Sabtu, 01 Agustus 2026

Evangelium Minggu IX Setelah Trinitatis - Yesus memberi makan 5000 orang Matius 14:13-21

Minggu IX Setelah Trinitatis.
Yesus memberi makan 5000 orang

Matius 14:13-21
Thema : Kristus sang anugerah, Sang Roti Hidup di Padang Gurun Dunia

Saudara saudari setelah Yesus mendengar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis yang kepalanya dipenggal oleh Herodes. Tentu secara manusiawi, Yesus menarik diri ke tempat yang sunyi untuk mengasingkan diri. 
Sebab dengan berita Kematian Yohanes Pembaptis hal itu juga memberitakan bahwa situasi politik dan keagamaan di Galilea sedang sangat memanas, memang kita harus tahu bahwa Yesus menyingkir bukanlah karena Ia takut, melainkan karena waktu-Nya belum tiba untuk ditangkap dan disalibkan. Sebab Dia memang telah mengatur waktu pelayanan-Nya agar genap sesuai rencana Allah Bapa. 
Ketika Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi, orang banyak mengikuti-Nya, dan tempat yang sunyi yang terpencil itu adalah sebuah "padang gurun" dan waktu sudah mulai malam, dan tidak ada makanan.
Lalu para murid melihat situasi itu dengan kacamata kalkulasi manusia. Mereka berkata, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi..." (Ayat 15)
Saudara saudari, perkataan yang di ungkapkan para murid tentu sering kita alami, dalam hidup nyata kita sering melihat "padang gurun" dalam kehidupan kita yang mungkin dapat kita ibaratkan dengan sakit penyakit, kedukaan, kesulitan ekonomi, atau pergumulan dosa bahkan mungkin juga menyimpulkan bahwa Allah tidak peduli atau tidak mampu.
Terlalu sering kita melihat kepada diri kita. Kita mengandalkan apa yang bisa kita beli dan apa yang bisa kita hitung. Pada saat itu murid-murid hanya melihat 5 roti dan 2 ikan. Yang artinya mereka dan kita juga sering hanya melihat keterbatasan kita, dan kita menjadi cemas. Hukum Taurat menyingkapkan hati kita yang tidak percaya dan sering meragukan pemeliharaan Bapa Sorgawi.

Namun, saudara saudari tahukah anda apa respon Yesus atas keraguan para murid ?.
Dalam ayat 14 dikatakan "Ketika Yesus melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan". Kata Yunani yang digunakan di sini (esplangchnisthe) merujuk pada belas kasihan yang mendalam dari dalam kandungan.
Yesus tidak mengusir para murid dan Yesus juga tidak membiarkan orang banyak kelaparan. Justru dengan KuasaNya Ia menyatakan kemuliaanNya dengan memberkati 5 roti dan 2 ikan yang bahkan berlebih 12 keranjang yang telah  di dihidangkan kepada 5000 orang laki laki. 
Yesus Kristus sungguh menyatakan belaskasihanNya kepada orang banyak. Demikianlah untuk kita hari ini Firman ini berkata bahwa Allah yang kita sembah dan uang kita percayai bukanlah Allah yang jauh dan tidak peduli. Dalam setiap kehidupan kita, Allah sungguh melihat kelemahan jasmani dan rohani kita, dan di atas kotak mampuan bahkan ketidak percayaan kita Yesus selalu hadir dan bertindak atas dasar anugerah yang murni (sola gratia), bukan karena kesetiaan atau kelayakan orang banyak itu terlebih kita.
Saudara saudari, jikalau kita lihat dalam ayat yang ke 16. Yesus menjawab para murid dengan memberikan satu perintah yang berkata "engkau harus memberi mereka makan". Ini adalah cara Yesus ingin menunjukkan kepada murid atau seluruh kita manusia bahwa tanpa Allah, sesungguhnya seluruh manusia sama sekali tidak berdaya. Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri; kita bahkan tidak bisa memelihara hidup kita sendiri tanpa anugerah-Nya.

