Shalommm....
Firman Allah untuk kita :
Kisah Para Rasul 6:1
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
Kisah Para Rasul 6:3
Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
Kisah Para Rasul 6:4
dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
Kisah Para Rasul 6:5
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
Kisah Para Rasul 6:6
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Kisah Para Rasul 6:7
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.
Saudara saudari, dalam kehidupan ini seringkali kita memiliki ilusi atau bayangan yang keliru tentang "Gereja yang ideal." Terkadang kita berpikir bahwa Gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul adalah komunitas yang tanpa cela, sebab selalu harmonis, dan suci secara sempurna. Namun, lewat firman hari ini kita kembali dibawa kepada realitas yang jujur.
Di tengah pertumbuhan yang pesat, muncul banyak gesekan sosial antara orang Yahudi yang berbahasa Yunani (Helenis) dengan orang Yahudi berbahasa Ibrani. Dan jikalau kita mempelajari latar belakangnya, sesungguhnya permasalahan itu terjadi hanya karena diskriminasi atau kelalaian dalam pembagian bantuan makanan sehari-hari bagi para janda.
Lewat masalah ini, kita di ingatkan kembali bahwa Martin Luther pernah merumuskan identitas orang percaya dengan menyatakan "Simul iustus et peccator" yang artinya kita adalah orang benar (karena iman kepada Kristus), dan sekaligus pada saat yang sama masih orang berdosa.
Memang dengan masih banyaknya terjadi masalah dan gesekan dalam gereja, kita harus sadar bahwa Gereja bukanlah kumpulan malaikat yang suci secara moralitas pribadi, melainkan rumah sakit bagi orang berdosa yang disembuhkan oleh anugerah-Nya.
Dengan munculnya masalah ini, menyingkapkan kepada kita akan kegagalan manusiawi kita. Ketika ego kelompok, latar belakang budaya, atau bahasa menjadi pembatas, maka kasih kita akan mulai memudar, bahkan ada orang yang terabaikan seperti janda yang terabaikan, dan akan memunculkan sungut-sungut.
Selama di dalam kegagalan ini, jikalau kita tetap memilih untuk mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, bahkan struktur organisasi terbaik sekalipun akan runtuh di bawah beban dosa manusia. Hukum Taurat Tuhan akan selalu mengingatkan kita bahwa kita bahwa kita sangat membutuhkan intervensi dari luar diri kita yaitu pertolongan dari Allah - kita sangat membutuhkan anugerah Allah.
Lewat perikop ini, kita di ajarkan akan penyelesaian masalah dalam lingkungan Gereja. Bagaimanakah para rasul menyelesaikannya ?.
Para murid tidak memarahi jemaat yang bersungut-sungut, melainkan membawa solusi yang penuh hikmat dan kasih. Mereka meminta jemaat untuk memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk "melayani meja" (diakonia), sementara para rasul memusatkan diri hanya pada layanan doa dan pelayanan Firman.
Pemilihan tujuh diaken (termasuk Stefanus dan Filipus) menunjukkan bahwa setiap anggota jemaat memiliki panggilan (vocation / Beruf) dari Allah. Melayani meja, mengurus administrasi gereja, memasak, mengajar sekolah minggu, atau berkhotbah di mimbar memiliki nilai yang sama mulianya di hadapan Allah jika dilakukan dalam iman.
Dan Para rasul mengkhususkan diri untuk pemberitaanFirman dan Doa bukan karena mereka "lebih suci", melainkan demi efektivitas jemaat agar Firman Tuhan tidak dikesampingkan. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing dalam tubuh Kristus.
Lewat firman ini, marilah kita juga merenungkan keadaan gereja kita saat ini.
Sebab gereja kita hari ini, juga tidak luput dari masalah, perbedaan pendapat, atau keterbatasan.
Namun marilah kita mengingat, bahwa Kepala Gereja kita adalah Yesus Kristus. Di tengah kegagalan kita sekalipun, Kristus akan terus hadir untuk mengampuni kita, memulihkan hubungan kita, dan memakai tangan serta kaki kita untuk segala hal yang baik melalui pelayanan Firman maupun pelayanan diakonia untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia.
Demikianlah Firman Allah, Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua .. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar