Jumat, 29 Mei 2026

Kuasa Iman di tengah Ancaman hidup - Kisah para Rasul 4:1-12

Shalom... 
Firman Allah untuk Kita.
Kisah Para Rasul 4:23
Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
Kisah Para Rasul 4:24
Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
Kisah Para Rasul 4:29
Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Kisah Para Rasul 4:30
Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
Kisah Para Rasul 4:31
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Saudara saudari, tahukah anda bahwa memberitakan kebenaran memiliki resiko besar yang harus siap di benci ?.
Pemberitaan akan kebenaran dari zaman dahulu sampai sekarang telah menjadi sumber kebencian bagi para penentang kebenaran. Terlebih pemberitaan tentang kebenaran akan Yesus Kristus.

Dalam khotbah lewat perikop kita hari ini, dapat kita lihat bahwa Petrus dan Yohanes baru saja dilepaskan dari penjara.
Sebab dengan hadirnya jemaat mula-mula pada hari pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) Petrus dan Yohanes ditangkap dan diancam oleh Mahkamah Agama karena pemberitaan tentang Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit dari kematian dan penyembuhan seorang yang lumpuh. Bahkan, meskipun mereka di lepaskan, mereka tetap di larang keras untuk mengajar dalam nama Yesus.

Bahkan jikalaunkita perhatikan pada saat ini, secara garis besar negara Indonesia hingga pada saat ini masih ada daerah daerah tertentu yang melarang perkumpulan orang percaya dan penutupqn rumah rumah ibadah bahkan penganiayaan sekalipun. Lalu pertanyaannya, sekarang kita masih hidup di dunia dan segala penderitaan oleh karena mengikut Yesus Kristus adalah salib bagi kita. Bagaimanakah kita berjuang dalam ancaman dan penderitaan penderitaan ini ??. Apakah kita akan takut di benci atau apakah justru kita tidak akan menyampaikan kebenaran karena takut di benci atau di adingkan oleh orang ?.

Lewat renungan kita hari ini, kita di ingatkan agar tidak fokus pada besarnya ancaman yang datang pada kehidupan kita, melainkan marilah kita pokus kepada kebesaran dan kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta yang dapat mengendalikan sejarah, bahkan memakai salib dan penderitaan untuk mendatangkan keselamatan. 

Dalam hal mengikut Yesus Kristus, sesungguhnya Yesus tidak menyatakan jaminan hidup tanpa penderitaan bagi para pengikutNya dan tidak ada jaminan agar jauh dari gesekan atau tantangan dunia. Melainkan, lewat persekutuan doa dan iman, Allah memberikan kekuatan spiritual untuk menghadapi "badai" tersebut. Oleh karena itu, dengan sadar hendaklah kita Jemaat Tuhan untuk tidak hanya meminta situasi hidup yang nyaman atau bebas dari masalah. Melainkan, marilah kita juga memohon dan meminta keberanian (parrhesia) untuk tetap setia memberitakan Firman Allah, yang murni dikerjakan oleh Roh Kudus. 

Di dalam pandangan teologi Lutheran, iman tidak dapat membebaskan kita dari salib di dunia ini (Theology of the Cross), melainkan lewat Iman kita diberi kekuatan untuk dapat memikul salib itu dengan mata yang tertuju pada Kristus. Keberanian ini bukan hasil usaha atau tekad manusiawi kita, melainkan murni anugerah dan karya Roh Kudus. Ketika kita dapat berjuang dan menang dari penderitaan maka sesungguhnya itu bukanlah semata mata hasil usaha kita, melainkan Roh kuduslah yang berkuasa dan memampukan kita untuk dapat bersaksi dan bertahan hidup dengan kekuatan Roh LEWAT FIRMAN DAN SAKRAMEN Firman dan Sakramen. Dan mintalah agar Roh Kudus membakar hati kita agar kita tidak berkompromi dengan dosa dan ketakutan duniawi.

