Kamis, 20 Agustus 2026

Menderita Oleh karena Injil - Filp 3:1 - 10

Shalom

Firman Allah untuk kita.
Filipi 3 : 1, 3-1b, 2-3, 10
 (1) Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. (2) Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, (3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. (10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

Saudara saudari, lewat khotbah kita pada saat ini, 
Rasul Paulus membuka  pasal 3 ini dengan sebuah ajakan yang indah: "Bersukacitalah dalam Tuhan!" (ay. 1). Namun tahukah anda maksudnya sukacita itu ?.
Sukacita Kristen kah iya sukacita yang bukan berdasarkan atas perasaan emosional yang dangkal. Sukacita ini sungguh adalah ketenangan batin yang lahir dari kepastian keselamatan. Sebagai jemaat Lutheran, kita tahu bahwa sukacita sejati tidak bersumber dari apa yang telah kita lakukan untuk Tuhan, melainkan dari apa yang telah Tuhan lakukan untuk kita di atas kayu salib, sehingga kita beroleh kebebasan atau kemerdekaan di dalam Kristus.

Oleh karena kebenaran Yesus Kristus dan kesetiaanNya
Kita telah beroleh pembenaran dan mengenakan jubah kebenaran Kristus. Ketika Allah memandang kita, Dia tidak lagi melihat dosa kita, melainkan melihat kesucian Putra-Nya yang tunggal yang telah membangun tubuh-Nya atas kita dan atas kehendakNya ia telah menang. Kebenaran ini adalah hadiah murni.

Oleh karena itu, sebagai orang percaya yang telah dibenarkan, maka marilah kita Jangan membiarkan rutinitas agama atau pelayanan membuat kita merasa lebih suci dari orang lain. Dan bangkitlah  dari keputusasaan dosa karena Kristus telah menang atas maut. Serta ikutlah menderita oleh karena Injil. Dan ingatlah bahwa penderitaan kita di dunia tidak sebanding dengan kemuliaan surgawi yang menanti.

Mari kita tanggalkan segala kesombongan rohani kita. Di kaki salib Yesus, kita semua adalah pengemis yang membutuhkan kasih karunia. Bersukacitalah, karena kebenaran saudara aman di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Hidup dalam baptisan hari lepas hari - Kolose 2 : 6 - 12

Shalom...

Firman Allah untuk kita
Kolose 2 : 6-12
(6) Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. (7) Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (9) Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, (10) dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.

Saudara saudari, Pernahkah Anda merasa bahwa iman Kristen Anda harus ditambahkan dengan aturan-aturan manusiawi, filsafat moralitas, atau ritual-ritual tertentu agar Anda merasa "cukup" di hadapan Allah? 
Dalam perikop kita hari ini, Jemaat di Kolose sedang menghadapi godaan yang persis sama. Rasul Paulus menulis surat ini karena ada guru-guru palsu yang menyelundupkan ajaran legalisme dan filsafat kosong, seolah-olah Kristus saja tidak cukup.

Paulus memulainya dengan berkata “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Ayat 6). Dalam bahasa aslinya, kata "menerima" merujuk pada menerima tradisi Injil yang murni. Sebagai orang Lutheran, kita diajar untuk tidak mencari wahyu-wahyu baru di luar Alkitab (Sola Scriptura). Meskipun dunia selalu menawarkan banyak "akar" palsu yang mungkin dapat dimulai dari kekayaan, pengakuan, hingga filsafat sekuler. Namun, ingatlah pada hari ini Firman Allah lewat Paulus menegaskan bahwa di dalam Kristuslah berdiam secara jasmani seluruh kepenuhan kealahan (Ayat 9). Jika Kristus adalah Allah yang inkarnasi dan Dia adalah milik kita, maka kita tidak kekurangan apa pun. Hidup Kristen bukanlah tentang pencapaian moralitas manusia, melainkan tentang berakar dan dibangun di atas Kristus (Ayat 7).

