Senin, 04 Mei 2026

Bagaimanakah kita menggunakan Bait Allah dengan benar - Lukas 19:45-48

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 19:45
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,
Lukas 19:46
kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
Lukas 19:47
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,
Lukas 19:48
tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Saudara saudari, renungan firman Tuhan untuk kita pada hari ini adalah Kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Kehadiran Yesus dalam menyucikan atau menjaga kesucian bait Allah ini sering disalahpahami dalam menafsir sehingga yang tersampaikan hanya sebagai luapan kemarahan. Namun, bagi perspektif Lutheran kehadiran Yesus di bait Suci adalah suatu tindakan Kristologis dan Yuridis. Yesus datang sebagai pemilik sah rumah itu untuk memulihkan fungsi utamanya. Di Yerusalem, di akhir perjalanan-Nya menuju salib, Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dikomersialkan atau dijadikan alat pembenaran diri. Terlebih pada Pada masa itu, Bait Allah bukan hanya menjadi pusat ibadah orang Yahudi, tetapi juga pertemuan-pertemuan sosial lainnya, termasuk berdagang bahan-bahan keperluan sehari-hari juga bahan-bahan keperluan ibadah. 
Persoalannya bukan sekadar masalah jual beli saja, melainkan segala bentuk pemerasan dan tipu daya yang semata-mata untuk menguntungkan para pedagang yang berkolusi dengan para imam. Itulah yang menjadikan Yesus membersihkan Bait Allah dan mengembalikan fungsi semulanya yaitu untuk berdoa (ayat 45-46). 

Dalam bacaan firman ini, Yesus mengutip dari kitab Nabi Yesaya dan Yeremia: "Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 
Sarang penyamun artinya Penyamun bukan merampok di dalam sarangnya; mereka merampok di luar, lalu bersembunyi di sarang agar merasa aman. Inilah kritik Yesus terhadap formalitas agama. Orang-orang berdosa di luar, lalu datang ke Bait Allah untuk "membeli" pengampunan lewat korban sembelihan tanpa pertobatan hati.
Apakah kita menggunakan gereja atau ritual agama hanya sebagai tempat persembunyian untuk menutupi ketidakadilan kita sehari-hari? 
Perlu kita tahu, bahwa "Ibadah yang hanya menjadi rutinitas tanpa transformasi hati adalah "sarang penyamun."
Lalu, bagaimanakah kita saat ini memandang dan menggunakan rumah ibadah? 
Di tengah kemerosotan institusi agama, Yesus tetap setia untuk menawarkan diri-Nya melalui Firman. Ibadah yang sejati adalah saat kita "terpikat" untuk mendengarkan Kristus. Dengan demikian, cukuplah kita juga menggunakan Rumah ibadah sesuai dengan fungsinya, betul betul hanya untuk tempat beribadah kepada Tuhan dan mari kita menjaga kekudusanNya. 
Dan perlu juga kita tahu, dalam pengajaran teologi Lutheran, Bait Allah yang sesungguhnya sekarang adalah Kristus sendiri dan di mana Firman-Nya diberitakan dengan murni dan ke 2 sakramenNya itulah Gereja yang benar dan itulah sesungguhnya fungsi Gereja, untuk pusat mewartakan Injil Allah dan untuk menyaksikan Kristus yang terlihat atau injil yang kelihatan lewat Sakramen. 

Saudara saudari, Setelah Yesus mengusir pedagang, Yesus tidak meninggalkan Bait Allah. Ia justru mengajar setiap hari di sana. Dan meskipun para pemimpin agama berusaha membinasakan-Nya, mereka tidak berdaya karena "seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia."

Dan sesungguhnya, Ibadah ibadah yang kita lakukan baik dalam rumah Ibadah atau dimana pun bahkan di rumah, sesungguhnya bukan tentang apa yang kita berikan kepada Tuhan (transaksi/dagang), melainkan tentang apa yang Tuhan berikan kepada kita melalui Firman-Nya dan doa. Dan mariah kita juga mengingat, bahwa kita (tubuhmu) sekarang adalah bait Allah. Lewat Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit mengalahkan maut, sungguh tubuh kita sekarang adalah juga bait Roh Allah yang Kudus. Yesus ingin masuk ke dalam hidup kita untuk mengusir "pedagang-pedagang" (ego, keserakahan, kepalsuan) agar hati kita menjadi rumah doa yang betul betul berserah kepada pertolongan Tuhan.