Oleh karena itu, marilah kita mengubah Kecemasan menjadi Pengakuan Iman, ketika kita sedang menghadapi masalah berat atau tekanan hidup, janganlah fokus pada besarnya masalah tersebut. Tetapi marilah kita meneladani cara hidup jemaat mula-mula yang langsung memuji Allah sebagai Pencipta alam semesta yang memegang kendali atas segala sejarah. Lewat seruan doa kita, marilah kita juga memohon Keberanian dan kekuatan agar jalan hidup kita dipermudah atau musuh kita dilenyapkan. Dan marilah juga dalam setiap hidup kita mengandalkan Kuasa Roh Kudus, Bukan Kekuatan Sendiri. Sebab keberanian Iman bukanlah hasil nekat atau tekad manusiawi kita, melainkan murni anugerah Allah. Ketika kita menyerahkan keterbatasan kita dalam doa, Roh Kudus akan memampukan kita menghadapi tantangan hidup. Hiduplah dengan penuh keberanian dalam menceritakan kebaikan dan kebenaran Injil Yesus Kristus di lingkungan tempat tinggal, keluarga, maupun tempat kerja melalui kuasa Roh Kudus.

Kiranya kasih Setia Allah bapa, anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Jumat, 22 Mei 2026

10 HUKUM TAURAT BERDASARKAN URUTAN GEREJA LUTHERAN

10 HUKUM TUHAN



https://docs.google.com/document/d/1EYC_CpsPJEhvM8IUc7XTG87nJ77F_xJl/edit?usp=drive_link&ouid=104613925996172531154&rtpof=true&sd=true

Kamis, 21 Mei 2026

UBIQUITAS adalah

Ubiquitas (Latin) ubique yang berarti "di mana-mana") hal ini merujuk pada doktrin kemahahadiran sifat kemanusiaan Yesus Kristus, dan Secara khusus, istilah akan doktrin ini mengajarkan kita bahwa setelah kenaikan-Nya ke surga, tubuh dan darah Yesus (sifat manusia-Nya) tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan hadir di mana-mana karena bersatu secara tidak terpisahkan dengan sifat keallahan-Nya (sifat ilahi).

Tokoh Reformasi kita, Martin Luther dan para teolog Lutheran mengajarkan dan menekankan pandangan ini akan kehadiran Yesus setelah kebangkitan untuk mempertahankan tentang Kehadiran Nyata (Real Presence) Kristus dalam Perjamuan Kudus. 

Bahkan dalam pandangan ini, Lutheran juga membedakan cara Kristus hadir di dunia. Doktrin Ubiquitas tidak berarti tubuh Yesus tersebar atau terbagi bagi secara materi di udara seperti molekul (bukan spatial extension).

Istilah ini, atau doktrin Ubiquitas ini tertuang secara resmi dalam dokumen iman Lutheran konvensional, yaitu Formula Kesepakatan (Formula of Concord, 1577) yang menjadi bagian dari Book of Concord.


KRISTUS YANG TELAH NAIK KE SORGA akan setia hadir dalam hidupmu - Kisah para Rasul 1:1-11

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Kisah Para Rasul 1:3
Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.
Kisah Para Rasul 1:4
Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku.
Kisah Para Rasul 1:5
Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."
Kisah Para Rasul 1:6
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
Kisah Para Rasul 1:7
Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Kisah Para Rasul 1:9
Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.. 
Kisah Para Rasul 1:10
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
Kisah Para Rasul 1:11
dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Saudara saudari, dalam bacaan perikop kita hari ini, firman Allah sedang berbicara tentang hari penggenapan kenaikan Yesus Kristus.  Dan fokus utama dari renungan kita hari ini adalah khotbah yang berpusat pada Kristus (Christocentric), pembedaan antara Hukum Taurat dan Injil (Law and Gospel), serta penekanan pada Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace).

Peritiwa Yesus terangkat ke sorga, adalah masa perpisahan bagi para murid dengan Yesus. Tentu secara manusiawi, perpisahan ini akan menyedihkan bagi para murid, sebab ketika seorang pemimpin pergi maka para pengikutnya akan merasa kehilangan arah. Namun, dalam pandangan teologi Lutheran kita di ajak untuk melihat peristiwa kenaikan ini bukan sebagai ketiadaan Yesus Kristus, melainkan sebagai cara baru bagaimana Kristus akan tetap hadir di tengah-tengah kita. Meskipun para murid dan kita tidak dapat melihatNya secara kasat mata, namun Kristus yang bangkit akan tetap memegang kendali, Ia akan selalu menegur kedagingan kita, dan menghibur kita dengan janji-Nya lewat kuasa Roh kudus. 

