Theologi lutheran VDMA
Kiranya Damai Sejahtera Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara kamu sekalian.... Amin
Sabtu, 11 Juli 2026
Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis - Perumpamaan tentang seorang penabur Matius 13:1-9+18-21
Jumat, 10 Juli 2026
Bersyukur kepada Allah - Acara Ibadah minggu V Setelah Trinitatis
Acara
Ibadah Pemuda/I GKLI
11
July 2026
1.
Bernyanyi dari
Kidung Jemaat No. 64 :1 – 3 (Bila ku lihat bintang Gemerlapan)
1. Bila
kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
2. Ya Tuhanku,
pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
3. Pabila nanti
Kristus memanggilku, sukacita amatlah besar,
kar'na terkabullah yang kurindukan: melihat Dikau, Tuhanku akbar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
2.
Doa Pembuka
Bapa kami yang ada di Surga, kami
bersyukur pada malam hari ini, atas berkat dan Anugerah Mu yang selalu
menyertai kami sehingga di malam hari ini kami tetap sehat dan kuat. Kini kami
datang kehadapan Mu memohon agar kiranya Engkau menerangi dan menyinari hati
kami melalui Firman Mu, ajar dan pelihara lah hidup kami agar kiranya kami
menjadi pemuda/i yang takut terhadap Engkau dan menghormati orang tua kami.
Kami juga berdoa buat Ibadah kami ini, terimakasih Tuhan karna Engkau telah
hadir untuk kami. Sebentar lagi kami akan menerima pengajaran dari Firman Mu
kiranya bukakan hati kami dan ingatkanlah kami melalui Firman Mu agar kami
dapat hidup menjadi pemuda/i yang takut akan Engkau.
Tuhan
Yesus Kristus, kami juga berdoa buat orang tua kami, berkatilah mereka, berikan
kesehatan dan panjang umur dan ingatkan mereka agar tetap sabar dan setia dalam
mendoakan dan mengajari kami. Kami juga berdoa buat sahabat sahabat kami pada
saat ini yang sibuk karna pekerjaan, belum rindu untuk mendengarkan
panggilanmu, berkatilah setiap saudara/i kami itu dan ingatkanlah mereka Tuhan,
agar kiranya kami dapat bersama sama menerima Firman mu. Kami juga memohon
keampunan atas dosa dosa kami, Tuhan ampuni kami dan kuduskan kami dari dosa
itu, agar kami kudus dan layak datang kehadapanMu. Inilah doa dan permohonan
kami, dengarkan lah doa kami. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus Amin!
3.
Bernyanyi dari
Kidung Jemaat No. 425 (Berkumandang suara dari seberang)
1. Berkumandang
suara dari seberang, "Kirimlah cahyamu!"
Banyak jiwa dalam dosa mengerang, "Kirimlah cahyamu!"
Reff : Kirimlah pelita Injili
menyentak yang terlelap.
Kirimlah pelita Injili
menyentak yang terlelap.
2. Kita t'lah
dengar jeritan dari jauh, "Kirimlah cahyamu!"
Bantuanmu b'rikan, janganlah jemu, "Kirimlah cahyamu!"
Reff:
3. Jangan kita
tinggal diam mendengar: "Kirimlah cahyamu!"
Injil Tuhan haruslah kita sebar, "Kirimlah cahyamu!"
Reff:
4.
Renungan
Nats : Mazmur 65 : 1 - 8
Thema
: Nyanyian Syukur karena berkat Allah
Tujuan
: Supaya kita senantiasa bersyukur atas berkat Allah :
1.
Mengetahui
akan setiap berkat Allah
2.
Berdoalah
senantiasa untuk mensyukuri berkat Allah
3.
Sukacita
senantiasa bagi orang yang senantiasa bersyukur
4.
Allah
senantiasa bersama orang yang bersyukur
Hapalan
: Mazmur 65 : 2
5.
Bernyanyi dari
Kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3 (Berkumandang suara dari seberang)
1. Hai bangkit
bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.
2. Hai angkit bagi
Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.
3. Hai bangkit
bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!
6.
Doa Persembahan +
Doa Penutup
7.
