Simul iustus et peccator
Simul iustus et peccator : adalah sebuah frasa bahasa Latin yang berarti "secara bersamaan adalah orang benar dan orang berdosa"
SIMUL : Secara bersamaan atau pada waktu yang sama.
IUSTUS : Orang yang benar atau dibenarkan - kudus.
ET : Dan.
PECCATOR : Orang berdosa.
Kaum lutheran tidak melihat kondisi ini sebagai 50% benar dan 50% berdosa, melainkan 100% benar sekaligus 100% berdosa tergantung dari sudut pandangnya.
Dihadapan Allah kita 100% adalah orang benar. Status ini diperoleh bukan karena perbuatan baik Anda, melainkan oleh karena iman kepada Yesus Kristus. Kebenaran Kristus "diimputasikan" (diperhitungkan/dikenakan) kepada kita seperti sebuah jubah yang menutupi segala dosa kita seperti gambar di sampul.
Dan dihadapan kita (manusia) kita tetaplah 100% orang berdosa. Selama hidup di dunia, kodrat manusia yang rusak (manusia lama) tetap ada, sehingga manusia masih terus bergumul, gagal, dan melakukan dosa sehari-hari lalu bertobat.
Luther, merumuskan doktrin ini bukanlah untuk digunakan sebagai alasan atau pembenaran untuk sengaja berbuat dosa (antinomianisme).
Melainkan sebagai Penghiburan bagi kita. Sebab lewat pengajaran ini kita beroleh penghiburan spiritual yang besar. Dimana saat seorang Kristen merasa putus asa karena terus jatuh ke dalam dosa yang sama, doktrin ini mengingatkan bahwa status pembenaran mereka di mata Allah tetap aman di dalam Kristus. Bahkan lewat pengajaran ini kita didorong untuk hidup dalam Pertobatan setiap Hari. Karena ketika kita menyadari masih seorang peccator (orang berdosa), maka seorang Lutheran dipanggil untuk menenggelamkan "manusia lama" tersebut setiap hari melalui pertobatan dan pengakuan dosa terlebih dengan menghidupi baptisan dalam tiap tiap saat.
Lewat doktrin ini pembelaan atau pemberhalaan akan perbuatan baik dihancurkan. Sebab Keselamatan sepenuhnya bersifat objektif di luar diri manusia (extra nos). Karena manusia tetaplah seorang berdosa (peccator) sampai mati, tidak ada satu pun perbuatan baik manusia yang cukup murni untuk menyumbang pada keselamatannya.
Memperkuat pengajaran akan Means of Grace. Sebab Baptisan dan Perjamuan Kudus bukanlah sekadar simbol atau Parhitean atau perantara, melainkan sarana anugerah yang nyata (tubuh dan darah Kristus itu sendiri). Karena setiap orang percaya terus berdosa, maka mereka membutuhkan pengampunan yang dialirkan secara nyata melalui absousion, dan sakramen-sakramen ini secara rutin seperti perjamuan kudus.
Dan yang terakhir, lewat konsep ini sebagai orang yang dibenarkan kita akan terus menerus di arahkan dan di didik untuk tetap rendah hati. Tidak ada ruang untuk merasa lebih suci atau lebih baik dari orang lain (termasuk orang non-Kristen), karena pada dirinya sendiri, semua orang percaya tetaplah orang berdosa yang membutuhkan belas kasihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar