Rabu, 25 Maret 2026

Disini Firman Allah menjadi daging

Di Israel ada sebuah tulisan terukir pada prasasti kuno tepat di lantai sebuah gereja yang bertuliskan Verbum Caro Hic Factum Est (di sinilah firman menjadi daging). Pada saat Kaisar Konstantinus membangun gereja kata-kata ini di sana, sekitar pada abad ke-4 (300-an). Di sana, ibunya yang bernama Helena, diberitahu bahwa Tuhan telah menjadi manusia bukan di Betlehem melainkan di Nazaret, tempat yang diyakini sebagai rumah masa kecil Perawan Maria yang Terberkati. Tradisi kuno ini mengidentifikasikan tempat itu sebagai tempat di mana Malaikat Gabriel mengumumkan inkarnasi Putra Allah yang Kekal di dalam kandungannya. Di sini, diyakini bahwa hal yang mustahil terjadi—yang terbatas mengandung yang tak terbatas. Sang Pencipta Kehidupan menjadi anak seorang gadis Yahudi. Bagi semua orang Kristen yang mengakui doktrin Kredo Nicea, ia dikenal sebagai θεοτόκος ( theotokos )—pembawa atau Bunda Allah.

Pada tanggal 25 Maret, gereja merayakannya sebagai Kabar Gembira. Kita merayakannya pada tanggal 25 Maret sembilan bulan sebelum Natal tepat di tengah Masa Prapaskah atau awal musim Paskah. Dari perspektif logika manusia, ini terbalik.

Agama-agama yang diciptakan manusia semuanya tentang orang-orang yang mencari Tuhan, melakukan sebuah perjalanan, melakukan satu pekerjaan demi pekerjaan lainnya, melaksanakan satu ritual demi ritual lainnya. Agama-agama Yunani dan Timur semuanya tentang menyingkirkan kedagingan dan dunia fisik, naik ke surga secara spiritual. Tujuannya adalah untuk melepaskan tubuh demi apa yang benar-benar penting — hal-hal spiritual.

Inkarnasi adalah wahyu pertama dan terbesar — epifani. Kita tidak mencari Tuhan — Tuhanlah yang mencari kita. Kita tidak berusaha mendaki tangga Yakub — Dialah yang turun dari tangga itu. Putra Allah Dialah Anak Manusia . Dia dalam segala hal sama seperti kita — kecuali Dia tidak berdosa. Dia membawa kepada kita kasih karunia demi kasih karunia.  Inkarnasi menceritakan lebih dari sekadar tentang Tuhan. Inkarnasi memberi tahu kita bahwa daging dan darah itu baik, tidak untuk dihina atau ditolak, tetapi untuk dirayakan dan diterima. Kita sangat baik, persis seperti yang Tuhan ciptakan. Kita laki-laki atau perempuan, pendek atau tinggi, bertulang besar atau kecil, kombinasi unik dari sifat-sifat yang dipilih oleh Tuhan sehingga tidak seorang pun dari kita—bahkan kembar—persis sama. Dalam baptisan, Dia memanggil kita dengan nama dan menulis nama kita dalam Kitab Kehidupan. Yang Dia inginkan adalah setiap dari kita. Untuk kitalah Dia dilahirkan, menjalani hidup yang sempurna, menderita, mati, bangkit, dan naik ke surga. Dan untuk kitalah Dia akan datang kembali. Dia akan memanggil nama kita ketika Dia memanggil kita dari kubur dan mengubah kita untuk hidup kekal. Yang benar adalah, Dia menjadi daging untuk hidup bersama kita—sekarang dan selamanya.

Senin, 23 Maret 2026

KHOTBAH MINGGU PERCAYALAH DAN JANGAN TAKUT - MATEUS 14 : 22 - 33 "minggu X SETELAH TRINITATIS"

 

2026

KHOTBAH MINGGU  X SETELAH TRINITATIS

MATIUS 14 : 22 - 33

THEMA : PERCAYALAH DAN JANGAN TAKUT

Pendahuluan :

