Sabtu, 20 Juni 2026

Khotbah Lutheran (Minggu III Set.Trinitatis) Matius 10:21-33 - Jangan Takut, Kristus menolong dan Menyelamatkan mu.

Khotbah Minggu III setelah Trinitatis 



Saudara-saudari yang dikasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus, saat ini kita telah masuk ke Minggu ke 3 setelah Trinitatis yang artinya -Ke_Tritunggalan Allah. Sebelum kita masuk ke khotbah Minggu hari ini mari kita kembali mengingat khotbah kita pada Minggu lalu, Injil Matius mengatakan kepada kita "Beritakanlah Injil". Dan jikalau kita bandingkan dengan evangelium hari ini, apakah yang akan terjadi dalam pemberitaan Injil?, dan bagaimanakah hasil dari pemberitaan Injil itu?. Dalam evangelium hari ini kita akan dibawa ke dalam realitas pemuridan yang keras. Dimana Yesus tidak menjanjikan kehidupan yang makmur, tenang, atau tanpa konflik di dunia ini. Sebaliknya, Ia berkata: “Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”

Jikalau kita benar benar mendengar dan merenungkan perkataan ini tentu hati kita secara alami akan merasa gentar. Dan sesungguhnya disinilah Hukum Taurat akan bekerja menyingkapkan kedagingan kita. Kita sering kali menjadi penakut, bahkan kita sering lebih takut kehilangan reputasi, takut dikucilkan oleh keluarga, dan takut menghadapi penolakan dunia daripada takut kepada Allah. Ketakutan kita membuktikan bahwa sungguh betapa lemahnya iman kita dan betapa lebih seringnya kita mencari keamanan di luar Kristus.
Oleh karena itu, ditengah pergumulan hidup pada saat ini baik dalam memberitakan Firman dan menyatakan yang benar, hari ini Firman Allah Berkata dengan thema khotbah : 
Jangan Takut, Kristus menolong  dan Menyelamatkan mu.

1. Meskipun harus dibenci dan ditolak
Saudara saudari, dunia lebih sering memfitnah gereja dan melemparkan tuduhan palsu terhadap orang beriman, sama seperti mereka menyebut Yesus sebagai "Beelzebul." 
Namun dalam buku konkord kita sebagai ajaran Lutheran yang murni diyakini dan mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran Allah tidak dapat dipenjara atau dibelenggu oleh siapapun. 
Yesus telah menegaskan bahwa dunia akan membenci para murid karena dunia terlebih dahulu membenci Yesus (Yohanes 15:18). Dengan demikian kita juga harus menyadari dan menerima bahwa kebencian dan penolakan adalah sebuah realitas karena kita mengikut Yesus. Ketika kita sungguh setia kepada kebenaran Injil, maka nilai-nilai kita juga akan bertabrakan dengan nilai-nilai dunia. Penolakan bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan bukti bahwa kita telah berada berjalan bersama dengan Kristus, jadi jangan pernah takut jika kamu harus dibenci dan ditolak oleh karena Injil, sebab lewat Injil hari ini Yesus juga menegaskan bahwa segala kuasa yang ada didunia ini terbatas, seperti dalam ayat 28. Penolakan, penghinaan, pengucilan, atau bahkan kematian fisik yang bisa dilakukan oleh dunia kepada kita memiliki batas akhir. Namun, keselamatan dan status kita sebagai anak Allah yang dijamin oleh Kristus bersifat kekal dan tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapa pun.

Dalam dunia kerja atau komunitas secara khusus di perantauan ini, ketika kita harus mengambil keputusan yang jujur dan benar secara moral namun tidak populer, maka tetaplah melangkah dalam kebenaran itu. Kita  tidak boleh mengorbankan integritas iman hanya demi kenyamanan sosial atau naik jabatan, ingatlah bahwa kita tidak lagi diperbudak oleh opini orang lain melainkan dipelihara oleh kebenaran Kristus.

Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (34). Bagi sebagian orang kalimat ini tentu akan terdengar sangat mengejutkan. Bahkan dalam pikiran kita akan timbul pertanyaan - Bukankah Yesus adalah Raja Damai?. 
Martin Luther menjelaskan bahwa "pedang" di sini adalah efek dari pekerjaan Injil yang murni. Ketika kebenaran Allah diberitakan di tengah dunia yang dikuasai oleh dosa, maka dunia akan bereaksi dengan menghadirkan permusuhan. Secara sempurna Injil akan memisahkan antara terang dan gelap, antara iman dan ketidakpercayaan. Bahkan dalam ikatan keluarga yang paling intim sekalipun bisa retak karena nama Yesus (21).

