Senin, 16 Februari 2026

RENUNGAN AKAN HIDUP

Jika Anda Ingin Memahami Kehidupan, Kunjungi 3 Tempat Ini

1. Rumah Sakit.

Di sini Anda akan melihat betapa rapuhnya kehidupan. Orang terkaya dan termiskin sama-sama terbaring di ranjang yang sama, terhubung ke mesin yang sama, memohon lebih banyak waktu. Anda akan mengerti bahwa kesehatan adalah kekayaan pertama Anda. 

2. Di Penjara.

Di sini Anda akan melihat bagaimana satu kesalahan, teman yang salah, atau momen kemarahan dapat menghancurkan seluruh masa depan. Anda akan memahami harga sebenarnya dari pilihan dan bagaimana kebebasan adalah kemewahan terbesar yang pernah Anda miliki.

3. Sebuah Pemakaman.

Di sini Anda akan melihat nama-nama yang terukir di batu, tanpa menyebutkan kekayaan, kecantikan, atau status. Hanya tanggal lahir dan tanggal kematian, dan segala sesuatu di antaranya direduksi menjadi keheningan.

Anda akan mengerti bahwa hidup itu singkat, dan cinta, kebaikan, serta warisan adalah satu-satunya yang tersisa.

Allah memulihkan - Penderitaan akan menjadi sukacita dalam Kristus - Yesaya 60

Shalom
Firman Allah untuk kita. 
Yesaya 60:1
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.
Yesaya 60:2
Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.
Yesaya 60:22
Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.

Saudara saudari, Pembuangan ke Babel adalah masa sulit yang dihadapi oleh bangsa Israel. Sebagian dari mereka ada yang dibunuh dan dibawa sebagai tawanan perang. Namun, Nabi Yesaya menyadari kalau semua itu terjadi karena mereka tidak taat dan kurang percaya kepada Allah. Meski demikian, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, kendati mereka sering menyakiti hati-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari keterpurukan hingga menuntun mereka sampai ke Yerusalem.

Yesaya 60

Allah memanggil umat-Nya untuk "Bangkit dan Menjadi Terang" (Yesaya 60:1) meskipun hidup dan berjuang di dalam kegelapan dunia. Ini adalah nubuatan tentang pemulihan, di mana kemuliaan Tuhan terbit atas umat-Nya, membawa harapan, kekayaan bangsa-bangsa, dan sukacita setelah masa keterpurukan atau pembuangan. 

Ada beberapa poin inti renungan Yesaya 60:
1. Bangkit dari Keterpurukan
Umat Tuhan dipanggil untuk tidak lagi terpuruk dalam kegelapan (dosa, keputusasaan, atau masalah), melainkan bangkit dan menerima terang Tuhan.
2. Terang Itu Telah Datang
Alasan untuk bersinar bukanlah kekuatan diri sendiri, melainkan karena kemuliaan Tuhan (terang-Nya) sudah terbit dan nyata atas kehidupan orang percaya, sering dikaitkan dengan kedatangan Mesias (Yesus).
3. Terpanggil dan bangkit Menjadi Saksi Terang:
Umat yang telah diterangi Tuhan dipanggil untuk memancarkan terang itu melalui perbuatan baik, kebenaran, dan keadilan, sehingga menjadi berkat dan menarik orang lain kepada Tuhan.
4. Pengharapan dan Pemulihan
Janji bahwa Tuhan akan mengubah kehancuran menjadi kemuliaan, dan yang lemah akan menjadi bangsa yang kuat dan diberkati. 

Terang Tuhan tetap terbit atas bangsa Israel (1-2). Bangsa-bangsa akan datang, anak-anak pun datang, dan mereka pun berseri melihatnya (3-5). Itulah terang yang telah memimpin mereka keluar dari kegelapan. Namun, mereka malah terus hidup dalam ketidakpercayaan. Trauma masa lalu yang mereka hadapi selalu melekat di benak mereka. Mereka bahkan kerap kali meragukan kuasa Allah dengan mempertanyakan apakah Allah sanggup memulihkan keadaan mereka atau tidak. Oleh karena penderitaan datang bertubi-tubi, fokus mereka pun menjadi teralihkan. Mereka lupa bahwa selama ini Allah telah menyertai hidup mereka.

Oleh karena itu, Nabi Yesaya mengingatkan kembali agar umat Allah yang ada di pembuangan tetap percaya kepada Allah yang telah menuntun mereka selama masa kesusahan. Yesaya berseru agar mereka bangkit dari kegelapan dan menjadi terang, karena seharusnya mereka harus tetap percaya dan bersandar hanya kepada Allah, bukannya malah meragukan kuasa-Nya.

