakan dan dalam Sakramen Altar (Perjamuan Kudus) di mana tubuh dan darah-Nya benar-benar hadir bagi kita untuk pengampunan dosa kita.
Oleh karena itu, meskipun kita hidup di di tengah dunia yang berubah, di tengah pelayanan yang berat, dan di dalam ruang-ruang batin kita yang penuh keraguan, janji Allah tidak akan pernah kedaluwarsa. Ia sungguh menyertai kita hari ini, besok, hingga Yesus akan kembali datang.
Dan ingatlah bahwa Amanat Agung Yesus Kristus ini bukanlah beban hukum baru yang membuat kita merasa bersalah jika gagal. Amanat Agung adalah hak istimewa yang lahir dari anugerah, sebab kepastian akan misi dan hidup kekristenan kita tidak bersandar pada kekuatan atau kesempurnaan manusia, melainkan sepenuhnya bersandar pada otoritas, anugerah, dan janji penyertaan Kristus.
Hendaklah kita Jangan takut, marilah memandang kepada Kristus yang sudah menang. Datanglah dengan segala keraguanmu, terimalah anugerah-Nya, dan pergilah menjadi saksi-Nya dengan keyakinan bahwa Ia menyertaimu baik dalam keluarga, dalam lingkungan kita maupun dalam pekerjaan kuta. Marilah menjadi saksi Kristus lewat Iman kita yang berbuah, hidup dalam kepatuhan kepada Tuhan dan taat akan hukum hukmNya.
Lewat evangelium kita hari ini, ingatlah bahwa Yesus berharap agar seluruh kita tidak hanya menikmati keselamatan itu sendirian. Ia berharap gereja bergerak aktif untuk "menjadikan semua bangsa murid-Ku" (ayat 19). Dan ia berharap agar kita menjadi murid menjadi pembelajar yang melekat pada Kristus. Dan dalam hidup setiap hari yesus berharap agar iman kita dapat di lihat dan dinikmati oleh setiap orang tanpa batas suku, budaya, dan bangsa sekalipun.

Amin 🫰🙏.

#Vdma_luther

Jumat, 29 Mei 2026

Seruan Iman di tengah kesesakan - renungan harian Lutheran

Shalom

Firman Allah untuk kita. 
Kisah Para Rasul 4:1
Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki.
Kisah Para Rasul 4:2
Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.
Kisah Para Rasul 4:3
Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam.
Kisah Para Rasul 4:4
Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.
Kisah Para Rasul 4:7
Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?"
Kisah Para Rasul 4:8
Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,
Kisah Para Rasul 4:10
maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.
Kisah Para Rasul 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Saudara saudari, Apa yang menjadi daya dorong bagi seluruh murid termasuk Petrus dan seluruh anak-anak Tuhan untuk memberitakan Injil dengan berani, bahkan harus menghadapi risiko dengan dianiaya?. Sesungguhnya setelah pencurahan Roh Kudus, maka Roh Kuduslah yang menguatkan dan memalukan mereka yang telah di kuasai oleh Roh Kudus (ayat 8).

Dengan dorongan dari Roh kudus, maka Petrus dimampukan menyampaikan dengan tegas kuasa kebangkitan Yesus dan penyembuhan seorang lumpuh. Kuasa yang sama memampukan Petrus untuk berkhotbah bahwa Yesuslah penggenapan PL untuk keselamatan umat manusia. Dan di hadapan Mahkamah Agama yang marah karena pemberitaannya yang dianggap provokatif, Roh Kudus tetap memampukan Petrus (ayat 8).

Tahukah anda, bahkan ketika setiap orang percaya memberitakan Yesus yang telah mati dan bangkit akan membuat dunia berasa dalam kegelisahan ketika mendengar kebenaran itu?. Dalam nas hari ini, kita melihat Petrus dan Yohanes ditangkap bukan karena mereka berbuat kriminal, melainkan karena mereka memberitakan Injil dan menyembuhkan seorang lumpuh dalam nama Yesus. Orang-orang Saduki dan para pemimpin agama sangat marah. Apakah yang membuat mereka marah? Sesungguhnya mereka marah karena ego dan usaha manusiawi mereka yang semakin terancam oleh otoritas Kristus yang telah bangkit. 

Secara manusia, kebenaran itu sulit untuk di percayai tanpa tuntunan kuasa Roh kudus. Manusia selalu ingin membangun keselamatan rohaninya sendiri dengan moralitas, amal, kesalehan, dan kebaikan mandiri. Dan sering berpikir bahwa jika kita hidup cukup baik, maka Allah akan menerima kita.
Kita harus sadar bahwa Hukum Allah yang kudus, membuat manusia runtuh dan tidak berdaya sebab tidak ada seorang pun manusia yang dapat melakukannya dengan sempurna selain Yesus. Dengan menolak Kristus sebagai satu-satunya fondasi berarti mengandalkan diri sendiri, dan itu pasti akan berujung pada maut. Dan justru didalam hal inilah hukum Allah menelanjangi ketidakmampuan kita untuk menyelamatkan diri sendiri. 

Tahukah anda?. Lewat renungan ini saya membawa kabar suka cita untuk kita, di tengah ketidakberdayaan kita dihadapan Allah, justru Injil menyatakan pekerjaan Allah yang ajaib (anugerah). 
Kristus disalibkan, menanggung murka Allah yang seharusnya menimpa kita, namun Dia dibangkitkan dari antara orang mati. Kebangkitan-Nya adalah proklamasi bahwa dosa kita telah lunas dibayar. Keselamatan bukanlah hasil dari jerih payah kita mencari Allah, melainkan Allah yang datang menolong kita melalui pengorbanan Putra-Nya. 

Oleh karena itu, marilah kita berpegang teguh di atas Fondasi yang Benar yaitu Firman Allah, dan hiduplah menjadi saksi Kristus. Sebab jikalau kita benar benar berdiri di atas pondasi yang benar dan yang sungguh kuat maka bagaimana pun goncangan kehidupan kita, dan tantangan zaman boleh yang akan mengancam iman kita. Namun, Yesus sang batu Penjuru yang tidak akan pernah goyah. Maka keselamatan kita telah dipaku dengan aman di atas salib dan dimateraikan dengan kuasa darah Kristus. Marilah tetap hiduplah dalam iman yang benar. 

Amin 🙏

Jamita Partangiangan - Togu ma Rohanta di bagasan Tuhan i - Efesus 6 : 10 – 20

Jamita Partangiangan


Nats : Efesus 6 : 10 – 20


Patujolo : Angka dongan sahaporseaon, adong do hata na mandok “Hidup Ini adalah perjuangan”. Di turpuk jamita di DI TINGKI ON on, sasintongna on do na naeng dohonon ni Debata tu hita bahwa ganup angka na porsea di Tuhan Jesus Kristus, saleleng mangolu di portibi on ingkon do berjuang mangalo saluhut angka ihot ihot ni portibi on, manang na angka pangago na di portibi on ima harajaon ni sibolis. Molo tabereng do angka na masa di Film taringot tu angka parporangan, sude do angka penguasa manang na Raja paborhathon angka pasukanna be marhite angka senjata laho manaluhon angka alona nasida. Alani hita pe sasintongna di paborhat Debata do hita tu portibi on laho manaluhon haholomon i (harajaon ni sibolis) marhite angka senjata na pinarade ni Debata. Alani marhite jamita on di paingot Debata do hita asa :

Thema  : “Togu ma Rohanta di bagasan Tuhan i”


1.      Ai gogo do portibi on na laho pataluhon haporseaon ta

Molo marningot do hita di padan na robi, di tingki na madabu si Adam dohot si hawa tu bagasan dosa dison ma patar di paboa tu saluhut pangisi ni portibi on, bahwa margogo do sibolis mangarajai, mangela-ela angka pingkiran ni saluhut hita jolma, jala on ma namasa sahat tu nuaeng, ido umbahen asa torop hita jala si ganup tingki madabu tu bagasan dosa, siganup ari do saluhut jolma madabu tu bagasan dosa, godang na mangalehon dirina di pangke sibolis gabe mangula angka hajahaton, manghanciti roha, mangaleai, paroa roahon, marlate ni roha nang songoni ginjang ni roha, godang na mangalelei angka parbarita nauli, manundati manang na paporsuk porsuk hon angka na pauli uli bagas joro, jala na paroa roahon manang na palea leahon angka parbarita nauli, angka on ma ulaon ni sibolis di na masa sahat tu tingki on, jala na paling nyata di ngolunta on ima mambahen hita ndang marpos ni roha tu Debata (paholangkon hita sian Debata).

