Kamis, 18 Juni 2026

Takhta Herodes vs Takhta Kristus (Kesombongan dihancurkan, Firman yang Tidak Dapat Dibelenggu). Kis.P Rasul 12:21-25

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 12:21
Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka.
Kisah Para Rasul 12:22
Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!"
Kisah Para Rasul 12:23
Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.
Kisah Para Rasul 12:24
Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.
Kisah Para Rasul 12:25
Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus.

Saudara saudari, kita tahu bahwa segala Kuasa politik, kekayaan, dan kesombongan manusia memiliki batas yang mutlak di hadapan Allah, sedangkan Firman Tuhan tidak dapat dibelenggu oleh penganiayaan duniawi.

Dalam renungan kita saat ini, dapat kita lihat bahwa Allah sendiri yang menghakimi penyembahan berhala terhadap Raja Herodes, dan lewat firman ini Allah menyatakan bahwa salib dan Firman Kristus senantiasa menang, bertumbuh, dan memberikan kehidupan yang kekal.

Saudara saudari, sejak manusia jatuh ke dalam Dosa. Manusia lebih sering mencari mencari kemegahan, kuasa, dan pengakuan duniawi di luar kuasa Kristus. Dalam perikop ini, Herodes adalah contoh ekstrem dari cor curvum in se (hati yang melengkung ke dalam diri sendiri). Dengan kisah ini, hukum Allah menegur kita supaya jangan kita mencuri kemuliaan Allah saat sukses, menyombongkan pencapaian rohani kita, atau senang dipuji seolah-olah keberhasilan kita adalah karena kehebatan kita sendiri terlebih dalam kesuksesan di Gereja Tuhan, baik lewat jemaat yang bertambah tambah ataupun bangunan Gereja yang semakin mewah dan bagus di lihat mata.

Tahukah anda, apakah yang terjadi setelah Herodes berdiri di atas kesombongannya ?.
Seketika itu juga, Herodes ditampar oleh malaikat Tuhan karena ia tidak menghormati Allah dan tidak memberi-Nya kemuliaan. Ia mati mengenaskan karena dimakan oleh cacing-cacing.

Dalam pandangan teologi Lutheran, Kematian Herodes menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan kemuliaan-Nya dirampas oleh siapa pun (Yesaya 42:8). Setiap manusia, baik sekaya atau sekuasa apa pun mereka di dunia, harus tetap mengingat bahwa di hadapan Allah mereka hanyalah debu dan tanah yang dihidupkan oleh Allah dengan anugerahNya. Setiap kutipan kutipan tokoh reformasi Martin Luther yang saya sampaikan dalam khotbah khotbah kita sering mengingatkan kita bahwa Hukum Allah menghancurkan kesombongan manusia oleh karena itu, marilah kita sadar bahwa kita rapuh, berdosa, dan sepenuhnya membutuhkan anugerah-Nya. Penghakiman atas Herodes adalah pengingat bahwa menempatkan diri kita di tempat yang seharusnya milik Allah akan berujung pada kebinasaan.

Saudara saudari, raja Herodes adalah memang raja yang jahat, sebab Herodeslah yang menghambat pemberitaan Injil, menganiaya jemaat (membunuh Yakobus dan memenjarakan Petrus) mati membusuk, tetapi kita harus percaya bahwa meskipun penderitaan itu dapat terjadi, atau dilakukan oleh orang orang jahat terhadap orang percaya, kita harus yakin dan percaya bahwa Injil Kristus justru semakin tidak terbendung. Seperti dalam perikop ini, setelah Allah membinasakan Horedes, maka dengan aman dan penuh semangat Iman - Barnabas, Saulus, dan Markus pun tetap melanjutkan misi pelayanan mereka.

