Sabtu, 27 Juni 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026 - Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita - Matius 10 : 34 - 42


Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026


Evangelium: Matius 10 : 34 - 42

Thema : Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita
Saudara saudari, salah satu warisan teologi Lutheran yang paling berharga bagi kita adalah keberanian untuk melihat realitas salib. Dalam tulisannya Martin Luther sering mengingatkan kita tentang Theologia Crucis "Teologi Salib". Teologi ini mengajarkan bahwa Allah justru menyatakan diri-Nya di dalam penderitaan, penolakan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi daging kita. Dan dalam teks Matius 10 : 34 - 42 adalah contoh mutlak dari Teologi Salib ini. Di sini kita diperhadapkan dengan tuntutan Hukum Taurat yang sangat keras dan radikal. Yesus menuntut kesetiaan secara total yang melebihi relasi kita dengan orang tua, anak, atau pasangan hidup. Firman ini datang bukan untuk menghibur ego kita, melainkan untuk menghancurkan berhala-berhala terselubung di dalam hati kita. Marilah kita membuka hati kita, membiarkan pedang Firman-Nya memurnikan iman kita, sehingga kita tidak lagi mengandalkan kenyamanan duniawi, melainkan hanya bersandar pada kasih karunia Kristus semata, oleh karena itu lewat Khotbah hari Allah berkata kepada kita dengan Thema : "Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita"


1. Meskipun kita harus Kehilangan Status demi duniawi.
"Bapak, Ibu, jika standar 'mengutamakan Tuhan' diukur dari kesempurnaan kita melakukan ayat-ayat ini, maka kesimpulannya jelas: Tidak ada satu pun dari kita yang layak di hadapan Tuhan. Sebab, kita semua telah gagal mengutamakan Dia. Dalam kehidupan yang nyata, kita telah menjadikan kenyamanan hidup, keluarga, dan status sosial kita sebagai allah yang lebih utama."
Tentu dengan membaca dan merenungkan Injil yang telah kita baca tadi, akan sangat terasa mengejutkan dan menghentak telinga kita. Sebab, Yesus yang kita kenal sebagai Raja Damai, tiba-tiba berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (ay. 34).

Apakah maksudnya Yesus sang Mesias datang membawa pedang dan menjadi pemisahan di dalam keluarga?. Firman ini sesungguhnya mematikan ilusi kita tentang kekristenan yang selalu berpikir nyaman, aman, dan tanpa konflik. Lewat Injil ini Yesus sedang menelanjangi kedamaian palsu yang ditawarkan dunia agar kita melihat kedamaian sejati yang berakar pada kebenaran Allah. Pedang yang dibawa oleh Yesus bukanlah senjata fisik untuk melukai, atau menghabiskan nyawa kita, melainkan pedang Firman yang memisahkan kebenaran dari ketidakbenaran, memisahkan antara yang gelap dengan yang terang. Ketika kita memilih untuk setia kepada Kristus, maka sesungguhnya nilai-nilai hidup kita tentu akan bertabrakan dengan seluruh prinsip dunia atau kenyamanan dunia. Dan yang paling nyatanya, penolakan atau tantangan yang paling umum bahkan menyakitkan justru sering kali datang dari orang-orang terdekat kita sendiri, seisi rumah kita sekeliling seperti penolakan yang terjadi kepada Yesus.

Lewat Baptisan Kudus, Allah mengadopsi kita menjadi anak anakNya sebagai umat tebusanNya, yang artinya Tuhan Yesus yang memanggil kita bukanlah untuk menjadi serupa dengan dunia atau hidup di dalam kedamaian palsu yang penuh kompromi dengan dosa. Dia memanggil kita untuk masuk ke dalam peperangan rohani yang nyata, yang diperlengkapi dan bersenjatakan dengan pedang Firman-Nya. Kita dituntut untuk hidup dalam penyerahan total kepada Yesus, dengan memotong keterikatan berhala kita terhadap keluarga dan diri sendiri. Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (ay. 37). Yesus tidak menyuruh kita membenci keluarga. Namun, agar tidak menjadikan kenyamanan keluarga atau tuntutan dunia lebih utama daripada Iman. Yesus menuntut penyerahan total: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (ay. 38). Di hadapan tuntutan Hukum Taurat, kita semua adalah orang yang gagal, karena kita lebih sering mencari aman, takut ditolak keluarga, dan menolak memikul salib dan itu membuat kita tidak layak.

Apakah Tuhan membiarkan kita hidup mati dalam kegagalan ini ?. Sesungguhnya Tidak. Lewat Injil hari ini kita di bawa dari Hukum Taurat menuju Injil (The Gospel). Dan bagaimanakah Allah menolong kita ?. Pertama tama Kristus Memikul Salib Kita, Sebelum Yesus meminta kita memikul salib, Dia terlebih dahulu memikul salib yang sesungguhnya di Golgota. Salib yang memikul seluruh dosa, ketakutan, dan kegagalan kita untuk setia kepadaNya. Pertolongan terbesar Allah terjadi di salib Golgota. Pedang keadilan Allah yang seharusnya menghukum kita karena dosa dan kegagalan kita, telah ditimpakan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Di atas salib, Kristus mengalami "pemisahan" yang paling mengerikan, Ia ditinggalkan oleh Bapa-Nya, agar kita tidak pernah lagi terpisah dari Allah. Pedang yang mengancam hidup kita telah dipatahkan oleh tubuh-Nya yang terluka. Dan hingga saat ini, pedang itu sesungguhnya tetap bekerja baik melalui hukum hukumnya, sebab dengan pedang itu Kristus memotong ego, kesombongan, dan keterikatan berhala kita pada dunia. Sungguh, Allahlah yang menolong kita dengan cara membiarkan pedang itu membunuh "manusia lama" kita yang berdosa, lalu membangkitkan "manusia baru" yang hidup oleh kasih karunia. Oleh karena itu, jangan lagi kita mengikatkan rasa aman kita pada penerimaan keluarga, harta, atau status duniawi, sebab pedang penolakan dunia tidak lagi memiliki kuasa untuk menghancurkan jiwa kita.


2. Sebab Allah telah memberikan kita hadiah, dengan melayakkan kita ddihadapanNya.
Saudara saudari, kita dibenarkan dan Disatukan dihadapan Allah adalah karena Kasih Karunia" (Justified and United by Grace). Dalam tradisi Lutheran, diajarkan kepada kita bahwa Injil bukanlah tuntutan moral, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Meskipun dihadapan Allah kita dipandang gagal dalam memikul salib kita dengan sempurna. Namun, Kristus telah memikul salib hukuman dosa kita di Golgota, sehingga salib yang kita pikul hari ini bukanlah lagi kutukan, melainkan tanda kemerdekaan, dan pemurnian Iman yang benar kepada Kristus.

Meskipun jikalau jalan terakhirnya kita harus Kehilangan nyawa/ego karena Kristus itu artinya kita telah menemukan hidup yang sejati, tetapi bukan Berti juga kita menuntun diri kepada penderitaan yang tidak bermanfaat. Marilah kita renungkan dan ingat ini, ketika kita menerima Baptisan, baik saat bayi ataupun setelah dewasa, sesungguhnya manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus di kayu salib dan kita diberikan identitas baru oleh kebangkitanNya yang tidak bisa dihancurkan oleh penolakan dunia.

Apakah kamu akan meninggalkan Allah juga hanya masalah kecil atau masalah kedagingan yang membuat kita terasing atau ditolak ?. Saudara saudari, Jika kita jujur melihat diri kita sendiri (dari sudut pandang Hukum Taurat), di dalam kekuatan kita sendiri, kita sangat mungkin akan meninggalkan iman ketika menghadapi penderitaan, sebab daging lemah. Namun, Injil hari ini memberikan pengharapan bahwa kita tetap dapat berada dalam kesetiaan bukan karena hebatnya iman kita, melainkan karena setianya Allah yang memegang kita tiap tiap saat. Dan mari kita juga merenungkan kembali, akan pengakuan Iman kita. Martin Luther dalam Penjelasan Pengakuan Iman Rasuli di katekhismus Kecil menuliskan seperti ini : "Aku percaya bahwa dengan kekuatanku atau imanku sendiri, aku tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepada-Nya; tetapi Roh Kudus telah memanggil aku melalui Injil..." Percayalah bahwa Allah yang Mempertahankan Iman bagi kita, setiap Kesetiaan yang diperbuat oleh orang Kristen di tengah penderitaan adalah buah dari pekerjaan Allah, bukan hasil usaha manusia. Lewat Injil, roh Kudus akan selalu menopang dan memberi kekuatan saat kita dianiaya bahkan saat ditolak.

Bahkan sama seperti yang dialami oleh Petrus, dimana Yesus berkata kepada Petrus sebelum ia jatuh, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Lukas 22:32), artinya Yesus yang sama yang memelihara dan menolong kita hingga saat ini akan terus bersyafaat bagi kita di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai bentuk pemeliharaanNya untuk kita. Bahkan Allah telah berjanji, bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita dan akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, sama seperti yang dituliskan paulus dalam Roma 8:35, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?" Jawabannya adalah tidak ada.