Pemulihan yang diberikan Tuhan bagi Israel bukan untuk mereka nikmati sendiri melainkan untuk dibagikan kepada bangsa-bangsa. Demikian pula seharusnya seseorang yang sudah diberkati terpanggil dan harus membagikan berkat itu kepada orang lain. Setiap kita telah menerima pemulihan yang datang dari Allah, maka pemulihkan itu akan membebaskan kita dari perbudakan dosa dan melimpahi kita dengan segala berkat rohani. Karena itu, jadilah berkat bagi orang lain di sekitar Anda! 

Kini Allah pun telah menunjukkan terang itu kepada kita orang orang percaya. 
Dengan demikian, jangan biarkan masa lalu yang kelam atau penderitaan yang kita alami saat ini membelenggu dan membuat kita ragu seperti orang-orang tak percaya yang hidup dalam kegelapan. Mari kita bangkit dan menjadi terang sehingga kemuliaan Allah selalu nyata dalam hidup kita.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Sabtu, 14 Februari 2026

Yesus Sungguh - Benar benar anak Allah (Matius 17 : 1 - 9

Matius 11:1-9
Thema : Yesus Sungguh Anak Allah



Saudara saudari, topik khotbah minggu ini membicarakan tentang peristiwa TRANSFIGURASI, dimana ke 3 murid Yesus penuh ketakutan menyaksikan Yesus Kristus berubah wujud dan bersinar dengan kemuliaan surgawi.
Apakah hubungan yang dapat kita pahami antara kemuliaan Yesus yang berubah wujud yang dinyatakan di gunung ini dengan penderitaan yang akan Yesus alami di Golgota? 
Dan apakah artinya bagi para murid untuk mengikuti pemimpin seperti itu?
Transfigurasi menandai titik tengah dalam serangkaian peristiwa yang mendefinisikan siapa Yesus. Baik pada baptisan maupun transfigurasi-Nya, suara surgawi menyampaikan-mengumumkan bahwa Yesus adalah benar benar Anak Allah. Pada saat pencobaan-Nya, di Getsemani, dan pada penyaliban-Nya, Yesus sungguh bergumul akan penghinaan, penderitaan, danterlebih pengabaian yang harus Ia lakukan sebagai Anak Allah. Yang pada akhirnya Yesus yang telah bangkit menyatakan identitas-Nya, dan mengutus murid-murid-Nya untuk mengajar dan membaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Dalam proses perjalanan pelayanan Yesus sebelum transfigurasi, para murid telah menyembah Yesus yang berjalan di atas air sebagai Putra Allah (Matius 14:33), tetapi mereka belum dapat memahami dengan benar apakah artinya bagi Yesus sebagai putera Allah. Meskipun Petrus mengatakan-mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup, Petrus juga sepenuhnya menolak dan tidak percaya akan pemberitaan Yesus bahwa Ia akan menderita dan mati dikayu salib. Yesus menegaskan pemahaman Petrus tetapi menolak protesnya, bahkan menyebutnya Setan karena telah menggoda Putra Allah untuk mendefinisikan diri-Nya dengan kemuliaan tetapi bukan dengan penderitaan. Lebih dariitu lagi, Yesus memanggil Petrus dan siapa pun yang ingin menjadi murid-Nya harus mengikuti-Nya di jalan yang menuju salib, siap menderita memikul salib.

Dalam bacaan perikop kita hari ini, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi. Di sana Ia berubah wujud di hadapan mereka. Wajah-Nya bersinar seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti cahaya (deskripsi yang unik dalam Injil Matius). Musa dan Elia muncul dan berbicara kepada Yesus. Seperti dalam Injil Markus dan Lukas, Petrus berkata, “Adalah baik bagi kita untuk berada di sini,” dan menyarankan untuk membangun tenda bagi masing-masing dari mereka bertiga, tetapi Matius memperlakukan Petrus secara berbeda di sini daripada Injil-injil lainnya: Petrus menyebut Yesus sebagai “Tuhan,” gelar yang dalam Injil Matius menunjukkan iman; ia tunduk pada kehendak Yesus (“jika Engkau menghendaki”); ia menawarkan untuk membangun tenda di sana sendirian (“Aku akan membangun di sini,” dibandingkan dengan “marilah kita membangun” dalam Injil Markus dan Lukas); dan pada titik ini tidak ada indikasi bahwa ia takut atau tidak tahu apa yang ia katakan (bdk. Markus 9:6, Lukas 9:33).