Latihan KOOR
Sabtu, 27 Juni 2026
Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026 - Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita - Matius 10 : 34 - 42
Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026
Evangelium: Matius 10 : 34 - 42
Thema
: Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita
Saudara saudari, salah satu warisan teologi
Lutheran yang paling berharga bagi kita adalah keberanian untuk melihat
realitas salib. Dalam tulisannya Martin Luther sering mengingatkan kita tentang
Theologia Crucis "Teologi Salib". Teologi ini mengajarkan bahwa Allah
justru menyatakan diri-Nya di dalam penderitaan, penolakan, dan hal-hal yang
tidak menyenangkan bagi daging kita. Dan dalam teks Matius 10 : 34 - 42 adalah
contoh mutlak dari Teologi Salib ini. Di sini kita diperhadapkan dengan
tuntutan Hukum Taurat yang sangat keras dan radikal. Yesus menuntut kesetiaan
secara total yang melebihi relasi kita dengan orang tua, anak, atau pasangan
hidup. Firman ini datang bukan untuk menghibur ego kita, melainkan untuk
menghancurkan berhala-berhala terselubung di dalam hati kita. Marilah kita
membuka hati kita, membiarkan pedang Firman-Nya memurnikan iman kita, sehingga
kita tidak lagi mengandalkan kenyamanan duniawi, melainkan hanya bersandar pada
kasih karunia Kristus semata, oleh karena itu lewat Khotbah hari Allah berkata
kepada kita dengan Thema : "Hendaklah Tuhan yang lebih
utama di tengah kehidupan kita"
1. Meskipun kita harus Kehilangan Status demi duniawi.
"Bapak, Ibu, jika standar 'mengutamakan Tuhan' diukur dari
kesempurnaan kita melakukan ayat-ayat ini, maka kesimpulannya jelas: Tidak ada
satu pun dari kita yang layak di hadapan Tuhan. Sebab, kita semua telah gagal
mengutamakan Dia. Dalam kehidupan yang nyata, kita telah menjadikan kenyamanan
hidup, keluarga, dan status sosial kita sebagai allah yang lebih utama."
Tentu dengan membaca dan merenungkan Injil yang telah kita baca tadi, akan
sangat terasa mengejutkan dan menghentak telinga kita. Sebab, Yesus yang kita
kenal sebagai Raja Damai, tiba-tiba berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku
datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai,
melainkan pedang.” (ay. 34).
Apakah maksudnya Yesus sang Mesias datang membawa pedang dan menjadi pemisahan di dalam keluarga?. Firman ini sesungguhnya mematikan ilusi kita tentang kekristenan yang selalu berpikir nyaman, aman, dan tanpa konflik. Lewat Injil ini Yesus sedang menelanjangi kedamaian palsu yang ditawarkan dunia agar kita melihat kedamaian sejati yang berakar pada kebenaran Allah. Pedang yang dibawa oleh Yesus bukanlah senjata fisik untuk melukai, atau menghabiskan nyawa kita, melainkan pedang Firman yang memisahkan kebenaran dari ketidakbenaran, memisahkan antara yang gelap dengan yang terang. Ketika kita memilih untuk setia kepada Kristus, maka sesungguhnya nilai-nilai hidup kita tentu akan bertabrakan dengan seluruh prinsip dunia atau kenyamanan dunia. Dan yang paling nyatanya, penolakan atau tantangan yang paling umum bahkan menyakitkan justru sering kali datang dari orang-orang terdekat kita sendiri, seisi rumah kita sekeliling seperti penolakan yang terjadi kepada Yesus.
Lewat Baptisan Kudus, Allah mengadopsi kita menjadi anak anakNya sebagai umat tebusanNya, yang artinya Tuhan Yesus yang memanggil kita bukanlah untuk menjadi serupa dengan dunia atau hidup di dalam kedamaian palsu yang penuh kompromi dengan dosa. Dia memanggil kita untuk masuk ke dalam peperangan rohani yang nyata, yang diperlengkapi dan bersenjatakan dengan pedang Firman-Nya. Kita dituntut untuk hidup dalam penyerahan total kepada Yesus, dengan memotong keterikatan berhala kita terhadap keluarga dan diri sendiri. Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (ay. 37). Yesus tidak menyuruh kita membenci keluarga. Namun, agar tidak menjadikan kenyamanan keluarga atau tuntutan dunia lebih utama daripada Iman. Yesus menuntut penyerahan total: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (ay. 38). Di hadapan tuntutan Hukum Taurat, kita semua adalah orang yang gagal, karena kita lebih sering mencari aman, takut ditolak keluarga, dan menolak memikul salib dan itu membuat kita tidak layak.
