Senin, 16 Februari 2026

2 Ajaran Utama dalam membaca Alkitab

Saudara saudari apakah yang kamu cari, dan kamu temukan ketika membaca Firman Allah ?

Memang, sepanjang kita membaca Alkitab,msering kita menemukan Cerita, sejarah keselamatan, dan semuanya tentu tujuanya hanya ingin menjelaskan Yesus Kristus.

Namun meskipun demikian Alkitab bukan hanya sebuah cerita, tetapi juga pesan Allah kepada seluruh anak-anak-Nya. Di dalamnya, Allah menjelaskan secara rinci bagaimana Ia menciptakan dunia, bagaimana dunia bekerja, dan apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan, dan konsekuensi - apa yang terjadi ketika kita tidak melakukannya, serta bagaimana Ia bermaksud untuk memulihkannya segala sesuatunya ke kondisi semula. Ini memang agak rumit, dan Itulah sebabnya mengapa Allah meringkasnya dalam dua ajaran utama. Luther dan para teolog Lutheran menyebut ke 2 ajaran tersebut adalah Hukum dan juga Injil.

Ajaran-ajaran ini membantu kita mengorganisir semua yang diajarkan Tuhan kepada kita dalam firman-Nya. Hukum Taurat berkaitan dengan kehendak Tuhan bagi hidup kita dan bagaimana Ia ingin kita menjalaninya, apa yang terjadi ketika kita tidak menaati perintah-Nya, seberapa besar kemungkinan kita melakukan kehendak-Nya sendiri, apa hukuman bagi pemberontakan terhadap-Nya, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan otoritas pemerintahan yang telah Ia tetapkan untuk menjaga setidaknya sebagian ketertiban dalam hidup ini (Tiga Kegunaan Hukum Taurat)  sebagai Cermin, pembatas dan penuntun.

INJIL adalah kabar baik bahwa Allah, dalam belas kasih-Nya, mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus untuk dilahirkan dalam kandungan Perawan Maria, menderita, mati, bangkit dari pada hari ketiga dan naik ke surga demi keselamatan kita manusia berdosa. Injil harusnya menceritakan bagaimana kematian Kristus telah menghancurkan kematian kekal, memperoleh pengampunan dosa, hidup, dan keselamatan bagi kita, dan semua ini diberikan kepada kita hanya oleh kasih karunia, diterima hanya oleh iman hanya demi Kristus. Injil berisi semua hal berharga yang Allah janjikan kepada kita karena apa yang Yesus lakukan bagi kita. ( Lihat Kisah-Nya )

Aturan ini mengajarkan kita untuk menjaga agar kedua ajaran ini tetap lurus. Ketika kita mengatakan bahwa hukum menyelamatkan kita, kita mendorong orang berdosa untuk mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri; kita menolak penghiburan Injil bagi mereka. Ketika kita mengatakan bahwa pengampunan datang dengan syarat, kita menempatkan penghalang antara Yesus, Sarana Kasih Karunia-Nya, dan kasih karunia yang merupakan pemberian cuma-cuma-Nya. Jadi, kita melakukan apa yang digambarkan Luther sebagai seni yang paling sulit — kita membiarkan hukum menjadi hukum — yang menuntut ketaatan sempurna, menghukum kita atas pelanggaran kita yang tak terhindarkan terhadapnya, dan mengarahkan kita kepada Injil. Kita membiarkan Injil menjadi semua janji berharga dari kasih karunia cuma-cuma Allah dan mendorong umat-Nya untuk bergantung padanya.

