Minggu, 01 Februari 2026

PENJELASAN TENTANG PENGAKUAN IMAN ATHANASIUS

Santo Athanasius adalah uskup dan patriark Aleksandria, Mesir (di bawah kendali Romawi) dari tahun 328 hingga 373 M. Ia menghadiri Konsili Nicea Pertama pada tahun 325 M sebagai sekretaris pendahulunya, Alexander. Athanasius ditahbiskan sebagai uskup dan patriark setelah kematian Alexander. Selama 48 tahun memimpin wilayah tersebut, ia diasingkan lima kali, oleh empat kaisar Romawi yang berbeda, selama 17 tahun, karena kontroversi teologis di Afrika Utara.
Masing-masing dari tiga bagian kredo dimulai dengan bahasa yang serupa. Kredo Nicea dan Kredo Para Rasul dimulai dengan “Aku percaya…” Tetapi Kredo Athanasius mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya mengaku bersama dengan satu suara, di sini kita juga saling menasihati, “Siapa pun yang ingin diselamatkan, di atas segalanya, harus memegang teguh iman Katolik.” Kemudian, di setiap bagian, kita mengakui iman Katolik. 
Kita sebagai umat Lutheran tidak perlu takut dengan kata " katolik ". Istilah katolik tidak merujuk pada Gereja Katolik Roma modern, tetapi pada gereja Kristus yang universal, tak terlihat, ortodoks , dan setia di bumi. Kita mempertahankan penggunaan istilah "katolik" dalam Pengakuan Iman Athanasius sebagai penentangan terhadap gereja kepausan Roma. "Katolik" secara sederhana berarti "universal," dan sebagai demikian, kita dengan berani mengakuinya dari identitas Lutheran kita.
Kesatuan Allah Tritunggal tidak diciptakan, tak terbatas, dan kekal, “bukan tiga allah, tetapi satu Allah.” Bahasa ini menolak Subordinasionisme , yang menyatakan bahwa Putra dan Roh Kudus terkadang lebih rendah daripada Allah Bapa. Sebaliknya, Allah adalah satu substansi. Subordinasionisme , sebagian, merupakan koreksi berlebihan terhadap kesalahan modalisme. Para penganut subordinasionisme berusaha untuk memperjelas perbedaan pribadi dalam Tritunggal. Koreksi berlebihan mereka menciptakan posisi teologis yang bergantung pada triteisme. Untuk melindungi pemahaman kita dari penggabungan Allah menjadi hanya satu hal dari satu jenis saja, mereka menciptakan pemahaman di mana Allah dapat dengan mudah menjadi tiga hal dari tiga jenis. Dan ketiga karakter Allah yang terhubung ini memiliki hierarki dalam panteon mereka. Ini adalah sebuah kesalahan.
Kesalahan modalisme juga dibahas dalam pengakuan ini, Ini berfungsi untuk mengingatkan kita bahwa kebalikan dari suatu kesalahan tidak selalu merupakan kebenaran. Terkadang kebalikan dari suatu kesalahan bisa jadi hanyalah kesalahan ke arah yang berlawanan.
“Tetapi keilahian Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu: kemuliaan-Nya sama, keagungan-Nya kekal bersama.” Keilahian Tritunggal adalah utuh dan satu. Sifat-sifat Allah dalam kesatuan-Nya sama dan satu: tidak diciptakan, tak terbatas, kekal, dan mahakuasa. Tetapi ini bukanlah selusin sifat, masing-masing empat, yang unik bagi setiap pribadi. Ada empat sifat yang dimiliki setiap pribadi sebagai satu kesatuan. Tidak ada tiga dewa, tetapi satu Allah. Tidak ada tiga tuan, tetapi satu Tuhan. Tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu Yang Kekal. Kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal dan Tritunggal dalam Kesatuan.
Jangan biarkan diri Anda berkecil hati atau patah semangat oleh pemahaman yang rumit ini. Ini adalah pergumulan yang berat bagi gereja mula-mula dan tetap menjadi kesulitan intelektual bagi kita saat ini. Inti dari Pengakuan Iman Athanasius adalah bahwa kita tidak akan pernah sepenuhnya memahami Tritunggal. Namun, dengan bantuan para bapa iman sebelum kita, kita dapat mengidentifikasi hal-hal yang berada di luar pemahaman yang benar.
Saudara-saudari terkasih yang telah dibaptis, marilah kita merayakan Tritunggal dalam Kesatuan dalam Tritunggal!
Segala puji bagi Tuhan!