Saudara saudari, jikalau kita kembali melihat ke ayat yang ke 19 tentu perkataan ini tidak asing bagi kita, terlebih kita jemaat Lutheran/GKLI. Sebab, Ini adalah bahasa yang sama yang digunakan pada malam tekhir ketika Yesus dikhianati saat Ia menetapkan Perjamuan Kudus (Matius 26:26). Oleh karena itu, dalam pandangan Lutheran sesungguhnya Mujizat ini bukanlah hanya sekadar tentang mengisi perut yang lapar. Melainkan juga menjadi tanda (sign) yang mengarahkan kita kepada pemberian Diri Yesus di atas kayu salib. Di padang gurun dunia ini, Kristus memberikan Diri-Nya sendiri sebagai Roti Hidup yang turun dari sorga. Di tengah yang sunyi oleh tempat dan di tengah kehampaan karna tidak ada persediaan Yesus menunjukkan kuasaNya dengan memecahkan roti, dan memberikannya melalui tangan para murid murid untuk dibagikan kepada orang banyak.
Tahukan anda  apa yang dimaksud Yesus tentang cara praktis pembagian roti tersebut ?
Sesungguhnya itu bukanlah kebetulan atau menjaga kebersihan roti, melainkan sebuah gambaran dari Jabatan Pelayanan Kudus (Office of the Holy Ministry). Yang mau menyatakan kepada kita bahwa Kristuslah uang memberikan berkat-Nya yaitu "Firman dan Sakramen" melalui para pelayan-Nya yang dipanggil, agar jemaat-Nya diberi makan dan dipelihara oleh anugerahNya.
Seluruh orang banyak telah menerima pelayanan Kristus lewat anugerahNya. Mereka semua makan sampai kenyang. Dan yang tidak terpikirkan oleh para murid dan kita suatu muzizat luar biasa terjadi dimana sisa potongan roti itu dikumpulkan sebanyak dua belas bakul penuh (20). Dalam pandangan Lutheran angka 12 melambangkan 12 suku Israel, yang berarti bahwa di dalam Kristus, seluruh umat Allah dipelihara dengan berlimpah anugerah. 
Marilah kita menyadari bahwa Anugerah Allah tidak pernah pas-pasan. Di mana dosa dan kelangkaan berkuasa, di situ anugerah Kristus melimpah dengan jauh lebih banyak. Tetapi bukan berarti kita berpikir karena kebebasan yang diberi maka kita semakin banyak berbuat dosa untuk beroleh lebih banyak anugerah. Sungguh, Pengampunan dosa yang kita terima di dalam Absolusi dan Perjamuan Kudus tidak akan pernah habis. AnugerahNya akan selalu cukup dan melimpah untuk menutupi setiap pelanggaran kita.
Oleh karena itu, saudara saudari lewat evangelium hari ini mari kita menyadari bahwa anugerah penyertaan Allah itu sungguh cukup bagi kita. Sama seperti bangsa Israel dipelihara dengan roti manna di padang gurun, dan sama seperti 5.000 orang ini yang dikenyangkan di tempat yang sunyi, Tuhan Yesus Kristus juga telah berjanji lewat FirmanNya kepada kita bahwa Allah akan selalu setia memelihara Anda dengan bahkan hingga sampai kedatangan Yesus.
Dihadapan Allah, hendaklah kita jangan mengandalkan logika kita, dan marilah kita Jangan memandang seperti murid yang melihat kepada "lima roti dan dua ikan" seperti melihat oada kemampuan diri sendiri. Marilah memandang kepada Kristus. 
Yang artinya ketika hidupmu tidak tercukupi, atau anda merasa lapar secara rohani, terkepung oleh dosa, dan berada di padang gurun keputusasaan, datanglah ke Mezbah-Nya. Sebab di dalam Firman yang diberitakan dan di dalam Tubuh dan Darah-Nya yang sejati di dalam Perjamuan Kudus, kita menerima Kristus yang penuh belas kasihan, percayalah Dia yang akan selalu mengenyangkan jiwa kita sampai kekekalan.
Amin.

Pdt. Ardi Situmorang S.Th

Jumat, 31 Juli 2026

ACARA IBDAH PEMUDA PEMUDI LUTHERAN DI MINGGU VIII SETELAH TRINITATIS

 

Acara Ibadah Persekutuan Doa Pemuda/I GKLI

Sabtu, 01/08/2026

 

1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji Dengan Riang)

1. Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
Bagai bunga t'rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita, kebimbangan, t'lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b'ri sinarMu menyerap.

2. Kau memb'ri, Kau mengampuni, kau limpahkan rahmatMu
Sumber air hidup ria, lautan kasih dan restu.
Yang mau hidup dalam kasih Kau jadikan milikMu
Agar kami menyayangi, meneladan kasihMu.

3. Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinarMu.
Para malak, tata surya naikkan puji bagiMu
Padang, hutan dan samud'ra, bukit, gunung dan lembah,
Margasatwa bergembira 'ngajak kami pun serta.

2.      Doa Pembuka

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

3.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 287a : 1 – 3 (Sekarang Bersyukur)

1. Sekarang b'ri syukur, hai hati mulut, tangan!
Sempurna dan besar segala karya Tuhan!
Dib'riNya kita pun anug'rah dan berkat
Yang tak terbilang, t'rus, semula dan tetap.

2. Yang Mahamulia memb'rikan sukacita,
damai sejahtera di dalam hidup kita.
KasihNya tak terp'ri mengasuh anakNya;
TolonganNya besar seluas dunia!

3. Muliakan Allahmu yang tiada terbandingi
Sang Bapa, Anak, Roh di takhta mahatinggi.
Tritunggal yang kudus kekal terpujilah,
Sekarang dan terus selama-lamanya!

 

4.      Renungan Firman

Nats      : Mazmur 125

Thema  : Percayalah kepada Tuhan dan hiduplah sesuai dengan kebenaranNya

Tujuan : Supaya anak atau Remaja dan pemuda pemudi percaya dan hidup sesuai dengan kebenaranNya :

1.      Percaya kepada Tuhan tidak akan tergoyahkan

2.      Hidup sesuai dengan kebenaranNya akan senantiasa bersama Tuhan

3.      Orang orang percaya akan terhindar dari kejahatan oleh pertolongan Tuhan

4.      Hidup di dalam kebenaran Tuhan adalah hidup di dalam ketulusan

 

Hafalan : Mazmur 125:4

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 337 : 1 – 3 (Betapa kita tidak bersyukur)

1. Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur;
lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.

         Reff : Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa;
              Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.

2. Alangkah indah pagi merekah bermandi cah'ya surya nan cerah,
ditingkah kicau burung tak henti, bunga pun bangkit harum berseri.

          Reff : Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa;
               Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.

3. Bumi yang hijau, langitnya terang, berpadu dalam warna cemerlang;
indah jelita, damai dan teduh, persada kita jaya dan teguh.

          Reff : Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa;
               Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.

 

6.      Doa Penutup + Berkat

7.      Latihan Koor

 


Kamis, 30 Juli 2026

Kata kata dalam tukar cincin pemberkatan nikah dan doa berkat pendeta

 

Pendeta :  Saudara saudari yang terkasih, Cincin ini terbuat dari logam mulia dan berbentuk bulat dengan sempurna. Bentuknya yang bulat melambangkan kasih yang utuh, tanpa awal dan tanpa akhir seperti kasih Kristus kepada jemaatNya. Logamnya yang murni melambangkan kemurnian niat dan ketulusan hati saudara saudari untuk saling mengikat diri dalam pernikahan kudus. Karena itu, marilah kita bawa tanda kasih ini di dalam Tuhan, kita berdoa :

Ya Allah yang maha setia, kedua hambaMu telah mengikat janji dihadapanMu. Berkatilah tanda pengikat atau cincin ini. Biarlah cincin ini menjadi saksi visual yang suci atas komitmen mereka, agar di dalam sehat maupun sakit, kelimpahan maupun kekurangan, mereka tetap berdiri teguh di dalam Iman kepadaMu, Amin.

 

Kevinnoka : Engkau “Selvia Sihombing” terimalah dan pakailah cincin ini sebagai tanda kasih dan janji setiaku kepadamu. Di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amin

Selvia             : Kevinnoka Adi Prasanda – Terimalah dan pakailah cincin ini sebagai tanda kasih dan janji setiaku kepadamu. Di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amin

 

Berkat Perkawinan : Saya adalah hamba Tuhan, yang memberitakan FirmanNya kepada mu, dengan nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, saya mengatakan : Yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia. Amin  (Pengantin berjabat tangan)

Pendeta : Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau, Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia, Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Amin

“pengantin berlutut”

Pendeta : Saudara saudari, terimalah - ini Adalah blangko nikah (Akte pernikahan Gereja). Dokumen ini adalah bukti sah, bahwa pada hari ini, dihadapan Allah, para penatua, orang tuamu dan seluruh jemaat Tuhan yang hadir, kalian telah resmi dipersatukan sebagai suami istri yang sah di dalam Tuhan.

 

Dan ini adalah Alkitab “hata ni Debata” Firman Allah akan menjadi kekuatan dan sukacita dalam rumah tangga mu, karena itu tetaplah hidup di dalam Firman dengan membaca dan merenungkannya siang dan malam dimanapun kalian berada. - Pulanglah dengan sejahtera…..


Sabtu, 25 Juli 2026

Khotbah GKLI Minggu VIII Setelah Trinitatis - Matius 13:44-52

Khotbah Minggu VIII setelah Trinitatis 
MATIUS 13 : 44 - 52
Salam Minggu VIII setelah Trinitatis °°°°°°°°

Tema : Kita adalah harta yang dicari dan ditebus Allah

1. Bagaimanakah Allah menemukan kita ??

Saudara saudari, Setiap manusia di dunia ini sedang mencari sesuatu yang berharga. Terlebih kita yang berlabuh di kota industri ini (kota Batam) setiap saat kita akan menghabiskan waktu, tenaga, bahkan seluruh hidup kita untuk mengejar apa yang kita anggap sebagai "harta" baik keamanan atau kebutuhan finansial, jabatan, keluarga yang bahagia, ataupun kedamaian.

Jikalau kita merenungkan perumpamaan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang berharga dalam perikop ini, maka secara natural kemanusiaan lebih sering timbul dalam hati atau perkataan kita untuk meresponnya dengan berkata : "Apa yang harus AKU lakukan untuk mendapatkan Kerajaan Sorga?" Bahkan sebagai pengkhotbah, sering kali mengkhotbahkan teks ini sebagai tuntutan agar kita menjual segala milik kita, bahkan kita berkorban habis-habisan demi Tuhan, padahal sesungguhnya maksud perumahan ini tidaklah demikian radikal.

Sebab, jika keselamatan dan Kerajaan Allah bergantung pada kerelaan kita untuk menjual "seluruh milik kita," maka sesungguhnya tidak ada satu pun dari kita yang akan selamat, karna tidak ada jaminan keselamatan di atas perbuatan manusia. Bahkan seluruh hukum Taurat Allah akan selalu menuntut kesempurnaan, dan hati kita yang egois ini selalu terikat pada berhala-berhala duniawi. Jika perumpamaan ini berpusat pada usaha manusia, maka ini bukanlah "Kabar Baik" (Injil), melainkan beban hukum yang menuntut kita untuk melakukannya. 