Jika kita kembali kepada masa dalam perikop ini, sesungguhnya pada saat itu memang sedang terjadi penyesatan dimana penyesat meminta setiap orang Kristen non-Yahudi untuk disunat agar selamat. Tetapi teologi Lutheran diajarkan kepada kita seperti dalam Alkitab bahwa diluar Kristus tidak ada keselamatan dan tidak perlu menambahkan sedikit perbuatan baik untuk menjadikannya sempurna sebab karya Kristus adalah sempurna untuk keselamatan kita. Oleh karena itu, Paulus membandingkannya dengan "sunat Kristus", yaitu penanggalan akan tubuh yang berdosa (Ayat 11). Ini bukan dikerjakan oleh tangan manusia, melainkan oleh Allah sendiri. Sifat manusia lama kita yang berdosa telah dipotong dan ditanggalkan bukan karena kita taat hukum Taurat, melainkan karena kita telah dipersatukan dengan kematian Kristus di salib dan kebangkitanNya lewat baptisan Kudus seperti dalam ayat 12.

Dalam Katekhismus Kecil Martin luther diajarkan kepada kita bahwa air Baptisan bukanlah air biasa, melainkan air yang terkandung dalam firman Allah dan dihubungkan dengan firman Allah. Dimana lewat Baptisan itu, manusia lama kita dikuburkan bersama Kristus. Kita mati terhadap dosa. Dan keluar dari air itu, kita bangkit sebagai ciptaan baru. Dan pada saat yang sama kita juga menerima Iman, meskipun Iman itu tidak dapat kita lihat dan kita ukur.  
Perhatikan kalimat dalam ayat 12 “oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah.” dalam terjemahan Alkitab Jerman oleh Martin Luther (1545) memperjelas teks ini sebagai genitivus subjektivus, yang bermaksud bahwa iman itu sendiri adalah pekerjaan atau ciptaan dari kuasa Allah (den Glauben, den Gott wirket). Karena itu, kita tidak bangkit karena kekuatan iman kita sendiri, melainkan karena iman yang dianugerahkan oleh Roh Kudus melalui sarana Baptisan tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita hidup bergantung kepada Kristus karena lewat Renungan hari ini, FirmanNya kembali mengingatkan kita untuk kembali pada identitas Baptisan kita setiap hari. Saat iblis mendakwa dosa-dosa kita, atau saat dunia mengintimidasi kita dengan filsafatnya, marilah kita berkata dengan teguh: "Aku telah dibaptis! Aku telah dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus!" Sebab dengan pernyataan ini, sesungguhnya kita telah mengaku bahwa di dalam Kristus, status hutang dosa kita telah dihapus dan dipakukan di kayu salib. Maka hiduplah dengan melimpah dengan syukur, teguh dalam iman yang murni, dan tidak goyah oleh rupa-rupa angin pengajaran dunia. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Rabu, 19 Agustus 2026

Bersandarlah pada pembenaran oleh Iman - Kolose 1:4,9-14

Shalom..

Firman Allah untuk kita.
Kolose 1 : 4, 9-14
 (4) karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, (9) Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, (10) sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, (11) dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, (12) dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. (13) Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; (14) di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.


Saudara saudari, Ketika Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Kolose, ia memulai bukan dengan daftar tuntutan atau evaluasi moral manusia. Ia memulainya dengan ucapan syukur atas apa yang telah Allah kerjakan di dalam diri mereka. 
Melalui Renungan kita dari Kolose 1:4-9, kita dibawa untuk melihat esensi dari teologi Kristen yang sejatiyaitu sebuah teologi konfesional yang menempatkan Kristus dan karya-Nya sebagai pusat dari segala sesuatu.

Jikalau kita melihat ayat 4-5 ini adalah sebuah pengakuan kita yang menekankan menekankan bahwa iman bukanlah hasil keputusan atau kehendak bebas manusia yang berdosa. Iman adalah murni karunia Allah (Sola Gratia) yang dikerjakan oleh Roh Kudus melalui alat-alat rahmat (Means of Grace), yaitu pemberitaan Injil dan layanan sakramen.

Dengan keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa dan dipenuhi oleh Dosa membuat kita tidak mencari Allah atas kehendak dan kekuatan kita, namun dalam kegagalan kita ini, kasih setia dan kuasa Allah tetap memelihara dan menyatakan diri kepada kita lewat Injil yang kita terima dan yang telah melahirkan iman di dalam hati kita. 
Oleh karena itu, sesungguhnya pengharapan kita kehidupan yang abadi telah aman di surga bukan karena kita telah hidup sempurna, melainkan karena Kristus telah menyediakannya bagi kita secara cuma-cuma melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Bahkan, jikalau kita melihat kepada ayat 6, jelas dapat kita memahami dengan nyata bahwa ketika jemaat Kolose mendengar dan mengenal "kasih karunia Allah dengan sebenarnya," maka Injil itu sendirilah yang secara otomatis menghasilkan buah di dalam hidup mereka. 
Oleh karena itu, Renungan kita hari ini mengajarkan kita bahwa seorang Lutheran yabg sejati tidak akan melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai buah spontan dari keselamatan yang telah ia terima. Seperti yang dikatakan Martin Luther: "Iman adalah hal yang hidup dan berkuasa; ia tidak bertanya apakah ada perbuatan baik yang harus dilakukan, tetapi sebelum sempat bertanya, ia sudah melakukannya."

Dalam dunia rohani saat ini, banyak orang mencari "hikmat" dalam bentuk tanda-tanda ajaib, kesuksesan duniawi, atau pengalaman mistis yang subjektif. Namun, bagi Paulus lewat firman ini diajarkan kepada kita bahwa hikmat yang benar selalu bersifat Kristosentris. Mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna berarti mengenal Kristus yang disalibkan sebagai satu-satunya hikmat Allah (1 Kor. 1:24). Hikmat rohani ini menundukkan akal budi kita di bawah otoritas Alkitab (Sola Scriptura) dan menjaga kita agar tidak terombang-ambing oleh ajaran-ajaran sesat yang berpusat pada moralitas manusia atau legalisme baru.

Oleh karena itu, Jika hari ini imanmu goyah atau kasihmu mulai mendingin, jangan memandang kepada dirimu sendiri atau kekuatan hatimu. Pandanglah kepada Kristus. Dengarlah kembali Firman Kebenaran, yaitu Injil yang telah menyelamatkanmu. Biarlah Roh Kudus yang memurnikan pengertian kita, sehingga kita tidak mengandalkan kesalehan diri kita sendiri, melainkan hanya bersandar pada pembenaran oleh iman di dalam Yesus Kristus. Di dalam Dia, iman kita berakar, dan oleh Injil-Nya, hidup kita akan terus berbuah bagi kemuliaan nama-Nya. Amin

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Bersukacitalah dalam penderitaan - Kolose 1:24-25

Shalom.
Firman Allah untuk kita.
Kolose 1 : 24-25
 (24) Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. (25) Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,

Saudara saudari, Dunia selalu mengajarkan kita untuk mencari kenyamanan dan menghindari penderitaan. Bahkan sering juga kita berpikir bahwa mengikut Yesus berarti jalan hidup kita akan selalu mulus dan bebas dari masalah. Namun, dalam pembacaan kita hari ini, Rasul Paulus justru membawa sebuah pernyataan yang mengejutkan iman kita. Dari balik jeruji penjara Romawi, ia menulis: "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu.
Apakah maksudnya rasul Paulus bersukacita oleh penderitanya? Dan Bagaimana mungkinkah penderitaan itu dapat mendatangkan sukacita? 
Saudara saudari, dalam teologi Lutheran, jawaban atas misteri ini tidak ditemukan dalam kekuatan emosi manusia, melainkan dalam Teologi Salib (Theologia Crucis). Dan melalui nas ini, Allah mau menyatakan rahasia panggilan gereja-Nya di tengah dunia.

