Kamis, 03 September 2026

Setia kepada Allah, menjauhkan diri dari kesesatan - 2 Tesalonika 2:3-4

Shalom...

Firman Allah untuk kita.
2 Tesalonika 2 : 3-4
 (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

Saudara saudari, jikalau kita belajar tentang latar belakang kisah ini, sesungguhnya Jemaat di Tesalonika sedang dilanda kebingungan dan kegelisahan. Ada penyesat yang meniupkan kabar angin bahwa "Hari Tuhan" atau kedatangan Kristus yang kedua kali sudah tiba. Akibatnya, sebagian jemaat menjadi panik, berhenti bekerja, dan kehilangan fokus pada iman mereka.

Melalui Rasul Paulus, Roh Kudus memberikan peringatan keras yang mengguncang sekaligus menghibur kita hari ini. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebelum fajar kemenangan kekal itu tiba, sejarah dunia akan melewati masa-masa kegelapan rohani yang hebat. Kita diajar untuk tidak terkejut, tidak terseret, melainkan berdiri teguh di atas satu-satunya fondasi yang kokoh yaitu Kristus yang disalibkan dan bangkit bagi kita.

Oleh karena itu, jika ada ada ajaran yang berpusat pada kehebatan manusia, pencapaian moral kita, atau kepintaran kita untuk menyelamatkan diri sendiri, maka di sanalah rahasia kedurhakaan itu bekerja. Dan jikalau mimbar dalam gereja juga tidak lagi memberitakan Kristus yang disalibkan sebagai satu-satunya jalan keselamatan, melainkan mengagungkan otoritas manusia, nubuat-nubuat palsu, atau kepuasan duniawi, maka gereja sedang membuka pintu bagi kemurtadan.
Sebagai umat tebusan Allah, berhati hatilah dan kembalilah kepada jalan yang benar.
Sebab Injil menyatakan bahwa keselamatan kita tidak bergantung pada seberapa kacau dan menakutkannya dunia ini. Keselamatan kita dijamin oleh Dia yang telah duduk di takhta sejati. Manusia manusia durhaka akan mencoba duduk di Bait Allah untuk menyamakan diri dengan Allah, pada akhirnya semua itu akan sia sia dan menjadi kutuk oleh karena ketidak percayaan. Percayalah dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati, yang mengosongkan diri-Nya, turun ke dunia, bukan untuk dilayani melainkan untuk disalibkan demi menebus dosa-dosa kita.

Di atas kayu salib, Yesus mengalami "kebinasaan" yang seharusnya menjadi milik kita, agar kita yang percaya kepada-Nya memperoleh kehidupan kekal. Kuasa dosa, maut, dan iblis telah dipatahkan di Kalvari.

Oleh karena itu, marilah berpegang Teguh pada Firman dan Sakramen. Jangan biarkan dirimu diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran. Berdirilah teguh pada ajaran Alkitab. Datanglah ke altar Tuhan untuk menerima tubuh dan darah Kristus yang menguatkan dan meneguhkan iman kita ditengah pencobaan. Selagi Tuhan masih memberi kesempatan dan nafas hidup, Janganlah mengejar kekristenan yang hanya menawarkan kenyamanan duniawi atau meninggikan ego manusia. Tetapi, setialah memandang salib Kristus, di mana kekuatan Allah dinyatakan dalam kelemahan, dan kemenangan dinyatakan dalam penderitaan. Dan tetaplah setia menjalankan panggilan hidup kita sehari-hari untuk bekerja dengan bertanggungjawab, mengasihi sesama, dan bersaksi dengan keyakinan penuh bahwa masa depan kita aman di dalam tangan Tuhan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Minggu, 30 Agustus 2026

hidup dalam pemeliharaan Allah - 1 tesalonika 3:12-13

Shalom....

Firman Allah untuk kita
1 Tesalonika 3 : 12-13
 (12) Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. (13) Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

Saudara saudari, dalam bacaan firman Tuhan untuk kita pada pagi hari ini dapat kita lihat bahwa Rasul Paulus mendoakan jemaat di Tesalonika bukan agar mereka menyelamatkan diri mereka sendiri dengan perbuatan baik, melainkan agar Tuhan sendiri yang berkarya di dalam mereka. Perhatikan kalimat pertamanya: "Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih...". Di sini, Tuhan adalah subjek utama, Dialah pelaku yang menumbuhkan kasih dan kekudusan di dalam hati kita. Dan oleh itu juga, firman ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih Kristen bukanlah hasil usaha moral manusiawi, melainkan aliran kasih Kristus yang telah mengosongkan diri-Nya di kayu salib untuk kita. Kasih ini tidak memiliki batas. Kita dipanggil untuk mengasihi “seorang terhadap yang lain” (sesama jemaat/saudara seiman) dan “terhadap semua orang” (termasuk mereka yang belum percaya atau bahkan yang memusuhi kita). Kasih Lutheran adalah kasih yang aktif di dalam panggilan hidup sehari-hari (vocation), melayani tetangga, keluarga, dan rekan kerja demi memuliakan Allah.

Saudara saudari, Paulus memang mengetahui bahwa jemaat sedang menghadapi penderitaan dan pencobaan duniawi. Namun dalam kesusahan hidup mereka Firman Tuhan ini tetap diberitakan secara murni dan Sakramen yang dilayankan dengan benar, dan demikianlah karya atau cara Allah datang "menguatkan hati" mereka dan kita juga agar iman tidak goyah.

Oleh karena itu, dalam perjalan hidup kita, marilah kita mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita sering kekurangan kasih. Datanglah pada Kristus yang kasih-Nya tidak pernah kering. Dan marilah juga mempergunakan waktu hidup kita di dunia bukan hanya fokus untuk mengumpulkan harta fana, melainkan untuk saling membangun dalam kasih dan menjaga kekudusan hidup.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Sabtu, 29 Agustus 2026

Acara Ibadah muda mudi lutheran - minggu XII setelah Trinitatis

 

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

03 Agustus 2024

 

1.      Bernyanyi dari KJ No. 02 : 1 – 3 (Suci suci suci)

Ø Suci, suci, suci Tuhan Maha kuasa! Dikau kami puji di pagi yang teduh.
Suci, suci, suci, murah dan perkasa, Allah Tritunggal, agung namaMu!

Ø Suci, suci, suci! Kaum kudus tersungkur di depan takhtaMu memb'ri mahkotanya
Segenap malaikat sujud menyembahMu, Tuhan, Yang Ada s'lama-lamanya.

Ø Suci, suci, suci! Walau tersembunyi, walau yang berdosa tak nampak wajahMu,
Kau tetap Yang Suci, tiada terimbangi, Kau Mahakuasa, murni kasihMu

 

2.      Doa Pembuka.

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

 

3.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 640 : 1 – 3 (Jika jiwa ku Berdoa)

o  Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t'rima
saja pemberian tanganMu dan mengaku, s'perti Yesus
di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

o  Apa juga yang Kautimbang baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya, walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah.

o  Aku cari penghiburan hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja perlindungan hidupku.
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah.

 

 

 

 

 

 

4.      Renungan Firman (Pendalaman Alkitab)

Ayat Renungan : Mazmur 103 : 8 – 14

Thema               : Dan Ampunilah kami akan kesalahan kami, akan kesalahan kami seperti kami 

                             mengampuni orang yang bersalah kepada kami.       (Hal. 122 – 123)

Tujuan               : Supaya Anak Remaja, atau para pemuda/i percaya bahwa :

1.      Kita perlu mengakui segala dosa di hadapan Allah

2.      Kita tidak bisa menutup nutupi dosa di hadapan Allah

3.      Pengmpunan Bapa menuntun kita untuk mengampuni orang lain ketika bersalah kepada kita.

             Hafalan             : Doa Bapa Kami – Permohonan kelima berserta dengan maksudnya;

                                         Lukas 6 : 36; Lukas 18 : 13.

DOA BAPA KAMI PERMHONAN KE V

Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.

Maksudnya adalah:

Kita minta di dalam doa ini supaya Bapa yang di Sorga tidak memperhitungkan dosa maupun mempertimbangkannya, sehingga menolak permintaan kita. Karena kita tidak patut meminta sesuatu maupun mempunyai hak atas yang kita minta itu. Tetapi supaya Dia memberikannya semua kepada kita sebagai anugerah; walaupun kita setiap hari melakukan banyak dosa dan sesungguhnya kita tidak mempunyai hak akan yang kita minta, tetapi hanya hukuman saja yang patut bagi kita. Maka hendaklah kita juga mengampuni dengan hati yang sungguh dan selalu bersedia berbuat baik kepada mereka yang bersalah kepada kita.

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 344 : 1 – 4 (Ingat akan nama Yesus)

1. Ingat akan nama Yesus, kau yang susah dan sedih: Nama
itu menghiburmu k'mana saja kau pergi.

       Reff : Indahlah namaNya, pengharapan dunia!
             Indahlah namaNya, suka sorga yang baka!

2. Bawa nama Tuhan Yesus, itulah perisaimu.
Bila datang pencobaan, itu yang menolongmu.

       Reff :

 3. Sungguh agung nama Yesus, hati kita bergemar.
Bila kita dirangkulNya, sukacita pun besar.

        Reff:

4. Bila mendengar namaNya, baiklah kita menyembah
dan mengaku Dia Raja kini dan selamanya.

        Reff:

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami

7.      Latihan Koor


Kamis, 20 Agustus 2026

Menderita Oleh karena Injil - Filp 3:1 - 10

Shalom

Firman Allah untuk kita.
Filipi 3 : 1, 3-1b, 2-3, 10
 (1) Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. (2) Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, (3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. (10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

Saudara saudari, lewat khotbah kita pada saat ini, 
Rasul Paulus membuka  pasal 3 ini dengan sebuah ajakan yang indah: "Bersukacitalah dalam Tuhan!" (ay. 1). Namun tahukah anda maksudnya sukacita itu ?.
Sukacita Kristen kah iya sukacita yang bukan berdasarkan atas perasaan emosional yang dangkal. Sukacita ini sungguh adalah ketenangan batin yang lahir dari kepastian keselamatan. Sebagai jemaat Lutheran, kita tahu bahwa sukacita sejati tidak bersumber dari apa yang telah kita lakukan untuk Tuhan, melainkan dari apa yang telah Tuhan lakukan untuk kita di atas kayu salib, sehingga kita beroleh kebebasan atau kemerdekaan di dalam Kristus.

Oleh karena kebenaran Yesus Kristus dan kesetiaanNya
Kita telah beroleh pembenaran dan mengenakan jubah kebenaran Kristus. Ketika Allah memandang kita, Dia tidak lagi melihat dosa kita, melainkan melihat kesucian Putra-Nya yang tunggal yang telah membangun tubuh-Nya atas kita dan atas kehendakNya ia telah menang. Kebenaran ini adalah hadiah murni.

Oleh karena itu, sebagai orang percaya yang telah dibenarkan, maka marilah kita Jangan membiarkan rutinitas agama atau pelayanan membuat kita merasa lebih suci dari orang lain. Dan bangkitlah  dari keputusasaan dosa karena Kristus telah menang atas maut. Serta ikutlah menderita oleh karena Injil. Dan ingatlah bahwa penderitaan kita di dunia tidak sebanding dengan kemuliaan surgawi yang menanti.

Mari kita tanggalkan segala kesombongan rohani kita. Di kaki salib Yesus, kita semua adalah pengemis yang membutuhkan kasih karunia. Bersukacitalah, karena kebenaran saudara aman di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Hidup dalam baptisan hari lepas hari - Kolose 2 : 6 - 12

Shalom...

Firman Allah untuk kita
Kolose 2 : 6-12
(6) Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. (7) Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (9) Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, (10) dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.

Saudara saudari, Pernahkah Anda merasa bahwa iman Kristen Anda harus ditambahkan dengan aturan-aturan manusiawi, filsafat moralitas, atau ritual-ritual tertentu agar Anda merasa "cukup" di hadapan Allah? 
Dalam perikop kita hari ini, Jemaat di Kolose sedang menghadapi godaan yang persis sama. Rasul Paulus menulis surat ini karena ada guru-guru palsu yang menyelundupkan ajaran legalisme dan filsafat kosong, seolah-olah Kristus saja tidak cukup.

