Rabu, 15 Oktober 2025

HKBP DO HKBP - Akankah jadi agereja Oikumene ??

“HKBP DO HKBP" 
AKAN JADI GEREJA OIKUMENE ?

Salam Damai 'n Kasih Kristus!

Pd tgl 7 Okt 1861 di Sipirok, para pekabar Injil mengadakan rapat 'tuk membagi tempat pelayanan yaitu: Pdt. Heine, Pdt. Klammer, Pdt. Betz, Pdt. Van Asselt. Tgl inilah yg ditetapkan jadi hr lahir HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN yg diambil dr nama ke-4 org pdt (non Batak) peserta rapat tsbt. Juga berketepatan dlm bln Okt 1861 ini Nommensen ditahbiskan sebagai Pdt dan langsung diberangkatkan oleh Misi Barmen jadi misionar ke Tanah Batak, tapi selama 2 bln dia masih harus belajar Bahasa dan Budaya Batak terlebih dulu dr Dr. Van Der Tuuk di Belanda.

Jadi, meskipun HKBP telah berdiri selama 20 thn (1861-1881), namun masih belum memiliki seorang Pimpinan Gereja (Uluan ni Huria). Pd thn 1881, Kongsi Barmen menetapkan Nommensen jadi Ephorus pertama di HKBP. Sedangkan gelar “Ompu i" resmi diberikan kepada Nommensen setelah jadi Ephorus, dan kemudian gelar “Ompu i" jadi sebutan/gelar resmi bagi semua Ephorus HKBP. Padahal karna berkat ketrampilan Nommesen dalam mendamaikan setiap perkara atau pertengkaran di sawah dan juga peperangan antar kampung, maka Raja Pontas dan Raja lainnya yg sdh jadi Kristen menganggap Nommensen pantas dijuluki “Ompu i" sejajar dg Raja Sisingamangaraja XII. Nah, kita juga tentu berharap semua Ephorus HKBP hendaknya seperti Ompu Nommensen teristimewa dalam “Hadameon dohot Halambokon” agar tercapai umpasa Batak yang mengatakan “Goar na ma daina” tapi biarlah sejarah yang akan mencatat. (NB: Perjalanan HKBP sangat sarat dengan konflik semenjak kepemimpinan sebagai Ephorus di teruskan oleh orang Batak, dan hampir di setiap dekade ada konflik yg muncul. Salah satu sumber konflik yg sering terjadi adalah masalah kepemimpinan, distribusi kekuasaan dan mekanisme pelayanan serta pengambilan keputusan yg diatur di dlm AP.

Kalau anda pernah menyaksikannya sungguh betapa brutalnya saat konflik terjadi baik di Kampus Teologi Pematang Siantar maupun di berbagai Gereja di Medan, bahkan Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung juga jadi ajang perebutan. Kalau demikian halnya masih pantaskah lagi gelar “Ompu i" disematkan kpd Ephorus HKBP? 
Memang tak seorang pun seperti Nommensen yg hanya dg mengandalkan “kasih sayang” dalam menginjili mampu mendamaikan berbagai pertikaian dan peperangan antar kampung, bahkan mengatasi berbagai tindak kejahatan seperti pembunuhan, perkelahian dan perjudian.

Nommensen mengetahui adat Batak, dan dia tak melarang adat yg tak bertentangan dg Alkitab, seperti halnya konsep “Dalihan na Tolu” yang dapat mempererat kekerabatan orang Batak sehingga perlu dilestarikan. Kawin semarga pun dilarang oleh adat Batak dan juga dilarang oleh Gereja, hanya Nomensen tidak membenarkan pemakaian Gondang Batak di Gereja.

Sejarah mencatat, bahwa sebelum Nommensen jadi Ephorus HKBP pertama (1881-1918) ternyata ia telah menjalankan misi penginjilannya selama 20 thn (1861-1881), dan selama itu masyarakat Batak selalu memanggilnya dengan sebutan “Amang atau Tuan Nommensen”, bahkan setelah jadi Ephorus tetap saja dipanggil dengan sebutan “Ompu atau Ompu i Nommensen”.