Apakah Tuhan membiarkan kita hidup mati dalam kegagalan ini ?. Sesungguhnya Tidak. Lewat Injil hari ini kita di bawa dari Hukum Taurat menuju Injil (The Gospel). Dan bagaimanakah Allah menolong kita ?. Pertama tama Kristus Memikul Salib Kita, Sebelum Yesus meminta kita memikul salib, Dia terlebih dahulu memikul salib yang sesungguhnya di Golgota. Salib yang memikul seluruh dosa, ketakutan, dan kegagalan kita untuk setia kepadaNya. Pertolongan terbesar Allah terjadi di salib Golgota. Pedang keadilan Allah yang seharusnya menghukum kita karena dosa dan kegagalan kita, telah ditimpakan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Di atas salib, Kristus mengalami "pemisahan" yang paling mengerikan, Ia ditinggalkan oleh Bapa-Nya, agar kita tidak pernah lagi terpisah dari Allah. Pedang yang mengancam hidup kita telah dipatahkan oleh tubuh-Nya yang terluka. Dan hingga saat ini, pedang itu sesungguhnya tetap bekerja baik melalui hukum hukumnya, sebab dengan pedang itu Kristus memotong ego, kesombongan, dan keterikatan berhala kita pada dunia. Sungguh, Allahlah yang menolong kita dengan cara membiarkan pedang itu membunuh "manusia lama" kita yang berdosa, lalu membangkitkan "manusia baru" yang hidup oleh kasih karunia. Oleh karena itu, jangan lagi kita mengikatkan rasa aman kita pada penerimaan keluarga, harta, atau status duniawi, sebab pedang penolakan dunia tidak lagi memiliki kuasa untuk menghancurkan jiwa kita.
2. Sebab Allah telah memberikan kita hadiah, dengan melayakkan kita
ddihadapanNya.
Saudara saudari, kita dibenarkan dan Disatukan dihadapan Allah adalah karena
Kasih Karunia" (Justified and United by Grace). Dalam tradisi Lutheran,
diajarkan kepada kita bahwa Injil bukanlah tuntutan moral, melainkan
pemberitahuan tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Meskipun
dihadapan Allah kita dipandang gagal dalam memikul salib kita dengan sempurna.
Namun, Kristus telah memikul salib hukuman dosa kita di Golgota, sehingga salib
yang kita pikul hari ini bukanlah lagi kutukan, melainkan tanda kemerdekaan,
dan pemurnian Iman yang benar kepada Kristus.
Meskipun jikalau jalan terakhirnya kita harus Kehilangan nyawa/ego karena Kristus itu artinya kita telah menemukan hidup yang sejati, tetapi bukan Berti juga kita menuntun diri kepada penderitaan yang tidak bermanfaat. Marilah kita renungkan dan ingat ini, ketika kita menerima Baptisan, baik saat bayi ataupun setelah dewasa, sesungguhnya manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus di kayu salib dan kita diberikan identitas baru oleh kebangkitanNya yang tidak bisa dihancurkan oleh penolakan dunia.
Apakah kamu akan meninggalkan Allah juga hanya masalah kecil atau masalah kedagingan yang membuat kita terasing atau ditolak ?. Saudara saudari, Jika kita jujur melihat diri kita sendiri (dari sudut pandang Hukum Taurat), di dalam kekuatan kita sendiri, kita sangat mungkin akan meninggalkan iman ketika menghadapi penderitaan, sebab daging lemah. Namun, Injil hari ini memberikan pengharapan bahwa kita tetap dapat berada dalam kesetiaan bukan karena hebatnya iman kita, melainkan karena setianya Allah yang memegang kita tiap tiap saat. Dan mari kita juga merenungkan kembali, akan pengakuan Iman kita. Martin Luther dalam Penjelasan Pengakuan Iman Rasuli di katekhismus Kecil menuliskan seperti ini : "Aku percaya bahwa dengan kekuatanku atau imanku sendiri, aku tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepada-Nya; tetapi Roh Kudus telah memanggil aku melalui Injil..." Percayalah bahwa Allah yang Mempertahankan Iman bagi kita, setiap Kesetiaan yang diperbuat oleh orang Kristen di tengah penderitaan adalah buah dari pekerjaan Allah, bukan hasil usaha manusia. Lewat Injil, roh Kudus akan selalu menopang dan memberi kekuatan saat kita dianiaya bahkan saat ditolak.
Bahkan sama seperti yang dialami oleh Petrus, dimana Yesus berkata kepada Petrus sebelum ia jatuh, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Lukas 22:32), artinya Yesus yang sama yang memelihara dan menolong kita hingga saat ini akan terus bersyafaat bagi kita di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai bentuk pemeliharaanNya untuk kita. Bahkan Allah telah berjanji, bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita dan akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, sama seperti yang dituliskan paulus dalam Roma 8:35, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?" Jawabannya adalah tidak ada.