Jadi, apakah yang membuat para murid bersedih pada saat perpisahannya dengan Yesus? 
Lewat perikop ini, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa meskipun para murid telah sekian lama bersama dengan Yesus, dan mereka telah menyaksikan kematian Yesus, dan Yesus telah berulang ulang kali menampakkan diri kepada mereka. Sesungguhnya ada yang mengganjal dalam diri mereka masing masing. Dosa membuat mereka gagal mengenal dan mempercayai Yesus dengan benar dan kegagalan mereka membuat mereka lebih berpusat pada diri sendiri daripada kepada Yesus Kristus. Para murid menginginkan kejayaan politis, kesuksesan duniawi, dan teologi kemuliaan (theologia gloriae). Bahkan mereka ingin melihat Yesus bertakhta secara fisik dan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi saat itu juga. Keinginan keinginan seperti ini sering juga terjadi pada kita, dan sering kita datang kepada Yesus hanya mencari kerajaan duniawi. Dalam pengajaran kita sebagai gereja Lutheran, buku konkord mengajarkan kepada kita bahwa kehadiran Yesus di bumi adalah untuk menegakkan Theologia Crucis (Teologi Salib) sebab jalan Allah bukanlah untuk kejayaan duniawi, melainkan jalan salib dan penyangkalan diri, demi kemenangan orang orang percaya. 

Dalam perikop ini, Yesus juga memperingatkan mereka agar menantikan penghibur yang akan turun atas mereka, dan Yesus memperingati mereka agar tidak pergi. Yang berarti Yesus melarang mereka pergi dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Melainkan harus menunggu janji Bapa, yaitu baptisan Roh Kudus, agar Roh Allah bekerja atas mereka untuk dapat membedakan yang benar dan terlebih berkuasa melakukan yang baik dan menjauhkan diri dari kejahatan. Dan tugas yang utama adalah untuk menjadi saksi Kristus di bumi. Para murid dan kita diutus untuk bersaksi tentang Kristus yang disalibkan dan bangkit. Yesus adalah sumber keselamatan kita, keselamatan datang dari padaNya dan sungguh, Keselamatan adalah 100% karya Allah (Sola Gratia — Hanya oleh karena Anugerah). Roh Kuduslah yang akan memelihara kita dalam iman agar mampu menjadi pemberitaan Injil ini sebagai saksi Kristus. 

Setelah Yesus terangkat ke sorga, apakah Yesus tidak hadir lagi di antara para murid dan bagi kita ?. 
Sesungguhnya, dalam Teologi Lutheran mengajarkan dogma UBIQUITAS(keberadaan Kristus yang mahahadir secara manusiawi). Kristus yang naik ke surga bukan berarti Dia pindah ke suatu lokasi geografis yang jauh di atas awan, melainkan Dia masuk ke dalam takhta kanan Allah yang mahakuasa. Dan dalam Alkitab di ajarkan kepada kita bahwa jika kita ingin mencari Kristus yang naik ke surga, maka janganlah menatap langit yang kosong. Tetapi carilah Dia di tempat yang sudah Dia janjikan untuk hadir secara nyata (Real Presence), yaitu dalam Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace) dalam Firman dan ke 2 sakramenNya. 
Kita akan dapat memahami Siapakah Tuhan dalam FirmanNya dan kita akan beroleh pengampunan juga lewat kuasa Firman yang membuat kita mengenal dosa dan Insaf. Bahkan ketika kita menerima Sakramen Baptisan Kudus, Di mana air dan Firman telah menyatukan kita dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Demikianlah juga dengan Perjamuan Kudus Kristus sungguh benar benar hadir "Di mana tubuh dan darah Kristus yang sejati hadir "di dalam, bersama, dan di bawah" roti dan anggur untuk pengampunan dosa kita".

