Minggu, 31 Mei 2026

Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati, Sejiwa, dan Rela Berbagi - Kisah Para Rasul 4:32-37

Shalom... 
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 4:32
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
Kisah Para Rasul 4:33
Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
Kisah Para Rasul 4:34
Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
Kisah Para Rasul 4:35
dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
Kisah Para Rasul 4:36
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
Kisah Para Rasul 4:37
Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Saudara saudari, lewat khotbah kita hari ini kita di ingatkan kembali akan kehidupan Jemaat mula mula setelah peristiwa Pentakosta serta cara hidup mereka di tengah ancaman penganiayaan. Bagaimana mereka dapat hidup sehati, sejiwa, dan saling berbagi secara radikal?.

Pertama-tama, mereka dikatakan sehati dan sejiwa bukan dalam bentuk abstrak, tetapi secara konkret atau nyata. Oleh karena kenyataan itu sehingga setiap orang berkata bahwa kepunyaan sendiri adalah milik bersama (ayat 32). Dasarnya adalah oleh karena kuasa kebangkitan Kristus, sebab mereka telah menerima kasih karunia yang berlimpah-limpah. Bukan hanya dalam tataran kata-kata, melainkan dalam tindakan nyata setiap anggota jemaat menyatakan kasih dengan harta mereka. Mereka yang diberkati membagikan hartanya kepada yang berkekurangan sehingga semua diberkati. Serta setiap jemaat Tuhan memberi hidup untuk melayani dan memberi bukan dengan sembarangan atau semau sendiri, tetapi mereka benar benar menghormati para rasul dan memercayakan segala sesuatunya kepada para rasul yang menjadi pemimpin gereja saat itu. Ini menunjukkan kedewasaan dalam memberi, bukan sekadar unjuk diri sebagai seorang yang murah hati.

Sebagai umat Lutheran, kita harus bertanya: 
Apa yang menggerakkan perubahan radikal ini? 
Dan apakah ini menjadi sebuah hukum baru yang mewajibkan semua orang Kristen miskin secara materi oleh karena berbagi?
Sesungguhnya tidak, sebab lewat renungan ini dapat kita lihat pada ayat 33 dikatakan "Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah." 
Jadi, dasar atau fondasi dari seluruh aksi mereka untuk hidup saling berbagi bukanlah undur paksaan moral atau ideologi politik, melainkan oleh kuasa Injil Kebangkitan Kristus. Ketika jemaat menyadari bahwa Kristus telah menang atas maut dan dosa, maka secara otomatis orientasi hidup mereka bergeser secara total dari diri sendiri menuju kepada Kristus dan sesama.

Dan sangat perlu juga kita menyadari dan mengakui bahwa, iman tidak lahir dari paksaan atau regulasi organisasi gereja. Sebab Iman adalah ciptaan Roh Kudus melalui pemberitaan Firman. Ketika jemaat mendengar bahwa Kristus telah bangkit, kuasa maut telah dikalahkan dan dosa mereka telah diampuni secara cuma-cuma, kuasa pemberitaan itulah yang membuat orientasi hidup mereka berubah total.

Bahkan, jikalau kita pernah membaca atau mendengar, tokoh reformasi kita Martin Luther pernah menuliskan demikian "seorang Kristen tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Kristus dan sesamanya, dengan demikian Iman yang sejati akan selalu membuahkan kasih yang aktif".
Jadi sesungguhnya Iman yang benar akan menuntun dan mendorong kita untuk bekerja dalam kasih Kristus, bukan karena kehendak kita semata mata, melainkan karna pekerjaan Roh Kudus yang telah mengubah kan dan menggerakkan kita untuk hidup saling mengasihi.

Yang artinya, meskipun dunia egois dan penuh ketakutan akan kekurangan, yang pasti setiap jemaat Kristen akan selalu tampil sebagai komunitas yang radikal karena mereka percaya pada pemeliharaan Allah. Mereka akan selalu berbagi kepada sesama, bahkan hidup saling berbagi kepada setiap yang membutuhan.

Saudara saudari, diatas kebaikan atau kasih kita terhadap sesama, hendaklah kita juga jangan menjadi terjebak atau dalam artian kita memberi atau mengasihi sesama supaya kita selamat, sesungguhnya tidak. Kita memberi dan mengasihi karna Allah adalah sumber anugerah dan kasih. Sungguh, Kita tidak dapat diselamatkan karena kita berbagi harta seperti jemaat mula-mula. Sebab kita diselamatkan hanya oleh Kristus yang telah memberikan seluruh diri-Nya, darah-Nya, dan nyawa-Nya bagi kita di kayu salib, dan untuk itulah kita harus hidup dalam kasih dan saling berbagi kepada sesama karna Kristus telah menolong dan menyelamatkan kita.

Lewat firman ini, Marikah kita pulang membawa berita sukacita ini. Biarlah kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah memenuhi hati kita, sehingga hidup kita terpancar dalam kesatuan hati, kepedulian yang tulus kepada sesama, dan kasih yang menghidupkan bagi sesama terlebih kepada Allah sang sumber hidup

Demikianlah firman Tuhan, kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua Amin.

Sabtu, 30 Mei 2026

Khotbah Minggi Trinitatis - Matius 28:16-20 - Diutus dalam Kuasa Firman, Baptisan, dan Penyertaan Kristus

Evangelium Minggu TRINITATIS GKLI
Matius 28:16-20
Saudara saudari, hari ini kita telah masuk ke Minggu Trinitatis, apakah Minggu Trinitatis itu ?.
Minggu Trinitatis (Minggu Raya Tritunggal Mahakudus) adalah hari raya dalam kalender liturgi Kristen untuk merayakan doktrin Tritunggal Allah, yaitu satu Allah dalam tiga Pribadi: Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Minggu trinitatis ini sangat panjang, dan sesuai kalender gerejawi GKLI atau dalam tradisi liturgi Lutheran, Minggu Trinitatis akan dimulai setelah hari Raya Pentakosta dan akan berakhir sebelum minggu akhir tahun Gerejawi. 

Dalam evangelium kita Minggu ini, Matius 28:16-20 adalah khotbah yang berfokus pada pengajaran akan Anugerah (Sola Gratia), sebab anugerah tersebut diberikan lewat Sakramen Baptisan yang objektif, serta Kristosentrisme di mana Kristus yang bangkit memegang kendali penuh di tengah keraguan manusia. Dalam kehidupan nyata kita, sering kita gagal dalam memahami khotbah ini, bahkan bagi umat kristen dan bagi para pengkhotbah kegagalan dan keraguan dalam tugas yang diberikan oleh Yesus ini sering membuat kita gagal dan diselimuti oleh keragunraguan. Oleh sebab itu khotbah kita pada Minggu ini berseru kepada kita dengan Thema yang mengatakan :
Diutus dalam Kuasa Firman, Baptisan, dan Penyertaan Kristus

1. Datang dengan keadaan ragu tetapi kita diterima dengan Anugerah
Dalam khotbah kita hari ini di ayat 17, Ketika para murid melihat Yesus yang bangkit di Galilea, dikatakan bahwa : "Mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu." 
Apakah yang membuat mereka ragu ??.
Beberapa hal yang membuat para murid datang kepada Yesus namun tetap ragu-ragu dapat dipahami dari dua sudut pandang, yaitu kondisi kemanusiaan mereka (teologis) dan situasi pasca-kebangkitan (kontekstual), dalam keadaan kita berdosa maka sesungguhnya secara manusia kita berada dalam Keterbatasan dan Kelemahan Kodrat Manusia (Sola Gratia). Secara logika, sebelum Yesus terangkat ke sorga sesungguhnya Yesus telah bersama para murid selama 40, Yesus benar benar menampakkan diri dan mengajar ke atas mereka, apakah Iman itu tidak bekerja memelihara atau menguatkan mereka sehingga seharusnya tidak ragu lagi ?.
Dalam pengajaran Lutheran di buku konkord kita, kita di ajarkan bahwa Iman Bukanlah Usaha Manusia, yang artinya meskipun para murid sudah memiliki Iman, namun ketika keraguan itu menghampiri mereka itu terjadi karena iman yang teguh bukanlah sesuatu yang bisa diproduksi oleh kemauan atau kekuatan rasio manusia itu sendiri. Dan disamping itu juga, keraguan dapat terjadi oleh karena dosa kita, sebab dosa membuat kita tidak sempurna. Yang artinya sekalipun mereka sudah menjadi murid Yesus dan telah melihat banyak mukjizat, namun kedagingan manusia mereka tetap membawa kelemahan, ketakutan, dan ketidakpastian. Dan di lain sisi, secara mental mungkin para murid ragu karna mental yang down sebab mereka juga ikut menyaksikan Yesus ditangkap, disiksa, dan mati secara tragis di salib dan kematian tragis itu sempat menghancurkan harapan mereka. Artinya hal hal inilah yang membuat para murid berada dalam keraguan raguan ataupun takut, terlebih ketika datang kepada Yesus.

Saudara saudari, ditengah keadaan para murid yang ragu, justru disitulah Yesus memberikan anugerah kepada para murid. Yesus tidak mengusir mereka yang ragu-ragu. Ia tidak menuntut iman yang kuat bahkan kekuatan manusia mereka sendiri. Sebaliknya, Yesus justru mendekat dan menguatkan mereka dengan mengatakan "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" (ayat 18). Hal yang sama ini juga sesungguhnya datang dan dilakukan oleh Yesus bagi kita, meskipun ia tidak datang dengan wujud kemanusiaanNya, tetapi ketika kita lemah dan ragu, sesungguhnya Yesus Kristus yang mengambil inisiatif untuk mendekati kita melalui Firman dan Sakramen-Nya (means of Grace).