Oleh karena itu, Siapakah orang yang menemukan harta di ladang itu? 
Atau siapakah pedagang yang mencari mutiara indah itu? 
Sesungguhnya pedagang itu bukanlah saya atau saudara saudari. Sang Pedagang yang sejati itu sesungguhnya adalah Yesus Kristus. Dimana Ladang yang dimaksud dalam perumpamaan ini adalah dunia yang telah rusak karena dosa. Dan harta yang terpendam atau mutiara yang berharga itu adalah kita atau Gereja-Nya yang tinggal di dalam dunia, orang-orang berdosa yang dikasihi-Nya. Percaya kah kamu bahwa kita semua adalah harta yang tersembunyi di dalam debu dosa dunia ini ?. Allah melihat nilai kita, bukan karena kita pada dasarnya baik, melainkan karena kasih karunia-Nya yang telah melayakkan kita.
Karena itu, demi mendapatkan kita atau untuk menjadikan kita milikNya, apakah yang Yesus lakukan? 
Sesungguhnya teks evangelium hari ini mengatakan : "Ia pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Saudara saudari, Yesus adalah penjual yang dimaksud, Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:6-7). Dan hal Ini adalah gambaran agung tentang Karya Penebusan Kristus. Kristus yang meninggalkan takhta kemuliaan-Nya di sorga, dan mengosongkan diri-Nya, untuk mengambil rupa seorang hamba, dan "menjual" atau menyerahkan seluruh hidup-Nya. Di atas kayu salib, Dia membayar harga tebusan kita bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah-Nya yang kudus dan mahal, serta dengan kesengsaraan dan kematian-Nya yang tidak bersalah, sungguh dengan karya itulah Kristus telah membeli kita dari dalam lautan dosa dan menjadikan kita milik-Nya kepunyaanNya sendiri.
Jadi, saudara saudari ketahuilah dan percayalah bahwa bukan kita yang mengorbankan segalanya atau menjadi penjual segalanya untuk mencari Allah, melainkan Kristuslah sang pedagang yang menjual segala milik-Nya demi menebus kita, dan memiliki kita.

2. kita di jamin dalam kepastian oleh Kristus

Saudara saudari, hari ini kita telah masuk ke dalam Minggu VIII setelah Trinitatis, dan khotbah khotbah kita di GKLI dalam Minggu Minggu ini sering dipertemukan dengan perumpamaan perumpamaan. Dan pada Minggu ini kita diperhadapkan dengan perumpamaan akan harta yang terpendam dan mutiara sejati, yang mengingatkan kita agar tidak disesatkan oleh pengajaran palsu atau ilusi duniawi yang tampak berkilau namun sebenarnya tidak bernilai di hadapan Allah.

Saudara saudari, dalam lanjutan khotbah kita ini dapat kita melihat bahwa Yesus memberikan perumpamaan tentang pukat(jala) yang dilabuhkan di laut. Pukat itu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Sesungguhnya hal ini sedang berbicara tentang ESKATOLOGI (akhir zaman) dimana pada akhir zaman, para malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar.
Bagaimanakah agar kita bisa dipandang sebagai "ikan yang baik" yang dikumpulkan ke dalam pasu?
Atau Apakah karena kebaikan moral kita? Sesungguhnya Tidak! Sebab Alkitab selalu menegaskan kepada kita bahwa kebenaran kita bercampur dengan yang kotor atau dosa jikalau tidak didasari oleh Kristus. Dengan kebenaran Yesus kita menjadi orang benar yang kita terima hanya melalui iman kepada Kristus (Sola Fide).

Jadi, karena Kristus telah membeli kita dan kita telah menjadi harta kesayangan-Nya, maka saat pukat itu ditarik ke pantai melambangkan akan hari penghakiman, Allah Bapa tidak lagi melihat dosa-dosa kita. Dia akan selalu melihat darah Yesus yang membungkus kita. Sebab dihadapan Allah kita diselamatkan murni karena status kita sebagai milikNya yang sah dari Sang Pedagang Agung tersebut yaitu Yesus. 
Dan bagi setiap orang yang menolak Kristus, teks ini memberi peringatan keras tentang ratap dan kertak gigi. Jadi, perumpamaan ini juga dapat menjadi sebuah pengingat bahwa menolak Injil berarti akan menghadapi penghakiman yang mengerikan.

Oleh karena itu, Sebagai orang Kristen yang telah ditebus, maka sesungguhnya kita hidup bukanlah hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita. Kita tidak lagi mengikatkan hati kita pada harta dunia yang fana. Karena itu, dalam hidup tiap tiap hari, marilah kita rela melepaskan berhala-berhala hidup kita bukan, sebab kita harus sadar bahwa kita adalah milik Yesus, Yesus adalah satu-satunya Harta Sejati yang menjamin kekekalan kita.
Ingatlah dan percayalah bahwa kita sangat berharga dihadapan Allah, kita telah ditebus, dan Kerajaan Sorga adalah milik kita.

Kiranya Tuhan menolong kita. Amin 🙏🏻 

Pdt. Ardianus Situmorang S.Th






Jumat, 24 Juli 2026

Acara Ibadah Pemuda/i Lutheran Minggu VII Setelah Trinitatis

 

Acara Ibadah Muda mudi GKLI

25 Juli 2026

 

1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 17 : 1 – 3 (Tuhan Allah hadir)

1. Tuhan Allah hadir pada saat ini. Hai sembah sujud disini.
Diam dengan hormat, tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia.
Marilah, umatNya, hatimu serahkan dalam kerendahan.