Oleh karena itu, Kenaikan Yesus bukanlah akhir dari cerita-Nya bersama kita, melainkan awal dari pelayanan-Nya di dalam gereja-Nya melalui Roh Kudus. Dua malaikat berjanji bahwa Yesus yang terangkat itu akan datang kembali dengan cara yang sama. 
Sembari menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (Eskatologi), kita tidak dibiarkan yatim piatu. Kita tidak perlu cemas atau mencari tanda-tanda ajaib di langit. Hari ini, Kristus yang naik ke surga itu hadir di sini, di tengah-tengah kita, mengampuni dosa Anda, memberi Anda makan melalui tubuh dan darah-Nya, dan menguatkan Anda untuk menjadi saksi-Nya di dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat, demikianlah firman Allah. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kira semua. Amin 🙏

Rabu, 20 Mei 2026

Berjuang dalam penderitaan mengikuti Kristus - 1 Petrus 4:12-19

Khotbah 1 Petrus 4:12-19
Firman Allah untuk kita. 
1 Petrus 4:12
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
1 Petrus 4:13
Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
1 Petrus 4:14
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
1 Petrus 4:15
Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
1 Petrus 4:16
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Saudara saudari, banyak orang yang bekerja di bumi sesungguhnya sedang berusaha menciptakan kedamaian, kebahagiaan dan sukacita. Artinya, kita bekerja supaya paling tidak hidup kita tidak susah, atau kita ber usaha supaya kehidupan kita sejahtera atau jauh dari penderitaan. 
Lalu kenapakahYesus mengatakan bahwa mengikut Yesus harus siap menderita?. Apakah yang dimaksud denganpenderitaan pada Firman Allah untuk kita pada saat ini?. 
Memang Manusia lama kita (adam lama) selalu berpikir secara Teologi Kemuliaan (Theologia Gloriae) kemakmuran, yang menyatakan bahwa ketika kita mengikut Yesus maka hidup akan mulia, sukses, dan bebas dari masalah. Sehingga banyak dari orang yang ber pengharapan demikian, ketika penderitaan datang akan kaget dan merasa Allah meninggalkannya.
Lewat perikop kita hari ini, marilah kita terleboh dahulu membedakan penderitaan oleh karna pelanggaran atau perbuatan kita dengan penderitaan oleh karena Kristus. Ke 2 bentuk Penderitaan ini sangat berbeda. Penderitaan oleh karena perbuatan atau kesalahan dan keserakahan kita umumnya akan menjadi siksaan bagi kita. Namun penderitaan oleh karena Kristus, sesungguhnya itu adalah jalan bagi kita untuk mempercayai bahwa dalam penderitaan itu Allah tidak meninggalkan kita, terkadang penderitaan itu datang untuk meneguhkan iman kita bahkan memulihkan pengharapan kita kepada Allah. 
Jadi, Penderitaan akibat dosa pribadi adalah upah dosa yang mendatangkan penyesalan. Ini harus kitabedakan secara tegas dari Salib Kristus. Seluruh Hukum Taurat Tuhan menyatakan kita berdosa dan menuntun kita kepada pertobatan agar kita tidak bermegah atas penderitaan yang kita cari sendiri. Hukum Taurat ituendiri telah membongkar kedagingan kita. Dalam kehidupan kita sering kali kita kedapatan sedang menderita bukan karena iman, melainkan karena kebodohan, dosa, atau karena kita suka mencampuri urusan orang lain (allotrioepiskopos). Oleh karena itu, firman ini mengingatkan dengan tegas kepada kita agar jangan kita mau menderita oleh karena kebodohan kita (15) "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau" Yang artinya cukuplah kita menderita oleh karena kebenaran mengikut Kristus, dan itu adalah sukacita bagi kita sebab Kristus ikut juga berjuang dalam penderitaan kita. 
Di tengah penderitaan, marilah kita tidak berpaling dari Allah, dan tidak mencari kambing hitam. Marilah kita merenunginya, menerima Salib yang Tuhan izinkan, tetap melakukan kewajiban hidup kita dengan berbuat baik, dan memlercayakan jiwa kita kepada Pencipta yang setia. 

