Jumat, 08 Mei 2026

Lukas 20:17-19 // Penolakan manusia dan kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan


Firman Allah untuk kita. 
Lukas 20:17
Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: "Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?
Lukas 20:18
Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."
Lukas 20:19
Lalu ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala berusaha menangkap Dia pada saat itu juga, sebab mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu, tetapi mereka takut kepada orang banyak.


Saudara saudari, renungan kita hari ini berfokus pada dinamika antara penolakan manusia dan kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan. 
Jikalau kita perhatikan dalam kita kitab Injil, seringkali Yesus menegur para ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala, namun tetap bersikukuh pada kebenaran diri mereka masing-masing. Memang dari sinilah kita harus tahu bahwa seluruh orang berdosa tidak mungkin bisa berubah dan bertobat dari dosa-dosanya kalau bukan karena anugerah Tuhan yang lebih dahulu dicurahkan kepada mereka.

Perumpamaan tentang penggarap penggarap anggur ini di pergunakan oleh Yesus untuk menggambarkan kehidupan nyata dari pemimpin agama bahkan kita secara pribadi sekalipun. Sebab nyata, bahwa dalam hidup ini sering kali lupa bahwa kehidupan dan berkat adalah milik Allah. Kita cenderung ingin menjadi "pemilik" atas hidup kita sendiri.

Lalu pertanyaanya kepada kita, Apakah kita memperlakukan anugerah Allah sebagai hak milik yang bisa kita kendalikan, atau sebagai pemberian yang kita kelola dengan penuh ucapan syukur?. Percayalah bahwa Yesus kristus akan tetap dan selalu untuk menjadi dasar hidup bagi kita, baik saat kita menerima-Nya sebagai landasan yang kokoh atau justru saat terantuk oleh-Nya yang mungkin karena kesombongan kita atau kebebalan.

Dalam perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, kita dapat mengerti bahwa betapa jahat perbuatan ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala. Yesus mengumpamakan mereka sebagai penggarap-penggarap yang menyewa kebun anggur dimana pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri. Ketika suatu kali, si pemilik mengutus hambanya untuk meminta hasil kebun anggurnya, para penggarap kebun malah memukul dan menyuruh dia pulang tanpa hasil. Demikianlah kejadian ini berulang sampai hamba yang ketiga diutus. (Luk.11:49). Terakhir, si pemilik kebun anggur mengutus anaknya sendiri untuk melakukan tugas yang sama, seperti yang telah dilakukan hamba-hamba ayahnya sebelumnya. Namun apakah yang terjadi? 
Mereka melemparkan si anak itu keluar dan membunuh dia karena dialah ahli waris dari pemilik kebun anggur itu. Para penggarap ternyata tidak melaksanakan tugas dengan benar, malah mereka melakukan kejahatan yang luar biasa. 
Dalam kejahatan mereka itu, justru Tuhan datang menegur dengan keras, bahwa barangsiapa yang masih bermain-main dengan Tuhan, akan hancur dan remuk (18).

Perumpamaan ini adalah termasuk juga bentuk dari kehidupan orang orang Israel, sebab mereka juga telah berulang kali menolak Kerajaan Allah. Berkali-kali Allah mengutus nabi-nabi-Nya kepada mereka, hingga pada akhirnya anak Allah datang ke tengah tengah mereka lewat menjadi manusia dan berbicara kepada mereka. Namun tetap saja, mereka menolak. Bahkan dengan kejam mereka menyalibkan Yesus sebagai puncak pemberontakan mereka.

Demikianlah Yesus mengatakan "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru". Siapakah Batu penjuru itu? Bagi kaum Lutheran berdasarkan Alkitab Batu Penjuru adalah Yesus Kristus (Lukas 20:17, Maz.118:22). Hal ini berarti bahwa Yesus adalah pusat dari seluruh Kitab Suci, iman, dan gereja. Tanpa Yesus sebagai batu penjuru, seluruh ajaran agama akan runtuh menjadi sekadar aturan moralitas belaka.
Yesus menjadi batu penjuru justru melalui penolakan dan penderitaan. Dunia (para tukang bangunan) melihat Salib sebagai kegagalan atau kebodohan, sehingga mereka membuangnya. Namun, melalui kebangkitan-Nya, Allah menjadikan "batu yang dibuang" itu sebagai bagian terpenting dari KESELAMATAN manusia.

Oleh karena itu, marilah kita mengenali siapa pemilik hidup kita. Kita harus sadar bahwa hidup, talenta, harta, bahkan gereja adalah milik Allah, bukan milik kita. Penggarap dalam perumpamaan itu dihukum karena mereka mulai merasa bahwa mereka adalah pemiliknya. Sekarang kita dipanggil untuk hidup sebagai "PENATALAYAN" yang setia, dengan menyadari dan mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah titipan anugerah yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah. 
Dalam kehidupan ini, marilah kita renungkan bahwa Kristus terus menerus mengetuk pintu hati kita melalui firman-Nya. Mengajak kita untuk bertobat dan tidak mengeraskan hati, karena menolak Kristus berarti menjatuhkan diri kita sendiri ke dalam penghakiman. Sungguh Kegagalan kita tidak bisa membatalkan rencana keselamatan yang telah Allah lakukan lewat Yesus, namun ketika kita menolak dan tidak percaya akan anugerahNya, maka kita bukanlah milik Allah dan layak di lemparkan kedalam api neraka.

Marilah kita tetap hidup dalam kerendahan hati dan berhentilah untuk mengandalkan kekuatan sendiri. Mulailah membangun hidup di atas satu-satunya fondasi yang tidak akan pernah goyah yaitu Yesus Kristus, sebab dialah Fondasi kita, sumber kekuatan dan keselamatan hidup... 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Senin, 04 Mei 2026

Bagaimanakah kita menggunakan Bait Allah dengan benar - Lukas 19:45-48

Shalom. 

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 19:45
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,
Lukas 19:46
kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
Lukas 19:47
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,
Lukas 19:48
tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Saudara saudari, renungan firman Tuhan untuk kita pada hari ini adalah Kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Kehadiran Yesus dalam menyucikan atau menjaga kesucian bait Allah ini sering disalahpahami dalam menafsir sehingga yang tersampaikan hanya sebagai luapan kemarahan. Namun, bagi perspektif Lutheran kehadiran Yesus di bait Suci adalah suatu tindakan Kristologis dan Yuridis. Yesus datang sebagai pemilik sah rumah itu untuk memulihkan fungsi utamanya. Di Yerusalem, di akhir perjalanan-Nya menuju salib, Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dikomersialkan atau dijadikan alat pembenaran diri. Terlebih pada Pada masa itu, Bait Allah bukan hanya menjadi pusat ibadah orang Yahudi, tetapi juga pertemuan-pertemuan sosial lainnya, termasuk berdagang bahan-bahan keperluan sehari-hari juga bahan-bahan keperluan ibadah. 
Persoalannya bukan sekadar masalah jual beli saja, melainkan segala bentuk pemerasan dan tipu daya yang semata-mata untuk menguntungkan para pedagang yang berkolusi dengan para imam. Itulah yang menjadikan Yesus membersihkan Bait Allah dan mengembalikan fungsi semulanya yaitu untuk berdoa (ayat 45-46). 