Saudara saudari, jika kita perhatikan dalam konteks perikop ini dan kita bandingkan dengan masa pelayanan Yesus semasa hidupNya, sesungguhnya Yesus dan para murid telah hidup bersama melayani sekitar setengah perjalanan dari masa pelayanan Yesus, tentu mereka telah melihat kuasa Yesus dalam mengadakan banyak mukjizat, berkuasa dalam pengajaranNya namun hal itu tetap tidak dapat membangun pondasi yang kuat bagi para murid, sehingga tetap takut dan bimbang. Dalam beberapa hal, mereka memang telah mengalami kemajuan, tetapi dalam hal lain, mereka masih belum mengerti. Lalu dalam perikop ini, dapat kita lihat bahwa murid Kembali berada di dalam puncak ketakutan yang dahsyat. Sesungguhnya ini adalah ujian bagi para murid, sebab sebelum perikop kita hari ini, Yesus beserta para murid-murid-Nya telah melihat kerumunan orang sekitar 5.000 orang laki laki, tentu dalam hal ini mereka telah melihat dan menikmati mujizat oleh Yesus. Namun meskipun demikian mereka tetap terdapat dalam keadaan salah, sebab mereka melihat ke dalam saku mereka, mereka melihat ke dalam tas mereka, mereka melihat sekelilingnya, dan mereka berkata, “Suruh mereka pergi.” Ini adalah jawaban yang salah. Yesus memang telah mengetahui bahwa mereka melihat ke tempat yang salah sebab mereka melihat kepada diri sendiri, melihat pada kemampuan mereka sendiri dan tidak sedikitpun melihat kepada Yesus sang penyedia segala sesuatu yang bersama mereka saat itu. Kesalahan yang sama juga terjadi dalam perikop ini, ketakutan telah membuat mereka lupa akan Yesus Kristus, bahkan sekalipun mereka telah melihat Yesus yang datang menyusul mereka, namun iman kerdil yang mereka miliki tidak dapat membuat para murid mengenali Yesus, bahkan Petrus yang telah berjalan di atas ai itu pun pada akhirnya tenggelam, oleh karena itu lewat Injil ini Allah berfirman kepada kita agar :

Thema : PERCAYALAH DAN JANGAN TAKUT

1.   MESKIPUN BANYAK COBAAN DAN TANTANGAN

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, teks khotbah kita pada saat ini adalah pernyataan yang benar bahwa “Orang orang kudus adalah orang yang akan selalu jatuh dalam kegagalan, namun dalam kegagalan itu, ia akan selalu bangkit dan akan di kuatkan serta dihibur oleh kasih karunia Kristus”. Apakah kamu percaya akan hal ini ?

Dalam evangelium kita di minggu minggu setelah trinitatis ini, terlebih hari ini Injil Matius menuliskan bahwa Petrus adalah wakil dari kedua belas murid, sebab Petruslah yang melangkah keluar dan berjalan di atas air. Namun Petrus gagal total bahkan tenggelam. Tahukah saudara, apakah yang di peroleh oleh Petrus atas tantangan tersebut?. Sesungguhnya Firman ini menjelaskan bahwa Petrus telah menemukan ketenangan dan penghiburan dalam kasih karunia dan pengampunan Allah karena ia dapat bangkit Kembali oleh karena uluran tangan Yesus. Hal itu jelas, sebab Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Kalua kita bandingkan dengan kisah sebelum momen ini dalam pasal yang sama, Yesus memberi makan 5.000 orang, hal ini menegaskan kita Kembali bahwa Yesus adalah sungguh Allah yang berkuasa menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada dan yang ada menjadi lebih banyak, bahkan dengan wujud yang berbeda sekalipun. Perikop tentang lima roti dan dua ikan adalah bukti nyata atas Kuasa Yesus yang langsung di lihat oleh para murid, sebab Ia berkuasa memberi makan bukan hanya 5.000 orang laki-laki, tetapi juga termasuk perempuan dan anak-anak yang mungkin bisa lebih dari 10.000 orang jika di hitung secara keseluruhan. Dengan mujizat itu Yesus sesungguhnya telah menunjukkan bahwa Dia adalah Allah dalam wujud manusia yang meskipun tidak di ungkapkan secara langsung.