Di ayat 24, Paulus menulis kalimat yang sering disalahartikan: "...dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus.
Sebagai orang percaya yang telah dinateraikan dengan darah Kristus. Hendaklah kita berdiri teguh di atas prinsip Solus Christus (Hanya Kristus) dan Sola Gratia (Hanya Anugerah), kita harus tegas menyatakan bahwa karya penebusan Kristus di atas kayu salib sungguh SEMPURNA! 
Ketika Yesus berseru, "Sudah selesai!" (Yohanes 19:30), itu artinya segala utang dosa kita telah lunas dibayar total. Dengan karya Kristus tersebut, sesungguhnya tidak ada satu pun penderitaan manusia baik penderitaan Paulus, penderitaan para martir, maupun penderitaan kita yang dapat menambah atau menyempurnakan keselamatan yang dari Kristus. 
Lalu, apakah yang dimaksud dengan "menggenapkan apa yang kurang dalam ayat 24?Maksudnya adalah penderitaan dalam pelayanan Injil (distribusi kasih karunia). Kristus sudah menderita untuk menyelamatkan jemaat-Nya, dan kini, tubuh-Nya (yaitu Gereja) dipanggil untuk ikut memikul salib-Nya di dunia. Dunia yang membenci Kristus tentu juga akan membenci jemaat-Nya. Penderitaan yang Paulus alami adalah bukti nyata bahwa ia melekat pada Kristus. Ketika kita menderita karena kebenaran, karena menyatakan kasih, dan karena mengikut Yesus, kita sedang berada dalam persekutuan penderitaan Kristus oleh kebenaran. 

Dan pada ayat 25 Paulus melanjutkannya dengan mengatakan "Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu."
Mari, Perhatikan kata "dipercayakan Allah". Dalam pandangan teologi Lutheran, pelayanan (baik sebagai pendeta, majelis, sintua maupun setiap orang percaya dalam profesinya sehari-hari/vokasi) bukanlah ambisi pribadi atau panggung untuk mencari kehormatan. Sebab pelayanan adalah penugasan kudus dari Allah. Dan tugas utama pelayan jemaat adalah: meneruskan Firman-Nya dengan sepenuhnya. Firman yang sepenuhnya ini berarti menyuarakan Hukum Taurat dan Injil secara murni. Taurat yang membongkar dosa kita, dan Injil yang membalut kita dengan pengampunan total di dalam Kristus. 

Oleh karena itu, sesungguhnya setiap pelayanan Lutheran yang sejati tidak berfokus pada mukjizat kemakmuran atau motivasi sukses duniawi, melainkan membawa jemaat kembali kepada Kristus yang disalibkan. Oleh karena itu, marilah kita mengubah cara pandang kita terhadap penderitaan, pandanglah setiap penderitaan itu dengan tetap mengingat Yesus Kristus bahwa penderitaan kita tidak sebanding dengan yang Kristus alami, dan percayalah bahwa Tuhan berkuasa menolong kita untuk melewati dan mengalahkan penderitaan dan setialah pada panggilan Kristus.  
Dan percayalah juga bahwa masa depan kita aman di dalam Dia yang telah bangkit. Mari kita terus melayani jemaat-Nya, menceritakan Firman-Nya, dan memikul salib kita dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus Kristus sang Kepala Gereja.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻

Rabu, 12 Agustus 2026

Dibenarkan karena Kristus - Filipi 1:12-25

Shalom

Firman Allah untuk kita.
Filipi 1 : 12-16, 20, 23-25
 (12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. (14) Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. (15) Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. (16) Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, (20) Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. (23) Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; (24) tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. (25) Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

Saudara saudari, jikalau kita renungkan tentang kehidupan kita, sungguhnya dunia kita hari ini sedang dipenuhi dengan kecemasan tentang masa depan. Kita sering bertanya: "Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan?" atau "Apakah saya sudah melakukan bagian saya dengan benar agar diselamatkan?" Dan kebanyakan agama dunia bahkan banyak mimbar Kristen modern selalu menempatkan beban keselamatan kembali ke pundak manusia. Mereka berkata Allah menyediakan jalan, tetapi manusialah yang harus menyelesaikannya.