Analogi Hidup - MANUSIA TIDAK DAPAT HIDUP TANPA TUHAN

MANUSIA TIDAK DAPAT HIDUP TANPA TUHAN
The Proporsional :

Di saat Allah mau menciptakan ikan, Allah berfirman/berbicara kepada lautan di bumi. Ketika Allah ingin menciptakan pohon, Allah juga berfirman/berbicara kepada bumi. Lalu, ketika Allah mau menciptakan manusia, Allah berpaling kepada diri-Nya sendiri, dan berkata, Kej.1:26 "Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita_𝓘𝓶𝓪𝓰𝓸𝓭𝓮𝓼"

𝕂𝕖𝕟𝕪𝕒𝕥𝕒𝕒𝕟 𝕙𝕚𝕕𝕦𝕡
Jika Ikan keluar dari air, maka tidak lama ia akan mati, ketika akar pohon tidak menyatu dengan bumi/tanah maka ia juga akan mati. Demikianlah dengan Manusia, saat manusia terpisah dengan Tuhan Allah, maka ia akan mati (Yoh. 15:6).

Iblis telah berhasil membuat manusia terpisah dengan Allah, sebab manusia lama itu lebih memilih tawaran iblis dari pada taat akan perintah Allah. Keterpisahan itu membuat hidup manusia melarat dan sungguh menderita, terbelenggu oleh dosa. Lalu bagaimanakah Allah memandang manusia itu ?. 

Allah memindahkan manusia itu dari kemelaratan dan menempatkan kembali ke dalam kemuliaan Kristus. Allah tidak menganggap keterpisahan antara manusia dengan Allah menjadi masalah kecil, sebab dosa adalah masalah besar. Dengan demikian Ia harus menjadi manusia supaya hukum maut dapat terkalahkan dan manusia kembali berada di dalam kemuliaanNya. Kematian sang putera Allah membawa hidup baru bagi manusia, dan secara utuh Allah kembali mempersatukan manusia dengan DiriNya, tanpa sedikit pun dorongan dan inisiatif manusia. 
Yesus dengan jelas dan berterus terang mengatakan Yoh. 15:5 "Akulah pokok anggur dan Kamulah ranting-rantingnya" Segala ranting yang terpisah dengan pokok/dahan maka akan tetap mati. 

Manusia tidak dapat memisahkan diri dan meninggalkan Allah, sebab Allah adalah sumber kehidupan kita. Kita telah diciptakan olehNya untuk hidup dalam kemuliaanNya. Kita harus tetap terhubung dengdengan-Ny

Dan ingat, air tanpa ikan tetaplah air, tetapi ikan tanpa air bukanlah apa-apa. Tanah tanpa pohon tetaplah tanah, tetapi pohon tanpa tanah bukanlah apa-apa. Tuhan tanpa manusia tetaplah Tuhan, tetapi manusia tanpa Tuhan bukanlah apa-apa.

 𝓭𝓸𝓶𝓲𝓷𝓲 𝓶𝓪𝓷𝓮𝓽 𝓲𝓷 𝓪𝓮𝓽𝓮𝓻𝓷𝓾𝓶
#vdma

RENUNGAN AKAN HIDUP

Jika Anda Ingin Memahami Kehidupan, Kunjungi 3 Tempat Ini

1. Rumah Sakit.

Di sini Anda akan melihat betapa rapuhnya kehidupan. Orang terkaya dan termiskin sama-sama terbaring di ranjang yang sama, terhubung ke mesin yang sama, memohon lebih banyak waktu. Anda akan mengerti bahwa kesehatan adalah kekayaan pertama Anda. 

2. Di Penjara.

Di sini Anda akan melihat bagaimana satu kesalahan, teman yang salah, atau momen kemarahan dapat menghancurkan seluruh masa depan. Anda akan memahami harga sebenarnya dari pilihan dan bagaimana kebebasan adalah kemewahan terbesar yang pernah Anda miliki.

3. Sebuah Pemakaman.

Di sini Anda akan melihat nama-nama yang terukir di batu, tanpa menyebutkan kekayaan, kecantikan, atau status. Hanya tanggal lahir dan tanggal kematian, dan segala sesuatu di antaranya direduksi menjadi keheningan.

Anda akan mengerti bahwa hidup itu singkat, dan cinta, kebaikan, serta warisan adalah satu-satunya yang tersisa.