Percayalah bahwa pada hari penghakiman, Allah akan membuka segala sesuatu. Injil yang hari ini ditolak dan disalahpahami oleh dunia akan dinyatakan sebagai satu-satunya kebenaran yang menyelamatkan. Oleh karena itu, Jangan pernah takut dalam menyampaikan Injil dan menyatakan kebenaran meskipun harus ditolak karena itulah kita harus siap dan berani untuk mengalahkan ketakutan kita kepada manusia. Ketika kita tahu bahwa Kristus mengakui orang benar di hadapan Bapa (ayat 32), maka penolakan seluruh dunia sekalipun tidak akan mampu menggoyahkan kedamaian di hati kita.

2. Akuilah Yesus Kristus dan siaplah untuk memikul Salib.
Saudara saudari, menurut pandangan Lutheran, seorang Kristen yang memikul salib telah dibentuk secara mendalam oleh Teologi Salib (Theologia Crucis), dan konsep ini dirumuskan oleh Martin Luther untuk melawan "Teologi Kemuliaan" (Theologia Gloriae) yang sering kali mencari Allah dalam kesuksesan, kekayaan, dan kejayaan duniawi. Meskipun bagi pandangan dunia, kesuksesan dan kemakmuran adalah tujuan hidup, namun bagi orang percaya terlebih dalam pandangan Lutheran diajarkan bahwa dunia adalah Medan Perang Rohani, Bukan Surga Duniawi yang artinya, kita harus memandang dunia sebagai tempat yang telah jatuh ke dalam dosa namun telah di anugerahi Allah lewat Kristus (simul iustus et peccator). Dengan demikian, mengikut Kristus tentu pasti akan mendatangkan penolakan dari dunia. Sukacita Kristen tidak akan dapat dipisahkan dari ketiadaan masalah, melainkan akan selalu mengalami penolakan dan penderitaan sebagai salib oleh karena iman. Dunia bukanlah tempat untuk bersantai, melainkan tempat di mana iman harus diuji dan dimurnikan. Lantar dengan pernyataan ini apakah kita akan menyerah atau takut ??.
Saudara saudari, Salib adalah pengorbanan ego demi kesejahteraan sesama manusia (the neighbor). Dunia akan memandang kesuksesan dari seberapa banyak orang yang melayani kita, tetapi perspektif salib memandang kesuksesan dari seberapa besar kita melayani orang lain sebagai bentuk penyaluran kasih Kristus.

Dalam bacaan Teks khotbah selanjutnya pada Minggu ini ditutup dengan panggilan tegas: "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (ay. 38).
Artinya, marilah kita memandang bahwa salib bukanlah penderitaan umum manusia (seperti sakit penyakit biasa atau kemiskinan akibat kesalahan sendiri). Memikul salib bukan berarti mematikan manusia lama kita (keinginan daging, kesombongan, dan pembenaran diri) melainkan agar Kristus yang hidup di dalam kita. Sebab Salib adalah konsekuensi, cemoohan, dan beban yang kita pikul secara sukarela karena kita mempertahankan iman dan kebenaran Kristus di tengah dunia.

Saudara saudari, janganlah takut dan ragu sebab meskipun Yesus mengatakan bahwa kita harus memiliki salib, tetapi ketahuilah bahwa Kristus tidak pernah meminta kita memikul salib yang belum pernah Ia pikul sendiri. Ia telah berjalan memikul salib, menanggung murka Allah atas dosa-dosa kita, dan bangkit mengalahkan maut. Salib telah menjadi jalan keselamatan bagi kita, demikian setiap penderitaan dan penolakan menjadi jalan pemurnian iman bagi kita.
Sungguh Kita diselamatkan bukan karena kekuatan atau keteguhan hati kita sendiri, melainkan karena kasih karunia Bapa yang telah memilih kita. Jika Bapa memelihara burung pipit yang murah, tentulah Allah jauh lebih menjaga jiwa kita yang telah ditebus oleh darahNya yang mahal itu.  
Maka, jangan takut kepada mereka yang hanya bisa membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa atas jiwa (28). Sekarang baik hidup ataupun mati dalam penderitaan karna memberikan Injil Kristus kita berada di pihak Allah.

Lewat evangelium Minggu ini kiranya ketika kita merasa lemah dan tidak sanggup menghadapi "pedang" dunia, arahkan pandanganmu kepada Kristus. 
Kekuatan kita bukan berasal dari tekad kita, melainkan dari Sakramen dan Firman yang menguatkan kita setiap hari. Pikullah salibmu dengan penuh sukacita, sebab di balik salib ada mahkota kehidupan yang abadi yang akan kita peroleh.

Demikianlah Firman Allah.
Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾 










 

Jumat, 19 Juni 2026

Diselamatkan oleh Karena Anugerah Allah - Acara Ibadah Pemuda/i Lutheran - Minggu II Setelah Trinitatis

 

ACARA IBADAH KEBAKTIAN MUDA MUDI GKLI

20 Juni 2026


1.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 18 : 1 – 3 “Allah hadir Bagi Kita”

1. Allah hadir bagi kita dan hendak memb'ri berkat,
melimpahkan kuasa RohNya bagai hujan yang lebat.

        Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
              Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

2. Allah hadir, sungguh hadir di jemaatNya yang kudus;
oleh kasih-kurniaNya biar kita ditebus.

         Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
              Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

3. Allah hadir! O, percaya dan berdoa padaNya
agar kita dikobarkan oleh nyala kasihnya.

          Reff : Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah!
               Baharui hati kami; o, curahkan kurnia.

2.      Doa Pembuka

Bapa kami yang ada di Surga, kini kami para Remaja dan pemuda/I datang kehadapanMu. Tuhan kami rindu supaya kiranya Engkau memelihara Iman kami, agar kami tetap di dalam pengajaran yang benar. Oleh karena itu, saat ini kami akan mendengarkan Firman Mu, ajar dan tuntunlah kami, agar kami beroleh Iman yang kuat sehingga dalam hidup kami kami dapat berbuat yang baik sesuai dengan tuntutan Iman kami. Tuhan pada saat ini, kami juga mengingat saudara/I kami yang tidak dapat bersama sama dengan kami pada saat ini, berkatilah mereka, dan kiranya Engkau selalu memelihara dan menuntun mereka agar kiranya di saat nanti kami dapat bersama sama untuk mendengarkan Firman Mu. Kami juga berdoa untuk orang tua kami, kami mohon kiranya sertailah hidup mereka, berikan kesehatan dan kekuatan dan pelihara lah mereka agar mereka tetap sehat dan tambahkan juga rejeki bagi orang tua kami agar kami beroleh kecukupan dan kedamaian dalam kehidupan kami setiap hari. Saat ini juga kami begitu hina di hadapanMu karna dosa dosa yang kami perbuat, Tuhan ampunilah kami dari dosa kami itu, agar kiranya kami dapat layak datang kepadaMu dan memuji namaMu yang kudus, dalam nama Bapa, putera an roh kudus kami telah berdoa. Amin!.

3.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 64 : 1 – 2 “Bila ku lihat bintang gemerlapan”

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
'ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"
Maka jiwaku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau, Allahku!"

4.      Renungan

Nats : Roma 5 : 6 - 15

Thema : Diselamatkan oleh Karena Anugerah Allah

Tujuan : Supaya anak atau remaja/Pmuda dan pemudi percaya bahwa keselamatan itu

     hanyalah Anugerah Allah.

1.      Allah memberikan kita keselamatan Ketika kita dalam keadaan berdosa/lemah

2.      Yesus adalah jalan pendamai antara Allah dengan manusia

3.      Yesus telah mati untuk kita

4.      Kita beroleh keselamatan bukan karena kebaikan dan kekuatan kita

Hafalan : Roma 5 : 11 “Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah di dalam Allah oleh karena Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu”.

5.      Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 410 : 1 – 3 (Tenanglah kini hatiku)

1.  Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku.
Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tanganNya.

          Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
                Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

2.  Di malam yang gelap benar, di taman indah dan segar,
di taufan dan di laut tenang tetap tanganku dipegang.

          Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
                Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

3.  Tak kusesalkan hidupku, betapa juga nasibku,
sebab Engkau dekat, tanganMu kupegang erat.

          Reff : Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
                Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

6.      Doa penutup  + Berkat

 

Anugerah Tuhan diberikan saat kita Berdosa - Roma 5:6-15 (Khotbah Lutheran)

Syalom
Firman Allah untuk kita.
Roma 5:6
Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
Roma 5:7
Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati.
Roma 5:8
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Roma 5:9
Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
Roma 5:10
Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Roma 5:11
Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
Roma 5:12
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Roma 5:13
Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
Roma 5:14
Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
Roma 5:15
Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.


Saudara saudari, kita tahu bahwa dunia sering kali mengajarkan prinsip timbal balik (balas Budi) yang artinya "Saya akan baik kepadamu, jika kamu baik kepadaku." Dan prinsip ini kita hanya akan di dorong untuk memberikan hadiah hanya kepada orang yang kita cintai, bukan kepada musuh kita. Lewat renungan kita hari ini, firman Tuhan meruntuhkan standar atau prinsip manusia tersebut. Rasul Paulus mengajarkan tentang Anugerah yaitu kasih karunia Allah yang tanpa syarat (Sola Gratia).

Di dalam ayat 8 dikatakan "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Sungguh, ini adalah kebenaran yang nyata dan tidak dapat dipikirkan oleh manusia sebab, Kristus tidak menunggu kita untuk terlebih dahulu menjadi suci baru Dia turun ke dunia dan mati di kayu salib serta bangkit. Allah tidak menunggu kita bertobat atau memperbaiki hidup terlebih dahulu. Yesus datang dengan penuh kasih (Yoh 3:16) saat kita berada di titik terendah (dalam keadaan berdosa yang membuat kita najis dihadapan Allah, Ia datang bukan hanya untuk membersihkan kita dari dosa melainkan juga sebagai jalan perdamaian kita dengan Allah (ayat 10).

Sebagai orang Lutheran, kita harus percaya bahwa Alkitab mengajarkan dan menegaskan kepada kita bahwa keselamatan itu bersifat objektif yang hanya datang dari Allah tanpa usaha manusia. Kita dibenarkan dihadapan Allah bukanlah karena hasil dari usaha, perasaan, atau perbuatan baik kita. Kepastian keselamatan kita berada di luar diri kita, yaitu pada Kristus yang disalibkan bagi kita (pro nobis). Jika keselamatan bergantung pada kesucian kita, maka kita akan selalu hidup dalam ketakutan. Namun, karena Kristus mati saat kita masih berdosa, demikianlah keselamatan kita menjadi absolut di dalam Kristus.

Dalam perikop kita hari ini, Paulus juga memberikan kepastian yang menyatakan "Lebih-lebih kita yang sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, pasti akan diselamatkan dari murka Allah (9)". Artinya, Jika Allah mau mati bagi kita saat kita masih menjadi musuh-Nya, masakan Dia akan membuang kita sekarang setelah kita menjadi anak-anak-Nya?.
Sungguh, melalui Kristus, kita telah menerima pendamaian (reconciliation). Dan sekarang kita bukan lagi budak ketakutan, melainkan orang-orang yang bermegah di dalam Allah. Bermegah dalam arti kesombongan diri, melainkan sukacita iman yang bersandar penuh pada kesetiaan Allah.

Kita tahu bahwa Dosa masuk ke dalam dunia lewat satu orang, dan melalui dosa itu datanglah maut. Kegagalan Adam mewariskan kerusakan total kepada seluruh umat manusia. Kita terikat oleh dosa dan tidak mampu menyelamatkan diri kita sendiri seperti yang tercatat dalam Konfesi Augsburg Pasal II tentang Dosa Asal.
Namun, lewat Adam yang ke 2 (Yesus Kristus) Terjadi pembalikan total seperti yang di tegaskan pada ayat 15 "Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam."
Hal ini menegaskan kepada kita bahwa Pelanggaran Adam membawa maut bagi banyak orang, tetapi kasih karunia oleh satu orang yaitu Yesus Kristus, sungguh jauh lebih melimpah mengalir kepada semua orang. Kuasa pengampunan Kristus jauh lebih kuat daripada kuasa kutuk dosa Adam. Sebab di mana dosa berkuasa, di sana kasih karunia akan melimpah dan jauh lebih dahsyat dari kutukan dosa.

Sekarang kita hidup dalam kepastian,  bukan Ketakutan. Meskipun hidup keKristenan sering kali penuh pasang surut, bahkan kita merasa gagal dan tidak layak. Marilah kita memandang pada salib kristus. Ingatlah bahwa Kristus mati saat Anda masih berdosa. Baptisan yang kita terima adalah tanda sah bahwa kita telah dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan-Nya.
Kira tidak perlu menambahkan apa pun pada pekerjaan Kristus. Sebab tugas kita bukanlah untuk membayar kembali keselamatan itu, melainkan menerimanya dengan  iman. Dan ketika kita telah menerima kasih karunia yang begitu melimpah, maka sekarang kita dipanggil untuk membagikan kasih yang sama. Kita harus hidup mengasihi sesama bukan untuk selamat, melainkan karena kita sudah diselamatkan. Kebaikan kita kepada sesama adalah buah alami dari iman yang hidup.

Oleh karena itu, marilah kita pulang dengan penuh damai yang dari Kristus dengan kepala yang tegak oleh pembenaran, bukan karena kekuatan kita. Kita telah berdamai dengan Allag, dan kita berada aman di dalam tangan-Nya.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Kamis, 18 Juni 2026

Takhta Herodes vs Takhta Kristus (Kesombongan dihancurkan, Firman yang Tidak Dapat Dibelenggu). Kis.P Rasul 12:21-25

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 12:21
Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka.
Kisah Para Rasul 12:22
Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!"
Kisah Para Rasul 12:23
Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.
Kisah Para Rasul 12:24
Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.
Kisah Para Rasul 12:25
Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus.

Saudara saudari, kita tahu bahwa segala Kuasa politik, kekayaan, dan kesombongan manusia memiliki batas yang mutlak di hadapan Allah, sedangkan Firman Tuhan tidak dapat dibelenggu oleh penganiayaan duniawi.

Dalam renungan kita saat ini, dapat kita lihat bahwa Allah sendiri yang menghakimi penyembahan berhala terhadap Raja Herodes, dan lewat firman ini Allah menyatakan bahwa salib dan Firman Kristus senantiasa menang, bertumbuh, dan memberikan kehidupan yang kekal.

Saudara saudari, sejak manusia jatuh ke dalam Dosa. Manusia lebih sering mencari mencari kemegahan, kuasa, dan pengakuan duniawi di luar kuasa Kristus. Dalam perikop ini, Herodes adalah contoh ekstrem dari cor curvum in se (hati yang melengkung ke dalam diri sendiri). Dengan kisah ini, hukum Allah menegur kita supaya jangan kita mencuri kemuliaan Allah saat sukses, menyombongkan pencapaian rohani kita, atau senang dipuji seolah-olah keberhasilan kita adalah karena kehebatan kita sendiri terlebih dalam kesuksesan di Gereja Tuhan, baik lewat jemaat yang bertambah tambah ataupun bangunan Gereja yang semakin mewah dan bagus di lihat mata.

Tahukah anda, apakah yang terjadi setelah Herodes berdiri di atas kesombongannya ?.
Seketika itu juga, Herodes ditampar oleh malaikat Tuhan karena ia tidak menghormati Allah dan tidak memberi-Nya kemuliaan. Ia mati mengenaskan karena dimakan oleh cacing-cacing.

Dalam pandangan teologi Lutheran, Kematian Herodes menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan kemuliaan-Nya dirampas oleh siapa pun (Yesaya 42:8). Setiap manusia, baik sekaya atau sekuasa apa pun mereka di dunia, harus tetap mengingat bahwa di hadapan Allah mereka hanyalah debu dan tanah yang dihidupkan oleh Allah dengan anugerahNya. Setiap kutipan kutipan tokoh reformasi Martin Luther yang saya sampaikan dalam khotbah khotbah kita sering mengingatkan kita bahwa Hukum Allah menghancurkan kesombongan manusia oleh karena itu, marilah kita sadar bahwa kita rapuh, berdosa, dan sepenuhnya membutuhkan anugerah-Nya. Penghakiman atas Herodes adalah pengingat bahwa menempatkan diri kita di tempat yang seharusnya milik Allah akan berujung pada kebinasaan.

Saudara saudari, raja Herodes adalah memang raja yang jahat, sebab Herodeslah yang menghambat pemberitaan Injil, menganiaya jemaat (membunuh Yakobus dan memenjarakan Petrus) mati membusuk, tetapi kita harus percaya bahwa meskipun penderitaan itu dapat terjadi, atau dilakukan oleh orang orang jahat terhadap orang percaya, kita harus yakin dan percaya bahwa Injil Kristus justru semakin tidak terbendung. Seperti dalam perikop ini, setelah Allah membinasakan Horedes, maka dengan aman dan penuh semangat Iman - Barnabas, Saulus, dan Markus pun tetap melanjutkan misi pelayanan mereka.

Lewat renungan harian kita ini, kita juga di ingatkan terkhusus untuk seluruh jemaat GKLI (sebagai gereja lutheran) kita harus percaya bahwa Kekuatan gereja tidak terletak pada perlindungan politik, gedung yang megah, atau kepemimpinan manusia (pendeta/guru huria), melainkan hanya pada Kuasa Firman Allah (The Word of God). Walaupun kekuatan politik, para pemimpin gereja dapat membawa kepada kemajuan, sadarilah bahwa semua itu dapat terjadi oleh karena pemeliharaan Allah lewat Kuasa Injil baik secara umum maupun pribadi. Dan lewat kisah Herodes firman ini mengingatkan kita bahwa kuasa sekuler atau penganiayaan tidak akan pernah bisa membunuh Injil. Injil adalah Firman-Nya yang hidup sebab digerakkan oleh Roh Kudus, karena itu seluruh Gereja Tuhan juga harus berdiri di atas pengajaran dan pengakuan yang benar, memberitakan Injil dengan murni dan melayan alat alat Anugerah Allah (means of Grace) ke 2 sakramen itu.

Di tengah dunia yang sering kali mengancam iman Kristen, Injil menjamin bahwa Kristus tetap memegang kendali atas sejarah manusia dan GerejanNya bahkan jemaat jemaat-Nya. 

Oleh karena itu, marilah kita tetap hidup di dalam pujian kepada Allah, baik saat kita kecil maupun besar, tetaplah memuji Allah. 
Bahkan ketika kita diberkati dengan jabatan, kepintaran, atau harta, akuilah dengan rendah hati bahwa itu semua hanyalah anugerah (Sola Gratia). 
Dalam perjalanan Iman kita, marilah jangan gentar terhadap ancaman, krisis ekonomi, atau pergeseran budaya yang memusuhi iman Kristen. Meskipun para penguasa dunia bisa datang dan pergi, tetapi Firman Tuhan tetap tinggal untuk selama-lamanya (1 Petrus 1:25). 

Melalui baptisan dan iman, Roh Kudus telah mulai bekerja meluruskan kembali hati kita yang bengkok oleh karena dosa, sehingga mata kita seharusnya tidak lagi memandang kehebatan diri sendiri, melainkan memandang kepada Kristus. Kita tidak perlu lagi haus akan pujian dunia, karena di dalam Kristus, kita telah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya secara sempurna.

