Kamis, 22 Agustus 2024

Jangan Menolak Juru selamat - Kisah para Rasul 7 : 17 - 22

Selamat pagi. 
Firman Tuhan untuk kita hari ini. 
Kisah Para Rasul 7 : 18
sampai bangkit seorang raja lain memerintah tanah Mesir, seorang yang tidak mengenal Yusuf.
Kisah Para Rasul 7 : 19
Raja itu mempergunakan tipu daya terhadap bangsa kita dan menganiaya nenek moyang kita serta menyuruh membuang bayi mereka, supaya bangsa kita itu jangan berkembang.
Kisah Para Rasul 7 : 20
Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya.
Kisah Para Rasul 7 : 21
Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.
Kisah Para Rasul 7 : 22
Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.

Saudara saudari, Setelah menyinggung tentang Abraham yang dipilih karena anugerah Allah dan Abraham meresponsnya dengan iman dan taat kepada perintah Allah, khotbah Stefanus beralih kepada Yusuf dan Musa.

Kedua tokoh ini sama-sama sebagai pembebas. Namun mereka ditolak oleh saudara-saudara mereka. Saudara-saudara Yusuf membenci dia karena dia anak kesayangan Yakub dan karena mimpinya yang seolah-olah "merendahkan" mereka, hingga mereka menjualnya ke Mesir sebagai budak. Namun dengan jalan demikian, Allah mempersiapkan Yusuf untuk menjadi pembebas keluarga besarnya ketika kelaparan melanda bumi. Mereka menolak Yusuf, tetapi Allah mempersiapkan dia untuk menjadi perdana menteri di Mesir. Dengan demikian, ia menjadi pemelihara hidup keluarga besar Yakub. Saudara-saudaranya akhirnya menerima dia dan pengampunannya atas kesalahan mereka.

Tuhan menggenapi janji-Nya kepada Abraham. Ada tujuh puluh lima orang yang datang ke Mesir, termasuk Yusuf dan anak cucunya. Lalu orang Israel terus bertambah banyak, walaupun mengalami penindasan yang berat. Firaun yang kemudian tidak mengenal Yusuf bahkan memberikan perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Usahanya tidak berhasil, karena Allah menyelamatkan Musa, seperti Dia menyelamatkan Yesus dari tangan raja Herodes. Bahkan Allah memilih Musa sebagai pembebas umat Israel di mana Musa sendiri rela meninggalkan segala kenyamanan hidup karena ingin turut menderita sengsara dengan umatnya. Namun seperti halnya Yusuf, saudara-saudaranya juga mula-mula menolak dia, walau kemudian menerimanya.

Dengan menyinggung dua tokoh tersebut, Stefanus mau menyatakan bahwa dengan cara yang sama orang Yahudi pada zamannya juga telah memperlakukan Yesus dengan menolak dan membunuh Dia. Namun satu hari kelak mereka akan mengakui Dia (lihat Why. 1:7). Orang-orang di sekitar kita pun banyak yang masih menolak Kristus. Kita perlu berdoa agar Tuhan membuka mata iman kita hingga mereka mau menerima Tuhan Yesus.

Kiranya Kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara kita semua. Amin 🙏🙏a

Rabu, 21 Agustus 2024

Berlomba melakukan yang terbaik -Kisah pAra rasul 7 : 1 - 16

Selamat pagi 

Firman Tuhan Untuk kira hari ini. 
Kisah Para Rasul 7 : 2
Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,
Kisah Para Rasul 7 : 3
dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Kisah Para Rasul 7 : 4
Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran. Dan setelah ayahnya meninggal, Allah menyuruh dia pindah dari situ ke tanah ini, tempat kamu diam sekarang;
Kisah Para Rasul 7 : 5
dan di situ Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan setapak tanahpun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu kepadanya menjadi kepunyaannya dan kepunyaan keturunannya, walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak.