Oleh karena itu, lewat perikop ini marilah kita memahami dengan benar bahwa kehadiran Yesus di rumah ibadah adalah untuk menyucikan Bait Allah bukan untuk menghancurkannya, ia datang ke dalam rumah itu untuk memulihkannya bagi kita dan bagiNya. Demikianlah juga dengan hidup kita, Ia datang ke dalam hidup kita untuk membuat kita menjadi baitNya "milik kepunyaanNya" ia datang bukan untuk menghancurkan kita, melainkan menyelamatkan dan menghidupkan kembali Fungsi utama kita untuk taat kepadaNYA, dan Allah juga berharap agar kita datang bukan dengan persembahan yang "dibeli," melainkan dengan hati yang mau mendengarkan dan taat. 
Marilah kita tetap setia pada pengajaran-Nya, karena hanya di dalam Firman-Nya kita menemukan tempat perlindungan yang sejati, dan bukan sarang persembunyian yang palsu.
Sebagai umat GKLI - Lutheran, marilah kita memahami dengan benar bahwa ibadah bukanlah upaya manusia untuk menyogok Tuhan dengan persembahan (seperti para pedagang di Bait Allah), sebab dalam ajaran kita, Ibadah adalah waktu di mana Tuhan melayani kita melalui Firman dan Sakramen. Maka berhentilah berdagang dengan Tuhan melalui amal atau formalitas, dan mulailah menerima anugerah-Nya. 

Sama seperti Yesus menyucikan Bait Allah secara radikal. Maka kembali kita di ingatkan dalam khotbah khotbah di GKLI tentang simbol Lutheran mengenai semboyan Ecclesia Semper Reformanda (Gereja yang harus selalu diperbarui). Demikianlah Kita harus mengizinkan Kristus terus-menerus "mengusir" berhala-berhala modern dalam hati kita (seperti materialisme atau kesombongan) agar hidup kita menjadi rumah doa yang sejati. Jangan bersembunyi di balik status "orang Kristen" untuk menutupi dosa, tetapi datanglah ke hadirat Tuhan dengan kejujuran untuk dikuduskan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Mazmur 113 - Tetaplah memuji muji Tuhan dalam hidup, baik dalam senang maupun dalam duka.

Shalommmm..,. 

Firman Allah untuk kita. 
Mazmur 113:1
Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!
Mazmur 113:2
Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.
Mazmur 113:3
Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.
Mazmur 113:4
TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.


Saudara saudari, Sepenting apakah puji-pujian bagi Tuhan dalam kehidupan orang-orang percaya?. 
Sering kali pujian bagi Tuhan tidak menempati posisi penting bahkan hanya dinaikkan dalam kondisi atau situasi tertentu. Dalam seluruh kitab, kitab Mazmur adalah merupakan kitab yang banyak menuliskan puisi puji-pujian bagi Tuhan, dan yang mengajarkan bahwa pujian bagi Tuhan harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam hidup setiap orang percaya.
Martin Luther, terdorong keinginannya memotivasi orang percaya agar terus memuji Tuhan di setiap waktu dan kesempatan, bahkan ia sungguh banyak menggubah lagu pujian bagi kita untuk saat itu, termasuk dalam Buku ende dan Lsb. 

Apakah dasar kita memuji Tuhan?. 
Sesungguhnya dalam keadaan kita berdosa, kita tidak layak untuk memuji Allah. Namun oleh kasihNya, ia melayakkan kita dengan menolong dan menebus dosa dosa kita di dalam Kristus. Dengan demikian, hal itulah alasan kita untuk memuji Allah, sebab Dia-lah sumbe pertolongan dan keselamatan kita. Setiap pengenalan yang benar kepada Tuhan akan mendorong kita untuk merendah dihadapanNya dan memuji muji namaNya yang kudus. Pujian yang penuh makna akan keluar dari setiap mulut yang mengalami kedekatan dengan Tuhan. Pujian yang terindah hanya bersumber pada hati orang percaya yang meyakini bahwa Dia adalah Tuhan yang mampu melakukan pekerjaan ajaib, bahkan yang tak tertampung oleh pikiran manusia seperti kata pe Mazmur dalam ay. 7-9. Dengan mengingat dan mengenali Tuhan dalam setiap pujian kita, akan menunjukkan bahwa kita memuji Tuhan karena kita percaya bahwa segala sesuatu pasti ada di dalam Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang benar dan adil.