Pada thn 1876 Nommensen telah berhasil menterjemahkan PB ke dlm Bhs Batak Toba, tapi kita tak tahu apakah diterjemahkan dr Bhs Jerman atau dari teks asli bahasa Yunani (Greek), sementara sahabatnya Johansen berhasil menterjemahkan PL ke dalam Bahasa Batak Toba. (NB: Kita patut mengapresiasi ada rencana dan upaya HKBP saat ini bekerjasama dengan LAI akan menerbitkan Bibel terjemahan baru. Mungkin jemaat selama ini tak menyadari bahwa Bibel terjemahan Nommensen dan Johansen pada waktu itu adalah dibuat dalam rangkah penginjilan, sehingga diksi atau pilihan kata yang digunakan tentu harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Juga pada masa itu kalimat dalam Bahasa Indonesia tempo dulu sama halnya dengan Bahasa Batak kalimatnya masih dominan frase Hukum DM. Misalnya, nats 1 Musa 1:1 dituliskan: “Di mula ni mulana ditompa Debata langit dohot tano on”, sedangkan dlm Kej. 1:1 dituliskan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Jadi, tentu dlm Bibel terjemahan baru nantinya bisa saja nats 1 Musa 1:1 akan diterjemahkan: “Di mula na Debata manompa langit dohot tano”. Itulah sebabnya saat ini perlu ada Bibel terjemahan baru agar lebih praktis dan mudah dipahami terlebih oleh kaum millenial Gereja kita HKBP.

Saat berlibur ke Jerman setelah 18 thn melayani pd thn 1880, Nommensen menyempatkan diri menciptakan Tata Ibadah HKBP. Meskipun agak lain dari Tata Ibadah Lutheran di Jerman, namun dibuat lebih original yg disesuaikan dg kondisi setempat. Tata ibadahnya mengadopsi Lutheran dan Presbiterian dan sekaligus budaya Batak dipersatukan sehingga tampak sungguh indah, dan bahkan tata ibadah itu telah lebih 100 thn diikuti oleh HKBP. Karna orang Batak gemar bernyanyi dan suka musik, maka Nommensen berusaha agar dikirim musik tiup dan poti marende (orgel) ke Tanah Batak. Kemudian pada usia 70 thn (1904) Ompu Nommensen dianugerahi Doktor Teologi Kehormatan oleh Fakultas Teologi Universitas Bonn, Jerman, atas keberhasilannya yg luar biasa membawa Injil ke Tanah Batak. Padahal Ompu Nommensen sebenarnya tak ingin mendapat hadiah atau penghargaan, ia mengaku hanya seorang miskin yang tidak punya arti apa2, tapi rohnya telah ditebus dengan nilai yg sangat mahal, yaitu dengan Darah Yesus.

Setelah Ephorus Nommensen ternyata masih ada 3 org lagi pdt Misionar (non Batak) jadi Ephorus HKBP (1918-1940), jadi selama 59 thn (1881-1940) HKBP pernah dipimpin oleh 5 org Ephorus dari Pdt Misionar (non Batak), dan selama itu Tata Ibadah HKBP pernah beberapa kali mengalami revisi yang kemudian pada tahun 1937 diterbitkan Agenda HKBP (Buku Liturgi) dan ternyata itulah yg digunakan dlm Ibadah HKBP sampai sekarang. Dengan ditangkapnya semua Pdt Jerman oleh tentara Belanda pada tanggal 10 Mei 1940, maka sejak itu pimpinan HKBP dijabat oleh Pdt Batak, tepatnya pada Sinode Godang HKBP tgl 10-11 Juli 1940 terpilih Pdt. K. Sirait jadi Voorsitter (Ephorus) HKBP (1940-1942), dan itu jadi hari kemandirian (manjujung baringin na) HKBP, yg dapat dikatakan telah mandiri dalam hal dana, daya, dan teologi.

Semasa kepemimpinan Ephorus HKBP Ds. Dr. hc. J. Sihombing (1942-1962) selama 20 tahun terkenal semboyan “HKBP DO HKBP” yg se_akan2 ingin mengatakan kepada dunia bahwa inilah HKBP yang tak mau meniru dan tak bisa didikte oleh siapa pun terlebih dalam hal teologi seperti menetapkan Tata Gereja, Tata Ibadah dan Konfessi HKBP. Pucuk pimpinan gerejanya disebut dengan “Ephorus” seperti Nommensen bukan “Bishop” maka dunia mau bilang apa, karna “HKBP do HKBP”. Dalam Tata Gereja 1930 misalnya, dikatakan: “HKBP bertujuan untuk mempersekutukan seluruh orang Batak di dalam iman yang satu itu, sambil memberitakan Injil kepada bangsa sekitar yang belum seiman. Sedangkan dalam Tata Gereja 1940 dikatakan agar kesatuan dan persekutuan di dalam gereja harus dipertahankan dan dipelihara. Tapi dalam Tata Gereja 1950 sudah lebih bersifat oikumenis dalam arti HKBP jadi pelopor dalam memasuki Gerakan oikumenis di Indonesia.

Apakah nantinya HKBP yg berdiri atas dasar kesukuan atau sebagai Gereja orangnya Batak akan menjadi Gereja Oikumene? 
Dalam B.E Suplemen HKBP telah mengisyaratkannya, dlm BE. No. 864. “OIKUMENE” dikatakan: 
1. Asing pe hata nang luatta be, marragam rupa nang adatta be; Sada do Debatanta ingot be, na marhaha-anggi hita sasude, di Kristus sada hita be. 
2. UEM do parsadaan ni hita on, pajongjong dame di portibi on; Patindang hatigoran i sintong, pararat harajaonNa dison, sahat tu liat tano on. 
3. Hita pinilit ni Tuhanta i, urupi ma dongan na pogos i; Palua angka na tarante i, tabaen marnida na mapitung i, apuli na mardangol i. Amen!

NB: SEJAK A/P-2002 HKBP DENGAN VISI DAN MISINYA SUDAH BERSIKAP INKLUSIF, DIALOGIS DAN TERBUKA, BAHKAN TAHUN INI ADALAH "tahun oikumene hkbp inklusif 2024".

Jawaban jawaban untuk Perjamuan Kudus - Seribu pertanyaan dalam satu jawaban yang menganugerahkan hidup kekal.

Seribu pertanyaan dalam satu jawaban yang menganugerahkan hidup kekal. 
Mengapa kita sebagai Gereja yang ber aliran Lutheran semestinya harus melakukan komuni-Perjamuan Tuhan lebih dari 125 kali dalam setiap tahun di dalam Pelayanan Ilahi kita? 
Karena Makan Malam Tuhan bukanlah simbol, atau representasi tetapi sungguh benar benar tubuh dan darah Kristus yang sejati bagi Anda dan bagi saya untuk keselamatan kekal.

Mengapa kita harus membungkuk-menunduk di bawah Altar sebelum menerima Perjamuan Tuhan, mengapa pastor/pendeta harus memegang roti dan anggur tinggi (mengangkat) ketika ia membawa perjamuan kepada jemaat, mengapa kita menggunakan piala "cawan" Dalam Perjamuan, lantai ubin yang indah, dan seorang pastor dengan Chasuble dekoratif atau jubab? 
Karena Makan Malam Tuhan bukanlah simbol, atau representasi tetapi sungguh benar benar tubuh dan darah Kristus yang sejati bagi Anda dan bagi saya untuk keselamatan kekal.


Mengapa para pastor-pendeta tidak boleh membuang anggur yang tersisa ke wastafel, ke selokan atau menggabungkanNya semua dengan sampah Minot lainnya? 
Karena Makan Malam Tuhan bukanlah simbol, atau representasi tetapi sungguh benar benar tubuh dan darah Kristus yang sejati bagi Anda dan bagi saya untuk keselamatan kekal.

Mengapa Gereja harus memberitakan Perjamuan malam lebih dari 300 kali dalam tiap tahun, dan termasuk juga di layankan bagi mereka yang di rumah sakit? 
Karena Makan Malam Tuhan bukanlah simbol, atau representasi tetapi sungguh benar benar tubuh dan darah Kristus yang sejati bagi Anda dan bagi saya untuk keselamatan kekal.

Mengapa kita harus pergi setiap Minggu ke tempat suci, meskipun dalam keadaan lelah atau ketika seluruh dunia tidak butuh Pengampunan? Karena Makan Malam Tuhan bukanlah simbol, atau representasi tetapi sungguh benar benar tubuh dan darah Kristus yang sejati bagi Anda dan bagi saya untuk keselamatan kekal.