2. Tuhan Allah hadir, Yang dimuliakan dalam sorga siang - malam
"Suci, suci, suci" untuk selamanya dinyanyikan malak sorga.
Ya Allah, t'rimalah pujian jemaat beserta malaikat.

3. Kami menanggalkan hasrat sia - sia, keinginan manusia;
jiwa raga kami, hidup seluruhnya, Tuhan, kaulah yang empunya.
Dikaulah, Yang Esa, patut dimuliakan seberhana alam.

 

2.      Doa Pembuka

Bapa kami yang ada di Surga, terpujilah Engkau yang setiap saat memelihara hidup kami, kini kami para pemuda pemudi datang memohon kepada_Mu, sebentar lagi kami akan mendengarkan Firman_Mu yang Kudus, ajar dan bimbing lah kami, peliharalah hati dan pikiran kami agar kami beroleh damai sejahtera dalam menerima dan melakukan Firman_Mu. Bapa di Surga kami juga berdoa untuk masa depan kami, berilah kami Iman yang kuat dan pengharapan yang benar agar kami tetap semangat dalam melewati proses yang kami lalui dalam menggapai cita cita kami, dan kami yakin bahwa Engkau selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Kami juga teringat dengan kedua orang tua kami, berkatilah mereka, berikan kesehatan, umur yang panjang dan kuatkan Iman mereka supaya mereka juga setia untuk mendoakan dan mengajari kami untuk tetap berjalan di dalam kebenaran. Kami juga memohon atas segala dosa dan pelanggaran kami, ampunilah kami dari segala dosa yang kami lakukan dan kuatkanlah kami untuk melawan segala bentuk keinginan daging yang menguasai hati dan pikiran kami agar kami tidak selalu jatuh ke dalam dosa. Kami juga memohon untuk dosa dosa kami, Tuhan ampunilah kami akan dosa yang kami lakukan, kuduskanlah kami, agar kiranya kami layak datang kepada_Mu, memuji dan memuliakan nama_Mu yang Kudus. Dalam nama mu yang kudus kami telah berdoa kepada_Mu. Amin.

 

3.      Bernyanyi dari kidung Jemaat No. 392 : 1 – 3 (Ku Berbahagia)

1. "Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi
kepunyaanku! Aku warisNya, 'ku ditebus, ciptaan baru Rohulkudus.

        Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

2. Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi
melimpahiku. Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.

        Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

3. Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku
hatiku teduh. Sambil menyongsong kembaliNya, 'ku diliputi anugerah.

        Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Renungan

Nats      : Roma 8 : 18 - 27

Tema    : BERHARAPLAH SEBAGAI ORANG PERCAYA

Tujuan : Supaya remaja atau pemuda/i memiliki pengharapan kepada Allah :

1.      Pengharapan akan pembebasan

2.      Pengharapan akan keselamatan

3.      Pengharapan akan pendamaian

4.      Pengharapan akan pemulihan

 

Hafalan Roma 8:18

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 410 : 1 – 3 (Tenanglah kini hati ku)

1. Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku.
Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tanganNya.

      Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
           Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

2. Di malam yang gelap benar, di taman indah dan segar,
di taufan dan di laut tenang tetap tanganku dipegang.

        Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
             Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

3. Tak kusesalkan hidupku, betapa juga nasibku,
sebab Engkau dekat, tanganMu kupegang erat.

        Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
             Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

6.      Doa Penutup

7.      Latihan Koor

 


Selasa, 21 Juli 2026

Bahan Bimbingan PRA NIKAH di Gereja Lutheran - GKLI

 

BAHAN BIMBINGAN PRA NIKAH

21 Juni 2026

 

Calon Pangoli :

                          KEVINNOKA ADI PRASANDA & SILVIA SIHOMBING

 

PERNIKAHAN

Menurut teologi Lutheran (berdasarkan Alkitab dan kitab-kitab pengakuan iman Lutheran seperti Book of Concord), PERNIKAHAN adalah lembaga kudus dan tatanan ilahi yang diciptakan oleh Allah sejak awal penciptaan, yang menyatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi satu daging seumur hidup. Pernikahan juga dipandang sebagai Ordo Penciptaan (Schöpfungsordnung) yang menjelaskan Kejadian 2:18-24 bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Pernikahan bukan hasil budaya, adat, atau hukum negara, melainkan kehendak Allah agar laki-laki dan perempuan hidup berdampingan. Pernikahan itu sungguh kudus dihadapan Allah, Karena diciptakan oleh Allah, status pernikahan (baik kaum awam maupun pendeta) adalah suci, mulia, dan terhormat. Ini berbeda dengan pandangan abad pertengahan yang sempat menganggap kehidupan selibat (tidak menikah) lebih suci daripada kehidupan pernikahan.

 

Berdasarkan Pandangan Lutheran, pernikahan itu memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari tradisi gereja lain, dengan poin-poin utama sebagai berikut:

 

1. Pernikahan Bukan Sakramen, Tetapi Tatanan Penciptaan (Creation Ordinance)

Pandangan ini sungguh berbeda dengan pandangan Gereja Katolik Roma, sebab teologi Lutheran (yang dirumuskan oleh Martin Luther) menegaskan bahwa pernikahan bukanlah sebuah sakramen.

