Sabtu, 27 Juni 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026 - Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita - Matius 10 : 34 - 42


Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026


Evangelium: Matius 10 : 34 - 42

Thema : Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita
Saudara saudari, salah satu warisan teologi Lutheran yang paling berharga bagi kita adalah keberanian untuk melihat realitas salib. Dalam tulisannya Martin Luther sering mengingatkan kita tentang Theologia Crucis "Teologi Salib". Teologi ini mengajarkan bahwa Allah justru menyatakan diri-Nya di dalam penderitaan, penolakan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi daging kita. Dan dalam teks Matius 10 : 34 - 42 adalah contoh mutlak dari Teologi Salib ini. Di sini kita diperhadapkan dengan tuntutan Hukum Taurat yang sangat keras dan radikal. Yesus menuntut kesetiaan secara total yang melebihi relasi kita dengan orang tua, anak, atau pasangan hidup. Firman ini datang bukan untuk menghibur ego kita, melainkan untuk menghancurkan berhala-berhala terselubung di dalam hati kita. Marilah kita membuka hati kita, membiarkan pedang Firman-Nya memurnikan iman kita, sehingga kita tidak lagi mengandalkan kenyamanan duniawi, melainkan hanya bersandar pada kasih karunia Kristus semata, oleh karena itu lewat Khotbah hari Allah berkata kepada kita dengan Thema : "Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita"


1. Meskipun kita harus Kehilangan Status demi duniawi.
"Bapak, Ibu, jika standar 'mengutamakan Tuhan' diukur dari kesempurnaan kita melakukan ayat-ayat ini, maka kesimpulannya jelas: Tidak ada satu pun dari kita yang layak di hadapan Tuhan. Sebab, kita semua telah gagal mengutamakan Dia. Dalam kehidupan yang nyata, kita telah menjadikan kenyamanan hidup, keluarga, dan status sosial kita sebagai allah yang lebih utama."
Tentu dengan membaca dan merenungkan Injil yang telah kita baca tadi, akan sangat terasa mengejutkan dan menghentak telinga kita. Sebab, Yesus yang kita kenal sebagai Raja Damai, tiba-tiba berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (ay. 34).

Apakah maksudnya Yesus sang Mesias datang membawa pedang dan menjadi pemisahan di dalam keluarga?. Firman ini sesungguhnya mematikan ilusi kita tentang kekristenan yang selalu berpikir nyaman, aman, dan tanpa konflik. Lewat Injil ini Yesus sedang menelanjangi kedamaian palsu yang ditawarkan dunia agar kita melihat kedamaian sejati yang berakar pada kebenaran Allah. Pedang yang dibawa oleh Yesus bukanlah senjata fisik untuk melukai, atau menghabiskan nyawa kita, melainkan pedang Firman yang memisahkan kebenaran dari ketidakbenaran, memisahkan antara yang gelap dengan yang terang. Ketika kita memilih untuk setia kepada Kristus, maka sesungguhnya nilai-nilai hidup kita tentu akan bertabrakan dengan seluruh prinsip dunia atau kenyamanan dunia. Dan yang paling nyatanya, penolakan atau tantangan yang paling umum bahkan menyakitkan justru sering kali datang dari orang-orang terdekat kita sendiri, seisi rumah kita sekeliling seperti penolakan yang terjadi kepada Yesus.

Lewat Baptisan Kudus, Allah mengadopsi kita menjadi anak anakNya sebagai umat tebusanNya, yang artinya Tuhan Yesus yang memanggil kita bukanlah untuk menjadi serupa dengan dunia atau hidup di dalam kedamaian palsu yang penuh kompromi dengan dosa. Dia memanggil kita untuk masuk ke dalam peperangan rohani yang nyata, yang diperlengkapi dan bersenjatakan dengan pedang Firman-Nya. Kita dituntut untuk hidup dalam penyerahan total kepada Yesus, dengan memotong keterikatan berhala kita terhadap keluarga dan diri sendiri. Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (ay. 37). Yesus tidak menyuruh kita membenci keluarga. Namun, agar tidak menjadikan kenyamanan keluarga atau tuntutan dunia lebih utama daripada Iman. Yesus menuntut penyerahan total: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (ay. 38). Di hadapan tuntutan Hukum Taurat, kita semua adalah orang yang gagal, karena kita lebih sering mencari aman, takut ditolak keluarga, dan menolak memikul salib dan itu membuat kita tidak layak.

Apakah Tuhan membiarkan kita hidup mati dalam kegagalan ini ?. Sesungguhnya Tidak. Lewat Injil hari ini kita di bawa dari Hukum Taurat menuju Injil (The Gospel). Dan bagaimanakah Allah menolong kita ?. Pertama tama Kristus Memikul Salib Kita, Sebelum Yesus meminta kita memikul salib, Dia terlebih dahulu memikul salib yang sesungguhnya di Golgota. Salib yang memikul seluruh dosa, ketakutan, dan kegagalan kita untuk setia kepadaNya. Pertolongan terbesar Allah terjadi di salib Golgota. Pedang keadilan Allah yang seharusnya menghukum kita karena dosa dan kegagalan kita, telah ditimpakan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Di atas salib, Kristus mengalami "pemisahan" yang paling mengerikan, Ia ditinggalkan oleh Bapa-Nya, agar kita tidak pernah lagi terpisah dari Allah. Pedang yang mengancam hidup kita telah dipatahkan oleh tubuh-Nya yang terluka. Dan hingga saat ini, pedang itu sesungguhnya tetap bekerja baik melalui hukum hukumnya, sebab dengan pedang itu Kristus memotong ego, kesombongan, dan keterikatan berhala kita pada dunia. Sungguh, Allahlah yang menolong kita dengan cara membiarkan pedang itu membunuh "manusia lama" kita yang berdosa, lalu membangkitkan "manusia baru" yang hidup oleh kasih karunia. Oleh karena itu, jangan lagi kita mengikatkan rasa aman kita pada penerimaan keluarga, harta, atau status duniawi, sebab pedang penolakan dunia tidak lagi memiliki kuasa untuk menghancurkan jiwa kita.