Lewat evangelium ini, saya juga ingin bertanya kepada kita semua, berapa banyakkah dari antara kita yang hari ini duduk di bangku gereja, menyanyikan lagu pujian, ikut berdoa (menyembah), tetapi di dalam hati kita dipenuhi ole kecemasan tentang hari esok, masalah keluarga, atau masa depan yang buram (ragu-ragu)?
Saudara-saudari, percayalah bahwa anda tidak sendirian, sebab Para rasul pun mengalami hal yang persis sama dengan kita. Dan Injil hari ini menguatkan kita bahwa ketika para murid ragu, Yesus tidak mundur. (18) Justru Yesus mendekat dan mengatakan bahwa segala kuasa bumi dan sorga ada pada Dia, Yesus telah membuktikanNys lewat Kebangkitan-Nya dari kematian yang menjadi bukti kuat bagi kita bahwa Yesus berkuasa atas segala ketakutan dan mari jangan mau dikuasai oleh keraguan kita.

2. Hiduplah di dalam Otoritas Kristus, Bukan Otoritas Kita
Dalam bacaan kita evangelium Minggu ini dapat kita lihat bahwa Yesus memulai menguatkan mereka (murid) dengan berkata "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (ayat 18) Yang artinya sebelum ada perintah untuk "pergi" atau pengurusan Yesus, Yesus lebih dahulu memberitahukan kepada murid tentang KuasaNya akan siapakah Yesus. Ini adalah juga kabar baik (Gospel) bagi kita sebelum diperintah (Law). Agar kita juga tahu bahwa kita diutus ke dalam dunia bukan berdasarkan kekuatan, karisma, atau kepintaran kita sendiri. Gereja kita GKLI bergerak atau ber Missi oleh karena didasari otoritas Kristus yang telah mengalahkan dosa, maut, dan iblis melalui salib dan kebangkitan-Nya. Jadi baik di dalam dan di luar Gereja, sekarang tugas kita hanyalah menjadi saluran dari kuasa-Nya yang menyelamatkan.
Misi utama yang Yesus berikan adalah "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Bagaimana cara gereja memuridkan dunia menurut perintah Yesus? Tentu hanya dengan melalui dua Means of Grace (Sarana Anugerah) yang sangat dijunjung tinggi dalam teologi Lutheran.
Lewat Injil kita hari ini, Yesus berkata "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." (Ayat 19). Baptisan kudus bagi orang Lutheran bukanlah sekadar simbol komitmen luar atau perayaan manusia. Baptisan adalah tindakan Allah sendiri!. Di dalam air dan Firman Baptisan, Allah Tritunggal bekerja mencurahkan Roh Kudus, mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya, dan menyatukan kita dengan kematian serta kebangkitan Kristus. Melalui baptisan, status kita diubah dari musuh Allah menjadi ahli waris kerajaan-Nya. 
Dan setelah menyatakan baptisan, Yesus juga memerintahkan agar para murid mengajar "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Ayat 20a). Gereja Lutheran adalah gereja Firman (Sola Scriptura). Pemuridan tidak terjadi melalui manipulasi emosi, melainkan hanya melalui pengajaran doktrin yang murni. Kita mengajarkan Hukum Allah untuk menyatakan dosa manusia, dan kita memberitakan Injil (Kabar Baik) untuk menyatakan pengampunan di dalam salib Kristus. 
Dan lewat perintah Yesus ini kita kembali di yakinkan dan dikokohkan bahwa otoritas Allah bekerja atas kita yang artinya Allah tidak meninggalkan GerejaNya, Allah tidak meninggalkan orang orang percaya. Sungguh Ia akan menyertai dan memelihara gerejaNya hingga Yesus datang kembali. Ini adalah kepastian dari Yesus, lalu apakah yang kita ragukan dalam pemberitaan FirmanNya, bukan kah tugas kita hanya menyampaikan dan otoritas Yesus sendiri yang bekerja lewat Firman itu ?.
Saudara saudari, seperti yang Yesus katakan, padanya segala kuasa ada baik kuasa di bumi dan di surga. Dalam tugas kita ini di dunia, Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia akan selalu menyertai kita secara nyata. Bagi kita gereja lutheran, kita percaya bahwa janji penyertaan ini akan kita alami secara konkret dalam Firman yang diberitakan dan dalam Sakramen Altar (Perjamuan Kudus) di mana tubuh dan darah-Nya benar-benar hadir bagi kita untuk pengampunan dosa kita.
Oleh karena itu, meskipun kita hidup di di tengah dunia yang berubah, di tengah pelayanan yang berat, dan di dalam ruang-ruang batin kita yang penuh keraguan, janji Allah tidak akan pernah kedaluwarsa. Ia sungguh menyertai kita hari ini, besok, hingga Yesus akan kembali datang.
Dan ingatlah bahwa Amanat Agung Yesus Kristus ini bukanlah beban hukum baru yang membuat kita merasa bersalah jika gagal. Amanat Agung adalah hak istimewa yang lahir dari anugerah, sebab kepastian akan misi dan hidup kekristenan kita tidak bersandar pada kekuatan atau kesempurnaan manusia, melainkan sepenuhnya bersandar pada otoritas, anugerah, dan janji penyertaan Kristus.
Hendaklah kita Jangan takut, marilah memandang kepada Kristus yang sudah menang. Datanglah dengan segala keraguanmu, terimalah anugerah-Nya, dan pergilah menjadi saksi-Nya dengan keyakinan bahwa Ia menyertaimu baik dalam keluarga, dalam lingkungan kita maupun dalam pekerjaan kuta. Marilah menjadi saksi Kristus lewat Iman kita yang berbuah, hidup dalam kepatuhan kepada Tuhan dan taat akan hukum hukmNya.
Lewat evangelium kita hari ini, ingatlah bahwa Yesus berharap agar seluruh kita tidak hanya menikmati keselamatan itu sendirian. Ia berharap gereja bergerak aktif untuk "menjadikan semua bangsa murid-Ku" (ayat 19). Dan ia berharap agar kita menjadi murid menjadi pembelajar yang melekat pada Kristus. Dan dalam hidup setiap hari yesus berharap agar iman kita dapat di lihat dan dinikmati oleh setiap orang tanpa batas suku, budaya, dan bangsa sekalipun.

Amin 🫰🙏.

#Vdma_luther

Jumat, 29 Mei 2026

Seruan Iman di tengah kesesakan - renungan harian Lutheran

Shalom

Firman Allah untuk kita. 
Kisah Para Rasul 4:1
Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki.
Kisah Para Rasul 4:2
Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.
Kisah Para Rasul 4:3
Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam.
Kisah Para Rasul 4:4
Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.
Kisah Para Rasul 4:7
Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?"
Kisah Para Rasul 4:8
Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,
Kisah Para Rasul 4:10
maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.
Kisah Para Rasul 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Saudara saudari, Apa yang menjadi daya dorong bagi seluruh murid termasuk Petrus dan seluruh anak-anak Tuhan untuk memberitakan Injil dengan berani, bahkan harus menghadapi risiko dengan dianiaya?. Sesungguhnya setelah pencurahan Roh Kudus, maka Roh Kuduslah yang menguatkan dan memalukan mereka yang telah di kuasai oleh Roh Kudus (ayat 8).

Dengan dorongan dari Roh kudus, maka Petrus dimampukan menyampaikan dengan tegas kuasa kebangkitan Yesus dan penyembuhan seorang lumpuh. Kuasa yang sama memampukan Petrus untuk berkhotbah bahwa Yesuslah penggenapan PL untuk keselamatan umat manusia. Dan di hadapan Mahkamah Agama yang marah karena pemberitaannya yang dianggap provokatif, Roh Kudus tetap memampukan Petrus (ayat 8).

Tahukah anda, bahkan ketika setiap orang percaya memberitakan Yesus yang telah mati dan bangkit akan membuat dunia berasa dalam kegelisahan ketika mendengar kebenaran itu?. Dalam nas hari ini, kita melihat Petrus dan Yohanes ditangkap bukan karena mereka berbuat kriminal, melainkan karena mereka memberitakan Injil dan menyembuhkan seorang lumpuh dalam nama Yesus. Orang-orang Saduki dan para pemimpin agama sangat marah. Apakah yang membuat mereka marah? Sesungguhnya mereka marah karena ego dan usaha manusiawi mereka yang semakin terancam oleh otoritas Kristus yang telah bangkit. 

Secara manusia, kebenaran itu sulit untuk di percayai tanpa tuntunan kuasa Roh kudus. Manusia selalu ingin membangun keselamatan rohaninya sendiri dengan moralitas, amal, kesalehan, dan kebaikan mandiri. Dan sering berpikir bahwa jika kita hidup cukup baik, maka Allah akan menerima kita.
Kita harus sadar bahwa Hukum Allah yang kudus, membuat manusia runtuh dan tidak berdaya sebab tidak ada seorang pun manusia yang dapat melakukannya dengan sempurna selain Yesus. Dengan menolak Kristus sebagai satu-satunya fondasi berarti mengandalkan diri sendiri, dan itu pasti akan berujung pada maut. Dan justru didalam hal inilah hukum Allah menelanjangi ketidakmampuan kita untuk menyelamatkan diri sendiri. 

Tahukah anda?. Lewat renungan ini saya membawa kabar suka cita untuk kita, di tengah ketidakberdayaan kita dihadapan Allah, justru Injil menyatakan pekerjaan Allah yang ajaib (anugerah). 
Kristus disalibkan, menanggung murka Allah yang seharusnya menimpa kita, namun Dia dibangkitkan dari antara orang mati. Kebangkitan-Nya adalah proklamasi bahwa dosa kita telah lunas dibayar. Keselamatan bukanlah hasil dari jerih payah kita mencari Allah, melainkan Allah yang datang menolong kita melalui pengorbanan Putra-Nya. 

Oleh karena itu, marilah kita berpegang teguh di atas Fondasi yang Benar yaitu Firman Allah, dan hiduplah menjadi saksi Kristus. Sebab jikalau kita benar benar berdiri di atas pondasi yang benar dan yang sungguh kuat maka bagaimana pun goncangan kehidupan kita, dan tantangan zaman boleh yang akan mengancam iman kita. Namun, Yesus sang batu Penjuru yang tidak akan pernah goyah. Maka keselamatan kita telah dipaku dengan aman di atas salib dan dimateraikan dengan kuasa darah Kristus. Marilah tetap hiduplah dalam iman yang benar. 