Oleh karena itu, jangan biarkan keinginan daging menghancurkan hubungan kita dengan Allah, mari arahkan pandangan kepada Yesus yang sudah setia sampai mati bagi kita. Kasih karunia Allah di dalam Kristus adalah kekal. Dan tangan Allah yang menggenggam kita sungguh jauh lebih kuat daripada pencobaan apa pun yang ada di dunia ini. Yesus berkata Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Tetaplah setia datang ke hadirat-Nya, mendengarkan Injil-Nya yang menghibur dan menguatkan hati kita yang terluka. Datanglah dengan setia ke altar-Nya lewat ibadah Minggu kita. Sebab di sana Yesus hadir secara nyata lewat tubuh dan darah Kristus diberikan untuk mengampuni dosa dosamu, memperbarui iman mu, dan memberi kekuatan spiritual untuk menghadapi hari esok. Dan terakhir, saya mau menyampaikan kembali pernyataan Martin Luther yang mengatakan "Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung-gunung runtuh ke dalam laut, Kristus, Tuhan kita, tetap bertakhta selama-lamanya. Di dalam Dia, kita aman." Tetaplah Kristus yang utama dalam hidup.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 

pdt.a situmorang

bahan sewrmon IV Setelah Trinitatis - Matius 10:32-43

 

Bahan Sermon

23 Juni 2026


a)    Khotbah Minggu IV Dung Trinitatis

EVANGELIUM  : MATIUS 10 : 32 – 43

        Thema   : Tabahen ma Debata na unringkot di nasa ngolunta

a)      Nang pe ingkon ndang mangomo hasonangan portibi hita

·            Ndang jumpanga hita hasempurnaan di dirinta ianggo so marhite Debata

·            Jesus ro maboan podang na pasiranghon na holom marhite hatiuron

·            Marhite pandidion nabadia nang hataNa di bahen hita gabe IanakhonNa, Ibada do na manjou hita asa sirang sian haholomon i jala mian di hatiuronNa

·            Unang tabahen portibi on gabe inganan hasonangan, keluarga dohot donganta sajabu na gabe unringkot sian Debata.

·            Ndang dipasombu Debata hita mian di haholomon (hamatean) i, ai jumolo do ibana mamorsan silang jala mate dung i asa di suru hita mamorsan silang laho mangihuthon Ibana.

b)     Ai Debata do na mangalehon hita Upa, ima HarajaonNai

·         Hata ni Debata ndang tuntutan Moral – Alai barita na sian Debata na pabotohon aha na ni ula ni Debata tu hita

·         Nang pe ingkon ditolak, jala dihasogohon portibi on hita – dang tuk huaso ni portibi on maniranghon hita sian holong ni roha ni Debata Rom.8:35

·         Ndang di paloas Debata hita di unjuni di atas ni hagogoonta (1 Kor.10:13)

·         Manongtong ma tu Debata hita marsihohot marhite na mambahen Ibana na unringkot di ngolunta – Ai jaloon ta do upa molo tongtong setia hita tu Ibana

“Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung gunung runtuh ke dalam laut, Kristus _ Tuhan kita tetap bertakhta selama lamanya”

2.      ENDE MINGGU IV DUNG TRINITATIS

·         BE NO.15

·         BE NO. 178

·         BE NO. 510

3.      NA RINGKOT SIBAHASON

                                        I.         Program Huria

                                     II.         Keuangan

                                  III.         Pembangunan

                                  IV.         Persembahan tu Sinode GKLI

                                  V.            Persiapan penyambutan Tamu dari Lutheran Malaysia


Rabu, 24 Juni 2026

Tetap Teguh di Bawah Naungan Salib dan Kasih Karunia - Kisah Para Rasul 14 : 21 - 23

Shalommm..,

Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 14:21
Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia.
Kisah Para Rasul 14:22
Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.
Kisah Para Rasul 14:23
Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

Saudara saudari, Dalam perikop kita hari ini, kita dapat melihat Rasul Paulus dan Barnabas menelusuri kembali kota-kota di mana mereka sebelumnya dianiaya, diusir, bahkan hampir mati dirajam. Pertanyaannya, Apakah yang membuat mereka kembali ke tempat yang berbahaya itu? 
Jawabannya ada pada ayat 22: "Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman."

Dalam pengajarannya, para Rasul tidak menjanjikan kehidupan yang penuh damai dengan dunia ketika mereka menerima Kristus. Dengan tegas, Rasul Paulus memberitakan Firman yang mengejutkan bagi mereka yang berpengharapan salah kepada Kristus seperti dalam ayat 22 “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” 
Pengharapan yang tidak benar ini sering juga merasuki kita, yang mungkin kita juga berpengharapan bahwa ketika kita menjadi kristen yang setia maka hidup akan berjalan dengan penuh kedamaian, sesungguhnya tidak. Sebab, Hukum Taurat akan selalu membongkar ekspektasi palsu kita dari keinginan kita. Sebab firman Tuhan mengatakan bahwa Penderitaan, penolakan, penyakit, dan pergumulan batin adalah realitas yang harus dihadapi oleh setiap orang percaya. Mengapa Pengikut Kristus harus menderita, sedangkan kita berada bersama dengan raja damai? Sesungguhnya, kita harus mengetahui bahwa dunia ini memusuhi Injil Kristus, dunia menolak Yesus Kristus dan dunia sendiri menyalibkan Yesus Kristus lewat orang orang yang tidak percaya. 
Apa yang dialami oleh Yesus dari dunia, demikianlah juga kita akan mengalaminya dalam hidup kita. Tetapi, kita harus percaya bahwa penderitaan bukanlah jalan untuk menghancurkan kita atau membinasakan kita, melainkan dengan demikianlah iman kita diuji. Rasa percaya kita kepada diri sendiri, Pengandalan kita akan kemampuan dan kuasa dunia akan dihancurkan lewat penderitaan itu, sehingga kita benar benar percaya bahwa kita dapat berdiri tegak dan menang dalam penderitaan bukanlah oleh karena kita, melainkan karena kuasa Kristus yang bekerja dalam pribadi kita. 

Namun, pertanyaannya bagi kita, siapakah yang bertahan dalam penderitaan atau bagaimanakah orang percaya menang dalam penderitaan hidup ?. Tentu, Jawabannya bukan pada kekuatan tekad kita, melainkan pada kesetiaan dan kasih karunia Allah yang memelihara kita.
Dalam ayat 21-22 disampaikan kepada kita bahwa Allah yang Menguatkan.  Paulus dan Barnabas kembali bukan membawa hukum-hukum baru yang memberatkan, melainkan membawa penguatan. Mereka mengingatkan jemaat bahwa Kristus, yang telah menderita di atas salib bagi penebusan dosa kita, tidak akan pernah meninggalkan jemaat-Nya. Dan lewat perikop ini, Allah juga ingin menyatakan kepada kita bahwa menjadi Kristen sesungguhnya Allah lah yang menentukan itu kepada kita lewat kuasa Roh kudusNya, dan demikianlah juga dengan pelayanan dalam Gereja Tuhan Allahlah yang menetapkan, Allah memberikan alat AnugerahNya kepada GerejanNya yaitu Firman (Word) dan Sacrament seperti dalam ayat 23. Alat alat Anugerah itu diberikan Tuhan untuk memelihara iman jemaat, menguatkan Jemaat agar kembali kepada Kristus dan jalan bagi para rasul untuk menetapkan para penatua-penatua. Mengapa hal ini sangat penting dalam tradisi Lutheran?
Supaya kita tahu, bahwa Allah memelihara iman kita tidak secara abstrak, melainkan lewat alat-alat anugerah (Means of Grace) yaitu pemberitaan Firman yang murni dan pelayanan Sakramen, kita dapat menikmati dan melihat tubuh Kristus yang nyata dan sama dalam Perjamuan Tuhan yang kita terima, makan dan minum.

Seluruh pelayanan dalam hidup kita tetaplah bersandar kepada Kristus dan bukan ajang untuk menyatakan kekuatan atau keberhasilan pribadi kita. Sebab jikalau kita melihat pada ayat yang ke 27 dikatakan bahwa Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia, lalu mereka menceritakan "segala sesuatu yang Allah lakukan melalui mereka, bahwa Allah telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain untuk percaya kepada Allah oleh iman." Artinya, dalam keberhasilan mereka di pelayanan sesungguhnya, bukanlah karena kehebatan Paulus, bukan juga karena strategi Barnabas, melainkan karna Allah yang berkarya. Sebab, Iman yang kita terima dan juga seluruh orang percaya adalah pemberian murni dari Allah melalui karya Roh Kudus dalam Firman.

Oleh karena itu, saudara saudari Janganlah Takut Menghadapi Sengsara oleh Iman. Sebab, segala penderitaan oleh karena nama Kristus bukanlah tanda bahwa Allah mengutuk kita, melainkan konfirmasi bahwa kita adalah warga Kerajaan Allah yang sedang berjalan melalui dunia yang menolak kita. Dan yang paling utama, marilah kita serahkan Hidup hanya pada Tuhan, seperti dalam ayat 23 dikatakan mereka "menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka." Yang artinya Jemaat dan para pelayan Tuhan tidak boleh bergantung pada institusi duniawi, melainkan hanya pada keteguhan Kristus sendiri.


Saudara-saudari, percayalah meskipun jalan menuju Kerajaan Allah memang dipenuhi dengan salib dan penderitaan. Namun, kita tahu bahwa Kristus yang telah bangkit telah mendahului kita melewati penderitaan itu sehingga kita benar dihadapan Allag. Dia yang telah membenarkan kita oleh darah-Nya adalah Dia yang sama yang akan memelihara kita sampai akhir. Kasih karunia-Nya cukup bagi kita, dan pintu iman tetap terbuka lebar bagi setiap orang yang percaya. Tetaplah bersandar kepada Kasih Kristus.


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua, Amin 🙏🏾

Senin, 22 Juni 2026

Tetap hidup di dalam Kasih Karunia - Kisah para rasul 13:43-48

KISAH PARA RASUL 13:43-48
Kisah Para Rasul 13:43
Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.
Kisah Para Rasul 13:44
Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah.
Kisah Para Rasul 13:45
Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus.
Kisah Para Rasul 13:46
Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
Kisah Para Rasul 13:47
Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi."
Kisah Para Rasul 13:48
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.