Paulus memulainya dengan berkata “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Ayat 6). Dalam bahasa aslinya, kata "menerima" merujuk pada menerima tradisi Injil yang murni. Sebagai orang Lutheran, kita diajar untuk tidak mencari wahyu-wahyu baru di luar Alkitab (Sola Scriptura). Meskipun dunia selalu menawarkan banyak "akar" palsu yang mungkin dapat dimulai dari kekayaan, pengakuan, hingga filsafat sekuler. Namun, ingatlah pada hari ini Firman Allah lewat Paulus menegaskan bahwa di dalam Kristuslah berdiam secara jasmani seluruh kepenuhan kealahan (Ayat 9). Jika Kristus adalah Allah yang inkarnasi dan Dia adalah milik kita, maka kita tidak kekurangan apa pun. Hidup Kristen bukanlah tentang pencapaian moralitas manusia, melainkan tentang berakar dan dibangun di atas Kristus (Ayat 7).

Jika kita kembali kepada masa dalam perikop ini, sesungguhnya pada saat itu memang sedang terjadi penyesatan dimana penyesat meminta setiap orang Kristen non-Yahudi untuk disunat agar selamat. Tetapi teologi Lutheran diajarkan kepada kita seperti dalam Alkitab bahwa diluar Kristus tidak ada keselamatan dan tidak perlu menambahkan sedikit perbuatan baik untuk menjadikannya sempurna sebab karya Kristus adalah sempurna untuk keselamatan kita. Oleh karena itu, Paulus membandingkannya dengan "sunat Kristus", yaitu penanggalan akan tubuh yang berdosa (Ayat 11). Ini bukan dikerjakan oleh tangan manusia, melainkan oleh Allah sendiri. Sifat manusia lama kita yang berdosa telah dipotong dan ditanggalkan bukan karena kita taat hukum Taurat, melainkan karena kita telah dipersatukan dengan kematian Kristus di salib dan kebangkitanNya lewat baptisan Kudus seperti dalam ayat 12.

Dalam Katekhismus Kecil Martin luther diajarkan kepada kita bahwa air Baptisan bukanlah air biasa, melainkan air yang terkandung dalam firman Allah dan dihubungkan dengan firman Allah. Dimana lewat Baptisan itu, manusia lama kita dikuburkan bersama Kristus. Kita mati terhadap dosa. Dan keluar dari air itu, kita bangkit sebagai ciptaan baru. Dan pada saat yang sama kita juga menerima Iman, meskipun Iman itu tidak dapat kita lihat dan kita ukur.  
Perhatikan kalimat dalam ayat 12 “oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah.” dalam terjemahan Alkitab Jerman oleh Martin Luther (1545) memperjelas teks ini sebagai genitivus subjektivus, yang bermaksud bahwa iman itu sendiri adalah pekerjaan atau ciptaan dari kuasa Allah (den Glauben, den Gott wirket). Karena itu, kita tidak bangkit karena kekuatan iman kita sendiri, melainkan karena iman yang dianugerahkan oleh Roh Kudus melalui sarana Baptisan tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita hidup bergantung kepada Kristus karena lewat Renungan hari ini, FirmanNya kembali mengingatkan kita untuk kembali pada identitas Baptisan kita setiap hari. Saat iblis mendakwa dosa-dosa kita, atau saat dunia mengintimidasi kita dengan filsafatnya, marilah kita berkata dengan teguh: "Aku telah dibaptis! Aku telah dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus!" Sebab dengan pernyataan ini, sesungguhnya kita telah mengaku bahwa di dalam Kristus, status hutang dosa kita telah dihapus dan dipakukan di kayu salib. Maka hiduplah dengan melimpah dengan syukur, teguh dalam iman yang murni, dan tidak goyah oleh rupa-rupa angin pengajaran dunia. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Rabu, 19 Agustus 2026

Bersandarlah pada pembenaran oleh Iman - Kolose 1:4,9-14

Shalom..

Firman Allah untuk kita.
Kolose 1 : 4, 9-14
 (4) karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, (9) Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, (10) sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, (11) dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, (12) dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. (13) Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; (14) di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.