Oleh karena itu, jangan biarkan keinginan daging menghancurkan hubungan kita dengan Allah, mari arahkan pandangan kepada Yesus yang sudah setia sampai mati bagi kita. Kasih karunia Allah di dalam Kristus adalah kekal. Dan tangan Allah yang menggenggam kita sungguh jauh lebih kuat daripada pencobaan apa pun yang ada di dunia ini. Yesus berkata Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Tetaplah setia datang ke hadirat-Nya, mendengarkan Injil-Nya yang menghibur dan menguatkan hati kita yang terluka. Datanglah dengan setia ke altar-Nya lewat ibadah Minggu kita. Sebab di sana Yesus hadir secara nyata lewat tubuh dan darah Kristus diberikan untuk mengampuni dosa dosamu, memperbarui iman mu, dan memberi kekuatan spiritual untuk menghadapi hari esok. Dan terakhir, saya mau menyampaikan kembali pernyataan Martin Luther yang mengatakan "Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung-gunung runtuh ke dalam laut, Kristus, Tuhan kita, tetap bertakhta selama-lamanya. Di dalam Dia, kita aman." Tetaplah Kristus yang utama dalam hidup.
Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin
pdt.a situmorang
bahan sewrmon IV Setelah Trinitatis - Matius 10:32-43
Bahan Sermon
23 Juni 2026
a) Khotbah Minggu IV Dung Trinitatis
EVANGELIUM : MATIUS 10 : 32 – 43
Thema : Tabahen ma Debata na unringkot di nasa ngolunta
a) Nang pe ingkon ndang mangomo hasonangan portibi hita
· Ndang jumpanga hita hasempurnaan di dirinta ianggo so marhite Debata
· Jesus ro maboan podang na pasiranghon na holom marhite hatiuron
· Marhite pandidion nabadia nang hataNa di bahen hita gabe IanakhonNa, Ibada do na manjou hita asa sirang sian haholomon i jala mian di hatiuronNa
· Unang tabahen portibi on gabe inganan hasonangan, keluarga dohot donganta sajabu na gabe unringkot sian Debata.
· Ndang dipasombu Debata hita mian di haholomon (hamatean) i, ai jumolo do ibana mamorsan silang jala mate dung i asa di suru hita mamorsan silang laho mangihuthon Ibana.
b) Ai Debata do na mangalehon hita Upa, ima HarajaonNai
· Hata ni Debata ndang tuntutan Moral – Alai barita na sian Debata na pabotohon aha na ni ula ni Debata tu hita
· Nang pe ingkon ditolak, jala dihasogohon portibi on hita – dang tuk huaso ni portibi on maniranghon hita sian holong ni roha ni Debata Rom.8:35
· Ndang di paloas Debata hita di unjuni di atas ni hagogoonta (1 Kor.10:13)
· Manongtong ma tu Debata hita marsihohot marhite na mambahen Ibana na unringkot di ngolunta – Ai jaloon ta do upa molo tongtong setia hita tu Ibana
“Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung gunung runtuh ke dalam laut, Kristus _ Tuhan kita tetap bertakhta selama lamanya”
2. ENDE MINGGU IV DUNG TRINITATIS
· BE NO.15
· BE NO. 178
· BE NO. 510
3. NA RINGKOT SIBAHASON
I. Program Huria
II. Keuangan
III. Pembangunan
IV. Persembahan tu Sinode GKLI
V. Persiapan penyambutan Tamu dari Lutheran Malaysia
Rabu, 24 Juni 2026
Tetap Teguh di Bawah Naungan Salib dan Kasih Karunia - Kisah Para Rasul 14 : 21 - 23
Senin, 22 Juni 2026
Tetap hidup di dalam Kasih Karunia - Kisah para rasul 13:43-48
Sabtu, 20 Juni 2026
Matius 10 : 21 - 33
theologi Lutheran
Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis - Perumpamaan tentang seorang penabur Matius 13:1-9+18-21
Evangelium Matius 13:1-9, 18-21 Saudara saudari, setiap kali kita membaca Perumpamaan tentang Seorang Penabur ini, tentu kita akan dirahkan ...
what about theologi luther ?
-
Markus 6 : 14 - 29 Thema : BARANI MA HITA MANGHATINDANGKON NA NASINTONG Patujolo : Jamita minggu VII dung Trinitatis di...
-
PROLOG DAN LITURGI NATAL Liturgi I (Puji Pujian) Prolog : Puji pujian bagi Allah y a ng telah menciptakan Lang...
-
Pengertian Liturgi di Gereja Lutheran GKLI Sebagai Gereja Lutheran memahami bahwa : Ibadah adalah Pesta Al...