Sabtu, 11 Juli 2026

Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis - Perumpamaan tentang seorang penabur Matius 13:1-9+18-21

Evangelium Matius 13:1-9, 18-21

Saudara saudari, setiap kali kita membaca Perumpamaan tentang Seorang Penabur ini, tentu kita akan dirahkan kepada diri sendiri dan bertanya dengan cemas "Aku ini jenis tanah yang mana ya? Apakah aku tanah pinggir jalan? Apakah aku tanah berbatu? Atau apakah aku tanah yang penuh dengan semak duri?' Sadar atau tidak, pertanyaan-pertanyaan ini sering kali menjebak kita ke dalam ketakutan. Kita mulai berpikir: 'Aku harus berusaha lebih keras, aku harus mencangkul hatiku sendiri, aku harus membuang batu-batu dosaku sendiri supaya aku menjadi tanah yang baik dan layak di hadapan Tuhan. 

Setiap kita merenungkan khotbah ini, hendak kita terlebih dahulu berkaca kepada Hukum Allah. Jika kita melihat kepada Hukum Allah, sesungguhnya secara kodrat alamiah, tidak ada satu pun dari antara kita yang merupakan 'tanah yang baik.' Jika kita memeriksa hati kita sepanjang minggu ini, kita akan menemukan hati yang keras seperti pinggir jalan karena egoisme, hati yang dangkal seperti tanah berbatu karena menghadapi penderitaan, dan hati yang tercekik oleh semak duri kekhawatiran hidup serta pergumulan hidup yang kita alami. Jika kesuburan itu bergantung pada kemampuan tanah untuk menerima benih, atau kemampuan hati kita untuk menerima Injil dan mengubah diri sendiri, maka sesungguhnya kita semua akan berada dalam keputusasaan yang absolut, sebab Tanah mati atau hati yang hancur oleh dosa tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri. 

Oleh karena itu, lewat evangelium Minggu ini, Tuhan berkata kepada kita dengan tema : "Kuasa Firman Mengalahkan Kekhawatiran Kita - Gogo Asi ni Roha ni Debata manaluhon haporsuhonta"
1.  Tidak ada satu pun dari kita yang merupakan tanah yang baik.
Saudara saudari, Hukum Taurat dalam khotbah ini menyerang kesombongan manusia yang merasa bisa bertobat atau beriman atas usahanya sendiri. 
Setiap orang yang berkebun bahkan yang tidak berladang pun akan mengetahui bahwa tanah tidak memiliki kemampuan untuk mencangkul dirinya sendiri. Aspal di pinggir jalan tidak dapat membuat dirinya menjadi lunak/gembur. Dan tanah yang berbatu batupun tidak akan bisa mengangkat batu-batu dari dalam dirinya sendiri. Serta semak duri tidak bisa mencabut duri itu dirinya sendiri.

Lewat kenyataan atau realita ini, satu hal yang penting kita sadari dihadapan Allah sesungguhnya secara rohani kita semua telah rusak atau mati total karena dosa (total depravity). Dalam keadaan ini kita tidak bisa menyalahkan Adam dan hawa atau orang tua kita sang pewaris dosa, atau menyalahkan lingkungan /dunia kita, sebab masalah utamanya adalah karena kondisi tanah atau hati kita sendiri yang telah rusak.
Saudara saudari, lewat perumpamaan Yesus tentang tiga jenis tanah dalam khotbah ini, mari kita bercermin kepada Hukum Allah untuk mengetahui penyakit rohani kita dihadapan Tuhan : 
1. Hati yang Keras (Pinggir Jalan)
Menggambarkan hati yang keras dan tidak peduli, Ketika kita menerima atau Firman, kita tidak menerimanya dengan hati yang haus malah membiarkannya begitu saja atau menutup hati sehingga diambil oleh si jahat. Perumpamaan ini menyatakan ketegaran hati kita yang sering kali mengabaikan Firman Tuhan karena merasa sudah tahu semuanya atau karena menganggap remeh atas ibadah ibadah yang kita lakukan.
2. Hati yang Dangkal (Tanah Berbatu)
Menggambarkan iman yang hanya sesaat atau emosional. Ketika kita mendengar Injil kita akan sangat suka dengan janji Allah atau berkat berkatNya, namun begitu diarahkan kepada penderitaan atau penganiayaan yang hari kita terima karena Firman itu sendiri, kita langsung murtad dan kecewa kepada Tuhan. Hal ini mengingatkan kita akan kondisi "iman yang sesaat" yaitu keadaan kita secara manusiawi yang maunya hanya berkat dan kenyamanan atau kenikmatan sesaat, sehingga ketika kenyataan bertolak dari rasa nyaman atau kenikmatan kita akan langsung kecewa, merasa tersakiti, dan mundur dari Tuhan karena tidak mau atau tidak siap menghadapi penderitaan "salib" kehidupan.
3. Hati yang Tercekik (Semak Duri)
Ini adalah cerminan dari kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan. Kita bergumul dengan kecemasan hidup, mengejar dan mengutamakan kemewahan, hingga beribadah pun tidak ada waktu bahkan membuat Firman Tuhan terhimpit dan tidak menghasilkan buah apa pun dalam hidup kita. Hal ini, mengingatkan kita pada kehidupan yang terjebak kepada penyembahan berhala modern, yaitu cara hidup kita yang lebih bersandar atau berfokus hanya kepada kenikmatan dunia sesaat yang membuat kita berakhir pada ketakutan atau ketidak damaian seperti lebih mengizinkan kecemasan ekonomi, ambisi karier, dan cinta akan uang lebih mengontrol hidup kita daripada Firman Tuhan yang kekal.