Yesus tidak menanggapi tawaran itu, tetapi sementara Petrus masih berbicara, awan yang cemerlang menaungi mereka. Sebuah suara dari awan dalam Matius 17 menggemakan kata-kata suara surgawi yang sama pada saat baptisan Yesus: “Inilah Anak-Ku, yang Kukasihi, yang kepada-Nya Aku berkenan” (Terjemahan NRSV sedikit berbeda untuk Matius 17:5 dan Matius 3:17, tetapi susunan kata-katanya identik dalam bahasa Yunani). Kemudian suara itu menambahkan perintah: “Dengarkan Dia!” Mendengar suara Tuhan, para murid jatuh ketakutan.
Seluruh kejadian itu penuh dengan kiasan pada Perjanjian Lama. Kejadian itu mengingatkan pada perjumpaan Elia dengan Tuhan di gunung suci. Kejadian itu mengingatkan pada wahyu di Gunung Sinai dan awan kemuliaan Tuhan yang menaungi gunung dan kemah tempat Musa bertemu dengan Tuhan. Dan kejadian itu mengingatkan kembali yang terjadi pada Maleakhi 4, di mana Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk mengingat perkataan Musa dan mengatakan bahwa Elia akan diutus dalam misi pemulihan sebelum hari Tuhan.

Tidak heran jika para murid ketakutan oleh penampakan ilahi ini. Seperti yang dikatakan Maleakhi, “Siapakah yang dapat menahan hari kedatangan-Nya, dan siapakah yang dapat berdiri teguh ketika Ia menampakkan diri?” (Maleakhi 3:2). 
Kemudian Yesus mendekati para pengikut-Nya yang ketakutan, menyentuh mereka, dan mengatakan kepada mereka untuk tidak takut. Meskipun mereka tidak tahan mendengar Tuhan berbicara dari awan, tetapi mereka dapat mendengarkan Yesus. 
Lalu Firman Allah berbicara kepada kita sekarang, bukan seperti suara gemuruh dari surga atau huruf-huruf yang tertulis di loh batu tetapi dalam perkataan dan perbuatan Yesus yang dinyatakan lewat 4 Injil Kristus. Ketika Firman Allah di sampaikan dengan kebenaranNya sesungguhnya kita sedang mendengar suara putra Allah yang berbicara kepada kita seperti seorang manusia yang berbicara kepada manusia lainnya, dan Kuasa Firman berkuasa menolong dan membangkitkan kita dan mengikuti-Nya, seperti ke 3 murid yang menunduk di hadapan Yesus di teguhkan kembali oleh penglihatan itu.
Dalam perjalanan menuruni gunung bersama murid, Yesus sekali lagi memberi tahu mereka bahwa Anak Manusia harus menderita, dan Ia memerintahkan mereka untuk tidak menceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sampai setelah Ia dibangkitkan dari kematian. Mereka membahas peran Elia dalam memulihkan segala sesuatu, dan kemudian Yesus, yang wajahnya bersinar seperti matahari, turun ke tengah kerumunan manusia yang membutuhkan dan segera menyembuhkan seorang anak yang kerasukan setan. Seperti yang dikatakan Maleakhi, “Bagi kamu yang menghormati nama-Ku, matahari kebenaran akan terbit dengan sayapnya yang membawa kesembuhan” (Maleakhi 4:2).
Jadi, khotbah kisaah transfigurasi ini mengarahkan kita untuk tidak hanya memahami Yesus sebagaimana Ia dinyatakan dalam kemuliaan. Firman ini mengarahkan dan mengajak kita untuk berjalan bersama Yesus ke tengah kerumunan yang menderita dan kelaparan, seperti Kristus yang turun dari gunung bersama murid untuk orang yang menderita. Firman Allah memerintahkan kita untuk mendengarkan Yesus. Mendengarkan lebih dari sekadar mendengar. Seperti yang Yesus katakan dalam Khotbah di Bukit, membangun di atas batu karang berarti bukan hanya mendengar firman-Nya, tetapi juga bertindak sesuai dengan firman itu (Matius 7:24). Sebab mendengar tanpa menaati akan akan mendatangkan kehancuran.
Dengan demikian, kita harus percaya dan memberitahukan kepada seluruh orang-orang bahwa Bapa Yang Mahakuasa tidak mengutus Putra-Nya ke dunia untuk membuat kita Hanya terpesona dengan keagungan-Nya. Dan Allah juga tidak mengutus Putra-Nya untuk menggunakan kuasa-Nya yang besar memaksa dunia agar menyembah-Nya dalam diam dan dengan penuh kekaguman.
Yesus adalah benar anak Allah yang telah menderita dan bangkit dari kematian dan Ia akan datang kembali untuk membawa kita ke tempatNya. Maka dalam penantian ini, tiada yang lain yang dapat menjamin kehidupan kita selain KuasaNya, Yesus adalah sumber pertolongan dan kehidupan bagi kita, marilah tetap bersandar dan bergantung hanya kepadaNya. Amin 🙏

#Vdma


Kamis, 12 Februari 2026

? 𝐃𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐡𝐭𝐞𝐫𝐚 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 - He Risen

Shalom... 

