Tampilkan postingan dengan label Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2026

Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati, Sejiwa, dan Rela Berbagi - Kisah Para Rasul 4:32-37

Shalom... 
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 4:32
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
Kisah Para Rasul 4:33
Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
Kisah Para Rasul 4:34
Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
Kisah Para Rasul 4:35
dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
Kisah Para Rasul 4:36
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
Kisah Para Rasul 4:37
Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Saudara saudari, lewat khotbah kita hari ini kita di ingatkan kembali akan kehidupan Jemaat mula mula setelah peristiwa Pentakosta serta cara hidup mereka di tengah ancaman penganiayaan. Bagaimana mereka dapat hidup sehati, sejiwa, dan saling berbagi secara radikal?.

Pertama-tama, mereka dikatakan sehati dan sejiwa bukan dalam bentuk abstrak, tetapi secara konkret atau nyata. Oleh karena kenyataan itu sehingga setiap orang berkata bahwa kepunyaan sendiri adalah milik bersama (ayat 32). Dasarnya adalah oleh karena kuasa kebangkitan Kristus, sebab mereka telah menerima kasih karunia yang berlimpah-limpah. Bukan hanya dalam tataran kata-kata, melainkan dalam tindakan nyata setiap anggota jemaat menyatakan kasih dengan harta mereka. Mereka yang diberkati membagikan hartanya kepada yang berkekurangan sehingga semua diberkati. Serta setiap jemaat Tuhan memberi hidup untuk melayani dan memberi bukan dengan sembarangan atau semau sendiri, tetapi mereka benar benar menghormati para rasul dan memercayakan segala sesuatunya kepada para rasul yang menjadi pemimpin gereja saat itu. Ini menunjukkan kedewasaan dalam memberi, bukan sekadar unjuk diri sebagai seorang yang murah hati.

Sebagai umat Lutheran, kita harus bertanya: 
Apa yang menggerakkan perubahan radikal ini? 
Dan apakah ini menjadi sebuah hukum baru yang mewajibkan semua orang Kristen miskin secara materi oleh karena berbagi?
Sesungguhnya tidak, sebab lewat renungan ini dapat kita lihat pada ayat 33 dikatakan "Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah." 
Jadi, dasar atau fondasi dari seluruh aksi mereka untuk hidup saling berbagi bukanlah undur paksaan moral atau ideologi politik, melainkan oleh kuasa Injil Kebangkitan Kristus. Ketika jemaat menyadari bahwa Kristus telah menang atas maut dan dosa, maka secara otomatis orientasi hidup mereka bergeser secara total dari diri sendiri menuju kepada Kristus dan sesama.

Dan sangat perlu juga kita menyadari dan mengakui bahwa, iman tidak lahir dari paksaan atau regulasi organisasi gereja. Sebab Iman adalah ciptaan Roh Kudus melalui pemberitaan Firman. Ketika jemaat mendengar bahwa Kristus telah bangkit, kuasa maut telah dikalahkan dan dosa mereka telah diampuni secara cuma-cuma, kuasa pemberitaan itulah yang membuat orientasi hidup mereka berubah total.

Bahkan, jikalau kita pernah membaca atau mendengar, tokoh reformasi kita Martin Luther pernah menuliskan demikian "seorang Kristen tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Kristus dan sesamanya, dengan demikian Iman yang sejati akan selalu membuahkan kasih yang aktif".
Jadi sesungguhnya Iman yang benar akan menuntun dan mendorong kita untuk bekerja dalam kasih Kristus, bukan karena kehendak kita semata mata, melainkan karna pekerjaan Roh Kudus yang telah mengubah kan dan menggerakkan kita untuk hidup saling mengasihi.

Yang artinya, meskipun dunia egois dan penuh ketakutan akan kekurangan, yang pasti setiap jemaat Kristen akan selalu tampil sebagai komunitas yang radikal karena mereka percaya pada pemeliharaan Allah. Mereka akan selalu berbagi kepada sesama, bahkan hidup saling berbagi kepada setiap yang membutuhan.

Saudara saudari, diatas kebaikan atau kasih kita terhadap sesama, hendaklah kita juga jangan menjadi terjebak atau dalam artian kita memberi atau mengasihi sesama supaya kita selamat, sesungguhnya tidak. Kita memberi dan mengasihi karna Allah adalah sumber anugerah dan kasih. Sungguh, Kita tidak dapat diselamatkan karena kita berbagi harta seperti jemaat mula-mula. Sebab kita diselamatkan hanya oleh Kristus yang telah memberikan seluruh diri-Nya, darah-Nya, dan nyawa-Nya bagi kita di kayu salib, dan untuk itulah kita harus hidup dalam kasih dan saling berbagi kepada sesama karna Kristus telah menolong dan menyelamatkan kita.

Lewat firman ini, Marikah kita pulang membawa berita sukacita ini. Biarlah kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah memenuhi hati kita, sehingga hidup kita terpancar dalam kesatuan hati, kepedulian yang tulus kepada sesama, dan kasih yang menghidupkan bagi sesama terlebih kepada Allah sang sumber hidup

Demikianlah firman Tuhan, kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua Amin.

theologi Lutheran

Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati, Sejiwa, dan Rela Berbagi - Kisah Para Rasul 4:32-37

Shalom...  Firman Allah untuk kita. Kisah Para Rasul 4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa...

what about theologi luther ?