Lewat renungan harian kita ini, kita juga di ingatkan terkhusus untuk seluruh jemaat GKLI (sebagai gereja lutheran) kita harus percaya bahwa Kekuatan gereja tidak terletak pada perlindungan politik, gedung yang megah, atau kepemimpinan manusia (pendeta/guru huria), melainkan hanya pada Kuasa Firman Allah (The Word of God). Walaupun kekuatan politik, para pemimpin gereja dapat membawa kepada kemajuan, sadarilah bahwa semua itu dapat terjadi oleh karena pemeliharaan Allah lewat Kuasa Injil baik secara umum maupun pribadi. Dan lewat kisah Herodes firman ini mengingatkan kita bahwa kuasa sekuler atau penganiayaan tidak akan pernah bisa membunuh Injil. Injil adalah Firman-Nya yang hidup sebab digerakkan oleh Roh Kudus, karena itu seluruh Gereja Tuhan juga harus berdiri di atas pengajaran dan pengakuan yang benar, memberitakan Injil dengan murni dan melayan alat alat Anugerah Allah (means of Grace) ke 2 sakramen itu.

Di tengah dunia yang sering kali mengancam iman Kristen, Injil menjamin bahwa Kristus tetap memegang kendali atas sejarah manusia dan GerejanNya bahkan jemaat jemaat-Nya. 

Oleh karena itu, marilah kita tetap hidup di dalam pujian kepada Allah, baik saat kita kecil maupun besar, tetaplah memuji Allah. 
Bahkan ketika kita diberkati dengan jabatan, kepintaran, atau harta, akuilah dengan rendah hati bahwa itu semua hanyalah anugerah (Sola Gratia). 
Dalam perjalanan Iman kita, marilah jangan gentar terhadap ancaman, krisis ekonomi, atau pergeseran budaya yang memusuhi iman Kristen. Meskipun para penguasa dunia bisa datang dan pergi, tetapi Firman Tuhan tetap tinggal untuk selama-lamanya (1 Petrus 1:25). 

Melalui baptisan dan iman, Roh Kudus telah mulai bekerja meluruskan kembali hati kita yang bengkok oleh karena dosa, sehingga mata kita seharusnya tidak lagi memandang kehebatan diri sendiri, melainkan memandang kepada Kristus. Kita tidak perlu lagi haus akan pujian dunia, karena di dalam Kristus, kita telah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya secara sempurna.

Jadi, sebagai orang orang yang telah ditebus, dibebaskan dan dibenarkan dihadapan Allah, tugas kita adalah mewartakan kesetiaan Allah. Tugas gereja yang paling utama adalah memberitakan Injil keselamatan dengan tetap melayankan firman dan sakramen dengan setia. Seperti Barnabas dan Saulus yang terus melangkah maju, maka marilah kita juga dengan setia menyebarkan Firman Tuhan di lingkungan tempat kita hidup sehari-hari, dan secara khusus di dalam keluarga kita.


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Rabu, 17 Juni 2026

Allah yang bertindak dalam kegelapan - Khotbah Lutheran - Kisah para rasul 12:1-8

Shalommm...

Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 12:1
Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.
Kisah Para Rasul 12:2
Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.
Kisah Para Rasul 12:3
Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
Kisah Para Rasul 12:4
Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Kisah Para Rasul 12:5
Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.
Kisah Para Rasul 12:6
Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.
Kisah Para Rasul 12:7
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
Kisah Para Rasul 12:8
Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!"


Saudara saudari, lewat khotbah khotbah yang saya sampaikan kepada kita, sering saya mengutip pernyataan Martin Luther yang mengatakan bahwa mengikut Kristus bukan berarti jalan kita akan selalu mulus atau penuh kemakmuran duniawi. Sebaliknya, setiap orang percaya dan gereja Tuhan di dunia ini (ecclesia militans) akan sering kali mengalami penderitaan atau tantangan dan harus siap memikul salib.

Dalam teks kita hari ini, kita melihat bahwa kuasa duniawi yang diwakili oleh Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap jemaat jemaat, bahkan terhadap Yakobus, saudara Yohanes telah dibunuh dengan pedang. Dan Petrus sendiri dijebloskan ke dalam penjara terdalam, dirantai di antara dua prajurit, dan dijaga ketat. Secara manusiawi, situasi ini tanpa harapan untuk lepas. Dan kelihatannya Dimata orang orang jahat Kuasa maut dan hukum dunia tampak menang mutlak.

