Jumat, 05 Juni 2026

Kedaulatan Anugerah Allah Melampaui Batas-Batas Duniawi - Kisah para Rasul 7:1-8

Shalom.....
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 7:2
Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,
Kisah Para Rasul 7:4
Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran. Dan setelah ayahnya meninggal, Allah menyuruh dia pindah dari situ ke tanah ini, tempat kamu diam sekarang;
Kisah Para Rasul 7:5
dan di situ Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan setapak tanahpun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu kepadanya menjadi kepunyaannya dan kepunyaan keturunannya, walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak.
Kisah Para Rasul 7:6
Beginilah firman Allah, yaitu bahwa keturunannya akan menjadi pendatang di negeri asing dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya.

Saudara saudari, Ketika Stefanus berdiri di hadapan Mahkamah Agama, ia tidak sedang membela dirinya agar selamat dari hukuman mati. Sebaliknya, ia memakai kesempatan itu untuk mengarahkan mata para pendengarnya kepada sejarah keselamatan yang dikerjakan oleh Allah. Para imam dan orang Yahudi saat itu sangat mengagungkan Bait Allah dan tanah Kanaan sebagai jaminan mutlak kehadiran Tuhan. Mereka berpikir bahwa Allah terikat pada institusi, ritual, dan lokasi geografis tertentu.

Oleh sebab itu, dengan penuh keberanian, melalui khotbahnya di ayat 1-8, Stefanus mematahkan kesombongan religius tersebut.
Dalam Pandangan Lutheran selalu ditekankan kepada kita bahwa Allah tidak bisa DIKOTAKKAN atau ditentukan oleh usaha, bangunan, atau kesalehan manusia. Allah adalah Allah yang merdeka, yang bertindak murni karena anugerah-Nya (Sola Gratia).

Dan setelah itu, Stefanus memulai dengan kisah Abraham. Beginilah kalimatnya: "Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran." Ketika Abraham menuruti perintah Allah, apa yang ia dapatkan secara fisik? 
Dalam bacaan kita hari ini, di Ayat 5 dengan tegas mencatat: "Meskipun Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya di situ, bahkan setapak tanah pun tidak..." Namun bukan berarti Allah tidak memelihara atau bukan berarti Abrahan tidak memiliki apa apa.

Memang secara kasat mata manusia, Abraham adalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa. Namun, ketahuilah bahwa Allah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari real estat, Janji-Nya. Allah berjanji bahwa tanah itu akan menjadi kepunyaan keturunannya, meskipun pada saat itu Abraham belum memiliki anak.

Melalui khotbah ini, kita kembali diarahkan kepada Theologia Crucis (Teologi Salib). Allah sering kali menyembunyikan atau menyatakan kuasa dan berkat-Nya di balik kelemahan, ketidakpastian, dan penderitaan duniawi. Dan bagi mata dunia, Abraham tampak malang dan tidak punya masa depan. Namun, bagi mata Iman, Abraham adalah pemilik segalanya karena ia memegang Firman Allah. 

Sebagai umat lutheran, kita diajarkan bahwa kita tidak bersandar pada apa yang kelihatan (kemakmuran, kenyamanan), melainkan hanya kepada janji Yesus Kristus yang tidak pernah gagal.

Sungguh, Allah tidak menjanjikan bahwa jalan keturunan Abraham akan selalu mulus. Bahkan lewat FirmaNya di ayat 6, Allah berfirman bahwa keturunannya akan menjadi pendatang, diperbudak, dan dianiaya selama 400 tahun. Namun, lihatlah penderitaan itu tidak dapat membatalkan rencana Allah. Allah memberikan "perjanjian sunat" sebagai tanda lahiriah dari janji batiniah tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan janji sunat itu ?.
Di dalam sakramen, kita melihat bagaimana Allah mengikatkan diri-Nya pada materi yang kelihatan untuk menguatkan iman kita. Jika Abraham menerima sunat sebagai tanda perjanjian, maka saat ini kita telah menerima Baptisan Kudus. Lewat air Baptisan Kudus, Allah memeteraikan kita sebagai anak-anak-Nya.

Dalam perjalanan kehidupan kita, sadarilah bahwa penindasan di Mesir maupun tantangan hidup kita saat ini tidak dapat menghapus meterai anugerah Allah yang diberikan lewat baptisan kepada kita. Penderitaan itu justru hanya akan menjadi jalan memurnikan gereja untuk tidak menaruh harapannya pada dunia, ataupun kekuatan manusia melainkan hanya pada pembebasan yang sejati dari Allah.

Oleh karena itu, marilah Jangan bersandar pada rasa aman palsu. Sebab, Kedekatan kita dengan Allah tidak ditentukan oleh kemegahan lahiriah, melainkan oleh respons iman kita terhadap Firman-Nya. Dan, marilah hiduplah dari Janji dan di dalam janji Allah. Ketika hidup kita terasa asing, kering, atau penuh penderitaan seperti Abraham yang tidak memiliki "setapak tanah pun", ingatlah bahwa kita memiliki Kristus. Kristus adalah realitas dari seluruh janji Allah kepada Abraham. Karena itu, percaya bahwa Anugerah Allah tidak terbatas. Allah yang memanggil Abraham di tanah kafir Mesopotamia adalah Allah yang sama yang hadir di dalam palungan, di atas kayu salib, dan di dalam relung-relung penderitaan hidup Anda saat ini, bahkan dialah juga yang sedang kita nanti, yang akan datang kembali untuk mengakhiri dunia dan memberikan kita janji kekekalan.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Tidak ada komentar:

theologi Lutheran

Kedaulatan Anugerah Allah Melampaui Batas-Batas Duniawi - Kisah para Rasul 7:1-8

Shalom..... Firman Allah untuk kita. Kisah Para Rasul 7:2 Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah!...

what about theologi luther ?