Dalam bacaan firman ini, Yesus mengutip dari kitab Nabi Yesaya dan Yeremia: "Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 
Sarang penyamun artinya Penyamun bukan merampok di dalam sarangnya; mereka merampok di luar, lalu bersembunyi di sarang agar merasa aman. Inilah kritik Yesus terhadap formalitas agama. Orang-orang berdosa di luar, lalu datang ke Bait Allah untuk "membeli" pengampunan lewat korban sembelihan tanpa pertobatan hati.
Apakah kita menggunakan gereja atau ritual agama hanya sebagai tempat persembunyian untuk menutupi ketidakadilan kita sehari-hari? 
Perlu kita tahu, bahwa "Ibadah yang hanya menjadi rutinitas tanpa transformasi hati adalah "sarang penyamun."
Lalu, bagaimanakah kita saat ini memandang dan menggunakan rumah ibadah? 
Di tengah kemerosotan institusi agama, Yesus tetap setia untuk menawarkan diri-Nya melalui Firman. Ibadah yang sejati adalah saat kita "terpikat" untuk mendengarkan Kristus. Dengan demikian, cukuplah kita juga menggunakan Rumah ibadah sesuai dengan fungsinya, betul betul hanya untuk tempat beribadah kepada Tuhan dan mari kita menjaga kekudusanNya. 
Dan perlu juga kita tahu, dalam pengajaran teologi Lutheran, Bait Allah yang sesungguhnya sekarang adalah Kristus sendiri dan di mana Firman-Nya diberitakan dengan murni dan ke 2 sakramenNya itulah Gereja yang benar dan itulah sesungguhnya fungsi Gereja, untuk pusat mewartakan Injil Allah dan untuk menyaksikan Kristus yang terlihat atau injil yang kelihatan lewat Sakramen. 

Saudara saudari, Setelah Yesus mengusir pedagang, Yesus tidak meninggalkan Bait Allah. Ia justru mengajar setiap hari di sana. Dan meskipun para pemimpin agama berusaha membinasakan-Nya, mereka tidak berdaya karena "seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia."

Dan sesungguhnya, Ibadah ibadah yang kita lakukan baik dalam rumah Ibadah atau dimana pun bahkan di rumah, sesungguhnya bukan tentang apa yang kita berikan kepada Tuhan (transaksi/dagang), melainkan tentang apa yang Tuhan berikan kepada kita melalui Firman-Nya dan doa. Dan mariah kita juga mengingat, bahwa kita (tubuhmu) sekarang adalah bait Allah. Lewat Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit mengalahkan maut, sungguh tubuh kita sekarang adalah juga bait Roh Allah yang Kudus. Yesus ingin masuk ke dalam hidup kita untuk mengusir "pedagang-pedagang" (ego, keserakahan, kepalsuan) agar hati kita menjadi rumah doa yang betul betul berserah kepada pertolongan Tuhan.

Oleh karena itu, lewat perikop ini marilah kita memahami dengan benar bahwa kehadiran Yesus di rumah ibadah adalah untuk menyucikan Bait Allah bukan untuk menghancurkannya, ia datang ke dalam rumah itu untuk memulihkannya bagi kita dan bagiNya. Demikianlah juga dengan hidup kita, Ia datang ke dalam hidup kita untuk membuat kita menjadi baitNya "milik kepunyaanNya" ia datang bukan untuk menghancurkan kita, melainkan menyelamatkan dan menghidupkan kembali Fungsi utama kita untuk taat kepadaNYA, dan Allah juga berharap agar kita datang bukan dengan persembahan yang "dibeli," melainkan dengan hati yang mau mendengarkan dan taat. 
Marilah kita tetap setia pada pengajaran-Nya, karena hanya di dalam Firman-Nya kita menemukan tempat perlindungan yang sejati, dan bukan sarang persembunyian yang palsu.
Sebagai umat GKLI - Lutheran, marilah kita memahami dengan benar bahwa ibadah bukanlah upaya manusia untuk menyogok Tuhan dengan persembahan (seperti para pedagang di Bait Allah), sebab dalam ajaran kita, Ibadah adalah waktu di mana Tuhan melayani kita melalui Firman dan Sakramen. Maka berhentilah berdagang dengan Tuhan melalui amal atau formalitas, dan mulailah menerima anugerah-Nya. 

Sama seperti Yesus menyucikan Bait Allah secara radikal. Maka kembali kita di ingatkan dalam khotbah khotbah di GKLI tentang simbol Lutheran mengenai semboyan Ecclesia Semper Reformanda (Gereja yang harus selalu diperbarui). Demikianlah Kita harus mengizinkan Kristus terus-menerus "mengusir" berhala-berhala modern dalam hati kita (seperti materialisme atau kesombongan) agar hidup kita menjadi rumah doa yang sejati. Jangan bersembunyi di balik status "orang Kristen" untuk menutupi dosa, tetapi datanglah ke hadirat Tuhan dengan kejujuran untuk dikuduskan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Mazmur 113 - Tetaplah memuji muji Tuhan dalam hidup, baik dalam senang maupun dalam duka.