Kisah Habakuk

Habakuk bukan nabi yang hanya menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia, tetapi juga nabi yang berani menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan. 

Ia melihat ketidakadilan, penindasan, dan kejahatan di sekelilingnya. Hatinya gelisah, doanya penuh tanda tanya.
Habakuk bertanya, “Sampai kapan, Tuhan, aku berseru, tetapi Engkau tidak mendengar?”

Ini bukan doa orang yang tidak beriman, tetapi doa orang yang terluka karena peduli.

Di zamannya, bangsa Yehuda dipenuhi kekerasan dan hukum tidak ditegakkan. Orang benar tertindas, orang jahat merajalela. Habakuk berseru kepada Tuhan, berharap Tuhan segera bertindak.
Namun jawaban Tuhan justru mengejutkan. Tuhan berkata bahwa Ia akan memakai bangsa Kasdim (Babel), bangsa yang lebih kejam, untuk menghukum Yehuda.

Habakuk semakin bingung.
“Bagaimana mungkin Engkau yang kudus memakai bangsa yang lebih jahat untuk menghukum kami?”

Di sini kita melihat sisi iman yang sangat manusiawi:
Habakuk tidak pura-pura kuat. Ia tidak menutup kebingungannya. Ia jujur di hadapan Tuhan.
Lalu Habakuk memilih sikap yang indah:
Ia berkata bahwa ia akan berdiri di menara pengintai, menunggu apa yang akan Tuhan katakan.
Artinya, setelah bertanya, ia tidak lari, tetapi menunggu dengan hati yang terbuka.

Tuhan pun menjawab:
Bahwa kejahatan tidak akan dibiarkan selamanya.
Bahwa waktunya akan datang, meski terasa lambat.

Dan Tuhan berkata kalimat yang sangat terkenal:
“Orang benar akan hidup oleh percayanya.”
Artinya:
Di saat keadaan belum berubah, di saat keadilan belum terlihat, yang Tuhan minta bukan kepanikan, tapi iman yang tetap melekat.

Habakuk mulai melihat lebih jauh dari sekadar masalah hari ini. Ia menyadari bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah, atas bangsa-bangsa dan atas masa depan.

Di pasal terakhir, nada doa Habakuk berubah.
Bukan lagi penuh keluhan, tetapi penuh penyembahan.
Ia mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu:
bagaimana Tuhan menolong, menyelamatkan, dan menunjukkan kuasa-Nya.
Ketakutan masih ada, keadaan belum berubah, tapi hatinya sudah berdiri di atas iman.

Lalu lahirlah pengakuan yang sangat indah dan kuat:
Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
tidak ada hasil pada pohon anggur,
hasil pohon zaitun mengecewakan,
dan ladang-ladang tidak memberi makanan,
namun aku akan bersukacita di dalam Tuhan"

Ini bukan sukacita karena keadaan baik,
tetapi sukacita karena Tuhan tetap Allah, sekalipun hidup sedang sulit.

Habakuk belajar bahwa iman sejati bukan tentang selalu mengerti rencana Tuhan,
tetapi tentang tetap percaya saat rencana itu belum kita pahami.

■ Kisah Habakuk mengajarkan bahwa:
Tuhan tidak marah pada pertanyaan yang lahir dari iman.
Tuhan tidak menolak hati yang jujur.
Dan Tuhan tidak pernah bekerja terlalu lambat, Ia selalu tepat waktu menurut rencana-Nya.
Dari nabi yang penuh tanda tanya, Habakuk berubah menjadi pribadi yang penuh penyembahan.
Dari hati yang gelisah, menjadi hati yang berserah.
Bukan karena masalahnya langsung hilang,
tetapi karena ia menemukan kembali siapa yang ia percaya.
Dan mungkin hari ini kita pun sedang bertanya,
“Kenapa belum berubah? Kenapa masih begini?”

Kisah Habakuk berbisik lembut kepada kita:
Tetaplah berdiri di menara imanmu. Tuhan sedang bekerja, meski belum terlihat.