2. Sebab Allah telah memberikan kita hadiah, dengan melayakkan kita ddihadapanNya.
Saudara saudari, kita dibenarkan dan Disatukan dihadapan Allah adalah karena Kasih Karunia" (Justified and United by Grace). Dalam tradisi Lutheran, diajarkan kepada kita bahwa Injil bukanlah tuntutan moral, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Meskipun dihadapan Allah kita dipandang gagal dalam memikul salib kita dengan sempurna. Namun, Kristus telah memikul salib hukuman dosa kita di Golgota, sehingga salib yang kita pikul hari ini bukanlah lagi kutukan, melainkan tanda kemerdekaan, dan pemurnian Iman yang benar kepada Kristus.

Meskipun jikalau jalan terakhirnya kita harus Kehilangan nyawa/ego karena Kristus itu artinya kita telah menemukan hidup yang sejati, tetapi bukan Berti juga kita menuntun diri kepada penderitaan yang tidak bermanfaat. Marilah kita renungkan dan ingat ini, ketika kita menerima Baptisan, baik saat bayi ataupun setelah dewasa, sesungguhnya manusia lama kita telah mati bersama dengan Kristus di kayu salib dan kita diberikan identitas baru oleh kebangkitanNya yang tidak bisa dihancurkan oleh penolakan dunia.

Apakah kamu akan meninggalkan Allah juga hanya masalah kecil atau masalah kedagingan yang membuat kita terasing atau ditolak ?. Saudara saudari, Jika kita jujur melihat diri kita sendiri (dari sudut pandang Hukum Taurat), di dalam kekuatan kita sendiri, kita sangat mungkin akan meninggalkan iman ketika menghadapi penderitaan, sebab daging lemah. Namun, Injil hari ini memberikan pengharapan bahwa kita tetap dapat berada dalam kesetiaan bukan karena hebatnya iman kita, melainkan karena setianya Allah yang memegang kita tiap tiap saat. Dan mari kita juga merenungkan kembali, akan pengakuan Iman kita. Martin Luther dalam Penjelasan Pengakuan Iman Rasuli di katekhismus Kecil menuliskan seperti ini : "Aku percaya bahwa dengan kekuatanku atau imanku sendiri, aku tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepada-Nya; tetapi Roh Kudus telah memanggil aku melalui Injil..." Percayalah bahwa Allah yang Mempertahankan Iman bagi kita, setiap Kesetiaan yang diperbuat oleh orang Kristen di tengah penderitaan adalah buah dari pekerjaan Allah, bukan hasil usaha manusia. Lewat Injil, roh Kudus akan selalu menopang dan memberi kekuatan saat kita dianiaya bahkan saat ditolak.

Bahkan sama seperti yang dialami oleh Petrus, dimana Yesus berkata kepada Petrus sebelum ia jatuh, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Lukas 22:32), artinya Yesus yang sama yang memelihara dan menolong kita hingga saat ini akan terus bersyafaat bagi kita di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai bentuk pemeliharaanNya untuk kita. Bahkan Allah telah berjanji, bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita dan akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, sama seperti yang dituliskan paulus dalam Roma 8:35, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?" Jawabannya adalah tidak ada.

Oleh karena itu, jangan biarkan keinginan daging menghancurkan hubungan kita dengan Allah, mari arahkan pandangan kepada Yesus yang sudah setia sampai mati bagi kita. Kasih karunia Allah di dalam Kristus adalah kekal. Dan tangan Allah yang menggenggam kita sungguh jauh lebih kuat daripada pencobaan apa pun yang ada di dunia ini. Yesus berkata Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Tetaplah setia datang ke hadirat-Nya, mendengarkan Injil-Nya yang menghibur dan menguatkan hati kita yang terluka. Datanglah dengan setia ke altar-Nya lewat ibadah Minggu kita. Sebab di sana Yesus hadir secara nyata lewat tubuh dan darah Kristus diberikan untuk mengampuni dosa dosamu, memperbarui iman mu, dan memberi kekuatan spiritual untuk menghadapi hari esok. Dan terakhir, saya mau menyampaikan kembali pernyataan Martin Luther yang mengatakan "Sebab sekalipun bumi tenggelam dan gunung-gunung runtuh ke dalam laut, Kristus, Tuhan kita, tetap bertakhta selama-lamanya. Di dalam Dia, kita aman." Tetaplah Kristus yang utama dalam hidup.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 

pdt.a situmorang

Tidak ada komentar:

theologi Lutheran

Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026 - Hendaklah Tuhan yang lebih utama di tengah kehidupan kita - Matius 10 : 34 - 42

Khotbah Minggu IV Setelah Trinitatis 2026 Evangelium: Matius 10 : 34 - 42 Thema : Hendaklah Tuhan yang lebih utama di teng...

what about theologi luther ?