Saudara saudari, Petrus juga berkata dalam ayat 13-14 "Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, dan berbahagialah kamu, oleh karena Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu."
Saat dunia membenci dan mencela kita karena nama Kristus (Ayat 14), itu adalah bukti otentik bahwa kita milik-Nya. Dan sebesar apa pun penderitaan yang kita alami dalam hidup, Penderitaan tidak berkuasa untuk membatalkan anugerah Allah atas kita. Sebab penderitaan tidak akan mengubah status kita. Kita akan tetap dibenarkan oleh iman (simul iustus et peccator). Sebab Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita saat kita menderita; sebaliknya, Dia justru sedang "memelihara" dan menguatkan iman kita di dalam proses pemurnian tersebut sehingga kita menjadi orang yang tangguh dalam menghadapi penderitaan oleh karena mengikut Tuhan. 
Jadi, penderitaan yang dimaksud dalam perikop ini adalah Penderitaan Yesus Kristus disalib dan penderitaan yang kita alami oleh karena Kristus telah menjadikan kita milikNya (umat tebusannya). Ketika kita menjadi milik Kristus maka dunia akan menjadi musuh kita. Dan ketika hidup kita berakhir dari dunia maka sukacita sorga yang kekal akan menghampiri kita. 
Oleh karena itu, marilah kita percaya bahwa penderitaan karena iman bukanlah tanda murka Allah, melainkan tanda sekutu kita dengan Salib Kristus yang memurnikan iman kita menuju kemuliaan kekal. Dan hendaklah, selama hidup kita di dunia marilah berserah secara pasif kepada anugerah Allah yang menyelamatkan, dan tetaplah aktif bekerja untuk menjalankan tanggung jawab hidup sehari-hari dengan berbuat baik, mengasihi sesama terlebih mengasihi Tuhan dengan cara memercayakan jiwa kita sepenuhnya kepada Allah Pencipta yang setia.
Amin.. 







Senin, 18 Mei 2026

Jumat, 15 Mei 2026

Acara Ibadah persekutuan doa Muda mudi GKLI - Lutheran minggu exaudi

 

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

16/Mei/2026

 

1.      Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang)

1. Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
Bagai bunga t'rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita, kebimbangan, t'lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b'ri sinarMu menyerap.

2. Kau memb'ri, Kau mengampuni, kau limpahkan rahmatMu
Sumber air hidup ria, lautan kasih dan restu.
Yang mau hidup dalam kasih Kau jadikan milikMu
Agar kami menyayangi, meneladan kasihMu.

3. Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinarMu.
Para malak, tata surya naikkan puji bagiMu
Padang, hutan dan samud'ra, bukit, gunung dan lembah,
Margasatwa bergembira 'ngajak kami pun serta.

 

2.      Doa Pembuka.

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

 

3.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 26 : 1 – 3 (Mampirlah dengar doaku)

1.      Mampirlah, dengar doaku, Yesus Penebus.
Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

Refrein : Yesus, Tuhan, dengar doaku;

                orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

2.      Di hadapan takhta rahmat aku menyembah,
Tunduk dalam penyesalan. Tuhan, tolonglah!

Reff :

 

3.      Ini saja andalanku: jasa kurbanMu.
Hatiku yang hancur luluh buatlah sembuh.

 

 

4.      Renungan Firman (Pendalaman Alkitab)

Ayat Renungan : Mazmur 66:8-20

Thema               : Berdoa dan berserulah kepada Allah                 

Tujuan               : Supaya anak dan remaja senantiasa berdoa dan berseru kepada Allah

1.      Berdoa cara kita berkomunikasi kepada Allah

2.      Allah merindukan umatNya berseru kepada Allah

3.      Allah mengetahui setiap doa yang kita ucapkan

4.      Allah akan berkenan kepada setiap doa orang percaya.

             Hafalan             : Mazmur 66:17 “kepadaNya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku

     aku menyanyikan pujian”

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 460 : 1 – 3 (Jika Jiwaku Berdoa)

1. Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t'rima
saja pemberian tanganMu dan mengaku, s'perti Yesus
di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

2. Apa juga yang Kautimbang baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya, walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah.

3. Aku cari penghiburan hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja perlindungan hidupku.
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah.

 

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami

7.      Latihan Koor

 

 


theologi Lutheran

Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati, Sejiwa, dan Rela Berbagi - Kisah Para Rasul 4:32-37

Shalom...  Firman Allah untuk kita. Kisah Para Rasul 4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa...

what about theologi luther ?