Tuhan Yesus memberkati 🙏

Kamis, 29 Januari 2026

Mazmur 28 - Tetap berjuang di dalam Iman

Shalom

Firman Allah untuk kita
Mazmur 28:6
Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.
Mazmur 28:7
TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.
Mazmur 28:8
TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!
Mazmur 28:9
Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Saudara saudari, bagaimanakah berjuang dalam kuasa Iman?. 
Apakah ketika kejahatan semakin mengusik kita Iman itu semakin redup?. 

Jikalau kita perhatikan dan renungkan Firman ini. 
Sesungguhnya Pemazmur sedang dalam situasi yang sangat mirip. Ia tertekan karena sepertinya Tuhan berdiam diri dan membisu (ayat 1). Ia merasa dengan membisunya Tuhan, dirinya seperti sudah ditinggalkan untuk mati ("aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur"). Pemazmur merasa hampir terseret kepada perbuatan orang fasik (ayat 3).

Dalam bacaan ini, dapat kita memahami bahwa ada dua hal yang pemazmur lakukan untuk menghadapi situasi itu.
1. Ia tidak berhenti berdoa dan berharap, walaupun Tuhan belum menjawabnya. Pemazmur percaya bahwa hanya Tuhanlah sumber kekuatan dan kemenangan iman. Sebab itu, pemazmur mengarahkan doa-doanya ke takhta Allah di ruang maha kudus (ayat 2). Maka dalam pergumulan itu, ia tidak kehilangan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan menjawab dan menolong dia (ayat 6-7).
2. Pemazmur juga memohon keadilan dari Tuhan agar orang orang yang jahat dihukum setimpal (ayat 4-5). Permohonan ini sangat realistis karena bila dibiarkan, kemunafikan mudah menjalar. Bahkan Pemazmur merasa bahwa ia bisa juga akan jatuh ke dalam dosa yang sama (ayat 3). Dengan sendirinya, hal itu akan menjadi kesaksian yang buruk bagi umat Tuhan (ayat 9). 

Oleh karena itu, mulailah dengan tetap bertekun dalam doa dan tidak berhenti berharap kepada Tuhan, sebab dalam Doa dan pengharapan itu, Tuhan akan menguatkan dan memampukan kita. Kitapun boleh meminta keadilan agar Tuhan menegakkannya, tetapi sebagai murid Kristus, kita juga harus mendoakan agar mereka bertobat. Terlebih, sebagai orang yang telah beroleh kasih karunia pembenaran, kita juga harus tetap belajar untuk berbuat baik bagi sesama kita, bukan hanya untuk yang baik bagi kita, melainkan juga untuk orang orang yang fasik kepada kita. 

Demikianlah Firman Allah, kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Rabu, 28 Januari 2026

Tuhan sumber kehidupan - Mazmur 27

Shalom

Firman Allah untuk kita
Mazmur 27:11
Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.
Mazmur 27:13
Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!
Mazmur 27:14
Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!


Saudara saudari, dalam bacaan Firman Tuhan untuk kita saat ini dapat kita lihat bahwa Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan adalah terang, keselamatan, dan benteng hidupnya. Maka, ia tidak takut akan musuh seperti apa pun karena ia percaya bahwa Tuhan adalah perlindungannya (ayat 1-3). Lebih dari pada itu, pemazmur juga yakin bahwa tempat paling aman adalah rumah Tuhan, yaitu kehadiran Tuhan dalam hidupnya sebab dengan kehadiran Tuhanlah pemazmur dapat terlindungi dari mara bahaya (ayat 4-6). Dengan pengharaoan yang demikian, Pemazmur selalu menaikkan doa permohonannya agar Tuhan  menyelamatkan dia (ayat 7), dan dalam perikop ini dapat kita merenungkannya bahwa jawaban Tuhan tidak jauh dari keyakinannya, yaitu agar pemazmur tetap dengan setia mencari wajah Tuhan (ayat 8), maksudnya dengan cara hidup dalam firman dan tunduk di bawah kuasa Roh untuk melakukan segala firman- Nya. 

Jika kita melihat kejahatan dalam dunia ini yang tiap hari makin bertambah dan berkembang, mungkin dalam pikiran kita timbul perasaaan bahwa kita selalu berada dalam ancaman. Ya, memang itu harus kita akui, sebab memang tidak ada tempat yang benar-benar aman di muka bumi ini, dalam artian tiap tiap hari Iblis bekerja bagaikan singa yang lapar untuk meruntuhkan pengharapan kita. Jika kita bersembunyi di setiap sudut bumi sekali pun, maka bahaya juga akan mengintai di sana. Dan Satu-satunya tempat teraman dalam dunia adalah hadirat Allah. Karena Allah adalah perisai perlindungan yang dapat dipercaya dan di andalkan. Bersama dengan Allah kita dapat merasakan ketenangan, kenyamanan, dan kekuatan baru. Tetaplah ber pengharapan hanya kepada Allah sang sumber kehidupan. 


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🙏

Selasa, 27 Januari 2026

Tetap hidup dalam keadilan dan Terang Kristus - Mazmur 26

Shalom. 


Firman Tuhan untuk kita. 
Mazmur 26:1
Dari Daud. Berilah keadilan kepadaku, ya TUHAN, sebab aku telah hidup dalam ketulusan; kepada TUHAN aku percaya dengan tidak ragu-ragu.
Mazmur 26:2
Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatikMazmur 26:3
Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.
u.
Mazmur 26:11
Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan; bebaskanlah aku dan kasihanilah aku.

Saudara saudari, bacaan firman Tuhan untuk kita pada saat ini adalah merupakan mazmur yang kemungkinan besar ditulis pada saat pemazmur menghadapi sedang menghadapi pengadilan dengan tuduhan atas dosa tertentu, yang setimpal dengan hukuman mati (ayat 9). Tidak ada penjelasan mengenai dosa apa yang dia lakukan. Akan tetapi, pemazmur mengklaim dirinya tidak bersalah, sebab ia berkata bahwa ia tetap "hidup dalam ketulusan" (ayat 1, 11). Meskipun dituduh bersalah, hati nuraninya tidak menyalahkan dirinya. Oleh karena itu, ia percaya bahwa ia akan mendapatkan keadilan dari Tuhan yang dapat melihat ke kedalaman hatinya untuk menemukan bahwa ia tidak bersalah (ayat 2). 

Bukan hanya hati, pemazmur juga siap diuji kehidupannya secara faktual. Pemazmur mengajukan fakta positif dan negatif untuk menyatakan bahwa ia tidak bersalah. Fakta positif adalah bahwa ia hidup dalam kebenaran (ayat 3), dan setia beribadah di dalam rumah Tuhan (ayat 6-8). Kalau di dalam hatinya ada kepalsuan, pasti Tuhan tidak akan berkenan menerima ibadahnya. Berjalan mengelilingi mezbah sebagai tanda tak bersalah (ayat 6), mungkin bermakna mencari keadilan pada Tuhan (band. 1Raj. 8:31-32). Dan secara negatif, pemazmur menegaskan sikapnya yang tidak terikut ikut dengan orang lain untuk berbuat jahat. Ia bahkan menyatakan sikap untuk menentang perbuatan tangan mereka (ayat 4-5). 

Saudara saudari, meskipun pada kenyataanya Dunia tidak adil untuk memberi kebenaran, keadilan, kita harus tetap mengasihi Tuhan dan melaksanakan firman-Nya serta menolak untuk ter ikut-ikutan berbuat dosa. Justru kita harus menjadi teladan dalam hal hidup benar dan tidak kompromi dengan kejahatan, setiap orang percaya harus mampu menjadi terang atas kegelapan yang semakin berkuasa. 

Oleh karena itu, marilah tetap menjaga komitmen kita untuk hidup dalam kebenaran Kristus. Hidup berintegritas dalam Iman. Integritas orang percaya TIDAK dibangun atas keberhasilan dan kemampuan manusia, melainkan semata-mata oleh karya Allah dalam iman. Marilah kita tetap hidup dalam tuntunan IMAN dengan berkomitmen kepada kebenaran dan kekudusan demi kemuliaan Allah.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🙏

Senin, 26 Januari 2026

Mazmur 25 - Tetap setia dan Berharap hanya kepada Tuhan

Shalom

Firman Allah untuk kita
Mazmur 25:2
Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku.
Mazmur 25:3
Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya.
Mazmur 25:7
Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.
Mazmur 25:10
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

Saudara saudari, Mazmur ini adalah kisah yang menceritakan tentang pergumulan hidup seorang yang memiliki persekutuan yang mesra dengan Tuhan. Ia menyadari akan setiap dosa dosanya, namun tetap yakin dan percaya bahwa kasih setia Allah tetap menaunginya. Ia datang kepada Tuhan meminta pembebasan dari kesesakan batiniah dan ancaman lahiriah. 