Jadi, jikalau kita mencocokkan atau bercermin kepada 3 bentuk tanah yang telah saya jelaskan ini, sesungguhnya tidak ada satu pun dari kita yang secara alami memiliki "tanah yang baik" yang murni dan bersih. Kadang-kadang dalam seminggu ini, hati kita keras seperti pinggir jalan. Di lain waktu, iman kita goyah saat menghadapi masalah (seperti tanah berbatu). Dan betapa seringnya kekhawatiran hidup mematikan waktu dan memutus hubungan kita yang baik bersama Tuhan (bagaikan semak duri). Maka berdasarkan kemampuan kita sendiri, kita semua adalah tanah yang gagal yang tidak mungkin menghasilkan buah bagi Allah.

2. Namun Kuasa Firman dan Karya Allah telah Mengubah Hati Manusia.
Saudara saudari, setiap khotbah Injil yang terus menerus kita dengar selalu mengingatkan kita bahwa pengharapan/pangkirimon kita tidak terletak pada kemampuan tanah (hati kita) untuk memperbaiki dirinya sendiri, karena kita tahu abhwa tanah tidak bisa mencangkul atau membersihkan dirinya sendiri, demikian juga hati kita tidak akan bisa berubah tanpa Injil yang mencangkul dan membuat berbuah dengan kuasaNya. Lewat khotbah ini kita di ingatkan bahwa pengharapan kita sepenuhnya ada pada Benih itu sendiri, yaitu Firman Allah. Dalam pengajaran kita di perspektif teologi Lutheran (buku konkord), diajarkan kepada kita bahwa Firman adalah Yesus Kristus sendiri yang aktif bekerja, yang artinya Firman adalah benar Allah dan Firman tidak dapat terpisah dari Allah yang adalah dirinya sendiri (Yoh.1:1).
Saudara saudari, bagaimanakah Tuhan bekerja untuk menghancurkan kondisi tanah atau hati yang tidak baik itu sehingga dapat subur dan berbuah dengan baik ?, marilah kita percaya bahwa sesungguhnya Yesus adalah "Benih Utama" yang telah rela jatuh ke tanah, menderita, dan mati di kayu salib. Kematian dan kebangkitan-Nya berfungsi untuk menebus segala kegagalan hati kita, baik itu kedegilan (tanah keras), kedangkalan iman (tanah berbatu), maupun kekhawatiran hidup kita (semak duri). 

Jadi, Perubahan hati dari "tanah yang buruk" menjadi "tanah yang baik" bukanlah hasil dari usaha moral atau kekuatan tekad manusia, melainkan murni pekerjaan Roh Kudus(Sola Gratia). Lewat layanan yang kita terima yaitu melalui Sakramen (Baptisan & Perjamuan Kudus) dan pemberitaan Firman, sesungguhnya Roh Kudus yang membongkar, membersihkan, dan melembutkan hati kita yang penuh dengan berdosa agar iman bisa tumbuh dan berbuah dengan baik. 

Ketika Firman itu ditaburkan (kita membaca dan mendengar Firman), hendaklah kita menerimanya dengan respons hati yang subur (dipenuhi oleh Roh Kudus) dengan mengaku jujur di hadapan Tuhan, "Tuhan, hatiku hari ini sedang penuh semak duri kekhawatiran dunia. Ampunilah aku dan bersihkanlah aku." Dan hendaklah juga kita mengandalkan Kristus dengan sepenuhnya, bukan pada perasaan spiritual kita yang naik turun atau pada kekuatan iman kita, melainkan hanya pada kesetiaan Yesus Kristus yang telah mati bagi kita.

Ketika tanah_hati itu telah disuburkan oleh Allah melalui iman, maka buahnya akan muncul secara alami. Dalam teologi Lutheran, kita tidak menghasilkan buah (perbuatan baik) untuk menyelamatkan diri kita atau untuk menyenangkan Allah agar Dia mengasihi kita. Melainkan, kita berbuah karena kita sudah dikasihi. Martin Luther pernah menuliskan pernyataan ini "Allah tidak membutuhkan perbuatan baikmu, tetapi sesamamu manusialah yang membutuhkannya." Maka, respons hidup kita yang berbuah itu, mari kita diwujudkan melalui tugas dan peran kita sehari-hari di dunia.
1. Sebagai orang tua hendaklah mengasihi anak-anaknya.
2. Sebagai pekerja atau karyawan hendaklah bekerja dengan jujur dan berintegritas.
3. Sebagai tetangga hendakla menolong sesama yang kesusahan.
Ini adalah tugas alami dari Iman kita, sebab kita tahu bahwa buah  yang telah matang bukan untuk dinikmati oleh pohon itu sendiri, melainkan untuk dimakan dan dinikmati oleh orang-orang di sekitar. Kita telah diselamatkan dan dimungkinkan untuk hidup berbuah semata-mata karena anugerah-Nya (Sola Gratia) melalui iman (Sola Fide) yang dikerjakan oleh kuasa Firman itu sendiri, jadi marilah tetap dengan setia memberikan rasa yang indah kepada sesama kita.

Dan satu hal yang terpenting lewat evangelium ini, kiranya kita memberi diri untuk terus menerus membuka diri, menyerahkan diri, dan melekat pada Kristus melalui Firman dan Sakramen-Nya, agar Dialah yang mengubah dan membuahkan hidup kita dengan kesukaanNya.
Amin.



Pdt.Ardi Situmorang S.Th

Tidak ada komentar:

theologi Lutheran

Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis - Perumpamaan tentang seorang penabur Matius 13:1-9+18-21

Evangelium Matius 13:1-9, 18-21 Saudara saudari, setiap kali kita membaca Perumpamaan tentang Seorang Penabur ini, tentu kita akan dirahkan ...

what about theologi luther ?