Amin 🙏

Jamita Partangiangan - Togu ma Rohanta di bagasan Tuhan i - Efesus 6 : 10 – 20

Jamita Partangiangan


Nats : Efesus 6 : 10 – 20


Patujolo : Angka dongan sahaporseaon, adong do hata na mandok “Hidup Ini adalah perjuangan”. Di turpuk jamita di DI TINGKI ON on, sasintongna on do na naeng dohonon ni Debata tu hita bahwa ganup angka na porsea di Tuhan Jesus Kristus, saleleng mangolu di portibi on ingkon do berjuang mangalo saluhut angka ihot ihot ni portibi on, manang na angka pangago na di portibi on ima harajaon ni sibolis. Molo tabereng do angka na masa di Film taringot tu angka parporangan, sude do angka penguasa manang na Raja paborhathon angka pasukanna be marhite angka senjata laho manaluhon angka alona nasida. Alani hita pe sasintongna di paborhat Debata do hita tu portibi on laho manaluhon haholomon i (harajaon ni sibolis) marhite angka senjata na pinarade ni Debata. Alani marhite jamita on di paingot Debata do hita asa :

Thema  : “Togu ma Rohanta di bagasan Tuhan i”


1.      Ai gogo do portibi on na laho pataluhon haporseaon ta

Molo marningot do hita di padan na robi, di tingki na madabu si Adam dohot si hawa tu bagasan dosa dison ma patar di paboa tu saluhut pangisi ni portibi on, bahwa margogo do sibolis mangarajai, mangela-ela angka pingkiran ni saluhut hita jolma, jala on ma namasa sahat tu nuaeng, ido umbahen asa torop hita jala si ganup tingki madabu tu bagasan dosa, siganup ari do saluhut jolma madabu tu bagasan dosa, godang na mangalehon dirina di pangke sibolis gabe mangula angka hajahaton, manghanciti roha, mangaleai, paroa roahon, marlate ni roha nang songoni ginjang ni roha, godang na mangalelei angka parbarita nauli, manundati manang na paporsuk porsuk hon angka na pauli uli bagas joro, jala na paroa roahon manang na palea leahon angka parbarita nauli, angka on ma ulaon ni sibolis di na masa sahat tu tingki on, jala na paling nyata di ngolunta on ima mambahen hita ndang marpos ni roha tu Debata (paholangkon hita sian Debata).

Jala sasintongna ia disi tapajonok dirinta tu Debata laos disi do jongjong sibolis i mangganggu roha nang pingkiranta na mambahen hita gabe hurang marpos ni roha tu Debata. Boi do tarasahon i, saleleng holang hita sian Debata olo do denggan-denggan sajo torus pardalanan ni ngolunta.alai dung tapajonok dirinta tu Debata disi ma olo gok masa angka parungkilan manang na tantangan. Tung mansai gogo do sibolis i sasintongna manggugai roha ni ganup angka na porsea, jala Jesus sandiri pe di unjuni sibolis do, alai ala di Jesus do saluhut huaso na sian Debata, talu do sibolis i dibahen Jesus Kristus. Jala sasintongna hita pe margogo do laho manaluhon huaso ni sibolis, margogo do hita manaluhon saluhut angka hisap hisap ni portibi on asal ma tongtong togu Rohanta  di bagasan Tuhan i songon thema ni jamita ta di borngin on na mandok “Togu ma rohanta dibagasan Tuhan i 

2.      Asa margogo hita manaluhon saluhut angka tahi ni sibolis.

Di na tabereng nuaeng angka namasa di portibi on, sasintongna ingkon do sude hita pajonokhon diri tu Debata, ai Debata sandiri do mandok ndang tarulahon hita saluhut angka na denggan ianggo so marhite hite Debata (Yoh.15:5-6). Mangulahon na denggan pe hita maol do ianggo so marhite hite holong na sian Debata, isarana mengmapuni angka musunta, manghaholongi angka dongan ta, manghaholongi saluhut pangisi ni bagasta lumobi ma manghaholongi Debata di bagasan pos ni roha, sada hal na borat situtu do i ulahononta molo so hot hita di hata ni Debata, lumobi ma muse laho manaluhon saluhut angka dosa manang na mangalo saluhut angka tahi ni sibolis na mambahen hita madabu tu dosa ndang tartaluhon hita i ianggo so marhite huaso dohot gogo na sian Debata. Di turpuk jamita borngin on di ayat 17 didok do asa sude hita manjangkon hata ni Debata ima na gabe tahulukta (Topi) dohot podang ta laho mangalo saluhuta angka tahi ni sibolis i. Jala songon na nidok ni angka na Porsea didok do bahwa “Tangiang do gogo ni angka na porsea” songon na nidok na di ayat 18 ai ingkon tangkas do tahaporseai jala ta antusi bahwa tangiang ido parhitean ta tu Debata laho mangido gogo dohot huaso sian Debata asa margogo hita manaluhon saluhut angka tahi ni sibolis, alani unang losok jala malas hita martangiang alai tongtong ma tagogohon manjouhon goar ni Tuhan Debata.

Alani angka dongan sahaporseaon, molo pe tung gogo sibolis i na sai tongtong manggugai roha nang pingkiranta lumobi ma haporseaonta, jala molo pe tung porsuk sitaononta di portibi on, ta ingot ma gomos bahwa portibi on nungga be talu di bahen huaso ni Debata marhite hite haheheon ni Jesus Kristus sian hamatean i (Yoh.16:33) na marlapatan ma i molo Debata do dongan ta jala tongtong hot rohanta di bagasan panoguion ni Debata, dang adong be alonta (Rom.8:31+39) jala tontong do donganion jala parsahalaion ni Debata hita mangalo saluhut angka tahi ni sibolis i marhite tondi porbadia. Di bahen i tajalo jala tapangke ma angka sinjata haluaon naung ni lehon ni Debata tu hita, asa margogo hita jala boi tataluhon saluhut tahi ni angka sibolis i. Asa di na di lehon Debata dope hosa hangoluaon i dihita tutu ma hita hot di bagasan roha na tigor maradophon Debata.

Di pasu pasu jala di pargogoi Tuhan Debata ma hita saluhutna. Amen.


Kuasa Iman di tengah Ancaman hidup - Kisah para Rasul 4:1-12

Shalom... 
Firman Allah untuk Kita.
Kisah Para Rasul 4:23
Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
Kisah Para Rasul 4:24
Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
Kisah Para Rasul 4:29
Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Kisah Para Rasul 4:30
Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
Kisah Para Rasul 4:31
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Saudara saudari, tahukah anda bahwa memberitakan kebenaran memiliki resiko besar yang harus siap di benci ?.
Pemberitaan akan kebenaran dari zaman dahulu sampai sekarang telah menjadi sumber kebencian bagi para penentang kebenaran. Terlebih pemberitaan tentang kebenaran akan Yesus Kristus.

Dalam khotbah lewat perikop kita hari ini, dapat kita lihat bahwa Petrus dan Yohanes baru saja dilepaskan dari penjara.
Sebab dengan hadirnya jemaat mula-mula pada hari pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) Petrus dan Yohanes ditangkap dan diancam oleh Mahkamah Agama karena pemberitaan tentang Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit dari kematian dan penyembuhan seorang yang lumpuh. Bahkan, meskipun mereka di lepaskan, mereka tetap di larang keras untuk mengajar dalam nama Yesus.

Bahkan jikalaunkita perhatikan pada saat ini, secara garis besar negara Indonesia hingga pada saat ini masih ada daerah daerah tertentu yang melarang perkumpulan orang percaya dan penutupqn rumah rumah ibadah bahkan penganiayaan sekalipun. Lalu pertanyaannya, sekarang kita masih hidup di dunia dan segala penderitaan oleh karena mengikut Yesus Kristus adalah salib bagi kita. Bagaimanakah kita berjuang dalam ancaman dan penderitaan penderitaan ini ??. Apakah kita akan takut di benci atau apakah justru kita tidak akan menyampaikan kebenaran karena takut di benci atau di adingkan oleh orang ?.

Lewat renungan kita hari ini, kita di ingatkan agar tidak fokus pada besarnya ancaman yang datang pada kehidupan kita, melainkan marilah kita pokus kepada kebesaran dan kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta yang dapat mengendalikan sejarah, bahkan memakai salib dan penderitaan untuk mendatangkan keselamatan. 

Dalam hal mengikut Yesus Kristus, sesungguhnya Yesus tidak menyatakan jaminan hidup tanpa penderitaan bagi para pengikutNya dan tidak ada jaminan agar jauh dari gesekan atau tantangan dunia. Melainkan, lewat persekutuan doa dan iman, Allah memberikan kekuatan spiritual untuk menghadapi "badai" tersebut. Oleh karena itu, dengan sadar hendaklah kita Jemaat Tuhan untuk tidak hanya meminta situasi hidup yang nyaman atau bebas dari masalah. Melainkan, marilah kita juga memohon dan meminta keberanian (parrhesia) untuk tetap setia memberitakan Firman Allah, yang murni dikerjakan oleh Roh Kudus. 

Di dalam pandangan teologi Lutheran, iman tidak dapat membebaskan kita dari salib di dunia ini (Theology of the Cross), melainkan lewat Iman kita diberi kekuatan untuk dapat memikul salib itu dengan mata yang tertuju pada Kristus. Keberanian ini bukan hasil usaha atau tekad manusiawi kita, melainkan murni anugerah dan karya Roh Kudus. Ketika kita dapat berjuang dan menang dari penderitaan maka sesungguhnya itu bukanlah semata mata hasil usaha kita, melainkan Roh kuduslah yang berkuasa dan memampukan kita untuk dapat bersaksi dan bertahan hidup dengan kekuatan Roh LEWAT FIRMAN DAN SAKRAMEN Firman dan Sakramen. Dan mintalah agar Roh Kudus membakar hati kita agar kita tidak berkompromi dengan dosa dan ketakutan duniawi.