 Jikalau kita melihat dalam perikop ini, sungguh Kekaguman pemazmur kepada Tuhan semakin bertambah dengan merenungkan kenyataan-kenyataan paradoks. Allah yang Mahatinggi sudi merendah untuk hadir ke bumi (ayat 5-6) untuk memperhatikan orang miskin, hina, dan tersingkir, serta mengangkat mereka sederajat dengan orang-orang yang kaya, mulia, dan terpandang (ayat 7-9). Inilah berkat Tuhan yang dialami oleh orang-orang yang sadar akan dirinya, memahami bahwa ia tidak berdaya dalam kerendahannya. Dan sungguh, hal itu tidak akan mungkin dipahami atau dinikmati oleh orang-orang yang merasa "kaya," "mulia," dan "terpandang" oleh usaha sendiri. 
Secara praktis, mazmur 113 ini sering digunakan untuk mengingatkan jemaat jemaat Tuhan agar sadar dan mengakui bahwa tidak ada situasi yang terlalu "rendah" atau "hina" sehingga tidak bisa dijangkau oleh kasih karunia Allah yang Maha Tinggi. Oleh itu, sekarang kita diajak untuk memuji Tuhan, bukanlah atas dasar kehebatan kita, melainkan karena kehebatan Tuhan atas apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita orang-orang yang tidak berdaya.

Oleh karena itu, Janganlah menyerah pada situasi saat ini bahkan dalam situasi apapun, karena Allah yang Maha Tinggi adalah Allah yang Maha Peduli bagi setiap umatNya. Tetaplah memuji muji Tuhan dalam hidup, baik dalam senang maupun dalam duka.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua... amin

Jumat, 01 Mei 2026

PUJILAH ALLAH DAN DATANGLAH KE BAITNYA - Acara Ibadah pemuda pemudi - minggu Jubilate

 


Acara Ibadah pendalaman Alkitab Pemuda pemudi GKLI

02 Mei 2026


1.    BENYANYI DARI KIDUNG JEMAAT NO. 392 : 1 – 3

                     (KU BERBAHAGIA)

1.      Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku!

Aku warisNya, 'ku ditebus, ciptaan baru Rohulkudus.

                    Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
                              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

2.      Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi melimpahiku.

Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.

                    Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
                              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

3.      Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku hatiku teduh.

Sambil menyongsong kembaliNya, 'ku diliputi anugerah.

                    Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

                             Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

2.    Doa pembuka

Bapa kami yang di sorga, pada malam hari ini, kami para anak anak Mu yang telah Engkau tebus melalui darah Mu yang kudus itu. Kini kami datang merendahkan hati di hadapan_Mu. Kiranya berilah kami kekutan, hadirlah Engkau dalam hati kami, ajarlah kami akan Firman Mu dan ingatkan kami melalui kuasa Roh Kudus Mu agar kiranya kami menjadi pemuda pemudi yang hidup di dalam kebenaran Firma_Mu. Pada saat ini juga kami teringat dengan kedua orang tua kami, dan juga saudara sadudari kami, berkatilah mereka Tuhan, berikan umur yang panjang dan kesehatan bagi orang tua kami, dan kami juga berdoa unntuk malam hari ini, berkati kami semua yang telah hadir di tempat ini, jangan biarkan pikiran kami menjauh dari pada_Mu. Begitu juga Tuhan Ibadah kami besok, ingatkan kami dan semua jemaat_Mu agar kami dapat bersama sama hadir di tempat ini, untuk menerima kehadiran Mu melayani kami akan keampunan dosa kami dan menerangi hati kami. Demikian juga dengan dosa dosa kami, Tuhan kami adalah orang orang yang hina di hadapanMu, ampunilah kami akan dosa kami itu, dan kuatkan kami agar kami dapat hidup di dalam pertobatan yang benar. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh kudus. Amin

3.    Benyanyi dari kidung jemaat No. 64 : 1 – 2

      (Bila Ku Lihat Bintang Gemerlap)

1.      Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2.      Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