Saudara saudari, berbicara tentang tantangan dan cobaan, sesungguhnya Allah tidak pernah mencobai siapa pun. Namun dalam perikop ini kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi Allah mengetahuinya, terlebih dalam perikop ini Yesus tentu mengetahui apa yang akan terjadi pada kedua belas murid-Nya, yaitu suatu bencana yang membuat mereka ketakutan. Yesus mengutus mereka dengan perahu untuk pergi ke seberang. Mereka dahulu adalah nelayan handal dan yang sangat berpengalaman, maka seharusnya badai itu bukanlah masalah besar bagi mereka. Namun, Injil ini menjelaskan bahwa ini adalah ujian bagi mereka di tengah laut tersebut di tambah juga dengan suasana gelap, dalam ketakutan tersebut Yesus tidak datang menghampiri mereka sampai sekitar pukul 3 subuh. Para murid telah berada di laut sejak matahari terbenam, dan dalam perjalanan itu mereka di ombang-ambingkan oleh badai. Yesus berada di atas gunung dan sedang berdoa. Satu hal yang murid lupakan karena ketakutan itu, “Kuasa Yesus dalam memelihara umatNya terlebih para murid, terlebih yang pada saat itu mereka meninggalkan Yesus di gunung untuk berdoa, memang meskipun kita tidak tau apa yang di doakan oleh Yesus di gunung namun yang pasti Iman kita mengatakan bahwa Yesus juga berdoa untuk kedua belas murid yang sedang berada di laut. Tahukah saudara apakah yang ingin Allah katakana lewat pencobaan yang di hadapi oleh murid ?. Sesunguhnya Yesus ingin agar mereka tidak hidup berkeyakinan penuh kepada diri mereka sendiri, tetapi haruslah berkeyakinan penuh hanya kepada Allah yang penuh kuasa baik dalam masa sulit atau sekalipun ancaman yang mematikan.

Injil ini mengajarkan kepada kita bahwa Yesus sungguh berkuasa sebab Dia adalah Allah, di dalam kuasaNya yang penuh Yesus juga penuh belas kasihan kepada orang-orang kudus yang gagal, seperti para murid. Kita semua di hadapan Allah adalah juga orang orang yang gagal namun mencoba untuk bangkit lagi dengan kuasa Roh KudusNya. Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Yesus lebih sering memilih untuk menemui orang-orang yang gagal, bahkan orang orang yang kurang percaya sekalipun seperti kita. Sebagaimana Yesus lakukan bagi para murid, demikianlah juga yang di lakukan oleh Yesus untuk kita, dalam kegagalan kita Ia sungguh datang menolong dan mengulurkan tangan kita untuk membangkitkan kita, Yesus memilih untuk menemukan kita ketika berada dalam ketakutan terbesar. Dan perlu juga kita renungkan, apakah kata kata yang di ungkapkan oleh Yesus kepada murid ? Yesus berkata: “Hai kamu yang kurang percaya, mengapa kamu ragu?”. Jikalau kita renungkan injil ini, sesungguhnya sebelum para murid berseru kepada Yesus, bahkan sebelum mereka mengakui bahwa yang datang itu adalah Yesus, Yesus telah lebih dahulu mengucapkan kata-kata penghiburan kepada mereka. “Percayalah, Jangan takut, Ini Aku”. Di tengah ketakutan mereka, Yesus hadir memberi mereka pengampunan, bukan setelah membersihkan hidup mereka. Sebab lewat pengampunan oleh kata kata Yesus itu, Ia memberi keberanian kepada Petrus untuk pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi oleh siapapun sebelumnya yaitu “berjalan di atas air” namun karna imannya yang kerdil akhirnya petrus tenggelam. Dan pertanyaanya “apakah setelah Yesus mengampuni mereka, lewat otoritasNya yang membuat Petrus dapat berjalan di atas air membuat mereka semakin tenang ?. sesungguhnya TIDAK. Malah ketakutan mereka semakin terus meningkat, bahkan di tengah kehadiran Yesus Kristus, hidup mereka masih tetap dalam kekacauan. Meskipun Petrus telah melangkah dengan iman, hidup mereka masih dalam kekacauan. Seperti yang saya katakan di awal, orang kudus bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Orang kudus adalah orang yang sering gagal, tetapi bangkit dan dihibur oleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus.

