Senin, 08 Juni 2026

Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah - Kisah para rasul 8:22-25

Shalom.
"Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah"
Kisah para rasul 8:22-25
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 8:22
Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini;
Kisah Para Rasul 8:23
sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."
Kisah Para Rasul 8:24
Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu."
Kisah Para Rasul 8:25
Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.

Saudara saudari, jikalau kita perhatikan dalam kehidupan saat ini, manusia lebih suka hidup alami sebagai manusia yang berdosa yang melingkar pada dirinya sendiri dan selalu ingin memegang kendali. Dalam kehidupan sehari hari kita hidup dengan prinsip dunia: "Ada harga, ada rupa; ada uang, ada kuasa." Dan lebih Celakanya, mentalitas transaksional ini sering kita bawa ke dalam hubungan kita dengan Allah. 
Lewat teks khotbah hari ini, kita melihat perjumpaan yang tajam antara Rasul Petrus dan Simon si Penyihir. Simon sangat terpesona oleh kuasa Roh Kudus yang turun melalui penumpangan tangan para rasul. Karena latar belakangnya sebagai dukun yang terbiasa membeli atau menjual mantra, ia menawarkan uang untuk membeli karunia Allah. 

Dalam konfesi Augsburg (Pasal II tentang Dosa Warisan) ditegaskan bahwa tanpa Roh Kudus, manusia akan penuh dengan nafsu jahat dan tidak dapat memiliki rasa takut yang benar kepada Allah. Simon mengira status "sudah dibaptis" (ayat 13) otomatis membuatnya rohani. Namun, baptisan bukanlah jimat. Dalam hal ini Simon jatuh kedalam dosa sebab ia menempatkan karunia Allah di bawah kuasa dompetnya. 
Lewat renungan ini, Hukum Taurat Allah hari ini menegur kita: Apakah kita menuruti Tuhan hanya agar bisnis kita lancar? Atau apakah kita mau memberi persembahan dengan ekspektasi bahwa Tuhan wajib membalasnya berkali-kali lipat? Tindakan seperti ini adalah dosa, dan ini adalah karakter Simoni modern!

Namun saudara saudari, mendengar kutukan Hukum Taurat yang begitu keras, Simon menjadi ketakutan. Dengan ketakutannya, Simon tidak berdoa sendiri; ia meminta Petrus untuk mendoakannya. Di satu sisi, ini menunjukkan ia mengakui otoritas para rasul. Di sisi lain, ini menyingkapkan ketakutan egoisnya: ia lebih takut pada hukuman dosa (akibatnya) daripada kekejian dosa itu sendiri di hadapan Allah.

Dalam pandangan teologi lutheran, diajarkan kepada kita bahwa pertobatan (repentance) terdiri dari dua bagian: 
1. kontrisi (teror yang melanda hati nurani karena kesadaran akan dosa melalui Taurat) dan 
2. Iman (yang lahir dari Injil bahwa dosa diampuni demi Kristus).
Dalam perikop ini, Simon berada pada tahap ketakutan (kontrisi jasmani). Ia belum sepenuhnya memandang Salib Kristus, melainkan masih melihat para rasul sebagai perantara magis yang baru. Kita harus sadar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri dengan uang atau membeli belas kasihan Allah dengan air mata maupun penyesalan kita tanpa pertobatan oleh Iman.

Saudara saudari, marilah kita perhatikan renungan ini, apakah yang dilakukan para rasul setelah melihat Simon ketakutan dan datang memohon agar didoakan ?. Para rasul tidak berhenti melayani, mereka tidak mengutuk seluruh kota Samaria. Sebaliknya, mereka terus memberitakan firman Tuhan dan Injil, kota Samaria adalah wilayah orang-orang kafir dan setengah kafir yang dibenci oleh orang Yahudi. Namun, Allah memberikan Roh Kudus-Nya secara cuma-cuma kepada mereka melalui pemberitaan Firman. Karunia Allah tidak bisa dibeli dengan perak Simon, tetapi telah dibeli lunas dengan darah emas Kristus di atas kayu salib.

Lewat Injil yang disampaikan oleh para rasul. Roh Kudus turut bekerja secara eksklusif melalui sarana-sarana anugerah (Means of Grace), yaitu Firman yang disampaikan dan Sakramen yang dilayankan. Jadi, karunia Roh Kudus bukan komoditas pameran yang bisa dipindahkan demi keuntungan pribadi. Melainkan Roh yang diberikan untuk menuntun atau membawa kita kepada ketaatan untuk mendengar Injil, Keselamatan, pengampunan dosa, dan pembenaran kita sebagai anugerah murni. Allah telah memberikan Diri-Nya bukan kepada mereka yang mampu membayar, melainkan kepada mereka yang krisis secara rohani dan mengakuinya di hadapan Altar Tuhan.

Oleh karena itu, sekarang marilah kita menyadari dan mempercayai bahwa Yesus Kristus telah membayar semua hutang dosa kita secara tuntas. Maka, jangan lagi kita mencoba membeli Allah dengan kebaikan, kesalehan, atau persembahan materi kita.
Hendaklah kita datang kepada-Nya dengan tangan yang kosong. Biarkan Hukum-Nya meremukkan kesombongan kita, dan biarkan Injil-Nya yang membalut hati kita dengan pengampunan yang penuh Anugerah kekal.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Tidak ada komentar:

theologi Lutheran

Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah - Kisah para rasul 8:22-25

Shalom. "Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah" Kisah para rasul 8:22-25 Firman Allah untuk kita. Ki...

what about theologi luther ?