4.    RENUNGAN

Nats      : Kisah Para Rasul 2 : 42 - 47

Tema    : PUJILAH ALLAH DAN DATANGLAH KE BAITNYA

Tujuan : Supaya anak remaja dan pemuda/i memuji Tuhan dan datang ke baitNya :

1.    Bertekun dalam pengajaran para rasul

2.    Hidup sebagai orang orang percaya

3.    Berbagi wujud dari rasa syukur kepada Allah

4.    Berkumpul dan bersekutu di dalam bait Allah

5.    Tuhan berkenan bagi yang memuji dan berdiam di dalam bait Allah

Hafalan : Kisah para Rasul 2:47

5.    Benyanyi dari kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3

             (Hai Bangkit bagi Yesus)

1.      Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.

2.      Hai angkit bagi Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.

3.      Hai bangkit bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!

6.    Doa penutup + Doa Bapa kami + Berkat

7.    Latihan Koor


Rabu, 29 April 2026

Apakah Alasan Lutheran dan Alkitab mengatakan Burung burung lebih teolog dari pada manusia??

Luther menyampaikan demikian dengan alasan :
1. Luther menganggap burung lebih "teolog" karena mereka mempraktikkan iman, sementara manusia seringkali hanya membicarakannya.
2. Burung-burung tidak menabur, menuai, atau mengumpulkan bekal di lumbung, namun mereka tetap diberi makan oleh Tuhan. Luther melihat ini sebagai bentuk kepercayaan murni yang sering gagal dilakukan manusia karena kita terlalu sibuk mengandalkan kekuatan sendiri.
3. Manusia cenderung menyiksa diri dengan kecemasan tentang masa depan. Bagi Luther, burung "mengkhotbahkan" iman setiap hari dengan cara berkicau gembira meskipun mereka tidak tahu dari mana makanan berikutnya akan datang.
4. Manusia sering merasa "pintar" dengan teologi yang rumit, namun tetap sulit mempercayai janji Tuhan yang sederhana. Burung, tanpa buku teologi, justru mempraktikkan inti dari iman itu sendiri: berserah diri.

Dengan Demikian Lukas mengumpamakan Burung, atau Martin Luther menuliskan bahwa burung lebih teolog dari manusia adalah sebagai contoh iman yang ideal karena mereka hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan akan hari esok.

Selasa, 28 April 2026

Tidak menyesatkan dan hiduplah dalam pengampunan

Shalom.... 

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 12:22
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Lukas 12:23
Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.
Lukas 12:24
Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!
Lukas 12:25
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?
Lukas 12:26
Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?
Lukas 12:31
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.

Saudara saudari, dalam sebuah tulisan ada seorang penafsir yang memberikan komentar tentang perikop kita hari ini dan perikop sebelumnya (Luk. 12:13-21) mengatakan demikian: "KETAMAKAN TIDAK AKAN PERNAH MERASA CUKUP, KEKHAWATIRAN TIDAK PERNAH CUKUP." Kedua-duanya adalah dosa yang membuat kita terjebak materialisme, dan Kedua-duanya mengukur hidup dengan materi. Dalam pandangan Lutheran, orang kaya dalam perumpamaan ini disebut "ORANG BODOH" bukan karena ia memiliki harta, melainkan karena ia mencari keamanan hidup di luar Allah. 

Melalui renungan kita hari ini, ada beberapa hal penting yang harus kita pahami, yaitu :
1. kekhawatiran tidak dapat membawa seseorang menjadi lebih baik dalam hidupnya atau menyelesaikan masalah kebutuhannya (25). Sebaliknya, kekhawatiran membuat orang tertekan, dan bahkan sakit. Kalau sudah begitu, harta akan tambah digerogoti untuk membayar proses penyembuhannya. Kekhawatiran hanya akan menambah rupa-rupa masalah, bukan memberi solusi.
2. Orang yang tamak, akan berupaya mendapatkan hal-hal yang dianggap penting dan merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri, kalau perlu dengan paksa atau menghalalkan segala cara. Cara-cara seperti itulah yang digunakan oleh dunia ini (30). Cara sepertinya mungkin memperkaya untuk sesaat, tetapi jelas menambah musuh. Menambah musuh, berarti menambah kekhawatiran baru!
3. Hidup Berpusat Pada Diri Sendiri, secara otomatis - setiap orang yang berpusat pada diri sendiri adalah orang yang menyangkal kebergantung hidup kepada Allah, Sang Sumber Hidup. Hidup sedemikian tidak dapat melihat bagaimana Allah berkarya memelihara alam ciptaan-Nya (kontra ay 24-30), terlebih untuk mensyukuri serta memlercayakan hidupnya kepada Allah. Hidup seperti ini akan terjebak kepada kegiatan yang hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam sebuah tulisan khotbah Martin Luther tahun 1534, ia sering menggunakan burung sebagai contoh seperti dalam Lukas 12:24 untuk menyindir manusia. Ia berkata bahwa burung-burung adalah "teolog" yang lebih baik dari kita. Burung tidak menabur atau menuai, namun mereka "tahu" bahwa mereka memiliki koki dan pelayan yang sangat kaya, yaitu Bapa di Surga. 
Dengan pernyataan ini, sesungguhnya Martin Luther ingin menunjukkan bahwa kekhawatiran adalah bentuk ketidakpercayaan manusia kepada Allah. Dan selanjutnya, Martin Luther juga mengajarkan bahwa seorang Kristen harus menjadi "tuan" atas hartanya, bukan hamba. 

