Minggu, 01 Februari 2026

Kisah Habakuk

Habakuk bukan nabi yang hanya menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia, tetapi juga nabi yang berani menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan. 

Ia melihat ketidakadilan, penindasan, dan kejahatan di sekelilingnya. Hatinya gelisah, doanya penuh tanda tanya.
Habakuk bertanya, “Sampai kapan, Tuhan, aku berseru, tetapi Engkau tidak mendengar?”

Ini bukan doa orang yang tidak beriman, tetapi doa orang yang terluka karena peduli.

Di zamannya, bangsa Yehuda dipenuhi kekerasan dan hukum tidak ditegakkan. Orang benar tertindas, orang jahat merajalela. Habakuk berseru kepada Tuhan, berharap Tuhan segera bertindak.
Namun jawaban Tuhan justru mengejutkan. Tuhan berkata bahwa Ia akan memakai bangsa Kasdim (Babel), bangsa yang lebih kejam, untuk menghukum Yehuda.

Habakuk semakin bingung.
“Bagaimana mungkin Engkau yang kudus memakai bangsa yang lebih jahat untuk menghukum kami?”

Di sini kita melihat sisi iman yang sangat manusiawi:
Habakuk tidak pura-pura kuat. Ia tidak menutup kebingungannya. Ia jujur di hadapan Tuhan.
Lalu Habakuk memilih sikap yang indah:
Ia berkata bahwa ia akan berdiri di menara pengintai, menunggu apa yang akan Tuhan katakan.
Artinya, setelah bertanya, ia tidak lari, tetapi menunggu dengan hati yang terbuka.

Tuhan pun menjawab:
Bahwa kejahatan tidak akan dibiarkan selamanya.
Bahwa waktunya akan datang, meski terasa lambat.

Dan Tuhan berkata kalimat yang sangat terkenal:
“Orang benar akan hidup oleh percayanya.”
Artinya:
Di saat keadaan belum berubah, di saat keadilan belum terlihat, yang Tuhan minta bukan kepanikan, tapi iman yang tetap melekat.

Habakuk mulai melihat lebih jauh dari sekadar masalah hari ini. Ia menyadari bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah, atas bangsa-bangsa dan atas masa depan.

Di pasal terakhir, nada doa Habakuk berubah.
Bukan lagi penuh keluhan, tetapi penuh penyembahan.
Ia mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu:
bagaimana Tuhan menolong, menyelamatkan, dan menunjukkan kuasa-Nya.
Ketakutan masih ada, keadaan belum berubah, tapi hatinya sudah berdiri di atas iman.

Lalu lahirlah pengakuan yang sangat indah dan kuat:
Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
tidak ada hasil pada pohon anggur,
hasil pohon zaitun mengecewakan,
dan ladang-ladang tidak memberi makanan,
namun aku akan bersukacita di dalam Tuhan"

Ini bukan sukacita karena keadaan baik,
tetapi sukacita karena Tuhan tetap Allah, sekalipun hidup sedang sulit.

Habakuk belajar bahwa iman sejati bukan tentang selalu mengerti rencana Tuhan,
tetapi tentang tetap percaya saat rencana itu belum kita pahami.

■ Kisah Habakuk mengajarkan bahwa:
Tuhan tidak marah pada pertanyaan yang lahir dari iman.
Tuhan tidak menolak hati yang jujur.
Dan Tuhan tidak pernah bekerja terlalu lambat, Ia selalu tepat waktu menurut rencana-Nya.
Dari nabi yang penuh tanda tanya, Habakuk berubah menjadi pribadi yang penuh penyembahan.
Dari hati yang gelisah, menjadi hati yang berserah.
Bukan karena masalahnya langsung hilang,
tetapi karena ia menemukan kembali siapa yang ia percaya.
Dan mungkin hari ini kita pun sedang bertanya,
“Kenapa belum berubah? Kenapa masih begini?”

Kisah Habakuk berbisik lembut kepada kita:
Tetaplah berdiri di menara imanmu. Tuhan sedang bekerja, meski belum terlihat.

Tuhan Yesus memberkati 🙏

Tidak ada komentar:

theologi Lutheran

Bagian 2 - penjelasan tentang Pengakuan Iman Nicea

Tanggal pasti dan penulis pengakuan iman Athanasius tidak diketahui. Pengakuan ini mengambil namanya dari tradisi teologis Santo Athanasius....

what about theologi luther ?