Melalui renungan kita saat ini, Rasul Paulus menyampaikan kepada jemaat di Efesus melalui Firman ini bahwa kebenaran itu sungguh bersifat radikal, yang artinya Keselamatan Anda bukanlah tentang apa yang Anda lakukan bagi Allah, melainkan tentang apa yang telah Allah selesaikan bagi Anda di dalam Yesus Kristus.

Memang, Jika kita melihat pada diri kita sendiri, tidak ada alasan bagi Allah untuk memilih kita. Sebab tuntutan hukum TauratNya adalah tentang kekudusan yang sempurna, dan Hukum taurat menuntut agar kita memuliakan Allah dengan seluruh hidup kita. Adakah yang setia dalam perkara ini ??.

Dalam kehidupan yang nyata kita, Hati kita sering meragukan janji-janji Allah, iman kita goyah saat badai hidup datang, dan kita sering hidup demi kemuliaan diri kita sendiri, bukan demi "puji-pujian bagi kemuliaan-Nya" (ayat 12). Jika keselamatan digantungkan pada kekuatan iman kita atau konsistensi perbuatan baik kita, maka kita semua akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam, sebab keselamatan yang seutuhnya kita peroleh oleh Yesus Kristus.

Oleh karena itu, Renungan kita saat ini adalah penghiburan pastoral yang sangat agung. Sebab FirmanNya menyatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita di kayu salib dan sekarang telah berada di takhta tertinggi yaitu Surga. Jadi, dengan kemenangan Yesus Kristus sesungguhnya maut telah dikalahkan dan tidak ada kuasa kegelapan, penderitaan, sakit penyakit, atau pemerintah dunia ini yang berada di luar kendali kaki Kristus.

Dan yang paling indah, Yesus telah memimpin segala sesuatu demi kepantasan dan kebaikan Jemaat (Gereja-Nya). Gereja adalah tubuh-Nya. Dan kita semua adalah anggota tubuh-Nya, percayalah bahwa kepala tidak akan pernah membiarkan tubuh-Nya binasa.

Melalui renungan ini, marilah kita jangan mencari kepastian keselamatan di dalam perasaanmu yang naik turun. Dan Jangan mencari kepastian keselamatan pada perbuatan baikmu yang selalu tercemar egoisme. Melainkan, Carilah kepastian keselamatanmu pada Sakramen Baptisan dan Firman Injil di mana Roh Kudus telah memeteraikan Anda menjadi milik Kristus selamanya. Lewat kuasaNya dalam sakramen dan Injil kita telah ditebus oleh darah-Nya, dimeteraikan oleh Roh-Nya, dan dilindungi oleh kuasa kedaulatan-Nya. 
Marilah hidup dalam damai sejahtera yang melampaui segala akal, karena masa depan kita berada di tangan jaminan Allah yang tidak pernah gagal. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Sabtu, 08 Agustus 2026

Acara Ibadah Muda mudi Lutheran minggu IX Setelah Trinitatis

 


Acara Ibadah Muda mudi GKLI

08 Agustus 2026

 

1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 17 : 1 – 3 (Tuhan Allah hadir)

1. Tuhan Allah hadir pada saat ini. Hai sembah sujud disini.
Diam dengan hormat, tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia.
Marilah, umatNya, hatimu serahkan dalam kerendahan.