Dengan alasan, pernikahan tidak dapat memberikan pengampunan dosa secara khusus di dalam Kristus dan pernikahan sudah ada sebelum manusia jatuh ke dalam dosa (berakar pada Adam dan Hawa).

Jadi, pernikahan itu dikategorikan sebagai masalah duniawi atau urusan sipil (ein weltlich Ding) dalam arti strukturnya diatur di bawah hukum publik. Namun, urusan "duniawi" ini bukan berarti sekuler tanpa makna spiritual. Pernikahan dipandang sebagai lembaga yang sangat kudus karena diperintahkan dan diberkati langsung oleh firman Allah.

 

2. Tujuan dan Kedudukan Pernikahan

Dalam pemikiran Lutheran Konfesional (seperti yang dibahas dalam Pengakuan Augsburg Pasal XXIII), pernikahan memiliki fungsi dan tujuan mulia yang dirancang Allah yaitu :

v  Sebagai jalan kehadiran Keturunan dan Keluarga. Sebab Keluarga adalah tempat yang sah dan diberkati untuk melahirkan, memelihara, dan mendidik anak-anak dalam takut akan Tuhan.

v  Sebagai Pendampingan Hidup (Companionship), menyatukan suami dan istri untuk saling menolong, mengasihi, dan memikul salib hidup bersama demi kemuliaan Allah.

v  Obat Terhadap Dosa Seksual (Remedium): Pemuasan kebutuhan seksual secara kudus dan terhormat untuk menghindari persundalan dan dosa di dalam dunia yang telah jatuh.

 

3. Pemulihan Kehormatan Pernikahan dan Penghapusan Selibat Wajib

Pada abad reformasi, Lutheran Konfesional menolak pandangan abad pertengahan yang menganggap hidup selibat (tidak menikah/membiara) lebih suci daripada hidup pernikahan. Luther menegaskan bahwa pernikahan adalah panggilan hidup (vocation) yang sangat terhormat. Karena itu, para pendeta (klerus) Lutheran diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk menikah guna menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga adalah ladang pelayanan yang suci.

 

4. Komitmen Monogami dan Sifat Permanen

Pernikahan menurut ajaran GKLI bersifat monogami (satu laki-laki dan satu perempuan) dan dimaksudkan untuk berlangsung seumur hidup. Maka janji pernikahan itu dipandang sebagai sebuah perjanjian (covenant) di hadapan Allah, bukan sekadar kontrak sosial biasa yang mudah dibatalkan. Perceraian sangat dibenci dan hanya diizinkan dalam kasus-kasus ekstrem yang secara alkitabiah telah merusak esensi pernikahan itu sendiri, seperti perzinaan atau penelantaran yang disengaja (desertion). Maka dengan demikian, sebaik mungkin setiap orang yang telah menikah sebagaimana orang orang yang di bawah tuntuanan iman harus hidup dalam pernikahan yang Kudus, dan pernikahan akan berakhir hanya pada kematian.

 

5. Langkah utama dalam menjaga komitmen pernikahan

A. Menjadikan Kristus sebagai pusat "meja Altar di rumah

Dalam teologi Lutheran, keluarga sering disebut sebagai "gereja kecil" (ecclesiola). Martin Luther bahkan menulis Katekhismus Kecil secara khusus agar kepala keluarga dapat mengajarkan iman Kristen kepada anggota keluarganya. Komitmen dijaga dengan cara:

v  Ada Ibadah Keluarga, Menyediakan waktu bersama untuk membaca Alkitab, berdoa, dan menyanyikan pujian di rumah.

v  Saling Mendoakan, Suami, istri, dan anak-anak saling membawa pergumulan satu sama lain di hadapan Tuhan dalam doa harian.

 

B. Mempraktikkan Hukum dan Injil dalam Rumah Tangga

Prinsip utama Lutheran tentang "Hukum dan Injil" (Law and Gospel) sangat berlaku dalam pernikahan:

v  Hukum (Kesadaran Dosa): Mengakui dengan rendah hati bahwa setiap pasangan adalah manusia berdosa (simul iustus et peccator — sekaligus orang benar dan orang berdosa). Ini membantu kita untuk tidak menuntut kesempurnaan mutlak dari pasangan.

v  Injil (Pengampunan): Pernikahan Lutheran yang kuat hidup dari pengampunan dosa yang radikal. Menjaga komitmen berarti siap untuk mengampuni pasangan sesering Kristus mengampuni kita, bukan menyimpan dendam atau menghitung kesalahan.

 

C. Memandang Pernikahan sebagai Panggilan Kudus (Vocation)

Lutheran percaya bahwa Allah bekerja melalui manusia untuk memelihara ciptaan-Nya. Ketika suami atau istri melakukan tugas rumah tangga (memasak, bekerja mencari nafkah, merawat anak, atau membersihkan rumah), mereka sedang melakukan pekerjaan kudus bagi Allah. Komitmen dijaga dengan melihat bahwa melayani pasangan dan anak-anak adalah bentuk ibadah yang nyata kepada Tuhan. Saat Anda lelah, Anda ingat bahwa Anda sedang melayani Kristus melalui keluarga Anda.

 

D. Saling Memikul Salib Hidup Bersama

Komitmen pernikahan Lutheran tidak didasarkan pada perasaan romantis yang naik-turun, melainkan pada janji setia. Luther mengajarkan bahwa pernikahan juga membawa "salib" (tantangan, penyakit, kesulitan ekonomi, atau perbedaan pendapat). Menjaga komitmen berarti bersedia tetap berdiri di samping pasangan, memikul beban bersama, dan saling menopang di masa-masa sulit.

 

E. Setia pada Ibadah Jemaat dan Sakramen

Komitmen keluarga tidak bisa dijaga hanya dengan kekuatan sendiri. Keluarga Lutheran didorong untuk tertib beribadah di gereja lokal dan menerima Sakramen Mahakudus (Perjamuan Kudus). Melalui sarana-sarana kasih karunia inilah, Allah memperbarui, menguatkan, dan menyembuhkan komitmen pernikahan yang mungkin sedang goyah atau lelah.

 

6. Siapakah bendahara dalam keluarga

Prinsip Lutheran tidak berfokus pada siapa yang memegang dompet, melainkan pada bagaimana uang tersebut dikelola bersama berdasarkan teologi penatalayanan yang setia (faithful stewardship) dan panggilan hidup (vocation).

Berikut adalah poin-poin teologis dan praktis Lutheran konvesional mengenai pengelolaan rumah tangga :

a)      Suami sebagai Kepala Keluarga (Penanggung Jawab Utama)

Secara struktur alkitabiah, suami ditetapkan sebagai kepala rumah tangga (Efesus 5:23). Dalam hal keuangan, peran ini berarti suami memikul tanggung jawab utama untuk memastikan kebutuhan keluarganya tercukupi. Dalam pengajaran Lutheran tidak berfokus pada siapa yang memegang dompet, melainkan pada bagaimana uang tersebut dikelola bersama berdasarkan pelayanan yang setia (faithful stewardship) dan panggilan hidup (vocation).

 

b)     Prinsip Satu Daging dan Kepemilikan Bersama

Dalam pengajaran teologi, pernikahan lutheran berakar pada Kejadian 2 :24 ("keduanya menjadi satu daging") memandang pernikahan sebagai persatuan total. Dalam hal keuangan, ini berarti, Tidak ada istilah "uangku" atau "uangmu", yang ada adalah "uang kita". Baik suami maupun istri memiliki hak dan tanggung jawab yang sama atas berkat materi yang Tuhan titipkan kepada keluarga tersebut. Keputusan keuangan yang besar (seperti inv investasi, cicilan, atau bantuan ke kerabat) harus diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan keputusan sepihak.

 

c)      Konsep Penatalayanan (Stewardship)

Lutheran menekankan bahwa uang dan harta benda bukanlah milik manusia seutuhnya, melainkan milik Allah. Suami dan istri adalah penata layanan (manajer) yang ditunjuk Allah untuk mengelola harta tersebut. Siapa yang menjadi "manajer teknis" (yang membayar tagihan bulanan, mencatat pengeluaran, dll.) biasanya ditentukan secara praktis berdasarkan karunia atau talenta masing-masing pasangan, artinya Jikalau istri lebih teliti, rapi dalam pencatatan, dan bijaksana dalam mengatur anggaran belanja bulanan, maka secara praktis istri dapat dipercaya sebagai pemegang untuk mengeksekusi keuangan.

Sebaliknya jika suami lebih memiliki kecakapan tersebut, maka suami yang memegangnya.

 

d)     Peran Suami sebagai Kepala Keluarga

Meskipun Lutheran konvensional memegang teguh ajaran Alkitab bahwa suami adalah kepala keluarga (Efesus 5:23), peran ini tidak diterjemahkan sebagai otoritas diktator atau penguasa tunggal di keluarga , terlebih keuangan. Kepala keluarga dalam teologi Lutheran berarti bertanggung jawab penuh di hadapan Tuhan atas kesejahteraan fisik dan rohani keluarganya. Karena itu, setiap BBSuami wajib memastikan kebutuhan istri dan anak-anak tercukupi (1 Timotius 5:8). Oleh karena itu, jika istri yang memegang uang harian, suami tetap berfungsi sebagai pengawas spiritual dan mitra diskusi agar keuangan tersebut digunakan demi kemuliaan Tuhannya dan kebaikan keluarga.

 

e)      Gambaran Istri yang Cakap (Amsal 31)

Tradisi Lutheran sangat menghargai peran istri. Mengacu pada Amsal 31 (karakter istri yang cakap), Alkitab memperlihatkan bahwa seorang istri Kristen memiliki kapasitas yang luar biasa dalam mengelola ekonomi, bahkan ikut berbisnis, membeli tanah, dan mengatur kebutuhan domestik rumah tangga dengan bijak. Jadi, mempercayakan pengelolaan uang kepada istri adalah hal yang sangat Alkitabiah dan dihargai dalam tradisi ini.

 

 

 

7. Bagaimanakah keluarga (Pernikahan Kristen) dapat bertahan dalam dunia ?

v  Memeluk "Teologi Salib" (Theology of the Cross)

Martin Luther membedakan antara Teologi Kemuliaan (yang mengira mengikut Tuhan selalu berarti sukses, kaya, dan sehat) dengan Teologi Salib.

Alkitab: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24).