Saudara saudari, Apa tujuan khotbah Stefanus dalam rangka membela dirinya terhadap tuduhan fitnah? Khotbah panjang itu pada intinya sedang membahas dua tema penting. Tema pertama, bahwa sepanjang sejarah umat Tuhan, Tuhan telah membangkitkan hamba-hamba-Nya untuk memimpin dan menyelamatkan Israel: Abraham (ayat 2-8), Yusuf (ayat 9-22), dan Musa (ayat 23-43). Namun Israel berulang kali menolak mereka bahkan melanggar firman-Nya. Tema kedua adalah bahwa mereka telah menerima kemah suci dan Bait Allah sebagai tempat ibadah mereka, tetapi mereka menyembah berhala dan menyalahgunakan tempat kudus Allah itu sebagai jaminan ke-hadiran dan berkat Allah (ayat 44-53). 

Anugerah Allah nyata ketika Tuhan memilih dan memanggil Abraham keluar dari negerinya yang masih menyembah berhala, untuk menjadi cikal bakal umat Allah yang menerima segala janji dan berkat-Nya. Janji itu luar biasa. Bukan kepada Abraham langsung, tetapi kepada keturunannya, yaitu umat Israel. Mereka akan memiliki tanah pusaka (ayat 5). Memang sebelum itu mereka akan mengalami dulu diperbudak oleh bangsa musuh, tetapi Tuhan menyelamatkan mereka. Sebagai tanda bahwa mereka adalah milik Tuhan, Abraham dan keturunannya diikatkan dengan perjanjian sunat. Sunat menjadi tanda keumatan Israel (ayat 8). 

Stefanus mulai dengan memaparkan anugerah Allah yang begitu besar. Anugerah tersebut harusnya direspons dengan syukur dan sukacita, disertai tekad untuk setia kepada Tuhan dan tidak berpaling kepada ilah-ilah bangsa lain. Kita yang hidup dalam era gereja, telah merasakan dan menikmati anugerah yang jauh lebih besar daripada tanah pusaka di muka bumi ini. Kita telah menerima pusaka kekal di surga oleh karya Kristus. Tentu respons yang seharusnya adalah kita setia mengikut Dia dan giat mengabarkan Injil keselamatan-Nya agar orang lain pun beroleh anugerah besar tersebut. Sudahkah kita menjalankan tugas dan panggilan tersebut dengan setia dan rajin?
Mari berlomba untuk melakukan yang terbaik 👍💯.. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Selasa, 20 Agustus 2024

Mazmur 15 : 1 - 5 Siapakah yang boleh menumpang di kemah Allah? MAZMUR DAUD

Selamat pagi. 

Firman Tuhan untuk kita. 
Mazmur 15 : 1
Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
Mazmur 15 : 2
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
Mazmur 15 : 3
yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
Mazmur 15 : 4
yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
Mazmur 15 : 5
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.


Saudara saudari, Pemazmur bertanya kepada Tuhan: Siapakah yang boleh menumpang di kemah-Mu? Siapakah yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Beberapa pertanyaan ini disampaikan pemazmur karena ia melihat betapa tercela dan bobroknya kehidupan umat Allah. Mereka melakukan perbuatan yang tidak adil, pembohong, menyebar fitnah, melakukan perbuatan keji terhadap teman, menimpakan celaka kepada tetangga, dan menindas orang lemah.

Kehidupan umat Allah tidak lagi mencerminkan perilaku yang penuh kebenaran Tuhan. Yang ditonjolkan oleh mereka adalah kehidupan yang penuh kehancuran. Karena itu pemazmur bertanya kepada Tuhan, "Siapakah yang boleh menumpang dikemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?" 

Di sini pemazmur ingin menyadarkan umat Allah bahwa sudah saatnya mereka meminta pengampunan Allah, bertobat, dan mengubah perilaku serta perbuatan mereka. Sebab hanya orang yang berkenan di hadapan Allah yang layak menghampiri Allah dan tinggal bersama-sama dengan Allah di dalam hadirat-Nya. 

Pertanyaannya adalah seperti apakah orang yang berkenan di hadapan Allah itu?