Jadi, sebagai orang orang yang telah ditebus, dibebaskan dan dibenarkan dihadapan Allah, tugas kita adalah mewartakan kesetiaan Allah. Tugas gereja yang paling utama adalah memberitakan Injil keselamatan dengan tetap melayankan firman dan sakramen dengan setia. Seperti Barnabas dan Saulus yang terus melangkah maju, maka marilah kita juga dengan setia menyebarkan Firman Tuhan di lingkungan tempat kita hidup sehari-hari, dan secara khusus di dalam keluarga kita.


Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏾

Rabu, 17 Juni 2026

Allah yang bertindak dalam kegelapan - Khotbah Lutheran - Kisah para rasul 12:1-8

Shalommm...

Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 12:1
Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.
Kisah Para Rasul 12:2
Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.
Kisah Para Rasul 12:3
Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
Kisah Para Rasul 12:4
Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Kisah Para Rasul 12:5
Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.
Kisah Para Rasul 12:6
Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.
Kisah Para Rasul 12:7
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
Kisah Para Rasul 12:8
Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!"


Saudara saudari, lewat khotbah khotbah yang saya sampaikan kepada kita, sering saya mengutip pernyataan Martin Luther yang mengatakan bahwa mengikut Kristus bukan berarti jalan kita akan selalu mulus atau penuh kemakmuran duniawi. Sebaliknya, setiap orang percaya dan gereja Tuhan di dunia ini (ecclesia militans) akan sering kali mengalami penderitaan atau tantangan dan harus siap memikul salib.

Dalam teks kita hari ini, kita melihat bahwa kuasa duniawi yang diwakili oleh Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap jemaat jemaat, bahkan terhadap Yakobus, saudara Yohanes telah dibunuh dengan pedang. Dan Petrus sendiri dijebloskan ke dalam penjara terdalam, dirantai di antara dua prajurit, dan dijaga ketat. Secara manusiawi, situasi ini tanpa harapan untuk lepas. Dan kelihatannya Dimata orang orang jahat Kuasa maut dan hukum dunia tampak menang mutlak.

Saudara saudari, tahukah anda bahwa mengikat Petrus dan dinding penjara yang tebal dalam teologi Lutheran diajarkan kepada kita bahwa itu adalah lambang penderitaan saat ini, dimana dosa, maut, dan ketakutan mengurung hidup kita??.
Bahkan dalam kejadian itu, Mengapakah Yakobus mati dipenggal, sementara Petrus dibebaskan? 
Saudara saudari, disinilah akal budi manusia membentur tembok misteri kedaulatan Allah. Hukum Taurat meremukkan kesombongan kita agar kita sadar bahwa kita tidak dapat memegang kendali atas hidup, mati, atau hari esok kita.

Dengan keadaan yang seperti ini, tentu membuat seluruh murid akan ketakutan bahkan orang percaya sekalipun. Pada saat itu, Jemaat mula-mula berkumpul di rumah Maria, ibu Yohanes Markus. Mereka sangat cemas namun tetap bertekun dalam doa. Mereka menyadari bahwa doa bukanlah sebuah "transaksi magic" untuk memaksa Tuhan dalam menolong mereka, melainkan dengan doa doa yang mereka sampaikan menjadi suatu bentuk jeritan iman dari manusia yang kehabisan daya di hadapan kuasa maut.

Ketika manusia berada di titik nol (tidak berdaya), di situlah Injil (Gospel) menyatakan kuasanya secara murni sebagai Sola Gratia (anugerah). 
Dalam keterpurukan mereka, Allah lebih dahulu ber inisiatif untuk menolong. Perhatikanlah bahwa ketika Petrus sedang tertidur pulas pada malam sebelum ia dieksekusi. Petrus tidak sedang berusaha mendobrak pintu penjara. Ia pasrah dan pembebasan dari Allah itu datang dengan murni dari luar dirinya (extra nos). Malaikat Tuhan datang, terang bersinar di dalam sel, dan rantai-rantai itu gugur dengan sendirinya. 
Sama seperti Petrus yang awalnya mengira pembebasan itu hanya mimpi, maka marilah kita juga percaya bahwa sungguh betapa besar kasih karunia Allah untuk kita. Injil yang memerdekakan kita bukan karena usaha kita, sungguh hanya karena kuasa Kristus yang telah menerobos penjara dosa dan maut bagi kita sehingga kita bebas dan merdeka.

Oleh karena itu, marilah kita menghidupi realita iman. Sebab dengan Iman kita akan dituntun untuk bersandar kepada Tuhan. Baik saat kita mengalami akhir hidup seperti Yakobus (penderitaan/mati martir) maupun seperti Petrus (pembebasan fisik), kita akan tetap percaya bahwa keselamatan kita tetap aman di dalam Kristus. Kematian Yakobus adalah bukti tugas pelayanannya di dunia telah selesai, sedangkan Petrus masih diberi waktu. Keduanya tetap menang di dalam Kristus.