 *Tetap Hidup di Dalam Kasih Karunia* 

PERIKOP ini berbicara tentang kisah perjalanan misi Paulus dan Barnabas di Antiokhia Pisidia. Dalam kisah ini dapat kita lihat bahwa perjalanan pelayanan mereka tidaklah berjalan dengan mulus, sebab mereka mengalami penolakan dari orang Yahudi (karena iri hati) dan sebagian ada yang bersukacita, termasuk dari bangsa non-Yahudi yang telah menerima Injil keselamatan itu.

kita di ingatkan bahwa kehidupan Kristen bukanlah tentang usaha manusia untuk mempertahankan keselamatan melalui hukum taurat atau perbuatan baik. Sebab kita harus mengakui dan menyadari bahwa Kehidupan Kristen adalah respons iman untuk terus bersandar, melekat, dan "tinggal" di dalam anugerah gratis yang sudah Yesus genapi di kayu salib, dan ini juga adalah dasar dari pandangan teologi Lutheran dimana kita dibenarkan dan diselamatkan dihadapan Allah adalah berdasarkan atas anugerah Allah. Kita tidak memulainya dengan kasih karunia lalu melanjutkannya dengan kekuatan otot rohani kita sendiri.

Dalam hidup kita tiap tiap saat, sesungguhnya kita harus tetap terhubung dengan Tuhan baik lewat persekutuan yang intim ataupun lewat doa doa kepada Tuhan. Dalam Gereja Tuhan, Ia memilih bekerja menciptakan iman bukan dengan lewat tanda-tanda ajaib yang spektakuler atau emosi yang dimanipulasi, melainkan melalui Firman yang kita dengan lewat para Imam yang berdiri di mimbar, dan Roh Kudus hadir bersama dengan Firman itu dan bekerja secara aktif di dalam dan bersama dengan Firman Tuhan yang diberitakan untuk melahirbarukan hati setiap manusia. ketika Injil diberitakan sesungguhnya Iblis juga turut bekerja untuk menggagalkan iman pendengar untuk tidak bertumbuh, bahkan menghadirkan kecemburuan sosial. Jikalau kita perhatikan dalam perikop ini orang-orang Yahudi menjadi iri melihat kerumunan banyak orang yang mau mendengar Injil, lalu menghujat dan menolak Injil. Namun paulus menegaskan bahwa setiap orang yang menolak Firman adalah orang yang menganggap bahwa diri mereka tidak layak untuk beroleh hidup kekal dan layak dilemparkan ke api neraka.

oleh itu, mari jangan pernah menolak Firman Allah, jangan mengeraskan hati, lembutkanlah hati mu dan rendahkan hatimu dihadapan Allah sebab setiap orang membutuhkan Allah, kita sungguh membutuhkan Injil sebagai kekuatan dan terang kita.  

Orang orang Yahudi yang menolak Injil karena mereka merasa sudah "cukup benar" dengan identitas agama dan Taurat mereka. Di dalam teologi Lutheran, ditekankan dan diajarkan kepada kita bahwa manusia yang menolak keselamatan bukan karena Allah pelit, melainkan karena kesombongan manusia yang menolak diselamatkan murni oleh anugerah. Ketika hukum Taurat menyingkapkan dosa kita, pilihannya hanya dua: BERTOBAT menerima anugerah, atau menjadi pahit karena menolak Firman.

Allah selalu merencanakan yang terbaik untuk kita, keselamatan kita juga adalah rencana Allah atas Yesus Kristus, oleh karena itu tetaplah setia kepadaNya, tinggallah di dalam kasih karunia Allah. Marilah kita belajar dari orang Yahudi untuk tidak menutup diri dari Kristus karena merasa diri sudah suci. Hendaklah kita datang kepada Tuhan dengan tangan kosong, mengakui ketidakberdayaan kita di bawah tuntutan Taurat. Dan bersukacitalah dalam kepastian keselamatan. Sebab iman kita tenang karena keselamatan kita bersandar pada keputusan Allah yang kekal, bukan pada pasang surut perasaan kita. Dan teruslah menjadi saksi Injil. Sebab Paulus dan Barnabas tidak pernah berhenti , baik ketika  ditolak, mereka tetap bergerak menjadi terang bagi bangsa-bangsa. 
Bagi para umat Lutheran yang berdiri di atas Injil Allah, kita dipanggil untuk setia mengabarkan Injil Kristus yang murni, sebab di mana Firman ditaburkan, Roh Kudus pasti bekerja mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya, menyertai dan memelihara dalam damai Kristus.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Sabtu, 20 Juni 2026

Matius 10 : 21 - 33

Matius 10 : 21 - 23

Matius 10:21
Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
Matius 10:22
Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
Matius 10:23
Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.
Matius 10:24
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.
Matius 10:25
Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.
Matius 10:26
Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Matius 10:27
Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Matius 10:28
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Matius 10:29
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Matius 10:30
Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.
Matius 10:31
Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Matius 10:32
Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
Matius 10:33
Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Doktrin Lutheran - SIMUL IUSTUS ET PECCATOR

Simul iustus et peccator

Apakah yang dimaksud dengan simul iustus ET PECCATOR ??

Simul iustus et peccator :  adalah sebuah frasa bahasa Latin yang berarti "secara bersamaan adalah orang benar dan orang berdosa"
SIMUL : Secara bersamaan atau pada waktu yang sama.
IUSTUS : Orang yang benar atau dibenarkan - kudus.
ET : Dan.
PECCATOR : Orang berdosa.

Kaum lutheran tidak melihat kondisi ini sebagai 50% benar dan 50% berdosa, melainkan 100% benar sekaligus 100% berdosa tergantung dari sudut pandangnya. 

Dihadapan Allah kita 100% adalah orang benar. Status ini diperoleh bukan karena perbuatan baik Anda, melainkan oleh karena iman kepada Yesus Kristus. Kebenaran Kristus "diimputasikan" (diperhitungkan/dikenakan) kepada kita seperti sebuah jubah yang menutupi segala dosa kita seperti gambar di sampul.

Dan dihadapan kita (manusia) kita tetaplah 100% orang berdosa. Selama hidup di dunia, kodrat manusia yang rusak (manusia lama) tetap ada, sehingga manusia masih terus bergumul, gagal, dan melakukan dosa sehari-hari lalu bertobat.

Luther, merumuskan doktrin ini bukanlah untuk digunakan sebagai alasan atau pembenaran untuk sengaja berbuat dosa (antinomianisme).

Melainkan sebagai Penghiburan bagi kita. Sebab lewat pengajaran ini kita beroleh penghiburan spiritual yang besar. Dimana saat seorang Kristen merasa putus asa karena terus jatuh ke dalam dosa yang sama, doktrin ini mengingatkan bahwa status pembenaran mereka di mata Allah tetap aman di dalam Kristus. Bahkan lewat pengajaran ini kita didorong untuk hidup dalam Pertobatan setiap Hari. Karena ketika kita menyadari masih seorang peccator (orang berdosa), maka seorang Lutheran dipanggil untuk menenggelamkan "manusia lama" tersebut setiap hari melalui pertobatan dan pengakuan dosa terlebih dengan menghidupi baptisan dalam tiap tiap saat.

Lewat doktrin ini pembelaan atau pemberhalaan akan perbuatan baik dihancurkan. Sebab Keselamatan sepenuhnya bersifat objektif di luar diri manusia (extra nos). Karena manusia tetaplah seorang berdosa (peccator) sampai mati, tidak ada satu pun perbuatan baik manusia yang cukup murni untuk menyumbang pada keselamatannya.

Memperkuat pengajaran akan Means of Grace. Sebab Baptisan dan Perjamuan Kudus bukanlah sekadar simbol atau Parhitean atau perantara, melainkan sarana anugerah yang nyata (tubuh dan darah Kristus itu sendiri). Karena setiap orang percaya terus berdosa, maka mereka membutuhkan pengampunan yang dialirkan secara nyata melalui absousion, dan  sakramen-sakramen ini secara rutin seperti perjamuan kudus.

Dan yang terakhir, lewat konsep ini sebagai orang yang dibenarkan kita akan terus menerus di arahkan dan di didik untuk tetap rendah hati. Tidak ada ruang untuk merasa lebih suci atau lebih baik dari orang lain (termasuk orang non-Kristen), karena pada dirinya sendiri, semua orang percaya tetaplah orang berdosa yang membutuhkan belas kasihan.

Khotbah Lutheran (Minggu III Set.Trinitatis) Matius 10:21-33 - Jangan Takut, Kristus menolong dan Menyelamatkan mu.

Khotbah Minggu III setelah Trinitatis 



Saudara-saudari yang dikasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita telah masuk ke Minggu ke 3 setelah Trinitatis yang artinya -Ke_Tritunggalan Allah. Sebelum kita masuk ke khotbah Minggu hari ini mari kita kembali mengingat khotbah kita pada Minggu lalu, Injil Matius mengatakan kepada kita "Beritakanlah Injil". Dan jikalau kita bandingkan dengan evangelium hari ini, apakah yang akan terjadi dalam pemberitaan Injil?, dan bagaimanakah hasil dari pemberitaan Injil itu?. Dalam evangelium hari ini kita akan dibawa ke dalam realitas pemuridan yang keras. Dimana Yesus tidak menjanjikan kehidupan yang makmur, tenang, atau tanpa konflik di dunia ini. Sebaliknya, Ia berkata: “Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”

Jikalau kita benar benar mendengar dan merenungkan perkataan ini tentu hati kita secara alami akan merasa gentar. Dan sesungguhnya disinilah Hukum Taurat akan bekerja menyingkapkan kedagingan kita. Kita sering kali menjadi penakut, bahkan kita sering lebih takut kehilangan reputasi, takut dikucilkan oleh keluarga, dan takut menghadapi penolakan dunia daripada takut kepada Allah. Ketakutan kita membuktikan bahwa sungguh betapa lemahnya iman kita dan betapa lebih seringnya kita mencari keamanan di luar Kristus.
Oleh karena itu, ditengah pergumulan hidup pada saat ini baik dalam memberitakan Firman dan menyatakan yang benar, hari ini Firman Allah Berkata dengan thema khotbah : 
Jangan Takut, Kristus menolong  dan Menyelamatkan mu.