Pemazmur mengatakan bahwa orang yang layak adalah mereka yang hidupnya tidak bercela, melakukan keadilan dan kebenaran (2). Mereka juga tidak berbuat jahat terhadap sesamanya (3), tidak memandang hina orang yang tersingkir (4), dan tidak mencari keuntungan diri sendiri (5). Umat Allah dipilih-Nya untuk dapat beribadah di gunung-Nya yang kudus. Tujuannya adalah untuk menjadi umat Allah yang hidup kudus dan berkenan di hadapan Allah. Hidup kudus dan berkenan di hadapan Allah tentu harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti apa seharusnya praktik hidup seorang umat Allah? 
Pertama, menghidupi keadilan dan kebenaran dengan sepenuh hati. Tentu, keadilan dan kebenaran ini bersumber dari Allah. Kita tidak hanya belajar tentang keadilan dan kebenaran Allah, tetapi juga mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. 
Kedua, mengasihi sesama. Praktiknya bisa dilakukan dengan berkata jujur, berbuat baik, tidak menghina orang lain, memuliakan orang yang takut akan Tuhan, dan tidak egois.

Orang yang berkenan di hadapan Allah adalah orang yang tidak hanya mengasihi Allah dan sesama lewat ucapan mulutnya, tetapi juga yang mempraktikkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, ia memiliki integritas diri sebagai umat Allah. Segala pikiran, perkataan, dan tindakannya selaras dengan kehendak Allah. Inilah kualitas umat Allah yang kudus. pemazmur mengatakan bahwa orang-orang seperti inilah yang akan teguh selama-lamanya.

Oleh karena itu, mari Jalankanlah integritas hidup sebagai umat Allah yang telah menerima anugerah keselamatan dengan tetap hidup kudus di hadapan Allah serta manusia. Itulah bukti kasih kita kepada Allah: melakukan kehendak-Nya dengan taat dan setia. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. 
Amin 🙏

Senin, 19 Agustus 2024

Jangan Takut untuk Menyatakan Kuasa Yesus Kristus - Kisah para Rasul 5 : 28 - 32

Selamat pagi... 


Firman Tuhan untuk kita. 
Kisah Para Rasul 5 : 28
katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."
Kisah Para Rasul 5 : 29
Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.
Kisah Para Rasul 5 : 30
Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.
Kisah Para Rasul 5 : 32
Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia."

Saudara saudari, ketika Para rasul kembali ditangkap, namun Petrus tetap memiliki keberanian untuk memberitakan Yesus : "yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh" (ay. 27-32). Setelah melalui perdebatan yang sengit itu, para rasul "hanya" disesah dan kemudian dilepaskan disertai perintah untuk tidak memberitakan tentang Yesus lagi (33-40). Namun keadaan ini tidak membuat para rasul "jera" bahkan mereka bergembira karena telah dianggap layak untuk menderita bagi nama Yesus (41-42). Dengan istilah "semakin di babat semakin merambat" Atau Semakin ditekan semakin hebat.

 Pertumbuhan gereja mula-mula disertai dengan tekanan yang dialaminya dalam dua gelombang. Gelombang pertama, mereka dilarang untuk memberitakan Injil dan diberi peringatan, respons para rasul seperti yang sudah pernah kita lihat (4:23-31). Gelombang kedua, mereka menerima larangan dan menerima siksaan. Hasilnya mereka bersukacita dan berani menentang kekuasaan Sanhedrin demi ketaatannya kepada Allah. Tekanan, penganiayaan bahkan pembunuhan sekalipun terhadap Kristen tidak akan menghancurkan Gereja Tuhan. Sebaliknya hal-hal demikian akan makin menyucikan dan menumbuhkan Gereja Tuhan. Karena itu, janganlah takut untuk tetap berbuat baik, dan tetaplah kabarkan berita tentang Kristus melalui kehidupan kita setiap hari. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara kita semua... Amin

Minggu, 18 Agustus 2024

Indahnya Gereja Mula Mula - Kisah Para rasul 5 : 12 - 17

Selamat pagi

Firman Tuhan untuk kita. 
Kisah Para Rasul 5 : 12
Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.
Kisah Para Rasul 5 : 14
Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan,
Kisah Para Rasul 5 : 15
bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.