Oleh karena itu, marilah kita mengubah Kecemasan menjadi Pengakuan Iman, ketika kita sedang menghadapi masalah berat atau tekanan hidup, janganlah fokus pada besarnya masalah tersebut. Tetapi marilah kita meneladani cara hidup jemaat mula-mula yang langsung memuji Allah sebagai Pencipta alam semesta yang memegang kendali atas segala sejarah. Lewat seruan doa kita, marilah kita juga memohon Keberanian dan kekuatan agar jalan hidup kita dipermudah atau musuh kita dilenyapkan. Dan marilah juga dalam setiap hidup kita mengandalkan Kuasa Roh Kudus, Bukan Kekuatan Sendiri. Sebab keberanian Iman bukanlah hasil nekat atau tekad manusiawi kita, melainkan murni anugerah Allah. Ketika kita menyerahkan keterbatasan kita dalam doa, Roh Kudus akan memampukan kita menghadapi tantangan hidup. Hiduplah dengan penuh keberanian dalam menceritakan kebaikan dan kebenaran Injil Yesus Kristus di lingkungan tempat tinggal, keluarga, maupun tempat kerja melalui kuasa Roh Kudus.

Kiranya kasih Setia Allah bapa, anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Jumat, 22 Mei 2026

10 HUKUM TAURAT BERDASARKAN URUTAN GEREJA LUTHERAN

10 HUKUM TUHAN



https://docs.google.com/document/d/1EYC_CpsPJEhvM8IUc7XTG87nJ77F_xJl/edit?usp=drive_link&ouid=104613925996172531154&rtpof=true&sd=true

Kamis, 21 Mei 2026

UBIQUITAS adalah

Ubiquitas (Latin) ubique yang berarti "di mana-mana") hal ini merujuk pada doktrin kemahahadiran sifat kemanusiaan Yesus Kristus, dan Secara khusus, istilah akan doktrin ini mengajarkan kita bahwa setelah kenaikan-Nya ke surga, tubuh dan darah Yesus (sifat manusia-Nya) tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan hadir di mana-mana karena bersatu secara tidak terpisahkan dengan sifat keallahan-Nya (sifat ilahi).

Tokoh Reformasi kita, Martin Luther dan para teolog Lutheran mengajarkan dan menekankan pandangan ini akan kehadiran Yesus setelah kebangkitan untuk mempertahankan tentang Kehadiran Nyata (Real Presence) Kristus dalam Perjamuan Kudus. 

Bahkan dalam pandangan ini, Lutheran juga membedakan cara Kristus hadir di dunia. Doktrin Ubiquitas tidak berarti tubuh Yesus tersebar atau terbagi bagi secara materi di udara seperti molekul (bukan spatial extension).

Istilah ini, atau doktrin Ubiquitas ini tertuang secara resmi dalam dokumen iman Lutheran konvensional, yaitu Formula Kesepakatan (Formula of Concord, 1577) yang menjadi bagian dari Book of Concord.


KRISTUS YANG TELAH NAIK KE SORGA akan setia hadir dalam hidupmu - Kisah para Rasul 1:1-11

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Kisah Para Rasul 1:3
Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.
Kisah Para Rasul 1:4
Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku.
Kisah Para Rasul 1:5
Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."
Kisah Para Rasul 1:6
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
Kisah Para Rasul 1:7
Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Kisah Para Rasul 1:9
Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.. 
Kisah Para Rasul 1:10
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
Kisah Para Rasul 1:11
dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Saudara saudari, dalam bacaan perikop kita hari ini, firman Allah sedang berbicara tentang hari penggenapan kenaikan Yesus Kristus.  Dan fokus utama dari renungan kita hari ini adalah khotbah yang berpusat pada Kristus (Christocentric), pembedaan antara Hukum Taurat dan Injil (Law and Gospel), serta penekanan pada Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace).

Peritiwa Yesus terangkat ke sorga, adalah masa perpisahan bagi para murid dengan Yesus. Tentu secara manusiawi, perpisahan ini akan menyedihkan bagi para murid, sebab ketika seorang pemimpin pergi maka para pengikutnya akan merasa kehilangan arah. Namun, dalam pandangan teologi Lutheran kita di ajak untuk melihat peristiwa kenaikan ini bukan sebagai ketiadaan Yesus Kristus, melainkan sebagai cara baru bagaimana Kristus akan tetap hadir di tengah-tengah kita. Meskipun para murid dan kita tidak dapat melihatNya secara kasat mata, namun Kristus yang bangkit akan tetap memegang kendali, Ia akan selalu menegur kedagingan kita, dan menghibur kita dengan janji-Nya lewat kuasa Roh kudus. 

Jadi, apakah yang membuat para murid bersedih pada saat perpisahannya dengan Yesus? 
Lewat perikop ini, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa meskipun para murid telah sekian lama bersama dengan Yesus, dan mereka telah menyaksikan kematian Yesus, dan Yesus telah berulang ulang kali menampakkan diri kepada mereka. Sesungguhnya ada yang mengganjal dalam diri mereka masing masing. Dosa membuat mereka gagal mengenal dan mempercayai Yesus dengan benar dan kegagalan mereka membuat mereka lebih berpusat pada diri sendiri daripada kepada Yesus Kristus. Para murid menginginkan kejayaan politis, kesuksesan duniawi, dan teologi kemuliaan (theologia gloriae). Bahkan mereka ingin melihat Yesus bertakhta secara fisik dan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi saat itu juga. Keinginan keinginan seperti ini sering juga terjadi pada kita, dan sering kita datang kepada Yesus hanya mencari kerajaan duniawi. Dalam pengajaran kita sebagai gereja Lutheran, buku konkord mengajarkan kepada kita bahwa kehadiran Yesus di bumi adalah untuk menegakkan Theologia Crucis (Teologi Salib) sebab jalan Allah bukanlah untuk kejayaan duniawi, melainkan jalan salib dan penyangkalan diri, demi kemenangan orang orang percaya. 

Dalam perikop ini, Yesus juga memperingatkan mereka agar menantikan penghibur yang akan turun atas mereka, dan Yesus memperingati mereka agar tidak pergi. Yang berarti Yesus melarang mereka pergi dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Melainkan harus menunggu janji Bapa, yaitu baptisan Roh Kudus, agar Roh Allah bekerja atas mereka untuk dapat membedakan yang benar dan terlebih berkuasa melakukan yang baik dan menjauhkan diri dari kejahatan. Dan tugas yang utama adalah untuk menjadi saksi Kristus di bumi. Para murid dan kita diutus untuk bersaksi tentang Kristus yang disalibkan dan bangkit. Yesus adalah sumber keselamatan kita, keselamatan datang dari padaNya dan sungguh, Keselamatan adalah 100% karya Allah (Sola Gratia — Hanya oleh karena Anugerah). Roh Kuduslah yang akan memelihara kita dalam iman agar mampu menjadi pemberitaan Injil ini sebagai saksi Kristus. 

Setelah Yesus terangkat ke sorga, apakah Yesus tidak hadir lagi di antara para murid dan bagi kita ?. 
Sesungguhnya, dalam Teologi Lutheran mengajarkan dogma UBIQUITAS(keberadaan Kristus yang mahahadir secara manusiawi). Kristus yang naik ke surga bukan berarti Dia pindah ke suatu lokasi geografis yang jauh di atas awan, melainkan Dia masuk ke dalam takhta kanan Allah yang mahakuasa. Dan dalam Alkitab di ajarkan kepada kita bahwa jika kita ingin mencari Kristus yang naik ke surga, maka janganlah menatap langit yang kosong. Tetapi carilah Dia di tempat yang sudah Dia janjikan untuk hadir secara nyata (Real Presence), yaitu dalam Sarana-sarana Anugerah (Means of Grace) dalam Firman dan ke 2 sakramenNya. 
Kita akan dapat memahami Siapakah Tuhan dalam FirmanNya dan kita akan beroleh pengampunan juga lewat kuasa Firman yang membuat kita mengenal dosa dan Insaf. Bahkan ketika kita menerima Sakramen Baptisan Kudus, Di mana air dan Firman telah menyatukan kita dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Demikianlah juga dengan Perjamuan Kudus Kristus sungguh benar benar hadir "Di mana tubuh dan darah Kristus yang sejati hadir "di dalam, bersama, dan di bawah" roti dan anggur untuk pengampunan dosa kita".

Oleh karena itu, Kenaikan Yesus bukanlah akhir dari cerita-Nya bersama kita, melainkan awal dari pelayanan-Nya di dalam gereja-Nya melalui Roh Kudus. Dua malaikat berjanji bahwa Yesus yang terangkat itu akan datang kembali dengan cara yang sama. 
Sembari menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (Eskatologi), kita tidak dibiarkan yatim piatu. Kita tidak perlu cemas atau mencari tanda-tanda ajaib di langit. Hari ini, Kristus yang naik ke surga itu hadir di sini, di tengah-tengah kita, mengampuni dosa Anda, memberi Anda makan melalui tubuh dan darah-Nya, dan menguatkan Anda untuk menjadi saksi-Nya di dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat, demikianlah firman Allah. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kira semua. Amin 🙏

Rabu, 20 Mei 2026

Berjuang dalam penderitaan mengikuti Kristus - 1 Petrus 4:12-19

Khotbah 1 Petrus 4:12-19
Firman Allah untuk kita. 
1 Petrus 4:12
Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
1 Petrus 4:13
Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
1 Petrus 4:14
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
1 Petrus 4:15
Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
1 Petrus 4:16
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Saudara saudari, banyak orang yang bekerja di bumi sesungguhnya sedang berusaha menciptakan kedamaian, kebahagiaan dan sukacita. Artinya, kita bekerja supaya paling tidak hidup kita tidak susah, atau kita ber usaha supaya kehidupan kita sejahtera atau jauh dari penderitaan. 
Lalu kenapakahYesus mengatakan bahwa mengikut Yesus harus siap menderita?. Apakah yang dimaksud denganpenderitaan pada Firman Allah untuk kita pada saat ini?. 
Memang Manusia lama kita (adam lama) selalu berpikir secara Teologi Kemuliaan (Theologia Gloriae) kemakmuran, yang menyatakan bahwa ketika kita mengikut Yesus maka hidup akan mulia, sukses, dan bebas dari masalah. Sehingga banyak dari orang yang ber pengharapan demikian, ketika penderitaan datang akan kaget dan merasa Allah meninggalkannya.
Lewat perikop kita hari ini, marilah kita terleboh dahulu membedakan penderitaan oleh karna pelanggaran atau perbuatan kita dengan penderitaan oleh karena Kristus. Ke 2 bentuk Penderitaan ini sangat berbeda. Penderitaan oleh karena perbuatan atau kesalahan dan keserakahan kita umumnya akan menjadi siksaan bagi kita. Namun penderitaan oleh karena Kristus, sesungguhnya itu adalah jalan bagi kita untuk mempercayai bahwa dalam penderitaan itu Allah tidak meninggalkan kita, terkadang penderitaan itu datang untuk meneguhkan iman kita bahkan memulihkan pengharapan kita kepada Allah. 
Jadi, Penderitaan akibat dosa pribadi adalah upah dosa yang mendatangkan penyesalan. Ini harus kitabedakan secara tegas dari Salib Kristus. Seluruh Hukum Taurat Tuhan menyatakan kita berdosa dan menuntun kita kepada pertobatan agar kita tidak bermegah atas penderitaan yang kita cari sendiri. Hukum Taurat ituendiri telah membongkar kedagingan kita. Dalam kehidupan kita sering kali kita kedapatan sedang menderita bukan karena iman, melainkan karena kebodohan, dosa, atau karena kita suka mencampuri urusan orang lain (allotrioepiskopos). Oleh karena itu, firman ini mengingatkan dengan tegas kepada kita agar jangan kita mau menderita oleh karena kebodohan kita (15) "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau" Yang artinya cukuplah kita menderita oleh karena kebenaran mengikut Kristus, dan itu adalah sukacita bagi kita sebab Kristus ikut juga berjuang dalam penderitaan kita. 
Di tengah penderitaan, marilah kita tidak berpaling dari Allah, dan tidak mencari kambing hitam. Marilah kita merenunginya, menerima Salib yang Tuhan izinkan, tetap melakukan kewajiban hidup kita dengan berbuat baik, dan memlercayakan jiwa kita kepada Pencipta yang setia. 

Saudara saudari, Petrus juga berkata dalam ayat 13-14 "Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, dan berbahagialah kamu, oleh karena Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu."
Saat dunia membenci dan mencela kita karena nama Kristus (Ayat 14), itu adalah bukti otentik bahwa kita milik-Nya. Dan sebesar apa pun penderitaan yang kita alami dalam hidup, Penderitaan tidak berkuasa untuk membatalkan anugerah Allah atas kita. Sebab penderitaan tidak akan mengubah status kita. Kita akan tetap dibenarkan oleh iman (simul iustus et peccator). Sebab Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita saat kita menderita; sebaliknya, Dia justru sedang "memelihara" dan menguatkan iman kita di dalam proses pemurnian tersebut sehingga kita menjadi orang yang tangguh dalam menghadapi penderitaan oleh karena mengikut Tuhan. 
Jadi, penderitaan yang dimaksud dalam perikop ini adalah Penderitaan Yesus Kristus disalib dan penderitaan yang kita alami oleh karena Kristus telah menjadikan kita milikNya (umat tebusannya). Ketika kita menjadi milik Kristus maka dunia akan menjadi musuh kita. Dan ketika hidup kita berakhir dari dunia maka sukacita sorga yang kekal akan menghampiri kita. 
Oleh karena itu, marilah kita percaya bahwa penderitaan karena iman bukanlah tanda murka Allah, melainkan tanda sekutu kita dengan Salib Kristus yang memurnikan iman kita menuju kemuliaan kekal. Dan hendaklah, selama hidup kita di dunia marilah berserah secara pasif kepada anugerah Allah yang menyelamatkan, dan tetaplah aktif bekerja untuk menjalankan tanggung jawab hidup sehari-hari dengan berbuat baik, mengasihi sesama terlebih mengasihi Tuhan dengan cara memercayakan jiwa kita sepenuhnya kepada Allah Pencipta yang setia.
Amin.. 







Senin, 18 Mei 2026

Jumat, 15 Mei 2026

Acara Ibadah persekutuan doa Muda mudi GKLI - Lutheran minggu exaudi

 

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI

16/Mei/2026

 

1.      Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang)

1. Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
Bagai bunga t'rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita, kebimbangan, t'lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b'ri sinarMu menyerap.

2. Kau memb'ri, Kau mengampuni, kau limpahkan rahmatMu
Sumber air hidup ria, lautan kasih dan restu.
Yang mau hidup dalam kasih Kau jadikan milikMu
Agar kami menyayangi, meneladan kasihMu.

3. Semuanya yang Kaucipta memantulkan sinarMu.
Para malak, tata surya naikkan puji bagiMu
Padang, hutan dan samud'ra, bukit, gunung dan lembah,
Margasatwa bergembira 'ngajak kami pun serta.

 

2.      Doa Pembuka.

Bapa Kami yang ada di Surga, Kini kami datang berdoa dan bersyukur kepadaMu, terpujilah Engkau yang selalu senantiasa memelihara hidup kami hingga malam hari ini, malam hari ini kami telah berkumpul disini para Pemuda pemudi dan remaja untuk belajar Firman-Mu yang Kudus, Ajari dan bimbinglah kami agar kami memahami kehendak-Mu, biarlah kiranya Roh kudus selalu mengarahkan hati kami, sehingga kami dapat melakukan Firman_Mu di dalam kebenaran, kami juga pada saat memohon, untuk masa depan kami, kami percaya bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik untuk kami, karena itu, berilah kami semangat, kesetiaan dan rasa hormat terhadap orang tua kami, agar kami dapat melihat Anugerah berkat yang Engkau berikan kepada kami dalam setiap saat sehingga kami tetap semangat dalam menggapai cita cita kami. Saat ini juga kami akan mendengarkan Firman Mu, bimbinglah kami agar kami beroleh kekuatan dan Iman oleh pendengaran Firman mu. Untuk Orang tua kami, Tuhanlah yang memelihata hidup mereka, kiranya Engkau memberikan umur yang panjang, kesehatan dan Berkat bagi keluarga kami. Untuk sahabat sahabat kami yang tidak dapat berkumpul bersama kami di malam hari ini, sertailah mereka dan ingatkanlah supaya di waktu berikut mereka dapat memberikan hati untuk datang beribadah di tempat ini. Bapa kami yang di Surga, atas segala dosa dan pelanggaran kami, mohon ampuni dan kuduskan kami dari dosa kami itu, agar kami layak untuk memanggil nama Mu yang Kudus. Terpujilah Engkau, kini dan sampai selama lamanya. Amin

 

3.      Bernyanyi Kidung Jemaat No. 26 : 1 – 3 (Mampirlah dengar doaku)

1.      Mampirlah, dengar doaku, Yesus Penebus.
Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

Refrein : Yesus, Tuhan, dengar doaku;

                orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

2.      Di hadapan takhta rahmat aku menyembah,
Tunduk dalam penyesalan. Tuhan, tolonglah!

Reff :

 

3.      Ini saja andalanku: jasa kurbanMu.
Hatiku yang hancur luluh buatlah sembuh.

 

 

4.      Renungan Firman (Pendalaman Alkitab)

Ayat Renungan : Mazmur 66:8-20

Thema               : Berdoa dan berserulah kepada Allah                 

Tujuan               : Supaya anak dan remaja senantiasa berdoa dan berseru kepada Allah

1.      Berdoa cara kita berkomunikasi kepada Allah

2.      Allah merindukan umatNya berseru kepada Allah

3.      Allah mengetahui setiap doa yang kita ucapkan

4.      Allah akan berkenan kepada setiap doa orang percaya.

             Hafalan             : Mazmur 66:17 “kepadaNya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku

     aku menyanyikan pujian”

 

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 460 : 1 – 3 (Jika Jiwaku Berdoa)

1. Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t'rima
saja pemberian tanganMu dan mengaku, s'perti Yesus
di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

2. Apa juga yang Kautimbang baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya, walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah.

3. Aku cari penghiburan hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja perlindungan hidupku.
'Ku mengaku, s'perti Yesus di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah.

 

6.      Doa penutup + Doa Bapa Kami

7.      Latihan Koor

 

 


Kamis, 14 Mei 2026

BAGAIMANAKAH PANDANGAN LUTHERAN DENGAN PENDETA PEROKOK ATAU JEMAAT PEROKOK - 𝚕𝚞𝚝𝚑𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚚𝚞𝚎𝚜𝚝𝚒𝚘𝚗𝚜

𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙩𝙝𝙚𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙤𝙝𝙖𝙣𝙞𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠 𝙖𝙩𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙟𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩.
Jikalau kita perhatikan, pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa merokok/perokok seolah olah menjadi dosa yang paling nazis dan bsedang berkedudukan lebih tinggi sehingga menjadi bahan pembicaraan yang panas antara perokok dengan tidak perokok. Masalah tentang merokok tidak hanya dibicarakan bagi kalangan Gereja, namun sesungguhnya di luar gereja (orang percaya) pun rokok sering menjadi bahan pembicaraan panas. Dan sesuai sejarah perkembangan rokok yang kita perhatikan pada saat ini sungguh telah berada di peringkat atas - melonjak tinggi, sebab batasan akan penggunaan rokok sudah di langgar dan terbukti anak di bawah umur 12 tahun sudah menjadi pengguna aktif rokok yang pada akhirnya menjurus kepada penggunaan Narkotika. 
Baik, dalam topik kita hari ini kita akan membahas, bagaimanakah seharusnya para rohaniawan atau jemaat jemaat Tuhan memandang rokok, atau dapatkah orang percaya menikmati rokok atau tidak?. 