Firman Allah untuk kita
Yohanes 20:21
Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Yohanes 20:22
Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
Yohanes 20:23. 
Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Saudara saudari, jikalau kita mempelajari latar belakang kejadian Firman ini, sesungguhnya ini adalah hari pertama pada saat kebangkitan Yesus Kristus yang tepat pada hari minggu, Kebangkitan Yesus Kristus adalah bukti nyata kemenangan orang orang percaya dimana Kuasa iblis telah dikalahkan. Maka kebangkitan Yesus Kristus sesungguhnya telah menjadi hari besar bagi kita dan kegenapan dari hari Sabat, sebab Yesus sendiri berkata bahwa Ia adalah kegenapan dari hari Sabat, dengan demikian setiap kita beribadah pada hari minggu maka dengan sesungguhnya, kita sedang merayakan Yesus Kristus yang bangkit.

Dalam perikop ini, dapat kita mengetahui bahwa pada saat itu para murid telah menutup pintu karena takut kepada orang Yahudi, pasca kematian Yesus, dan murid murid sendiri tidak percaya bahwa Yesus akan bangkit. Namun dj tengah keragu raguan itu Yesus sendiri datang dan berdiri di tengah-tengah mereka. Kehadiran Yesus Kristus merupakan penghiburan yang besar bagi para murid-murid Kristus, sebab dengan kehadiran Yesus membawa Damai, tentu akan mengubahkan keadaan hati yang takut dan bimbang menjadi teguh dalam Iman. Kehadiran Yesus menunjukkan kuasaNya sebab meskipun dalam keadaan rumah tertutup namun knk menjadi bukti bahwa Yesus adalah benar benar Allah dan Ia adalah Allah yang maha hadir yang tidak dapat dibatasi oleh apapun. Ketika Ia menyatakan kasih-Nya kepada orang percaya melalui penghiburan Roh-Nya, Ia meyakinkan mereka bahwa karena Ia hidup, mereka pun akan hidup. 

Saudara saudari, Setiap firman Kristus yang diterima dalam hati melalui Iman, datang dan disertai dengan hembusan Ilahi maka sesungguhnya kuasa Allah telah berkuasa atas kita dan tidak ada terang maupun kehidupan selain dari pada Allah. Tidak ada sesuatu pun tentang Allah yang dapat dilihat, diketahui, dipahami, atau dirasakan, kecuali melalui kuasa roh kudus. 
Yesus kemudian mengutus mereka ke dalam dunia dengan membawa berita tentang keselamatan di dalam Yesus. Sebagai murid-murid Kristus, mereka memang harus berpartisipasi dalam misi Allah bagi keselamatan dunia. 

Kristus yang bangkit juga menginginkan kita dipenuhi dengan hasrat untuk mengabarkan Injil kepada seluruh dunia, dimulai dari tempat di mana kita berada. Tugas ini penting karena Allah menghendakinya, dan mendesak karena zaman ini makin jahat. Maka cara terbaik agar semua orang bisa mendengar berita sukacita ini adalah dengan terus memperdengarkan kabar baik tentang pengampunan melalui Yesus Kristus. Ingatlah bahwa bukan hanya hamba Tuhan/pendeta atau orang yang aktif di bidang pelayanan saja yang berkewajiban untuk mengabarkan Injil. Setiap kita yang mengaku diri sebagai pengikut Kristus pun wajib ambil bagian dalam hal ini. Bila kita merasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya atau tidak mengerti bagaimana caranya, mohonlah pimpinan Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus memampukan, mengajar, dan menuntun orang percaya untuk menjadi utusan Kristus di dunia ini.

Oleh karena itu, marilah kita menghadapi setiap kesulitan yang kita temui serta tetap dapat berdiri dengan teguh di atas gelombang kehidupan dan Yakinkanlah dirimu bahwa Allah ada bersamamu di dalam sukacita dan duka cita. 


Kiranya kasih setia dari Allah bapa dan roh kjdus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏.

Senin, 09 Februari 2026

Tuhan sumber kekuatan dan pertolongan kita - Mazmur 42

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, itulah yang memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Firman Allah untuk kita, 
 Mazmur 42 : 2
Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
Mazmur 42:3
Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Mazmur 42:4
Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
Mazmur 42:6
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Mazmur 42:7
Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.