Saudara saudari, tahukah anda bahwa mengikat Petrus dan dinding penjara yang tebal dalam teologi Lutheran diajarkan kepada kita bahwa itu adalah lambang penderitaan saat ini, dimana dosa, maut, dan ketakutan mengurung hidup kita??.
Bahkan dalam kejadian itu, Mengapakah Yakobus mati dipenggal, sementara Petrus dibebaskan? 
Saudara saudari, disinilah akal budi manusia membentur tembok misteri kedaulatan Allah. Hukum Taurat meremukkan kesombongan kita agar kita sadar bahwa kita tidak dapat memegang kendali atas hidup, mati, atau hari esok kita.

Dengan keadaan yang seperti ini, tentu membuat seluruh murid akan ketakutan bahkan orang percaya sekalipun. Pada saat itu, Jemaat mula-mula berkumpul di rumah Maria, ibu Yohanes Markus. Mereka sangat cemas namun tetap bertekun dalam doa. Mereka menyadari bahwa doa bukanlah sebuah "transaksi magic" untuk memaksa Tuhan dalam menolong mereka, melainkan dengan doa doa yang mereka sampaikan menjadi suatu bentuk jeritan iman dari manusia yang kehabisan daya di hadapan kuasa maut.

Ketika manusia berada di titik nol (tidak berdaya), di situlah Injil (Gospel) menyatakan kuasanya secara murni sebagai Sola Gratia (anugerah). 
Dalam keterpurukan mereka, Allah lebih dahulu ber inisiatif untuk menolong. Perhatikanlah bahwa ketika Petrus sedang tertidur pulas pada malam sebelum ia dieksekusi. Petrus tidak sedang berusaha mendobrak pintu penjara. Ia pasrah dan pembebasan dari Allah itu datang dengan murni dari luar dirinya (extra nos). Malaikat Tuhan datang, terang bersinar di dalam sel, dan rantai-rantai itu gugur dengan sendirinya. 
Sama seperti Petrus yang awalnya mengira pembebasan itu hanya mimpi, maka marilah kita juga percaya bahwa sungguh betapa besar kasih karunia Allah untuk kita. Injil yang memerdekakan kita bukan karena usaha kita, sungguh hanya karena kuasa Kristus yang telah menerobos penjara dosa dan maut bagi kita sehingga kita bebas dan merdeka.

Oleh karena itu, marilah kita menghidupi realita iman. Sebab dengan Iman kita akan dituntun untuk bersandar kepada Tuhan. Baik saat kita mengalami akhir hidup seperti Yakobus (penderitaan/mati martir) maupun seperti Petrus (pembebasan fisik), kita akan tetap percaya bahwa keselamatan kita tetap aman di dalam Kristus. Kematian Yakobus adalah bukti tugas pelayanannya di dunia telah selesai, sedangkan Petrus masih diberi waktu. Keduanya tetap menang di dalam Kristus.

Ketika Malaikat membangunkan Petrus dan menyuruhnya untuk memakai ikat pinggang serta kasutnya. Demikianlah juga Kristus memanggil kita untuk bangkit dari ketakutan rohani, dan mengenakan perlengkapan senjata Allah, serta melangkah keluar dari "penjara-penjara" atau segala bentuk pengandalan diri dan kekhawatiran dunia dalam hidup.

Marilah kita terus tekun dalam bersaksi, saling mendoakan dalam persekutuan jemaat, dan mempercayai bahwa dalam hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.


Kiranya kasih setia Allah Bapa Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua amin 🙏🏾

Selasa, 16 Juni 2026

"Anugerah yang Meruntuhkan Batas dan Menggerakkan Kasih" - Kisah para rasul 11:15-30

"Anugerah yang Meruntuhkan Batas dan Menggerakkan Kasih" - Kisah para rasul 11:15-30

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 11:23
Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,
Kisah Para Rasul 11:24
karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
Kisah Para Rasul 11:25
Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
Kisah Para Rasul 11:26
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
Kisah Para Rasul 11:27
Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia.
Kisah Para Rasul 11:28
Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.
Kisah Para Rasul 11:29
Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea.
Kisah Para Rasul 11:30
Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.

Saudara saudari, Salah satu dasar penting gereja adalah Terang Yesus Kristus , dimana gereja itu adalah persekutuan orang orang percaya yang telah dipanggil Allah lewat Injil dan Kuasanya untuk keluar dari kegelapan kedalam
terang Kristus, yang akan diperlengkapi lewat Injil dan sakramen, dan diutus kembali ke tengah dunia dengan misi Allah. Misi itu adalah membawa setiap orang menjadi murid Kristus.