Injil kita hari ini mengajarkan agar demikianlah hendaknya hidup kita, ketika kita gagal oleh ketakukan dan keraguan kita bahkan karna tidak percaya, mari kita mengingat bahwa kita harus tetap kembali kepada uluran tangan Allah sumber keselamatan kita dan siap berjuang dengan tetap memandang kepada Yesus Kristus dalam artian memalingkan diri kita. Selagi kita masih di dunia, kita akan selalu mengalami gelombang dan ketakutan seperti yang dialami oleh Petrus. Dan ini adalah penghiburan bagi kita, sebab meskipun Petrus gagal dan ragu tetapi Yesus tidak pernah membuang Petrus, begitu pula kesebelas murid lainnya.

Ketika Yesus masuk ke dalam perahu barulah Yesus menenangkan laut. Apakah maksudnya?? “Yesus menyelamatkan Petrus bukan ketika Petrus berjalan di atas air, tetapi setelah Petrus gagal dan para murid gagal, apakah maksud Yesus ?. Injil ini menerangkan kepada kita bahwa dalam kegagalan mereka justru Yesus yang datang dan menyelamatkan mereka, bukan mereka yang datang melainkan Yesus sendirilah yang datang ke dalam masalah mereka dan mengulurkan tanganNya yang penuh dengan pertolongan, dan hal ini juga mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan senang menggunakan kita di saat hal terburuk kita ”penuh dengan dosa”, bahkan ketika kita tidak dapat melihatNya. Kita sebagai umat Lutheran percaya bahwa Allah telah menggunakan Injil dan sakramenNya untuk memanggil kita secara umu, Ia menyatukan Injil dengan Air dan menjadi penyucian bagi kita sehingga kita menjadi manusai yang bersinar dalam kristus, dimana dosa dosa kita tidak di pandang lagi di hadapanNya melainkan sinar Kristus yang terus menyala oleh kuasa RohNya. Allah datang menemukan kita dan membuat kita bersinar, bahkan bersinar paling terang karena kita tidak bersinar dengan diri kita sendiri, tetapi kita bersinar dengan Dia, maka Yesus sendiri mengatakan kepada kita hendaklah kita jangan ragu dan takut, tetaplah memandang kepada Yesus Kristus yang telah menemukanmu dan memampukanmu agar dapat bangkit dan berjuang dalam kuasa Yesus Kristus.

2.   KARNA TUHAN SUMBER PERTOLONGAN DAN KESELAMATAN KITA

Seiring Petrus bertumbuh dalam pemahaman tentang siapa Yesus, Petrus juga akan memahami bahwa ia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dosa, kematian, dan kuasa iblis. Sebab dalam kegagalannya. Iman akan bekerja untuk menuntun dia berseru, “Yesus, selamatkanlah aku.” Tangan Yesus tidak membiarkan Petrus tenggelam karena tidak dapat pergi kepada Yesus. Yesus justru datang kepada Petrus dan mengulurkan tangan-Nya dan menyelamatkannya. Kita juga harus tau dan mempercayai bahwa tangan yang sama itu telah mengulurkan tangan-Nya, merentangkan tangan-Nya, dan membiarkan Diri-Nya dipaku di kayu salib, bukan karena dosa atau pelanggaran yang telah Ia lakukan, tetapi karena apa yang telah Petrus lakukan, dan juga atas dosa dosa kita. Yesus tersalib karena dosa dosa kita, Karena hukum Taurat menyingkapkan kelemahan kita sehingga kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Jadi kita harus berseru dalam iman, “Yesus, selamatkanlah kami.” Sungguh Yesus akan mendengar seruan kita yang penuh dengan Iman, dan Ia akan menolong kita.

Saudara saudari, apakah yang terjadi dalam diri kita setelah uluran tanganNya ?

Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus di kayu salib telah menjadikan kita milik Allah, sebab dengan pengorbananNya yang kudus itu, dosa dosa kita lunas di bayar. Allah telah mengadopsi kita menjadi anak anakNya yang sering kita sebut dengan umat tebusan Tuhan atau orang orang kudus. Kita telah ditebus, kita telah diampuni olehNya, kita telah dipindahkan dari kerajaan iblis ke dalam kerajaan Allah. Kita telah diubah dari mati secara rohani menjadi hidup secara rohani, bukan karena apa yang telah kita lakukan, tetapi karena apa yang telah dan sedang Dia lakukan untuk kita.