Saudara saudari, Firman Allah pada Mazmur 42 ini ditulis oleh seorang Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Mazmur ini berakar pada pengalaman pemazmur (dari bani Korah) yang terasing secara fisik dan rohani dari Bait Allah. Situasi ini ditandai dengan depresi, kesedihan mendalam, dan ejekan musuh yang menanyakan, "Di mana Allahmu?". Maka dalam hal ini pemazmur merindukan kehadiran Tuhan bagaikan seperti rusa yang merindukan air, mengingat masa lalu yang indah dalam ibadah, namun kini merasa tertekan dan terbuang. 

Namun meskipun demikian, pemazmur tidak tinggal bahkan tenggelam dalam keadaan yang tertekan tersebut. Ia bangkit dari situasi itu dan dengan sadar menasihati jiwanya sendiri untuk keluar dari depresi. Apa yang dapat menolong pemazmur keluar dari perasaan-perasaan yang menekannya? 
1. Pemazmur mengingat-ingat antuasiasme ibadahnya pada masa lampau, bagaimana dulu ia begitu bersemangat dalam menyembah Allah (ayat 5). Hubungannya dengan Allah begitu dekat dan intim. Maka hal itu mendorong si pemazmur bahwa dengan berpengharapan yang teguh akan dapat beroleh saat-saat yang indah jikalau tetap bersekutu dengan Allah. 
2. Pemazmur mengingat-ingat kebesaran Allah dalam alam (ayat 8) dan kasih setia Tuhan yang telah dinyatakan dalam kehidupannya sehingga ia bisa menaikkan nyanyian dan doa syukur kepada Allah. . Pemazmur juga meyakini bahwa Allah akan tetap setia dan tetap satu-satunya perlindungannya. Oleh karena itu ia sekali lagi menguatkan jiwanya dan kembali menaruh pengharapan kepada Allah. 

Saudara saudari, marilah kita mengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Betapa pun situasi sekeliling kita sepertinya tidak berpengharapan. Ingatlah, Tuhan tetap menyertai kita. Katakanlah kepada jiwamu, mengapa engkau tertekan? Berharaplah hanya pada Tuhan, dan bersyukurlah atas segala kasih-Nya.

Dengan demikian, Janganlah kita takut untuk mengungkapkan kerapuhan diri kita di hadapan Allah dan jangan takut juga untuk terus berharap kepada-Nya. Jujurlah dan terbukalah kepada Tuhan! 
Dan yakinlah bahwa hanya Allah satu satunya Penolong kita.

Amin 🙏

Sabtu, 07 Februari 2026

Thema : kamu adalah terang dunia - Berilah dirimu bermanfaat bagi setiap orang Minggu sexagesima

Khotbah Minggu sexagesima 
Matius 5 : 13 - 20
Thema : kamu adalah terang dunia - Berilah dirimu bermanfaat bagi setiap orang 

Salam minggu, hari ini kita masuk ke Minggu sexagesima.
Minggu Sexagesima adalah hari Minggu kedua sebelum masa Pra-Paskah (atau delapan minggu sebelum Paskah) yang dirayakan dalam tradisi liturgi Kristen tertentu, seperti Katolik pra-1970, Lutheran, dan Anglikan. 
Istilah sexagesima berasal dari bahasa Latin sexaginta (enam puluh), yang secara simbolis merujuk pada 60 hari sebelum Paskah, meskipun secara hitungan sebenarnya jatuh sekitar 56 hari sebelum Paskah. 

Dalam Minggu Sexagesima ini membicarakan soal keutuhan manusia yang dihadapkan pada rencana dan rancangan Allah yang sempurna. Saat hari spesial ini tiba, umat Kristen biasanya akan melakukan introspeksi diri mengenai sikap, perbuatan, dosa, dan rencana jahat yang pernah diperbuatnya.
Jadi, Sexagesima adalah masa untuk mempersiapkan hati dan jiwa untuk memasuki masa puasa yang lebih intens di masa Prapaskah.

Saudara saudari, Ketika Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita adalah garam dan terang dunia, sesungguhnya Allah telah merencanakan yang lebih indah dari yang kita pikirkan pada awalnya. Oleh karena itu, lewat Injil ini saya ingin menyampaikan kepada saudara/i sekalian bahwa kita sangat berharga di hadapan Allah, Dia menjadikan kita bermanfaat dan sangat penting bagi Allah dan dunia.