Saudara saudari, pernahkah anda berpikir bagaimana sebuah komunitas rohani dapat bertahan ketika badai penderitaan itu datang? 
Secara manusia, penderitaan itu sering memecah belah. Namun, di dalam rencana dan Kuasa Allah, badai justru menjadi angin yang menerbangkan benih firman-Nya ke tempat-tempat yang tak terduga.

Lewat khotbah ini kita di ingatkan kembali akan sejarah gereja mula-mula. Dimana Injil yang adalah kekuatan Allah dan sarana keselamatan kini melintasi batas bangsa Yahudi dan memeluk bangsa-bangsa non-Yahudi. Melalui perikop ini, kita akan melihat bagaimana Allah bekerja secara berdaulat demi menyelamatkan manusia berdosa hanya oleh karena kasih karunia-Nya.

Setelah penganiayaan Stefanus, jemaat terpisah pisah, beberapa orang pergi ke Antiokhia bahkan ada yang ke kota metropolitan ketiga terbesar di Kekaisaran Romawi yang hidup mereka dipenuhi dengan penyembahan berhala dan moralitas yang rusak. Di tengah kegelapan moral tersebut, jemaat mula-mula mulai memberitakan Injil kepada orang-orang Yunani. Dan lewat firman ini dinyatakan bahwa "Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan"(21).
Keberhasilan mereka dalam memberitakan Injil pertobatan sesungguhnya bukanlah kefasihan berkhotbah atau strategi hebat para murid yang mempertobatkan kota rohani yang mati itu. Melainkan "tangan Tuhan" dimana kuasa Roh Kudus yang bekerja aktif. Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Ketika Injil diberitakan, Allah yang akan membuka hati mereka yang terhilang. Barnabas tidak melihat kepada latar belakang masa lalu orang-orang Yunani itu, dan Ia tidak menuntut mereka menjadi orang Yahudi terlebih dahulu, sebab Ia hanya melihat belas kasih karunia Allah. Barnabas, yang namanya berarti "anak penghiburan", menasihati mereka agar mereka tetap setia dan berpaut kepada Tuhan. Dan di Antiokhia pulalah, Barnabas menjemput Saulus (Paulus) untuk melayani bersama. Dan di kota inilah juga untuk pertama kalinya murid-murid itu disebut Kristen. Nama "Kristen" berarti "milik Kristus" atau "pengikut Kristus". Yang artinya identitas mereka bukan lagi didasarkan pada suku, ras, atau status sosial, melainkan sepenuhnya di dalam Kristus. Kita dibenarkan bukan karena siapa kita, melainkan karena kepada Siapa kita bersandar.

Martin Luther juga pernah menegaskan bahwa "Iman adalah hal yang hidup dan aktif, yang tidak mungkin tidak menghasilkan perbuatan baik."

Oleh karena itu, marilah kita 
menyadari bahwa Gereja adalah Pekerjaan Allah, sebab Gereja berdiri dan berkembang bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena tangan Tuhan yang memegang dan memimpinnya, dan Janganlah kamu tawar hati saat menghadapi tantangan zaman. Jadilah pemberitaan Injil, jangan membatasi anugerahNya sebab Injil Kristus diperuntukkan bagi semua orang, tanpa memandang status, masa lalu, maupun latar belakang sosial mereka. 
Dan hiduplah sebagai seorang "Kristen" yang Sejati. Dimana identitas kita melekat pada Kristus. Marilah mewujudkan iman kita melalui perbuatan kasih yang nyata bagi sesama kita, sama seperti jemaat Antiokhia yang digerakkan oleh kemurahan hati.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻🙏🙏🏾

Senin, 15 Juni 2026

Janji Firman-Nya yang Teguh di Tengah Kesesakan - Mazmur 138:1-8

Shalom....
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 138:1
Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
Mazmur 138:2
Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
Mazmur 138:3
Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
Mazmur 138:4
Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
Mazmur 138:5
mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
Mazmur 138:6
TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
Mazmur 138:7
Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
Mazmur 138:8
TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Saudara saudari, dalam bacaan firman untuk kita saat ini, Daud mengundang kita untuk memfokuskan pikiran kita kepada Allah, khususnya mengenai nama dan firman-Nya. Nama-Nya dan firman-Nya melebihi segala sesuatu, sehingga semua yang ada di bumi akan menyanyi bagi Tuhan. Nama-Nya sungguh besar dan berkuasa, firman-Nya teguh dan kekal. Bila kita memfokuskan pikiran kepada-Nya, maka kita akan belajar percaya akan kasih dan kesetiaan-Nya. 

