Firman Allah untuk kita.
Lukas 20:17
Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: "Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?
Lukas 20:18
Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."
Lukas 20:19
Lalu ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala berusaha menangkap Dia pada saat itu juga, sebab mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu, tetapi mereka takut kepada orang banyak.
Saudara saudari, renungan kita hari ini berfokus pada dinamika antara penolakan manusia dan kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan.
Jikalau kita perhatikan dalam kita kitab Injil, seringkali Yesus menegur para ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala, namun tetap bersikukuh pada kebenaran diri mereka masing-masing. Memang dari sinilah kita harus tahu bahwa seluruh orang berdosa tidak mungkin bisa berubah dan bertobat dari dosa-dosanya kalau bukan karena anugerah Tuhan yang lebih dahulu dicurahkan kepada mereka.
Perumpamaan tentang penggarap penggarap anggur ini di pergunakan oleh Yesus untuk menggambarkan kehidupan nyata dari pemimpin agama bahkan kita secara pribadi sekalipun. Sebab nyata, bahwa dalam hidup ini sering kali lupa bahwa kehidupan dan berkat adalah milik Allah. Kita cenderung ingin menjadi "pemilik" atas hidup kita sendiri.
Lalu pertanyaanya kepada kita, Apakah kita memperlakukan anugerah Allah sebagai hak milik yang bisa kita kendalikan, atau sebagai pemberian yang kita kelola dengan penuh ucapan syukur?. Percayalah bahwa Yesus kristus akan tetap dan selalu untuk menjadi dasar hidup bagi kita, baik saat kita menerima-Nya sebagai landasan yang kokoh atau justru saat terantuk oleh-Nya yang mungkin karena kesombongan kita atau kebebalan.
Dalam perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, kita dapat mengerti bahwa betapa jahat perbuatan ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala. Yesus mengumpamakan mereka sebagai penggarap-penggarap yang menyewa kebun anggur dimana pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri. Ketika suatu kali, si pemilik mengutus hambanya untuk meminta hasil kebun anggurnya, para penggarap kebun malah memukul dan menyuruh dia pulang tanpa hasil. Demikianlah kejadian ini berulang sampai hamba yang ketiga diutus. (Luk.11:49). Terakhir, si pemilik kebun anggur mengutus anaknya sendiri untuk melakukan tugas yang sama, seperti yang telah dilakukan hamba-hamba ayahnya sebelumnya. Namun apakah yang terjadi?
Mereka melemparkan si anak itu keluar dan membunuh dia karena dialah ahli waris dari pemilik kebun anggur itu. Para penggarap ternyata tidak melaksanakan tugas dengan benar, malah mereka melakukan kejahatan yang luar biasa.
Dalam kejahatan mereka itu, justru Tuhan datang menegur dengan keras, bahwa barangsiapa yang masih bermain-main dengan Tuhan, akan hancur dan remuk (18).
Perumpamaan ini adalah termasuk juga bentuk dari kehidupan orang orang Israel, sebab mereka juga telah berulang kali menolak Kerajaan Allah. Berkali-kali Allah mengutus nabi-nabi-Nya kepada mereka, hingga pada akhirnya anak Allah datang ke tengah tengah mereka lewat menjadi manusia dan berbicara kepada mereka. Namun tetap saja, mereka menolak. Bahkan dengan kejam mereka menyalibkan Yesus sebagai puncak pemberontakan mereka.
Demikianlah Yesus mengatakan "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru". Siapakah Batu penjuru itu? Bagi kaum Lutheran berdasarkan Alkitab Batu Penjuru adalah Yesus Kristus (Lukas 20:17, Maz.118:22). Hal ini berarti bahwa Yesus adalah pusat dari seluruh Kitab Suci, iman, dan gereja. Tanpa Yesus sebagai batu penjuru, seluruh ajaran agama akan runtuh menjadi sekadar aturan moralitas belaka.
Yesus menjadi batu penjuru justru melalui penolakan dan penderitaan. Dunia (para tukang bangunan) melihat Salib sebagai kegagalan atau kebodohan, sehingga mereka membuangnya. Namun, melalui kebangkitan-Nya, Allah menjadikan "batu yang dibuang" itu sebagai bagian terpenting dari KESELAMATAN manusia.
Oleh karena itu, marilah kita mengenali siapa pemilik hidup kita. Kita harus sadar bahwa hidup, talenta, harta, bahkan gereja adalah milik Allah, bukan milik kita. Penggarap dalam perumpamaan itu dihukum karena mereka mulai merasa bahwa mereka adalah pemiliknya. Sekarang kita dipanggil untuk hidup sebagai "PENATALAYAN" yang setia, dengan menyadari dan mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah titipan anugerah yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah.
Dalam kehidupan ini, marilah kita renungkan bahwa Kristus terus menerus mengetuk pintu hati kita melalui firman-Nya. Mengajak kita untuk bertobat dan tidak mengeraskan hati, karena menolak Kristus berarti menjatuhkan diri kita sendiri ke dalam penghakiman. Sungguh Kegagalan kita tidak bisa membatalkan rencana keselamatan yang telah Allah lakukan lewat Yesus, namun ketika kita menolak dan tidak percaya akan anugerahNya, maka kita bukanlah milik Allah dan layak di lemparkan kedalam api neraka.
Marilah kita tetap hidup dalam kerendahan hati dan berhentilah untuk mengandalkan kekuatan sendiri. Mulailah membangun hidup di atas satu-satunya fondasi yang tidak akan pernah goyah yaitu Yesus Kristus, sebab dialah Fondasi kita, sumber kekuatan dan keselamatan hidup...
Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar