Sunday Sermon
Matius 21:33-46,
Dalam khotbah hari ini, Yesus mengingatkan kita tentang para penggarap kebun anggur yang lupa diri. Mereka menikmati fasilitas dari pemilik kebun, tetapi saat pemiliknya meminta hasil, mereka justru memberontak bahkan membunuh anak sang pemilik demi menguasai warisannya.
Kejadian ini adalah hal yang sama sering kita lakukan dan terjadi terus menerus dalam hidup manusia, sebab kita sering hidup seperti penggarap itu. Kita menikmati napas hidup, talenta, kesehatan, dan berkat dari Tuhan, tapi sering kali kita malah bertindak seolah hidup ini adalah milik mutlak kita sendiri, bahkan menolak panggilan Tuhan saat menuntut ketaatan kita, menolak jalan Tuhan karena tidak sesuai dengan rencana kita sendiri.
Ketika kita melihat pada Pengakuan Iman Augsburg (Augsburg Confession), Pasal II (Dosa Asal) & Pasal XVIII (Kehendak Bebas).
Doktrin Lutheran telah menegaskan bahwa setelah kejatuhan Adam, manusia telah kehilangan ketakutan dan iman yang benar kepada Allah, serta tidak memiliki kemampuan spiritual untuk berbalik kepada Allah dengan kekuatannya sendiri.
Artinya, mengapakah para penggarap membunuh Sang Anak?
Sesungguhnya Karena mereka dibutakan oleh dosa dan berpikir mereka bisa menjadi pemilik ("Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita"). Ini menunjukkan bahwa manusia secara alami memusuhi Allah, dan tahukah anda bahwa kita tidak akan bisa keluar dari status "penggarap yang jahat" ini tanpa intervensi Roh Kudus melalui Firman dan Sakramen.
Lewat Injil inilah kita dapat melihat perkataan Allah, sebab apa yang dibuang, ditolak dan disalibkan oleh dunia di Golgota, justru dijadikan Allah sebagai fondasi keselamatan yang kokoh bagi kita.
Dalam Ayat 42 mengenai "Batu Penjuru" sesungguhnya ini adalah proklamasi Solus Christus (Hanya Kristus). Dunia memang membuang-Nya (Salib), tetapi Allah meninggikan_Nya (Kebangkitan). Bagi orang percaya, Batu ini adalah dasar keselamatan yang kokoh (Formula Konkord XI tentang Pilihan Kekal), namun bagi mereka yang menolak-Nya, Batu ini menjadi batu penghakiman yang meremukkan.
Seperti bacaan pada hari ini, Pengakuan Iman Augsburg, Pasal VI (Tentang Ketaatan Baru).
Tahukah anda bahwa Perbuatan baik adalah buah yang pasti dari iman, bukan syarat keselamatan?
Dalam ayat 43 menyebutkan bahwa Kerajaan Allah akan diberikan kepada bangsa yang "menghasilkan buah". Jika kita melihat ke Buku Konkord, "buah" ini sesungguhnya bukanlah usaha manusia untuk menyenangkan Pemilik Kebun agar tidak dihukum. Buah ini muncul secara spontan karena kita telah dicangkokkan secara cuma-cuma kepada Sang Batu Penjuru (Kristus). Kita berbuah karena kita telah dibenarkan oleh iman (Justification by Faith).
Karena itu, Janganlah bangun hidupmu di atas ambisi pribadi, tetapi berdirilah di atas Kristus Sang Batu Penjuru yang tidak akan pernah goyah. Hiduplah merendahkan hati, dan ingatlah selalu bahwa kita hanyalah penggarap yang hidup murni karena kebaikan-Nya. Serahkan buah yang terbaik dari hidupmu untuk kemuliaan nama-Nya.
#vdma #mingguxviiisetelahtrinitatis #gkli #RenunganMinggu #Matius21 #BatuPenjuru #RenunganKristen