Jala sasintongna ia disi tapajonok dirinta tu Debata laos disi do jongjong sibolis i mangganggu roha nang pingkiranta na mambahen hita gabe hurang marpos ni roha tu Debata. Boi do tarasahon i, saleleng holang hita sian Debata olo do denggan-denggan sajo torus pardalanan ni ngolunta.alai dung tapajonok dirinta tu Debata disi ma olo gok masa angka parungkilan manang na tantangan. Tung mansai gogo do sibolis i sasintongna manggugai roha ni ganup angka na porsea, jala Jesus sandiri pe di unjuni sibolis do, alai ala di Jesus do saluhut huaso na sian Debata, talu do sibolis i dibahen Jesus Kristus. Jala sasintongna hita pe margogo do laho manaluhon huaso ni sibolis, margogo do hita manaluhon saluhut angka hisap hisap ni portibi on asal ma tongtong togu Rohanta  di bagasan Tuhan i songon thema ni jamita ta di borngin on na mandok “Togu ma rohanta dibagasan Tuhan i 

2.      Asa margogo hita manaluhon saluhut angka tahi ni sibolis.

Di na tabereng nuaeng angka namasa di portibi on, sasintongna ingkon do sude hita pajonokhon diri tu Debata, ai Debata sandiri do mandok ndang tarulahon hita saluhut angka na denggan ianggo so marhite hite Debata (Yoh.15:5-6). Mangulahon na denggan pe hita maol do ianggo so marhite hite holong na sian Debata, isarana mengmapuni angka musunta, manghaholongi angka dongan ta, manghaholongi saluhut pangisi ni bagasta lumobi ma manghaholongi Debata di bagasan pos ni roha, sada hal na borat situtu do i ulahononta molo so hot hita di hata ni Debata, lumobi ma muse laho manaluhon saluhut angka dosa manang na mangalo saluhut angka tahi ni sibolis na mambahen hita madabu tu dosa ndang tartaluhon hita i ianggo so marhite huaso dohot gogo na sian Debata. Di turpuk jamita borngin on di ayat 17 didok do asa sude hita manjangkon hata ni Debata ima na gabe tahulukta (Topi) dohot podang ta laho mangalo saluhuta angka tahi ni sibolis i. Jala songon na nidok ni angka na Porsea didok do bahwa “Tangiang do gogo ni angka na porsea” songon na nidok na di ayat 18 ai ingkon tangkas do tahaporseai jala ta antusi bahwa tangiang ido parhitean ta tu Debata laho mangido gogo dohot huaso sian Debata asa margogo hita manaluhon saluhut angka tahi ni sibolis, alani unang losok jala malas hita martangiang alai tongtong ma tagogohon manjouhon goar ni Tuhan Debata.

Alani angka dongan sahaporseaon, molo pe tung gogo sibolis i na sai tongtong manggugai roha nang pingkiranta lumobi ma haporseaonta, jala molo pe tung porsuk sitaononta di portibi on, ta ingot ma gomos bahwa portibi on nungga be talu di bahen huaso ni Debata marhite hite haheheon ni Jesus Kristus sian hamatean i (Yoh.16:33) na marlapatan ma i molo Debata do dongan ta jala tongtong hot rohanta di bagasan panoguion ni Debata, dang adong be alonta (Rom.8:31+39) jala tontong do donganion jala parsahalaion ni Debata hita mangalo saluhut angka tahi ni sibolis i marhite tondi porbadia. Di bahen i tajalo jala tapangke ma angka sinjata haluaon naung ni lehon ni Debata tu hita, asa margogo hita jala boi tataluhon saluhut tahi ni angka sibolis i. Asa di na di lehon Debata dope hosa hangoluaon i dihita tutu ma hita hot di bagasan roha na tigor maradophon Debata.

Di pasu pasu jala di pargogoi Tuhan Debata ma hita saluhutna. Amen.


Kuasa Iman di tengah Ancaman hidup - Kisah para Rasul 4:1-12

Shalom... 
Firman Allah untuk Kita.
Kisah Para Rasul 4:23
Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
Kisah Para Rasul 4:24
Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
Kisah Para Rasul 4:29
Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Kisah Para Rasul 4:30
Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
Kisah Para Rasul 4:31
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Saudara saudari, tahukah anda bahwa memberitakan kebenaran memiliki resiko besar yang harus siap di benci ?.
Pemberitaan akan kebenaran dari zaman dahulu sampai sekarang telah menjadi sumber kebencian bagi para penentang kebenaran. Terlebih pemberitaan tentang kebenaran akan Yesus Kristus.

Dalam khotbah lewat perikop kita hari ini, dapat kita lihat bahwa Petrus dan Yohanes baru saja dilepaskan dari penjara.
Sebab dengan hadirnya jemaat mula-mula pada hari pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) Petrus dan Yohanes ditangkap dan diancam oleh Mahkamah Agama karena pemberitaan tentang Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit dari kematian dan penyembuhan seorang yang lumpuh. Bahkan, meskipun mereka di lepaskan, mereka tetap di larang keras untuk mengajar dalam nama Yesus.

Bahkan jikalaunkita perhatikan pada saat ini, secara garis besar negara Indonesia hingga pada saat ini masih ada daerah daerah tertentu yang melarang perkumpulan orang percaya dan penutupqn rumah rumah ibadah bahkan penganiayaan sekalipun. Lalu pertanyaannya, sekarang kita masih hidup di dunia dan segala penderitaan oleh karena mengikut Yesus Kristus adalah salib bagi kita. Bagaimanakah kita berjuang dalam ancaman dan penderitaan penderitaan ini ??. Apakah kita akan takut di benci atau apakah justru kita tidak akan menyampaikan kebenaran karena takut di benci atau di adingkan oleh orang ?.

Lewat renungan kita hari ini, kita di ingatkan agar tidak fokus pada besarnya ancaman yang datang pada kehidupan kita, melainkan marilah kita pokus kepada kebesaran dan kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta yang dapat mengendalikan sejarah, bahkan memakai salib dan penderitaan untuk mendatangkan keselamatan. 

Dalam hal mengikut Yesus Kristus, sesungguhnya Yesus tidak menyatakan jaminan hidup tanpa penderitaan bagi para pengikutNya dan tidak ada jaminan agar jauh dari gesekan atau tantangan dunia. Melainkan, lewat persekutuan doa dan iman, Allah memberikan kekuatan spiritual untuk menghadapi "badai" tersebut. Oleh karena itu, dengan sadar hendaklah kita Jemaat Tuhan untuk tidak hanya meminta situasi hidup yang nyaman atau bebas dari masalah. Melainkan, marilah kita juga memohon dan meminta keberanian (parrhesia) untuk tetap setia memberitakan Firman Allah, yang murni dikerjakan oleh Roh Kudus. 

Di dalam pandangan teologi Lutheran, iman tidak dapat membebaskan kita dari salib di dunia ini (Theology of the Cross), melainkan lewat Iman kita diberi kekuatan untuk dapat memikul salib itu dengan mata yang tertuju pada Kristus. Keberanian ini bukan hasil usaha atau tekad manusiawi kita, melainkan murni anugerah dan karya Roh Kudus. Ketika kita dapat berjuang dan menang dari penderitaan maka sesungguhnya itu bukanlah semata mata hasil usaha kita, melainkan Roh kuduslah yang berkuasa dan memampukan kita untuk dapat bersaksi dan bertahan hidup dengan kekuatan Roh LEWAT FIRMAN DAN SAKRAMEN Firman dan Sakramen. Dan mintalah agar Roh Kudus membakar hati kita agar kita tidak berkompromi dengan dosa dan ketakutan duniawi.

Oleh karena itu, marilah kita mengubah Kecemasan menjadi Pengakuan Iman, ketika kita sedang menghadapi masalah berat atau tekanan hidup, janganlah fokus pada besarnya masalah tersebut. Tetapi marilah kita meneladani cara hidup jemaat mula-mula yang langsung memuji Allah sebagai Pencipta alam semesta yang memegang kendali atas segala sejarah. Lewat seruan doa kita, marilah kita juga memohon Keberanian dan kekuatan agar jalan hidup kita dipermudah atau musuh kita dilenyapkan. Dan marilah juga dalam setiap hidup kita mengandalkan Kuasa Roh Kudus, Bukan Kekuatan Sendiri. Sebab keberanian Iman bukanlah hasil nekat atau tekad manusiawi kita, melainkan murni anugerah Allah. Ketika kita menyerahkan keterbatasan kita dalam doa, Roh Kudus akan memampukan kita menghadapi tantangan hidup. Hiduplah dengan penuh keberanian dalam menceritakan kebaikan dan kebenaran Injil Yesus Kristus di lingkungan tempat tinggal, keluarga, maupun tempat kerja melalui kuasa Roh Kudus.