Jikalau kita mempelajari latar belakang perikop ini, tentu sangat sulit bagi kita untuk menyadari betapa berharganya garam pada zaman Yesus hidup di bumi, meskipun saat ini garam sangat umum kita gunakan, bahkan kita tidak bisa hidup tanpa garam. 
Ketika kita pergi ke toko, pasar atau lainnya tentu garam akan menjadi salah satu barang termurah yang tersedia. Tetapi tidaklah demikian halnya pada zaman Yesus, garam jauh lebih sulit didapatkan saat itu, dan jauh lebih berharga. Garam sangat  lebih penting saat itu karena nilainya sebagai pengawet. Sebelum ada listrik dan lemari es, garam adalah salah satu cara utama untuk mengawetkan makanan. Bahkan, garam sangat berharga pada zaman Yesus sehingga tentara Romawi terkadang dibayar dengan jatah garam khusus. Dari situlah kata "gaji" kita sebenarnya berasal. Bahkan ada pepatah umum di Roma sekitar zaman Yesus, yang mengatakan bahwa "tidak ada yang lebih berguna daripada matahari/terang dan garam."

Jadi, perkataan Yesus yang mengatakan bahwa kita adalah garam dunia itu artinya kita sangat berharga, dan sangat berguna. Dunia sangat membutuhkan kita, sebab Yesus telah memutuskan bahwa Dia juga membutuhkan kita. Maka, sebagai garam dunia, kita sangat berharga dan berguna, baik bagi Allah maupun bagi dunia ciptaan Allah.

Namun meskipun Garam sangat penting dan berharga, perlu juga kita mengingat dan mengetahui bahwa di balik hal penting itu, garam tidak pernah ada untuk dirinya sendiri. Garam memang berharga dan bermanfaat, tetapi tidak dengan sendirinya. Garam tidak berguna sendirian, dan garam tidak ada untuk dirinya sendiri. Hal ini cukup jelas jika kita memikirkannya, sebab garam selalu digunakan untuk sesuatu yang lain. Demikianlah juga dengan kita, kita sangat berharga dan penting, tetapi bukan untuk diri kita sendiri.

Sebagai orang percaya, kita memiliki tujuan hidup untuk Yesus dan untuk orang lain, bukan hidup untuk diri kita sendiri. Bahkan, Anda dapat mengatakan bahwa gereja hanya benar-benar melakukan apa yang seharusnya dilakukannya ketika melakukannya untuk orang lain. Dan itu berlaku untuk semua murid Yesus. Kita sangat penting bagi kerajaan Allah, tetapi hanya ketika kita ada untuk lebih dari diri kita sendiri. Hanya ketika kita ada untuk Yesus. Dan hanya ketika kita bersedia menjadi garam, bukan hidangan utama, sebab hidangan utama adalah Yesus Kristus sendiri. Dalam hal ini, jika kita ingat Yohanes Pembaptis juga adalah contoh yang bagus untuk hal ini. Ia memang orang yang keras, tetapi ia tahu bahwa ia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia hidup untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus. Dan begitu Yesus datang, Yohanes tahu bahwa pelayanannya telah selesai. Seperti yang ia katakan tentang Yesus dalam Yohanes 3, “Ia harus bertambah, tetapi aku harus berkurang.” Dan hal itu juga berlaku untuk kita, Yesus harus bertambah besar dan Kita harus semakin kecil. Kita adalah garam, tetapi bukan makanan, Yesus adalah makanan itu sendiri yang memberi rasa dan kehidupan. Kita hanya berusaha untuk mengawetkan dan membuatnya terasa lebih enak. Dan jika kita tidak melakukan itu, maka kita telah kehilangan rasa asin kita. Kita telah kehilangan misi kita. Oleh karena itu, marilah kita mengabdikan hidup kita kepada Yesus, dan kepada dunia agar kita benar-benar menjadi garam dunia, d Ngan demikian kita telah memberi hidup kita menjadi bermanfaat.

Refleksi Terang Dunia
Tidak ada yang lebih berguna daripada matahari dan garam, demikian kata pepatah Romawi kuno. Dan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyebut kita sebagai garam dunia dan terang dunia. Disebut sebagai garam dunia adalah suatu pujian yang luar biasa, dan mungkin lebih luar biasa lagi jika disebut sebagai terang dunia. Dalam Injil Yohanes, Yesus mengatakan bahwa Ia sendiri adalah terang dunia. Namun di perikop ini dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita adalah terang dunia.

