Kata Ibrani untuk kudus adalah קָדֹושׁ (kadosh, Terpisah, dikhususkan, murni). Ketika kita mengatakan bahwa Tuhan itu kudus, kita maksudkan bahwa Dia sepenuhnya terpisah dari segala sesuatu, tinggi di atas segala sesuatu. Para teolog menggunakannya untuk menggambarkan semua sifat (atribut) Tuhan. Segala sesuatu tentang Tuhan benar-benar murni dan tidak bercampur dengan apa pun. Ketika berbicara tentang kehendak dan tindakan Tuhan, kata "kudus" berarti bahwa Tuhan benar-benar baik dan tanpa dosa, tidak ada yang najis di hadapan-Nya. Itulah mengapa orang berdosa tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dan tetap hidup. Itulah mengapa, di bait suci, hanya Imam Besar yang telah disucikan yang dapat memasuki tempat Mahakudus (Mahakudus) sekali setahun hanya untuk membawa darah kurban untuk pengampunan dosa bagi umat Israel.
Karena Allah itu kudus, maka segala sesuatu yang dikhususkan untuk penggunaan-Nya juga harus disebut kudus seperti Bait Suci, kurban-kurban, serta para umat-Nya.
Dalam Perjanjian Baru, Firman Allah dan Sakramen-sakramen disebut kudus, yang artinya keduanya menghubungkan Allah dan umat-Nya. Keduanya adalah Sarana Kasih Karunia, bagaimana Allah, dalam kasih karunia dan belas kasihan-Nya, menciptakan iman di dalam hati kita, mengampuni dosa-dosa kita, menjadikan kita menjadi anak-anak-Nya sendiri (ciptaan yang baru-quasimodogeniti), dan memberi kita hidup serta keselamatan demi pengorbanan penebusan Anak Allah di kayu salib.
Dalam Baptisan kudus, Allah bekerja lewat perkataan pendeta yang berbicara tentang janji Allah dalam Firman yang dipadukan dengan Air yang menguduskan kita (Efesus 1:4 , 5:27) Sekarang kita adalah orang-orang kudus-Nya ("Orang-orang Kudus") dan sesungguhnya kita semua yang telah dibaptis kepada Kristus yang tersalib dan bangkit ita adalah bangsa yang kudus yang dipanggil untuk memberitakan kabar baik-Nya kepada seluruh dunia.
Hingga sampai sekarang dan sampai Kristus datang, Allah akan selalu memanggil kita untuk hidup dalam kekudusan oleh Kristus lewat Firman dan sakramen, agar kita tetap berdiam dan tinggal didalam kekudusan Allah dan menjadi kudus seperti Bapa Surgawi kita yang kudus dan sempurna. (Imamat 19:2 , Matius 5:48) Sebagai orang berdosa, memang sesungguhnya kita tidak akan dapat dengan sepenuhnya kudus selama kita masih hidup di dunia, tetapi dengan Iman yang tetap percaya kepada Kristus, kita juga harus berada dalam perbuatan yang Kudus, yaitu melakukan perbuatan baik berdasarkan pekerjaan Roh Allah. Dihadapan Allah, Allah hanya melihat perbuatan-perbuatan ini dan tidak lagi mengingat dosa-dosa kita. Ketika kita mati dan masuk ke hadirat Kristus yang kekal, kita akan disucikan dari dosa-dosa kita - sekali dan untuk selamanya, dan hidup sebagai orang kudus dalam persekutuan dengan Allah kita yang Kudus selamanya.
#vdma