Kiranya kasih Setia Allah bapa, anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Jumat, 22 Mei 2026

10 HUKUM TAURAT BERDASARKAN URUTAN GEREJA LUTHERAN

10 HUKUM TUHAN



https://docs.google.com/document/d/1EYC_CpsPJEhvM8IUc7XTG87nJ77F_xJl/edit?usp=drive_link&ouid=104613925996172531154&rtpof=true&sd=true

Kamis, 21 Mei 2026

UBIQUITAS adalah

Ubiquitas (Latin) ubique yang berarti "di mana-mana") hal ini merujuk pada doktrin kemahahadiran sifat kemanusiaan Yesus Kristus, dan Secara khusus, istilah akan doktrin ini mengajarkan kita bahwa setelah kenaikan-Nya ke surga, tubuh dan darah Yesus (sifat manusia-Nya) tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan hadir di mana-mana karena bersatu secara tidak terpisahkan dengan sifat keallahan-Nya (sifat ilahi).

Tokoh Reformasi kita, Martin Luther dan para teolog Lutheran mengajarkan dan menekankan pandangan ini akan kehadiran Yesus setelah kebangkitan untuk mempertahankan tentang Kehadiran Nyata (Real Presence) Kristus dalam Perjamuan Kudus. 

Bahkan dalam pandangan ini, Lutheran juga membedakan cara Kristus hadir di dunia. Doktrin Ubiquitas tidak berarti tubuh Yesus tersebar atau terbagi bagi secara materi di udara seperti molekul (bukan spatial extension).

Istilah ini, atau doktrin Ubiquitas ini tertuang secara resmi dalam dokumen iman Lutheran konvensional, yaitu Formula Kesepakatan (Formula of Concord, 1577) yang menjadi bagian dari Book of Concord.


KRISTUS YANG TELAH NAIK KE SORGA akan setia hadir dalam hidupmu - Kisah para Rasul 1:1-11

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Kisah Para Rasul 1:3
Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.
Kisah Para Rasul 1:4
Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku.
Kisah Para Rasul 1:5
Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."
Kisah Para Rasul 1:6
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
Kisah Para Rasul 1:7
Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Kisah Para Rasul 1:9
Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.. 
Kisah Para Rasul 1:10
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
Kisah Para Rasul 1:11
dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Saudara saudari, dalam bacaan perikop kita hari ini, firman Allah sedang berbicara tentang hari penggenapan kenaikan Yesus Kristus.  Dan fokus utama dari renungan kita hari ini adalah khotbah yang berpusat pada Kristus (Christocentric), pembedaan antara Hukum Taurat dan Injil (Law and Gospel), serta penekanan pada Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace).

Peritiwa Yesus terangkat ke sorga, adalah masa perpisahan bagi para murid dengan Yesus. Tentu secara manusiawi, perpisahan ini akan menyedihkan bagi para murid, sebab ketika seorang pemimpin pergi maka para pengikutnya akan merasa kehilangan arah. Namun, dalam pandangan teologi Lutheran kita di ajak untuk melihat peristiwa kenaikan ini bukan sebagai ketiadaan Yesus Kristus, melainkan sebagai cara baru bagaimana Kristus akan tetap hadir di tengah-tengah kita. Meskipun para murid dan kita tidak dapat melihatNya secara kasat mata, namun Kristus yang bangkit akan tetap memegang kendali, Ia akan selalu menegur kedagingan kita, dan menghibur kita dengan janji-Nya lewat kuasa Roh kudus. 