Jika kita mempelajari Firman ini dengan sungguh sungguh, kita akan menemukan 3 pola hidup atau sikap yang baik dalam menjalani hidup sebagai orang beriman :
1. Mengarahkan seluruh perhatian hanya kepada Tuhan, 
2. Pemazmur a mempercayakan dirinya kepada Allah, sehingga ia merasa tak mungkin dipermalukan oleh musuh,
3. Pemazmur juga menanti-nantikan Tuhan, sehingga masa depannya penuh terbuka karena Ia yakin bahwa Tuhan akan menyelamatkan umat-Nya (ayat 1-3).
Dari sikap sikap yang baik atas kuasa iman, hal itu akan memampukan kita untuk melewati setiap Fase yang terjadi dalam hidup kita. Dalam kesulitannya Pemazmur meminta kepada Allah - seperti yang pernah di lakukan oleh Musa di padang gurun agar ia tetap mengenal jalan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan (ayat 4-5, bdk. 1:6). 
Sama seperti orang tua yang membesarkan dan melatih anak-anaknya, Allah mengajarkan dan menunjukkan jalan itu, dan bertindak sebagai navigator dalam perjalanan hidup umat. 

Sejak zaman dahulu kala, kasih setia Tuhan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam kehidupan umat-Nya. Sekalipun pemazmur menyadari hal ini, tetapi ia juga sangat memohon agar Tuhan mengampuni seluruh perbuatan dosa yang dilaksanakannya pada masa mudanya. 
Akankah Tuhan memberikan pengampunan kepadanya? 
Jika kasih setia yang diingat Tuhan, maka nasib orang berdosa itu ditentukan menurut kebaikan Tuhan (ayat 6-10). Tuhan penuh kasih dan kesabaran. Kita acap kali tidak dapat bertahan untuk hidup kudus dan benar, tetapi ingatlah bahwa Allah selalu setia mengampuni dan memberi kesempatan untuk setiap orang yang datang kepadaNya penuh dengan penyesalan akan dosa dosanya. 

Bagaimanakah dengan kita ketika kita diperhadapkan dengan pergumulan hidup? Apakah kita akan menjadi marah dan menyalahkan Tuhan, lalu menuntut Tuhan untuk memenuhi apa yang kita mau? 
Atau apakah kita lebih memilih untuk menghadapinya dengan kemampuan kita sendiri seolah-olah tidak ada Tuhan? Atau, apakah kita akan datang kepada Tuhan dengan penuh dalam penyerahan diri seperti Daud?

SSaudara saudari, kiranya melalui Mazmur ini marilahnkita juga untuk tetap senantiasa menyadari siapa kita di hadapan Tuhan dan siapa Tuhan dalam hidup kita, sehingga dengan kerendahan hati kita akan tetap terus menerus bergantung dan berharap hanya kepada Tuhan saja, dalam menjalani kehidupan kita.

Kiranya kerinduan pemazmur dan komitmennya juga menjadi bagian dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan selagi napas masih Tuhan beri. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🙏

Minggu, 25 Januari 2026

Yesus membangkitkan Lazarus - Yohanes 11

Shalom.

Firman Tuhan untuk kita 
Yohanes 11:1
Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
Yohanes 11:4
Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Yohanes 11:25
Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Yohanes 11:26
dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"

Saudara saudari, bacaan kita hari ini adalah Kisah pembangkitan Lazarus dari kematian, hal ini berkaitan erat dengan maksud penulis Yohanes untuk meyakinkan pembacanya dan termasuk kita bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan dan Juruselamat, dan hanya di dalam Dia kita beroleh hidup. 
Namun, secara realita kehidupan , meskipun kita telah mendengar dan membaca pernyataan itu tetap juga masih banyak yang tidak percaya, malah makin menolak Dia. Dan yang sangat Fatal sekali justru dengan penyataan bahwa Yesus adalah sang Kebangkitan dan Hidup, dan bahwa Dia datang untuk memberi hidup, orang-orang berespons dengan niat untuk mematikan Dia, meskipun sebenarnya dari awal itu telah janji Allah sebagai jalan kemenangan kita, memang harus kita akui "kebencian telah menutupi mata hati kitanuntuk melihat dan mengenali yang benar". Sesudah peristiwa peristiwa penolakan itu, tidak ada lagi kesaksian dan perbuatan pihak Yesus tentang diri- Nya untuk orang banyak. Sebaliknya, kesaksian tentang ke-Allah-an Yesus datang dari pihak yang beriman dan mengasihi Dia. 
1. Dari Maria yang mengurapi kaki Yesus (ayat 12:1- 8),
2. Sambutan publik atas Yesus sebagai raja (ayat 12:12-15),
3. Kesaksian Yesus beralih ke soal kematian-Nya (ayat 12:20-26)
4. Dan kesaksian yang datang dari Bapa untuk Yesus (ayat 12:27-28)