Allah memulihkan - Penderitaan akan menjadi sukacita dalam Kristus - Yesaya 60

Shalom
Firman Allah untuk kita. 
Yesaya 60:1
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
Yesaya 60:2
Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
Yesaya 60:22
Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.

Saudara saudari, Pembuangan ke Babel adalah masa sulit yang dihadapi oleh bangsa Israel. Sebagian dari mereka ada yang dibunuh dan dibawa sebagai tawanan perang. Namun, Nabi Yesaya menyadari kalau semua itu terjadi karena mereka tidak taat dan kurang percaya kepada Allah. Meski demikian, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, kendati mereka sering menyakiti hati-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari keterpurukan hingga menuntun mereka sampai ke Yerusalem.

Yesaya 60

Allah memanggil umat-Nya untuk "Bangkit dan Menjadi Terang" (Yesaya 60:1) meskipun hidup dan berjuang di dalam kegelapan dunia. Ini adalah nubuatan tentang pemulihan, di mana kemuliaan Tuhan terbit atas umat-Nya, membawa harapan, kekayaan bangsa-bangsa, dan sukacita setelah masa keterpurukan atau pembuangan. 

Ada beberapa poin inti renungan Yesaya 60:
1. Bangkit dari Keterpurukan
Umat Tuhan dipanggil untuk tidak lagi terpuruk dalam kegelapan (dosa, keputusasaan, atau masalah), melainkan bangkit dan menerima terang Tuhan.
2. Terang Itu Telah Datang
Alasan untuk bersinar bukanlah kekuatan diri sendiri, melainkan karena kemuliaan Tuhan (terang-Nya) sudah terbit dan nyata atas kehidupan orang percaya, sering dikaitkan dengan kedatangan Mesias (Yesus).
3. Terpanggil dan bangkit Menjadi Saksi Terang:
Umat yang telah diterangi Tuhan dipanggil untuk memancarkan terang itu melalui perbuatan baik, kebenaran, dan keadilan, sehingga menjadi berkat dan menarik orang lain kepada Tuhan.
4. Pengharapan dan Pemulihan
Janji bahwa Tuhan akan mengubah kehancuran menjadi kemuliaan, dan yang lemah akan menjadi bangsa yang kuat dan diberkati. 

Terang Tuhan tetap terbit atas bangsa Israel (1-2). Bangsa-bangsa akan datang, anak-anak pun datang, dan mereka pun berseri melihatnya (3-5). Itulah terang yang telah memimpin mereka keluar dari kegelapan. Namun, mereka malah terus hidup dalam ketidakpercayaan. Trauma masa lalu yang mereka hadapi selalu melekat di benak mereka. Mereka bahkan kerap kali meragukan kuasa Allah dengan mempertanyakan apakah Allah sanggup memulihkan keadaan mereka atau tidak. Oleh karena penderitaan datang bertubi-tubi, fokus mereka pun menjadi teralihkan. Mereka lupa bahwa selama ini Allah telah menyertai hidup mereka.

Oleh karena itu, Nabi Yesaya mengingatkan kembali agar umat Allah yang ada di pembuangan tetap percaya kepada Allah yang telah menuntun mereka selama masa kesusahan. Yesaya berseru agar mereka bangkit dari kegelapan dan menjadi terang, karena seharusnya mereka harus tetap percaya dan bersandar hanya kepada Allah, bukannya malah meragukan kuasa-Nya.

Pemulihan yang diberikan Tuhan bagi Israel bukan untuk mereka nikmati sendiri melainkan untuk dibagikan kepada bangsa-bangsa. Demikian pula seharusnya seseorang yang sudah diberkati terpanggil dan harus membagikan berkat itu kepada orang lain. Setiap kita telah menerima pemulihan yang datang dari Allah, maka pemulihkan itu akan membebaskan kita dari perbudakan dosa dan melimpahi kita dengan segala berkat rohani. Karena itu, jadilah berkat bagi orang lain di sekitar Anda! 