𝙄. 𝙎𝙄𝘼𝙋𝘼𝙆𝘼𝙃 𝙋𝙀𝙉𝘿𝙀𝙏𝘼??
Secara etimologi dan sejarah bahasa, kata pendeta memiliki akar kata yang sangat kaya dari bahasa Sanskerta sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk merujuk pada pemimpin agama Kristen Protestantisme. Kata pendeta berasal dari kata paṇḍita (पण्डित). Yang berarti orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, ahli ilmu pengetahuan, atau cendekiawan. Bagi kalangan Kristen Kata paṇḍita dipilih untuk menerjemahkan konsep Alkitab seperti Pastor (dari bahasa Latin yang berarti gembala) atau Minister (dari bahasa Latin yang berarti pelayan). Dan bagi kalangan Lutheran konvensional (ortodoks/konfesional), seorang pendeta adalah hamba Allah yang dipanggil secara sah dan ditahbiskan untuk melayani Firman Tuhan serta melayankan Sakramen. Jabatan ini bukan sekadar profesi fungsional, melainkan sebuah jawatan kudus (holy ministry) yang dilembagakan oleh Allah sendiri demi kepentingan jemaat-Nya. 

𝙞𝙞. 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝙡𝙪𝙩𝙝𝙚𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠?
Bagi kalangan Lutheran buku konkord adalah Alkitab ke dua (bukan ber_arti gereja Lutheran memiliki 2 Alkitab) melainkan bagi Lutheran konvesional buku Konkord berada di bawah Alkitab satu tingkat, sebab buku Konkord adalah salinan dari Alkitab dan selaras dengan Alkitab. 

Dengan demikian, sebagai pendeta Lutheran saya akan meninjau masalah rokok dari pandangan Alkitab dan buku Konkord. 
Dalam Buku Konkord (Kitab Konkordia) tidak sedikit pun membahas atau menyebutkan tentang rokok/merokok. Dalam sejarahnya, buku konkord diterbitkan pertama kali pada tahun 1580, dan buku Konkord telah menjadi standar doktrin dan pengakuan iman historis bagi Gereja Lutheran, maka dengan perbandingan antara sejarah Buku Konkord dan Munculnya rokok, dapat saya simpulkan bahwa buku konkord disusun jauh sebelum kebiasaan merokok atau industri tembakau modern dikenal luas di Eropa, bahkan menyebar ke Indonesia. Namun meskipun istilah "merokok" atau "rokok" tidak tercantum di dalamnya, sebagai orang orang percaya yang hidup di dalam kuasa Injil Allah, maka mari kita melihat dalam prinsip-prinsip teologis dan etika Kristen dalam tradisi Lutheran yang bersumber dari Alkitab untuk melihat isu ini. Dalam Alkitab diajarkan kepada kita untuk menjaga tubuh sebagai Ciptaan Tuhan - sebat tubuh orang percaya adalah bait roh kudus (1 Kor. 6:19) 
Memang dalam Ajaran Lutheran setelah Kristus membenarkan kita, maka Allah memberikan kepada kita kebebasan (Free) yang bertanggung jawab. Dan berdasarkan prinsip Alkitab di 1 Korintus 6:12, setiap pendeta bahkan seluruh umat Kristen diperintahkan untuk tidak membiarkan dirinya "diperhamba" atau dikuasai oleh apa pun. Lalu pertanyaanya apakah rokok dapat memperhamba manusia?, jawabannya YA sebab segala bentuk nikotin/narkotika dapat mengikat kita dan menjadi kecanduan. Maka berdasarkan hasil penelitian, Sifat rokok yang adiktif dan menyebabkan kecanduan kuat dan tentu jikalau ditinjau dari pernyataan kita suci kita maka sesungguhnya rokok dapat mengikat kebebasan rohani dan jasmani setiap orang yang aktif mengkonsumsinya. 

Dalam doktrin Kristen ditekankan kepada kita bahwa sungguhangat penting untuk tidak menjadi batu sandungan atau merugikan bagi orang lain (kasih kepada sesama). Secara medis, kita tahu bahwa asap rokok sangat merugikan kesehatan pengguna bahkan orang orang di sekitar, maka setiap perokok pasif dipandang tidak sejalan dengan prinsip kasih dari Kristus.

Bagi Gereja Lutheran umumnya tidak memiliki aturan hukum atau larangan resmi (dogmatis) yang menyatakan bahwa seorang Pendeta sama sekali tidak boleh merokok. Pandangan Lutheran terhadap pendeta yang menjadi perokok aktif dipengaruhi oleh sejarah tradisi mereka, konsep kebebasan Kristen, serta tuntutan etis pastoral modern. (𝚠𝚠𝚠.𝚜𝚌𝚑𝚘𝚕𝚊𝚛𝚜𝚑𝚒𝚙.𝚌𝚘𝚖𝚖𝚘𝚗𝚜). 

Dan bagi gereja Lutheran luar, termasuk LCMS, dari beberapa sumber mereka saya menemukan hal ini untuk dapat kita ketahui dan perbandingankan :
1. Budaya
Di dalam sejarah teologi Lutheran (khususnya tradisi Lutheran Jerman dan Skandinavia), tembakau, cerutu, dan pipa tidak dipandang tabu.
Bahkan seorang pastor C.F.W. WALTHER, adalah teolog besar dan pendiri sinode Lutheran terkemuka The Lutheran Church—Missouri Synod (LCMS), dikenal sebagai perokok pipa yang sangat aktif semasa hidupnya. Maka dengan akar sejarah ini, teologi Lutheran secara konsisten tidak mengategorikan merokok secara otomatis sebagai dosa yang membatalkan KESELAMATAN atau kelayakan pelayanan jabatan Pendeta. (𝙶𝚘𝚝.𝚚𝚞𝚎𝚜𝚝𝚒𝚘𝚗.𝚘𝚛𝚐_𝙻𝚌𝚖𝚜). 

2. Adiaphora
Gereja Lutheran memandang tindakan merokok sebagai hal yang masuk dalam kategori ADIAPHORA, yaitu perkara-perkara yang tidak diperintahkan tetapi juga tidak dilarang secara eksplisit oleh Alkitab.

Maka dengan pandangan ini, maka seluruh Pendeta memiliki "kebebasan Kristen" untuk menggunakan atau tidak menggunakan hal-hal sekuler seperti tembakau atau alkohol dalam batas KEWAJARAN. Mereka harus menolak legalisme kaku (seperti yang sering ditemukan pada aliran Karismatik atau Puritan) YANG LANGSUNG MENGHAKIMI KESUCIAN SESEORANG HANYA DARI LUAR. (𝚃𝚑𝚎.𝚕𝚌𝚖𝚜.𝚘𝚛𝚐) 

3. Kecanduan
Meskipun Lutheran tidak melarangnya, status sebagai perokok aktif (kecanduan berat) akan memicu penilaian etis dan pastoral yang kritis berdasarkan Alkitab:
Tidak Boleh Diperhamba, Berdasarkan 1 Korintus 6:12, Seorang pendeta seharusnya tidak boleh dikuasai atau diperhamba oleh apa pun selain Kristus. Jika seorang pendeta tidak dapat mengendalikan ketergantungannya pada nikotin, hal ini dinilai sebagai KELEMAHAN KEDEWASAAN ROHANI.

Merawat Bait Allah, Tubuh adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Menjadi perokok aktif yang merusak kesehatan secara sengaja dianggap kurang bertanggung jawab dalam memelihara karunia kehidupan dari Tuhan. 

4. Tuntutan keteladanan dari kependetaan
Di era modern sekarang, pandangan sosial jemaat Lutheran telah banyak bergeser demi alasan medis dan kesehatan.

Batu Sandungan (Scandalum) seorang Pendeta dipanggil untuk menjadi teladan bagi jemaat. Jika tindakan merokok aktif tersebut merugikan orang lain (merokok pasif), merusak reputasi pelayanan gereja, atau menjadi batu sandungan bagi jemaat yang lemah, maka pendeta tersebut secara etis didorong kuat untuk berhenti demi kasih kepada sesama.
Kebijakan Gereja Lokal Indonesia. Di beberapa sinode regional (termasuk di Indonesia seperti HKBP, bahkan GKLI pada zaman emeritus Pdt. Jetro sinaga M. Div), meskipun tidak ada hukum tertulis yang memecat pendeta perokok, secara praktis pendeta sangat tidak dianjurkan merokok di area fasilitas gereja, di depan jemaat, atau saat mengenakan JUBAH PASTORAL demi menjaga kewibawaan pelayanan, dan tidak ada Pendeta yang berani merokok di depan Bishop, kalaupun dilakukanoleh oknumpasti dalam keadaan tersembunyi dari hadapan Bishop emeritus. 

Jadi, sebagaiSeorang Pendeta tentu sudah tahu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dan sudah paham manakah kehendak Roh dan kehendak daging. Allah tidak mengkendaki segala bentuk keinginan daging itu menguasai kita terlebih para tahbisan. Sebab, kebebasan Kristen yang diberikan Allah untuk kita adalah untuk melayani sesama, bukan untuk menjadi hamba dari zat atau kebiasaan tertentu (1 Korintus 6:12).
𝙞𝙞𝙞. 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩 𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠
Dalam teologi Lutheran, pandangan mengenai "jemaat" atau "gereja" (ecclesia) berakar kuat pada Alkitab dan Pengakuan Iman Augsburg (Artikulus VII). Jemaat sering disebut sebagai Persekutuan Orang Kudus (Communio Sanctorum).  Dengan demikian dapat kita definikan bahwa Jemaat adalah persekutuan orang-orang kudus, yaitu semua orang yang telah dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Maka dengan pernyataan ini Jemaat tidak didefinisikan oleh hierarki gereja atau gedung fisik, melainkan oleh kehadiran orang-orang percaya yang dipersatukan oleh Roh Kudus. 

Lalu, bagaimanakah jikalau jemaat merokok, atau dapatkah jemaat Lutheran merokok?.
Yang pertama kita harus tahu bahwa, Gereja Lutheran secara resmi tidak melarang jemaatnya merokok. Merokok dipandang sebagai masalah kebebasan Kristen (Adiaphora) dan etika pribadi, bukan sebagai dogma yang menentukan status dosa atau keselamatan. (𝚅𝚘𝚡.𝚟𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚜.𝚓𝚞𝚛𝚗𝚊𝚕) 

Bagi kalangan kami Lutheran mengklasifikasikan bahwa merokok dianggap sebagai adiaphora, yaitu hal-hal yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang secara eksplisit oleh Alkitab. Pandangan ini tidak dianut oleh semua gereja, terlebih dengan aliran Pentakosta atau Karismatik yang melarang keras rokok. Perbedaan ini terjadi bukan berdasarkan prinsip tafsiran atau kehendak, melain karna teologi Lutheran sungguh sungguh berpegang teguh pada prinsip Sola Fide (hanya oleh iman) yang artinya merokok atau tidak merokok tidak akan mempengaruhi keselamatan, dan kalaupun tidak merokok tidak menjadi jaminan keselamatan sebab kita hanya dapat dijamin selamat oleh karya Yesus. Status keselamatan seseorang dinilai murni karena anugerah Kristus, sehingga merokok dianggap sebagai pilihan gaya hidup pribadi. 

Namun meskipun Lutheran tidak melarang jemaat untuk merokok, jemaat Lutheran tetap didorong untuk mempertimbangkan etika Kristen berdasarkan dua aspek dari Alkitab: 
Menjaga Tubuh
Dalam kitab 1 Korintus 6:19 menyebutkan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus. Secara medis, rokok terbukti merusak kesehatan. Oleh karena itu, jemaat diajak untuk bertanggung jawab menjaga kesehatan tubuh pemberian Tuhan.
Bahaya Keterikatan
Dalam kitab 1 Korintus 6:12 mengingatkan agar manusia tidak diperhamba oleh apa pun. Kecanduan atau adiksi terhadap nikotin dipandang sebagai bentuk hilangnya penguasaan diri. 

IV. Apakah pesan topik ini untuk Pendeta dan Jemaat Tuhan
Pesan Utama untuk Pendeta Perokok
Sebagai pemimpin rohani dan gembala jemaat, pendeta Lutheran yang merokok menerima pesan etis yang lebih ketat terkait dampaknya terhadap orang lain :

Dengan tidak menjadi Batu Sandungan (Etika Skandalon). Rasul Paulus mengingatkan agar kebebasan kita tidak memicu orang lain jatuh dalam dosa (1 Korintus 8:9). Jika merokok merusak reputasi pelayanan atau melukai iman jemaat yang lemah, pendeta didorong untuk menahan diri. 

Pendeta bertugas melayani sakramen dan memberitakan Firman. Mereka wajib menjaga kekudusan jabatan dengan tidak merokok di lingkungan altar, ruang ibadah, atau saat mengenakan jubah kebesaran (talit/alba). 

Meskipun merokok bukan dosa yang menggugurkan keselamatan, pendeta tetap dipanggil menjadi teladan dalam menjaga bait Allah (tubuh) dan menunjukkan penguasaan diri terhadap adiksi.

Pesan Utama untuk Jemaat Perokok
Bagi anggota jemaat biasa, fokus utama terletak pada kesadaran pribadi di hadapan Tuhan dan sesama.

Anda Dibenarkan oleh Iman, Bukan Gaya Hidup.
Teologi Lutheran menekankan Sola Fide. Status Anda sebagai jemaat Tuhan tidak hilang atau berkurang hanya karena Anda merokok. Anda tidak perlu merasa dikutuk secara rohani. 

Gunakanlah Kebebasan untuk Melayani, Bukan Egoisme. Martin Luther menulis bahwa "Orang Kristen adalah tuan yang bebas dari segala hal, tidak tunduk pada siapa pun; sekaligus hamba yang tunduk pada segala hal, pelayan bagi semua orang." Gunakan kebebasan merokok Anda dengan bertanggung jawab—jangan merokok di dekat anak-anak, ruang ibadah, atau orang yang terganggu asapnya.

Uji Hati Terhadap Berhala Moderen, Jemaat diajak memeriksa diri. Jika keinginan merokok lebih kuat daripada ketaatan rohani atau merusak ekonomi keluarga, maka rokok telah menjadi "allah lain" (berhala) yang mengikat kebebasan Anda.

Dengan demikian, dapat saya simpulkan lewat penjelasan ini bahwa bagi Lutheran, rokok tidak menentukan masuk surga atau neraka. Namun, kasih kepada sesama harus selalu lebih besar daripada kebebasan pribadi. Baik pendeta maupun jemaat diminta saling menghormati, tidak saling menghakimi, dan mengutamakan kesehatan komunitas.

Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan kita untuk menerima dan mengambil keputusan yang baik dalam melakukan yang terbaik bagi hidup kita. Salam 😊

#vdma_luther
                                𝓟𝓮𝓷𝓭𝓮𝓽𝓪. 𝓐𝓻𝓭𝓲 𝓼𝓲𝓽𝓾𝓶𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓢. 𝓣𝓱
13 𝙰𝙿𝚁𝙸𝙻 2025

Hukuman disingkirkan - Anugerah Allah dinyatakan (Zefanya 3:14-17)

Hukuman disingkirkan - Anugerah Allah dinyatakan (Zefanya 3:14-17) 



Shalom... 
Firman Allah untuk kita. 
Zefanya 3:14
Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
Zefanya 3:15
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
Zefanya 3:16
Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.
Zefanya 3:18
seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.

Saudara saudari, Sebelum ayat 14, Kitab Zefanya dipenuhi dengan nubuatan murka Allah atas dosa, pemberontakan, dan ketidaksetiaan umat-Nya. Dan lewat Firman ini, kita di ingatkan bahwa secara moral dan secara rohani, tidak ada manusia berdosa yang lepas dari hukuman maut. Dengan keadaan kita berdosa, gagal dihadapan Allah membuat Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri melalui perbuatan baik atau usaha moralitas, selain oleh karena Iman kepada Krostus yang tersalib dan bangkit (Sola Fide - pembenaran hanya oleh iman). 
Penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah karya Allah untuk memperbaharui kita dalam seluruh aspek kehidupan kita, Ia memperbaharui kita dan memberi identitas baru yaitu orang orang yang telah dibenarkan. Oleh karena itu sukacita sorgawi sesungguhnya harus mewarnai kehidupan kita. Tingkah laku kita pun sesungguhnya harus memancarkan kasih dan kebenaran Allah. Hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran Allah maka semua kelaliman akan terusir dari kehidupan kita. Nilai-nilai inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang percaya, da  inilah buah yang murni dari Iman. 

Saudara saudari, apakah sukacita yang dimaksud oleh Allah dalam perikop ini ?. Sukacita dalam ayat ini bukan karena situasi hidup Israel yang sedang baik, melainkan karena apa yang telah Allah lakukan untuk mereka. Sebab kata "telah menyingkirkan hukuman" menunjuk langsung pada karya penebusan Kristus di kayu salib, dan itu adalah sukacita bagi Israel dan kita juga sebab Dialah sumber keselamatan kita. Ketika Yesus kita tersalib sesungguhnya Ia mengambil alih seluruh murka Allah yang seharusnya menimpa kita. Musuh terbesar kita—dosa, maut, dan iblis—telah dikalahkan. Maka melalui iman kepada Kristus, status kita telah diubahkan dari terhukum menjadi orang merdeka. Dalam  Formula Konkord Pasal III menegaskan bahwa kata "membenarkan" atau "menyingkirkan hukuman" berarti dinyatakan bebas dari dosa secara forensik. Dihadapan Allah, semua manusia dibebaskan bukan karena sifat baik yang ditanamkan ke dalam dirinya, melainkan karena ketaatan Kristus yang murni di kayu salib. Oleh karena itu, dalam buku konkord kita  juga ditegaskan bahwa Lutheran MENOLAK pandangan yang menyatakan bahwa kita harus menjadi suci dulu baru diselamatkan. Sungguh pengampunan itu murni anugerah, persis seperti janji Zefanya bahwa Tuhan sendiri yang mengusir musuh kita. 

Sekarang, Allah tidak lagi melihat kita dengan mata kemurkaan, melainkan dengan kasih yang menenangkan dan membaharui. Oleh karena itu, hiduplah dalam sukacita  yang bersumber dari Allah. Dan kiranya di tengah dunia yang menakutkan saat ini, hendaklah Gereja Tuhab dan seluruh kita orang percaya dipanggil untuk tidak menjadi lemah lesu, karena Sang Pahlawan Perkasa diam di antara kita, hari ini hingga Kristus datang, roh kudus Tuhan ada padaku dan padamu. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Kristus yang Membuka Pikiran dan Mengutus Gereja-Nya - KENAIKAN YESUS KRISTUS Lukas 24:44-53

Khotbah ibadah peringatan kenaikan Yesus
Shalom....
Firman Allah untuk kita.
Lukas 24:44 - 53

Saudara saudari, dalam bacaan kita evangelium pada ibadah peringatan hari kenaikan Yesus Kristus hari ini terambil dari kitab Lukas 24:44-53. Jikalau kita perhatikan dengan teliti, sesungguhnya perikop ini sedang menjelaskan kembali atau mengulangi pengalaman dari kedua murid Yesus yang berjumpa dengan Tuhan dalam perjalanan menuju ke Emaus, tetapi dalam perjumpaan ini tidak lagi hanya kepada mereka berdua melainkan dengan ke sebelas rasul yang telah berkumpul di Yerusalem. Dalam perjumpaan itu Yesus menunjukkan bukti-bukti bahwa Ia sungguh BANGKIT dan Dia sendirilah yang hadir ditengah-tengah mereka dengan menyodorkan tangan dan kakinya yang terluka akibat penyaliban. Dia ingin mereka melihat dan merasakan bukti-bukti itu. Sebab Yesus tahu bahwa mukjizat dan kekaguman tidak pernah cukup untuk membuat para murid yakin/percaya. Yesus ingin murid-murid memiliki pemahaman yang benar tentang Janji Allah sesuai Kitab Suci. Sebab, sebagai orang Yahudi, murid-murid (kesebelas rasul dan orang-orang yang ada bersama dengan mereka) telah tahu banyak tentang Kitab Suci mereka. Kitab Suci itu terdiri dari tiga bagian: 1. Hukum Musa, 2. Kitab Nabi-nabi dan 3. Nyanyian (Mazmur). Jadi ayat 44-45 menjelaskan bahwa kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka membuat mereka dapat memahami Kitab Suci yang ada pada mereka, yang sekarang kita sebut sebagai Perjanjian Lama. Oleh karena itu, lewat ibadah kita di kita di peringatan akan Kenaikan Yesus Kristus Firman Allah menyampaikan kepada kita dengan topik Thema :