Saudara saudari, lewat bacaan perikop hari ini, kita diajarkan agar kita juga memiliki sikap yang benar sebagaimana seharusnya orang orang percaya dalam menaikkan permohonannya. Seperti permintaan Maria ibu Yesus dalam peristiwa mukjizat pertama (ps. 2), di sini pun Maria dan Marta saudara Lazarus tidak memaksa atau mendikte Yesus. 
Orang beriman sejati tahu menempatkan Allah sebagai yang berwibawa untuk mengatur segala kebutuhan mereka. Seperti dalam peristiwa pencelikan orang buta, dalam kisah ini pun kematian Lazarus adalah jalan agar kemuliaan Allah dinyatakan. Diperlukan kematian agar kuasa kemenangan kehidupan nyata kekuatannya mengalahkan kematian. Pada puncaknya kelak, bahkan Yesus sendiri harus mengalami kematian agar kuasa kemuliaan-Nya yang menghidupkan dapat menjadi nyata, tidak saja di dalam kebangkitan-Nya, tetapi juga di dalam kebangkitan rohani dan kebangkitan jasmani orang percaya kelak. 
Dan lewat firman ini, Allah mengajarkan kepada kita bahwa Yesus adalah sungguh Gembala yang baik yang datang untuk memberi hidup bagi para domba-Nya, meskipun dengan cara yang membahayakan hidup-Nya sendiri. Dan yang pastinya, lewati peristiwa itu, Yesus sendiri telah memproklamasikan bahwa dirinya adalah Allah sang sumber kehidupan, dan sungguh Dia adalah Allah.

Saudara saudari, bagaimanakah Allah mendidik kita untuk belajar percaya bahwa Dia adalah sumber kehidupan? 
Apakah kita sendiri telah melihat dan meyakini hal itu? 
Sesungguhnya Yesus mengetahui bahwa Lazarus memang harus mati, dan dalam Firman ini juga telah nyata bahwa Yesus sendiri mengatakan dalam ayat 4 "menyatakan kuasa Allah". Artinya, tidak seluruhnya hal yang tidak kita kehendaki ataupun hal yang membuat kita susah menjadi hukuman bagi kita, tetapi hal hal itu adalah jalan bagi kita untuk yakin dan percaya bahwa Allah sungguh memelihara kita untuk melewati bahkan bangkit dari hal hal tersebut. Jika Kristus adalah sumber kehidupan kita, maka marilah kita hidup bagi Dia. Jalanilah proses kehidupan dengan tetap memandang kepada kekuatan yang dianugerahkan-Nya dan yang tetap bersumber pada-Nya. Jika Dia adalah sumber kehidupan kita saat ini dan yang akan datang, marilah kita percaya bahwa kasih-Nya akan menerangi hatiniita untuk memampukan kita beritakan nama-Nya melalui seluruh hidup kita, termasuk perilaku keseharian kita di tempat kerja, di tengah keluarga, dan di masyarakat. Hal ini adalah tugas kita supaya pada akhirnya banyak orang juga masuk ke dalam proses untuk belajar percaya, dengan memercayakan hidupnya dengan sungguh hanya kepada Yesus Kristus, Sang Sumber kehidupan kita. Jadi, Allah yang kita percaya adalah penolong kita, dang sumber kehidupan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🙏

theologi Lutheran

Thema : kamu adalah terang dunia - Berilah dirimu bermanfaat bagi setiap orang Minggu sexagesima

Khotbah Minggu sexagesima  Matius 5 : 13 - 20 Thema : kamu adalah terang dunia - Berilah dirimu bermanfaat bagi setiap orang  Salam minggu, ...

what about theologi luther ?