Oleh karena itu, percayalah bahwa Allah menantikan engkau datang berseru kepadaNya, dalam kegagalanmu Allah menantikan engkau untuk mengarahkan pandanganmu kepadaNya, bahkan dalam kegagalan mu Allah akan lebih dahulu datang untuk menolong dan memelihara hidupmu. Sungguh hanya Yesus yang dapat berkuasa untuk menghibur Anda dengan penuh pengampunan, keselamatan, dan kehadiran-Nya yang kekal, sebagaimana Dia berkata setiap saat, “Tabahkan hatimu, ini Aku. Jangan takut.”

Demikianlah FirmanNya untuk kita, Kiranya Kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong mu, Amin !                          VDMA”.

      Pdt. Ardianus situmorang S.Th

GKLI Resort Baloi Kolam _ BATAM


Kebahagiaan yang sejati - Apakah kebahagian sejati kita?? - Lukas 6:27

Selamat pagi amang inang. 

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 6:27
"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
Lukas 6:28
mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
Lukas 6:29
Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Lukas 6:30
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
Lukas 6:36
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."


Saudara saudari, Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh orang Kristen adalah kemampuannya untuk mengasihi sesama, bahkan yang telah menyakiti hatinya sekalipun harus tetap dikasihi seperti Yesus mengasihi orang orang berdosa. Namun jika kita perhatikan pada realita kehidupan, terlebih dizaman ini, tidak semua orang Kristen dapat menyadari keistimewaan ini dan sering terdapat mengabaikannya.

Secara manusiawi, tentu bukan suatu hal yang mudah untuk melakukan hal baik seperti mendoakan, memberkati, dan memberikan pinjaman kepada orang yang telah berbuat jahat terhadap kita, dan cenderung banyak orang melakukan kasih dengan terbatas, membalas kasih dengan kasih dan kejahatan dengan kasih, itulah yang sering terjadi. Namun lewat injil Tuhan hari ini, Yesus mengajarkan bahwa mengasihi adalah hidup orang Percaya, kasih yang dari Yesus tidak memiliki batas, Kasih yang sesungguhnya datang dari Allah dan diwariskan oleh bapa kepada kita. 
Dengan demikian, dalam hal tersulit sekalian, Yesus telah mengatakan bahwa kita harus mengasihi musuh dan itu adalah keistimewaan yang harus kita lakukan dan pertahankan, inilah sifat warisan dari Bapa kita,  sebagaimana Allah menganugerahkan kasihNya kepada orang orang berdosa.
Dengan status kita sebagai anak anak Allah oleh karena pembenaran_Nya. Maka kemurahan hati yang tidak membeda-bedakan satu sama lain atau kemurahan hati yang menganggap bahwa semua orang tanpa terkecuali, berhak menerima kasih dan perlakuan yang baik haruslah kita lakukan juga terhadap sesama kita.

Yesus mengajari kita, agar kita tidak hanya mengasihi orang yang berbuat baik kepada kita, melainkan Yesus sendiri dengan tegas bahwa kita harus mengasihi orang orang yang berbuat jahat kepada kita. Apakah yang Yesus maksud dengan pengajaran ini? 
Dalam hal ini, Yesus ingin menunjukkan ketidakmampuan kita untuk mengasihi secara sempurna, dan tidak ada seorangpun manusia yang dapat melakukannya dengan sempurna selain Yesus Kristus, dengan demikian ketidak mampuan kita itu hendaklah menuntun kita untuk kembali kepada kuasa Kristus. Sebab Dia-lah yang akan memberikan kekuatan baru kepada kita, untuk dapat hidup dalam kasih dengan menpercayai bahwa Kristus telah lebih dulu mengasihi kita saat kita masih menjadi "musuh-Nya" (Roma 5:10). 

Khotbah ini sering kali menyoroti bagaimana perintah Yesus menolong orang percaya untuk keluar dari egosentrisme (fokus pada diri sendiri) dan memperluas kasih melampaui batas-batas komunitas atau kelompok sendiri. Supaya kita harus melakukan kebaikan kepada mereka yang membenci. Meminta berkat bagi yang mengutuk dan mendoakan  yang mencaci kita, sebab dengan demikian kuta juga telah ikut dalam kehendak Allah untuk menghentikan siklus kejahatan dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. 