Pemazmur membuka nyanyian ini dengan kalimat radikal: "Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu." (ay. 1). 
Saudara saudari, kita harus menyadari dan mengetahui bahwa pada zaman Daud, "para allah" merujuk pada berhala bangsa-bangsa pagan atau para penguasa duniawi. Dan di zaman modern pada saat ini "para allah" ini menjelma dan merujuk kepada kekayaan, kesehatan, reputasi, dan kekuatan moral kita sendiri yang membuat kita memfokuskan kita dengan hal hal ini dan menomorduakan Tuhan.

Dengan demikian, lewat Firman Tuhan hari ini kita di ingatkan kembali bagaimanakah dan dimanakah hati berada saat  ini. Ketika badai hidup datang, ke mana kita pertama kali mencari pertolongan? 
Sering kali kita berlari kepada berhala modern kita atau mengandalkan kesalehan diri sendiri. Dalam pengajaran teologi Lutheran kita di ingatkan dan di ajarkan bahwa mengandalkan diri sendiri adalah berhala dunia yang hanya akan membawa kita pada keputusasaan. Kita adalah orang berdosa karena meragukan Allah saat berada di dalam "kesesakan" (ay. 7). Di dalam kesesakan kita, sesungguhnya kita membutuhkan intervensi yang datang dari luar diri kita yaitu pertolongan dari Allah. Meskipun menghadapi kesesakan dan serangan (ay. 7), kita sebagai orang yang telah dibenarkan "Simul iustus et peccator" harus tetap berada dalam perlindungan yang sejati. Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan Ia selalu hadir di dalam hidup kita, Kehadiran Allah yang nyata dapat kita nikmati melalui Alat-alat anugerahNya (Means of Grace) lewat Baptisan, Absolusi, dan Sakramen Altar yang memelihara dan menguatkan iman kita serta membuat kita berada di dalam kasih sayangNya.

Oleh karena itu, Lewat firman hari ini, marilah kita juga meneladani Daud. Sebab Daud selalu memuji kasih dan kesetiaan Tuhan, di mana janji Allah melampaui segalanya (2). Marilah kita juga belajar bahwa orang percaya tidak perlu sempit hati pada waktu mengalami kesempitan hidup, demikian juga dengan Gereja Tuhan. Tetaplah memuji Allah, dan bersyukurlah atas kesetiaan-Nya, serta ingatlah bahwa segala kejadian yang datang dan terjadi dalam hidup kita berada di bawah sorotan kuasa dan pengetahuan Allah. Bersandarlah kepada Tuhan, dan yakinlah bahwa Tuhan akan mengubah kesempitan menjadi kesempatan bagi kita untuk menyelami kasih dan kuasa-Nya secara baru. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa,  Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. amin 😊

Jumat, 12 Juni 2026

Kesalehan Manusia dan Kasih Karunia Allah - Kisah para rasul 10:1-4

Shalom

Firman ALLAH UNTUK KITA.
Kisah Para Rasul 10:1
Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia.
Kisah Para Rasul 10:2
Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.
Kisah Para Rasul 10:3
Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!"
Kisah Para Rasul 10:4
Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau..


Saudara saudari,  Sebagai orang Kristen yang berakar pada teologi Lutheran, Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah) dan Sola Fide (Hanya oleh Iman). Kita tahu betul bahwa keselamatan bukanlah hasil dari usaha, kesalehan, atau moralitas manusia. Sebab keselamatan sepenuhnya adalah karya Allah yang dianugerahkan kepada kita.

Dalam bacaan kita hari ini, dari kisah Para Rasul 10:1-8 membawa kita pada sebuah pengenalan yang menarik. Dimana kita diperkenalkan dengan sosok Kornelius, seorang perwira Romawi yang katakan begitu saleh, takut akan Allah, rajin memberi sedekah, dan senantiasa berdoa.