Shalommmm..,. 

Firman Allah untuk kita. 
Mazmur 113:1
Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!
Mazmur 113:2
Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.
Mazmur 113:3
Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.
Mazmur 113:4
TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.


Saudara saudari, Sepenting apakah puji-pujian bagi Tuhan dalam kehidupan orang-orang percaya?. 
Sering kali pujian bagi Tuhan tidak menempati posisi penting bahkan hanya dinaikkan dalam kondisi atau situasi tertentu. Dalam seluruh kitab, kitab Mazmur adalah merupakan kitab yang banyak menuliskan puisi puji-pujian bagi Tuhan, dan yang mengajarkan bahwa pujian bagi Tuhan harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam hidup setiap orang percaya.
Martin Luther, terdorong keinginannya memotivasi orang percaya agar terus memuji Tuhan di setiap waktu dan kesempatan, bahkan ia sungguh banyak menggubah lagu pujian bagi kita untuk saat itu, termasuk dalam Buku ende dan Lsb. 

Apakah dasar kita memuji Tuhan?. 
Sesungguhnya dalam keadaan kita berdosa, kita tidak layak untuk memuji Allah. Namun oleh kasihNya, ia melayakkan kita dengan menolong dan menebus dosa dosa kita di dalam Kristus. Dengan demikian, hal itulah alasan kita untuk memuji Allah, sebab Dia-lah sumbe pertolongan dan keselamatan kita. Setiap pengenalan yang benar kepada Tuhan akan mendorong kita untuk merendah dihadapanNya dan memuji muji namaNya yang kudus. Pujian yang penuh makna akan keluar dari setiap mulut yang mengalami kedekatan dengan Tuhan. Pujian yang terindah hanya bersumber pada hati orang percaya yang meyakini bahwa Dia adalah Tuhan yang mampu melakukan pekerjaan ajaib, bahkan yang tak tertampung oleh pikiran manusia seperti kata pe Mazmur dalam ay. 7-9. Dengan mengingat dan mengenali Tuhan dalam setiap pujian kita, akan menunjukkan bahwa kita memuji Tuhan karena kita percaya bahwa segala sesuatu pasti ada di dalam Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang benar dan adil.

 Jikalau kita melihat dalam perikop ini, sungguh Kekaguman pemazmur kepada Tuhan semakin bertambah dengan merenungkan kenyataan-kenyataan paradoks. Allah yang Mahatinggi sudi merendah untuk hadir ke bumi (ayat 5-6) untuk memperhatikan orang miskin, hina, dan tersingkir, serta mengangkat mereka sederajat dengan orang-orang yang kaya, mulia, dan terpandang (ayat 7-9). Inilah berkat Tuhan yang dialami oleh orang-orang yang sadar akan dirinya, memahami bahwa ia tidak berdaya dalam kerendahannya. Dan sungguh, hal itu tidak akan mungkin dipahami atau dinikmati oleh orang-orang yang merasa "kaya," "mulia," dan "terpandang" oleh usaha sendiri. 
Secara praktis, mazmur 113 ini sering digunakan untuk mengingatkan jemaat jemaat Tuhan agar sadar dan mengakui bahwa tidak ada situasi yang terlalu "rendah" atau "hina" sehingga tidak bisa dijangkau oleh kasih karunia Allah yang Maha Tinggi. Oleh itu, sekarang kita diajak untuk memuji Tuhan, bukanlah atas dasar kehebatan kita, melainkan karena kehebatan Tuhan atas apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita orang-orang yang tidak berdaya.

Oleh karena itu, Janganlah menyerah pada situasi saat ini bahkan dalam situasi apapun, karena Allah yang Maha Tinggi adalah Allah yang Maha Peduli bagi setiap umatNya. Tetaplah memuji muji Tuhan dalam hidup, baik dalam senang maupun dalam duka.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan roh Kudus memelihara dan menolong kita semua... amin

Jumat, 01 Mei 2026

PUJILAH ALLAH DAN DATANGLAH KE BAITNYA - Acara Ibadah pemuda pemudi - minggu Jubilate

 


Acara Ibadah pendalaman Alkitab Pemuda pemudi GKLI

02 Mei 2026


1.    BENYANYI DARI KIDUNG JEMAAT NO. 392 : 1 – 3

                     (KU BERBAHAGIA)

1.      Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku!