2. Tuhan Allah hadir, Yang dimuliakan dalam sorga siang - malam
"Suci, suci, suci" untuk selamanya dinyanyikan malak sorga.
Ya Allah, t'rimalah pujian jemaat beserta malaikat.

3. Kami menanggalkan hasrat sia - sia, keinginan manusia;
jiwa raga kami, hidup seluruhnya, Tuhan, kaulah yang empunya.
Dikaulah, Yang Esa, patut dimuliakan seberhana alam.

2.      Doa Pembuka

Bapa kami yang ada di Surga, terpujilah Engkau yang setiap saat memelihara hidup kami, kini kami para pemuda pemudi datang memohon kepada_Mu, sebentar lagi kami akan mendengarkan Firman_Mu yang Kudus, ajar dan bimbing lah kami, peliharalah hati dan pikiran kami agar kami beroleh damai sejahtera dalam menerima dan melakukan Firman_Mu. Bapa di Surga kami juga berdoa untuk masa depan kami, berilah kami Iman yang kuat dan pengharapan yang benar agar kami tetap semangat dalam melewati proses yang kami lalui dalam menggapai cita cita kami, dan kami yakin bahwa Engkau selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Kami juga teringat dengan kedua orang tua kami, berkatilah mereka, berikan kesehatan, umur yang panjang dan kuatkan Iman mereka supaya mereka juga setia untuk mendoakan dan mengajari kami untuk tetap berjalan di dalam kebenaran. Kami juga memohon atas segala dosa dan pelanggaran kami, ampunilah kami dari segala dosa yang kami lakukan dan kuatkanlah kami untuk melawan segala bentuk keinginan daging yang menguasai hati dan pikiran kami agar kami tidak selalu jatuh ke dalam dosa. Kami juga memohon untuk dosa dosa kami, Tuhan ampunilah kami akan dosa yang kami lakukan, kuduskanlah kami, agar kiranya kami layak datang kepada_Mu, memuji dan memuliakan nama_Mu yang Kudus. Dalam nama mu yang kudus kami telah berdoa kepada_Mu. Amin.

 

3.      Bernyanyi dari kidung Jemaat No. 392 : 1 – 3 (Ku Berbahagia)

1. "Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi
kepunyaanku! Aku warisNya, 'ku ditebus, ciptaan baru Rohulkudus.

        Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

2. Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi
melimpahiku. Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.

        Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

3. Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku
hatiku teduh. Sambil menyongsong kembaliNya, 'ku diliputi anugerah.

        Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Renungan

Nats      : Yesaya 55 : 1 – 5

Tema    : Dengarkanlah FirmanNya

Tujuan : supaya Pemuda/I dan seluruh remaja mendengarkan Firman Tuhan

1.      Karena FirmanNya memberikan kita hidup

2.      Karena FirmanNya menuntun kita

3.      Karena FirmanNya yang senantiasa mengingatkan kita

4.      Karena FirmanNya mengajarkan kita akan kebenaran

 

Hafalan : Yesaya 55 : 4

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 410 : 1 – 3 (Tenanglah kini hati ku)

1. Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku.
Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tanganNya.

      Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
           Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

2. Di malam yang gelap benar, di taman indah dan segar,
di taufan dan di laut tenang tetap tanganku dipegang.

        Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
             Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

3. Tak kusesalkan hidupku, betapa juga nasibku,
sebab Engkau dekat, tanganMu kupegang erat.

        Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
             Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

 

6.      Doa Penutup

7.      Latihan Koor

 


Sabtu, 01 Agustus 2026

Evangelium Minggu IX Setelah Trinitatis - Yesus memberi makan 5000 orang Matius 14:13-21

Minggu IX Setelah Trinitatis.
Yesus memberi makan 5000 orang

Matius 14:13-21
Thema : Kristus sang anugerah, Sang Roti Hidup di Padang Gurun Dunia