Saudara saudari, Apakah yang membedakan Gereja perdana dengan GEREJA-GEREJA masa kini pada umumnya? Gereja mula-mula penuh dengan keterbatasan, tetapi mampu memberikan pengaruh yang luar biasa di lingkungannya pada zamannya. Kehadiran Gereja mula-mula di dunia ini membawa dampak besar dan itu tampak dalam tiga fenomena. 
Yang pertama, walaupun mereka merupakan komunitas kecil, tetapi orang luar sangat menghargai mereka (ayat 13). 
Kedua, dalam keterbatasannya mereka mampu menarik banyak orang untuk percaya kepada Yesus (ayat 14). 
Dan yang ketiga, mereka mampu membagikan kasih Allah kepada banyak orang melalui mukjizat penyembuhan dan pembebasan dari roh jahat (ayat 12, 15-16). Secara manusiawi ketiga hal ini mustahil bisa dimiliki oleh sekelompok kecil orang. Namun kenyataannya, mereka memilikinya. 

Adapun rahasia ledakan yang dibawa oleh gereja mula-mula ini terletak pada dua hal. Gereja mula-mula mampu mempengaruhi dunianya karena adanya kuasa Allah yang bekerja di tengah-tengahnya (ayat 12a). Selain itu persekutuan mereka yang intensif sebagai tubuh Kristus juga menjadi rahasia pengaruhnya (ayat 12b). Dua hal ini mampu menghasilkan ledakan besar yang melanda dunia saat itu tanpa bisa dihentikan. Apabila dua hal ini dimiliki juga oleh kita, Gereja Tuhan yang hidup di masa kini, maka tentu saja kita bisa bangkit dari kemandekan. Secara umum, Gereja sekarang sudah lama tidur. Kita begitu disibukkan dengan program-program rutin Gereja sehingga melupakan yang lebih penting dari itu. Kita melayani Allah, tetapi tidak mengalami kuasa-Nya. Kita selalu berkumpul di dalam Gedung Gereja, tetapi tidak membangun persekutuan. Ini ironis sekali. Gereja harus bangkit kembali dengan kuasa Allah dan memelihara persekutuannya. Dengan inilah kita bisa membuat suatu ledakan di zaman kita ini sebagaimana pengalaman Gereja mula-mula. 

Oleh karena itu, sekarang Gereja juga harus berperan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (lihat 1Tim. 3:15). Hal ini penting karena Gereja yang murni dan tetap berdiri di dalam kebenaran akan menghasilkan dampak yang besar dalam kehidupan Gereja maupun masyarakat. Inilah yang kita saksikan di jemaat mula-mula. Pertama, karya Allah semakin nyata dan meluap di tengah-tengah umat-Nya. Allah akan terus bekerja di dalam dan melalui gereja, baik disertai tanda mukjizat yang ajaib (12, 15-16), maupun yang tidak terlihat secara fisik. Inilah yang Allah telah lakukan di sepanjang sejarah Gereja. Kini Yang paling terpenting adalah pertobatan yang diselamatkan karena ini juga merupakan mukjizat terbesar yaitu perubahan orang berdosa menjadi anak Allah oleh kasih karunia_Nya. Kedua, jemaat akan tetap bersatu dalam persekutuan yang erat (12) dan mendapat rasa hormat dari luar (13). Ketiga, Gereja akan terus bertumbuh (14) dan menjangkau semua orang (14) karena mereka semua mendapat bagian dalam anugerah keselamatan Tuhan. 