Kini Allah pun telah menunjukkan terang itu kepada kita orang orang percaya. 
Dengan demikian, jangan biarkan masa lalu yang kelam atau penderitaan yang kita alami saat ini membelenggu dan membuat kita ragu seperti orang-orang tak percaya yang hidup dalam kegelapan. Mari kita bangkit dan menjadi terang sehingga kemuliaan Allah selalu nyata dalam hidup kita.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Sabtu, 14 Februari 2026

Yesus Sungguh - Benar benar anak Allah (Matius 17 : 1 - 9

Matius 11:1-9
Thema : Yesus Sungguh Anak Allah



Saudara saudari, topik khotbah minggu ini membicarakan tentang peristiwa TRANSFIGURASI, dimana ke 3 murid Yesus penuh ketakutan menyaksikan Yesus Kristus berubah wujud dan bersinar dengan kemuliaan surgawi.
Apakah hubungan yang dapat kita pahami antara kemuliaan Yesus yang berubah wujud yang dinyatakan di gunung ini dengan penderitaan yang akan Yesus alami di Golgota? 
Dan apakah artinya bagi para murid untuk mengikuti pemimpin seperti itu?
Transfigurasi menandai titik tengah dalam serangkaian peristiwa yang mendefinisikan siapa Yesus. Baik pada baptisan maupun transfigurasi-Nya, suara surgawi menyampaikan-mengumumkan bahwa Yesus adalah benar benar Anak Allah. Pada saat pencobaan-Nya, di Getsemani, dan pada penyaliban-Nya, Yesus sungguh bergumul akan penghinaan, penderitaan, danterlebih pengabaian yang harus Ia lakukan sebagai Anak Allah. Yang pada akhirnya Yesus yang telah bangkit menyatakan identitas-Nya, dan mengutus murid-murid-Nya untuk mengajar dan membaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Dalam proses perjalanan pelayanan Yesus sebelum transfigurasi, para murid telah menyembah Yesus yang berjalan di atas air sebagai Putra Allah (Matius 14:33), tetapi mereka belum dapat memahami dengan benar apakah artinya bagi Yesus sebagai putera Allah. Meskipun Petrus mengatakan-mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup, Petrus juga sepenuhnya menolak dan tidak percaya akan pemberitaan Yesus bahwa Ia akan menderita dan mati dikayu salib. Yesus menegaskan pemahaman Petrus tetapi menolak protesnya, bahkan menyebutnya Setan karena telah menggoda Putra Allah untuk mendefinisikan diri-Nya dengan kemuliaan tetapi bukan dengan penderitaan. Lebih dariitu lagi, Yesus memanggil Petrus dan siapa pun yang ingin menjadi murid-Nya harus mengikuti-Nya di jalan yang menuju salib, siap menderita memikul salib.

Dalam bacaan perikop kita hari ini, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi. Di sana Ia berubah wujud di hadapan mereka. Wajah-Nya bersinar seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti cahaya (deskripsi yang unik dalam Injil Matius). Musa dan Elia muncul dan berbicara kepada Yesus. Seperti dalam Injil Markus dan Lukas, Petrus berkata, “Adalah baik bagi kita untuk berada di sini,” dan menyarankan untuk membangun tenda bagi masing-masing dari mereka bertiga, tetapi Matius memperlakukan Petrus secara berbeda di sini daripada Injil-injil lainnya: Petrus menyebut Yesus sebagai “Tuhan,” gelar yang dalam Injil Matius menunjukkan iman; ia tunduk pada kehendak Yesus (“jika Engkau menghendaki”); ia menawarkan untuk membangun tenda di sana sendirian (“Aku akan membangun di sini,” dibandingkan dengan “marilah kita membangun” dalam Injil Markus dan Lukas); dan pada titik ini tidak ada indikasi bahwa ia takut atau tidak tahu apa yang ia katakan (bdk. Markus 9:6, Lukas 9:33).