1. Meskipun harus dibenci dan ditolak
Saudara saudari, dunia lebih sering memfitnah gereja dan melemparkan tuduhan palsu terhadap orang beriman, sama seperti mereka menyebut Yesus sebagai "Beelzebul." 
Namun dalam buku konkord kita sebagai ajaran Lutheran yang murni diyakini dan mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran Allah tidak dapat dipenjara atau dibelenggu oleh siapapun. 
Yesus telah menegaskan bahwa dunia akan membenci para murid karena dunia terlebih dahulu membenci Yesus (Yohanes 15:18). Dengan demikian kita juga harus menyadari dan menerima bahwa kebencian dan penolakan adalah sebuah realitas karena kita mengikut Yesus. Ketika kita sungguh setia kepada kebenaran Injil, maka nilai-nilai kita juga akan bertabrakan dengan nilai-nilai dunia. Penolakan bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan bukti bahwa kita telah berada berjalan bersama dengan Kristus, jadi jangan pernah takut jika kamu harus dibenci dan ditolak oleh karena Injil, sebab lewat Injil hari ini Yesus juga menegaskan bahwa segala kuasa yang ada didunia ini terbatas, seperti dalam ayat 28. Penolakan, penghinaan, pengucilan, atau bahkan kematian fisik yang bisa dilakukan oleh dunia kepada kita memiliki batas akhir. Namun, keselamatan dan status kita sebagai anak Allah yang dijamin oleh Kristus bersifat kekal dan tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapa pun.

Dalam dunia kerja atau komunitas secara khusus di perantauan ini, ketika kita harus mengambil keputusan yang jujur dan benar secara moral namun tidak populer, maka tetaplah melangkah dalam kebenaran itu. Kita  tidak boleh mengorbankan integritas iman hanya demi kenyamanan sosial atau naik jabatan, ingatlah bahwa kita tidak lagi diperbudak oleh opini orang lain melainkan dipelihara oleh kebenaran Kristus.

Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (34). Bagi sebagian orang kalimat ini tentu akan terdengar sangat mengejutkan. Bahkan dalam pikiran kita akan timbul pertanyaan - Bukankah Yesus adalah Raja Damai?. 
Martin Luther menjelaskan bahwa "pedang" di sini adalah efek dari pekerjaan Injil yang murni. Ketika kebenaran Allah diberitakan di tengah dunia yang dikuasai oleh dosa, maka dunia akan bereaksi dengan menghadirkan permusuhan. Secara sempurna Injil akan memisahkan antara terang dan gelap, antara iman dan ketidakpercayaan. Bahkan dalam ikatan keluarga yang paling intim sekalipun bisa retak karena nama Yesus (21).

Percayalah bahwa pada hari penghakiman, Allah akan membuka segala sesuatu. Injil yang hari ini ditolak dan disalahpahami oleh dunia akan dinyatakan sebagai satu-satunya kebenaran yang menyelamatkan. Oleh karena itu, Jangan pernah takut dalam menyampaikan Injil dan menyatakan kebenaran meskipun harus ditolak karena itulah kita harus siap dan berani untuk mengalahkan ketakutan kita kepada manusia. Ketika kita tahu bahwa Kristus mengakui orang benar di hadapan Bapa (ayat 32), maka penolakan seluruh dunia sekalipun tidak akan mampu menggoyahkan kedamaian di hati kita.

2. Akuilah Yesus Kristus dan siaplah untuk memikul Salib.
Saudara saudari, menurut pandangan Lutheran, seorang Kristen yang memikul salib telah dibentuk secara mendalam oleh Teologi Salib (Theologia Crucis), dan konsep ini dirumuskan oleh Martin Luther untuk melawan "Teologi Kemuliaan" (Theologia Gloriae) yang sering kali mencari Allah dalam kesuksesan, kekayaan, dan kejayaan duniawi. Meskipun bagi pandangan dunia, kesuksesan dan kemakmuran adalah tujuan hidup, namun bagi orang percaya terlebih dalam pandangan Lutheran diajarkan bahwa dunia adalah Medan Perang Rohani, Bukan Surga Duniawi yang artinya, kita harus memandang dunia sebagai tempat yang telah jatuh ke dalam dosa namun telah di anugerahi Allah lewat Kristus (simul iustus et peccator). Dengan demikian, mengikut Kristus tentu pasti akan mendatangkan penolakan dari dunia. Sukacita Kristen tidak akan dapat dipisahkan dari ketiadaan masalah, melainkan akan selalu mengalami penolakan dan penderitaan sebagai salib oleh karena iman. Dunia bukanlah tempat untuk bersantai, melainkan tempat di mana iman harus diuji dan dimurnikan. Lantar dengan pernyataan ini apakah kita akan menyerah atau takut ??.
Saudara saudari, Salib adalah pengorbanan ego demi kesejahteraan sesama manusia (the neighbor). Dunia akan memandang kesuksesan dari seberapa banyak orang yang melayani kita, tetapi perspektif salib memandang kesuksesan dari seberapa besar kita melayani orang lain sebagai bentuk penyaluran kasih Kristus.

Dalam bacaan Teks khotbah selanjutnya pada Minggu ini ditutup dengan panggilan tegas: "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (ay. 38).
Artinya, marilah kita memandang bahwa salib bukanlah penderitaan umum manusia (seperti sakit penyakit biasa atau kemiskinan akibat kesalahan sendiri). Memikul salib bukan berarti mematikan manusia lama kita (keinginan daging, kesombongan, dan pembenaran diri) melainkan agar Kristus yang hidup di dalam kita. Sebab Salib adalah konsekuensi, cemoohan, dan beban yang kita pikul secara sukarela karena kita mempertahankan iman dan kebenaran Kristus di tengah dunia.

Saudara saudari, janganlah takut dan ragu sebab meskipun Yesus mengatakan bahwa kita harus memiliki salib, tetapi ketahuilah bahwa Kristus tidak pernah meminta kita memikul salib yang belum pernah Ia pikul sendiri. Ia telah berjalan memikul salib, menanggung murka Allah atas dosa-dosa kita, dan bangkit mengalahkan maut. Salib telah menjadi jalan keselamatan bagi kita, demikian setiap penderitaan dan penolakan menjadi jalan pemurnian iman bagi kita.
Sungguh Kita diselamatkan bukan karena kekuatan atau keteguhan hati kita sendiri, melainkan karena kasih karunia Bapa yang telah memilih kita. Jika Bapa memelihara burung pipit yang murah, tentulah Allah jauh lebih menjaga jiwa kita yang telah ditebus oleh darahNya yang mahal itu.  
Maka, jangan takut kepada mereka yang hanya bisa membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa atas jiwa (28). Sekarang baik hidup ataupun mati dalam penderitaan karna memberikan Injil Kristus kita berada di pihak Allah.

Lewat evangelium Minggu ini kiranya ketika kita merasa lemah dan tidak sanggup menghadapi "pedang" dunia, arahkan pandanganmu kepada Kristus. 
Kekuatan kita bukan berasal dari tekad kita, melainkan dari Sakramen dan Firman yang menguatkan kita setiap hari. Pikullah salibmu dengan penuh sukacita, sebab di balik salib ada mahkota kehidupan yang abadi yang akan kita peroleh.

Demikianlah Firman Allah.
Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾 










 

Jumat, 19 Juni 2026

Diselamatkan oleh Karena Anugerah Allah - Acara Ibadah Pemuda/i Lutheran - Minggu II Setelah Trinitatis

 

ACARA IBADAH KEBAKTIAN MUDA MUDI GKLI

20 Juni 2026


1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 18 : 1 – 3 “Allah hadir Bagi Kita”

1. Allah hadir bagi kita dan hendak memb'ri berkat,
melimpahkan kuasa RohNya bagai hujan yang lebat.

        Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
              Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

2. Allah hadir, sungguh hadir di jemaatNya yang kudus;
oleh kasih-kurniaNya biar kita ditebus.

         Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
              Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

3. Allah hadir! O, percaya dan berdoa padaNya
agar kita dikobarkan oleh nyala kasihnya.

          Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
               Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

2.      Doa Pembuka

Bapa kami yang ada di Surga, kini kami para Remaja dan pemuda/I datang kehadapanMu. Tuhan kami rindu supaya kiranya Engkau memelihara Iman kami, agar kami tetap di dalam pengajaran yang benar. Oleh karena itu, saat ini kami akan mendengarkan Firman Mu, ajar dan tuntunlah kami, agar kami beroleh Iman yang kuat sehingga dalam hidup kami kami dapat berbuat yang baik sesuai dengan tuntutan Iman kami. Tuhan pada saat ini, kami juga mengingat saudara/I kami yang tidak dapat bersama sama dengan kami pada saat ini, berkatilah mereka, dan kiranya Engkau selalu memelihara dan menuntun mereka agar kiranya di saat nanti kami dapat bersama sama untuk mendengarkan Firman Mu. Kami juga berdoa untuk orang tua kami, kami mohon kiranya sertailah hidup mereka, berikan kesehatan dan kekuatan dan pelihara lah mereka agar mereka tetap sehat dan tambahkan juga rejeki bagi orang tua kami agar kami beroleh kecukupan dan kedamaian dalam kehidupan kami setiap hari. Saat ini juga kami begitu hina di hadapanMu karna dosa dosa yang kami perbuat, Tuhan ampunilah kami dari dosa kami itu, agar kiranya kami dapat layak datang kepadaMu dan memuji namaMu yang kudus, dalam nama Bapa, putera an roh kudus kami telah berdoa. Amin!.