Aku warisNya, 'ku ditebus, ciptaan baru Rohulkudus.

                    Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
                              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

2.      Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi melimpahiku.

Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.

                    Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
                              Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

3.      Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku hatiku teduh.

Sambil menyongsong kembaliNya, 'ku diliputi anugerah.

                    Reff : Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

                             Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

2.    Doa pembuka

Bapa kami yang di sorga, pada malam hari ini, kami para anak anak Mu yang telah Engkau tebus melalui darah Mu yang kudus itu. Kini kami datang merendahkan hati di hadapan_Mu. Kiranya berilah kami kekutan, hadirlah Engkau dalam hati kami, ajarlah kami akan Firman Mu dan ingatkan kami melalui kuasa Roh Kudus Mu agar kiranya kami menjadi pemuda pemudi yang hidup di dalam kebenaran Firma_Mu. Pada saat ini juga kami teringat dengan kedua orang tua kami, dan juga saudara sadudari kami, berkatilah mereka Tuhan, berikan umur yang panjang dan kesehatan bagi orang tua kami, dan kami juga berdoa unntuk malam hari ini, berkati kami semua yang telah hadir di tempat ini, jangan biarkan pikiran kami menjauh dari pada_Mu. Begitu juga Tuhan Ibadah kami besok, ingatkan kami dan semua jemaat_Mu agar kami dapat bersama sama hadir di tempat ini, untuk menerima kehadiran Mu melayani kami akan keampunan dosa kami dan menerangi hati kami. Demikian juga dengan dosa dosa kami, Tuhan kami adalah orang orang yang hina di hadapanMu, ampunilah kami akan dosa kami itu, dan kuatkan kami agar kami dapat hidup di dalam pertobatan yang benar. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh kudus. Amin

3.    Benyanyi dari kidung jemaat No. 64 : 1 – 2

      (Bila Ku Lihat Bintang Gemerlap)

1.      Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2.      Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

4.    RENUNGAN

Nats      : Kisah Para Rasul 2 : 42 - 47

Tema    : PUJILAH ALLAH DAN DATANGLAH KE BAITNYA

Tujuan : Supaya anak remaja dan pemuda/i memuji Tuhan dan datang ke baitNya :

1.    Bertekun dalam pengajaran para rasul

2.    Hidup sebagai orang orang percaya

3.    Berbagi wujud dari rasa syukur kepada Allah

4.    Berkumpul dan bersekutu di dalam bait Allah

5.    Tuhan berkenan bagi yang memuji dan berdiam di dalam bait Allah

Hafalan : Kisah para Rasul 2:47

5.    Benyanyi dari kidung Jemaat No. 340 : 1 – 3

             (Hai Bangkit bagi Yesus)

1.      Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji
Raja dan jangan menyerah. Dengan semakin jaya Tuhanmu ikutlah,
Sehingga tiap lawan berlutut menyembah.

2.      Hai angkit bagi Yesus, dengar panggilanNya! Hadapilah tantangan,
hariNya inilah! Dan biar tak terbilang pasukan kuasa g'lap,
semakin berbahaya, semakin kau tegap.

3.      Hai bangkit bagi Yesus, pohonkan kuatNya; tenagamu sendiri tentu
tak cukuplah. Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus;
berjaga dan berdoa supaya siap t'rus!

6.    Doa penutup + Doa Bapa kami + Berkat

7.    Latihan Koor


Rabu, 29 April 2026

Apakah Alasan Lutheran dan Alkitab mengatakan Burung burung lebih teolog dari pada manusia??