Yesus tidak menanggapi tawaran itu, tetapi sementara Petrus masih berbicara, awan yang cemerlang menaungi mereka. Sebuah suara dari awan dalam Matius 17 menggemakan kata-kata suara surgawi yang sama pada saat baptisan Yesus: “Inilah Anak-Ku, yang Kukasihi, yang kepada-Nya Aku berkenan” (Terjemahan NRSV sedikit berbeda untuk Matius 17:5 dan Matius 3:17, tetapi susunan kata-katanya identik dalam bahasa Yunani). Kemudian suara itu menambahkan perintah: “Dengarkan Dia!” Mendengar suara Tuhan, para murid jatuh ketakutan.
Seluruh kejadian itu penuh dengan kiasan pada Perjanjian Lama. Kejadian itu mengingatkan pada perjumpaan Elia dengan Tuhan di gunung suci. Kejadian itu mengingatkan pada wahyu di Gunung Sinai dan awan kemuliaan Tuhan yang menaungi gunung dan kemah tempat Musa bertemu dengan Tuhan. Dan kejadian itu mengingatkan kembali yang terjadi pada Maleakhi 4, di mana Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk mengingat perkataan Musa dan mengatakan bahwa Elia akan diutus dalam misi pemulihan sebelum hari Tuhan.

Tidak heran jika para murid ketakutan oleh penampakan ilahi ini. Seperti yang dikatakan Maleakhi, “Siapakah yang dapat menahan hari kedatangan-Nya, dan siapakah yang dapat berdiri teguh ketika Ia menampakkan diri?” (Maleakhi 3:2). 
Kemudian Yesus mendekati para pengikut-Nya yang ketakutan, menyentuh mereka, dan mengatakan kepada mereka untuk tidak takut. Meskipun mereka tidak tahan mendengar Tuhan berbicara dari awan, tetapi mereka dapat mendengarkan Yesus. 
Lalu Firman Allah berbicara kepada kita sekarang, bukan seperti suara gemuruh dari surga atau huruf-huruf yang tertulis di loh batu tetapi dalam perkataan dan perbuatan Yesus yang dinyatakan lewat 4 Injil Kristus. Ketika Firman Allah di sampaikan dengan kebenaranNya sesungguhnya kita sedang mendengar suara putra Allah yang berbicara kepada kita seperti seorang manusia yang berbicara kepada manusia lainnya, dan Kuasa Firman berkuasa menolong dan membangkitkan kita dan mengikuti-Nya, seperti ke 3 murid yang menunduk di hadapan Yesus di teguhkan kembali oleh penglihatan itu.
Dalam perjalanan menuruni gunung bersama murid, Yesus sekali lagi memberi tahu mereka bahwa Anak Manusia harus menderita, dan Ia memerintahkan mereka untuk tidak menceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sampai setelah Ia dibangkitkan dari kematian. Mereka membahas peran Elia dalam memulihkan segala sesuatu, dan kemudian Yesus, yang wajahnya bersinar seperti matahari, turun ke tengah kerumunan manusia yang membutuhkan dan segera menyembuhkan seorang anak yang kerasukan setan. Seperti yang dikatakan Maleakhi, “Bagi kamu yang menghormati nama-Ku, matahari kebenaran akan terbit dengan sayapnya yang membawa kesembuhan” (Maleakhi 4:2).
Jadi, khotbah kisaah transfigurasi ini mengarahkan kita untuk tidak hanya memahami Yesus sebagaimana Ia dinyatakan dalam kemuliaan. Firman ini mengarahkan dan mengajak kita untuk berjalan bersama Yesus ke tengah kerumunan yang menderita dan kelaparan, seperti Kristus yang turun dari gunung bersama murid untuk orang yang menderita. Firman Allah memerintahkan kita untuk mendengarkan Yesus. Mendengarkan lebih dari sekadar mendengar. Seperti yang Yesus katakan dalam Khotbah di Bukit, membangun di atas batu karang berarti bukan hanya mendengar firman-Nya, tetapi juga bertindak sesuai dengan firman itu (Matius 7:24). Sebab mendengar tanpa menaati akan akan mendatangkan kehancuran.
Dengan demikian, kita harus percaya dan memberitahukan kepada seluruh orang-orang bahwa Bapa Yang Mahakuasa tidak mengutus Putra-Nya ke dunia untuk membuat kita Hanya terpesona dengan keagungan-Nya. Dan Allah juga tidak mengutus Putra-Nya untuk menggunakan kuasa-Nya yang besar memaksa dunia agar menyembah-Nya dalam diam dan dengan penuh kekaguman.
Yesus adalah benar anak Allah yang telah menderita dan bangkit dari kematian dan Ia akan datang kembali untuk membawa kita ke tempatNya. Maka dalam penantian ini, tiada yang lain yang dapat menjamin kehidupan kita selain KuasaNya, Yesus adalah sumber pertolongan dan kehidupan bagi kita, marilah tetap bersandar dan bergantung hanya kepadaNya. Amin 🙏

