Shalom amang inang.
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 123:2
Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
Mazmur 123:3
Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan;
Mazmur 123:4
jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.
Saudara saudari, jikalau kita perhatikan pada saat ini. Dunia lebih sering kali diukur dengan kekuatan, kekayaan, stabilitas, dan gengsi. Dan lihatlah, setiap orang yang berhasil menurut standar dunia cenderung merasa aman. Dan tentu rasa aman yang seperti itu akan melahirkan kesombongan dan memandang rendah orang lain.
Kitab Mazmur 123 adalah "Nyanyian Ziarah"—nyanyian yang dinyanyikan umat Allah saat mereka berjalan mendaki menuju Yerusalem. Namun, perjalanan ziarah mereka tidak mulus. Ayat 3 dan 4 mencatat jeritan hati mereka: "sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghintaan... kenyang dengan olok-olok orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong."
Sebagai orang Kristen, kita kerap mengalami hal yang sama. Di sekolah, di tempat kerja, atau bahkan di tengah keluarga, iman kita kepada Kristus dan komitmen kita untuk hidup benar sering kali membuahkan ejekan. Kita dianggap kuno, lemah, atau bodoh. Bagaimana teologi Lutheran membimbing kita merespons situasi ini?
Di dalam ayat 2, pemazmur memberikan metafora yang sangat dalam tentang kerendahan hati: "Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita.
Seorang hamba atau budak pada zaman kuno tidak memiliki hak apa-apa atas dirinya sendiri. Mereka sepenuhnya bergantung pada isyarat tangan tuannya untuk mendapatkan makanan, perlindungan, atau pengampunan. Pemazmur tidak membusungkan dada menantang balik orang yang menghinanya. Dia tidak menggunakan ego atau kekuatannya sendiri. Sebaliknya, dia menempatkan diri sebagai hamba yang tak berdaya di hadapan Allah.
Saudara-saudari, siapakah hamba sejati yang matanya sepenuhnya memandang kepada Bapa saat mengalami penghinaan paling kejam? Dialah Tuhan Yesus Kristus.Yesus mengalami penggenapan radikal dari Mazmur 123 ini. Di atas kayu salib, Dia dikelilingi oleh "orang-orang yang merasa aman dan sombong"—para pemimpin agama dan tentara Romawi yang mengolok-olok-Nya. Mereka meludahi-Nya, memukul-Nya, dan menantang-Nya untuk turun dari salib. Namun, Yesus tidak membalas dengan kutuk. Matanya tetap tertuju kepada kehendak Bapa-Nya.
Melalui penghinaan Kristus di kayu salib itulah, tangan Allah teracung bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk memberikan pengampunan dan memulihkan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Dunia boleh saja menganggap kita rendah, tetapi di dalam Kristus, Allah menyatakan bahwa kita berharga, dibeli dengan darah yang kudus.
Oleh karena itu, Sebagai jemaat Kristen Lutheran yang hidup di tengah dunia yang makin egois dan kompetitif ini, apa yang harus kita lakukan saat "kenyang" dengan cemoohan?
1. Layangkan mata Anda kepada Kristus melalui Firman dan Sakramen-Nya.
2. Sadarilah bahwa keamanan kita bukan berasal dari materi atau penerimaan dunia, melainkan dari status kita sebagai hamba milik Allah.
3. Sabarlah menantikan pertolongan Tuhan .
Sebab Dialah Allah kita, yang memegang hidup kita di dalam tangan-Nya yang penuh paku, tangan yang kini terulur untuk memberkati dan membela kita.
Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua .. Amin,