Luther menyampaikan demikian dengan alasan :
1. Luther menganggap burung lebih "teolog" karena mereka mempraktikkan iman, sementara manusia seringkali hanya membicarakannya.
2. Burung-burung tidak menabur, menuai, atau mengumpulkan bekal di lumbung, namun mereka tetap diberi makan oleh Tuhan. Luther melihat ini sebagai bentuk kepercayaan murni yang sering gagal dilakukan manusia karena kita terlalu sibuk mengandalkan kekuatan sendiri.
3. Manusia cenderung menyiksa diri dengan kecemasan tentang masa depan. Bagi Luther, burung "mengkhotbahkan" iman setiap hari dengan cara berkicau gembira meskipun mereka tidak tahu dari mana makanan berikutnya akan datang.
4. Manusia sering merasa "pintar" dengan teologi yang rumit, namun tetap sulit mempercayai janji Tuhan yang sederhana. Burung, tanpa buku teologi, justru mempraktikkan inti dari iman itu sendiri: berserah diri.

Dengan Demikian Lukas mengumpamakan Burung, atau Martin Luther menuliskan bahwa burung lebih teolog dari manusia adalah sebagai contoh iman yang ideal karena mereka hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan akan hari esok.

Selasa, 28 April 2026

Tidak menyesatkan dan hiduplah dalam pengampunan

Shalom.... 

Firman Allah untuk kita. 
Lukas 12:22
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Lukas 12:23
Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.
Lukas 12:24
Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!
Lukas 12:25
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?
Lukas 12:26
Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?
Lukas 12:31
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.

Saudara saudari, dalam sebuah tulisan ada seorang penafsir yang memberikan komentar tentang perikop kita hari ini dan perikop sebelumnya (Luk. 12:13-21) mengatakan demikian: "KETAMAKAN TIDAK AKAN PERNAH MERASA CUKUP, KEKHAWATIRAN TIDAK PERNAH CUKUP." Kedua-duanya adalah dosa yang membuat kita terjebak materialisme, dan Kedua-duanya mengukur hidup dengan materi. Dalam pandangan Lutheran, orang kaya dalam perumpamaan ini disebut "ORANG BODOH" bukan karena ia memiliki harta, melainkan karena ia mencari keamanan hidup di luar Allah. 

Melalui renungan kita hari ini, ada beberapa hal penting yang harus kita pahami, yaitu :
1. kekhawatiran tidak dapat membawa seseorang menjadi lebih baik dalam hidupnya atau menyelesaikan masalah kebutuhannya (25). Sebaliknya, kekhawatiran membuat orang tertekan, dan bahkan sakit. Kalau sudah begitu, harta akan tambah digerogoti untuk membayar proses penyembuhannya. Kekhawatiran hanya akan menambah rupa-rupa masalah, bukan memberi solusi.
2. Orang yang tamak, akan berupaya mendapatkan hal-hal yang dianggap penting dan merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri, kalau perlu dengan paksa atau menghalalkan segala cara. Cara-cara seperti itulah yang digunakan oleh dunia ini (30). Cara sepertinya mungkin memperkaya untuk sesaat, tetapi jelas menambah musuh. Menambah musuh, berarti menambah kekhawatiran baru!
3. Hidup Berpusat Pada Diri Sendiri, secara otomatis - setiap orang yang berpusat pada diri sendiri adalah orang yang menyangkal kebergantung hidup kepada Allah, Sang Sumber Hidup. Hidup sedemikian tidak dapat melihat bagaimana Allah berkarya memelihara alam ciptaan-Nya (kontra ay 24-30), terlebih untuk mensyukuri serta memlercayakan hidupnya kepada Allah. Hidup seperti ini akan terjebak kepada kegiatan yang hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam sebuah tulisan khotbah Martin Luther tahun 1534, ia sering menggunakan burung sebagai contoh seperti dalam Lukas 12:24 untuk menyindir manusia. Ia berkata bahwa burung-burung adalah "teolog" yang lebih baik dari kita. Burung tidak menabur atau menuai, namun mereka "tahu" bahwa mereka memiliki koki dan pelayan yang sangat kaya, yaitu Bapa di Surga. 
Dengan pernyataan ini, sesungguhnya Martin Luther ingin menunjukkan bahwa kekhawatiran adalah bentuk ketidakpercayaan manusia kepada Allah. Dan selanjutnya, Martin Luther juga mengajarkan bahwa seorang Kristen harus menjadi "tuan" atas hartanya, bukan hamba. 