Konkord (Pasal-Pasal Smalkald & Formula Konkord): Buku Konkord menegaskan bahwa salib dan penderitaan adalah tanda pengenal gereja yang sejati dan kehidupan orang beriman. Keluarga Lutheran bertahan dengan cara memandang kepada Kristus yang disalibkan. Mereka tahu bahwa jika Kristus yang tidak berdosa saja menderita, maka penderitaan mereka saat ini adalah bagian dari persekutuan dengan penderitaan-Nya.

 

v  Bertahan dalam Kemiskinan: Mengandalkan Pemeliharaan Allah (Providentia)

Ketika menghadapi kesulitan ekonomi yang berat, keluarga Lutheran berpaling pada pengajaran Katekismus Kecil Luther tentang Bagian Pertama Pengakuan Iman (Allah Pencipta)

Katekismus Kecil (Penjelasan Pasal Pertama): Luther menulis bahwa Allah "menyediakan bagiku pakaian dan sepatu, makanan dan minuman, rumah dan huni, istri dan anak, ladang, ternak, dan segala harta benda... Ia melindungi aku terhadap segala bahaya."

Cara Bertahan: Bahkan dalam kemiskinan, keluarga Lutheran diajar untuk tidak menjadi hamba uang atau putus asa (Matius 6:25-34). Mereka bertahan dengan tetap bekerja keras sesuai dengan panggilan hidup mereka (Vocation) sambil mengimani bahwa Allah akan mencukupkan kebutuhan paling mendasar ("makanan kita sehari-hari") tepat pada waktu-Nya. Kemiskinan materi tidak mengurangi kekayaan rohani mereka di dalam Kristus.

 

v  Bertahan saat Tidak Mendapat Keturunan: Bersandar pada Kedaulatan Allah

Dalam budaya konvensional, tidak memiliki anak sering kali menjadi beban mental yang besar. Namun, iman Lutheran menaruh pengharapan pada janji Allah yang melampaui rahim fisik.

Alkitab: Mengingat kisah Abraham-Sara, Elkana-Ana, atau firman di Yesaya 54:1 bahwa orang yang mandul pun dapat bersukacita karena Tuhan memiliki rencana yang besar.

Pendekatan Lutheran: Anak adalah anugerah (gift), bukan hak mutlak yang bisa dituntut dari Allah. Jika Allah belum atau tidak mempercayakan anak kandung, pasangan Lutheran diajar untuk tidak saling menyalahkan. Mereka bertahan dengan melihat bahwa pernikahan mereka tetap utuh, sah, dan kudus di mata Allah meskipun hanya berdua. Mereka dapat menyalurkan kasih sayang tersebut dengan melayani anak-anak di gereja, mengadopsi anak, atau berfokus pada pelayanan jemaat.

 

v  Menghadapi Pencobaan Melalui Sarana Kasih Karunia (Means of Grace)

Keluarga Lutheran konvensional tidak berjuang melawan pencobaan (putus asa, kepahitan, atau keinginan untuk meninggalkan iman) dengan kekuatan tekad mereka sendiri, melainkan dengan datang kepada Sarana Kasih Karunia:

a.       Firman Allah dan Ibadah Rumah Tangga: Mereka membaca Alkitab bersama di rumah (khususnya Kitab Mazmur yang penuh dengan ratapan dan pengharapan) serta menggunakan Katekismus Kecil sebagai panduan doa harian.

b.      Sakramen Perjamuan Kudus: Mereka rajin menerima Perjamuan Kudus di gereja. Buku Konkord (khususnya Apologi Pengakuan Iman Augsburg) menekankan bahwa Perjamuan Kudus diberikan justru untuk menghibur hati yang cemas, lemah, dan tertindas oleh penderitaan, sebagai meterai jaminan bahwa dosa mereka diampuni dan Allah dipihak mereka.

 

 

v  Pengakuan Dosa dan Absolusi Pribadi (Confession and Absolution)

Penderitaan dan kemiskinan yang berkepanjangan sering kali memicu konflik antar suami-istri atau rasa bersalah di hadapan Allah.

Buku Konkord (Katekismus Besar): Luther sangat menganjurkan praktik pengakuan dosa pribadi di hadapan Pendeta bukan sebagai kewajiban legalistik, melainkan sebagai "obat" bagi jiwa yang berbeban berat.

Ketika suami atau istri merasa tidak kuat lagi, mereka dapat pergi ke Pendeta jemaat untuk mencurahkan isi hati dan menerima Absolusi (Pernyataan Pengampunan dan Penghiburan Kristus) secara pribadi untuk memulihkan kekuatan spiritual mereka.

 

v  Hidup dalam Persekutuan Orang Kudus (Communio Sanctorum)

Keluarga Lutheran tidak menderita sendirian. Gereja Lutheran konvensional yang sehat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang saling menopang (1 Korintus 12:26). Melalui diakonia jemaat, keluarga yang mengalami kemiskinan ekstrem harus dibantu secara materi oleh saudara-saudara seiman, sehingga beban penderitaan tersebut dipikul bersama-sama.


theologi Lutheran

Evangelium Minggu IX Setelah Trinitatis - Yesus memberi makan 5000 orang Matius 14:13-21

Minggu IX Setelah Trinitatis. Yesus memberi makan 5000 orang Matius 14:13-21 Thema : Kristus sang anugerah, Sang Roti Hidup di P...

what about theologi luther ?