Mari kita renungkan sejenak betapa berharganya cahaya di zaman Yesus sebelum ada listrik. Garam lebih berharga, tetapi begitu jugalah dengan cahaya. 
Saat itu, kita tidak bisa begitu saja masuk ke ruangan dan menekan saklar lalu menyalakan lampu, sebab tidak ada. Kita hampir menganggap cahaya sebagai sesuatu yang biasa saja saat ini. Tetapiminjil ini menyampaikan kepada kita bahwa kita adalah terang dunia, yang berarti Yesus mengatakan kepada kita dan dunia bahwa kita sangat penting dan sangat berharga.

Yesus telah memanggil kita untuk menjadi terang yang bersinar, baik di gereja maupun di masyarakat. Dan Ia mengingatkan kita agar tidak menyembunyikan terang kita. Kita semua harus menjadi terang untuk dibagikan kepada dunia dan sesama kita. Jikalau kita berpikir bahwa kita tidak memiliki banyak hal untuk ditawarkan, tidak punya banyak waktu, Tidak memiliki bakat yang menonjol, tidak memiliki harta untuk dibagi, atau kita serba kekurangan. Marilah kita mengingat bahwa Firman hari ini menyatakan kepada kita bahwa setiap kita memiliki cahaya yang cukup saja untuk membiarkan cahaya kita bersinar di dunia itulah yang sesungguhnya dan yang terpenting. Tuhan telah memberikan apa yang Tuhan butuhkan bagi kita, iya menjadikan kita agar memiliki rasa dan bermanfaat. Jika cahaya sangat penting, demikianlah lah juga kita berharga. Meskipun dengan cahaya yang kecil, hal itu akan menjadi pemandangan yang menyenangkan di tempat yang gelap.

Bisakah kita sepakat bahwa ada kegelapan di dunia saat ini? Sama seperti terang yang selalu ada? 
Saudara saudari, Kita sekarang hidup di dunia yang rusak dan penuh dosa, tapi bukan berarti dunia menjadi tempat yang menakutkan, tempat yang membuat putus asa, tempat yang skeptis, marah, dan frustrasi. Dalam keadaan yang gelap itu justru dengan cahaya yang sedikit pun akan sangat penting, sebab semakin gelap suatu tempat maka semakin sedikit juga cahaya yang dibutuhkan. Senter atau lilin terkecil pun dapat menerangi ruangan yang gelap. Sekecil apa pun cahaya Anda, itu persis apa yang dibutuhkan dunia ini.

Jadi, Yesus berkata kepada kita semua, biarlah terangmu bersinar di hadapan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapa di surga. Kita menggunakan kata-kata yang terkenal ini di setiap baptisan, untuk mengingatkan kita bahwa setiap orang percaya yang telah dibaptis telah terpilih dan terpanggil untuk menjadi terang dan memiliki manfaat. Kita dapat memuliakan Allah hanya dengan membiarkan terang kita bersinar. Kita tidak perlu mengubah dunia untuk memuliakan Allah dan kita juga tidak perlu memperbaiki semua masalah dunia, tetapi yang terpenting marilah kita membiarkan terang kita bersinar, dan itu akan memuliakan Allah.

Saya sangat tertarik seorang pengkhotbah hebat, Charles Spurgeon, yang mengatakannya, “Alkitab bukanlah terang dunia, itu adalah terang Gereja. Dunia tidak dapat membaca Alkitab, tetapi dunia akan menjadi terang jikalau orang orang percaya bersinar dalam hidupnya, Kamu adalah terang dunia.’”
Dunia membaca orang percaya, bukan Alkitab. Jadi kita harus menjadi terang dunia Seperti yang Yesus katakan kepada kita.

Refleksi Cahaya
Terkadang terasa sedikit menakutkan, bukan? 
Kita bisa merasa bahwa jika kita adalah terang dunia, dunia tidak akan menjadi sangat terang. Karena terang kecil kita tidak mungkin bisa tampak, yah, sebab kecil. 
Bagaimana kita bisa menjadi terang dunia? 
Kita bukanlaj Yesus. Yesus terang sejati dunia. 
Jadi bagaimana kita bisa melakukan itu?

Firman ini menghibur kita, ketika saya merasa melihat bulan. Katakanlah bulan purnama, seperti akhir pada biasanya dia akan datang ketika siang nya langit cerah, sungguh menakjubkan sebab betapa terangnya bulan. Bulan dapat menerangi malam yang gelap, itu pasti. Tetapi kenyataannya adalah bahwa ketika bulan berada pada titik paling terangnya, ia tidak memberikan cahayanya sendiri. Yang sebenarnya dilakukan oleh bulan hanyalah memantulkan cahaya matahari. Dan saya merasa itu sangat menggembirakan dan menghibur sebab Karena demikian jugalah yang yang saya yakini yang sedang kita lakukan ketika kita menjadi terang dunia. KITA SEBENARNYA TIDAK MEMBERIKAN CAHAYA KITA SENDIRI. Kita hanya memantulkan cahaya dari Allah. Dan semakin gelap dunia di sekitar kita, semakin penting terang itu.