#Vdma


Kamis, 12 Februari 2026

? 𝐃𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐡𝐭𝐞𝐫𝐚 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 - He Risen

Shalom... 

Firman Allah untuk kita
Yohanes 20:21
Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Yohanes 20:22
Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
Yohanes 20:23. 
Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Saudara saudari, jikalau kita mempelajari latar belakang kejadian Firman ini, sesungguhnya ini adalah hari pertama pada saat kebangkitan Yesus Kristus yang tepat pada hari minggu, Kebangkitan Yesus Kristus adalah bukti nyata kemenangan orang orang percaya dimana Kuasa iblis telah dikalahkan. Maka kebangkitan Yesus Kristus sesungguhnya telah menjadi hari besar bagi kita dan kegenapan dari hari Sabat, sebab Yesus sendiri berkata bahwa Ia adalah kegenapan dari hari Sabat, dengan demikian setiap kita beribadah pada hari minggu maka dengan sesungguhnya, kita sedang merayakan Yesus Kristus yang bangkit.

Dalam perikop ini, dapat kita mengetahui bahwa pada saat itu para murid telah menutup pintu karena takut kepada orang Yahudi, pasca kematian Yesus, dan murid murid sendiri tidak percaya bahwa Yesus akan bangkit. Namun dj tengah keragu raguan itu Yesus sendiri datang dan berdiri di tengah-tengah mereka. Kehadiran Yesus Kristus merupakan penghiburan yang besar bagi para murid-murid Kristus, sebab dengan kehadiran Yesus membawa Damai, tentu akan mengubahkan keadaan hati yang takut dan bimbang menjadi teguh dalam Iman. Kehadiran Yesus menunjukkan kuasaNya sebab meskipun dalam keadaan rumah tertutup namun knk menjadi bukti bahwa Yesus adalah benar benar Allah dan Ia adalah Allah yang maha hadir yang tidak dapat dibatasi oleh apapun. Ketika Ia menyatakan kasih-Nya kepada orang percaya melalui penghiburan Roh-Nya, Ia meyakinkan mereka bahwa karena Ia hidup, mereka pun akan hidup. 

Saudara saudari, Setiap firman Kristus yang diterima dalam hati melalui Iman, datang dan disertai dengan hembusan Ilahi maka sesungguhnya kuasa Allah telah berkuasa atas kita dan tidak ada terang maupun kehidupan selain dari pada Allah. Tidak ada sesuatu pun tentang Allah yang dapat dilihat, diketahui, dipahami, atau dirasakan, kecuali melalui kuasa roh kudus. 
Yesus kemudian mengutus mereka ke dalam dunia dengan membawa berita tentang keselamatan di dalam Yesus. Sebagai murid-murid Kristus, mereka memang harus berpartisipasi dalam misi Allah bagi keselamatan dunia. 