Ketika kita belajar untuk hidup di dalam kasih dengan tanpa batas, maka kita sedang melakukan 2 hal penting yang di kehendaki oleh Yesus.
1. Ketika kita melakukannya, kita juga sedang mengalahkan ego pribadi.
2. Kita juga sedang mengalahkan sifat buruk musuh tanpa dia merasa kalah. Alasannya, karena kebaikan kita akan membuatnya malu dengan perbuatannya sendiri. Itu akan menghancurkan kekerasan serta dendam dalam hatinya (bdk. Rom. 12:20).

Hidup mengasihi adalah identitas orang orang kudus, ketika Yesus mengajarkan kita untuk hidup saling mengasihi sebenarnya Yesus juga ingin agar kita melihat diri kita sendiri, sebab dalam diri setiap orang percaya bukan daging kita lagi yang berkuasa, melainkan Kristus sendiri yang telah menolong dan membenarkan kita. Oleh karena itu, supaya kasih itu benar benar nyata maka kita harus hidup dalam Tuhan dan berakar pada karakter Allah. 

Marilah kita hidup di dalam kehendak Allah, pengajaran Yesus ini bukan hanya peringatan atau nasihat. Kita harus belajar dalam tiap saat untuk berjuang di dalam kasih. Tetaplah bersandar kepada Kristus dan melihat kepada kasihNya agar kita juga di mampukan oleh Allah untuk mengasihi sesama kita. 


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semuanya .... amin 🙏

Hidup dalam kasih Yesus - Lukas 6 : 27 - 36

Shalom

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 6:27
"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
Lukas 6:28
mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
Lukas 6:29
Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Lukas 6:30
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
Lukas 6:36
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."


Saudara saudari, Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh orang Kristen adalah kemampuannya untuk mengasihi sesama, bahkan yang telah menyakiti hatinya sekalipun harus tetap dikasihi seperti Yesus mengasihi orang orang berdosa. Namun jika kita perhatikan pada realita kehidupan, terlebih dizaman ini, tidak semua orang Kristen dapat menyadari keistimewaan ini dan sering terdapat mengabaikannya.

Secara manusiawi, tentu bukan suatu hal yang mudah untuk melakukan hal baik seperti mendoakan, memberkati, dan memberikan pinjaman kepada orang yang telah berbuat jahat terhadap kita, dan cenderung banyak orang melakukan kasih dengan terbatas, membalas kasih dengan kasih dan kejahatan dengan kasih, itulah yang sering terjadi. Namun lewat injil Tuhan hari ini, Yesus mengajarkan bahwa mengasihi adalah hidup orang Percaya, kasih yang dari Yesus tidak memiliki batas, Kasih yang sesungguhnya datang dari Allah dan diwariskan oleh bapa kepada kita. 
Dengan demikian, dalam hal tersulit sekalian, Yesus telah mengatakan bahwa kita harus mengasihi musuh dan itu adalah keistimewaan yang harus kita lakukan dan pertahankan, inilah sifat warisan dari Bapa kita,  sebagaimana Allah menganugerahkan kasihNya kepada orang orang berdosa.
Dengan status kita sebagai anak anak Allah oleh karena pembenaran_Nya. Maka kemurahan hati yang tidak membeda-bedakan satu sama lain atau kemurahan hati yang menganggap bahwa semua orang tanpa terkecuali, berhak menerima kasih dan perlakuan yang baik haruslah kita lakukan juga terhadap sesama kita.

Yesus mengajari kita, agar kita tidak hanya mengasihi orang yang berbuat baik kepada kita, melainkan Yesus sendiri dengan tegas bahwa kita harus mengasihi orang orang yang berbuat jahat kepada kita. Apakah yang Yesus maksud dengan pengajaran ini? 
Dalam hal ini, Yesus ingin menunjukkan ketidakmampuan kita untuk mengasihi secara sempurna, dan tidak ada seorangpun manusia yang dapat melakukannya dengan sempurna selain Yesus Kristus, dengan demikian ketidak mampuan kita itu hendaklah menuntun kita untuk kembali kepada kuasa Kristus. Sebab Dia-lah yang akan memberikan kekuatan baru kepada kita, untuk dapat hidup dalam kasih dengan menpercayai bahwa Kristus telah lebih dulu mengasihi kita saat kita masih menjadi "musuh-Nya" (Roma 5:10). 