Saudara saudari, Ketika Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Kolose, ia memulai bukan dengan daftar tuntutan atau evaluasi moral manusia. Ia memulainya dengan ucapan syukur atas apa yang telah Allah kerjakan di dalam diri mereka. 
Melalui Renungan kita dari Kolose 1:4-9, kita dibawa untuk melihat esensi dari teologi Kristen yang sejatiyaitu sebuah teologi konfesional yang menempatkan Kristus dan karya-Nya sebagai pusat dari segala sesuatu.

Jikalau kita melihat ayat 4-5 ini adalah sebuah pengakuan kita yang menekankan menekankan bahwa iman bukanlah hasil keputusan atau kehendak bebas manusia yang berdosa. Iman adalah murni karunia Allah (Sola Gratia) yang dikerjakan oleh Roh Kudus melalui alat-alat rahmat (Means of Grace), yaitu pemberitaan Injil dan layanan sakramen.

Dengan keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa dan dipenuhi oleh Dosa membuat kita tidak mencari Allah atas kehendak dan kekuatan kita, namun dalam kegagalan kita ini, kasih setia dan kuasa Allah tetap memelihara dan menyatakan diri kepada kita lewat Injil yang kita terima dan yang telah melahirkan iman di dalam hati kita. 
Oleh karena itu, sesungguhnya pengharapan kita kehidupan yang abadi telah aman di surga bukan karena kita telah hidup sempurna, melainkan karena Kristus telah menyediakannya bagi kita secara cuma-cuma melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Bahkan, jikalau kita melihat kepada ayat 6, jelas dapat kita memahami dengan nyata bahwa ketika jemaat Kolose mendengar dan mengenal "kasih karunia Allah dengan sebenarnya," maka Injil itu sendirilah yang secara otomatis menghasilkan buah di dalam hidup mereka. 
Oleh karena itu, Renungan kita hari ini mengajarkan kita bahwa seorang Lutheran yabg sejati tidak akan melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai buah spontan dari keselamatan yang telah ia terima. Seperti yang dikatakan Martin Luther: "Iman adalah hal yang hidup dan berkuasa; ia tidak bertanya apakah ada perbuatan baik yang harus dilakukan, tetapi sebelum sempat bertanya, ia sudah melakukannya."

Dalam dunia rohani saat ini, banyak orang mencari "hikmat" dalam bentuk tanda-tanda ajaib, kesuksesan duniawi, atau pengalaman mistis yang subjektif. Namun, bagi Paulus lewat firman ini diajarkan kepada kita bahwa hikmat yang benar selalu bersifat Kristosentris. Mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna berarti mengenal Kristus yang disalibkan sebagai satu-satunya hikmat Allah (1 Kor. 1:24). Hikmat rohani ini menundukkan akal budi kita di bawah otoritas Alkitab (Sola Scriptura) dan menjaga kita agar tidak terombang-ambing oleh ajaran-ajaran sesat yang berpusat pada moralitas manusia atau legalisme baru.

Oleh karena itu, Jika hari ini imanmu goyah atau kasihmu mulai mendingin, jangan memandang kepada dirimu sendiri atau kekuatan hatimu. Pandanglah kepada Kristus. Dengarlah kembali Firman Kebenaran, yaitu Injil yang telah menyelamatkanmu. Biarlah Roh Kudus yang memurnikan pengertian kita, sehingga kita tidak mengandalkan kesalehan diri kita sendiri, melainkan hanya bersandar pada pembenaran oleh iman di dalam Yesus Kristus. Di dalam Dia, iman kita berakar, dan oleh Injil-Nya, hidup kita akan terus berbuah bagi kemuliaan nama-Nya. Amin

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Bersukacitalah dalam penderitaan - Kolose 1:24-25

Shalom.
Firman Allah untuk kita.
Kolose 1 : 24-25
 (24) Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. (25) Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,

Saudara saudari, Dunia selalu mengajarkan kita untuk mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Bahkan sering juga kita berpikir bahwa mengikut Yesus berarti jalan hidup kita akan selalu mulus dan bebas dari masalah. Namun, dalam pembacaan kita hari ini, Rasul Paulus justru membawa sebuah pernyataan yang mengejutkan iman kita. Dari balik jeruji penjara Romawi, ia menulis: "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu.
Apakah maksudnya rasul Paulus bersukacita oleh penderitanya? Dan Bagaimana mungkinkah penderitaan itu dapat mendatangkan sukacita? 
Saudara saudari, dalam teologi Lutheran, jawaban atas misteri ini tidak ditemukan dalam kekuatan emosi manusia, melainkan dalam Teologi Salib (Theologia Crucis). Dan melalui nas ini, Allah mau menyatakan rahasia panggilan gereja-Nya di tengah dunia.