Kristus yang bangkit juga menginginkan kita dipenuhi dengan hasrat untuk mengabarkan Injil kepada seluruh dunia, dimulai dari tempat di mana kita berada. Tugas ini penting karena Allah menghendakinya, dan mendesak karena zaman ini makin jahat. Maka cara terbaik agar semua orang bisa mendengar berita sukacita ini adalah dengan terus memperdengarkan kabar baik tentang pengampunan melalui Yesus Kristus. Ingatlah bahwa bukan hanya hamba Tuhan/pendeta atau orang yang aktif di bidang pelayanan saja yang berkewajiban untuk mengabarkan Injil. Setiap kita yang mengaku diri sebagai pengikut Kristus pun wajib ambil bagian dalam hal ini. Bila kita merasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya atau tidak mengerti bagaimana caranya, mohonlah pimpinan Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus memampukan, mengajar, dan menuntun orang percaya untuk menjadi utusan Kristus di dunia ini.

Oleh karena itu, marilah kita menghadapi setiap kesulitan yang kita temui serta tetap dapat berdiri dengan teguh di atas gelombang kehidupan dan Yakinkanlah dirimu bahwa Allah ada bersamamu di dalam sukacita dan duka cita. 


Kiranya kasih setia dari Allah bapa dan roh kjdus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏.

Senin, 09 Februari 2026

Tuhan sumber kekuatan dan pertolongan kita - Mazmur 42

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, itulah yang memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Firman Allah untuk kita, 
 Mazmur 42 : 2
Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
Mazmur 42:3
Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Mazmur 42:4
Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
Mazmur 42:6
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Mazmur 42:7
Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.

Saudara saudari, Firman Allah pada Mazmur 42 ini ditulis oleh seorang Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Mazmur ini berakar pada pengalaman pemazmur (dari bani Korah) yang terasing secara fisik dan rohani dari Bait Allah. Situasi ini ditandai dengan depresi, kesedihan mendalam, dan ejekan musuh yang menanyakan, "Di mana Allahmu?". Maka dalam hal ini pemazmur merindukan kehadiran Tuhan bagaikan seperti rusa yang merindukan air, mengingat masa lalu yang indah dalam ibadah, namun kini merasa tertekan dan terbuang. 

Namun meskipun demikian, pemazmur tidak tinggal bahkan tenggelam dalam keadaan yang tertekan tersebut. Ia bangkit dari situasi itu dan dengan sadar menasihati jiwanya sendiri untuk keluar dari depresi. Apa yang dapat menolong pemazmur keluar dari perasaan-perasaan yang menekannya? 
1. Pemazmur mengingat-ingat antuasiasme ibadahnya pada masa lampau, bagaimana dulu ia begitu bersemangat dalam menyembah Allah (ayat 5). Hubungannya dengan Allah begitu dekat dan intim. Maka hal itu mendorong si pemazmur bahwa dengan berpengharapan yang teguh akan dapat beroleh saat-saat yang indah jikalau tetap bersekutu dengan Allah. 
2. Pemazmur mengingat-ingat kebesaran Allah dalam alam (ayat 8) dan kasih setia Tuhan yang telah dinyatakan dalam kehidupannya sehingga ia bisa menaikkan nyanyian dan doa syukur kepada Allah. . Pemazmur juga meyakini bahwa Allah akan tetap setia dan tetap satu-satunya perlindungannya. Oleh karena itu ia sekali lagi menguatkan jiwanya dan kembali menaruh pengharapan kepada Allah. 

Saudara saudari, marilah kita mengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Betapa pun situasi sekeliling kita sepertinya tidak berpengharapan. Ingatlah, Tuhan tetap menyertai kita. Katakanlah kepada jiwamu, mengapa engkau tertekan? Berharaplah hanya pada Tuhan, dan bersyukurlah atas segala kasih-Nya.

Dengan demikian, Janganlah kita takut untuk mengungkapkan kerapuhan diri kita di hadapan Allah dan jangan takut juga untuk terus berharap kepada-Nya. Jujurlah dan terbukalah kepada Tuhan! 
Dan yakinlah bahwa hanya Allah satu satunya Penolong kita.

Amin 🙏

theologi Lutheran

2 Ajaran Utama dalam membaca Alkitab

Saudara saudari apakah yang kamu cari, dan kamu temukan ketika membaca Firman Allah ? Memang, sepanjang kita membaca Alkitab,msering kita me...

what about theologi luther ?