Khotbah ini sering kali menyoroti bagaimana perintah Yesus menolong orang percaya untuk keluar dari egosentrisme (fokus pada diri sendiri) dan memperluas kasih melampaui batas-batas komunitas atau kelompok sendiri. Supaya kita harus melakukan kebaikan kepada mereka yang membenci. Meminta berkat bagi yang mengutuk dan mendoakan  yang mencaci kita, sebab dengan demikian kuta juga telah ikut dalam kehendak Allah untuk menghentikan siklus kejahatan dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. 

Ketika kita belajar untuk hidup di dalam kasih dengan tanpa batas, maka kita sedang melakukan 2 hal penting yang di kehendaki oleh Yesus.
1. Ketika kita melakukannya, kita juga sedang mengalahkan ego pribadi.
2. Kita juga sedang mengalahkan sifat buruk musuh tanpa dia merasa kalah. Alasannya, karena kebaikan kita akan membuatnya malu dengan perbuatannya sendiri. Itu akan menghancurkan kekerasan serta dendam dalam hatinya (bdk. Rom. 12:20).

Hidup mengasihi adalah identitas orang orang kudus, ketika Yesus mengajarkan kita untuk hidup saling mengasihi sebenarnya Yesus juga ingin agar kita melihat diri kita sendiri, sebab dalam diri setiap orang percaya bukan daging kita lagi yang berkuasa, melainkan Kristus sendiri yang telah menolong dan membenarkan kita. Oleh karena itu, supaya kasih itu benar benar nyata maka kita harus hidup dalam Tuhan dan berakar pada karakter Allah. 

Marilah kita hidup di dalam kehendak Allah, pengajaran Yesus ini bukan hanya peringatan atau nasihat. Kita harus belajar dalam tiap saat untuk berjuang di dalam kasih. Tetaplah bersandar kepada Kristus dan melihat kepada kasihNya agar kita juga di mampukan oleh Allah untuk mengasihi sesama kita. 


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semuanya .... amin 🙏

Sabtu, 21 Maret 2026

Bahan Persekutuan Doa - Ibadah Muda mudi Lutheran GKLI di minggu Letare


Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

21 Maret 2026

 

1.      Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang)

1. Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
Bagai bunga t'rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita, kebimbangan, t'lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b'ri sinarMu menyerap.

2. Kau memb'ri, Kau mengampuni, kau limpahkan rahmatMu
Sumber air hidup ria, lautan kasih dan restu.
Yang mau hidup dalam kasih Kau jadikan milikMu
Agar kami menyayangi, meneladan kasihMu.

3. Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinarMu.
Para malak, tata surya naikkan puji bagiMu
Padang, hutan dan samud'ra, bukit, gunung dan lembah,
Margasatwa bergembira 'ngajak kami pun serta.

 

2.      Doa Pembuka.

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

 

3.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 640 : 1 – 3 (Jika jiwa ku Berdoa)

o  Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t'rima
saja pemberian tanganMu dan mengaku, s'perti Yesus
di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

o  Apa juga yang Kautimbang baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya, walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah.

o  Aku cari penghiburan hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja perlindungan hidupku.
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah.

 

 

4.      Renungan Firman (Pendalaman Alkitab)

Ayat Renungan : Yesaya 42 : 14 - 21

Thema               : Tuhan Allah BErkenan kepada kita                  

Tujuan               : Supaya kita tahu bahwa Allah berkenan kepada kita orang percaya :

1.       Tuhan Allah menuntun orang yang berkenan kepadaNya.

2.      Jangan ada berhala bagimu

3.      Hendaklah kita melihat dan mendengar FirmanNya

4.      Jangan kita mendukakan hati Tuhan

             Hafalan             : Yesaya 42 : 21

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 355 : 1 – 3 (Yesus Memanggil)

1. Yesus memanggil, "Mari seg'ra!" Ikutlah jalan s'lamat baka;
jangan sesat, dengar sabdaNya, "Hai marilah seg'ra!"

         Reff : Sungguh, nanti kita 'kan senang, bebas dosa hati pun tent'ram
              Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.