Lewat perikop ini muncul beberapa pertanyaan teologis bagi kita : 
Apakah kesalehan Kornelius yang menggerakkan hati Allah? Atau Apakah perbuatan baiknya dapat membeli perhatian surga? 
Lewat firman ini ditegaskan kepada kita bahwa iman yang kuat  bukanlah tentang kehebatan manusia mencari Allah, melainkan tentang bagaimana rahmat Allah mencari dan menembus batas kehidupan manusia.

Dalam Ayat 3-6 menunjukkan bahwa Allah yang mengambil langkah pertama. Kornelius tidak sedang merancang rencana untuk mencari Simon Petrus, bahkan tidak mengenal siapa itu Petrus.
Malaikat Allah yang datang memberikan instruksi yang sangat spesifik: "Suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus... Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang rumahnya di tepi laut." (Ayat 5-6). Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah kita selalu  menyiapkan jalan yang terbaik bagi kita sebelum kita merencanakannya. Kemudian menembus tembok pemisah, sebab bagi kalangan orang Yahudi (termasuk Petrus pada saat itu), bergaul dengan perwira Romawi adalah hal yang tabu dan haram. Namun, rahmat Allah tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat budaya, ras, atau status sosial. Allah sungguh mendatangi Kornelius di Kaisarea dan menggerakkan Petrus di Yope untuk meruntuhkan tembok pemisah itu.

Saudara saudari, teladan apakah yang kita dapatkan dari kisah ini ?. 
1. Kornelius tidak berargumen atau mempertanyakan mengapa ia harus menjemput seorang nelayan Yahudi biasa. Sebab Iman yang sejati akan selalu melahirkan ketaatan yang nyata.
2.  Kornelius berdampak pada seisi rumahnya. Ia mengutus prajurit dan pelayan yang juga takut akan Allah. Ini mengingatkan kita bahwa anugerah Allah di dalam hidup kita harus terpancar dan membawa pengaruh rohani bagi orang-orang di sekitar kita.

Oleh karena itu, Berhentilah mengandalkan kesalehan diri sendiri: Jika kita merasa sudah selamat hanya karena kita rajin beribadah, memberi persembahan, atau aktif di gereja, kita sedang jatuh pada pembenaran oleh perbuatan (justification by works). Mari belajar seperti Kornelius: taruhlah semua perbuatan baik kita sebagai ucapan syukur di hadapan Allah, namun tetap sadari bahwa kita seutuhnya bergantung pada rahmat Kristus. Dan lewat kisah ini, diajarkan kepada kita bahwa Allah sedang bekerja di luar kita, bahkan di hati orang-orang yang mungkin kita anggap jauh dari Tuhan atau musuh kita sekalipun. Marilah kita hidup taat bagi Injil. Sebab Ketika Tuhan menggerakkan hati kita untuk menyatakan kasih-Nya kepada sesama, mendoakan orang lain, atau membagikan kabar baik, taatilah. Jangan biarkan prasangka kita menghalangi pekerjaan Roh Kudus. Dan  ketaatan seperti Kornelius, dan hiduplah dengan siap selalu unrukt menjadi saksi bahwa kasih keselamatan Allah tersedia bagi semua bangsa.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Senin, 08 Juni 2026

Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah - Kisah para rasul 8:22-25

Shalom.
"Karunia yang tidak diperjual belikan melainkan Anugerah"
Kisah para rasul 8:22-25
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 8:22
Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini;
Kisah Para Rasul 8:23
sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."
Kisah Para Rasul 8:24
Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu."
Kisah Para Rasul 8:25
Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.

Saudara saudari, jikalau kita perhatikan dalam kehidupan saat ini, manusia lebih suka hidup alami sebagai manusia yang berdosa yang melingkar pada dirinya sendiri dan selalu ingin memegang kendali. Dalam kehidupan sehari hari kita hidup dengan prinsip dunia: "Ada harga, ada rupa; ada uang, ada kuasa." Dan lebih Celakanya, mentalitas transaksional ini sering kita bawa ke dalam hubungan kita dengan Allah. 
Lewat teks khotbah hari ini, kita melihat perjumpaan yang tajam antara Rasul Petrus dan Simon si Penyihir. Simon sangat terpesona oleh kuasa Roh Kudus yang turun melalui penumpangan tangan para rasul. Karena latar belakangnya sebagai dukun yang terbiasa membeli atau menjual mantra, ia menawarkan uang untuk membeli karunia Allah. 