Ketika Malaikat membangunkan Petrus dan menyuruhnya untuk memakai ikat pinggang serta kasutnya. Demikianlah juga Kristus memanggil kita untuk bangkit dari ketakutan rohani, dan mengenakan perlengkapan senjata Allah, serta melangkah keluar dari "penjara-penjara" atau segala bentuk pengandalan diri dan kekhawatiran dunia dalam hidup.

Marilah kita terus tekun dalam bersaksi, saling mendoakan dalam persekutuan jemaat, dan mempercayai bahwa dalam hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.


Kiranya kasih setia Allah Bapa Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua amin 🙏🏾

Selasa, 16 Juni 2026

"Anugerah yang Meruntuhkan Batas dan Menggerakkan Kasih" - Kisah para rasul 11:15-30

"Anugerah yang Meruntuhkan Batas dan Menggerakkan Kasih" - Kisah para rasul 11:15-30

Shalom...
Firman Allah untuk kita.
Kisah Para Rasul 11:23
Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,
Kisah Para Rasul 11:24
karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
Kisah Para Rasul 11:25
Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
Kisah Para Rasul 11:26
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
Kisah Para Rasul 11:27
Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia.
Kisah Para Rasul 11:28
Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.
Kisah Para Rasul 11:29
Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea.
Kisah Para Rasul 11:30
Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.

Saudara saudari, Salah satu dasar penting gereja adalah Terang Yesus Kristus , dimana gereja itu adalah persekutuan orang orang percaya yang telah dipanggil Allah lewat Injil dan Kuasanya untuk keluar dari kegelapan kedalam
terang Kristus, yang akan diperlengkapi lewat Injil dan sakramen, dan diutus kembali ke tengah dunia dengan misi Allah. Misi itu adalah membawa setiap orang menjadi murid Kristus.

Saudara saudari, pernahkah anda berpikir bagaimana sebuah komunitas rohani dapat bertahan ketika badai penderitaan itu datang? 
Secara manusia, penderitaan itu sering memecah belah. Namun, di dalam rencana dan Kuasa Allah, badai justru menjadi angin yang menerbangkan benih firman-Nya ke tempat-tempat yang tak terduga.

Lewat khotbah ini kita di ingatkan kembali akan sejarah gereja mula-mula. Dimana Injil yang adalah kekuatan Allah dan sarana keselamatan kini melintasi batas bangsa Yahudi dan memeluk bangsa-bangsa non-Yahudi. Melalui perikop ini, kita akan melihat bagaimana Allah bekerja secara berdaulat demi menyelamatkan manusia berdosa hanya oleh karena kasih karunia-Nya.

Setelah penganiayaan Stefanus, jemaat terpisah pisah, beberapa orang pergi ke Antiokhia bahkan ada yang ke kota metropolitan ketiga terbesar di Kekaisaran Romawi yang hidup mereka dipenuhi dengan penyembahan berhala dan moralitas yang rusak. Di tengah kegelapan moral tersebut, jemaat mula-mula mulai memberitakan Injil kepada orang-orang Yunani. Dan lewat firman ini dinyatakan bahwa "Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan"(21).
Keberhasilan mereka dalam memberitakan Injil pertobatan sesungguhnya bukanlah kefasihan berkhotbah atau strategi hebat para murid yang mempertobatkan kota rohani yang mati itu. Melainkan "tangan Tuhan" dimana kuasa Roh Kudus yang bekerja aktif. Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Ketika Injil diberitakan, Allah yang akan membuka hati mereka yang terhilang. Barnabas tidak melihat kepada latar belakang masa lalu orang-orang Yunani itu, dan Ia tidak menuntut mereka menjadi orang Yahudi terlebih dahulu, sebab Ia hanya melihat belas kasih karunia Allah. Barnabas, yang namanya berarti "anak penghiburan", menasihati mereka agar mereka tetap setia dan berpaut kepada Tuhan. Dan di Antiokhia pulalah, Barnabas menjemput Saulus (Paulus) untuk melayani bersama. Dan di kota inilah juga untuk pertama kalinya murid-murid itu disebut Kristen. Nama "Kristen" berarti "milik Kristus" atau "pengikut Kristus". Yang artinya identitas mereka bukan lagi didasarkan pada suku, ras, atau status sosial, melainkan sepenuhnya di dalam Kristus. Kita dibenarkan bukan karena siapa kita, melainkan karena kepada Siapa kita bersandar.

Martin Luther juga pernah menegaskan bahwa "Iman adalah hal yang hidup dan aktif, yang tidak mungkin tidak menghasilkan perbuatan baik."