#vdma

Seribu pertanyaan dalam satu jawaban yang menganugerahkan hidup kekal. 

Hidup dalam Kebenaran - 1 Petrus 2

Shalom. 
Firman Tuhan untuk kita. 
1 Petrus 2 : 13
Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,
1 Petrus 2 : 14
maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.
1 Petrus 2 : 15
Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
1 Petrus 2 : 16
Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
1 Petrus 2 : 17
Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Saudara saudari, dalam bacaan Firman ini, Petrus menujukannya kepada Jemaat Tuhan yaitu jemaat diaspora yang tersebar diberbagai kota termasuk Asia kecil. Mereka kebanyakan para perantau yang mengadu nasib di tempat baru. Di samping itu, kehadiran mereka diterima dengan beragam sikap. Ada yang menerima, ada pula yang menolak secara tegas. Karena itu, Petrus menuliskan surat ini untuk mengingatkan agar mereka senantiasa menyatakan sikap hidup yang lebih baik sebagai pengikut Yesus dengan cara menjauhi segala keinginan daging, dan hidup bijaksana di tengah-tengah bangsa non-Yahudi. 

Dalam hal ini, Panggilan untuk menjadi Kristen telah menempatkan orang percaya pada posisi dan hak istimewa. Namun posisi itu bukanlah merupakan kesempatan untuk bermegah. Tetapi kita dipanggil untuk tidak menyalahgunakan hak-hak istimewa itu. Petrus menjabarkan hal tersebut dalam beberapa hal, yaitu :
1. Himbauan agar umat tetap hidup sebagai orang asing, mengasingkan diri dari keinginan duniawi (ay. 12).
2. Kristen dipanggil untuk "tunduk" kepada semua lembaga manusia, artinya Kristen memiliki keberadaan dan misi khusus dalam rencana Allah (ay. 13).
3. Kristen dipanggil untuk hidup bertanggungjawab di tengah kebebasan (ay.16). 

Oleh karena itu, Kita sebagai orang pilihan Allah (Kristen) di panggil untuk benar benar hidup menyerupai seperti Kristus, Allah telah memerdekakan kita dari perbudakan dosa dan oleh itu Allah menginginkan agar karakter Kristus itu tinggal dan berdiam dalam diri kita, sehingga tiap tiap hari kita di arahkan untuk melakukan hal hal yang baik, taat pada pemimpin baik dalam negara maupun hal lainnya. 

Sebagai orang merdeka, Allah memberikan kita hak bebas, apakah hidup menjadi orang Fasik atau menjadi orang yang taat akan Allah?. 

Sebagai orang yang mensyukuri panggilan dan pilihan Tuhan atas anugerahNya, tentu dalam hidup ini kita harus tau bersyukur kepada Allah. Hendaklah kita bersyukur kepada-Nya lewat hidup kita. Hidup dalam kebenaran,  dan tunduk kepada Allah. Marilah kita menjadi anak-anak Tuhan yang menyebarkan benih kebaikan dan ketaatan di mana pun Tuhan menempatkan kita. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Pertobatan mendatangkan Kehidupan - Yoel 1 :1 - 19

Shalom... 
Firman Tuhan untuk kita. 
Yoel 1 : 2
Dengarlah ini, hai para tua-tua, pasanglah telinga, hai seluruh penduduk negeri! Pernahkah terjadi seperti ini dalam zamanmu, atau dalam zaman nenek moyangmu?
Yoel 1 : 3
Ceritakanlah tentang itu kepada anak-anakmu, dan biarlah anak-anakmu menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan anak-anak mereka kepada angkatan yang kemudian.
Yoel 1 : 5
Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah! Merataplah, hai semua peminum anggur karena anggur baru, sebab sudah dirampas dari mulutmu anggur itu!

ThemaPertobatan mendatangkan Kehidupan - Yoel 1 :1 - 19
Saudara saudari, Lingkungan alam beserta pohon dan hewan ciptaan-Nya telah ditata asri demi kehidupan manusia. Namun dalam bacaan hari ini, ternyata alam asri telah berubah menjadi gersang dan meratap, merupakan bencana bagi umat-Nya dan hewan-hewan peliharaan. Semua makhluk hanya bisa berteriak kepada Sang Pencipta karena sejarah dukacita telah mengukir kehidupan umat-Nya. Mengapa demikian? 

