Sabtu, 14 Februari 2026

Yesus Sungguh - Benar benar anak Allah (Matius 17 : 1 - 9

Matius 11:1-9
Thema : Yesus Sungguh Anak Allah



Saudara saudari, topik khotbah minggu ini membicarakan tentang peristiwa TRANSFIGURASI, dimana ke 3 murid Yesus penuh ketakutan menyaksikan Yesus Kristus berubah wujud dan bersinar dengan kemuliaan surgawi.
Apakah hubungan yang dapat kita pahami antara kemuliaan Yesus yang berubah wujud yang dinyatakan di gunung ini dengan penderitaan yang akan Yesus alami di Golgota? 
Dan apakah artinya bagi para murid untuk mengikuti pemimpin seperti itu?
Transfigurasi menandai titik tengah dalam serangkaian peristiwa yang mendefinisikan siapa Yesus. Baik pada baptisan maupun transfigurasi-Nya, suara surgawi menyampaikan-mengumumkan bahwa Yesus adalah benar benar Anak Allah. Pada saat pencobaan-Nya, di Getsemani, dan pada penyaliban-Nya, Yesus sungguh bergumul akan penghinaan, penderitaan, danterlebih pengabaian yang harus Ia lakukan sebagai Anak Allah. Yang pada akhirnya Yesus yang telah bangkit menyatakan identitas-Nya, dan mengutus murid-murid-Nya untuk mengajar dan membaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Dalam proses perjalanan pelayanan Yesus sebelum transfigurasi, para murid telah menyembah Yesus yang berjalan di atas air sebagai Putra Allah (Matius 14:33), tetapi mereka belum dapat memahami dengan benar apakah artinya bagi Yesus sebagai putera Allah. Meskipun Petrus mengatakan-mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup, Petrus juga sepenuhnya menolak dan tidak percaya akan pemberitaan Yesus bahwa Ia akan menderita dan mati dikayu salib. Yesus menegaskan pemahaman Petrus tetapi menolak protesnya, bahkan menyebutnya Setan karena telah menggoda Putra Allah untuk mendefinisikan diri-Nya dengan kemuliaan tetapi bukan dengan penderitaan. Lebih dariitu lagi, Yesus memanggil Petrus dan siapa pun yang ingin menjadi murid-Nya harus mengikuti-Nya di jalan yang menuju salib, siap menderita memikul salib.

Dalam bacaan perikop kita hari ini, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi. Di sana Ia berubah wujud di hadapan mereka. Wajah-Nya bersinar seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti cahaya (deskripsi yang unik dalam Injil Matius). Musa dan Elia muncul dan berbicara kepada Yesus. Seperti dalam Injil Markus dan Lukas, Petrus berkata, “Adalah baik bagi kita untuk berada di sini,” dan menyarankan untuk membangun tenda bagi masing-masing dari mereka bertiga, tetapi Matius memperlakukan Petrus secara berbeda di sini daripada Injil-injil lainnya: Petrus menyebut Yesus sebagai “Tuhan,” gelar yang dalam Injil Matius menunjukkan iman; ia tunduk pada kehendak Yesus (“jika Engkau menghendaki”); ia menawarkan untuk membangun tenda di sana sendirian (“Aku akan membangun di sini,” dibandingkan dengan “marilah kita membangun” dalam Injil Markus dan Lukas); dan pada titik ini tidak ada indikasi bahwa ia takut atau tidak tahu apa yang ia katakan (bdk. Markus 9:6, Lukas 9:33).

Yesus tidak menanggapi tawaran itu, tetapi sementara Petrus masih berbicara, awan yang cemerlang menaungi mereka. Sebuah suara dari awan dalam Matius 17 menggemakan kata-kata suara surgawi yang sama pada saat baptisan Yesus: “Inilah Anak-Ku, yang Kukasihi, yang kepada-Nya Aku berkenan” (Terjemahan NRSV sedikit berbeda untuk Matius 17:5 dan Matius 3:17, tetapi susunan kata-katanya identik dalam bahasa Yunani). Kemudian suara itu menambahkan perintah: “Dengarkan Dia!” Mendengar suara Tuhan, para murid jatuh ketakutan.
Seluruh kejadian itu penuh dengan kiasan pada Perjanjian Lama. Kejadian itu mengingatkan pada perjumpaan Elia dengan Tuhan di gunung suci. Kejadian itu mengingatkan pada wahyu di Gunung Sinai dan awan kemuliaan Tuhan yang menaungi gunung dan kemah tempat Musa bertemu dengan Tuhan. Dan kejadian itu mengingatkan kembali yang terjadi pada Maleakhi 4, di mana Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk mengingat perkataan Musa dan mengatakan bahwa Elia akan diutus dalam misi pemulihan sebelum hari Tuhan.