Oleh karena itu, jauhilah hal hal itu dan Taruhlah hatimu tepat menyandar kepada Yesus Kristus (34; Mat. 6:20-21). Tunaikan panggilan mulia menjadi pelaku-pelaku kehendak Allah. Seperti kehendak Allah yang memerintahkan kita agar bersedia menjadi saluran berkat-Nya, yaitu berbagi harta kepunyaan kita kepada sesama yang membutuhkan (33). Dan janganlah membiarkan hatimu terikat pada apa yang bisa rusak atau dicuri. Melainkan tetaplah Fokuslah pada Kerajaan Allah, maka segala kebutuhan hidupmu akan diatur oleh Bapa yang memelihara kita dengan penuh kasih bahkan yang jauh melampaui logika manusia sekalipun. Dan percayalah bahwa hati yang sudah tenang di dalam Kristus akan dengan sendirinya terus menerus terbuka untuk menolong orang yang kekurangan. Sebab harta akan menjadi alat untuk melayani sesama, bukan malah "menjadi tuhan" yang harus disembah.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semuanya amin....

Senin, 27 April 2026

Titik Awal - BAPTISAN KUDUS

TITIK AWAL - BAPTISAN KUDUS 

Dalam Sakramen Baptisan Kudus, kita dijadikan anak-anak Allah. Ini mungkin panggilan terbesar dan terindah yang diberikan kepada kita. Mari kita sebut baptisan sebagai titik awal bagi panggilan hidup. Beranjak dari titik awal tersebut, ada panggilan hidup lain yang terintegrasi dalam kerajaan Allah. Panggilan atau tugas seorang Pendeta adalah salah satunya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan orang-orang dari suku Lewi untuk melayani di tabernakel-Nya dan kemudian di bait suci sebagai imam, dan orang-orang tertentu yang akan melakukan pemberitaan dan pengajaran publik tentang Tuhan dan karya-karya keselamatan-Nya yang menakjubkan, seperti peristiwa Keluaran tentang Anak Domba Paskah dan Laut Merah.

Dalam Perjanjian Baru, hal itu bukan lagi tentang garis keturunan suku. Yesus memanggil 12 orang untuk menjadi murid-Nya, dan kita tidak banyak diberi tahu tentang hubungan suku mereka. Kedua belas murid asli yang bersama Yesus sejak awal pelayanan-Nya, dari baptisan-Nya hingga kenaikan-Nya ke surga, kemudian diutus untuk memberitakan kesaksian mereka tentang apa yang telah mereka lihat. Mereka harus memberitakan keselamatan yang dimenangkan bagi kita oleh kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Dan mereka melakukannya secara terbuka.

Paulus adalah orang yang datang belakangan tetapi dipilih oleh Kristus yang telah bangkit, untuk menjadi suara bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Yesus memanggil 12 rasul ini untuk memberitakan dan menyatakan Injil keselamatan . Mereka juga menulis surat-surat dan Injil yang ada dalam Alkitab kita, seperti yang dikatakan Yohanes dengan tepat, “supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, dan mempunyai hidup dalam nama-Nya .” 
Para gembala jemaat masa kini ditempatkan dalam jabatan yang sangat terkait dengan para rasul. Gembala jemaat dipanggil untuk memberitakan Firman, sebagaimana telah diturunkan oleh para rasul dalam Kitab Suci. Karena melalui pemberitaan karya keselamatan Yesus ini, iman diciptakan dalam diri pendengar. Baptisan dilakukan dengan benar dan Tubuh - Darah Tuhan diberikan kepada tubuh orang percaya.

#vdma_luther

theologi Lutheran

Theologi lutheran VDMA: MARKUS 6 : 14 – 29 // Jamita minggu VII dung trini...

Theologi lutheran VDMA: MARKUS 6 : 14 – 29 // Jamita minggu VII dung trini... :  Markus 6 : 14 - 29 Thema    :   BARANI MA H...

what about theologi luther ?