Penggambaran momentum sejarah Yehuda yang diteruskan dari generasi kepada generasi (3) berawal dari pengalaman perorangan – seluruh penduduk – zaman mereka – zaman nenek moyang (2). Estafet beritanya membawa dukacita seluruh bangsa. Yehuda akan dihancurkan oleh hama belalang (4) dan Yoel meyakininya sebagai penghukuman Tuhan atas dosa Yehuda, dimana Yehuda akan dikepung bangsa-bangsa yang kuat (6). Para petani malu karena kegagalan panen (7, 10-12) dan hewan-hewan pun mengalami kekeringan (17-18). Bukan saja dekadensi moral dan sosial yang mereka alami, namun dekadensi spiritual yang membalur kain kabung bangsa (9, 13-16). Bencana dan penderitaan dialami semua makhluk: alam, pohon, binatang, dan manusia: penduduk, petani, dan imam. Sukaria dan sorak-sorai telah lenyap (16). Seruan kenabian Yoel sangat tepat (13-15) untuk mereformasi spiritual sebuah bangsa yang telah meninggalkan Allah, sehingga mengalami penderitaan yang sangat menyedihkan (19-20). 

Mengamati berbagai tragedi bencana alam dan penderitaan seiring dengan bergulirnya gejolak politik negara kita, memang tidak sepenuhnya dianggap benar jikalau senantiasa dikaitkan dengan penghukuman Tuhan. Namun tidak tepat pula jika kita mengatakan bahwa bencana alam hanyalah akibat keteledoran dan tidak bertanggungjawabnya manusia terhadap alam ciptaan-Nya. Keduanya menjadi perenungan kita agar memiliki hikmat mengamati kejadian-kejadian akhir-akhir ini dan menjadikan kita bijak dalam meresponinya. 

Satu hal yang luar biasa, bukan hanya manusia yang memohon, tetapi seluruh ciptaan juga menyatakan kerinduannya kepada Tuhan. Hal ini menandakan betapa besar dosa dunia ini terhadap pencipta-Nya.

Nubuat tentang hari Tuhan mengajak kita untuk mengerti tanda-tanda zaman dan memahami kehendak Tuhan. Konsekuensinya, kita wajib mengevaluasi perbuatan kita di hadapan-Nya. Apakah tindakan kita sudah menyenangkan-Nya? Inilah kesempatan untuk memohon pengampunan sebab kita tidak mengetahui kapan Hari Tuhan itu tiba.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏

Daniel dan singa

                   Daniel dan Singa


Daniel menjalani hidup yang panjang dan luar biasa. Semasa mudanya, ia diasingkan oleh orang Babilonia. Karena menunjukkan keterampilan kepemimpinan yang luar biasa, Raja Nebukadnezar mengangkatnya ke istana. Ia menjalani hidup yang panjang dalam pelayanannya kepada Babilonia, hingga Persia menaklukkan kekaisaran tersebut. Ia terus melayani orang-orang Persia.

Daniel adalah seorang pejabat terhormat dan menjadi korban politik di jajaran atas Kekaisaran Persia. Musuh-musuhnya berhasil mengesahkan hukum yang tidak dapat dipatuhi Daniel. (Daniel 6) Hukum tersebut mewajibkan tidak seorang pun berdoa kepada allah lain selain raja selama tiga puluh hari. Meskipun mengetahui hukum tersebut, Daniel tetap melanjutkan kebiasaannya berdoa tiga kali sehari, menghadap Yerusalem, mengucap syukur kepada Tuhan. Musuh-musuhnya menyerahkan dia kepada Raja Darius, yang meskipun ia adalah sahabat Daniel dan tidak ingin menghukumnya, maka ia memerintahkan agar Daniel dilemparkan ke singa.

Karena tak tercela, Daniel tidak menanggapi banyak politisi pada zamannya dan mereka yang berkuasa hingga saat ini. Ia tidak membalas, tetapi membiarkan kepolosannya berbicara. Setelah dilemparkan ke singa, Tuhan menghadiahi kepercayaan dan kesetiaan Daniel dengan mengirimkan malaikat untuk melindungi hamba-Nya. Ketika raja melihat Daniel masih hidup, ia memulihkan Daniel dan memerintahkan musuh-musuhnya dilemparkan ke singa.