3.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 64 : 1 – 2 “Bila ku lihat bintang gemerlapan”

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

4.      Renungan

Nats : Roma 5 : 6 - 15

Thema : Diselamatkan oleh Karena Anugerah Allah

Tujuan : Supaya anak atau remaja/Pmuda dan pemudi percaya bahwa keselamatan itu

     hanyalah Anugerah Allah.

1.      Allah memberikan kita keselamatan Ketika kita dalam keadaan berdosa/lemah

2.      Yesus adalah jalan pendamai antara Allah dengan manusia

3.      Yesus telah mati untuk kita

4.      Kita beroleh keselamatan bukan karena kebaikan dan kekuatan kita

Hafalan : Roma 5 : 11 “Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah di dalam Allah oleh karena Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu”.

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 410 : 1 – 3 (Tenanglah kini hatiku)

1.  Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku.
Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tanganNya.

          Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
                Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

2.  Di malam yang gelap benar, di taman indah dan segar,
di taufan dan di laut tenang tetap tanganku dipegang.

          Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
                Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

3.  Tak kusesalkan hidupku, betapa juga nasibku,
sebab Engkau dekat, tanganMu kupegang erat.

          Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
                Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

6.      Doa penutup  + Berkat

 

Anugerah Tuhan diberikan saat kita Berdosa - Roma 5:6-15 (Khotbah Lutheran)

Syalom
Firman Allah untuk kita.
Roma 5:6
Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
Roma 5:7
Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati.
Roma 5:8
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Roma 5:9
Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
Roma 5:10
Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Roma 5:11
Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
Roma 5:12
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Roma 5:13
Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
Roma 5:14
Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
Roma 5:15
Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.


Saudara saudari, kita tahu bahwa dunia sering kali mengajarkan prinsip timbal balik (balas Budi) yang artinya "Saya akan baik kepadamu, jika kamu baik kepadaku." Dan prinsip ini kita hanya akan di dorong untuk memberikan hadiah hanya kepada orang yang kita cintai, bukan kepada musuh kita. Lewat renungan kita hari ini, firman Tuhan meruntuhkan standar atau prinsip manusia tersebut. Rasul Paulus mengajarkan tentang Anugerah yaitu kasih karunia Allah yang tanpa syarat (Sola Gratia).

Di dalam ayat 8 dikatakan "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Sungguh, ini adalah kebenaran yang nyata dan tidak dapat dipikirkan oleh manusia sebab, Kristus tidak menunggu kita untuk terlebih dahulu menjadi suci baru Dia turun ke dunia dan mati di kayu salib serta bangkit. Allah tidak menunggu kita bertobat atau memperbaiki hidup terlebih dahulu. Yesus datang dengan penuh kasih (Yoh 3:16) saat kita berada di titik terendah (dalam keadaan berdosa yang membuat kita najis dihadapan Allah, Ia datang bukan hanya untuk membersihkan kita dari dosa melainkan juga sebagai jalan perdamaian kita dengan Allah (ayat 10).

Sebagai orang Lutheran, kita harus percaya bahwa Alkitab mengajarkan dan menegaskan kepada kita bahwa keselamatan itu bersifat objektif yang hanya datang dari Allah tanpa usaha manusia. Kita dibenarkan dihadapan Allah bukanlah karena hasil dari usaha, perasaan, atau perbuatan baik kita. Kepastian keselamatan kita berada di luar diri kita, yaitu pada Kristus yang disalibkan bagi kita (pro nobis). Jika keselamatan bergantung pada kesucian kita, maka kita akan selalu hidup dalam ketakutan. Namun, karena Kristus mati saat kita masih berdosa, demikianlah keselamatan kita menjadi absolut di dalam Kristus.

Dalam perikop kita hari ini, Paulus juga memberikan kepastian yang menyatakan "Lebih-lebih kita yang sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, pasti akan diselamatkan dari murka Allah (9)". Artinya, Jika Allah mau mati bagi kita saat kita masih menjadi musuh-Nya, masakan Dia akan membuang kita sekarang setelah kita menjadi anak-anak-Nya?.
Sungguh, melalui Kristus, kita telah menerima pendamaian (reconciliation). Dan sekarang kita bukan lagi budak ketakutan, melainkan orang-orang yang bermegah di dalam Allah. Bermegah dalam arti kesombongan diri, melainkan sukacita iman yang bersandar penuh pada kesetiaan Allah.

Kita tahu bahwa Dosa masuk ke dalam dunia lewat satu orang, dan melalui dosa itu datanglah maut. Kegagalan Adam mewariskan kerusakan total kepada seluruh umat manusia. Kita terikat oleh dosa dan tidak mampu menyelamatkan diri kita sendiri seperti yang tercatat dalam Konfesi Augsburg Pasal II tentang Dosa Asal.
Namun, lewat Adam yang ke 2 (Yesus Kristus) Terjadi pembalikan total seperti yang di tegaskan pada ayat 15 "Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam."
Hal ini menegaskan kepada kita bahwa Pelanggaran Adam membawa maut bagi banyak orang, tetapi kasih karunia oleh satu orang yaitu Yesus Kristus, sungguh jauh lebih melimpah mengalir kepada semua orang. Kuasa pengampunan Kristus jauh lebih kuat daripada kuasa kutuk dosa Adam. Sebab di mana dosa berkuasa, di sana kasih karunia akan melimpah dan jauh lebih dahsyat dari kutukan dosa.

Sekarang kita hidup dalam kepastian,  bukan Ketakutan. Meskipun hidup keKristenan sering kali penuh pasang surut, bahkan kita merasa gagal dan tidak layak. Marilah kita memandang pada salib kristus. Ingatlah bahwa Kristus mati saat Anda masih berdosa. Baptisan yang kita terima adalah tanda sah bahwa kita telah dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan-Nya.
Kira tidak perlu menambahkan apa pun pada pekerjaan Kristus. Sebab tugas kita bukanlah untuk membayar kembali keselamatan itu, melainkan menerimanya dengan  iman. Dan ketika kita telah menerima kasih karunia yang begitu melimpah, maka sekarang kita dipanggil untuk membagikan kasih yang sama. Kita harus hidup mengasihi sesama bukan untuk selamat, melainkan karena kita sudah diselamatkan. Kebaikan kita kepada sesama adalah buah alami dari iman yang hidup.

Oleh karena itu, marilah kita pulang dengan penuh damai yang dari Kristus dengan kepala yang tegak oleh pembenaran, bukan karena kekuatan kita. Kita telah berdamai dengan Allag, dan kita berada aman di dalam tangan-Nya.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Kamis, 18 Juni 2026

Takhta Herodes vs Takhta Kristus (Kesombongan dihancurkan, Firman yang Tidak Dapat Dibelenggu). Kis.P Rasul 12:21-25

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 12:21
Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka.
Kisah Para Rasul 12:22
Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!"
Kisah Para Rasul 12:23
Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.
Kisah Para Rasul 12:24
Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.
Kisah Para Rasul 12:25
Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus.

Saudara saudari, kita tahu bahwa segala Kuasa politik, kekayaan, dan kesombongan manusia memiliki batas yang mutlak di hadapan Allah, sedangkan Firman Tuhan tidak dapat dibelenggu oleh penganiayaan duniawi.

Dalam renungan kita saat ini, dapat kita lihat bahwa Allah sendiri yang menghakimi penyembahan berhala terhadap Raja Herodes, dan lewat firman ini Allah menyatakan bahwa salib dan Firman Kristus senantiasa menang, bertumbuh, dan memberikan kehidupan yang kekal.

Saudara saudari, sejak manusia jatuh ke dalam Dosa. Manusia lebih sering mencari mencari kemegahan, kuasa, dan pengakuan duniawi di luar kuasa Kristus. Dalam perikop ini, Herodes adalah contoh ekstrem dari cor curvum in se (hati yang melengkung ke dalam diri sendiri). Dengan kisah ini, hukum Allah menegur kita supaya jangan kita mencuri kemuliaan Allah saat sukses, menyombongkan pencapaian rohani kita, atau senang dipuji seolah-olah keberhasilan kita adalah karena kehebatan kita sendiri terlebih dalam kesuksesan di Gereja Tuhan, baik lewat jemaat yang bertambah tambah ataupun bangunan Gereja yang semakin mewah dan bagus di lihat mata.

Tahukah anda, apakah yang terjadi setelah Herodes berdiri di atas kesombongannya ?.
Seketika itu juga, Herodes ditampar oleh malaikat Tuhan karena ia tidak menghormati Allah dan tidak memberi-Nya kemuliaan. Ia mati mengenaskan karena dimakan oleh cacing-cacing.

Dalam pandangan teologi Lutheran, Kematian Herodes menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan kemuliaan-Nya dirampas oleh siapa pun (Yesaya 42:8). Setiap manusia, baik sekaya atau sekuasa apa pun mereka di dunia, harus tetap mengingat bahwa di hadapan Allah mereka hanyalah debu dan tanah yang dihidupkan oleh Allah dengan anugerahNya. Setiap kutipan kutipan tokoh reformasi Martin Luther yang saya sampaikan dalam khotbah khotbah kita sering mengingatkan kita bahwa Hukum Allah menghancurkan kesombongan manusia oleh karena itu, marilah kita sadar bahwa kita rapuh, berdosa, dan sepenuhnya membutuhkan anugerah-Nya. Penghakiman atas Herodes adalah pengingat bahwa menempatkan diri kita di tempat yang seharusnya milik Allah akan berujung pada kebinasaan.

Saudara saudari, raja Herodes adalah memang raja yang jahat, sebab Herodeslah yang menghambat pemberitaan Injil, menganiaya jemaat (membunuh Yakobus dan memenjarakan Petrus) mati membusuk, tetapi kita harus percaya bahwa meskipun penderitaan itu dapat terjadi, atau dilakukan oleh orang orang jahat terhadap orang percaya, kita harus yakin dan percaya bahwa Injil Kristus justru semakin tidak terbendung. Seperti dalam perikop ini, setelah Allah membinasakan Horedes, maka dengan aman dan penuh semangat Iman - Barnabas, Saulus, dan Markus pun tetap melanjutkan misi pelayanan mereka.

Lewat renungan harian kita ini, kita juga di ingatkan terkhusus untuk seluruh jemaat GKLI (sebagai gereja lutheran) kita harus percaya bahwa Kekuatan gereja tidak terletak pada perlindungan politik, gedung yang megah, atau kepemimpinan manusia (pendeta/guru huria), melainkan hanya pada Kuasa Firman Allah (The Word of God). Walaupun kekuatan politik, para pemimpin gereja dapat membawa kepada kemajuan, sadarilah bahwa semua itu dapat terjadi oleh karena pemeliharaan Allah lewat Kuasa Injil baik secara umum maupun pribadi. Dan lewat kisah Herodes firman ini mengingatkan kita bahwa kuasa sekuler atau penganiayaan tidak akan pernah bisa membunuh Injil. Injil adalah Firman-Nya yang hidup sebab digerakkan oleh Roh Kudus, karena itu seluruh Gereja Tuhan juga harus berdiri di atas pengajaran dan pengakuan yang benar, memberitakan Injil dengan murni dan melayan alat alat Anugerah Allah (means of Grace) ke 2 sakramen itu.

Di tengah dunia yang sering kali mengancam iman Kristen, Injil menjamin bahwa Kristus tetap memegang kendali atas sejarah manusia dan GerejanNya bahkan jemaat jemaat-Nya. 

Oleh karena itu, marilah kita tetap hidup di dalam pujian kepada Allah, baik saat kita kecil maupun besar, tetaplah memuji Allah. 
Bahkan ketika kita diberkati dengan jabatan, kepintaran, atau harta, akuilah dengan rendah hati bahwa itu semua hanyalah anugerah (Sola Gratia). 
Dalam perjalanan Iman kita, marilah jangan gentar terhadap ancaman, krisis ekonomi, atau pergeseran budaya yang memusuhi iman Kristen. Meskipun para penguasa dunia bisa datang dan pergi, tetapi Firman Tuhan tetap tinggal untuk selama-lamanya (1 Petrus 1:25). 

Melalui baptisan dan iman, Roh Kudus telah mulai bekerja meluruskan kembali hati kita yang bengkok oleh karena dosa, sehingga mata kita seharusnya tidak lagi memandang kehebatan diri sendiri, melainkan memandang kepada Kristus. Kita tidak perlu lagi haus akan pujian dunia, karena di dalam Kristus, kita telah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya secara sempurna.

Jadi, sebagai orang orang yang telah ditebus, dibebaskan dan dibenarkan dihadapan Allah, tugas kita adalah mewartakan kesetiaan Allah. Tugas gereja yang paling utama adalah memberitakan Injil keselamatan dengan tetap melayankan firman dan sakramen dengan setia. Seperti Barnabas dan Saulus yang terus melangkah maju, maka marilah kita juga dengan setia menyebarkan Firman Tuhan di lingkungan tempat kita hidup sehari-hari, dan secara khusus di dalam keluarga kita.


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Rabu, 17 Juni 2026

Allah yang bertindak dalam kegelapan - Khotbah Lutheran - Kisah para rasul 12:1-8

Shalommm...

Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 12:1
Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.
Kisah Para Rasul 12:2
Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.
Kisah Para Rasul 12:3
Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
Kisah Para Rasul 12:4
Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Kisah Para Rasul 12:5
Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.
Kisah Para Rasul 12:6
Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.
Kisah Para Rasul 12:7
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
Kisah Para Rasul 12:8
Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!"


Saudara saudari, lewat khotbah khotbah yang saya sampaikan kepada kita, sering saya mengutip pernyataan Martin Luther yang mengatakan bahwa mengikut Kristus bukan berarti jalan kita akan selalu mulus atau penuh kemakmuran duniawi. Sebaliknya, setiap orang percaya dan gereja Tuhan di dunia ini (ecclesia militans) akan sering kali mengalami penderitaan atau tantangan dan harus siap memikul salib.

Dalam teks kita hari ini, kita melihat bahwa kuasa duniawi yang diwakili oleh Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap jemaat jemaat, bahkan terhadap Yakobus, saudara Yohanes telah dibunuh dengan pedang. Dan Petrus sendiri dijebloskan ke dalam penjara terdalam, dirantai di antara dua prajurit, dan dijaga ketat. Secara manusiawi, situasi ini tanpa harapan untuk lepas. Dan kelihatannya Dimata orang orang jahat Kuasa maut dan hukum dunia tampak menang mutlak.

Saudara saudari, tahukah anda bahwa mengikat Petrus dan dinding penjara yang tebal dalam teologi Lutheran diajarkan kepada kita bahwa itu adalah lambang penderitaan saat ini, dimana dosa, maut, dan ketakutan mengurung hidup kita??.
Bahkan dalam kejadian itu, Mengapakah Yakobus mati dipenggal, sementara Petrus dibebaskan? 
Saudara saudari, disinilah akal budi manusia membentur tembok misteri kedaulatan Allah. Hukum Taurat meremukkan kesombongan kita agar kita sadar bahwa kita tidak dapat memegang kendali atas hidup, mati, atau hari esok kita.

Dengan keadaan yang seperti ini, tentu membuat seluruh murid akan ketakutan bahkan orang percaya sekalipun. Pada saat itu, Jemaat mula-mula berkumpul di rumah Maria, ibu Yohanes Markus. Mereka sangat cemas namun tetap bertekun dalam doa. Mereka menyadari bahwa doa bukanlah sebuah "transaksi magic" untuk memaksa Tuhan dalam menolong mereka, melainkan dengan doa doa yang mereka sampaikan menjadi suatu bentuk jeritan iman dari manusia yang kehabisan daya di hadapan kuasa maut.

Ketika manusia berada di titik nol (tidak berdaya), di situlah Injil (Gospel) menyatakan kuasanya secara murni sebagai Sola Gratia (anugerah). 
Dalam keterpurukan mereka, Allah lebih dahulu ber inisiatif untuk menolong. Perhatikanlah bahwa ketika Petrus sedang tertidur pulas pada malam sebelum ia dieksekusi. Petrus tidak sedang berusaha mendobrak pintu penjara. Ia pasrah dan pembebasan dari Allah itu datang dengan murni dari luar dirinya (extra nos). Malaikat Tuhan datang, terang bersinar di dalam sel, dan rantai-rantai itu gugur dengan sendirinya. 
Sama seperti Petrus yang awalnya mengira pembebasan itu hanya mimpi, maka marilah kita juga percaya bahwa sungguh betapa besar kasih karunia Allah untuk kita. Injil yang memerdekakan kita bukan karena usaha kita, sungguh hanya karena kuasa Kristus yang telah menerobos penjara dosa dan maut bagi kita sehingga kita bebas dan merdeka.

Oleh karena itu, marilah kita menghidupi realita iman. Sebab dengan Iman kita akan dituntun untuk bersandar kepada Tuhan. Baik saat kita mengalami akhir hidup seperti Yakobus (penderitaan/mati martir) maupun seperti Petrus (pembebasan fisik), kita akan tetap percaya bahwa keselamatan kita tetap aman di dalam Kristus. Kematian Yakobus adalah bukti tugas pelayanannya di dunia telah selesai, sedangkan Petrus masih diberi waktu. Keduanya tetap menang di dalam Kristus.

Ketika Malaikat membangunkan Petrus dan menyuruhnya untuk memakai ikat pinggang serta kasutnya. Demikianlah juga Kristus memanggil kita untuk bangkit dari ketakutan rohani, dan mengenakan perlengkapan senjata Allah, serta melangkah keluar dari "penjara-penjara" atau segala bentuk pengandalan diri dan kekhawatiran dunia dalam hidup.

Marilah kita terus tekun dalam bersaksi, saling mendoakan dalam persekutuan jemaat, dan mempercayai bahwa dalam hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.


Kiranya kasih setia Allah Bapa Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua amin 🙏🏾

Selasa, 16 Juni 2026

"Anugerah yang Meruntuhkan Batas dan Menggerakkan Kasih" - Kisah para rasul 11:15-30

"Anugerah yang Meruntuhkan Batas dan Menggerakkan Kasih" - Kisah para rasul 11:15-30

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 11:23
Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,
Kisah Para Rasul 11:24
karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
Kisah Para Rasul 11:25
Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
Kisah Para Rasul 11:26
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
Kisah Para Rasul 11:27
Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia.
Kisah Para Rasul 11:28
Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.
Kisah Para Rasul 11:29
Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea.
Kisah Para Rasul 11:30
Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.

Saudara saudari, Salah satu dasar penting gereja adalah Terang Yesus Kristus , dimana gereja itu adalah persekutuan orang orang percaya yang telah dipanggil Allah lewat Injil dan Kuasanya untuk keluar dari kegelapan kedalam
terang Kristus, yang akan diperlengkapi lewat Injil dan sakramen, dan diutus kembali ke tengah dunia dengan misi Allah. Misi itu adalah membawa setiap orang menjadi murid Kristus.

Saudara saudari, pernahkah anda berpikir bagaimana sebuah komunitas rohani dapat bertahan ketika badai penderitaan itu datang? 
Secara manusia, penderitaan itu sering memecah belah. Namun, di dalam rencana dan Kuasa Allah, badai justru menjadi angin yang menerbangkan benih firman-Nya ke tempat-tempat yang tak terduga.

Lewat khotbah ini kita di ingatkan kembali akan sejarah gereja mula-mula. Dimana Injil yang adalah kekuatan Allah dan sarana keselamatan kini melintasi batas bangsa Yahudi dan memeluk bangsa-bangsa non-Yahudi. Melalui perikop ini, kita akan melihat bagaimana Allah bekerja secara berdaulat demi menyelamatkan manusia berdosa hanya oleh karena kasih karunia-Nya.