Saudara saudari setelah Yesus mendengar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis yang kepalanya dipenggal oleh Herodes. Tentu secara manusiawi, Yesus menarik diri ke tempat yang sunyi untuk mengasingkan diri. 
Sebab dengan berita Kematian Yohanes Pembaptis hal itu juga memberitakan bahwa situasi politik dan keagamaan di Galilea sedang sangat memanas, memang kita harus tahu bahwa Yesus menyingkir bukanlah karena Ia takut, melainkan karena waktu-Nya belum tiba untuk ditangkap dan disalibkan. Sebab Dia memang telah mengatur waktu pelayanan-Nya agar genap sesuai rencana Allah Bapa. 
Ketika Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi, orang banyak mengikuti-Nya, dan tempat yang sunyi yang terpencil itu adalah sebuah "padang gurun" dan waktu sudah mulai malam, dan tidak ada makanan.
Lalu para murid melihat situasi itu dengan kacamata kalkulasi manusia. Mereka berkata, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi..." (Ayat 15)
Saudara saudari, perkataan yang di ungkapkan para murid tentu sering kita alami, dalam hidup nyata kita sering melihat "padang gurun" dalam kehidupan kita yang mungkin dapat kita ibaratkan dengan sakit penyakit, kedukaan, kesulitan ekonomi, atau pergumulan dosa bahkan mungkin juga menyimpulkan bahwa Allah tidak peduli atau tidak mampu.
Terlalu sering kita melihat kepada diri kita. Kita mengandalkan apa yang bisa kita beli dan apa yang bisa kita hitung. Pada saat itu murid-murid hanya melihat 5 roti dan 2 ikan. Yang artinya mereka dan kita juga sering hanya melihat keterbatasan kita, dan kita menjadi cemas. Hukum Taurat menyingkapkan hati kita yang tidak percaya dan sering meragukan pemeliharaan Bapa Sorgawi.

Namun, saudara saudari tahukah anda apa respon Yesus atas keraguan para murid ?.
Dalam ayat 14 dikatakan "Ketika Yesus melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan". Kata Yunani yang digunakan di sini (esplangchnisthe) merujuk pada belas kasihan yang mendalam dari dalam kandungan.
Yesus tidak mengusir para murid dan Yesus juga tidak membiarkan orang banyak kelaparan. Justru dengan KuasaNya Ia menyatakan kemuliaanNya dengan memberkati 5 roti dan 2 ikan yang bahkan berlebih 12 keranjang yang telah  di dihidangkan kepada 5000 orang laki laki. 
Yesus Kristus sungguh menyatakan belaskasihanNya kepada orang banyak. Demikianlah untuk kita hari ini Firman ini berkata bahwa Allah yang kita sembah dan uang kita percayai bukanlah Allah yang jauh dan tidak peduli. Dalam setiap kehidupan kita, Allah sungguh melihat kelemahan jasmani dan rohani kita, dan di atas kotak mampuan bahkan ketidak percayaan kita Yesus selalu hadir dan bertindak atas dasar anugerah yang murni (sola gratia), bukan karena kesetiaan atau kelayakan orang banyak itu terlebih kita.
Saudara saudari, jikalau kita lihat dalam ayat yang ke 16. Yesus menjawab para murid dengan memberikan satu perintah yang berkata "engkau harus memberi mereka makan". Ini adalah cara Yesus ingin menunjukkan kepada murid atau seluruh kita manusia bahwa tanpa Allah, sesungguhnya seluruh manusia sama sekali tidak berdaya. Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri; kita bahkan tidak bisa memelihara hidup kita sendiri tanpa anugerah-Nya.