Yesus telah memberi tahu kita bahwa menjadi muridNya berarti kita terpanggil untuk menyediakan terang itu. Kamu adalah terang dunia, kata-Nya. Kamu dan aku dipanggil untuk memantulkan terang-Nya ke dalam kegelapan dunia. Dipanggil untuk membiarkan terang kita bersinar, yang sesungguhnya bukan terang kita sama sekali – terang-Nyalah yang dipantulkan melalui kita, baik melalui kata-kata kita, perbuatan kita, karya baik kita. 
Dipanggil untuk membiarkan terang-Nya bersinar melalui hidup kita, sehingga orang lain dapat melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa kita di surga.


Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia, Itulah yang Yesus katakan kepada kita hari ini. Tetapi tahukah kamu apa yang tidak Dia katakan kepada kita? Dia tidak menyuruh kita untuk menjadi garam dunia atau terang dunia. Dia mengatakan bahwa kita sudah menjadi demikian. Karena kita adalah murid-murid-Nya.

Dengan kata lain, yang perlu kita lakukan untuk menjadi garam dan terang adalah mengikuti Yesus. Kita tidak perlu menjadi makanannya. Kita hanya perlu mengawetkan makanan itu, dan membumbuinya. Yesus sendiri adalah makanannya. Dan kita juga tidak perlu menjadi terangnya. Kita hanya perlu memantulkannya. Yesus adalah terang dunia.

Jadi, jangan sampai kita kehilangan rasa asin kita. Dan jangan sampai kita menyembunyikan terang kita. Karena dunia membutuhkan keduanya sekarang sama seperti sebelumnya. Dan Yesus mengandalkan kita semua, untuk menjadi garam dunia, dan terang dunia. Untuk kemuliaan Allah. Amin.

Rabu, 04 Februari 2026

Doa kamis pagi - Lutheran

Syalom!
Damai sejahtera Allah atas kita semua. Amen!

"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus." Demikianlah firman Tuhan.
(Galatia 3:26-27)

Marilah kita berdoa demikian:
Ya Tuhan Yesus, melalui kasih karunia-Mu yang memperbarui yang diberikan dalam Baptisan, Engkau telah menjadikan aku ciptaan baru melalui darah penebusan-Mu. 
Aku mengaku kepada-Mu, Engkau yang menyenyelidiki hati, bahwa di dalam diriku, yang ada dalam daging yang berdosa ini, berdiam segala macam pikiran jahat, keinginan jahat, dan hasrat berdosa. Kejahatan ini selalu ada padaku dan menodai upaya terbaikku untuk melakukan kehendak-Mu, itu mengganggu hati nuraniku dengan rasa bersalah dan malu. Pagi ini aku datang kepada-Mu ya Tuhan, untuk mengakui kelemahanku sendiri dan memohon kepada-Mu, demi penderitaan dan kematian-Mu, untuk mengampuni aku, untuk mengabaikan kekuranganku, dan untuk membantuku dalam perjuanganku sehari-hari melawan sifat berdosa yang lama. Jangan biarkan dagingku mengarahkan pikiran dan tindakanku.
Kuatkanlah aku dengan penuh kasih agar aku dapat setiap hari menanggalkan manusia lama dan segala sesuatu yang dilakukannya melawan aku, dan mengenakan manusia baru yang lahir dalam Baptisan dan diciptakan menurut gambar-Mu dalam kebenaran dan kekudusan. Jadikanlah aku semakin murni dalam keinginanku, semakin bersih dalam ucapanku, dan semakin suci dalam perbuatanku, sehingga aku tidak bercela di hadapan-Mu dan menjadi terang yang bersinar di dunia sampai Engkau memanggilku pulang dan kepada kesempurnaan. Demi nama-Mu yang kudus, yang memerintah bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah yang Esa, dulu sejak permulaan, kini dan selamanya. Amin. 

#Yohanes 15
#Mazmur 34
#Yes 49:1-26

(Doa Kamis Pagi_ diadaptasi dari Lutheran Book of Prayer_MINGGU PERTAMA)

theologi Lutheran

Apakah yang dimaksud dengan Synode

Apa situ sinode? Bagi Gereja-gereja Protestan yang berbasis di Sumatera Utara, Sinode adalah pertemuan para pejabat gereja (seperti uskup, p...

what about theologi luther ?