Setelah penganiayaan Stefanus, jemaat terpisah pisah, beberapa orang pergi ke Antiokhia bahkan ada yang ke kota metropolitan ketiga terbesar di Kekaisaran Romawi yang hidup mereka dipenuhi dengan penyembahan berhala dan moralitas yang rusak. Di tengah kegelapan moral tersebut, jemaat mula-mula mulai memberitakan Injil kepada orang-orang Yunani. Dan lewat firman ini dinyatakan bahwa "Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan"(21).
Keberhasilan mereka dalam memberitakan Injil pertobatan sesungguhnya bukanlah kefasihan berkhotbah atau strategi hebat para murid yang mempertobatkan kota rohani yang mati itu. Melainkan "tangan Tuhan" dimana kuasa Roh Kudus yang bekerja aktif. Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Ketika Injil diberitakan, Allah yang akan membuka hati mereka yang terhilang. Barnabas tidak melihat kepada latar belakang masa lalu orang-orang Yunani itu, dan Ia tidak menuntut mereka menjadi orang Yahudi terlebih dahulu, sebab Ia hanya melihat belas kasih karunia Allah. Barnabas, yang namanya berarti "anak penghiburan", menasihati mereka agar mereka tetap setia dan berpaut kepada Tuhan. Dan di Antiokhia pulalah, Barnabas menjemput Saulus (Paulus) untuk melayani bersama. Dan di kota inilah juga untuk pertama kalinya murid-murid itu disebut Kristen. Nama "Kristen" berarti "milik Kristus" atau "pengikut Kristus". Yang artinya identitas mereka bukan lagi didasarkan pada suku, ras, atau status sosial, melainkan sepenuhnya di dalam Kristus. Kita dibenarkan bukan karena siapa kita, melainkan karena kepada Siapa kita bersandar.

Martin Luther juga pernah menegaskan bahwa "Iman adalah hal yang hidup dan aktif, yang tidak mungkin tidak menghasilkan perbuatan baik."

Oleh karena itu, marilah kita 
menyadari bahwa Gereja adalah Pekerjaan Allah, sebab Gereja berdiri dan berkembang bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena tangan Tuhan yang memegang dan memimpinnya, dan Janganlah kamu tawar hati saat menghadapi tantangan zaman. Jadilah pemberitaan Injil, jangan membatasi anugerahNya sebab Injil Kristus diperuntukkan bagi semua orang, tanpa memandang status, masa lalu, maupun latar belakang sosial mereka. 
Dan hiduplah sebagai seorang "Kristen" yang Sejati. Dimana identitas kita melekat pada Kristus. Marilah mewujudkan iman kita melalui perbuatan kasih yang nyata bagi sesama kita, sama seperti jemaat Antiokhia yang digerakkan oleh kemurahan hati.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻🙏🙏🏾

Senin, 15 Juni 2026

Janji Firman-Nya yang Teguh di Tengah Kesesakan - Mazmur 138:1-8

Shalom....
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 138:1
Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
Mazmur 138:2
Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
Mazmur 138:3
Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
Mazmur 138:4
Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
Mazmur 138:5
mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
Mazmur 138:6
TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
Mazmur 138:7
Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
Mazmur 138:8
TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Saudara saudari, dalam bacaan firman untuk kita saat ini, Daud mengundang kita untuk memfokuskan pikiran kita kepada Allah, khususnya mengenai nama dan firman-Nya. Nama-Nya dan firman-Nya melebihi segala sesuatu, sehingga semua yang ada di bumi akan menyanyi bagi Tuhan. Nama-Nya sungguh besar dan berkuasa, firman-Nya teguh dan kekal. Bila kita memfokuskan pikiran kepada-Nya, maka kita akan belajar percaya akan kasih dan kesetiaan-Nya. 

Pemazmur membuka nyanyian ini dengan kalimat radikal: "Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu." (ay. 1). 
Saudara saudari, kita harus menyadari dan mengetahui bahwa pada zaman Daud, "para allah" merujuk pada berhala bangsa-bangsa pagan atau para penguasa duniawi. Dan di zaman modern pada saat ini "para allah" ini menjelma dan merujuk kepada kekayaan, kesehatan, reputasi, dan kekuatan moral kita sendiri yang membuat kita memfokuskan kita dengan hal hal ini dan menomorduakan Tuhan.

Dengan demikian, lewat Firman Tuhan hari ini kita di ingatkan kembali bagaimanakah dan dimanakah hati berada saat  ini. Ketika badai hidup datang, ke mana kita pertama kali mencari pertolongan? 
Sering kali kita berlari kepada berhala modern kita atau mengandalkan kesalehan diri sendiri. Dalam pengajaran teologi Lutheran kita di ingatkan dan di ajarkan bahwa mengandalkan diri sendiri adalah berhala dunia yang hanya akan membawa kita pada keputusasaan. Kita adalah orang berdosa karena meragukan Allah saat berada di dalam "kesesakan" (ay. 7). Di dalam kesesakan kita, sesungguhnya kita membutuhkan intervensi yang datang dari luar diri kita yaitu pertolongan dari Allah. Meskipun menghadapi kesesakan dan serangan (ay. 7), kita sebagai orang yang telah dibenarkan "Simul iustus et peccator" harus tetap berada dalam perlindungan yang sejati. Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan Ia selalu hadir di dalam hidup kita, Kehadiran Allah yang nyata dapat kita nikmati melalui Alat-alat anugerahNya (Means of Grace) lewat Baptisan, Absolusi, dan Sakramen Altar yang memelihara dan menguatkan iman kita serta membuat kita berada di dalam kasih sayangNya.

Oleh karena itu, Lewat firman hari ini, marilah kita juga meneladani Daud. Sebab Daud selalu memuji kasih dan kesetiaan Tuhan, di mana janji Allah melampaui segalanya (2). Marilah kita juga belajar bahwa orang percaya tidak perlu sempit hati pada waktu mengalami kesempitan hidup, demikian juga dengan Gereja Tuhan. Tetaplah memuji Allah, dan bersyukurlah atas kesetiaan-Nya, serta ingatlah bahwa segala kejadian yang datang dan terjadi dalam hidup kita berada di bawah sorotan kuasa dan pengetahuan Allah. Bersandarlah kepada Tuhan, dan yakinlah bahwa Tuhan akan mengubah kesempitan menjadi kesempatan bagi kita untuk menyelami kasih dan kuasa-Nya secara baru. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa,  Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. amin 😊

Jumat, 12 Juni 2026

Kesalehan Manusia dan Kasih Karunia Allah - Kisah para rasul 10:1-4

Shalom

Firman ALLAH UNTUK KITA.
Kisah Para Rasul 10:1
Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia.
Kisah Para Rasul 10:2
Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.
Kisah Para Rasul 10:3
Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!"
Kisah Para Rasul 10:4
Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau..


Saudara saudari,  Sebagai orang Kristen yang berakar pada teologi Lutheran, Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah) dan Sola Fide (Hanya oleh Iman). Kita tahu betul bahwa keselamatan bukanlah hasil dari usaha, kesalehan, atau moralitas manusia. Sebab keselamatan sepenuhnya adalah karya Allah yang dianugerahkan kepada kita.

Dalam bacaan kita hari ini, dari kisah Para Rasul 10:1-8 membawa kita pada sebuah pengenalan yang menarik. Dimana kita diperkenalkan dengan sosok Kornelius, seorang perwira Romawi yang katakan begitu saleh, takut akan Allah, rajin memberi sedekah, dan senantiasa berdoa.

Lewat perikop ini muncul beberapa pertanyaan teologis bagi kita : 
Apakah kesalehan Kornelius yang menggerakkan hati Allah? Atau Apakah perbuatan baiknya dapat membeli perhatian surga? 
Lewat firman ini ditegaskan kepada kita bahwa iman yang kuat  bukanlah tentang kehebatan manusia mencari Allah, melainkan tentang bagaimana rahmat Allah mencari dan menembus batas kehidupan manusia.

Dalam Ayat 3-6 menunjukkan bahwa Allah yang mengambil langkah pertama. Kornelius tidak sedang merancang rencana untuk mencari Simon Petrus, bahkan tidak mengenal siapa itu Petrus.
Malaikat Allah yang datang memberikan instruksi yang sangat spesifik: "Suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus... Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang rumahnya di tepi laut." (Ayat 5-6). Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah kita selalu  menyiapkan jalan yang terbaik bagi kita sebelum kita merencanakannya. Kemudian menembus tembok pemisah, sebab bagi kalangan orang Yahudi (termasuk Petrus pada saat itu), bergaul dengan perwira Romawi adalah hal yang tabu dan haram. Namun, rahmat Allah tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat budaya, ras, atau status sosial. Allah sungguh mendatangi Kornelius di Kaisarea dan menggerakkan Petrus di Yope untuk meruntuhkan tembok pemisah itu.

Saudara saudari, teladan apakah yang kita dapatkan dari kisah ini ?. 
1. Kornelius tidak berargumen atau mempertanyakan mengapa ia harus menjemput seorang nelayan Yahudi biasa. Sebab Iman yang sejati akan selalu melahirkan ketaatan yang nyata.
2.  Kornelius berdampak pada seisi rumahnya. Ia mengutus prajurit dan pelayan yang juga takut akan Allah. Ini mengingatkan kita bahwa anugerah Allah di dalam hidup kita harus terpancar dan membawa pengaruh rohani bagi orang-orang di sekitar kita.