Saudara saudari, jikalau kita kembali melihat ke ayat yang ke 19 tentu perkataan ini tidak asing bagi kita, terlebih kita jemaat Lutheran/GKLI. Sebab, Ini adalah bahasa yang sama yang digunakan pada malam tekhir ketika Yesus dikhianati saat Ia menetapkan Perjamuan Kudus (Matius 26:26). Oleh karena itu, dalam pandangan Lutheran sesungguhnya Mujizat ini bukanlah hanya sekadar tentang mengisi perut yang lapar. Melainkan juga menjadi tanda (sign) yang mengarahkan kita kepada pemberian Diri Yesus di atas kayu salib. Di padang gurun dunia ini, Kristus memberikan Diri-Nya sendiri sebagai Roti Hidup yang turun dari sorga. Di tengah yang sunyi oleh tempat dan di tengah kehampaan karna tidak ada persediaan Yesus menunjukkan kuasaNya dengan memecahkan roti, dan memberikannya melalui tangan para murid murid untuk dibagikan kepada orang banyak.
Tahukan anda  apa yang dimaksud Yesus tentang cara praktis pembagian roti tersebut ?
Sesungguhnya itu bukanlah kebetulan atau menjaga kebersihan roti, melainkan sebuah gambaran dari Jabatan Pelayanan Kudus (Office of the Holy Ministry). Yang mau menyatakan kepada kita bahwa Kristuslah uang memberikan berkat-Nya yaitu "Firman dan Sakramen" melalui para pelayan-Nya yang dipanggil, agar jemaat-Nya diberi makan dan dipelihara oleh anugerahNya.
Seluruh orang banyak telah menerima pelayanan Kristus lewat anugerahNya. Mereka semua makan sampai kenyang. Dan yang tidak terpikirkan oleh para murid dan kita suatu muzizat luar biasa terjadi dimana sisa potongan roti itu dikumpulkan sebanyak dua belas bakul penuh (20). Dalam pandangan Lutheran angka 12 melambangkan 12 suku Israel, yang berarti bahwa di dalam Kristus, seluruh umat Allah dipelihara dengan berlimpah anugerah. 
Marilah kita menyadari bahwa Anugerah Allah tidak pernah pas-pasan. Di mana dosa dan kelangkaan berkuasa, di situ anugerah Kristus melimpah dengan jauh lebih banyak. Tetapi bukan berarti kita berpikir karena kebebasan yang diberi maka kita semakin banyak berbuat dosa untuk beroleh lebih banyak anugerah. Sungguh, Pengampunan dosa yang kita terima di dalam Absolusi dan Perjamuan Kudus tidak akan pernah habis. AnugerahNya akan selalu cukup dan melimpah untuk menutupi setiap pelanggaran kita.
Oleh karena itu, saudara saudari lewat evangelium hari ini mari kita menyadari bahwa anugerah penyertaan Allah itu sungguh cukup bagi kita. Sama seperti bangsa Israel dipelihara dengan roti manna di padang gurun, dan sama seperti 5.000 orang ini yang dikenyangkan di tempat yang sunyi, Tuhan Yesus Kristus juga telah berjanji lewat FirmanNya kepada kita bahwa Allah akan selalu setia memelihara Anda dengan bahkan hingga sampai kedatangan Yesus.
Dihadapan Allah, hendaklah kita jangan mengandalkan logika kita, dan marilah kita Jangan memandang seperti murid yang melihat kepada "lima roti dan dua ikan" seperti melihat oada kemampuan diri sendiri. Marilah memandang kepada Kristus. 
Yang artinya ketika hidupmu tidak tercukupi, atau anda merasa lapar secara rohani, terkepung oleh dosa, dan berada di padang gurun keputusasaan, datanglah ke Mezbah-Nya. Sebab di dalam Firman yang diberitakan dan di dalam Tubuh dan Darah-Nya yang sejati di dalam Perjamuan Kudus, kita menerima Kristus yang penuh belas kasihan, percayalah Dia yang akan selalu mengenyangkan jiwa kita sampai kekekalan.
Amin.

Pdt. Ardi Situmorang S.Th

theologi Lutheran

Menderita Oleh karena Injil - Filp 3:1 - 10

Shalom Firman Allah untuk kita. Filipi 3 : 1, 3-1b, 2-3, 10  (1) Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan ...

what about theologi luther ?