Oleh karena itu, jauhilah hal hal itu dan Taruhlah hatimu tepat menyandar kepada Yesus Kristus (34; Mat. 6:20-21). Tunaikan panggilan mulia menjadi pelaku-pelaku kehendak Allah. Seperti kehendak Allah yang memerintahkan kita agar bersedia menjadi saluran berkat-Nya, yaitu berbagi harta kepunyaan kita kepada sesama yang membutuhkan (33). Dan janganlah membiarkan hatimu terikat pada apa yang bisa rusak atau dicuri. Melainkan tetaplah Fokuslah pada Kerajaan Allah, maka segala kebutuhan hidupmu akan diatur oleh Bapa yang memelihara kita dengan penuh kasih bahkan yang jauh melampaui logika manusia sekalipun. Dan percayalah bahwa hati yang sudah tenang di dalam Kristus akan dengan sendirinya terus menerus terbuka untuk menolong orang yang kekurangan. Sebab harta akan menjadi alat untuk melayani sesama, bukan malah "menjadi tuhan" yang harus disembah.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semuanya amin....

Senin, 27 April 2026

Titik Awal - BAPTISAN KUDUS

TITIK AWAL - BAPTISAN KUDUS 

Dalam Sakramen Baptisan Kudus, kita dijadikan anak-anak Allah. Ini mungkin panggilan terbesar dan terindah yang diberikan kepada kita. Mari kita sebut baptisan sebagai titik awal bagi panggilan hidup. Beranjak dari titik awal tersebut, ada panggilan hidup lain yang terintegrasi dalam kerajaan Allah. Panggilan atau tugas seorang Pendeta adalah salah satunya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan orang-orang dari suku Lewi untuk melayani di tabernakel-Nya dan kemudian di bait suci sebagai imam, dan orang-orang tertentu yang akan melakukan pemberitaan dan pengajaran publik tentang Tuhan dan karya-karya keselamatan-Nya yang menakjubkan, seperti peristiwa Keluaran tentang Anak Domba Paskah dan Laut Merah.

Dalam Perjanjian Baru, hal itu bukan lagi tentang garis keturunan suku. Yesus memanggil 12 orang untuk menjadi murid-Nya, dan kita tidak banyak diberi tahu tentang hubungan suku mereka. Kedua belas murid asli yang bersama Yesus sejak awal pelayanan-Nya, dari baptisan-Nya hingga kenaikan-Nya ke surga, kemudian diutus untuk memberitakan kesaksian mereka tentang apa yang telah mereka lihat. Mereka harus memberitakan keselamatan yang dimenangkan bagi kita oleh kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Dan mereka melakukannya secara terbuka.

Paulus adalah orang yang datang belakangan tetapi dipilih oleh Kristus yang telah bangkit, untuk menjadi suara bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Yesus memanggil 12 rasul ini untuk memberitakan dan menyatakan Injil keselamatan . Mereka juga menulis surat-surat dan Injil yang ada dalam Alkitab kita, seperti yang dikatakan Yohanes dengan tepat, “supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, dan mempunyai hidup dalam nama-Nya .” 
Para gembala jemaat masa kini ditempatkan dalam jabatan yang sangat terkait dengan para rasul. Gembala jemaat dipanggil untuk memberitakan Firman, sebagaimana telah diturunkan oleh para rasul dalam Kitab Suci. Karena melalui pemberitaan karya keselamatan Yesus ini, iman diciptakan dalam diri pendengar. Baptisan dilakukan dengan benar dan Tubuh - Darah Tuhan diberikan kepada tubuh orang percaya.