Daniel telah menjadi teladan bagi pelayanan sipil Kristen. Teladan imannya dipuji oleh penulis kitab Ibrani, bersama teman-temannya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego . Ia menunjukkan kepada kita cara mengasihi Tuhan dan melayani bangsa kita.

Ester dan Mordekhai

Kitab Ester adalah termasuk kitab yang unik, sebab dalam kitabnya ia tidak menyebut nama Tuhan, tidak membahas doa, ibadah, atau topik rohani lainnya. Banyak yang mempertanyakan posisinya di dalam Alkitab karena hal itu. Baik gereja maupun sinagoge telah melihat campur tangan Tuhan dalam peristiwa-peristiwa dalam kitab ini dan karenanya menerima sebagai kitab suci. Kitab ini menjelaskan bagaimana Hari Raya Purim ditetapkan.

Seperti orang Yahudi dan banyak lainnya di zaman kuno, Mordekai dan Ester memiliki dua nama, nama "non-Yahudi" yang diberikan oleh para penculik mereka dan nama Ibrani yang diberikan oleh orang tua mereka. Mordekai berarti "hamba Marduk," yang diambil dari nama dewa Babilonia, dan Ester adalah versi Persia dari nama "dewi Ishtar", dewi kesuburan dan cinta. Alkitab tidak menyebutkan nama Ibrani Mordekai. Nama Ibrani Ester, Hadassah, berarti "murung."

Dalam mempertimbangkan nasib ratu di hadapannya, Ester menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ketika kemampuan politiknya diuji, ia menyelamatkan orang-orang Yahudi dari musuh-musuh mereka. Lebih dari itu, pengaruhnya menghasilkan dukungan dari raja bagi orang-orang Yahudi. Maka tak lama setelah peristiwa-peristiwa dalam kitab tersebut, Ezra berangkat ke Yerusalem.

Pada tahun-tahun berikutnya, Mordekai menjabat sebagai wakil raja di kekaisaran terbesar pada masa itu. Banyak orang Yahudi diberi posisi kekuasaan dan pengaruh. Raja sangat senang dengan pengabdian mereka sehingga ia mengizinkan pembangunan kembali tembok Yerusalem dan memberi mereka hak untuk memerintah diri sendiri selama ia memerintah.

Kisah Nehemia sang pembangun Tembok


Selama bertahun-tahun dan dari generasi ke generasi setelah kepulangan dari pembuangan, Yerusalem masih seperti cangkang dari dirinya yang dulu. Kota itu hanya memiliki sedikit penduduk, dan bukti kehancuran Yerusalem ada di mana-mana. Yerusalem masih berupa tumpukan puing. Lebih parahnya lagi, kota itu tidak memiliki tembok yang kokoh di sekelilingnya.

Nehemia adalah keturunan suku Yehuda, yang masih tinggal di Susa dan bekerja untuk orang Persia. Setelah beberapa generasi, Koresy kemudian mengeluarkan dekrit bahwa orang Yahudi boleh kembali ke Yerusalem. Maka pada tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta, Nehemia menerima Hanani, saudaranya, bersama dengan orang-orang lain yang telah kembali dari Yehuda. Pesan mereka sangatlah tegas: "Mereka yang kembali akan mendapat masalah dan aib besar, sebab tembok Yerusalem telah runtuh, dan pintu-pintu gerbangnya telah dibakar." Berita itu menyayat hati Nehemia, dan ia pun berdoa. Nehemia mengambil peran sebagai perantara seperti Musa berabad-abad sebelumnya, dan juga Daniel, maka Nehemia terlebih dahulu mengakui dosa-dosa bangsa Israel kepada Tuhan. Ia mengakui betapa buruknya tindakan Israel terhadap Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya (Nehemia 1:7-11). Setelah berdoa, Nehemia menulis, "Sekarang aku menjadi juru minuman raja." Menjadi sebagai juru minuman membuat Nehemia memiliki akses tak tertandingi kepada Raja Artahsasta. Raja dapat melihat perasaan Nehemia di wajahnya. Kemudian Nehemia meminta izin untuk memeriksa Yerusalem lalu Ia ingin membangunnya kembali. Seperti halnya Koresy, Artahsasta tidak hanya mengizinkannya, tetapi juga mengiriminya surat-surat dan perintah yang sesuai untuk menebang kayu bagi gerbang-gerbang bait suci dan tembok-tembok. Bahkan, Nehemia menjadi gubernur wilayah tersebut.