Di ayat 24, Paulus menulis kalimat yang sering disalahartikan: "...dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus.
Sebagai orang percaya yang telah dinateraikan dengan darah Kristus. Hendaklah kita berdiri teguh di atas prinsip Solus Christus (Hanya Kristus) dan Sola Gratia (Hanya Anugerah), kita harus tegas menyatakan bahwa karya penebusan Kristus di atas kayu salib sungguh SEMPURNA! 
Ketika Yesus berseru, "Sudah selesai!" (Yohanes 19:30), itu artinya segala utang dosa kita telah lunas dibayar total. Dengan karya Kristus tersebut, sesungguhnya tidak ada satu pun penderitaan manusia baik penderitaan Paulus, penderitaan para martir, maupun penderitaan kita yang dapat menambah atau menyempurnakan keselamatan yang dari Kristus. 
Lalu, apakah yang dimaksud dengan "menggenapkan apa yang kurang dalam ayat 24?Maksudnya adalah penderitaan dalam pelayanan Injil (distribusi kasih karunia). Kristus sudah menderita untuk menyelamatkan jemaat-Nya, dan kini, tubuh-Nya (yaitu Gereja) dipanggil untuk ikut memikul salib-Nya di dunia. Dunia yang membenci Kristus tentu juga akan membenci jemaat-Nya. Penderitaan yang Paulus alami adalah bukti nyata bahwa ia melekat pada Kristus. Ketika kita menderita karena kebenaran, karena menyatakan kasih, dan karena mengikut Yesus, kita sedang berada dalam persekutuan penderitaan Kristus oleh kebenaran. 

Dan pada ayat 25 Paulus melanjutkannya dengan mengatakan "Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu."
Mari, Perhatikan kata "dipercayakan Allah". Dalam pandangan teologi Lutheran, pelayanan (baik sebagai pendeta, majelis, sintua maupun setiap orang percaya dalam profesinya sehari-hari/vokasi) bukanlah ambisi pribadi atau panggung untuk mencari kehormatan. Sebab pelayanan adalah penugasan kudus dari Allah. Dan tugas utama pelayan jemaat adalah: meneruskan Firman-Nya dengan sepenuhnya. Firman yang sepenuhnya ini berarti menyuarakan Hukum Taurat dan Injil secara murni. Taurat yang membongkar dosa kita, dan Injil yang membalut kita dengan pengampunan total di dalam Kristus. 

Oleh karena itu, sesungguhnya setiap pelayanan Lutheran yang sejati tidak berfokus pada mukjizat kemakmuran atau motivasi sukses duniawi, melainkan membawa jemaat kembali kepada Kristus yang disalibkan. Oleh karena itu, marilah kita mengubah cara pandang kita terhadap penderitaan, pandanglah setiap penderitaan itu dengan tetap mengingat Yesus Kristus bahwa penderitaan kita tidak sebanding dengan yang Kristus alami, dan percayalah bahwa Tuhan berkuasa menolong kita untuk melewati dan mengalahkan penderitaan dan setialah pada panggilan Kristus.  
Dan percayalah juga bahwa masa depan kita aman di dalam Dia yang telah bangkit. Mari kita terus melayani jemaat-Nya, menceritakan Firman-Nya, dan memikul salib kita dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus Kristus sang Kepala Gereja.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

theologi Lutheran

Setia kepada Allah, menjauhkan diri dari kesesatan - 2 Tesalonika 2:3-4

Shalom... Firman Allah untuk kita. 2 Tesalonika 2 : 3-4  (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun ju...

what about theologi luther ?