Dalam konfesi Augsburg (Pasal II tentang Dosa Warisan) ditegaskan bahwa tanpa Roh Kudus, manusia akan penuh dengan nafsu jahat dan tidak dapat memiliki rasa takut yang benar kepada Allah. Simon mengira status "sudah dibaptis" (ayat 13) otomatis membuatnya rohani. Namun, baptisan bukanlah jimat. Dalam hal ini Simon jatuh kedalam dosa sebab ia menempatkan karunia Allah di bawah kuasa dompetnya. 
Lewat renungan ini, Hukum Taurat Allah hari ini menegur kita: Apakah kita menuruti Tuhan hanya agar bisnis kita lancar? Atau apakah kita mau memberi persembahan dengan ekspektasi bahwa Tuhan wajib membalasnya berkali-kali lipat? Tindakan seperti ini adalah dosa, dan ini adalah karakter Simoni modern!

Namun saudara saudari, mendengar kutukan Hukum Taurat yang begitu keras, Simon menjadi ketakutan. Dengan ketakutannya, Simon tidak berdoa sendiri; ia meminta Petrus untuk mendoakannya. Di satu sisi, ini menunjukkan ia mengakui otoritas para rasul. Di sisi lain, ini menyingkapkan ketakutan egoisnya: ia lebih takut pada hukuman dosa (akibatnya) daripada kekejian dosa itu sendiri di hadapan Allah.

Dalam pandangan teologi lutheran, diajarkan kepada kita bahwa pertobatan (repentance) terdiri dari dua bagian: 
1. kontrisi (teror yang melanda hati nurani karena kesadaran akan dosa melalui Taurat) dan 
2. Iman (yang lahir dari Injil bahwa dosa diampuni demi Kristus).
Dalam perikop ini, Simon berada pada tahap ketakutan (kontrisi jasmani). Ia belum sepenuhnya memandang Salib Kristus, melainkan masih melihat para rasul sebagai perantara magis yang baru. Kita harus sadar bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri dengan uang atau membeli belas kasihan Allah dengan air mata maupun penyesalan kita tanpa pertobatan oleh Iman.

Saudara saudari, marilah kita perhatikan renungan ini, apakah yang dilakukan para rasul setelah melihat Simon ketakutan dan datang memohon agar didoakan ?. Para rasul tidak berhenti melayani, mereka tidak mengutuk seluruh kota Samaria. Sebaliknya, mereka terus memberitakan firman Tuhan dan Injil, kota Samaria adalah wilayah orang-orang kafir dan setengah kafir yang dibenci oleh orang Yahudi. Namun, Allah memberikan Roh Kudus-Nya secara cuma-cuma kepada mereka melalui pemberitaan Firman. Karunia Allah tidak bisa dibeli dengan perak Simon, tetapi telah dibeli lunas dengan darah emas Kristus di atas kayu salib.

Lewat Injil yang disampaikan oleh para rasul. Roh Kudus turut bekerja secara eksklusif melalui sarana-sarana anugerah (Means of Grace), yaitu Firman yang disampaikan dan Sakramen yang dilayankan. Jadi, karunia Roh Kudus bukan komoditas pameran yang bisa dipindahkan demi keuntungan pribadi. Melainkan Roh yang diberikan untuk menuntun atau membawa kita kepada ketaatan untuk mendengar Injil, Keselamatan, pengampunan dosa, dan pembenaran kita sebagai anugerah murni. Allah telah memberikan Diri-Nya bukan kepada mereka yang mampu membayar, melainkan kepada mereka yang krisis secara rohani dan mengakuinya di hadapan Altar Tuhan.

Oleh karena itu, sekarang marilah kita menyadari dan mempercayai bahwa Yesus Kristus telah membayar semua hutang dosa kita secara tuntas. Maka, jangan lagi kita mencoba membeli Allah dengan kebaikan, kesalehan, atau persembahan materi kita.
Hendaklah kita datang kepada-Nya dengan tangan yang kosong. Biarkan Hukum-Nya meremukkan kesombongan kita, dan biarkan Injil-Nya yang membalut hati kita dengan pengampunan yang penuh Anugerah kekal.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

Minggu, 07 Juni 2026

Allah memutuskan Akar dari penderitaan kita dan memberi kita anugerah Kekuatan - Mazmur 129

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 129:4
TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik.
Mazmur 129:5
Semua orang yang membenci Sion akan mendapat malu dan akan mundur.
Mazmur 129:6
Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut,
Mazmur 129:7
yang tidak digenggam tangan penyabit, atau dirangkum orang yang mengikat berkas,
Mazmur 129:8
sehingga orang-orang yang lewat tidak berkata: "Berkat TUHAN atas kamu! Kami memberkati kamu dalam nama TUHAN!"

Saudara saudari, dalam tiap tiap khotbah kita, sering isi Injil berkata kepada kita bahwa hal mengikut Yesus Kristus tidak menjadi jaminan hidup bahwa hidup kita akan bebas dari penderitaan. dalam khotbah kita ini pemazmur berkata: "Sangatlah mereka telah menyiksa aku sejak masa mudaku hendaklah Israel berkata demikian(1).
Sejak awal mula (Mesir, Babel, hingga era persekusi Gereja mula-mula), umat Allah akrab dengan penindasan. 
Dalam sebuah tulisan Martin Luther mengingatkan kita kembali bahwa salah satu tanda Gereja yang sejati (notae ecclesiae) adalah kepemilikan akan Salib, yang artinya "Gereja akan menghadapi ujian, pertentangan, dan penderitaan dari dunia".

Dalam ayat 3 dikatakan "Para pembajak membajak di atas punggungku, membuat alur bajaknya panjang-panjang." Ini adalah gambaran dari luka yang dalam, cambukan, dan beban berat yang dipaksakan kepada umat Tuhan.

Namun, lihatlah Anugerah Allah itu, ditengah keputusasaan, di ayat 4 firman ini kembali mengumandangkan berita sukacita (Injil) yang berkata bahwa "TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik." Bagaimana Allah memotong tali tersebut? 
Dalam teologi Lutheran, keadilan Allah (Iustitia Dei) dipenuhi secara sempurna di dalam Yesus Kristus. Di bukit Golgota, punggung Yesuslah yang rela dicambuk dan didera hingga robek demi memikul alur-alur dosa kita dan memutuskannya. 
Lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus memotong tali belenggu dosa, maut, dan iblis yang mengikat kita. Dan dengan demikianlah kita dibenarkan murni dihadapan Allah hanya oleh karena anugerah-Nya (Sola Gratia), bukan karena kekuatan kita bertahan di tengah badai. Dengan diputuskannya tali itu oleh Kristus, maka musuh-musuh rohani kita tidak lagi memiliki kuasa untuk mendakwa atau menghancurkan kita.

Dan dalam masa penantian kita akan kedatangan Yesus Kristus, mungkin kita juga akan tetap mengalami penindasan atau penderitaan sekalipun, namun penderitaan dan penindasan itu tidak dapat menggagalkan anugerahnya bagi kita sebab kita telah memiliki akar yang kokoh di dalam janji baptisan dan sakramen-Nya. Dan dengan demikianlah Allah akan memelihara kita, Gereja dan orang-orang percaya akan keluar sebagai pemenang karena Kristus yang telah menang untuk kita.

Oleh karena itu, marilah kita jangan terkejut jika hidup iman kita dipenuhi dengan tantangan, sebab setiap penderitaan rohani justru akan menuntun kita untuk tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan memandang kepada Salib Kristus. Marilah hidup dengan setia di dalam janji janjiNya, sebab TUHAN akan selalu setia pada perjanjian-Nya telah memutus tali belenggu dosamu. Kita tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan, melainkan di bawah berkat keselamatan yang kekal oleh anugerah Allah.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin

theologi Lutheran

Tetap Teguh di Bawah Naungan Salib dan Kasih Karunia - Kisah Para Rasul 14 : 21 - 23

Shalommm.., Firman Allah untuk kita. Kisah Para Rasul 14:21 Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh ba...

what about theologi luther ?