Namun, hidup tidaklah mudah bagi Nehemia. Ia menghadapi tentangan dari Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, sejak awal. Kedua orang ini ingin melihat Yerusalem terus-menerus dalam keadaan rusak. Namun, Nehemia percaya bahwa Tuhan turut bekerja dan menyertainya dalam pekerjaan yang ingin ia selesaikan. Nehemia mengatakannya seperti ini: "Tangan Allahku yang murah melindungi aku." Di bawah Nehemia, tembok itu dibangun kembali, tetapi tidak mudah. Mereka menghadapi tentangan sepanjang waktu. Dalam pasal keempat pada kitabnya, Nehemia menggambarkan bagaimana para pekerja membawa pedang di pinggang mereka dan bergantian, bekerja atau memegang tombak untuk berjaga-jaga jika terjadi serangan.

Kitab Nehemia bukan hanya tentang tembok itu; Nehemia juga membahas upaya-upayanya untuk merawat kaum miskin di Yerusalem. Para bangsawan melakukan dosa yang sama seperti nenek moyang mereka, atau bahkan lebih buruk. Kaum miskin dijual sebagai budak. Tetapi Nehemia mengakhiri hal itu, Ia tidak menuntut tunjangan makanan yang biasanya diberikan kepada seorang gubernur.

Dalam Kitab terakhir, dapat kita lihat bahwa kitabnya diakhiri dengan masa reformasi terakhir yang dilakukan oleh Nehemia, yang salah satunya mungkin terdengar kasar di telinga kita saat ini: orang Yahudi menceraikan istri-istri asing mereka. Namun, dari perspektif teologis, kita mungkin dapat memahami hal ini. Nehemia khawatir bangsa itu akan jatuh ke dalam masa lalu penyembahan berhala leluhur mereka. Kekhawatiran ini tampaknya beralasan karena keimaman telah rusak, karena salah satu imam adalah menantu lawan Nehemia, Sanbalat orang Horon.

Sekarang Anda mungkin bertanya-tanya, apa yang orang "Kristen" pahami tentang Nehemia? Sesungguhnya ada banyak. 
Kita bisa dan seharusnya memandang Nehemia sebagai figur Kristus. Ia bersemangat untuk Yerusalem. Ia ingin kota itu aman. Ia juga menghadapi pertentangan yang hebat. Ia bahkan menghadapi saksi-saksi palsu yang mengatakan bahwa Nehemia telah mengangkat dirinya sendiri sebagai raja. Nehemia bukanlah seorang raja, meskipun ia berasal dari suku Yehuda. Ia juga seorang pengikut TUHAN yang sangat taat. Nehemia membantu Yerusalem merayakan Hari Raya Pondok Daun, dan Nehemia 9 adalah salah satu "kredo" paling lengkap yang ditemukan dalam Perjanjian Lama.

Tahukah anda ?
Akhirnya, tembok itu sendiri perlu dibangun agar Yesus dapat mati di luar gerbangnya. Salah satu tuduhan terhadap Yesus adalah bahwa ia adalah anak yang memberontak. Dalam kitab Ulangan 21 menjelaskan apa yang seharusnya terjadi kepada anak yang memberontak: ia harus dibawa kepada para tua-tua di pintu gerbang, dan di sana mereka harus melemparinya dengan batu. Meskipun Yesus tidak dirajam, ia digantung di kayu salib, dan kayu salib itu berada di luar gerbang Yerusalem.

#Vdmaluther

theologi Lutheran

Apakah Manfaat Pernyataan Tomas??

Kalau menurut sumber Lutheran konvensional yang pernah saya Baca.  Sesungguhnya pernyataan Tomas bukanlah suatu kebebalan atau teguran atas ...

what about theologi luther ?