Jadi, apakah yang membuat para murid bersedih pada saat perpisahannya dengan Yesus? 
Lewat perikop ini, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa meskipun para murid telah sekian lama bersama dengan Yesus, dan mereka telah menyaksikan kematian Yesus, dan Yesus telah berulang ulang kali menampakkan diri kepada mereka. Sesungguhnya ada yang mengganjal dalam diri mereka masing masing. Dosa membuat mereka gagal mengenal dan mempercayai Yesus dengan benar dan kegagalan mereka membuat mereka lebih berpusat pada diri sendiri daripada kepada Yesus Kristus. Para murid menginginkan kejayaan politis, kesuksesan duniawi, dan teologi kemuliaan (theologia gloriae). Bahkan mereka ingin melihat Yesus bertakhta secara fisik dan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi saat itu juga. Keinginan keinginan seperti ini sering juga terjadi pada kita, dan sering kita datang kepada Yesus hanya mencari kerajaan duniawi. Dalam pengajaran kita sebagai gereja Lutheran, buku konkord mengajarkan kepada kita bahwa kehadiran Yesus di bumi adalah untuk menegakkan Theologia Crucis (Teologi Salib) sebab jalan Allah bukanlah untuk kejayaan duniawi, melainkan jalan salib dan penyangkalan diri, demi kemenangan orang orang percaya. 

Dalam perikop ini, Yesus juga memperingatkan mereka agar menantikan penghibur yang akan turun atas mereka, dan Yesus memperingati mereka agar tidak pergi. Yang berarti Yesus melarang mereka pergi dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Melainkan harus menunggu janji Bapa, yaitu baptisan Roh Kudus, agar Roh Allah bekerja atas mereka untuk dapat membedakan yang benar dan terlebih berkuasa melakukan yang baik dan menjauhkan diri dari kejahatan. Dan tugas yang utama adalah untuk menjadi saksi Kristus di bumi. Para murid dan kita diutus untuk bersaksi tentang Kristus yang disalibkan dan bangkit. Yesus adalah sumber keselamatan kita, keselamatan datang dari padaNya dan sungguh, Keselamatan adalah 100% karya Allah (Sola Gratia — Hanya oleh karena Anugerah). Roh Kuduslah yang akan memelihara kita dalam iman agar mampu menjadi pemberitaan Injil ini sebagai saksi Kristus. 

Setelah Yesus terangkat ke sorga, apakah Yesus tidak hadir lagi di antara para murid dan bagi kita ?. 
Sesungguhnya, dalam Teologi Lutheran mengajarkan dogma UBIQUITAS(keberadaan Kristus yang mahahadir secara manusiawi). Kristus yang naik ke surga bukan berarti Dia pindah ke suatu lokasi geografis yang jauh di atas awan, melainkan Dia masuk ke dalam takhta kanan Allah yang mahakuasa. Dan dalam Alkitab di ajarkan kepada kita bahwa jika kita ingin mencari Kristus yang naik ke surga, maka janganlah menatap langit yang kosong. Tetapi carilah Dia di tempat yang sudah Dia janjikan untuk hadir secara nyata (Real Presence), yaitu dalam Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace) dalam Firman dan ke 2 sakramenNya. 
Kita akan dapat memahami Siapakah Tuhan dalam FirmanNya dan kita akan beroleh pengampunan juga lewat kuasa Firman yang membuat kita mengenal dosa dan Insaf. Bahkan ketika kita menerima Sakramen Baptisan Kudus, Di mana air dan Firman telah menyatukan kita dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Demikianlah juga dengan Perjamuan Kudus Kristus sungguh benar benar hadir "Di mana tubuh dan darah Kristus yang sejati hadir "di dalam, bersama, dan di bawah" roti dan anggur untuk pengampunan dosa kita".

Oleh karena itu, Kenaikan Yesus bukanlah akhir dari cerita-Nya bersama kita, melainkan awal dari pelayanan-Nya di dalam gereja-Nya melalui Roh Kudus. Dua malaikat berjanji bahwa Yesus yang terangkat itu akan datang kembali dengan cara yang sama. 
Sembari menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (Eskatologi), kita tidak dibiarkan yatim piatu. Kita tidak perlu cemas atau mencari tanda-tanda ajaib di langit. Hari ini, Kristus yang naik ke surga itu hadir di sini, di tengah-tengah kita, mengampuni dosa Anda, memberi Anda makan melalui tubuh dan darah-Nya, dan menguatkan Anda untuk menjadi saksi-Nya di dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat, demikianlah firman Allah. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kira semua. Amin 🙏

theologi Lutheran

Khotbah Minggi Trinitatis - Matius 28:16-20 - Diutus dalam Kuasa Firman, Baptisan, dan Penyertaan Kristus

Evangelium Minggu TRINITATIS GKLI Matius 28:16-20 Saudara saudari, hari ini kita telah masuk ke Minggu Trinitatis, apakah Minggu...

what about theologi luther ?