Oleh karena itu, bersandarlah sepenuhnya kepada Allah yang bekerja dalam keilahiannya di balik kelemahan manusiawi. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🙏

Sabtu, 17 Agustus 2024

Orang percaya harus Hidup untuk melakukan karakter Kristus - Efesus 5 : 6 - 21

Selamat pagi Jala selamat hari minggu
 

Firman Allah untuk kita. 
Efesus 5 : 6
Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
Efesus 5 : 8
Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
Efesus 5 : 14
Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
Efesus 5 : 15
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
Efesus 5 : 16
dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

Saudara saudari, Hidup manusia baru yang telah mengalami penebusan Kristus adalah kehidupan di dalam terang. Terang itu tampak dan terlihat mata. Terang itu juga meniadakan kegelapan. Di mana ada terang, di situ tidak ada kegelapan. Sebaliknya, terang dan gelap tidak dapat bersatu dalam satu tempat secara bersamaan.

Paulus mengingatkan hidup anak-anak terang harus berbeda dari hidup anak-anak gelap (3-6). Ia mengakui: "Memang kamu dahulu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu, hiduplah sebagai anak-anak terang" (8). Orang Kristen memiliki kisah lama, tetapi sekrang ia sudah hidup dengan status yang baru.

Paulus berkata, "Jangan kamu berkawan dengan mereka" (7), yang berarti "ambil bagian (partakers)". Ayat ini bukan berarti bahwa orang Kristen tidak boleh berteman sama sekali dengan orang yang berbeda Iman. Hal yang hendak Paulus katakan adalah mendorong orang Kristen menjadi terang yang menghasilkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran (9), yang mencerminkan karakter Yesus Kristus (2), yakni hidup yang selalu mengucap syukur (4), dengan mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani atas nama Tuhan Yesus (19-20).

Kehidupan anak gelap berbeda dengan kehidupan anak terang. Karena itu, kita tidak boleh bergaul atau ambil bagian dengan kehidupan masa gelap. Kita tidak boleh turut melakukan perbuatan perbuatan gelap, antara lain: percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, perkataan hampa, perkataan semborono (3-4). Sebab itu adalah kenajisan yang mendatangkan murka terhadap Allah dan membuat kita tidak mendapatkan bagian dalam kerajaan Allah (5-6).

Melalui Paulus, Allah begitu tegas menyatakan bahwa hidup orang Kristen sudah seharusnya dalam terang. Tidak bermain-main dengan dosa. Menyebut dosa mereka saja pun sudah memalukan (11-12), apalagi terlibat. Hal itu sangat mendukakan Allah. Jika ada orang Kristen yang menikmati dosa, ia bukanlah manusia baru. 

Yang pertama, Paulus tidak ingin jemaat di Efesus tercatat oleh waktu sebagai anak-anak terang yang hidup dalam kegelapan. Kedua, Paulus ingin agar jemaat Efesus mempergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Yaitu, dalam pengertian menggunakan waktu dengan efisien dan efektif untuk pekerjaan dan pelayanan Tuhan, bukan untuk hidup dalam berbagai kecemaran dosa yang menyesatkan dan membawa kepada kebinasaan. 

Waktu terus berjalan. Ingatlah bahwa apa yang telah kita perbuat pasti tercatat dalam waktu dan tidak mungkin dapat dihapus oleh siapapun juga. 

Salam minggu untuk kita semua, mari kita datang berjumpa dengan Tuhan. 
Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara kita semua. 

Amin

Jumat, 16 Agustus 2024

Merdeka di dalam Kristus Yesus - Galatia 5 : 13 - 16

Selamat pagi dan selamat memperingati hari merdeka. 

Firman Allah untuk kita hari ini. 
Galatia 5 : 13
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Galatia 5 : 14
Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
Galatia 5 : 15
Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.
Galatia 5 : 16
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

Saudara saudari, Bangsa yang merdeka memiliki kedaulatan ata dirinya sendiri. Mereka berhak menentukan arah kebijakan dan segala aktivitasnya. Namun, sebuah bangsa tidak pernah hidup terisolasi dari bangsa yang lain. Kemerdekaan suatu bangsa selalu berhubungan dengan relasinya dengan bangsa lain. Kemerdekaan tidak lantas membuat suatu bangsa bisa sesuka hati bertindak, apalagi jika tindakan tersebut membahayakan bangsa lain dan kelangsungan hidup di seluruh muka bumi.