2. Hai marilah, kecil dan besar, biar hatimu girang benar.
Pilihlah Yesus jangan gentar. Hai mari datanglah!

         Reff : Sungguh, nanti kita 'kan senang, bebas dosa hati pun tent'ram
              Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.

3. Jangan kaulupa, Ia serta; p'rintah kasihNya patuhilah.

               Mari dengar lembut suaraNya, "AnakKu, datanglah!"

           Reff : Sungguh, nanti kita 'kan senang, bebas dosa hati pun tent'ram
                Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.

 

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami

7.      Latihan Koor

 

  

Jumat, 20 Maret 2026

BAPTISAN BAYI

BAPTISAN BAYI

Sejak awal berdirinya Gereja, Gereja telah membaptis bayi dan anak-anak kecil dari orang percaya. SEBAB ketika orang Kristen pertama dibaptis, anak-anak mereka, keluarga, dan seluruh rumah tangga mereka juga ikut serta. (Kisah Para Rasul 2:37-40 , Kisah Para Rasul 16:15 , Kisah Para Rasul 16:33 , Kisah Para Rasul 18:8 , 1 Korintus 1:16 ) 
Baptisan anak mulai paling lambat pada abad ke-4 (300-400 M), sebagian besar orang Kristen dibaptis segera setelah mereka lahir. Bahkan hingga saat ini, sebagian besar orang Kristen dibaptis saat masih kanak-kanak.

Gerakan Anabaptis terjadi pada abad ke-16 (1500-1600 M) dan ini adalah tradisi Kristen pertama yang menentang baptisan bayi. 

Martin Luther menunjukkan bahwa poin pertama yang perlu dikemukakan ketika membela pembaptisan anak-anak. Yesus berjanji bahwa Ia akan membangun Gereja-Nya dan pintu-pintu neraka tidak akan mengalahkannya. ( Matius 16:18 ) Jika baptisan bayi tidak sah, ia berpendapat, Gereja tidak akan ada pada zaman mereka, dan Yesus akan menjadi nabi palsu. Karena Gereja telah ada, telah berkembang, dan telah melakukan kehendak Allah untuk memberitakan Injil, maka baptisan bayi pasti sah.

#vdma

Kamis, 19 Maret 2026

Baptisan menghubungkan kita dengan Kristus

BAPTISAN
Baptisan menghubungkan kita dengan Kristus. Kita dipersatukan dengan-Nya dalam kematian-Nya, dan ketika Ia bangkit dari kematian, kita pun bangkit bersama-Nya. pegunungan yang paling mendalam yang dapat kita miliki. Namun, ada lebih dari itu. Ketika kita dipersatukan dengan Kristus, kita juga dijadikan dari-Nya, yaitu Gereja.  saudara-saudari dalam Kristus yang akan hidup bersama kita semua.

Ketika Yesus  -Nya kepada para rasul-Nya, Ia menginstruksikan mereka untuk memasuki murid dari semua bangsa, dengan membaptis mereka menari mereka. (Matius 28:18-20 ) Ketika kita dibaptis, kita dimasukkan ke dalam Kristus. Allah tahu kita akan saling mendengarkan dan karena itu Ia mempersatukan kita. ( 1 Korintus 12:12-27 ) Dalam satu tubuh ini, kita dipersatukan oleh Roh Kudus. satu Tuhan, satu pengharapan, satu iman, dan satu Allah dan Bapa kita semua. ( Efesus 4:4-6 )

Gereja hanya akan satu kali pembaptisan hidup bagi anak, orang maupun tua yang akan mempersatukan kita Allah. dengan cara ini, kehidupan keluarga rohani orang Kristen baru dapat menyambut mereka dan bersukacita bersama Tuhan anak-Nya, yang dulunya hilang, kini telah dan waktunya pulang untuk bersama-Nya dan mereka tersayang.

#vdma

theologi Lutheran

Disini Firman Allah menjadi daging

Di Israel ada sebuah tulisan terukir pada prasasti kuno tepat di lantai sebuah gereja yang bertuliskan Verbum Caro Hic Factum Est (di sinila...

what about theologi luther ?