#vdma_luther

Minggu, 26 April 2026

Berapakah jumlah yang akan diselamatkan dan SIAPAKAH MEREKA ??

Shalom...

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 13:22
Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 
Lukas 13:23
Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"
Lukas 13:24
Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.
Lukas 13:30
Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."

Saudara saudari, Siapakah yang akan masuk ke dalam perhentian yang kekal - SURGA?. 
Sesungguhnya mereka yang diselamatkan bukanlah orang yang "paling keras usahanya," melainkan hanyalah mereka yang masuk lewat pintu (Yesus Kristus) dan yang hidupnya benar benar mengandalkan Iman akan janji Kristus. Dalam pandangan Lutheran, Pintu masuk itu "sesak" Yang artinya setiap manusia harus di kuasai oleh Iman untuk dapat menanggalkan "dosa dan memalingkan jati dirinya di hadapan Allah bagaikan hamba hamba yang tak berguna" Dan berkata: "Tuhan, aku tidak layak, namun karena anugerah-Mu aku selamat" (Sola Gratia).

Jikalau kita perhatikan latar belakang dalam perikop ini, sesungguhnya orang orang Yahudi menganggap sepele tentang pertobatan. Mungkin karena menganggap waktunya masih panjang (25). Atau juga karena menganggap dirinya sudah terpilih otomatis sebagai umat pilihan, sehingga tidak merasa perlu bertobat (26-27). Karena Yesus mengetahui isi hati semua orang, maka ucapan Tuhan Yesus ini dengan sendirinya ditujukan kepada umat Yahudi (30). Sebaliknya, bagi orang-orang nonYahudi yang mau menerima dengan tangan terbuka undangan untuk bertobat. Merekalah yang pada akhirnya akan mendahului bangsa Yahudi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan masalah usaha manusia, melainkan kesadaran manusia bahwa kita membutuhkan keselamatan yang dari Allah, kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, dan justru itulah Yesus harus mati dan bangkit menjadi jalan keselamatan bagi kita, sungguh Ia adalah jalan keselamatan kita untuk masuk lewat pintu yang sempit itu. Lewat kebangkitanNya, kuasaNya akan membawa setiap orang yang percaya kepadaNya dan tiap tiap saat Allah akan memelihara hidup orang percaya untuk benar benar merendahkan diri dihadapan Allah.

Lalu berapa orang kah yang akan diselamatkan??. 
Ketika seseorang bertanya, "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?", Yesus tidak menjawab "ya" atau "tidak". 
Dalam pandangan Lutheran, ini berarti bahwa jumlah yang diselamatkan bukanlah topik untuk diperdebatkan secara spekulatif atau administratif. Jumlah yang "Sedikit" Yesus berkata bahwa Pintu itu disebut "sesak" atau "sempit" Sesungguhnya bukan berarti Allah membatasi kuota jumlah orang yang akan diselamatkan, melainkan karena pintu itu eksklusif—hanya bisa dilewati melalui IMAN yang benar kepada Yesus Kristus saja. Manusia yang hidup dalam kesombongan oleh perbuatannya sendiri tidak akan bisa masuk, sehingga dalam arti kualitatif, mereka yang benar-benar mengandalkan ANUGERAH mungkin terasa "sedikit" dibandingkan mereka yang mengandalkan diri sendiri. 

Oleh karena itu, marilah kita terus-menerus hidup dalam pertobatan harian (hidup dalam baptisan dan tiap tiap hari merenungkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus). Dan Bersyukurlah jika Tuhan telah berkenan menyelamatkan kita. Mari kita nyatakan rasa syukur itu lewat aksi nyata di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat. Serta berdoalah juga agar setiap orang diselamatkan oleh Tuhan. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua... amin 🙏🙏

theologi Lutheran

Acara Ibadah persekutuan doa Muda mudi GKLI - Lutheran minggu exaudi

  Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI 16/Mei/2026   1.       Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang) 1. Kami puj...

what about theologi luther ?