Rabu, 03 Juni 2026

Indahnya pelayanan jikalau dipenuhi Anugerah Allah - Kisah para rasul 6:1-7

Shalommm....

Firman Allah untuk kita :
Kisah Para Rasul 6:1
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
Kisah Para Rasul 6:3
Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
Kisah Para Rasul 6:4
dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
Kisah Para Rasul 6:5
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
Kisah Para Rasul 6:6
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Kisah Para Rasul 6:7
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Saudara saudari, dalam kehidupan ini seringkali kita memiliki ilusi atau bayangan yang keliru tentang "Gereja yang ideal." Terkadang kita berpikir bahwa Gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul adalah komunitas yang tanpa cela, sebab selalu harmonis, dan suci secara sempurna. Namun, lewat firman hari ini kita kembali dibawa kepada realitas yang jujur.

Di tengah pertumbuhan yang pesat, muncul banyak gesekan sosial antara orang Yahudi yang berbahasa Yunani (Helenis) dengan orang Yahudi berbahasa Ibrani. Dan jikalau kita mempelajari latar belakangnya, sesungguhnya permasalahan itu terjadi hanya karena diskriminasi atau kelalaian dalam pembagian bantuan makanan sehari-hari bagi para janda.

Lewat masalah ini, kita di ingatkan kembali bahwa Martin Luther pernah merumuskan identitas orang percaya dengan menyatakan "Simul iustus et peccator" yang artinya kita adalah orang benar (karena iman kepada Kristus), dan sekaligus pada saat yang sama masih orang berdosa. 
Memang dengan masih banyaknya terjadi masalah dan gesekan dalam gereja, kita harus sadar bahwa Gereja bukanlah kumpulan malaikat yang suci secara moralitas pribadi, melainkan rumah sakit bagi orang berdosa yang disembuhkan oleh anugerah-Nya.

Dengan munculnya masalah ini, menyingkapkan kepada kita akan kegagalan manusiawi kita. Ketika ego kelompok, latar belakang budaya, atau bahasa menjadi pembatas, maka kasih kita akan mulai memudar, bahkan ada orang yang terabaikan seperti janda yang terabaikan, dan akan memunculkan sungut-sungut.

Selama di dalam kegagalan ini, jikalau kita tetap memilih untuk mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, bahkan struktur organisasi terbaik sekalipun akan runtuh di bawah beban dosa manusia. Hukum Taurat Tuhan akan selalu mengingatkan kita bahwa kita bahwa kita sangat membutuhkan intervensi dari luar diri kita yaitu pertolongan dari Allah - kita sangat membutuhkan anugerah Allah.

Lewat perikop ini, kita di ajarkan akan penyelesaian masalah dalam lingkungan Gereja. Bagaimanakah para rasul menyelesaikannya ?.
Para murid tidak memarahi jemaat yang bersungut-sungut, melainkan membawa solusi yang penuh hikmat dan kasih. Mereka meminta jemaat untuk memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk "melayani meja" (diakonia), sementara para rasul memusatkan diri hanya pada layanan doa dan pelayanan Firman.

Pemilihan tujuh diaken (termasuk Stefanus dan Filipus) menunjukkan bahwa setiap anggota jemaat memiliki panggilan (vocation / Beruf) dari Allah. Melayani meja, mengurus administrasi gereja, memasak, mengajar sekolah minggu, atau berkhotbah di mimbar memiliki nilai yang sama mulianya di hadapan Allah jika dilakukan dalam iman.
Dan Para rasul mengkhususkan diri untuk pemberitaanFirman dan Doa bukan karena mereka "lebih suci", melainkan demi efektivitas jemaat agar Firman Tuhan tidak dikesampingkan. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing dalam tubuh Kristus.

Lewat firman ini, marilah kita juga merenungkan keadaan gereja kita saat ini.
Sebab gereja kita hari ini, juga tidak luput dari masalah, perbedaan pendapat, atau keterbatasan. 
Namun marilah kita mengingat, bahwa Kepala Gereja kita adalah Yesus Kristus. Di tengah kegagalan kita sekalipun, Kristus akan terus hadir untuk mengampuni kita, memulihkan hubungan kita, dan memakai tangan serta kaki kita untuk segala hal yang baik melalui pelayanan Firman maupun pelayanan diakonia untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia.

Demikianlah Firman Allah, Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua .. Amin.

Selasa, 02 Juni 2026

Pertolongan Kita adalah Anugerah Allah - Mazmur 124:1-8

Pertolongan Kita adalah Anugerah Allah - Mazmur 124:1-8

Shalom..

Firman Allah untuk kita.
Mazmur 124:2
jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita,
Mazmur 124:6
Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka!
Mazmur 124:7
Jiwa kita terluput seperti burung dari jerat penangkap burung; jerat itu telah putus, dan kitapun terluput!
Mazmur 124:8
Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Saudara saudari, Pernahkah anda menoleh ke belakang  melihat badai hidup yang telah berlalu kemudian menghela napas lega sambil berkata : "Bagaimana mungkinkah saya bisa selamat dari semua itu? 
Khotbah Mazmur 124 adalah sebuah Nyanyian Ziarah (Song of Ascents). Lagu ini dinyanyikan oleh umat Israel saat mereka mendaki menuju Yerusalem untuk beribadah. Lewat mazmur ini, Raja Daud mengajak seluruh jemaat untuk melakukan kilas balik (flashback) atas sejarah hidup mereka. 
Dasar dari khotbah dan nyanyian ini bukanlah tentang kehebatan manusia yang berhasil dalam bertahan hidup. Melainkan atas dasar pengakuan iman yang radikal seperti yang dikatakan dalam perikop ini "Jika bukan Tuhan yang memihak kita..."

Lewat khotbah ini, dapat kita lihat bahwa Daud menggunakan tiga cara atau proses yang sangat mengerikan untuk menggambarkan penderitaan manusia dalam ayat 3-7
1. Ditelan hidup-hidup oleh amarah musuh (seperti monster purba).
2. Dihanyutkan oleh air banjir dan sungai yang meluap (melambangkan situasi chaos yang mengancam nyawa).
3. Burung yang terjebak dalam jerat pemikat burung (melambangkan ketidakberdayaan total).
Yang artinya, sama seperti burung yang masuk perangkap, ketika semakin ia mengepakkan sayap dengan kekuatannya sendiri, maka akan semakin erat jerat itu mencengkeramnya. Ini adalah gambaran yang sesungguhnya atas hidup kita dalam tantangan hidup bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri dari jerat dosa, iblis, dan maut.

Dan pertanyaannya, Siapakah yang mematahkan jerat itu?.Atau siapakah yang menyelesaikan tantangan itu ?.
Sesungguhnya, bukan manusia, melainkan Allah sendiri. Nagi kita yang telah di anugerahi oleh Allah marilah kita melihat bahwa penggenapan tertinggi dari Mazmur 124 ini di dalam Yesus Kristus. Di atas kayu salib, Yesus membiarkan Diri-Nya "ditelan" oleh maut dan murka Allah atas dosa demi menggantikan kita. Namun, melalui kebangkitan-Nya, Yesus mematahkan jerat maut itu untuk selama-lamanya. Keberpihakan Allah ditunjukkan secara nyata dan selesai dalam Kristus: "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31).

Oleh karena itu, berhentilaj mengandalkan diri sendiri. Sebab hidup kita adalah hidup yang berpaling dari ego (Incurvatus in se) menuju Kristus. Sadarilah bahwa keberhasilan kita, kesehatan kita, dan keselamatan kita hari ini bukanlah hasil jerih payah kita semata, melainkan karena pemeliharaan Allah.

Dalam hidup kita tiap tiap saat, marilah kita merenungkan hal ini, ikalau kita masih bisa berdiri, beribadah, dan bernapas hingga hari ini, itu bukan karena kita hebat, melainkan karena Tuhan memihak kita.
Marilah Puji Dia, bersyukurlah kepada-Nya, dan serahkanlah seluruh kekhawatiranmu ke dalam nama-Nya yang kudus. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua....Amin

Senin, 01 Juni 2026

"Menanti Belas Kasihan Allah (Sola Gratia) di di dalam penderitaan" Mazmur 123

Shalom amang inang.
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 123:2
Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
Mazmur 123:3
Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan;
Mazmur 123:4
jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.


Saudara saudari, jikalau kita perhatikan pada saat ini. Dunia lebih sering kali diukur dengan kekuatan, kekayaan, stabilitas, dan gengsi. Dan lihatlah, setiap orang yang berhasil menurut standar dunia cenderung merasa aman. Dan tentu rasa aman yang seperti itu akan melahirkan kesombongan dan memandang rendah orang lain.

Kitab Mazmur 123 adalah "Nyanyian Ziarah"—nyanyian yang dinyanyikan umat Allah saat mereka berjalan mendaki menuju Yerusalem. Namun, perjalanan ziarah mereka tidak mulus. Ayat 3 dan 4 mencatat jeritan hati mereka: "sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghintaan... kenyang dengan olok-olok orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong."

Sebagai orang Kristen, kita kerap mengalami hal yang sama. Di sekolah, di tempat kerja, atau bahkan di tengah keluarga, iman kita kepada Kristus dan komitmen kita untuk hidup benar sering kali membuahkan ejekan. Kita dianggap kuno, lemah, atau bodoh. Bagaimana teologi Lutheran membimbing kita merespons situasi ini?

Di dalam ayat 2, pemazmur memberikan metafora yang sangat dalam tentang kerendahan hati: "Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita.

Seorang hamba atau budak pada zaman kuno tidak memiliki hak apa-apa atas dirinya sendiri. Mereka sepenuhnya bergantung pada isyarat tangan tuannya untuk mendapatkan makanan, perlindungan, atau pengampunan. Pemazmur tidak membusungkan dada menantang balik orang yang menghinanya. Dia tidak menggunakan ego atau kekuatannya sendiri. Sebaliknya, dia menempatkan diri sebagai hamba yang tak berdaya di hadapan Allah.

Saudara-saudari, siapakah hamba sejati yang matanya sepenuhnya memandang kepada Bapa saat mengalami penghinaan paling kejam? Dialah Tuhan Yesus Kristus.Yesus mengalami penggenapan radikal dari Mazmur 123 ini. Di atas kayu salib, Dia dikelilingi oleh "orang-orang yang merasa aman dan sombong"—para pemimpin agama dan tentara Romawi yang mengolok-olok-Nya. Mereka meludahi-Nya, memukul-Nya, dan menantang-Nya untuk turun dari salib. Namun, Yesus tidak membalas dengan kutuk. Matanya tetap tertuju kepada kehendak Bapa-Nya.

Melalui penghinaan Kristus di kayu salib itulah, tangan Allah teracung bukan untuk menghukum kita, melainkan untuk memberikan pengampunan dan memulihkan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Dunia boleh saja menganggap kita rendah, tetapi di dalam Kristus, Allah menyatakan bahwa kita berharga, dibeli dengan darah yang kudus.

Oleh karena itu, Sebagai jemaat Kristen Lutheran yang hidup di tengah dunia yang makin egois dan kompetitif ini, apa yang harus kita lakukan saat "kenyang" dengan cemoohan?
1. Layangkan mata Anda kepada Kristus melalui Firman dan Sakramen-Nya.
2. Sadarilah bahwa keamanan kita bukan berasal dari materi atau penerimaan dunia, melainkan dari status kita sebagai hamba milik Allah.
3. Sabarlah menantikan pertolongan Tuhan .
Sebab Dialah Allah kita, yang memegang hidup kita di dalam tangan-Nya yang penuh paku, tangan yang kini terulur untuk memberkati dan membela kita.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua .. Amin,

theologi Lutheran

Indahnya pelayanan jikalau dipenuhi Anugerah Allah - Kisah para rasul 6:1-7

Shalommm.... Firman Allah untuk kita : Kisah Para Rasul 6:1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut...

what about theologi luther ?