Demikian pula kiranya kemerdekaan Kristen. Rasul Paulus menyebutkan bahwa hasil dari karya Kristus adalah kemerdekaan. Kemerdekaan itu berarti bahwa tindakan orang percaya tidak diikat oleh berbagai peraturan. Namun, kemerdekaan dari peraturan itu bukan berarti kita, sebagai orang percaya, dapat menjalani hidup dengan sesuka hati. Kemerdekaan dari Kristus bukan kesempatan untuk berbuat dosa, tetapi harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (13-14).

Kebebasan tanpa norma sama sekali bukan kebebasan melainkan bencana. Banyak orang Kristen salah memahami dan salah memaknai kemerdekaan yang sejati. Seakan-akan bebas dari dosa berarti bebas untuk berbuat dosa. Mengapa bisa timbul salah pengertian seperti ini? 

Kesalahan pertama adalah karena tidak mengerti fungsi hukum Taurat secara tuntas. Karena keselamatan adalah anugerah dan bukan diperoleh dengan menaati hukum Taurat, banyak orang merasa ajaran-ajaran etika di hukum Taurat pun tidak perlu diberlakukan. Akibatnya mereka merasa sah saja melanggar hukum Taurat. Padahal hukum Taurat mengajarkan jalan-jalan yang benar untuk dilakukan anak-anak Tuhan. Tuhan Yesus sudah merangkum hukum Taurat menjadi hukum kasih (ayat 14). Kesalahan kedua adalah karena salah mengerti maksud Tuhan menyelamatkan orang berdosa. Seseorang diselamatkan agar menjalani hidup dalam kasih. Jadi, anak-anak Tuhan dimerdekakan dari perbudakan dosa dan dari kutuk hukum Taurat supaya dapat mempraktikkan kasih ilahi kepada sesamanya. Bagaimana cara mempraktikkan hukum kasih itu dan tidak terjerat kepada keingingan-keingingan daging? Hanya satu cara, yaitu dengan menyerahkan hidup kita dipimpin oleh Roh. Kita harus melawan setiap keinginan daging yang masih mau menguasai kita dengan cara membiarkan Roh Tuhan memimpin hidup kita (ayat 16-18). 

Orang yang belum diselamatkan berbuat dosa karena memang dibelenggu oleh kuasa dosa. Namun, anak-anak Tuhan hidup mempraktikkan keadilan, kebenaran, dan kekudusan sebagai pernyataan kasih mereka kepada Kristus dan kepada sesama. Bukti kasih mereka kepada Kristus adalah berupa kerelaan diatur dan dipimpin oleh Roh. Bukti kasih mereka kepada sesama adalah menjadi berkat dan teladan hidup beriman bagi sesama. 

Kiranya, prinsip kemerdekaan ini terus-menerus menjadi landasan bagi kita dalam menjalani kehidupan pada saat ini. Di tengah dunia yang semakin egois dan apatis, orang Kristen memiliki kemerdekaan untuk tetap memilih mengasihi orang lain. Di tengah pergaulan yang sarat kepentingan, kita memiliki kemerdekaan untuk tetap bertindak tulus. Di tengah hunjaman kebencian, orang Kristen tetap memiliki kemerdekaan untuk mengasihi dan mengampuni. Di tengah masyarakat yang terkotak-kotak berdasarkan agama, orang Kristen memiliki kemerdekaan untuk tetap menjalin relasi yang baik dengan umat beragama lain. Kemerdekaan itu menjadi suluh bagi kita untuk menjalani cara hidup yang tidak serupa dengan dunia ini (Rm. 12:1-2).


Merdeka..Merdeka.. Merdeka.. Kiranya Kasih Setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memeliharanya kita semua. 
Amin. 😊

theologi Lutheran

Bahan Persekutuan Doa - Ibadah Muda mudi Lutheran GKLI di minggu Letare

Acara Ibadah Kebaktian Muda Mudi GKLI 21 Maret 2026   1.       Bernyanyi dari KJ No. 03 : 1 – 3 (Kami Puji dengan riang) 1. Kami puj...

what about theologi luther ?