Oleh karena itu, marilah kita 
menyadari bahwa Gereja adalah Pekerjaan Allah, sebab Gereja berdiri dan berkembang bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena tangan Tuhan yang memegang dan memimpinnya, dan Janganlah kamu tawar hati saat menghadapi tantangan zaman. Jadilah pemberitaan Injil, jangan membatasi anugerahNya sebab Injil Kristus diperuntukkan bagi semua orang, tanpa memandang status, masa lalu, maupun latar belakang sosial mereka. 
Dan hiduplah sebagai seorang "Kristen" yang Sejati. Dimana identitas kita melekat pada Kristus. Marilah mewujudkan iman kita melalui perbuatan kasih yang nyata bagi sesama kita, sama seperti jemaat Antiokhia yang digerakkan oleh kemurahan hati.

Kiranya kasih setia Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. Amin 🙏🏻🙏🙏🏾

Senin, 15 Juni 2026

Janji Firman-Nya yang Teguh di Tengah Kesesakan - Mazmur 138:1-8

Shalom....
Firman Allah untuk kita.
Mazmur 138:1
Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
Mazmur 138:2
Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
Mazmur 138:3
Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
Mazmur 138:4
Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
Mazmur 138:5
mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
Mazmur 138:6
TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
Mazmur 138:7
Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
Mazmur 138:8
TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Saudara saudari, dalam bacaan firman untuk kita saat ini, Daud mengundang kita untuk memfokuskan pikiran kita kepada Allah, khususnya mengenai nama dan firman-Nya. Nama-Nya dan firman-Nya melebihi segala sesuatu, sehingga semua yang ada di bumi akan menyanyi bagi Tuhan. Nama-Nya sungguh besar dan berkuasa, firman-Nya teguh dan kekal. Bila kita memfokuskan pikiran kepada-Nya, maka kita akan belajar percaya akan kasih dan kesetiaan-Nya. 

Pemazmur membuka nyanyian ini dengan kalimat radikal: "Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu." (ay. 1). 
Saudara saudari, kita harus menyadari dan mengetahui bahwa pada zaman Daud, "para allah" merujuk pada berhala bangsa-bangsa pagan atau para penguasa duniawi. Dan di zaman modern pada saat ini "para allah" ini menjelma dan merujuk kepada kekayaan, kesehatan, reputasi, dan kekuatan moral kita sendiri yang membuat kita memfokuskan kita dengan hal hal ini dan menomorduakan Tuhan.

Dengan demikian, lewat Firman Tuhan hari ini kita di ingatkan kembali bagaimanakah dan dimanakah hati berada saat  ini. Ketika badai hidup datang, ke mana kita pertama kali mencari pertolongan? 
Sering kali kita berlari kepada berhala modern kita atau mengandalkan kesalehan diri sendiri. Dalam pengajaran teologi Lutheran kita di ingatkan dan di ajarkan bahwa mengandalkan diri sendiri adalah berhala dunia yang hanya akan membawa kita pada keputusasaan. Kita adalah orang berdosa karena meragukan Allah saat berada di dalam "kesesakan" (ay. 7). Di dalam kesesakan kita, sesungguhnya kita membutuhkan intervensi yang datang dari luar diri kita yaitu pertolongan dari Allah. Meskipun menghadapi kesesakan dan serangan (ay. 7), kita sebagai orang yang telah dibenarkan "Simul iustus et peccator" harus tetap berada dalam perlindungan yang sejati. Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan Ia selalu hadir di dalam hidup kita, Kehadiran Allah yang nyata dapat kita nikmati melalui Alat-alat anugerahNya (Means of Grace) lewat Baptisan, Absolusi, dan Sakramen Altar yang memelihara dan menguatkan iman kita serta membuat kita berada di dalam kasih sayangNya.

Oleh karena itu, Lewat firman hari ini, marilah kita juga meneladani Daud. Sebab Daud selalu memuji kasih dan kesetiaan Tuhan, di mana janji Allah melampaui segalanya (2). Marilah kita juga belajar bahwa orang percaya tidak perlu sempit hati pada waktu mengalami kesempitan hidup, demikian juga dengan Gereja Tuhan. Tetaplah memuji Allah, dan bersyukurlah atas kesetiaan-Nya, serta ingatlah bahwa segala kejadian yang datang dan terjadi dalam hidup kita berada di bawah sorotan kuasa dan pengetahuan Allah. Bersandarlah kepada Tuhan, dan yakinlah bahwa Tuhan akan mengubah kesempitan menjadi kesempatan bagi kita untuk menyelami kasih dan kuasa-Nya secara baru. 

Kiranya kasih setia Allah Bapa,  Anak dan Roh Kudus memelihara dan menolong kita semua. amin 😊

theologi Lutheran

Bersyukur kepada Allah - Acara Ibadah minggu V Setelah Trinitatis

  Acara Ibadah Pemuda/I GKLI 11 July 2026   1.       Bernyanyi dari Kidung Jemaat No. 64 :1 – 3 (Bila ku lihat bintang Gemerlapan) 1...

what about theologi luther ?