Tidak heran jika para murid ketakutan oleh penampakan ilahi ini. Seperti yang dikatakan Maleakhi, “Siapakah yang dapat menahan hari kedatangan-Nya, dan siapakah yang dapat berdiri teguh ketika Ia menampakkan diri?” (Maleakhi 3:2). 
Kemudian Yesus mendekati para pengikut-Nya yang ketakutan, menyentuh mereka, dan mengatakan kepada mereka untuk tidak takut. Meskipun mereka tidak tahan mendengar Tuhan berbicara dari awan, tetapi mereka dapat mendengarkan Yesus. 
Lalu Firman Allah berbicara kepada kita sekarang, bukan seperti suara gemuruh dari surga atau huruf-huruf yang tertulis di loh batu tetapi dalam perkataan dan perbuatan Yesus yang dinyatakan lewat 4 Injil Kristus. Ketika Firman Allah di sampaikan dengan kebenaranNya sesungguhnya kita sedang mendengar suara putra Allah yang berbicara kepada kita seperti seorang manusia yang berbicara kepada manusia lainnya, dan Kuasa Firman berkuasa menolong dan membangkitkan kita dan mengikuti-Nya, seperti ke 3 murid yang menunduk di hadapan Yesus di teguhkan kembali oleh penglihatan itu.
Dalam perjalanan menuruni gunung bersama murid, Yesus sekali lagi memberi tahu mereka bahwa Anak Manusia harus menderita, dan Ia memerintahkan mereka untuk tidak menceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sampai setelah Ia dibangkitkan dari kematian. Mereka membahas peran Elia dalam memulihkan segala sesuatu, dan kemudian Yesus, yang wajahnya bersinar seperti matahari, turun ke tengah kerumunan manusia yang membutuhkan dan segera menyembuhkan seorang anak yang kerasukan setan. Seperti yang dikatakan Maleakhi, “Bagi kamu yang menghormati nama-Ku, matahari kebenaran akan terbit dengan sayapnya yang membawa kesembuhan” (Maleakhi 4:2).
Jadi, khotbah kisaah transfigurasi ini mengarahkan kita untuk tidak hanya memahami Yesus sebagaimana Ia dinyatakan dalam kemuliaan. Firman ini mengarahkan dan mengajak kita untuk berjalan bersama Yesus ke tengah kerumunan yang menderita dan kelaparan, seperti Kristus yang turun dari gunung bersama murid untuk orang yang menderita. Firman Allah memerintahkan kita untuk mendengarkan Yesus. Mendengarkan lebih dari sekadar mendengar. Seperti yang Yesus katakan dalam Khotbah di Bukit, membangun di atas batu karang berarti bukan hanya mendengar firman-Nya, tetapi juga bertindak sesuai dengan firman itu (Matius 7:24). Sebab mendengar tanpa menaati akan akan mendatangkan kehancuran.
Dengan demikian, kita harus percaya dan memberitahukan kepada seluruh orang-orang bahwa Bapa Yang Mahakuasa tidak mengutus Putra-Nya ke dunia untuk membuat kita Hanya terpesona dengan keagungan-Nya. Dan Allah juga tidak mengutus Putra-Nya untuk menggunakan kuasa-Nya yang besar memaksa dunia agar menyembah-Nya dalam diam dan dengan penuh kekaguman.
Yesus adalah benar anak Allah yang telah menderita dan bangkit dari kematian dan Ia akan datang kembali untuk membawa kita ke tempatNya. Maka dalam penantian ini, tiada yang lain yang dapat menjamin kehidupan kita selain KuasaNya, Yesus adalah sumber pertolongan dan kehidupan bagi kita, marilah tetap bersandar dan bergantung hanya kepadaNya. Amin 🙏

#Vdma


Tidak ada komentar:

theologi Lutheran

Yesus Sungguh - Benar benar anak Allah (Matius 17 : 1 - 9

Matius 11:1-9 Thema : Yesus Sungguh Anak Allah Matius 7 : 1 - 9 Saudara saudari, topik khotbah minggu ini membicarakan tentang p...

what about theologi luther ?