 *Kristus yang Membuka Pikiran dan Mengutus Gereja-Nya*

 _1. Kegagalan/keberdosaan kita membuat kita bingung dan tidak mampu percaya._ 
Saudara-saudari, Bagi akal budi seluruh manusia, PERPISAHAN akan selalu membawa duka. Ketika para murid melihat Yesus terangkat ke surga, secara logis para murid seharusnya merasa kehilangan, yatim piatu, dan ketakutan. Namun, ayat 52 mencatat hal yang sebaliknya: "Mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Apakah yang membuat mereka bersukacita atau "Mengapakah ada sukacita di tengah perpisahan? 
Jawabannya bukan karena kekuatan mental para murid, melainkan karena pekerjaan Kristus yang mengikat mereka pada Firman Allah. Dalam ajaran kita di GKLI sesuai dengan teologi Lutheran diajarkan bahwa Iman dan sukacita sejati tidak lahir dari pengalaman mistis atau emosi manusia, melainkan bersumber dari luar diri kita (extra nos), yaitu dari janji Kristus yang objektif. 
Memang, kita harus mengerti bahwa sebelum Yesus membuka pikiran mereka (45) para murid berada dalam keadaan bingung, kecewa, dan mengira bahwa kematian Yesus adalah kegagalan politik (kehilangan pemimpin dan harapan). Oleh karena itu, dari kegagalan murid dan kegagalan kitalah hendaknya kita tahu dan percaya bahwa Iman dan sukacita sejati tidak datang dari perasaan subjektif, melainkan dari kepastian objektif Firman Tuhan (extra nos—di luar diri manusia) sehingga melahirkan sukacita dan pengharapan yang benar akan Yesus Kristus yang berakhir pada pertobatan total (penyerahan diri kepada Kuasa Tuhan).

Saudara-saudari, apakah hal yang sama ini terjadi dalam hidup kekristenan kita ?.
Tentu, ya - sebab setiap manusia berdosa telah mengalami kebutaan rohani secara total (total depravity). Maka tanpa Roh Kudus dan pekerjaan Kristus yang membuka pikiran, sesungguhnya kita tidak akan mampu percaya kepada Yesus yang tidak kelihatan, baik memahami isi Alkitab dengan benar. Melalui Yesus Kristus, Alkitab menjadi Injil (Evangelium) yang menghidupkan.
Dalam teologi Lutheran, seluruh Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru hanya akan dapat dipahami dengan benar jika dibaca secara Christocentric (berpusat pada Kristus). Sebab Taurat, Nabi-Nabi, dan Mazmur bukanlah buku moralitas atau hukum sipil belaka, melainkan nubuat yang mengarah pada salib dan kebangkitan Yesus. 
Oleh karena itu, hendaklah dalam tiap tiap kita membaca dan merenungkan firman-Nya, Kita harus selalu berdoa meminta Roh Kudus menerangi hati kita setiap kali membuka Alkitab, dan akuilah bahwa kita tidak bisa mengenal Yesus tanpa anugerah-Nya.

 _2. Dalam kegagalan Kita Kristus datang menguatkan dan membuka Pikiran kita._ 
Saudara saudari, hari ini firman Tuhan berkata pada seluruh umat Tuhan di GKLI bahwa Kristus tidak menunggu kita menjadi sukses, pintar, atau suci untuk datang kepada_Nya. Sebaliknya, justru di titik terendah "ketika kita gagal, berdosa, dan putus asa Kristus datang mengintervensi dengan memberi anugerah-Nya".
Dalam perikop kita hari ini, keterpisahan antar Yesus dengan murid menghadirkan suka cita besar karna sesungguhnya Kristus telah membuka pikiran para murid. Yesus yang datang ke tengah tengah para murid tidak untuk menghukum atau memarahi kegagalan mereka. Di ayat 45, Ia justru membuka pikiran mereka (opened their minds). Sekarang marilah kita mengakui bahwa kegagalan manusia sering kali menjadi cara Allah untuk menghancurkan kebenaran diri sendiri (self-righteousness). Ketika akal budi dan kekuatan kita mentok, di situlah kita siap menerima kebenaran Kristus yang murni (Sola Gratia). Kristus menguatkan para murid bukan dengan memberikan tips MOTIVASI seperti khotbah masa kini agar mereka "mencoba lebih keras lagi," melainkan Kristus datang untuk menyatakan bahwa kegagalan dan dosa mereka telah ditanggung dan diampuni di atas salib. Apakah ini berita suka cita bagi kita ??. Tentu sebab semua kita adalah sama sama orang yang gagal di hadapan Allah, namun hari ini saya menyampaikan bahwa dalam kegagalan itu Justru Tuhan datang menguatkan dan membenarkan kita. Di ayat 49, Yesus berkata, "Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." Ini bukanlah hanya kata kata penghiburan di atas kesedihan para murid melainkan kabar baik, sebab peristiwa KenaikanNya, membuat kita yakin bahwa "Kristus yang naik ke surga tidak untuk meninggalkan kita yang gagal. Melainkan, Ia naik untuk bertakhta, dan dari takhta-Nya, Ia terus mengalirkan pengampunan dan kekuatan melalui Firman-Nya. Ketika pikiranmu buntu oleh masalah dunia, datanglah kepada Firman-Nya. Biarkan Kristus yang membuka pikiranmu dan memulihkan jiwamu hari ini."

Saudara saudari, ingatlah bahwa selama Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Sebab Kristus yang naik ke surga kini hadir dan memerintah di bumi melalui Means of Grace (Sarana-sarana Anugerah), yaitu melalui Firman yang diberitakan oleh para saksi-Nya dan melalui Sakramen yang kita terima di GKLI. Jadi, sekarang Gereja Tuhan diutus bukan untuk membawa ideologinya sendiri, melainkan menjadi saksi objektif dari kematian dan kebangkitan Kristus, dan memberitakan bahwa Kristus selalu ada dalam hidup kita, sungguh Yesus Kristus akan selalu hadir dalam hidupmu (Om ni present). 
Dalam sebuah buku Lutheran, ada terkutip "Keselamatan dan misi Gereja adalah murni pekerjaan Allah (Monergisme)". Dengan demikian kita percaya bahwa meskipun Yesus meninggalkan murid secara kasar mata mereka namun para murid tetap bersukacita karena beban pelayanan tidak lagi ditaruh di atas pundak kekuatan manusiawi mereka, melainkan di atas jaminan kuasa Roh Kudus yang mereka terima. 
Sekarang kita harus bersukacita, sebab Kristus tetap ada bersama sama dengan kita sebab dimana ada Roh Kudus, maka Yesus Kristus dan Allah akan ada bersama sama, roh Kudus ada pada setiap orang percaya, dan itu adalah anugerah Allah yang diberikan atas kita. 
Dalam buku konkord kita, Luther menulis: "Aku percaya bahwa oleh akal budiku atau kekuatanku sendiri, aku tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, tetapi Roh Kudus telah memanggil aku melalui Injil." Roh Kudus yang melahirkan-kembalikan iman di dalam hati yang keras. Tidak ada hati yang keras dihadapan Tuhan, intinya sekarang marilah kita menyesal akan keberdosaan kita, dan percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dalam tiap tiap perayaan kita, khususnya di GKLI meskipun kita tidak dapat melihat Yesus secara kasar mata, namun kita akan melihat dan menyentuh Tubuh Yesus secara nyata dalam Iman lewat perjamuan Kudus, artinya Tuhan selalu memelihara dan menjaga kita. Roh KudusNya telah di berikan untuk kita dan Ia ada bersama sama dengan kita, Roh Kudus akan memberikan keberanian dan hikmat bagi kita untuk bersaksi. Kata bersaksi dalam teologi GKLI bukanlah untuk memamerkan kehebatan hidup kita, melainkan menunjuk pada karya salib Kristus yang menyelamatkan orang berdosa.

Kenaikan Kristus dalam evangelium kita di ibadah hari ini, bukanlah cerita tentang perpisahan yang tragis, melainkan tentang kemenangan total Kristus atas dosa dan maut. Alkitab telah digenapi, pikiran kita telah dibuka, dan pengampunan dosa telah dianugerahkan secara cuma-cuma bagiku dan bagimu sekalian. Dan saya berharap, lewat pendengaran akan khotbah ini, marilah kita pulangn ke dalam kehidupan sehari-hari kita dari Gereja ini dengan penuh sukacita yang sama seperti para murid. Sebab Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa adalah Kristus yang sama yang selalu menyertai, mengampuni, dan memberkati kita melalui Firman-Nya yang kudus. Dalam tiap tiap Minggu kita menerima berkat (benediksi). Demikianlah Citra terakhir yang melekat di mata para murid saat Yesus yang terangkat bukanlah punggung yang meninggalkan mereka, melainkan tangan yang terluka oleh paku namun terangkat untuk terus memberkati, kiranya Tuhan selalu memberkati kita semua. Aminnnn ❤ 

#vdma_luther

theologi Lutheran

Hidup Jemaat Mula-mula yang Sehati, Sejiwa, dan Rela Berbagi - Kisah Para Rasul 4:32-37

Shalom...  Firman Allah untuk kita. Kisah Para Rasul 4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa...

what about theologi luther ?