Oleh karena itu, Berhentilah mengandalkan kesalehan diri sendiri: Jika kita merasa sudah selamat hanya karena kita rajin beribadah, memberi persembahan, atau aktif di gereja, kita sedang jatuh pada pembenaran oleh perbuatan (justification by works). Mari belajar seperti Kornelius: taruhlah semua perbuatan baik kita sebagai ucapan syukur di hadapan Allah, namun tetap sadari bahwa kita seutuhnya bergantung pada rahmat Kristus. Dan lewat kisah ini, diajarkan kepada kita bahwa Allah sedang bekerja di luar kita, bahkan di hati orang-orang yang mungkin kita anggap jauh dari Tuhan atau musuh kita sekalipun. Marilah kita hidup taat bagi Injil. Sebab Ketika Tuhan menggerakkan hati kita untuk menyatakan kasih-Nya kepada sesama, mendoakan orang lain, atau membagikan kabar baik, taatilah. Jangan biarkan prasangka kita menghalangi pekerjaan Roh Kudus. Dan  ketaatan seperti Kornelius, dan hiduplah dengan siap selalu unrukt menjadi saksi bahwa kasih keselamatan Allah tersedia bagi semua bangsa.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Senin, 08 Juni 2026

Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah - Kisah para rasul 8:22-25

Shalom.
"Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah"
Kisah para rasul 8:22-25
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 8:22
Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini;
Kisah Para Rasul 8:23
sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."
Kisah Para Rasul 8:24
Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu."
Kisah Para Rasul 8:25
Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.

Saudara saudari, jikalau kita perhatikan dalam kehidupan saat ini, manusia lebih suka hidup alami sebagai manusia yang berdosa yang melingkar pada dirinya sendiri dan selalu ingin memegang kendali. Dalam kehidupan sehari hari kita hidup dengan prinsip dunia: "Ada harga, ada rupa; ada uang, ada kuasa." Dan lebih Celakanya, mentalitas transaksional ini sering kita bawa ke dalam hubungan kita dengan Allah. 
Lewat teks khotbah hari ini, kita melihat perjumpaan yang tajam antara Rasul Petrus dan Simon si Penyihir. Simon sangat terpesona oleh kuasa Roh Kudus yang turun melalui penumpangan tangan para rasul. Karena latar belakangnya sebagai dukun yang terbiasa membeli atau menjual mantra, ia menawarkan uang untuk membeli karunia Allah. 

Dalam konfesi Augsburg (Pasal II tentang Dosa Warisan) ditegaskan bahwa tanpa Roh Kudus, manusia akan penuh dengan nafsu jahat dan tidak dapat memiliki rasa takut yang benar kepada Allah. Simon mengira status "sudah dibaptis" (ayat 13) otomatis membuatnya rohani. Namun, baptisan bukanlah jimat. Dalam hal ini Simon jatuh kedalam dosa sebab ia menempatkan karunia Allah di bawah kuasa dompetnya. 
Lewat renungan ini, Hukum Taurat Allah hari ini menegur kita: Apakah kita menuruti Tuhan hanya agar bisnis kita lancar? Atau apakah kita mau memberi persembahan dengan ekspektasi bahwa Tuhan wajib membalasnya berkali-kali lipat? Tindakan seperti ini adalah dosa, dan ini adalah karakter Simoni modern!

Namun saudara saudari, mendengar kutukan Hukum Taurat yang begitu keras, Simon menjadi ketakutan. Dengan ketakutannya, Simon tidak berdoa sendiri; ia meminta Petrus untuk mendoakannya. Di satu sisi, ini menunjukkan ia mengakui otoritas para rasul. Di sisi lain, ini menyingkapkan ketakutan egoisnya: ia lebih takut pada hukuman dosa (akibatnya) daripada kekejian dosa itu sendiri di hadapan Allah.

Dalam pandangan teologi lutheran, diajarkan kepada kita bahwa pertobatan (repentance) terdiri dari dua bagian: 
1. kontrisi (teror yang melanda hati nurani karena kesadaran akan dosa melalui Taurat) dan 
2. Iman (yang lahir dari Injil bahwa dosa diampuni demi Kristus).
Dalam perikop ini, Simon berada pada tahap ketakutan (kontrisi jasmani). Ia belum sepenuhnya memandang Salib Kristus, melainkan masih melihat para rasul sebagai perantara magis yang baru. Kita harus sadar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri dengan uang atau membeli belas kasihan Allah dengan air mata maupun penyesalan kita tanpa pertobatan oleh Iman.

Saudara saudari, marilah kita perhatikan renungan ini, apakah yang dilakukan para rasul setelah melihat Simon ketakutan dan datang memohon agar didoakan ?. Para rasul tidak berhenti melayani, mereka tidak mengutuk seluruh kota Samaria. Sebaliknya, mereka terus memberitakan firman Tuhan dan Injil, kota Samaria adalah wilayah orang-orang kafir dan setengah kafir yang dibenci oleh orang Yahudi. Namun, Allah memberikan Roh Kudus-Nya secara cuma-cuma kepada mereka melalui pemberitaan Firman. Karunia Allah tidak bisa dibeli dengan perak Simon, tetapi telah dibeli lunas dengan darah emas Kristus di atas kayu salib.

Lewat Injil yang disampaikan oleh para rasul. Roh Kudus turut bekerja secara eksklusif melalui sarana-sarana anugerah (Means of Grace), yaitu Firman yang disampaikan dan Sakramen yang dilayankan. Jadi, karunia Roh Kudus bukan komoditas pameran yang bisa dipindahkan demi keuntungan pribadi. Melainkan Roh yang diberikan untuk menuntun atau membawa kita kepada ketaatan untuk mendengar Injil, Keselamatan, pengampunan dosa, dan pembenaran kita sebagai anugerah murni. Allah telah memberikan Diri-Nya bukan kepada mereka yang mampu membayar, melainkan kepada mereka yang krisis secara rohani dan mengakuinya di hadapan Altar Tuhan.

Oleh karena itu, sekarang marilah kita menyadari dan mempercayai bahwa Yesus Kristus telah membayar semua hutang dosa kita secara tuntas. Maka, jangan lagi kita mencoba membeli Allah dengan kebaikan, kesalehan, atau persembahan materi kita.
Hendaklah kita datang kepada-Nya dengan tangan yang kosong. Biarkan Hukum-Nya meremukkan kesombongan kita, dan biarkan Injil-Nya yang membalut hati kita dengan pengampunan yang penuh Anugerah kekal.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Minggu, 07 Juni 2026

Allah memutuskan Akar dari penderitaan kita dan memberi kita anugerah Kekuatan - Mazmur 129

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 129:4
TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik.
Mazmur 129:5
Semua orang yang membenci Sion akan mendapat malu dan akan mundur.
Mazmur 129:6
Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut,
Mazmur 129:7
yang tidak digenggam tangan penyabit, atau dirangkum orang yang mengikat berkas,
Mazmur 129:8
sehingga orang-orang yang lewat tidak berkata: "Berkat TUHAN atas kamu! Kami memberkati kamu dalam nama TUHAN!"

Saudara saudari, dalam tiap tiap khotbah kita, sering isi Injil berkata kepada kita bahwa hal mengikut Yesus Kristus tidak menjadi jaminan hidup bahwa hidup kita akan bebas dari penderitaan. dalam khotbah kita ini pemazmur berkata: "Sangatlah mereka telah menyiksa aku sejak masa mudaku hendaklah Israel berkata demikian(1).
Sejak awal mula (Mesir, Babel, hingga era persekusi Gereja mula-mula), umat Allah akrab dengan penindasan. 
Dalam sebuah tulisan Martin Luther mengingatkan kita kembali bahwa salah satu tanda Gereja yang sejati (notae ecclesiae) adalah kepemilikan akan Salib, yang artinya "Gereja akan menghadapi ujian, pertentangan, dan penderitaan dari dunia".

Dalam ayat 3 dikatakan "Para pembajak membajak di atas punggungku, membuat alur bajaknya panjang-panjang." Ini adalah gambaran dari luka yang dalam, cambukan, dan beban berat yang dipaksakan kepada umat Tuhan.

Namun, lihatlah Anugerah Allah itu, ditengah keputusasaan, di ayat 4 firman ini kembali mengumandangkan berita sukacita (Injil) yang berkata bahwa "TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik." Bagaimana Allah memotong tali tersebut? 
Dalam teologi Lutheran, keadilan Allah (Iustitia Dei) dipenuhi secara sempurna di dalam Yesus Kristus. Di bukit Golgota, punggung Yesuslah yang rela dicambuk dan didera hingga robek demi memikul alur-alur dosa kita dan memutuskannya. 
Lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus memotong tali belenggu dosa, maut, dan iblis yang mengikat kita. Dan dengan demikianlah kita dibenarkan murni dihadapan Allah hanya oleh karena anugerah-Nya (Sola Gratia), bukan karena kekuatan kita bertahan di tengah badai. Dengan diputuskannya tali itu oleh Kristus, maka musuh-musuh rohani kita tidak lagi memiliki kuasa untuk mendakwa atau menghancurkan kita.

Dan dalam masa penantian kita akan kedatangan Yesus Kristus, mungkin kita juga akan tetap mengalami penindasan atau penderitaan sekalipun, namun penderitaan dan penindasan itu tidak dapat menggagalkan anugerahnya bagi kita sebab kita telah memiliki akar yang kokoh di dalam janji baptisan dan sakramen-Nya. Dan dengan demikianlah Allah akan memelihara kita, Gereja dan orang-orang percaya akan keluar sebagai pemenang karena Kristus yang telah menang untuk kita.

Oleh karena itu, marilah kita jangan terkejut jika hidup iman kita dipenuhi dengan tantangan, sebab setiap penderitaan rohani justru akan menuntun kita untuk tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan memandang kepada Salib Kristus. Marilah hidup dengan setia di dalam janji janjiNya, sebab TUHAN akan selalu setia pada perjanjian-Nya telah memutus tali belenggu dosamu. Kita tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan, melainkan di bawah berkat keselamatan yang kekal oleh anugerah Allah.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

theologi Lutheran

Dimanakah Bait Allah itu ? - Renungan harian GKLI

Shslom.... Firman Allah untuk kita. Mazmur 11:4 TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya men...

what about theologi luther ?